24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dramatisasi Puisi di Sasindo Unud: Tradisi, Realis, Simbolis, Hingga Sinetronan

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 2, 2018
in Ulasan

Bila ditanya, manakah karya sastra yang benar-benar mampu berbaur dengan segala hal, barangkali puisilah jawabannya. Sebagaimana ia diistilahkan dengan berbagai nama di setiap bidang, seringakali puisi begitu lekat, erat, menghiasi segala ruang kehidupan setiap saat. Cobalah ingat, ketika seisi rumah kosong karena ditinggal keluarga yang melayat ke tetangga atau odalan di pura-pura, sayup-sayup puisi terdengar dalam bentuk kekawin atau geguritan seolah mengusap kesendirian kita.

Juga saat menonton pagelaran di keramaian, tak jarang puisi terselip sebagai pengantar cerita dalang, penari, bahkan sebagai pantun yang bersahutan dengan gelak tawa penonton. Puisi, sekali lagi tetap ajeg dengan teksturnya yang lentur, serasa asin garam yang senantiasa mengisi celah hambar masing-masing bidang.

Dalam seni modern, pun puisi lebih heboh lagi. Apresiasi puisi melahirkan genre-genre yang berkembang  dengan caranya tersendiri. Sebut saja deklamasi puisi, baca puisi, musikalisasi puisi, teaterisasi puisi, fragmentasi puisi, dan film puisi. Genre-genre apresiasi ini kadang ada yang luntur dan layu, berjalan tertatih-tatih, seringpula bangun, mekar, dan hidup lagi lalu lari demikian kencangnya.

Tak jarang, apresiasi puisi ini melahirkan pakem-pakem yang menuai perdebatan, terutama jika berkaitan dalam bentuk lomba. Itu pula yang terjadi dalam Lomba Dramatisasi Puisi Pekan Sastra 2016 yang diselenggarakan oleh Jurusan Sastra Indonesia (Sasindo) Universitas Udayana (Unud) di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya Unud, Jumat (6/5).

Lomba yang diikuti oleh SMA/SMK/MA se-Bali ini begitu menarik untuk dikaji. Setidaknya, dibandingkan dengan tahun-tahun terakhir, tampak apresiasi puisi dalam bentuk drama mulai menunjukan perkembangannya, terutama yang berkaitan dengan tawaran bentuk pemanggungan. Dramatisasi puisi yang sering diartikulasikan dengan gerak tubuh yang seolah absurd, penyikapan teks yang cenderung dideklamasikan, serta menekankan simbol yang lebih sering gagal paham dalam membangun asosiasi antara puisi dan pertunjukan, kini menjelma kian sederhana, yang dalam kesederhanaannya ada kearifan untuk membangun kesadaran tentang makna puisi pada penonton itu sendiri.

Dalam hal ini, kita benar-benar disuguhkan pentas naif, khas psikologi anak SMA. Berdasarkan refrensi-refrensi yang memengaruhi peserta, penonton sendiri dibenturkan dengan gaya dramatisasi ala teater tradisi, realis, simbolis, physical theater, hingga sinetronan.

Dari sekian peserta lomba, yang paling menunjukan kematangannya adalah Teater Limas SMA N 5 Denpasar. Sajak “Bulan Mei 1998” karya W.S Rendra dikemas dengan apik oleh mereka. Panggung dibuka dengan suara-suara lirih. Kata-kata kian lama menggaung berhamburan, yang menjadikan setiap iris dialognya meneror telinga penonton.

Di sini, teks puisi dimainkan bukan hanya sebagai penjelas pertunjukan saja. Tampak adanya usaha dalam menyajikan teks puisi dengan segala kemungkinannya, seperti mengeksplorasi puisi dengan teknik musik crescendo, decresendo, pula melantunkannya dengan pola-pola rubaiyat. Kata demi kata, baris demi baris dibedah dan dibagi pada masing-masing pemain seperti  satpam, polisi, siswa, pedagang, dan kaum pinggiran lainnya.

Sayangnya, tokoh-tokoh ini tak dimainkan sebagaimana karakternya masing-masing sehingga penyikapan dialog antarpemainnya cenderung sama. Untunglah, pentas diselamatkan oleh gerak kontemplatif dan pengemasan pertunjukan dalam bentuk musikal yang begitu kuat.

Lain lagi dengan Teater Rubikz, SMK Harapan Denpasar yang memainkan puisi “Surat Saijah Untuk Adinda” karya W.S Rendra dengan gaya teater realis. Barangkali, inilah tawaran dramatisasi puisi yang paling menarik sekaligus jarang dilakukan namun banyak ditemui dalam lomba kali ini.

Diantara peserta yang memilih gaya permainan ini, hanya Teater Rubikz yang paling pas memegang adegan demi adegan secara utuh dengan interpretasi puisi yang tetap terjaga. Penggarapan musik yang tertata rapi, dibuat untuk menyelamatkan adegan-adegan kosong yang dimaksudkan sebagai pergantian set. Inipun tidak terlepas dari konsekuensi gaya realis yang dipilih. Pengubahan teks puisi dalam bentuk naskah drama tentu memerlukan ketelitian yang cermat dalam proses bedah puisi agar unsur-unsur puitik itu sendiri tetap dapat tersampaikan. Inilah yang hanya ditemukan dalam pertunjukan Teater Rubikz, sedang pada peserta lain yang memilih gaya serupa, cenderung tak mengindahkan maksud yang ada dalam puisi.

Pada puisi “Pesan Pencopet Untuk Pacarnya” misalnya, tak harus dibawakan dengan berat dan berdarah-darah. Mengingat puisinya dimaksudkan menyindir, lebih menarik apabila dimainkan dengan nada-nada satire. Sedang dalam pentas “Gempa Biak Numfor”, “Karawang Bekasi” dan “Hari Lahir” tak semestinya merekonstruksi puisi menjadi kisah baru yang pada akhirnya menghilangkan unsur puitik pada puisi, yang akhirnya menjadikan puisi itu sendiri sebagai tempelan semata.

Tawaran terakhir disuguhkan oleh Teater Sang Saka, SMK N 1 Denpasar. Puisi “Paman Doblang” karya W.S Rendra dimainkan dengan bentuk physical theater. Pada kesempatan lain, unsur performing art begitu kental terasa. Puisi “Paman Doblang” diterjemahkan dengan membangun instalasi penjara dari tiang-tiang stager. Tubuh menjadi bagian penting yang tak terelakan dalam pertunjukan ini. Sambil berloncatan, merangkak, naik turun tiang, pemain pun mengekplorasi pertunjukan dalam bentuk musik yang mencekam.

Sayangnya, ketika puisi dideklamasikan, semua pertunjukan yang semula terbangun apik perlahan kian runtuh. Tak ada tendensi untuk memperjuangkan teks Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi benar-benar sebagai Pelaksanaan kata-kata. Teks-teks puisi dimuntahkan begitu saja sehingga memudarkan unsur puitiknya. Andai saja peserta fokus pada bentuk pertunjukan saja tanpa membacakan teks puisi, tentu pertunjukan akan lebih menarik.

Ini berlawanan dengan pentas “Suto Mencari Bapa” yang benar-benar menghilangkan teks puisi dan fokus pada bentuk pertunjukan. Sayangnya, adegan demi adegan dalam pertunjukan ini tak memunculkan makna puitik pada puisi sehingga gerak artistik yang ditawarkan tak menuai perenungan tentang puisi itu sendiri.

Dari sekian pertunjukan yang ada, pada akhirnya juri memutuskan Teater Limas SMA N 5 Denpasar sebagai Juara I, Teater Rubikz SMK Harapan Denpasar sebagai Juara II, dan Teater Sang Saka SMK N 1 Denpasar sebagai Juara III. Di luar dari kualitas peserta yang kiranya harus terus menyempurnakan pentasnya, menarik pula untuk dipertanyakan, sejauh mana keutuhan puisi mesti diterjemahkan dalam pertunjukan apresiasi puisi? Apakah keutuhan hanya diterjemahkan sebagai teks puisi yang semuanya harus dihadirkan secara harfiah, kata perkata, baris perbaris, bait perbait? Atau boleh jadi, keutuhan puisi didefinisikan sebagai usaha menyampaikan gagasan puisi itu sendiri?

Penyikapan yang bijak terhadap teks dan pertanggung jawaban yang sesuai dengan karya yang dipentaskan menjadi pekerjaan rumah yang harus dipikirkan kembali. Bukan tidak mungkin, di kemudian hari tawaran-tawaran pemanggungan terhadap puisi akan menjadi lebih cair dan eksploratif, sebagaimana nasib puisi yang terselip dalam baju bergambar penyair, yang entah siapa pembuatnya, pemakainya, entah utuh atau tidak, tetap saja terbaca, tak terelakkan sebagai puisi! (T)

Tags: DramaLombaPuisiUnud
Share83TweetSendShareSend
Previous Post

Bertemu Karl Marx di Highgate

Next Post

Dunia Maya Kotor, Tugas Penyair Membersihkannya

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Dunia Maya Kotor, Tugas Penyair Membersihkannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co