14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Ayu Suwandewi by Ayu Suwandewi
January 9, 2024
in Khas
Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Gapura Selamat Datang menuju Desa Ketewel

Tulisan ini, membahas sisi unik yang dimiliki oleh Desa Ketewel. Kenapa dinamakan Desa Ketewel? Tak banyak yang tahu dimana lokasi Desa Ketewel, meski pun mungkin sering mereka lewati.
Saya akan memulai menyampaikan asal muasal terbentuknya Desa Ketewel yang memiliki kaitan dengan sejarah berdirinya Pura Payogan Agung di Desa Ketewel, berdasarkan informasi yang didapat dari Jero Mangku Gede, pamomong Pura Payogan Agung yang merupakan pensiunan PNS dan sumber dari Selayang Pandang Pura Payogan Agung.

Desa Ketewel terletak di Jalan Raya Ketewel, di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar (perbatasan dengan Denpasar Timur). Desa ini memiliki Pura Khayangan Jaga,t salah satunya adalah Pura Payogan Agung.

Berdasarkan sumber-sumber yang ada diantaranya “lontar Raja Purana Pura Payogan Agung dan Raja Purana Griya Jaya Purna Rangkan Ketewel”, disebutkan bahwa Pura Payogan Agung merupakan stana dari Sang Hyang Pasupati bergelar Ida Bhatara Hyang Murtining Jagat.

Gedong Agung, Pura Payogan Agung, Desa Ketewel

Dalam Raja Purana Pura Payogan Agung, tidak satupun menyebut istilah Pura tetapi disebutkan dengan istilah Kahyangan, seperti Khayangan Jogan Agung, Kahyangan Puseh Jogan Agung, dan Khayangan Payogan Siwa Agung. Hal itu menunjukkan bahwa Pura Payogan Agung termasuk salah satu Pura kuno yang ada di Bali disamping juga dibuktikan dengan adanya situs Purbakala seperti Arca Lingga Yoni, Arca Siwa Maha Dewa dan situs-situs lainnya.

Singkat cerita, Pura Payogan Agung sebagai tempat paruman Sang Hyang Pasupati  dan para Dewata ketika memerangi dan mengalahkan I Kala Sunya (dibaca I Kala Sunia). Pada mulanya Pralingga Ida Bhatara berupa Mas Mirah yang bersinar terang seperti siang hari selama adasa warsa (10 tahun). Pada waktu itu tidak ada manusia yang berani melintas karena merupakan hutan yang sangat angker yang dihuni oleh Buta Siyu.

Situs Purbakala seperti Lingga Yoni, Patung Siwa Maha Dewa dan situs-situs lainnya

Setelah 10 tahun, barulah turun Pralingga Ida Bhatara berupa Perunggu sebagai Pengganti Mas Mirah untuk menghindari niat jahat manusia yang dipengaruhi oleh Kali Sengara. Sejak saat itulah  Alas Jerem kembali normal dalam arti adanya siang dan malam. Setelah lama berdirilah Pura Payogan Agung dan belum ada manusia tentunya juga tidak pernah diselenggarakan upacara termasuk tidak ada pemongmong Widhi.

Dikisahkan Pamongmong Widhi di Pasar Agung Besakih bergelar Sangkul Putih berasal dari Majapahit berputra dua orang yang bernama Wayan Pasek dan Made Pasek. Pada suatu ketika kedua kakak beradik terebut berselisih pendapat, sehingga Made Pasek meninggalkan Pura Pasar Agung Besakih memutuskan untuk ngewanaprasta bersama istri yang akhirnya sampai ke Alas Jeruk, dalam perjalanannya selalu diikuti oleh burung titiran putih (Perkutut Putih) yang memberikan bija kuning tiga biji setiap lelah.

Di Alas Jeruk Beliau kelelahan hingga tertidur, setelah bangun Beliau terkejut mendengar pawisik dari Ida Hyang Pasupati agar menuju ke Alas Jerem. Sesampainya ditepi Alas Jerem, mereka sangat terkejut menyaksikan hutan yang sangat angker. Seketika terdengarlah suara dari angkasa yang merupakan suara dari Ida Bhatara Hyang Pasupati, meminta agar Made Pasek menjadi Pamongmong Widhi di Kahyangan Ida Hyang Pasupati dan mengubah status dari wangsa Pasek menjadi wangsa Dukuh bergelar Dukuh Murti/Dukuh Sakti dan tidak diperkenankan mengingat Kawitan di Pasar Agung.

Pada suatu ketika Ida Dalem Gelgel berburusampai ke Alas Jerem diiringi oleh 300 orang pengikut. Ida Dalem Gelgel dan para pengikut dijamu oleh Dukuh Murti dengan berbagai buah-buahan dan air. Beliau sangat senang dengan penerimaan dan jamuan dari Dukuh Murti. Beliau terkejut menyaksikan di sebelah timur Pasraman Dukuh Murti terdapat Palinggih yang Madhurgama. Dukuh Murti menyampaikan bahwa Palinggih tersebut adalah Linggih dari Ida Paduka Sang Hyang Pasupati.

Dukuh Murti mempersilahkan Ida Dalem Gelgel untuk bersembahyang (Muspa), dan diingatkan kalau Beliau tidak muspa maka Ida Dalem Gelgel dan pengikutnya akan terkena bencana. Saat hendak muspa Ida Dalem Gelgel diingatkan oleh Ida Gunung (Penasehat) agar Beliau tidak sembarangan muspa, mencurigai jangan-jangan Palinggih tersebut adalah Pamerajannya I Dukuh Murti, akhirnya Ida Dalem Gelgel membatalkannya.

Dalam perjalanan kembali ke Gelgel, benar terjadi bencana hujan angin, petir menyambar, banjir besar dimana pengikut Ida Dalem Gelgel 200 orang meninggal dan masih tersisa 100 orang. Sesampainya di Puri Gelgel Ida Dalem Gelgel teringat bencana yang telah terjadi dan menjadi sangat murka dikira Dukuh Murti sebagai penyebab terjadinya bencana tersebut.

Beliau mengutus Ida Gunung dan prajurit Gelgel menuju ke Alas Jerem untuk membunuh Dukuh Murti beserta istri. Jasad dari Dukuh Murti dan istri menghilang hanya meninggalkan bau harum dan percikan darah. Ida Hyang Pasupati mengutuk Ida Gunung, semua keturunan Ida Gunung tidak boleh muput Upacara/Karya di Kahyangan Hyang Pasupati sewenngwengkon jagat Ketewel.

Tampak depan Pura Payogan Agung, Ketewel

Dikisahkan putra dari Dukuh Murti yang bernama Dukuh Centing sedang bersemadi di Alas Er Jeruk, Dukuh Centing mendapatkan pawisik bahwa orang tua Beliau telah terbunuh oleh Ida Dalem Gelgel. Dukuh Centing kembali ke Alas Jerem dan mendapatkan percikan-percikan darah. Percikan darah tersebut diambil dan dipreteka dengan upacara sawa preteka.

Dukuh Centing sangat terkejut karena di sebelah timur Kahyangan Payogan Agung tumbuh dua pohon nangka kembar dan sangat besar yang sebelumnya tidak ada di tempat itu. Dukuh Centing sangat ketakutan, disamping meyaksikan kayu nangka yang sangat angker juga terdengar tangisan bayi dari dalam pohon nangka tersebut.

Dalam ketakutan tersebut Dukuh Centing mendengar wakya dari Hyang Pasupati dalam terjemahan bebasnya sebagai berikut: “Wahai Dukuh Centing, Aku Hyang Pasupati memberitahu engkau, janganlah takut dan lari. Engkau aku tugaskan untuk menebang kayu nangka tersebut, kemudian akan ditemukan dua orang bayi laki perempuan, engkau hendaknya menjadi orang tua dari anak-anak tersebut, yang kelak kemudian akan menjadi treh Prawangsa Ketewel”.

Selanjutnya atas petunjuk Hyang Pasupati, anak yang laki-laki diberi nama Gede Mawa atau Gede Ketewel dan yang perempuan diberi nama Mawitsari, yang keduanya merupakan Punarbawa/reinkarnasi dari Dukuh Murti lanang istri. Suatu saat kalau Alas Jerem menjadi desa agar dinamakan Desa Ketewel, karena lahirnya dua bayi kembar buncing tersebut lahir dari Taru (kayu) Nangka.

Lama kelamaan Treh Prawangsa Ketewel ditambah dengan jatma Ungsian (pendatang) sebanyak 80 orang dan berdirilah sebuah banjar yang bernama Banjar Puseh yang menjadi pusatnya di Desa Ketewel. Begitulah kisah asal muasal terbentuknya Desa Ketewel serta keterkaitannya dengan sejarah keberadaan Pura Payogan Agung.

Mengulas kapan Desa ketewel itu berdiri, sampai sekarang belum ada bukti yang kuat. Namun, melihat dari Lontar Raja Purana Pura Payogan Agung yang mengisahkan sejarah berdirinya Pura Payogan Agung sehingga Desa Ketewel berdiri kurun waktu masa Pemerintahan Raja Gelgel sekitar abad ke-14. [T]

  • Catatan: Tulisan ini adalah pemenuhan tugas kuliah mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI).
Pura Pucak Bukit Sangkur: Tangga Lumut dan Keheningan di Tengah Hutan
Arsitektur Pura Agung Besakih: Menjaga Tradisi
Naga Basuki, Besakih, dan Perayaan Sugihan
Tags: baliDesa KetewelGianyarhindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

In Memoriam | Wayan Madra Aryasa dan Telatah I Gusti Bagus Sugriwa

Next Post

Interferensi Bahasa Bali dan Bahasa Asing Terhadap Bahasa Indonesia, Bahayakah?

Ayu Suwandewi

Ayu Suwandewi

Memiliki nama lengkap Ni Made Ayu Suwandewi. Ia lahir di Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar tahunl 1988. Saat ini, menjalankan kuliah Pendidikan S1 Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI).

Related Posts

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails
Next Post
Interferensi Bahasa Bali dan Bahasa Asing Terhadap Bahasa Indonesia, Bahayakah?

Interferensi Bahasa Bali dan Bahasa Asing Terhadap Bahasa Indonesia, Bahayakah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co