4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Ayu Suwandewi by Ayu Suwandewi
January 9, 2024
in Khas
Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Gapura Selamat Datang menuju Desa Ketewel

Tulisan ini, membahas sisi unik yang dimiliki oleh Desa Ketewel. Kenapa dinamakan Desa Ketewel? Tak banyak yang tahu dimana lokasi Desa Ketewel, meski pun mungkin sering mereka lewati.
Saya akan memulai menyampaikan asal muasal terbentuknya Desa Ketewel yang memiliki kaitan dengan sejarah berdirinya Pura Payogan Agung di Desa Ketewel, berdasarkan informasi yang didapat dari Jero Mangku Gede, pamomong Pura Payogan Agung yang merupakan pensiunan PNS dan sumber dari Selayang Pandang Pura Payogan Agung.

Desa Ketewel terletak di Jalan Raya Ketewel, di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar (perbatasan dengan Denpasar Timur). Desa ini memiliki Pura Khayangan Jaga,t salah satunya adalah Pura Payogan Agung.

Berdasarkan sumber-sumber yang ada diantaranya “lontar Raja Purana Pura Payogan Agung dan Raja Purana Griya Jaya Purna Rangkan Ketewel”, disebutkan bahwa Pura Payogan Agung merupakan stana dari Sang Hyang Pasupati bergelar Ida Bhatara Hyang Murtining Jagat.

Gedong Agung, Pura Payogan Agung, Desa Ketewel

Dalam Raja Purana Pura Payogan Agung, tidak satupun menyebut istilah Pura tetapi disebutkan dengan istilah Kahyangan, seperti Khayangan Jogan Agung, Kahyangan Puseh Jogan Agung, dan Khayangan Payogan Siwa Agung. Hal itu menunjukkan bahwa Pura Payogan Agung termasuk salah satu Pura kuno yang ada di Bali disamping juga dibuktikan dengan adanya situs Purbakala seperti Arca Lingga Yoni, Arca Siwa Maha Dewa dan situs-situs lainnya.

Singkat cerita, Pura Payogan Agung sebagai tempat paruman Sang Hyang Pasupati  dan para Dewata ketika memerangi dan mengalahkan I Kala Sunya (dibaca I Kala Sunia). Pada mulanya Pralingga Ida Bhatara berupa Mas Mirah yang bersinar terang seperti siang hari selama adasa warsa (10 tahun). Pada waktu itu tidak ada manusia yang berani melintas karena merupakan hutan yang sangat angker yang dihuni oleh Buta Siyu.

Situs Purbakala seperti Lingga Yoni, Patung Siwa Maha Dewa dan situs-situs lainnya

Setelah 10 tahun, barulah turun Pralingga Ida Bhatara berupa Perunggu sebagai Pengganti Mas Mirah untuk menghindari niat jahat manusia yang dipengaruhi oleh Kali Sengara. Sejak saat itulah  Alas Jerem kembali normal dalam arti adanya siang dan malam. Setelah lama berdirilah Pura Payogan Agung dan belum ada manusia tentunya juga tidak pernah diselenggarakan upacara termasuk tidak ada pemongmong Widhi.

Dikisahkan Pamongmong Widhi di Pasar Agung Besakih bergelar Sangkul Putih berasal dari Majapahit berputra dua orang yang bernama Wayan Pasek dan Made Pasek. Pada suatu ketika kedua kakak beradik terebut berselisih pendapat, sehingga Made Pasek meninggalkan Pura Pasar Agung Besakih memutuskan untuk ngewanaprasta bersama istri yang akhirnya sampai ke Alas Jeruk, dalam perjalanannya selalu diikuti oleh burung titiran putih (Perkutut Putih) yang memberikan bija kuning tiga biji setiap lelah.

Di Alas Jeruk Beliau kelelahan hingga tertidur, setelah bangun Beliau terkejut mendengar pawisik dari Ida Hyang Pasupati agar menuju ke Alas Jerem. Sesampainya ditepi Alas Jerem, mereka sangat terkejut menyaksikan hutan yang sangat angker. Seketika terdengarlah suara dari angkasa yang merupakan suara dari Ida Bhatara Hyang Pasupati, meminta agar Made Pasek menjadi Pamongmong Widhi di Kahyangan Ida Hyang Pasupati dan mengubah status dari wangsa Pasek menjadi wangsa Dukuh bergelar Dukuh Murti/Dukuh Sakti dan tidak diperkenankan mengingat Kawitan di Pasar Agung.

Pada suatu ketika Ida Dalem Gelgel berburusampai ke Alas Jerem diiringi oleh 300 orang pengikut. Ida Dalem Gelgel dan para pengikut dijamu oleh Dukuh Murti dengan berbagai buah-buahan dan air. Beliau sangat senang dengan penerimaan dan jamuan dari Dukuh Murti. Beliau terkejut menyaksikan di sebelah timur Pasraman Dukuh Murti terdapat Palinggih yang Madhurgama. Dukuh Murti menyampaikan bahwa Palinggih tersebut adalah Linggih dari Ida Paduka Sang Hyang Pasupati.

Dukuh Murti mempersilahkan Ida Dalem Gelgel untuk bersembahyang (Muspa), dan diingatkan kalau Beliau tidak muspa maka Ida Dalem Gelgel dan pengikutnya akan terkena bencana. Saat hendak muspa Ida Dalem Gelgel diingatkan oleh Ida Gunung (Penasehat) agar Beliau tidak sembarangan muspa, mencurigai jangan-jangan Palinggih tersebut adalah Pamerajannya I Dukuh Murti, akhirnya Ida Dalem Gelgel membatalkannya.

Dalam perjalanan kembali ke Gelgel, benar terjadi bencana hujan angin, petir menyambar, banjir besar dimana pengikut Ida Dalem Gelgel 200 orang meninggal dan masih tersisa 100 orang. Sesampainya di Puri Gelgel Ida Dalem Gelgel teringat bencana yang telah terjadi dan menjadi sangat murka dikira Dukuh Murti sebagai penyebab terjadinya bencana tersebut.

Beliau mengutus Ida Gunung dan prajurit Gelgel menuju ke Alas Jerem untuk membunuh Dukuh Murti beserta istri. Jasad dari Dukuh Murti dan istri menghilang hanya meninggalkan bau harum dan percikan darah. Ida Hyang Pasupati mengutuk Ida Gunung, semua keturunan Ida Gunung tidak boleh muput Upacara/Karya di Kahyangan Hyang Pasupati sewenngwengkon jagat Ketewel.

Tampak depan Pura Payogan Agung, Ketewel

Dikisahkan putra dari Dukuh Murti yang bernama Dukuh Centing sedang bersemadi di Alas Er Jeruk, Dukuh Centing mendapatkan pawisik bahwa orang tua Beliau telah terbunuh oleh Ida Dalem Gelgel. Dukuh Centing kembali ke Alas Jerem dan mendapatkan percikan-percikan darah. Percikan darah tersebut diambil dan dipreteka dengan upacara sawa preteka.

Dukuh Centing sangat terkejut karena di sebelah timur Kahyangan Payogan Agung tumbuh dua pohon nangka kembar dan sangat besar yang sebelumnya tidak ada di tempat itu. Dukuh Centing sangat ketakutan, disamping meyaksikan kayu nangka yang sangat angker juga terdengar tangisan bayi dari dalam pohon nangka tersebut.

Dalam ketakutan tersebut Dukuh Centing mendengar wakya dari Hyang Pasupati dalam terjemahan bebasnya sebagai berikut: “Wahai Dukuh Centing, Aku Hyang Pasupati memberitahu engkau, janganlah takut dan lari. Engkau aku tugaskan untuk menebang kayu nangka tersebut, kemudian akan ditemukan dua orang bayi laki perempuan, engkau hendaknya menjadi orang tua dari anak-anak tersebut, yang kelak kemudian akan menjadi treh Prawangsa Ketewel”.

Selanjutnya atas petunjuk Hyang Pasupati, anak yang laki-laki diberi nama Gede Mawa atau Gede Ketewel dan yang perempuan diberi nama Mawitsari, yang keduanya merupakan Punarbawa/reinkarnasi dari Dukuh Murti lanang istri. Suatu saat kalau Alas Jerem menjadi desa agar dinamakan Desa Ketewel, karena lahirnya dua bayi kembar buncing tersebut lahir dari Taru (kayu) Nangka.

Lama kelamaan Treh Prawangsa Ketewel ditambah dengan jatma Ungsian (pendatang) sebanyak 80 orang dan berdirilah sebuah banjar yang bernama Banjar Puseh yang menjadi pusatnya di Desa Ketewel. Begitulah kisah asal muasal terbentuknya Desa Ketewel serta keterkaitannya dengan sejarah keberadaan Pura Payogan Agung.

Mengulas kapan Desa ketewel itu berdiri, sampai sekarang belum ada bukti yang kuat. Namun, melihat dari Lontar Raja Purana Pura Payogan Agung yang mengisahkan sejarah berdirinya Pura Payogan Agung sehingga Desa Ketewel berdiri kurun waktu masa Pemerintahan Raja Gelgel sekitar abad ke-14. [T]

  • Catatan: Tulisan ini adalah pemenuhan tugas kuliah mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI).
Pura Pucak Bukit Sangkur: Tangga Lumut dan Keheningan di Tengah Hutan
Arsitektur Pura Agung Besakih: Menjaga Tradisi
Naga Basuki, Besakih, dan Perayaan Sugihan
Tags: baliDesa KetewelGianyarhindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

In Memoriam | Wayan Madra Aryasa dan Telatah I Gusti Bagus Sugriwa

Next Post

Interferensi Bahasa Bali dan Bahasa Asing Terhadap Bahasa Indonesia, Bahayakah?

Ayu Suwandewi

Ayu Suwandewi

Memiliki nama lengkap Ni Made Ayu Suwandewi. Ia lahir di Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar tahunl 1988. Saat ini, menjalankan kuliah Pendidikan S1 Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI).

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Interferensi Bahasa Bali dan Bahasa Asing Terhadap Bahasa Indonesia, Bahayakah?

Interferensi Bahasa Bali dan Bahasa Asing Terhadap Bahasa Indonesia, Bahayakah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co