25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam | Wayan Madra Aryasa dan Telatah I Gusti Bagus Sugriwa

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
January 8, 2024
in Esai
In Memoriam | Wayan Madra Aryasa dan Telatah I Gusti Bagus Sugriwa

Wayan Madra Ayasa | Foto: Istimewa

Guru yang Rendah Hati

Sore itu, tatkala mendung mulai bergayut di atas langit Subamia, Wayan Madra Aryasa tengah tercenung  sangat dalam. Disimaknya dengan seksama alunan gamelan yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Barangkali di suatu pura sedang berlangsung odalan.

Sesekali ia memejam, menggeleng, dan menggerakkan tangan seperti orang magupek. Kemudian kembali hening, matanya memejam, kepalanya agak tertunduk. Lalu saat kembali membuka mata, mempersilahkan tamunya menikmati minuman yang telah disajikan sang istri.

“Kanggoang, nak kéto, Mbah nak sing ngelah jajo neng. Dijo yo ngalih jajo nak tré taén kijo (maklumi, begitu adanya, nenek tidak punya jajan mungkin. Dimana mencari jajan, ia tak pernah kemana),” ucapnya pelan dengan aksen Tabanan yang kental. Sang tamupun mencakupkan tangan dan kedua bola matanya turut menerawang, meniru sang empunya rumah.

Tatapan si tamu tiada henti menjelajah, deretan tanda penghargaan di tembok, foto-foto lama, rak arsip dan buku lawas, serta sepasang kendang lanang-wadon di atas lemari yang tampaknya menjadi kesayangan pemilik rumah. Lalu kembali menatap wajah Wayan Madra yang masih lebih sering membisu.

Begitulah sering terjadi, hanya dengan menatap wajah sang guru, menyimak wejangannya yang tak begitu ramai namun bernas, berserta suasana di ruangan itu, para tamu kerap menemukan harta berharga. Banyak yang terinsiprasi untuk menciptakan tabuh, tarian, lagu, hingga karya-karya akademik berkualitas.

Seperti itulah cara Wayan Madra Aryasa menjamu para tamunya yang kebanyakan mengaku sebagai murid. Kerendahatian dan keterusterangannya memicu rasa ketersentuhan yang sulit diungkapan. Mereka selalu datang kembali dengan kerinduan yang tidak pernah pudar kepada gurunya. Kendatipun banyak yang telah memiliki karier mentereng pada bidangnya masing-masing, Wayan Madralah yang tampaknya menjadi salah satu anutan kerendahatian mereka.

Kedekatan dengan I Gusti Bagus Sugriwa

Hari itu, ketika para tamu telah mohon diri saya tertarik untuk menanyakan metode mengajar yang diterapkannya dahulu. Sehingga sukses menjalin ikatan batin yang sangat kuat dengan murid-muridnya. Hal ini sungguh langka di era kekinian, sangat jarang murid yang memiliki kerinduan kepada gurunya ketika telah menamatkan sekolahnya.

Bahkan banyak yang telah apatis semenjak masih bersekolah. Jadilah hubungan guru dan murid tak lebih dari sekadar fatsun palsu. Wayan Madra saat itu tersenyum simpul dan menyebut nama Pak Sugriwa, guru mata pelajaran Agama Hindu ketika dirinya menimba ilmu di Kokar (Konservatori Karawitan Indonesia).

Memang, setiap saya menanyakan suatu perkara, acap Pekak Madra (demikian saya memanggil Beliau) mengulang gagasan-gagasan I Gusti Bagus Sugriwa.

Menurut pengakuannya, cara mengajar yang bersahaja itu secara alamiah diimitasi dari I Gusti Bagus Sugriwa. Tokoh besar yang sederhana dan apa adanya. Menurut tafsiran Wayan Madra, apa adanya dapat menghindarkan kita dari perilaku mengada-ada, menjanjikan terlalu tinggi namun akhirnya mengundang kekecewaan. Kendatipun bukan pula harus menolak untuk membantu orang lain secara maksimal. Sementara itu, bantuan yang diberikan harus juga memperhitungkan batas kemampuan diri sendiri.

Wayan Madra menyebut I Gusti Bagus Sugriwa sebagai sosok yang wikan dan sakti. Wikan artinya memiliki wawasan agama dan budaya yang mumpuni beserta praktiknya, seperti lontar-lontar lengkap dengan aplikasinya. Orang wikan tak sekadar pandai, namun juga bijaksana.

Sakti artinya memiliki kemampuan ajaib yang tidak dimiliki oleh orang-orang pada umumnya, seringkali gagal dicerna oleh akal sehat, namun terjadi begitu adanya. Meskipun wikan dan Sakti, I Gusti Bagus Sugriwa selalu memperlakukan murid-muridnya dengan penuh kasih. Suatu relasi yang menarik kemudian terjalin, guru tidak kehilangan wibawa di hadapan murid-muridnya. Sebaliknya, murid tidak pula campah kepada gurunya.

Kelak di kemudian hari setiap menemukan hambatan-hambatan dalam mengajar, Wayan Madra senantiasa mengingat-ingat cara mengajar I Gusti Bagus Sugriwa di masa lalu. Pada suatu kesempatan, Wayan Madra menyebut I Gusti Bagus Sugriwa sebagai sosok yang lengkap. Ia mengaku tidak mampu menyerap seluruh kemampuan gurunya itu dan lebih memilih jalur seni.

“Ada yang berpendapat seni itu asalnya dari kata Sanskerta sani yang artinya kurang lebih persembahan. Jadi, dengan melakoni seni juga sama dengan menyembah (Tuhan)!” Begitu pendapatnya.

Walalaupun lebih memilih jalur seni karawitan ternyata pengetahuan agama yang diperoleh dari I Gusti Bagus Sugriwa membuat Wayan Madra di masa mendatang sempat dipercaya untuk mengajar mata pelajaran dan mata kuliah Agama Hindu dari tingkat sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Ia mesti menunaikan tugas itu dengan baik sebagai bentuk tanggungjawab. Kendatipun begitu, berkali-kali ia berterus terang tidaklah mampu menyamai kemampuan gurunya.

Rupanya perjodohan Wayan Madra dengan I Gusti Bagus Sugriwa terus berlanjut di masa depan, bahkan ketika gurunya itu telah berpulang. Manakala IHDN Denpasar mengalami peningkatkan status menjadi Universitas, dengan nama Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Wayan Madra Aryasa bersama mantan muridnya Komang Darmayuda ditunjuk untuk membuat mars dan hymne kampus Agama Hindu Negeri pertama di Indonesia tersebut. Sementara sebelumnya ketika Dies Natalis ke XIV IHDN Denpasar pada tahun 2018, Wayan Madra juga telah diganjar Maha Widya Hindu Nugraha Award.

Memuja

Dari I Gusti Bagus Sugriwa pula Wayan Madra Aryasa belajar ‘memuja’. Menurut hematnya pekerjaan memuja adalah hal yang sulit, bahkan mesti dipelajari sepanjang hayat. Cukup sering Wayan Madra menyebut pesan I Gusti Bagus Sugriwa bahwa tujuan utama kehidupan adalah untuk mendalami hakikat (tattwa).

Sementara tattwa sendiri merupakan kawruh pukuhing sangkan paraning sarat (kesadaran mengenai hakikat sumber dan akhir dunia). Orang-orang yang mendalami tattwa sudah pasti teleb dalam memuja. Demikian halnya para pemuja tidak akan mudah menyalahkan orang lain. Ilmu ‘memuja’ yang dipelajari Wayan Madra dari I Gusti Bagus Sugriwa bukan hanya latah diucapkan, namun telah diamalkan dalam keseharian.

Salah satunya ketika menempuh pendidikan di Inggris, ia sempat tidak percaya diri dengan ketatnya sistem ujian di negara tersebut. Para mahasiswa menulis di kertas ujian dengan tanpa menyertakan nama, namun hanya nomor. Selanjutnya dosen yang memeriksa juga tidak diketahui orangnya. Pihak pemeriksa memberikan penilaian baik ataupun buruk secara transparan, sebab juga tidak mengetahui identitas mahasiswa yang diperiksa. Beruntung, Wayan Madra bisa melewati ujian-ujian tersebut dengan lancar.

Selain karena kerja keras tanpa henti, keberhasilan studi tersebut diakuinya karena anugerah Tuhan. Dengan demikian memuja menurut Wayan Madra Aryasa adalah bekerja keras sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Setelah berhasil, tidak boleh takabur.

Meninggalkan Kenangan Baik

Pada suatu kesempatan Wayan Madra Aryasa menuturkan riwayat orangtuanya yang tiada berbeda dengan orang desa kebanyakan, namun teguh meninggalkan jejak baik yang kelak dapat ditiru oleh generasi penerusnya. Seperti sepanjang malam membaca lontar yang sarat petuah-petuah agama.

Tentunya isi lontar tersebut tidak cuma dibaca namun dijadikan pedoman hidup. Hal itulah yang kelak memacunya untuk meninggalkan kenangan baik bagi keturunannya. Bila orangtua Wayan Madra mewariskan lontar, ia tergerak untuk mengarsipkan tulisan-tulisan dan foto-foto.

Terdapat kisah menarik ketika kuliah di Inggris, Wayan Madra bersusah payah menyisihkan uang untuk membeli kamera yang saat itu harganya cukup mahal. Beralatkan kamera itulah Wayan Madra mengabadikan momen-momen berharga disana, yang kelak disimpannya dengan rapi.      

Olahraga, Olah Rasa, dan Olah Sukma

Selain dikenal sebagai maestro dalam bidang karawitan, Wayan Madra juga sejak kecil menggemari olahraga. Ia terilhami dari kelincahan orangtuanya yang merupakan seorang pesilat. Ternyata ilmu silat tidak hanya bermanfaat untuk melindungi diri dari gangguan yang berasal dari luar. Gangguan dari dalampun bisa dituntaskannya seperti rasa malas dan penyakit-penyakit lain yang timbul ketika jarang bergerak.

Saat menginjak remaja, Wayan Madra tertarik pula kepada sepakbola. Bahkan sempat mendirikan klub sepakbola bernama Meteor di Subamia. Sementara ketika hari mulai gelap, ia kembali mengakrabi bidang yang membesarkan namanya yakni gamelan. Hingga larut malam Wayan Madra seringkali kalangen (terbawa suasana) menabuh gamelan bersama kawan-kawannya. Tentu aktifitas ini membutuhkan pengolahan rasa yang sangat intens.

Selain olahraga dan olah rasa, sejatinya Wayan Madra juga sangat berdisiplin dengan olah sukma. Praktik olah suksma ini terutama banyak diajarkan oleh I Gusti Bagus Sugriwa. Menurut Wayan Madra, olah suksma berkaitan dengan upaya untuk menyadari inti kehidupan (Atman). Tentunya karena olah sukma ini mengandung banyak aspek esoterik, menjadi paling jarang diungkap secara gamblang olehnya.

Ketika mengajar, Wayan Madra senantiasa menekankan penyeimbangan ketiga macam ólah’ tersebut kepada murid-muridnya. Disebutnya manakala dilakukan dengan benar maka akan membuat pelakunya menjadi stabil.

Dedikasi Wayan Madra kepada eksistensi ketiga macam ‘olah’ tersebut juga terbukti tidak setengah-setengah. Pada bidang olahraga, Wayan Madra turut mendukung pengajaran pencak silat di Kokar. Menurutnya, gerakan-gerakan silat juga memiliki nilai estetika sebagaimana yang terdapat pada tarian.

Pada bidang olah rasa, selain aktif mengajar teori dan praktik karawitan, Wayan Madra juga menghasilkan banyak karya tulis di bidang tersebut. Dalam bidang olah sukma, Wayan Madra yang sempat mengajar mata pelajaran dan mata kuliah Agama Hindu lintas sekolah, lintas kampus, dan lintas jurusan meninggalkan kesan yang mendalam di hati murid-murid serta mahasiswanya. Terutama karena mahir memantik penghayatan kepada keberadaan tertinggi yang menguasai segalanya (Tuhan). Hal itu sebenarnya sangat penting untuk membangkitkan religiusitas dalam diri para anak muda. Manakala religiusitasnya telah mapan maka akan dapat dijauhkan dari perbuatan-perbuatan tercela. 

Pesan Bagi Para Penerus Kesenian Bali 

Wayan Madra sangat menyadari bila keluhuran seni telah membuat orang Bali sangat dihormati di luar negeri. Ketika kuliah di Inggris, Wayan Madra kerap diundang oleh warga setempat yang tertarik dengan seni dan budaya Bali. Ia sangat terharu ketika Bali dipuji sangat tinggi. Salah satu momen yang sangat membekas di hatinya adalah gamelan Bali sukses menyatukan warga kampus yang ada disana. Awalnya mereka tidak saling mengenal atau jarang berinteraksi.

Menakjubkannya ketika sama-sama berlatih gamelan Bali, mereka menjadi bertambah akrab. “Rupanya mereka juga merindukan keakraban seperti yang sudah kita miliki di timur.” Begitu ucap Wayan Madra pada suatu kesempatan.

Tentu saja kalau dirunut, kesenian dan kebudayaan Bali sebagai wujudnya yang lebih luas lahir dari Agama Hindu. Tatkala seseorang beragama dengan benar maka akan lahir kesenian maupun kebudayaan yang mampu menggetarkan dunia. Beragama dengan benar menurut Wayan Madra adalah mampu menghormati perbedaan, sebagaimana model Siwa-Budha Tunggal yang senantiasa didengungkan oleh I Gusti Bagus Sugriwa. Manakala seseorang mengganggu agama atau kepercayaan orang lain maka sejatinya juga menghambat kemajuan rohaninya sendiri. Wayan Madra sangat khawatir ketika melihat orang-orang yang sibuk berebut klaim kebenaran (claim of truth). Lebih-lebih ada indikasi bila hal tersebut menjangkit ke Bali. Apabila hal itu dibiarkan maka akan berdampak kepada citra Bali di dunia internasional.

Wajar kekhawatiran semacam itu merasuki diri Wayan Madra karena di masa tuanya didapuk menjadi ketua ISTAKARI (Ikatan Siswa Taman Kokar) Bali. Para alumnus kokar yang berjumlah ribuan semenjak angkatan pertama di tahun 1960an telah berjuang keras mengharumkan nama Bali di seantero dunia melalui kesenian. Sungguh sangat disayangkan apabila kemudian tercoreng oleh ulah ketidakdewasaan segelintir oknum.

Menurutnya diperlukan pemikiran matang ketika mengelola perbedaan beragama maupun berkeyakinan. Perbedaan-perbedaan semacam itu sejatinya bukanlah hal baru. Sebenarnya Wayan Madra telah sering mendiskusikan hal tersebut di masa lampau dengan I Gusti Bagus Sugriwa. Ketika itu, I Gusti Bagus Sugriwa menganjurkan agar lebih berfokus kepada tugas masing-masing sebagai penganut agama. Seperti seorang seniman dapat menggunakan kemampuannya dalam berkesenian untuk menunaikan dharma agama.

Terilhami oleh nasihat tersebut, Wayan Madra bersama teman sejawat dan siswa-siswanya di Kokar kemudian memilih berfokus kepada kegiatan ngayah di berbagai pura. “Mohon maaf itu cara kami dahulu, yang kini sudah menjadi generasi tua. Kalau di masa kini, orang muda punya cara yang lebih baik, ya silahkan saja”, demikian ia menekankan.    

Pengabdian Tidak Terputus

Pada awal Januari 2024, Wayan Madra Aryasa berpulang, melebur dalam rawit (keindahan/ pesona) tertinggi. Para sahabat dekat dan murid-muridnya secara bergilir berdatangan ke kediamannya di Subamia, Kelong. Semua tiada henti mengenang kesederhanaan dan kesahajaan Sang Néwata semasih hidup.

Jero Mangku Dwija, putra Wayan Madra sempat bercerita jika ayahnya masih menggerakkan tangan seperti orang magupek hingga detik-detik terakhir hidupnya. Rupanya ia tetap bersetia kepada seni karawitan melebihi rasa sakit, bahkan ajal. Pesan-pesan I Gusti Bagus Sugriwa tetap hidup dalam diri Wayan Madra Aryasa.

Ajaran-ajaran Wayan Madra Aryasa senantiasa hidup dalam benak murid-muridnya. Demikian pula murid-murid Wayan Madra Ayasa akan melakukan hal yang sama kepada murid-muridnya. [T]   

In Memoriam I Made Subandi : Dia Tidak Benar-benar Meninggalkan Kita
In Memoriam | IDK Raka Kusuma dan Umbu
In Memoriam AA Gde Raka Payadnya: Pendiri Drama Gong, Tokoh Puri yang Rendah Hati
Tags: I Gusti Bagus Sugriwain memoriamkarawitanMadra AryasaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

WAIKUNTHA DALAM LONTAR PEMBELAJARAN AKSARA BALI TINGKAT TINGGI

Next Post

Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co