5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam | Wayan Madra Aryasa dan Telatah I Gusti Bagus Sugriwa

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
January 8, 2024
in Esai
In Memoriam | Wayan Madra Aryasa dan Telatah I Gusti Bagus Sugriwa

Wayan Madra Ayasa | Foto: Istimewa

Guru yang Rendah Hati

Sore itu, tatkala mendung mulai bergayut di atas langit Subamia, Wayan Madra Aryasa tengah tercenung  sangat dalam. Disimaknya dengan seksama alunan gamelan yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Barangkali di suatu pura sedang berlangsung odalan.

Sesekali ia memejam, menggeleng, dan menggerakkan tangan seperti orang magupek. Kemudian kembali hening, matanya memejam, kepalanya agak tertunduk. Lalu saat kembali membuka mata, mempersilahkan tamunya menikmati minuman yang telah disajikan sang istri.

“Kanggoang, nak kéto, Mbah nak sing ngelah jajo neng. Dijo yo ngalih jajo nak tré taén kijo (maklumi, begitu adanya, nenek tidak punya jajan mungkin. Dimana mencari jajan, ia tak pernah kemana),” ucapnya pelan dengan aksen Tabanan yang kental. Sang tamupun mencakupkan tangan dan kedua bola matanya turut menerawang, meniru sang empunya rumah.

Tatapan si tamu tiada henti menjelajah, deretan tanda penghargaan di tembok, foto-foto lama, rak arsip dan buku lawas, serta sepasang kendang lanang-wadon di atas lemari yang tampaknya menjadi kesayangan pemilik rumah. Lalu kembali menatap wajah Wayan Madra yang masih lebih sering membisu.

Begitulah sering terjadi, hanya dengan menatap wajah sang guru, menyimak wejangannya yang tak begitu ramai namun bernas, berserta suasana di ruangan itu, para tamu kerap menemukan harta berharga. Banyak yang terinsiprasi untuk menciptakan tabuh, tarian, lagu, hingga karya-karya akademik berkualitas.

Seperti itulah cara Wayan Madra Aryasa menjamu para tamunya yang kebanyakan mengaku sebagai murid. Kerendahatian dan keterusterangannya memicu rasa ketersentuhan yang sulit diungkapan. Mereka selalu datang kembali dengan kerinduan yang tidak pernah pudar kepada gurunya. Kendatipun banyak yang telah memiliki karier mentereng pada bidangnya masing-masing, Wayan Madralah yang tampaknya menjadi salah satu anutan kerendahatian mereka.

Kedekatan dengan I Gusti Bagus Sugriwa

Hari itu, ketika para tamu telah mohon diri saya tertarik untuk menanyakan metode mengajar yang diterapkannya dahulu. Sehingga sukses menjalin ikatan batin yang sangat kuat dengan murid-muridnya. Hal ini sungguh langka di era kekinian, sangat jarang murid yang memiliki kerinduan kepada gurunya ketika telah menamatkan sekolahnya.

Bahkan banyak yang telah apatis semenjak masih bersekolah. Jadilah hubungan guru dan murid tak lebih dari sekadar fatsun palsu. Wayan Madra saat itu tersenyum simpul dan menyebut nama Pak Sugriwa, guru mata pelajaran Agama Hindu ketika dirinya menimba ilmu di Kokar (Konservatori Karawitan Indonesia).

Memang, setiap saya menanyakan suatu perkara, acap Pekak Madra (demikian saya memanggil Beliau) mengulang gagasan-gagasan I Gusti Bagus Sugriwa.

Menurut pengakuannya, cara mengajar yang bersahaja itu secara alamiah diimitasi dari I Gusti Bagus Sugriwa. Tokoh besar yang sederhana dan apa adanya. Menurut tafsiran Wayan Madra, apa adanya dapat menghindarkan kita dari perilaku mengada-ada, menjanjikan terlalu tinggi namun akhirnya mengundang kekecewaan. Kendatipun bukan pula harus menolak untuk membantu orang lain secara maksimal. Sementara itu, bantuan yang diberikan harus juga memperhitungkan batas kemampuan diri sendiri.

Wayan Madra menyebut I Gusti Bagus Sugriwa sebagai sosok yang wikan dan sakti. Wikan artinya memiliki wawasan agama dan budaya yang mumpuni beserta praktiknya, seperti lontar-lontar lengkap dengan aplikasinya. Orang wikan tak sekadar pandai, namun juga bijaksana.

Sakti artinya memiliki kemampuan ajaib yang tidak dimiliki oleh orang-orang pada umumnya, seringkali gagal dicerna oleh akal sehat, namun terjadi begitu adanya. Meskipun wikan dan Sakti, I Gusti Bagus Sugriwa selalu memperlakukan murid-muridnya dengan penuh kasih. Suatu relasi yang menarik kemudian terjalin, guru tidak kehilangan wibawa di hadapan murid-muridnya. Sebaliknya, murid tidak pula campah kepada gurunya.

Kelak di kemudian hari setiap menemukan hambatan-hambatan dalam mengajar, Wayan Madra senantiasa mengingat-ingat cara mengajar I Gusti Bagus Sugriwa di masa lalu. Pada suatu kesempatan, Wayan Madra menyebut I Gusti Bagus Sugriwa sebagai sosok yang lengkap. Ia mengaku tidak mampu menyerap seluruh kemampuan gurunya itu dan lebih memilih jalur seni.

“Ada yang berpendapat seni itu asalnya dari kata Sanskerta sani yang artinya kurang lebih persembahan. Jadi, dengan melakoni seni juga sama dengan menyembah (Tuhan)!” Begitu pendapatnya.

Walalaupun lebih memilih jalur seni karawitan ternyata pengetahuan agama yang diperoleh dari I Gusti Bagus Sugriwa membuat Wayan Madra di masa mendatang sempat dipercaya untuk mengajar mata pelajaran dan mata kuliah Agama Hindu dari tingkat sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Ia mesti menunaikan tugas itu dengan baik sebagai bentuk tanggungjawab. Kendatipun begitu, berkali-kali ia berterus terang tidaklah mampu menyamai kemampuan gurunya.

Rupanya perjodohan Wayan Madra dengan I Gusti Bagus Sugriwa terus berlanjut di masa depan, bahkan ketika gurunya itu telah berpulang. Manakala IHDN Denpasar mengalami peningkatkan status menjadi Universitas, dengan nama Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Wayan Madra Aryasa bersama mantan muridnya Komang Darmayuda ditunjuk untuk membuat mars dan hymne kampus Agama Hindu Negeri pertama di Indonesia tersebut. Sementara sebelumnya ketika Dies Natalis ke XIV IHDN Denpasar pada tahun 2018, Wayan Madra juga telah diganjar Maha Widya Hindu Nugraha Award.

Memuja

Dari I Gusti Bagus Sugriwa pula Wayan Madra Aryasa belajar ‘memuja’. Menurut hematnya pekerjaan memuja adalah hal yang sulit, bahkan mesti dipelajari sepanjang hayat. Cukup sering Wayan Madra menyebut pesan I Gusti Bagus Sugriwa bahwa tujuan utama kehidupan adalah untuk mendalami hakikat (tattwa).

Sementara tattwa sendiri merupakan kawruh pukuhing sangkan paraning sarat (kesadaran mengenai hakikat sumber dan akhir dunia). Orang-orang yang mendalami tattwa sudah pasti teleb dalam memuja. Demikian halnya para pemuja tidak akan mudah menyalahkan orang lain. Ilmu ‘memuja’ yang dipelajari Wayan Madra dari I Gusti Bagus Sugriwa bukan hanya latah diucapkan, namun telah diamalkan dalam keseharian.

Salah satunya ketika menempuh pendidikan di Inggris, ia sempat tidak percaya diri dengan ketatnya sistem ujian di negara tersebut. Para mahasiswa menulis di kertas ujian dengan tanpa menyertakan nama, namun hanya nomor. Selanjutnya dosen yang memeriksa juga tidak diketahui orangnya. Pihak pemeriksa memberikan penilaian baik ataupun buruk secara transparan, sebab juga tidak mengetahui identitas mahasiswa yang diperiksa. Beruntung, Wayan Madra bisa melewati ujian-ujian tersebut dengan lancar.

Selain karena kerja keras tanpa henti, keberhasilan studi tersebut diakuinya karena anugerah Tuhan. Dengan demikian memuja menurut Wayan Madra Aryasa adalah bekerja keras sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Setelah berhasil, tidak boleh takabur.

Meninggalkan Kenangan Baik

Pada suatu kesempatan Wayan Madra Aryasa menuturkan riwayat orangtuanya yang tiada berbeda dengan orang desa kebanyakan, namun teguh meninggalkan jejak baik yang kelak dapat ditiru oleh generasi penerusnya. Seperti sepanjang malam membaca lontar yang sarat petuah-petuah agama.

Tentunya isi lontar tersebut tidak cuma dibaca namun dijadikan pedoman hidup. Hal itulah yang kelak memacunya untuk meninggalkan kenangan baik bagi keturunannya. Bila orangtua Wayan Madra mewariskan lontar, ia tergerak untuk mengarsipkan tulisan-tulisan dan foto-foto.

Terdapat kisah menarik ketika kuliah di Inggris, Wayan Madra bersusah payah menyisihkan uang untuk membeli kamera yang saat itu harganya cukup mahal. Beralatkan kamera itulah Wayan Madra mengabadikan momen-momen berharga disana, yang kelak disimpannya dengan rapi.      

Olahraga, Olah Rasa, dan Olah Sukma

Selain dikenal sebagai maestro dalam bidang karawitan, Wayan Madra juga sejak kecil menggemari olahraga. Ia terilhami dari kelincahan orangtuanya yang merupakan seorang pesilat. Ternyata ilmu silat tidak hanya bermanfaat untuk melindungi diri dari gangguan yang berasal dari luar. Gangguan dari dalampun bisa dituntaskannya seperti rasa malas dan penyakit-penyakit lain yang timbul ketika jarang bergerak.

Saat menginjak remaja, Wayan Madra tertarik pula kepada sepakbola. Bahkan sempat mendirikan klub sepakbola bernama Meteor di Subamia. Sementara ketika hari mulai gelap, ia kembali mengakrabi bidang yang membesarkan namanya yakni gamelan. Hingga larut malam Wayan Madra seringkali kalangen (terbawa suasana) menabuh gamelan bersama kawan-kawannya. Tentu aktifitas ini membutuhkan pengolahan rasa yang sangat intens.

Selain olahraga dan olah rasa, sejatinya Wayan Madra juga sangat berdisiplin dengan olah sukma. Praktik olah suksma ini terutama banyak diajarkan oleh I Gusti Bagus Sugriwa. Menurut Wayan Madra, olah suksma berkaitan dengan upaya untuk menyadari inti kehidupan (Atman). Tentunya karena olah sukma ini mengandung banyak aspek esoterik, menjadi paling jarang diungkap secara gamblang olehnya.

Ketika mengajar, Wayan Madra senantiasa menekankan penyeimbangan ketiga macam ólah’ tersebut kepada murid-muridnya. Disebutnya manakala dilakukan dengan benar maka akan membuat pelakunya menjadi stabil.

Dedikasi Wayan Madra kepada eksistensi ketiga macam ‘olah’ tersebut juga terbukti tidak setengah-setengah. Pada bidang olahraga, Wayan Madra turut mendukung pengajaran pencak silat di Kokar. Menurutnya, gerakan-gerakan silat juga memiliki nilai estetika sebagaimana yang terdapat pada tarian.

Pada bidang olah rasa, selain aktif mengajar teori dan praktik karawitan, Wayan Madra juga menghasilkan banyak karya tulis di bidang tersebut. Dalam bidang olah sukma, Wayan Madra yang sempat mengajar mata pelajaran dan mata kuliah Agama Hindu lintas sekolah, lintas kampus, dan lintas jurusan meninggalkan kesan yang mendalam di hati murid-murid serta mahasiswanya. Terutama karena mahir memantik penghayatan kepada keberadaan tertinggi yang menguasai segalanya (Tuhan). Hal itu sebenarnya sangat penting untuk membangkitkan religiusitas dalam diri para anak muda. Manakala religiusitasnya telah mapan maka akan dapat dijauhkan dari perbuatan-perbuatan tercela. 

Pesan Bagi Para Penerus Kesenian Bali 

Wayan Madra sangat menyadari bila keluhuran seni telah membuat orang Bali sangat dihormati di luar negeri. Ketika kuliah di Inggris, Wayan Madra kerap diundang oleh warga setempat yang tertarik dengan seni dan budaya Bali. Ia sangat terharu ketika Bali dipuji sangat tinggi. Salah satu momen yang sangat membekas di hatinya adalah gamelan Bali sukses menyatukan warga kampus yang ada disana. Awalnya mereka tidak saling mengenal atau jarang berinteraksi.

Menakjubkannya ketika sama-sama berlatih gamelan Bali, mereka menjadi bertambah akrab. “Rupanya mereka juga merindukan keakraban seperti yang sudah kita miliki di timur.” Begitu ucap Wayan Madra pada suatu kesempatan.

Tentu saja kalau dirunut, kesenian dan kebudayaan Bali sebagai wujudnya yang lebih luas lahir dari Agama Hindu. Tatkala seseorang beragama dengan benar maka akan lahir kesenian maupun kebudayaan yang mampu menggetarkan dunia. Beragama dengan benar menurut Wayan Madra adalah mampu menghormati perbedaan, sebagaimana model Siwa-Budha Tunggal yang senantiasa didengungkan oleh I Gusti Bagus Sugriwa. Manakala seseorang mengganggu agama atau kepercayaan orang lain maka sejatinya juga menghambat kemajuan rohaninya sendiri. Wayan Madra sangat khawatir ketika melihat orang-orang yang sibuk berebut klaim kebenaran (claim of truth). Lebih-lebih ada indikasi bila hal tersebut menjangkit ke Bali. Apabila hal itu dibiarkan maka akan berdampak kepada citra Bali di dunia internasional.

Wajar kekhawatiran semacam itu merasuki diri Wayan Madra karena di masa tuanya didapuk menjadi ketua ISTAKARI (Ikatan Siswa Taman Kokar) Bali. Para alumnus kokar yang berjumlah ribuan semenjak angkatan pertama di tahun 1960an telah berjuang keras mengharumkan nama Bali di seantero dunia melalui kesenian. Sungguh sangat disayangkan apabila kemudian tercoreng oleh ulah ketidakdewasaan segelintir oknum.

Menurutnya diperlukan pemikiran matang ketika mengelola perbedaan beragama maupun berkeyakinan. Perbedaan-perbedaan semacam itu sejatinya bukanlah hal baru. Sebenarnya Wayan Madra telah sering mendiskusikan hal tersebut di masa lampau dengan I Gusti Bagus Sugriwa. Ketika itu, I Gusti Bagus Sugriwa menganjurkan agar lebih berfokus kepada tugas masing-masing sebagai penganut agama. Seperti seorang seniman dapat menggunakan kemampuannya dalam berkesenian untuk menunaikan dharma agama.

Terilhami oleh nasihat tersebut, Wayan Madra bersama teman sejawat dan siswa-siswanya di Kokar kemudian memilih berfokus kepada kegiatan ngayah di berbagai pura. “Mohon maaf itu cara kami dahulu, yang kini sudah menjadi generasi tua. Kalau di masa kini, orang muda punya cara yang lebih baik, ya silahkan saja”, demikian ia menekankan.    

Pengabdian Tidak Terputus

Pada awal Januari 2024, Wayan Madra Aryasa berpulang, melebur dalam rawit (keindahan/ pesona) tertinggi. Para sahabat dekat dan murid-muridnya secara bergilir berdatangan ke kediamannya di Subamia, Kelong. Semua tiada henti mengenang kesederhanaan dan kesahajaan Sang Néwata semasih hidup.

Jero Mangku Dwija, putra Wayan Madra sempat bercerita jika ayahnya masih menggerakkan tangan seperti orang magupek hingga detik-detik terakhir hidupnya. Rupanya ia tetap bersetia kepada seni karawitan melebihi rasa sakit, bahkan ajal. Pesan-pesan I Gusti Bagus Sugriwa tetap hidup dalam diri Wayan Madra Aryasa.

Ajaran-ajaran Wayan Madra Aryasa senantiasa hidup dalam benak murid-muridnya. Demikian pula murid-murid Wayan Madra Ayasa akan melakukan hal yang sama kepada murid-muridnya. [T]   

In Memoriam I Made Subandi : Dia Tidak Benar-benar Meninggalkan Kita
In Memoriam | IDK Raka Kusuma dan Umbu
In Memoriam AA Gde Raka Payadnya: Pendiri Drama Gong, Tokoh Puri yang Rendah Hati
Tags: I Gusti Bagus Sugriwain memoriamkarawitanMadra AryasaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

WAIKUNTHA DALAM LONTAR PEMBELAJARAN AKSARA BALI TINGKAT TINGGI

Next Post

Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co