16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam | Wayan Madra Aryasa dan Telatah I Gusti Bagus Sugriwa

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
January 8, 2024
in Esai
In Memoriam | Wayan Madra Aryasa dan Telatah I Gusti Bagus Sugriwa

Wayan Madra Ayasa | Foto: Istimewa

Guru yang Rendah Hati

Sore itu, tatkala mendung mulai bergayut di atas langit Subamia, Wayan Madra Aryasa tengah tercenung  sangat dalam. Disimaknya dengan seksama alunan gamelan yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Barangkali di suatu pura sedang berlangsung odalan.

Sesekali ia memejam, menggeleng, dan menggerakkan tangan seperti orang magupek. Kemudian kembali hening, matanya memejam, kepalanya agak tertunduk. Lalu saat kembali membuka mata, mempersilahkan tamunya menikmati minuman yang telah disajikan sang istri.

“Kanggoang, nak kéto, Mbah nak sing ngelah jajo neng. Dijo yo ngalih jajo nak tré taén kijo (maklumi, begitu adanya, nenek tidak punya jajan mungkin. Dimana mencari jajan, ia tak pernah kemana),” ucapnya pelan dengan aksen Tabanan yang kental. Sang tamupun mencakupkan tangan dan kedua bola matanya turut menerawang, meniru sang empunya rumah.

Tatapan si tamu tiada henti menjelajah, deretan tanda penghargaan di tembok, foto-foto lama, rak arsip dan buku lawas, serta sepasang kendang lanang-wadon di atas lemari yang tampaknya menjadi kesayangan pemilik rumah. Lalu kembali menatap wajah Wayan Madra yang masih lebih sering membisu.

Begitulah sering terjadi, hanya dengan menatap wajah sang guru, menyimak wejangannya yang tak begitu ramai namun bernas, berserta suasana di ruangan itu, para tamu kerap menemukan harta berharga. Banyak yang terinsiprasi untuk menciptakan tabuh, tarian, lagu, hingga karya-karya akademik berkualitas.

Seperti itulah cara Wayan Madra Aryasa menjamu para tamunya yang kebanyakan mengaku sebagai murid. Kerendahatian dan keterusterangannya memicu rasa ketersentuhan yang sulit diungkapan. Mereka selalu datang kembali dengan kerinduan yang tidak pernah pudar kepada gurunya. Kendatipun banyak yang telah memiliki karier mentereng pada bidangnya masing-masing, Wayan Madralah yang tampaknya menjadi salah satu anutan kerendahatian mereka.

Kedekatan dengan I Gusti Bagus Sugriwa

Hari itu, ketika para tamu telah mohon diri saya tertarik untuk menanyakan metode mengajar yang diterapkannya dahulu. Sehingga sukses menjalin ikatan batin yang sangat kuat dengan murid-muridnya. Hal ini sungguh langka di era kekinian, sangat jarang murid yang memiliki kerinduan kepada gurunya ketika telah menamatkan sekolahnya.

Bahkan banyak yang telah apatis semenjak masih bersekolah. Jadilah hubungan guru dan murid tak lebih dari sekadar fatsun palsu. Wayan Madra saat itu tersenyum simpul dan menyebut nama Pak Sugriwa, guru mata pelajaran Agama Hindu ketika dirinya menimba ilmu di Kokar (Konservatori Karawitan Indonesia).

Memang, setiap saya menanyakan suatu perkara, acap Pekak Madra (demikian saya memanggil Beliau) mengulang gagasan-gagasan I Gusti Bagus Sugriwa.

Menurut pengakuannya, cara mengajar yang bersahaja itu secara alamiah diimitasi dari I Gusti Bagus Sugriwa. Tokoh besar yang sederhana dan apa adanya. Menurut tafsiran Wayan Madra, apa adanya dapat menghindarkan kita dari perilaku mengada-ada, menjanjikan terlalu tinggi namun akhirnya mengundang kekecewaan. Kendatipun bukan pula harus menolak untuk membantu orang lain secara maksimal. Sementara itu, bantuan yang diberikan harus juga memperhitungkan batas kemampuan diri sendiri.

Wayan Madra menyebut I Gusti Bagus Sugriwa sebagai sosok yang wikan dan sakti. Wikan artinya memiliki wawasan agama dan budaya yang mumpuni beserta praktiknya, seperti lontar-lontar lengkap dengan aplikasinya. Orang wikan tak sekadar pandai, namun juga bijaksana.

Sakti artinya memiliki kemampuan ajaib yang tidak dimiliki oleh orang-orang pada umumnya, seringkali gagal dicerna oleh akal sehat, namun terjadi begitu adanya. Meskipun wikan dan Sakti, I Gusti Bagus Sugriwa selalu memperlakukan murid-muridnya dengan penuh kasih. Suatu relasi yang menarik kemudian terjalin, guru tidak kehilangan wibawa di hadapan murid-muridnya. Sebaliknya, murid tidak pula campah kepada gurunya.

Kelak di kemudian hari setiap menemukan hambatan-hambatan dalam mengajar, Wayan Madra senantiasa mengingat-ingat cara mengajar I Gusti Bagus Sugriwa di masa lalu. Pada suatu kesempatan, Wayan Madra menyebut I Gusti Bagus Sugriwa sebagai sosok yang lengkap. Ia mengaku tidak mampu menyerap seluruh kemampuan gurunya itu dan lebih memilih jalur seni.

“Ada yang berpendapat seni itu asalnya dari kata Sanskerta sani yang artinya kurang lebih persembahan. Jadi, dengan melakoni seni juga sama dengan menyembah (Tuhan)!” Begitu pendapatnya.

Walalaupun lebih memilih jalur seni karawitan ternyata pengetahuan agama yang diperoleh dari I Gusti Bagus Sugriwa membuat Wayan Madra di masa mendatang sempat dipercaya untuk mengajar mata pelajaran dan mata kuliah Agama Hindu dari tingkat sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Ia mesti menunaikan tugas itu dengan baik sebagai bentuk tanggungjawab. Kendatipun begitu, berkali-kali ia berterus terang tidaklah mampu menyamai kemampuan gurunya.

Rupanya perjodohan Wayan Madra dengan I Gusti Bagus Sugriwa terus berlanjut di masa depan, bahkan ketika gurunya itu telah berpulang. Manakala IHDN Denpasar mengalami peningkatkan status menjadi Universitas, dengan nama Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Wayan Madra Aryasa bersama mantan muridnya Komang Darmayuda ditunjuk untuk membuat mars dan hymne kampus Agama Hindu Negeri pertama di Indonesia tersebut. Sementara sebelumnya ketika Dies Natalis ke XIV IHDN Denpasar pada tahun 2018, Wayan Madra juga telah diganjar Maha Widya Hindu Nugraha Award.

Memuja

Dari I Gusti Bagus Sugriwa pula Wayan Madra Aryasa belajar ‘memuja’. Menurut hematnya pekerjaan memuja adalah hal yang sulit, bahkan mesti dipelajari sepanjang hayat. Cukup sering Wayan Madra menyebut pesan I Gusti Bagus Sugriwa bahwa tujuan utama kehidupan adalah untuk mendalami hakikat (tattwa).

Sementara tattwa sendiri merupakan kawruh pukuhing sangkan paraning sarat (kesadaran mengenai hakikat sumber dan akhir dunia). Orang-orang yang mendalami tattwa sudah pasti teleb dalam memuja. Demikian halnya para pemuja tidak akan mudah menyalahkan orang lain. Ilmu ‘memuja’ yang dipelajari Wayan Madra dari I Gusti Bagus Sugriwa bukan hanya latah diucapkan, namun telah diamalkan dalam keseharian.

Salah satunya ketika menempuh pendidikan di Inggris, ia sempat tidak percaya diri dengan ketatnya sistem ujian di negara tersebut. Para mahasiswa menulis di kertas ujian dengan tanpa menyertakan nama, namun hanya nomor. Selanjutnya dosen yang memeriksa juga tidak diketahui orangnya. Pihak pemeriksa memberikan penilaian baik ataupun buruk secara transparan, sebab juga tidak mengetahui identitas mahasiswa yang diperiksa. Beruntung, Wayan Madra bisa melewati ujian-ujian tersebut dengan lancar.

Selain karena kerja keras tanpa henti, keberhasilan studi tersebut diakuinya karena anugerah Tuhan. Dengan demikian memuja menurut Wayan Madra Aryasa adalah bekerja keras sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Setelah berhasil, tidak boleh takabur.

Meninggalkan Kenangan Baik

Pada suatu kesempatan Wayan Madra Aryasa menuturkan riwayat orangtuanya yang tiada berbeda dengan orang desa kebanyakan, namun teguh meninggalkan jejak baik yang kelak dapat ditiru oleh generasi penerusnya. Seperti sepanjang malam membaca lontar yang sarat petuah-petuah agama.

Tentunya isi lontar tersebut tidak cuma dibaca namun dijadikan pedoman hidup. Hal itulah yang kelak memacunya untuk meninggalkan kenangan baik bagi keturunannya. Bila orangtua Wayan Madra mewariskan lontar, ia tergerak untuk mengarsipkan tulisan-tulisan dan foto-foto.

Terdapat kisah menarik ketika kuliah di Inggris, Wayan Madra bersusah payah menyisihkan uang untuk membeli kamera yang saat itu harganya cukup mahal. Beralatkan kamera itulah Wayan Madra mengabadikan momen-momen berharga disana, yang kelak disimpannya dengan rapi.      

Olahraga, Olah Rasa, dan Olah Sukma

Selain dikenal sebagai maestro dalam bidang karawitan, Wayan Madra juga sejak kecil menggemari olahraga. Ia terilhami dari kelincahan orangtuanya yang merupakan seorang pesilat. Ternyata ilmu silat tidak hanya bermanfaat untuk melindungi diri dari gangguan yang berasal dari luar. Gangguan dari dalampun bisa dituntaskannya seperti rasa malas dan penyakit-penyakit lain yang timbul ketika jarang bergerak.

Saat menginjak remaja, Wayan Madra tertarik pula kepada sepakbola. Bahkan sempat mendirikan klub sepakbola bernama Meteor di Subamia. Sementara ketika hari mulai gelap, ia kembali mengakrabi bidang yang membesarkan namanya yakni gamelan. Hingga larut malam Wayan Madra seringkali kalangen (terbawa suasana) menabuh gamelan bersama kawan-kawannya. Tentu aktifitas ini membutuhkan pengolahan rasa yang sangat intens.

Selain olahraga dan olah rasa, sejatinya Wayan Madra juga sangat berdisiplin dengan olah sukma. Praktik olah suksma ini terutama banyak diajarkan oleh I Gusti Bagus Sugriwa. Menurut Wayan Madra, olah suksma berkaitan dengan upaya untuk menyadari inti kehidupan (Atman). Tentunya karena olah sukma ini mengandung banyak aspek esoterik, menjadi paling jarang diungkap secara gamblang olehnya.

Ketika mengajar, Wayan Madra senantiasa menekankan penyeimbangan ketiga macam ólah’ tersebut kepada murid-muridnya. Disebutnya manakala dilakukan dengan benar maka akan membuat pelakunya menjadi stabil.

Dedikasi Wayan Madra kepada eksistensi ketiga macam ‘olah’ tersebut juga terbukti tidak setengah-setengah. Pada bidang olahraga, Wayan Madra turut mendukung pengajaran pencak silat di Kokar. Menurutnya, gerakan-gerakan silat juga memiliki nilai estetika sebagaimana yang terdapat pada tarian.

Pada bidang olah rasa, selain aktif mengajar teori dan praktik karawitan, Wayan Madra juga menghasilkan banyak karya tulis di bidang tersebut. Dalam bidang olah sukma, Wayan Madra yang sempat mengajar mata pelajaran dan mata kuliah Agama Hindu lintas sekolah, lintas kampus, dan lintas jurusan meninggalkan kesan yang mendalam di hati murid-murid serta mahasiswanya. Terutama karena mahir memantik penghayatan kepada keberadaan tertinggi yang menguasai segalanya (Tuhan). Hal itu sebenarnya sangat penting untuk membangkitkan religiusitas dalam diri para anak muda. Manakala religiusitasnya telah mapan maka akan dapat dijauhkan dari perbuatan-perbuatan tercela. 

Pesan Bagi Para Penerus Kesenian Bali 

Wayan Madra sangat menyadari bila keluhuran seni telah membuat orang Bali sangat dihormati di luar negeri. Ketika kuliah di Inggris, Wayan Madra kerap diundang oleh warga setempat yang tertarik dengan seni dan budaya Bali. Ia sangat terharu ketika Bali dipuji sangat tinggi. Salah satu momen yang sangat membekas di hatinya adalah gamelan Bali sukses menyatukan warga kampus yang ada disana. Awalnya mereka tidak saling mengenal atau jarang berinteraksi.

Menakjubkannya ketika sama-sama berlatih gamelan Bali, mereka menjadi bertambah akrab. “Rupanya mereka juga merindukan keakraban seperti yang sudah kita miliki di timur.” Begitu ucap Wayan Madra pada suatu kesempatan.

Tentu saja kalau dirunut, kesenian dan kebudayaan Bali sebagai wujudnya yang lebih luas lahir dari Agama Hindu. Tatkala seseorang beragama dengan benar maka akan lahir kesenian maupun kebudayaan yang mampu menggetarkan dunia. Beragama dengan benar menurut Wayan Madra adalah mampu menghormati perbedaan, sebagaimana model Siwa-Budha Tunggal yang senantiasa didengungkan oleh I Gusti Bagus Sugriwa. Manakala seseorang mengganggu agama atau kepercayaan orang lain maka sejatinya juga menghambat kemajuan rohaninya sendiri. Wayan Madra sangat khawatir ketika melihat orang-orang yang sibuk berebut klaim kebenaran (claim of truth). Lebih-lebih ada indikasi bila hal tersebut menjangkit ke Bali. Apabila hal itu dibiarkan maka akan berdampak kepada citra Bali di dunia internasional.

Wajar kekhawatiran semacam itu merasuki diri Wayan Madra karena di masa tuanya didapuk menjadi ketua ISTAKARI (Ikatan Siswa Taman Kokar) Bali. Para alumnus kokar yang berjumlah ribuan semenjak angkatan pertama di tahun 1960an telah berjuang keras mengharumkan nama Bali di seantero dunia melalui kesenian. Sungguh sangat disayangkan apabila kemudian tercoreng oleh ulah ketidakdewasaan segelintir oknum.

Menurutnya diperlukan pemikiran matang ketika mengelola perbedaan beragama maupun berkeyakinan. Perbedaan-perbedaan semacam itu sejatinya bukanlah hal baru. Sebenarnya Wayan Madra telah sering mendiskusikan hal tersebut di masa lampau dengan I Gusti Bagus Sugriwa. Ketika itu, I Gusti Bagus Sugriwa menganjurkan agar lebih berfokus kepada tugas masing-masing sebagai penganut agama. Seperti seorang seniman dapat menggunakan kemampuannya dalam berkesenian untuk menunaikan dharma agama.

Terilhami oleh nasihat tersebut, Wayan Madra bersama teman sejawat dan siswa-siswanya di Kokar kemudian memilih berfokus kepada kegiatan ngayah di berbagai pura. “Mohon maaf itu cara kami dahulu, yang kini sudah menjadi generasi tua. Kalau di masa kini, orang muda punya cara yang lebih baik, ya silahkan saja”, demikian ia menekankan.    

Pengabdian Tidak Terputus

Pada awal Januari 2024, Wayan Madra Aryasa berpulang, melebur dalam rawit (keindahan/ pesona) tertinggi. Para sahabat dekat dan murid-muridnya secara bergilir berdatangan ke kediamannya di Subamia, Kelong. Semua tiada henti mengenang kesederhanaan dan kesahajaan Sang Néwata semasih hidup.

Jero Mangku Dwija, putra Wayan Madra sempat bercerita jika ayahnya masih menggerakkan tangan seperti orang magupek hingga detik-detik terakhir hidupnya. Rupanya ia tetap bersetia kepada seni karawitan melebihi rasa sakit, bahkan ajal. Pesan-pesan I Gusti Bagus Sugriwa tetap hidup dalam diri Wayan Madra Aryasa.

Ajaran-ajaran Wayan Madra Aryasa senantiasa hidup dalam benak murid-muridnya. Demikian pula murid-murid Wayan Madra Ayasa akan melakukan hal yang sama kepada murid-muridnya. [T]   

In Memoriam I Made Subandi : Dia Tidak Benar-benar Meninggalkan Kita
In Memoriam | IDK Raka Kusuma dan Umbu
In Memoriam AA Gde Raka Payadnya: Pendiri Drama Gong, Tokoh Puri yang Rendah Hati
Tags: I Gusti Bagus Sugriwain memoriamkarawitanMadra AryasaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

WAIKUNTHA DALAM LONTAR PEMBELAJARAN AKSARA BALI TINGKAT TINGGI

Next Post

Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co