16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam | Wayan Madra Aryasa dan Telatah I Gusti Bagus Sugriwa

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
January 8, 2024
in Esai
In Memoriam | Wayan Madra Aryasa dan Telatah I Gusti Bagus Sugriwa

Wayan Madra Ayasa | Foto: Istimewa

Guru yang Rendah Hati

Sore itu, tatkala mendung mulai bergayut di atas langit Subamia, Wayan Madra Aryasa tengah tercenung  sangat dalam. Disimaknya dengan seksama alunan gamelan yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Barangkali di suatu pura sedang berlangsung odalan.

Sesekali ia memejam, menggeleng, dan menggerakkan tangan seperti orang magupek. Kemudian kembali hening, matanya memejam, kepalanya agak tertunduk. Lalu saat kembali membuka mata, mempersilahkan tamunya menikmati minuman yang telah disajikan sang istri.

“Kanggoang, nak kéto, Mbah nak sing ngelah jajo neng. Dijo yo ngalih jajo nak tré taén kijo (maklumi, begitu adanya, nenek tidak punya jajan mungkin. Dimana mencari jajan, ia tak pernah kemana),” ucapnya pelan dengan aksen Tabanan yang kental. Sang tamupun mencakupkan tangan dan kedua bola matanya turut menerawang, meniru sang empunya rumah.

Tatapan si tamu tiada henti menjelajah, deretan tanda penghargaan di tembok, foto-foto lama, rak arsip dan buku lawas, serta sepasang kendang lanang-wadon di atas lemari yang tampaknya menjadi kesayangan pemilik rumah. Lalu kembali menatap wajah Wayan Madra yang masih lebih sering membisu.

Begitulah sering terjadi, hanya dengan menatap wajah sang guru, menyimak wejangannya yang tak begitu ramai namun bernas, berserta suasana di ruangan itu, para tamu kerap menemukan harta berharga. Banyak yang terinsiprasi untuk menciptakan tabuh, tarian, lagu, hingga karya-karya akademik berkualitas.

Seperti itulah cara Wayan Madra Aryasa menjamu para tamunya yang kebanyakan mengaku sebagai murid. Kerendahatian dan keterusterangannya memicu rasa ketersentuhan yang sulit diungkapan. Mereka selalu datang kembali dengan kerinduan yang tidak pernah pudar kepada gurunya. Kendatipun banyak yang telah memiliki karier mentereng pada bidangnya masing-masing, Wayan Madralah yang tampaknya menjadi salah satu anutan kerendahatian mereka.

Kedekatan dengan I Gusti Bagus Sugriwa

Hari itu, ketika para tamu telah mohon diri saya tertarik untuk menanyakan metode mengajar yang diterapkannya dahulu. Sehingga sukses menjalin ikatan batin yang sangat kuat dengan murid-muridnya. Hal ini sungguh langka di era kekinian, sangat jarang murid yang memiliki kerinduan kepada gurunya ketika telah menamatkan sekolahnya.

Bahkan banyak yang telah apatis semenjak masih bersekolah. Jadilah hubungan guru dan murid tak lebih dari sekadar fatsun palsu. Wayan Madra saat itu tersenyum simpul dan menyebut nama Pak Sugriwa, guru mata pelajaran Agama Hindu ketika dirinya menimba ilmu di Kokar (Konservatori Karawitan Indonesia).

Memang, setiap saya menanyakan suatu perkara, acap Pekak Madra (demikian saya memanggil Beliau) mengulang gagasan-gagasan I Gusti Bagus Sugriwa.

Menurut pengakuannya, cara mengajar yang bersahaja itu secara alamiah diimitasi dari I Gusti Bagus Sugriwa. Tokoh besar yang sederhana dan apa adanya. Menurut tafsiran Wayan Madra, apa adanya dapat menghindarkan kita dari perilaku mengada-ada, menjanjikan terlalu tinggi namun akhirnya mengundang kekecewaan. Kendatipun bukan pula harus menolak untuk membantu orang lain secara maksimal. Sementara itu, bantuan yang diberikan harus juga memperhitungkan batas kemampuan diri sendiri.

Wayan Madra menyebut I Gusti Bagus Sugriwa sebagai sosok yang wikan dan sakti. Wikan artinya memiliki wawasan agama dan budaya yang mumpuni beserta praktiknya, seperti lontar-lontar lengkap dengan aplikasinya. Orang wikan tak sekadar pandai, namun juga bijaksana.

Sakti artinya memiliki kemampuan ajaib yang tidak dimiliki oleh orang-orang pada umumnya, seringkali gagal dicerna oleh akal sehat, namun terjadi begitu adanya. Meskipun wikan dan Sakti, I Gusti Bagus Sugriwa selalu memperlakukan murid-muridnya dengan penuh kasih. Suatu relasi yang menarik kemudian terjalin, guru tidak kehilangan wibawa di hadapan murid-muridnya. Sebaliknya, murid tidak pula campah kepada gurunya.

Kelak di kemudian hari setiap menemukan hambatan-hambatan dalam mengajar, Wayan Madra senantiasa mengingat-ingat cara mengajar I Gusti Bagus Sugriwa di masa lalu. Pada suatu kesempatan, Wayan Madra menyebut I Gusti Bagus Sugriwa sebagai sosok yang lengkap. Ia mengaku tidak mampu menyerap seluruh kemampuan gurunya itu dan lebih memilih jalur seni.

“Ada yang berpendapat seni itu asalnya dari kata Sanskerta sani yang artinya kurang lebih persembahan. Jadi, dengan melakoni seni juga sama dengan menyembah (Tuhan)!” Begitu pendapatnya.

Walalaupun lebih memilih jalur seni karawitan ternyata pengetahuan agama yang diperoleh dari I Gusti Bagus Sugriwa membuat Wayan Madra di masa mendatang sempat dipercaya untuk mengajar mata pelajaran dan mata kuliah Agama Hindu dari tingkat sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Ia mesti menunaikan tugas itu dengan baik sebagai bentuk tanggungjawab. Kendatipun begitu, berkali-kali ia berterus terang tidaklah mampu menyamai kemampuan gurunya.

Rupanya perjodohan Wayan Madra dengan I Gusti Bagus Sugriwa terus berlanjut di masa depan, bahkan ketika gurunya itu telah berpulang. Manakala IHDN Denpasar mengalami peningkatkan status menjadi Universitas, dengan nama Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Wayan Madra Aryasa bersama mantan muridnya Komang Darmayuda ditunjuk untuk membuat mars dan hymne kampus Agama Hindu Negeri pertama di Indonesia tersebut. Sementara sebelumnya ketika Dies Natalis ke XIV IHDN Denpasar pada tahun 2018, Wayan Madra juga telah diganjar Maha Widya Hindu Nugraha Award.

Memuja

Dari I Gusti Bagus Sugriwa pula Wayan Madra Aryasa belajar ‘memuja’. Menurut hematnya pekerjaan memuja adalah hal yang sulit, bahkan mesti dipelajari sepanjang hayat. Cukup sering Wayan Madra menyebut pesan I Gusti Bagus Sugriwa bahwa tujuan utama kehidupan adalah untuk mendalami hakikat (tattwa).

Sementara tattwa sendiri merupakan kawruh pukuhing sangkan paraning sarat (kesadaran mengenai hakikat sumber dan akhir dunia). Orang-orang yang mendalami tattwa sudah pasti teleb dalam memuja. Demikian halnya para pemuja tidak akan mudah menyalahkan orang lain. Ilmu ‘memuja’ yang dipelajari Wayan Madra dari I Gusti Bagus Sugriwa bukan hanya latah diucapkan, namun telah diamalkan dalam keseharian.

Salah satunya ketika menempuh pendidikan di Inggris, ia sempat tidak percaya diri dengan ketatnya sistem ujian di negara tersebut. Para mahasiswa menulis di kertas ujian dengan tanpa menyertakan nama, namun hanya nomor. Selanjutnya dosen yang memeriksa juga tidak diketahui orangnya. Pihak pemeriksa memberikan penilaian baik ataupun buruk secara transparan, sebab juga tidak mengetahui identitas mahasiswa yang diperiksa. Beruntung, Wayan Madra bisa melewati ujian-ujian tersebut dengan lancar.

Selain karena kerja keras tanpa henti, keberhasilan studi tersebut diakuinya karena anugerah Tuhan. Dengan demikian memuja menurut Wayan Madra Aryasa adalah bekerja keras sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Setelah berhasil, tidak boleh takabur.

Meninggalkan Kenangan Baik

Pada suatu kesempatan Wayan Madra Aryasa menuturkan riwayat orangtuanya yang tiada berbeda dengan orang desa kebanyakan, namun teguh meninggalkan jejak baik yang kelak dapat ditiru oleh generasi penerusnya. Seperti sepanjang malam membaca lontar yang sarat petuah-petuah agama.

Tentunya isi lontar tersebut tidak cuma dibaca namun dijadikan pedoman hidup. Hal itulah yang kelak memacunya untuk meninggalkan kenangan baik bagi keturunannya. Bila orangtua Wayan Madra mewariskan lontar, ia tergerak untuk mengarsipkan tulisan-tulisan dan foto-foto.

Terdapat kisah menarik ketika kuliah di Inggris, Wayan Madra bersusah payah menyisihkan uang untuk membeli kamera yang saat itu harganya cukup mahal. Beralatkan kamera itulah Wayan Madra mengabadikan momen-momen berharga disana, yang kelak disimpannya dengan rapi.      

Olahraga, Olah Rasa, dan Olah Sukma

Selain dikenal sebagai maestro dalam bidang karawitan, Wayan Madra juga sejak kecil menggemari olahraga. Ia terilhami dari kelincahan orangtuanya yang merupakan seorang pesilat. Ternyata ilmu silat tidak hanya bermanfaat untuk melindungi diri dari gangguan yang berasal dari luar. Gangguan dari dalampun bisa dituntaskannya seperti rasa malas dan penyakit-penyakit lain yang timbul ketika jarang bergerak.

Saat menginjak remaja, Wayan Madra tertarik pula kepada sepakbola. Bahkan sempat mendirikan klub sepakbola bernama Meteor di Subamia. Sementara ketika hari mulai gelap, ia kembali mengakrabi bidang yang membesarkan namanya yakni gamelan. Hingga larut malam Wayan Madra seringkali kalangen (terbawa suasana) menabuh gamelan bersama kawan-kawannya. Tentu aktifitas ini membutuhkan pengolahan rasa yang sangat intens.

Selain olahraga dan olah rasa, sejatinya Wayan Madra juga sangat berdisiplin dengan olah sukma. Praktik olah suksma ini terutama banyak diajarkan oleh I Gusti Bagus Sugriwa. Menurut Wayan Madra, olah suksma berkaitan dengan upaya untuk menyadari inti kehidupan (Atman). Tentunya karena olah sukma ini mengandung banyak aspek esoterik, menjadi paling jarang diungkap secara gamblang olehnya.

Ketika mengajar, Wayan Madra senantiasa menekankan penyeimbangan ketiga macam ólah’ tersebut kepada murid-muridnya. Disebutnya manakala dilakukan dengan benar maka akan membuat pelakunya menjadi stabil.

Dedikasi Wayan Madra kepada eksistensi ketiga macam ‘olah’ tersebut juga terbukti tidak setengah-setengah. Pada bidang olahraga, Wayan Madra turut mendukung pengajaran pencak silat di Kokar. Menurutnya, gerakan-gerakan silat juga memiliki nilai estetika sebagaimana yang terdapat pada tarian.

Pada bidang olah rasa, selain aktif mengajar teori dan praktik karawitan, Wayan Madra juga menghasilkan banyak karya tulis di bidang tersebut. Dalam bidang olah sukma, Wayan Madra yang sempat mengajar mata pelajaran dan mata kuliah Agama Hindu lintas sekolah, lintas kampus, dan lintas jurusan meninggalkan kesan yang mendalam di hati murid-murid serta mahasiswanya. Terutama karena mahir memantik penghayatan kepada keberadaan tertinggi yang menguasai segalanya (Tuhan). Hal itu sebenarnya sangat penting untuk membangkitkan religiusitas dalam diri para anak muda. Manakala religiusitasnya telah mapan maka akan dapat dijauhkan dari perbuatan-perbuatan tercela. 

Pesan Bagi Para Penerus Kesenian Bali 

Wayan Madra sangat menyadari bila keluhuran seni telah membuat orang Bali sangat dihormati di luar negeri. Ketika kuliah di Inggris, Wayan Madra kerap diundang oleh warga setempat yang tertarik dengan seni dan budaya Bali. Ia sangat terharu ketika Bali dipuji sangat tinggi. Salah satu momen yang sangat membekas di hatinya adalah gamelan Bali sukses menyatukan warga kampus yang ada disana. Awalnya mereka tidak saling mengenal atau jarang berinteraksi.

Menakjubkannya ketika sama-sama berlatih gamelan Bali, mereka menjadi bertambah akrab. “Rupanya mereka juga merindukan keakraban seperti yang sudah kita miliki di timur.” Begitu ucap Wayan Madra pada suatu kesempatan.

Tentu saja kalau dirunut, kesenian dan kebudayaan Bali sebagai wujudnya yang lebih luas lahir dari Agama Hindu. Tatkala seseorang beragama dengan benar maka akan lahir kesenian maupun kebudayaan yang mampu menggetarkan dunia. Beragama dengan benar menurut Wayan Madra adalah mampu menghormati perbedaan, sebagaimana model Siwa-Budha Tunggal yang senantiasa didengungkan oleh I Gusti Bagus Sugriwa. Manakala seseorang mengganggu agama atau kepercayaan orang lain maka sejatinya juga menghambat kemajuan rohaninya sendiri. Wayan Madra sangat khawatir ketika melihat orang-orang yang sibuk berebut klaim kebenaran (claim of truth). Lebih-lebih ada indikasi bila hal tersebut menjangkit ke Bali. Apabila hal itu dibiarkan maka akan berdampak kepada citra Bali di dunia internasional.

Wajar kekhawatiran semacam itu merasuki diri Wayan Madra karena di masa tuanya didapuk menjadi ketua ISTAKARI (Ikatan Siswa Taman Kokar) Bali. Para alumnus kokar yang berjumlah ribuan semenjak angkatan pertama di tahun 1960an telah berjuang keras mengharumkan nama Bali di seantero dunia melalui kesenian. Sungguh sangat disayangkan apabila kemudian tercoreng oleh ulah ketidakdewasaan segelintir oknum.

Menurutnya diperlukan pemikiran matang ketika mengelola perbedaan beragama maupun berkeyakinan. Perbedaan-perbedaan semacam itu sejatinya bukanlah hal baru. Sebenarnya Wayan Madra telah sering mendiskusikan hal tersebut di masa lampau dengan I Gusti Bagus Sugriwa. Ketika itu, I Gusti Bagus Sugriwa menganjurkan agar lebih berfokus kepada tugas masing-masing sebagai penganut agama. Seperti seorang seniman dapat menggunakan kemampuannya dalam berkesenian untuk menunaikan dharma agama.

Terilhami oleh nasihat tersebut, Wayan Madra bersama teman sejawat dan siswa-siswanya di Kokar kemudian memilih berfokus kepada kegiatan ngayah di berbagai pura. “Mohon maaf itu cara kami dahulu, yang kini sudah menjadi generasi tua. Kalau di masa kini, orang muda punya cara yang lebih baik, ya silahkan saja”, demikian ia menekankan.    

Pengabdian Tidak Terputus

Pada awal Januari 2024, Wayan Madra Aryasa berpulang, melebur dalam rawit (keindahan/ pesona) tertinggi. Para sahabat dekat dan murid-muridnya secara bergilir berdatangan ke kediamannya di Subamia, Kelong. Semua tiada henti mengenang kesederhanaan dan kesahajaan Sang Néwata semasih hidup.

Jero Mangku Dwija, putra Wayan Madra sempat bercerita jika ayahnya masih menggerakkan tangan seperti orang magupek hingga detik-detik terakhir hidupnya. Rupanya ia tetap bersetia kepada seni karawitan melebihi rasa sakit, bahkan ajal. Pesan-pesan I Gusti Bagus Sugriwa tetap hidup dalam diri Wayan Madra Aryasa.

Ajaran-ajaran Wayan Madra Aryasa senantiasa hidup dalam benak murid-muridnya. Demikian pula murid-murid Wayan Madra Ayasa akan melakukan hal yang sama kepada murid-muridnya. [T]   

In Memoriam I Made Subandi : Dia Tidak Benar-benar Meninggalkan Kita
In Memoriam | IDK Raka Kusuma dan Umbu
In Memoriam AA Gde Raka Payadnya: Pendiri Drama Gong, Tokoh Puri yang Rendah Hati
Tags: I Gusti Bagus Sugriwain memoriamkarawitanMadra AryasaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

WAIKUNTHA DALAM LONTAR PEMBELAJARAN AKSARA BALI TINGKAT TINGGI

Next Post

Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails
Next Post
Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Bayi Kembar Buncing Lahir dari Pohon Nangka | Menguak Asal Muasal Desa Ketewel

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co