2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam AA Gde Raka Payadnya: Pendiri Drama Gong, Tokoh Puri yang Rendah Hati

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
September 29, 2022
in Feature, Pilihan Editor
In Memoriam AA Gde Raka Payadnya: Pendiri Drama Gong, Tokoh Puri yang Rendah Hati

AA Gde Raka Payadnya |

Kita kehilangan seorang tokoh seniman yang punya peran penting pada terciptanya drama gong di Bali. Drama gong adalah bentuk seni pertunjukan yang sempat menjadi primadona di Pulau Dewata hingga ke Pulau Lombok.

Tokoh itu, Anak Agung Gde Raka Payadnya dari Puri Abianbase, Banjar Kaja Kauh, Abianbase Gianyar, Bali. Ia berpulang menuju sunialoka, Kamis, 22 September 2022, pukul 11.45 Wta akibat infeksi paru-paru yang dideritanya.

Anak Agung Sri Gamatri—putri ketiga Raka Payadnya—mengatakan, bapaknya yang kelahiran 14 Agustus 1944 itu sempat dirawat selama 13 hari di Rumah Sakit Sanjiwani Gianyar.Sebelumnya, kata Anak Agung Sri Gamatri , seniman besar itu menderita sakit parkinson yang rutin melakukan check up.

Jenazah Raka Payadnya diupacarai dalam upacara mekingsan di geni, Jumat 23 September ini.

Polos dan Tidak Feodal

Tentu banyak yang kehilangan setelah kepergian Raka Payadnya, terutama para penggemar drama gong di Bali. Salah seorang yang merasa sangat kehilangan adalah I Wayan Sugita, pelaku drama gong yang kini menjadi dosen Universitas Hindu Negeri (UHN) IGB Sugriwa Denpasar.

Sugita adalah pemeran Patih Agung dan sejumlah drama gong yang terkenal di Bali. Saat menjadi dosen ia banyak melakukan penelitian tentang drama gong untuk keperluan akademik maupun untuk penyebaran pengetahuan kepada masyarakat umum.

“Terakhir, setahun lalu saya bertemu beliau (Raka Payadnya) untuk keperluan kepenulisan tentang perkembangan drama gong,” kata Sugita, Kamis malam.

Sugita mengaku punya kesan yang sangat mendalam kepada Anak Agung gde Raka Payadnya. “Saya sangat merasa kehilangan. Beliau tokoh betul-betul tokoh yang mumpuni di bidang drama gong dan menjadi teladan bagi pemain-pemain drama gong di Bali,” kata Sugita.

Selain pencetus lahirnya seni drama khas Bali yang kemudian disebut sebagai drama gong, Raka Payadnya adalah pelaku drama gong. Pada era tahun 1970-an Raka Payadnya terkenal sebagai pemeran raja muda, salah satu peran yang menjadi daya tarik drama gong.

“Sehingga, di mana pun drama gong Abianbase yang anak mudanya Raka Payadnya selalu dicari penonton,” ujar Sugita.

Apa yang bisa diteladani dari Anak Agung Gde Raka Payadnya?

“Yang patut diteladani dari beliau adalah ketatnya beliau menerapkan sor singgih basa dalam drama gong,” kata Sugita.

Mungkin karena Raka Payadnya lahir di lingkungan puri, kata Sugita, sehingga betul-betul punya komitmen mempertahankan keberadaan Bahasa Bali.

“Yang penting juga diteladani adalah kepolosan beliau,” ujar Sugita.

Menurut Sugita, di mata seniman drama, Raka Payadnya adalah sosok yang polos dan selalu merendah, rendah hati dan tidak feodal.

“Banyak nama-nama besar, mekeber sebengne. Tapi beliau tidak feodal, meski berasal dari puri,” tegas Sugita.

Pendiri Drama Gong

Anak Agung Gede Raka Payadnya memang dikenal sebagai pendiri seni pertunjukan drama gong di Bali.

Kisah terciptanya drama gong itu agak unik. Tahun 1965 Raka Payadnya menamatkan penidikan di Konservatori Kerawitan (Kokar) Denpasar. Sempat kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Seni Rupa Unud. Usai ikut Mapram (semacam Opspek)ia  pulang.

Ia diminta oleh Sekaa Gong Wijaya Kusuma untuk membuat pentas sendratari. Namun, sendratari itu harus sudah kelar dalam waktu delapan hari agar bisa dipentaskan pada hari yang sudah ditentukan. Penari-penarinya waktu itu adalah penari legong seperti penari Oleg, Tenun, Tani, Margapati dan lain-lain.

Melihat kondisi penari dan waktu yang mendesak, ia tak terlalu yakin bisa menyelesaikan sebuah garapan sendratari. Terjadilah kompromi. Muncul ide untuk membuat pertunjukan seperti drama klasik, tapi adegannya seperti sendratari. Perbedaannya, pemain tidak menari.

Pemeiannya adalah guru-guru, muda-mudi, dan tokoh masyarakat Abianase. Pada zaman Gestapu sebelum tahun 1970-an sempat ngetren pertunjukan drama janger, sehingga pertunjukan yang dibuat Raka Payadnya itu diberikan nama dengan kata drama. Yakni drama klasik. Ceritanya adalah Jayaprana.

Drama klasik itu pentas pada 24 Februari 1966 bertepatan dengan pujawali di Pura Puseh Desa Abianbase. Sambutan penonton ramai. Banyak yang suka.

Raka Payadnya bangga karena penonton menyambut pementasan itu dengan sukacita. Mungkin saja pada zaman itu masyarakat sedang haus tontonan. Mungkin juga karena pertunjukan itu termasuk jenis seni pertunjukan baru.

Saat pentas pertama kali itu, para pemain menggunakan campuran antara Bahasa Indonesia dengan Bali. Jika pemeran muda bercakap dengan tokoh tua digunakan bahasa Bali, sementara tokoh muda dengan tokoh muda bercakap menggunakan Bahasa Indonesia.

Kenapa berubah menjadi drama gong?

Ketika mereka pentas di Banjar Babakan, Sukawati, banyak mantan guru-guru Raka Payadnya di Kokar yang ikut menonton. Salah satunya adalah IGB Nyoman Pandji,  Usai pentas, Raka Payadnya ditemui di belakang panggung, dan IGB Nyoman Panji menyarankan agar pertunjukan itu diberi nama “drama gong” karena menggunakan iringan gamelan gong kebyar. Maka, sejak itu, pertunjukan drama klasik mereka berganti nama jadi drama gong.

Drama gong Abianbase ini terkenal di seluruh Bali, sehingga muncul kemudian kelompok-kelompok drama gong di sejumlah daerah yang beberapa di antaranya juga terkenal dan larih manis pentas dari panggung ke panggung. Bahasa yang digunakan pun berubah menjadi bahasa Bali secara penuh, bahkan lengkap dengan sor singgih-nya.

Raka Payadnya memiliki 111 koleksi judul drama gong, antara lain Semara Nala”, “Dukuh Seladri”, “Mudita”, dan “Cilinaya”.

Atas pengabdian dan dedikasinya itu, Raka Payadnya dianugerahi Dharma Kusuma tahun 2004 oleh Pemda Propinsi Bali.

Tokoh Pramuka

Tidak banyak yang tahu, Anak Agung Raka Payàdnya juga merupakan tokoh kepanduan (pramuka) di Bali, khususnya Gianyar.

Kenyataan itu ditulis oleh Nyoman Mahardika, seorang dosen, pegiat lingkungan dan tokoh Pramuka di Bali. Nyoman Mahadika menulis di akuan facebook-nya sebagai ungkapan dukacita atas kepergian Raka Payadnya.  

Mahardika menulis, Anak Agung Raka Payàdnya juga merupakan tokoh kepanduan di Bali, khususnya Gianyar. Kecintaan dan dedikasinya dalam kepramukaan sejak usia muda juga sangat besar.

Mahardika kemudian memperlihatkan foto-foto bersejarah, koleksi ayahnya, Almarhum I Nyoman Bebas. Raka Payadnya dan Nyoman Bebas adalah sahabat seperjuangan dalam memajukan Gerakan Pramuka di Bali.

“Kedekatan mereka akhirnya diperkuat juga oleh hobi yang sama yaitu sama-sama menggemari burung perkutut,” tulis Mahardika.

Mahardika bercerita, di hari terakhir ayahnya, tanggal 15 Januari 2007, Raka Payadnya datang membesuk ayahnya di RS Sanjiwani Gianyar dan berkelakar seperti biasanya.

“Tiba-tiba Ayah kami kondisinya drop, semua panic,  dan akhirnya meninggal, berpegangan tangan dengan sahabatnya. Saya tidak dapat menahan haru menyaksikan Sang Legenda menitikkan air mata melepas kepergian sahabatnya,” tulis Mahardika.

Apa yang ditulis Nyoman Mahardika, dan apa yang diceritakan Wayan Sugita, adalah bukti betapa Raka Payadnya adalah seniman yang rendah hati. Selain mencintai keluarganya, ia juga menghargai sesama seniman, sahabat-sahabatnya.  

Bali berhutang pada dia. Selamat jalan maestro drama gong. [T]

Wayan Sujana ”Jedur”: Legenda Drama Gong Puspa Anom dari Banyuning
Niat Total Lestarikan Drama Gong dan Pencak Silat – “Raja Buduh” Yudana dalam Kenangan
In Memoriam Wayan Tarma: Mati Drama Gong, Hidup Dolar
Tags: Desa Abianbasedrama gongGianyarKokar Baliseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Budaya Perlakuan Plasenta, Kearifan Lokal Sarat Makna

Next Post

Puisi-puisi Agoes Andika, Ask. | Pagi Hari Menghadap Matahari

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Agoes Andika, Ask. | Pagi Hari Menghadap Matahari

Puisi-puisi Agoes Andika, Ask. | Pagi Hari Menghadap Matahari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co