4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

WAIKUNTHA DALAM LONTAR PEMBELAJARAN AKSARA BALI TINGKAT TINGGI

Sugi Lanus by Sugi Lanus
January 8, 2024
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

  • Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Januari 2024

Dalam catatan hari kemarin, saya selintas mengupas Waikuntha-Dharma (jalan atau ajaran menuju Wisnu-loka/Waikuntha) yang disebutkan dalam Kidung Wargasari, sebuah pedoman tembang yang demikian populer dalam masyarakat Bali.

Mungkin ada yang bertanya: Dari mana penulis Kidung Wargasari mendapat teks ajaran Waikuntha-Dharma itu sehingga menjadi bagian dari karyanya?

Lontar yang jauh lebih kuno yang mengandung teks secara langsung menyebut kata ‘Waikuntha’ yang diwarisi masyarakat Jawa Kuno dan Bali adalah sebuah lontar pedoman pembelajaran aksara Bali dan Jawa Kuna tingkat tinggi. Judul lontarnya adalah Swara Wyanjana.

Siapapun yang memasuki kesusastraan Jawa Kuno dan Bali jika tidak mampu memahami secara baik isi lontar Swara Wyanjana, maka yang bersangkutan hanyalah seorang amatiran.

Lontar Swara Wyanjana adalah lontar wajib yang harus dibaca oleh kaum terpelajar yang ingin memasuki khazanah kesusastraan dan kebatinan Jawa Kuno (Kawi) dan Bali. Jika seseorang membahas aksara Bali, atau ajaran kebatinan Bali, tanpa pemahaman mendasar dari isi ‘Swara Wyanjana’, bisa disamakan dengan seorang yang “membahas masakan Bali tanpa paham basa genep dan basa gede”.

Halaman depan lontar Swara Wyañjana

Isi atau teks lontar Swara Wyanjana adalah pedoman sangat kuno atau bisa dikatakan “purba”. Sebab lontar ini berisi teks pembelajaran aksara yang dipakai dalam pembelajaran aksara Karosti. Sejarah pembelajaran aksara Bali tidak bisa dipisahkan dengan pembelajaran aksara di Asia, khususnya di Bharata Warsa dan Bhatara Kanda — atau Asia secara keseluruhan. Aksara Karosti berkembang menjadi aksara Brahmi yang kemudian menjadi aksara Dewanagari dan aksara Pallawa. Aksara di Nusantara tidak berkait langsung dengan aksara Dewanagari yang berkembang di India Utara. Aksara Pallawa yang digunakan oleh penduduk di India Selatan yang berkembang di Nusantara dan Asia Tenggara. Sansekerta sendiri adalah nama bahasa, bukan aksara.

Terlebih jika seseorang ingin memasuki kepanditaan — baik di tahapan pinandita dan selanjutnya menjadi pandita — tanpa pemahaman mendasar dari isi ‘Swara Wyanjana’ maka seumur hidupnya akan menjadi gamang dalam bermantra atau memahami kaidah ‘bija aksara’ dan puja yang mengandung penulisan dirga, pasang pageh, dstnya, serta nantinya meningkat sampai modre.

Sebelum membahas istilah ‘waikuntha’ yang ada dalam lontar Swara Wyanjana, ada baiknya membahas selintas isi lontar ini. Kenapa ‘waikuntha’ disebut dalam lontar ini? Bagaimana gambaran umum isi lontar ini?

// °awighnamāstu // nihan tiṅkaḥ iŋ °akṣara kaṅ inaranan swara wyañjanā/ mwaŋ warggākṣara warṇna/ ślokanya // warṇnāstu/ saptācatūryyaḥ// swara/ śca/ pi/ catur/ daśa // wyañjanakaṁ/ traya/ triṅśat·// warggastu/ pañcawiṅśati // warṇna ṅaranya/ kweḥnya/ 47/ °a karādi/ °a kāranta // swara ṅaranya/ kweḥnya/13/ ya karadi/ ya kāranta // wyañjana ṅaranya/ kweḥnya/ 33/ °okārādi/ °okāranta // warggā ṅaranya/ kweḥnya/ 25/ ma karadi/ ma kārta / yeka wargga ṅaranya //

Demikian pembuka lontar yang berisi penjelasan apa sebenarnya yang terkandung dalam lontar ‘Swara wyañjanā’.

Memasuki lontar-lontar Bali yang dari segi kebahasaan dan peristilahan yang penuh serapan Sansekerta dan Kawi, seorang pembelajar lontar Kawi wajib memahami kewargaan-aksara yang terdiri dari 47, 13, 33, 25 — sekian banyak pembagian aksara yang wajib dipahami penulisan dan suaranya.

Dari pemahaman kewargaan-aksara dalam lontar ‘Swara wyañjanā’ akan muncul pemahaman kenapa PASANG PAGEH dalam penulisan aksara Bali seperti itu. Alasannya adalah alasan kewarga-aksaraan dan artikulasi bunyi. Dengan memahami lontar ‘Swara wyañjanā’ kita akan paham bahwa PASANG PAGEH bukan dari sekedar MULA KETO tetapi ada logika artikulatif dan dasar linguistika di wilayah bunyi yang mendasarinya.

Versi lontar lain sejenis yang lebih sederhana turunan dari lontar Swara Wyanjana, berjudul Wargga Aksara, menjelaskan bagian depannya lebih sederhana:

// °awighnamāstu // nihan· tiṅkaḥ niṅ ākṣara / kaṅ inaranan· warggākṣara / mwaŋ swara wyañjanā / mwaŋ dīrgha / hrĕswa / pluta nihan· lwir niŋ ślokanya // warṇnastu saptacaturyyaḥ / swara ca pi caturdaśaḥ  /wyañjanakaṁ trayaḥ triṅśaḥ / warggāḥ stu pañcawiṅśāti  // warṇna ṅaranya / °a kārādi / °u kārānta  // swara / 14 / kweḥnya // kahādi / makārānta / 15 (25) / kwehnya // wargga ṅaranya / ya kārādi / ha kārānta  // wyañjana ṅaranya / 9  / kweḥnya // nihan kaglaran iṅ ākṣara / kaṅ iṅaranan· swara wyañjana//

Dalam konteks apa ‘waikuntha’ dibahas ketika membahas kewargaan-aksara dalam lontar Bali?

Dalam lontar versi lengkap lontar ‘Swara wyañjanā’ bagian akhirnya menjadi kunci pokok memasuki relasi aksara dan swara aksara dengan kedewataan. Dari sinilah sumber kenapa di Bali dalam Dewata Nawasanga semua penjuru memiliki aksaranya masing-masing. Dewata melewat dengan ’aksara’ baik tulisan dan suaranya.

Sementara itu, jika kita kembali ke Kidung Wargasari, relasi kedewataan dengan chakra dalam diri manusia pun dibahas, dan dari sana kita melihat bahwa ‘waikuntha-dharma’ ada di chakra kedua. Jika chakra kedua terbuka, akan terbuka jalan pemahaman diri yang lebih utuh menuju ‘alam Bhatara Wisnu’ atau ‘Wisnu-loka’ (alias Waikuntha). Dalam lontar ‘Swara wyañjanā’  relasi kedewataan dan juga nama alias atau gelar-gelar dewata dan prami-pasangannya dijelaskan secara sangat rinci, ini akan memberikan gambaran batiniah yang jelas ketika para pandita-pinandita memuja dalam stuti-stawa atau mantra pemuliaan kedewataan.

Dalam kutipan ini disebutkan /waikuṇṭhā wistaraśrawa/ sebagai bagian dari kedewataan Bhatara Wisnu:

// wiṣṇu narayaṇa śori/ ca kṛpaṇi janārddhanaḥ/ padmanābho ṅṛpikaiśa/ waikuṇṭhā wistaraśrawa// garuḍawāhanaṃ rāmaḥ/ bhaśradhāra kapidhwajaṃ/ sañjayaṃ dhamodharaśca/ bāmana tripitha/ sītāragañca nabaśca/ prawa°umnani ruddhakaḥ// harisarggiḥ śri dhāraśca/ lokanṛk· madwapajayoḥ/ widwaswanohāt pajayāḥ/ prahlānowṛkṣakapawo//

Penjelasan rinci kedewataan dan gelar dari Bhatara Wiṣṇu disebut juga Narayaṇa-Kṛpaṇi Janārddhanaḥ dan seterusnya. Memegang roda dharma dan berwahana Garuda, berstana di Waikuṇṭhā dengan gelar nama pemuliaan Wistaraśrawa (waikuṇṭhā wistaraśrawa).

Lontar Swara Wyañjana disamping menjelaskan tentang stana Bhatara Wisnu dan semua kedewataan dalam Dewata Nawasanga beserta aksara suci dan posisinya di tubuh-batin manusia, juga memberikan penjelasan berbagai gelar lain penyebutan atau berbagai gelar alias dari para dewata yang dimuliakan dalam berbagai lontar Bali dan Kawi. Dari ‘Saŋ Hyaŋṅ Aditya’ yang dimuliakan di Sanggar Jajaran (Sanggah atau Mrajan) di Bali, sampai yang dirahasikan seperti gelar ‘Saŋ Hyaŋ Bhairawiṅgisaṅgi’, dstnya.

Halaman depan lontar Wargga Aksara

Lontar ini pertama-tama memberikan dasar untuk memasuki pemahaman aksara dan aspek fonetik kebahasaan Kawi dan Sansekerta yang berguna menjadi pondasi memasuki lontar-lontar ajaran Hindu-Bali yang bahasa Sansekerta, Kawi dan Bali. Dari kewargaan-aksara kemudian lontar ini lebih lanjut membahas “kewargaan-kedewataan” dan relasinya dengan peristilahan dan gelar-gelar lainnya. Semacam thesaurus atau kamus sinonim melengkapi di akhir lontar, yang membuat pembaca punya pedoman mendasar dalam memahami berbagai peristilahan tingkat tinggi yang dipakai memasuki khazanah pengetahuan kepanditaan dan seni sastra Kawi.

Waikuṇṭhā-wistaraśrawa atau Wiṣṇu-loka menjadi salah satu pokok lontar Swara wyañjanā, di tengah penjelasan lainnya yang juga membahas konstelasi penjelasan “kewarga-dewataan”yang berguna sebagai sesuluh dalam mendalami ajaran kebatinan Bali, baik dari jalur (paksa) Waikuṇṭhā-Dharma (jalan Wiṣṇu atau Waisnawa), jalur Buddhapaksa, atau Śiwa-Dharma (ajaran Kasiwaan). [T]

BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS

WAIKUNTHA DALAM KIDUNG HINDU BALI
Tags: aksaraaksara balilontarsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menelisik Campur Kode Dalam Lirik Lagu “Secret Lover” Karya Kis Band Bali

Next Post

In Memoriam | Wayan Madra Aryasa dan Telatah I Gusti Bagus Sugriwa

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
In Memoriam | Wayan Madra Aryasa dan Telatah I Gusti Bagus Sugriwa

In Memoriam | Wayan Madra Aryasa dan Telatah I Gusti Bagus Sugriwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co