23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

WAIKUNTHA DALAM KIDUNG HINDU BALI

Sugi Lanus by Sugi Lanus
January 8, 2024
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

  • Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Januari 2024

Siapa yang tidak kenal Kidung Wargasari dalam masyarakat Hindu Bali?

Kidung ini begitu populer di pencinta tembang sastra Bali Klasik. Naskahnya dalam bentuk fotokopi dan salinan lainnya beredar dalam berbagai versi.

Sampai sekarang masih dijadikan salah satu materi penting dalam kelompok tembang atau mabebasan. Dalam tradisi mabebasan Kidung Wargasari ditembangkan, didiskusikan isinya, dan dijadikan semacam koridor mempelajari sastra klasik yang lebih tinggi. Kedudukannya sama terkenal dibandingkan tembang/gaguritan Sucita atau tembang Tamtam. Menjadi penerang dan suluh dalam pembelajaran batin.

Dalam Kidung Wargasari ini disebutkan istilah: WAIKUNTHA DHARMA.

Kutipannya pupuh tersebut:

“Sang Dewi sampun mingruhur ring Swadisthana- Cakra-ne makering Bhatara Wisnu Maha-laksmi, Saraswati, Dakini, Śakti mwang Writti, Goluka, Waikunthadharma mwang Dewa-Dewi lulut nunggal ring Bhatari”

Artinya:

“Sang Dewi (dalam hal ini berarti Kundalini) sudah ke atas ke tahap Swadistana Cakra itu mengiringi Batara Wisnu Maha Laksmi, Saraswati, Dakini, Sakti, dan Wreti, Goluka, Waikunta Darma, dan dewa-dewi lekat menyatu dengan Batari.”

Waikuntha-Dharma ini menjadi penjelas dari tahapan menaiki aliran chakra yang ada di tubuh manusia. Atau menjadi bagian terintegrasi jika ingin memahami ajian tentang Kundalini.

Dalam Kidung Wargasari semua karakter dan penjelasan chakra cukup baik dijelaskan.

Dalam ajaran Kundalalini atau sistem chakra dalam tubuh, yang dimaksud dengan Svadhisthana (Svādhiṣṭhāna) adalah chakra kedua, bermakna: “di mana keberadaanmu didirikan.” “Swa” berarti diri dan “adhishthana” berarti didirikan. Merupakan chakra utama kedua menurut tradisi Tantrisme Hindu.

Chakra ini disebutkan terhalang atau diblok oleh rasa takut, terutama rasa takut akan kematian. Dengan jalan membuka chakra ini maka terbuka meningkat kreativitas, membuat hidup menjadi antusias dan kepercayaan diri meningkat. Jika chakra ini tertutup atau belum hidup, maka hidup seseorang akan terjebak perasaan bosan, tidak bersemangat, tidak antusias melakukan hal-hal baik, tidak memiliki percaya diri. Chakra ini perlu dibuka agar kita melihat makna hidup. Jika chakra ini masih tertutup atau belum hidup seseroang akan merasa hidupnya sia-sia, kebanyakan meboya, tidak optimis, semua tampak salah, hidup seperti kutukan dan hanya muncul sebagai kesusahan saja.

Secara kebatinan chakra Svadhisthana digambarkan sebagai teratai putih, dengan enam kelopak berwarna merah terang yang bertuliskan suku kata: बं baṃ, भं bhaṃ, मं maṃ, यं yaṃ, रं raṃ dan लं laṃ. Dalam teratai ini tampak bulan sabit putih yang melambangkan wilayah perairan yang dijaga oleh dewa Varuna .

Untuk memahami Kidung Warga Sari ini saya membuka referensi lain yang menjelaskan bahwa:

“Biji mantra benih, yang terletak di lingkaran paling dalam, berbentuk वं vaṃ berwarna putih bulan. Di atas mantra yang ada di dalam bindu, atau titik, dengan dewata Dewa Wisnu — berwarna biru tua dan memakai dhoti kuning, memegang keong , gada, roda-chakra dan teratai, memakai tanda shrivatsa, dan permata kaustubha, duduk di atas teratai merah muda, atau di atas Garuda.”

Kembali ke Kidung Wargasari, disebutkan pada chakra Svadhisthana melinggih atau berstana Batara Wisnu didampingi Maha Laksmi, Saraswati, Dakini, Sakti, dan Wreti, Goluka, dengan ajaran Waikuntha-Dharma, dan dewa-dewi lekat menyatu dengan Batari.

Apa itu Waikuntha Dharma?

Ijinkan saya meramu berbagai referensi bahwa Waikutha adalah “medan kesadaran” yang tertinggi. Kadang dijelaskan sebagai susunan planet atau loka, tetapi “loka” yang dimaksud lebih pada “tahapan kesadaran batiniah” bukan sebagaimana “planet-planet” sebagaimana pelajaran tata surya dalam buku ajar sekolah dasar. Planet sebenarnya bukan terjemahan yang tepat untuk “loka”. Seperti halnya “Sunya-loka” tidak bisa diterjemahkan sebagai “Planet-Sunyi”. Atau “Śiwa-loka” tentu tidak bisa diterjemahkan sebagai “Planet-Dewa Śiwa”. Istilah “loka” adalah medan kesadaran yang batiniah dan menjadi tingkatan kesucian dan keheningan batiniah dalam perjalanan rohaniah. Bukan ruang atau luar akasa yang dihitung dengan jarak meter, tetapi kedalaman dan tingkatan keheningan atau kemurnian rohaniah.

Dalam Kidung Wargasari dari Pupuh 195 sampai Pupuh 258 menjelaskan perjalanan sampai ke sana secara sangat kompleks, dan bisa jadi akan membingungkan kalau tidak memahami berbagai dasar dari bija mantra, yama dan niyama, saptapada, 7 chakra dan sistem kundalini.

Saya merekomendasi membaca dengan serius Kidung Wargasari secara perlahan dan hati-hati — tentu dengan bimbingan seorang senior yang memahami isinya, agar tidak mejugjag ngawag dalam pembacaannya.

.

.

Kidung ini sering dianggap remeh. Tapi dalam “kesederhanaan” tembangnya yang sangat populer mengandung berbagai pesan etik atau susila, yang bersifat praksis sampai pedoman esoterik yang mendalam (atau kebatinan kadharman memasuki tingkatan chakra).

Melalui latihan baik lewat sistem chakra atau Kundalini, atau pelatihan batin yang ketat, setelah seseorang bisa melampaui TRI GUNA — semua tindakannya tidak lagi terpengaruh satwam-rajas-tamas, seseroang mencapai Waikuntha.

Bhagawata Purana menjelaskan: “…orang memasuki alam kesadaran Waikuntha jika yang bersangkutantelah melampaui Tri Guna, bisa diraih walaupun masih hidup (XI.25.22)”.

Mengutip Kidung Wargasari:

“Jagat-Mayanepuniku
ne nguluk-uluk deweke ngawinang idepe bingung
Sang Hyang Atma linglung paling
Awidhyane nekepin kakaput bahan Tri-guna makrana ragane wanuh
kadi kicalan patitis.”

Terjemahannya:

“Jagat semu itu
yang mengolok-olok diri kita menyebabkan pikiran bingung
Sang Hyang Atma tidak tahu arah
kegelapan itu yang menutupi dibalut oleh triguna menyebabkan badan itu yang diperhamba
bagaikan kehilangan arah.”

Tri Guna yang membalut sang Atma sehingga tidak tahu arah?

Apa itu Tri Guna?

Kidung Warga Sari menjelaskan dengan sangat baik. Tetapi di sini saya selanjutnya memberikan pengertian umumnya.

Guna artinya: Kualitas, sifat, atribut [elemen], kecenderungan atau ciri Karakteristik dari segala sesuatu. Secara umum segala sesuatu dan di mana pun, di seluruh dunia [dunia material] berevolusi dalam 3 Guna atau  memiliki tiga mode secara alami, yaitu Satwam, Rajas, Tamas.

— Sifat kebaikan adalah Satwam

— Modus gairah [atau] keinginan adalah Rajas

— Sifat ketidaktahuan atau kegelapan [atau] masa bodo adalah Tamas

Variable apa yang menyusunnya?

— Satwa (Satwan) Guna tersusun dari: Kebahagiaan, Kemurnian, Kepuasan, Pengendalian Diri, Kebijaksanaan, Spiritualitas.

— Rajo (Rajas) Guna tersusun dari: Tindakan, Perubahan, Gairah, Gerakan, Ketidakstabilan.

— Tamo (Tamas) Guna tersusun dari : Kemalasan, Tidak Aktif, Kegelapan, Masa Bodo, Ketidaktahuan, Ketakutan.

Bisakah Satwa Guna tidak tercampur dengan Raja Guna dan Tamo Guna?

Jika manusia sampai bisa tidak tercampur dirinya dengan dorongan Rajas dan Tamas, murni dalam dorongan Satwam, ia memiliki “pondasi” memasuki Waikuntha. Atau dalam istilah lain di Bali Waikuntha lebih dikenal sebagai Viṣṇuloka — tempat berstananya Bhatara Wisnu.

Catatan: Tahap murni dalam dorongan Satwam pun baru merupakan “pondasi” untuk melanjutkan perjalanan rohani yang lebih dalam. Untuk memasuki Viṣṇuloka maka Satwam Guna atau Gunasatwa pun harus “dilepaskan” atau “sang diri” telah melampauinya.

Siapapun selama masih terikat atau liputi Triguna — atau dalam istilah Kidung Warga Sari disebut “kaput bahan Tri-guna” — maka siapapun tidak bisa memasuki Waikuntha / Viṣṇuloka — alam berstananya Bhatara Wisnu.

Penganut pāraṃpara yang memuliakan Bhatara Wisnu akan menyebut pencapaian ini sebagai Waikuntha / Viṣṇuloka. Sementara yang mengutamakan Bhatara Śiwa akan mendambakan memasuki alam stana Bhatara Śiwa atau Śivaloka.

Mereka yang telah mencapai tingkatan pemahaman tinggi tidak akan mendebatkusirkan Waikuntha/ Viṣṇuloka versus Śivaloka. Yang memperdebatkan umumnya yang tidak paham atau tidak sampai pemahamannya.

Sangat bersyukur masyarakat Hindu Bali mewarisi teks ajaran yang menyinggung Waikuntha Dharma ini — jalan suci menuju Viṣṇuloka. Masyarakat memiliki bahan renungan untuk dibaca dan dijadikan referensi atau sesuluh untuk menimbang. Punya semacam koridor batin tinimbang sekedar debat masuk angin tanpa dasar bacaan.

Kidung Warga Sari lontarnya bisa dibaca langsung di Pusat Dokumentasi Bali. Teks-teks yang dimuat di dalamnya adalah kompilasi ajaran kuno yang beredar dalam masyarakat Bali dan atas kebajikan seorang pengawi atau penyurat lontar bernama pena Jyestha Hili teks-teks Warga Sari yang tercecer di tengah masyarakat pencinta sastra klasik Bali dikompilasi menjadi 262 pupuh.

Jyestha Hili sebagai pengawi yang merangkai berbagai teks dalam penutupnya meminta maaf dan kelapangan hati pembacanya:

“Ampura samatra katur
kramaning pangabhaktine
sakadi katur ring hayun
boyaja sangkaning uning
uninge saking manguping
bruke takil tekekang luwir pangucining manuk
gehemin mangadut jlihjih”

“Ksama tityang atur dusun
geng rena pangampurane
lungsur tityang saking tuhu
mlarapan dredha subhakti
amatra prasida ngiring asebit sari mayajnya
mangertyang lacur dharmaning dumadi”

Artinya:

“Mohon maaf karena sedikit yang dapat disampaikan
tata cara sembah sujud bakti itu
seperti telah dijelaskan di atas bukanlah karena telah mahir mengetahuinya lewat mendengarkan
ibarat beruk dibungkus kuat-kuat
bagaikan memikat burung genggami dengan gabah.”

“Maafkanlah saya orang bodoh
sudilah kiranya memaafkannya
hamba mohonkan dengan
penuh tulus ikhlas
yang dilandasi rasa hormat bakti
semoga dapat mengiringi berbuat kebajikan karena miskin
berjasanya orang yang miskin kewajiban orang menjelma”.

Pengawi yang mengkompilasi teks ajaran kuno ini memberikan kita contoh untuk tetap tidak pongah dan rendah hati.

Begitulah yang paham akan mengaku bodoh. Yang tak paham baru kenal istilah biasanya pongah. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS
Tags: aksarabalikidungKidung Wargasarisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kata-Kata untuk Pemegang Tahta

Next Post

Pondok Literasi Sabih dan Masa Depan Pedawa

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Pondok Literasi Sabih dan Masa Depan Pedawa

Pondok Literasi Sabih dan Masa Depan Pedawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co