2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

WAIKUNTHA DALAM KIDUNG HINDU BALI

Sugi Lanus by Sugi Lanus
January 8, 2024
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

  • Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Januari 2024

Siapa yang tidak kenal Kidung Wargasari dalam masyarakat Hindu Bali?

Kidung ini begitu populer di pencinta tembang sastra Bali Klasik. Naskahnya dalam bentuk fotokopi dan salinan lainnya beredar dalam berbagai versi.

Sampai sekarang masih dijadikan salah satu materi penting dalam kelompok tembang atau mabebasan. Dalam tradisi mabebasan Kidung Wargasari ditembangkan, didiskusikan isinya, dan dijadikan semacam koridor mempelajari sastra klasik yang lebih tinggi. Kedudukannya sama terkenal dibandingkan tembang/gaguritan Sucita atau tembang Tamtam. Menjadi penerang dan suluh dalam pembelajaran batin.

Dalam Kidung Wargasari ini disebutkan istilah: WAIKUNTHA DHARMA.

Kutipannya pupuh tersebut:

“Sang Dewi sampun mingruhur ring Swadisthana- Cakra-ne makering Bhatara Wisnu Maha-laksmi, Saraswati, Dakini, Śakti mwang Writti, Goluka, Waikunthadharma mwang Dewa-Dewi lulut nunggal ring Bhatari”

Artinya:

“Sang Dewi (dalam hal ini berarti Kundalini) sudah ke atas ke tahap Swadistana Cakra itu mengiringi Batara Wisnu Maha Laksmi, Saraswati, Dakini, Sakti, dan Wreti, Goluka, Waikunta Darma, dan dewa-dewi lekat menyatu dengan Batari.”

Waikuntha-Dharma ini menjadi penjelas dari tahapan menaiki aliran chakra yang ada di tubuh manusia. Atau menjadi bagian terintegrasi jika ingin memahami ajian tentang Kundalini.

Dalam Kidung Wargasari semua karakter dan penjelasan chakra cukup baik dijelaskan.

Dalam ajaran Kundalalini atau sistem chakra dalam tubuh, yang dimaksud dengan Svadhisthana (Svādhiṣṭhāna) adalah chakra kedua, bermakna: “di mana keberadaanmu didirikan.” “Swa” berarti diri dan “adhishthana” berarti didirikan. Merupakan chakra utama kedua menurut tradisi Tantrisme Hindu.

Chakra ini disebutkan terhalang atau diblok oleh rasa takut, terutama rasa takut akan kematian. Dengan jalan membuka chakra ini maka terbuka meningkat kreativitas, membuat hidup menjadi antusias dan kepercayaan diri meningkat. Jika chakra ini tertutup atau belum hidup, maka hidup seseorang akan terjebak perasaan bosan, tidak bersemangat, tidak antusias melakukan hal-hal baik, tidak memiliki percaya diri. Chakra ini perlu dibuka agar kita melihat makna hidup. Jika chakra ini masih tertutup atau belum hidup seseroang akan merasa hidupnya sia-sia, kebanyakan meboya, tidak optimis, semua tampak salah, hidup seperti kutukan dan hanya muncul sebagai kesusahan saja.

Secara kebatinan chakra Svadhisthana digambarkan sebagai teratai putih, dengan enam kelopak berwarna merah terang yang bertuliskan suku kata: बं baṃ, भं bhaṃ, मं maṃ, यं yaṃ, रं raṃ dan लं laṃ. Dalam teratai ini tampak bulan sabit putih yang melambangkan wilayah perairan yang dijaga oleh dewa Varuna .

Untuk memahami Kidung Warga Sari ini saya membuka referensi lain yang menjelaskan bahwa:

“Biji mantra benih, yang terletak di lingkaran paling dalam, berbentuk वं vaṃ berwarna putih bulan. Di atas mantra yang ada di dalam bindu, atau titik, dengan dewata Dewa Wisnu — berwarna biru tua dan memakai dhoti kuning, memegang keong , gada, roda-chakra dan teratai, memakai tanda shrivatsa, dan permata kaustubha, duduk di atas teratai merah muda, atau di atas Garuda.”

Kembali ke Kidung Wargasari, disebutkan pada chakra Svadhisthana melinggih atau berstana Batara Wisnu didampingi Maha Laksmi, Saraswati, Dakini, Sakti, dan Wreti, Goluka, dengan ajaran Waikuntha-Dharma, dan dewa-dewi lekat menyatu dengan Batari.

Apa itu Waikuntha Dharma?

Ijinkan saya meramu berbagai referensi bahwa Waikutha adalah “medan kesadaran” yang tertinggi. Kadang dijelaskan sebagai susunan planet atau loka, tetapi “loka” yang dimaksud lebih pada “tahapan kesadaran batiniah” bukan sebagaimana “planet-planet” sebagaimana pelajaran tata surya dalam buku ajar sekolah dasar. Planet sebenarnya bukan terjemahan yang tepat untuk “loka”. Seperti halnya “Sunya-loka” tidak bisa diterjemahkan sebagai “Planet-Sunyi”. Atau “Śiwa-loka” tentu tidak bisa diterjemahkan sebagai “Planet-Dewa Śiwa”. Istilah “loka” adalah medan kesadaran yang batiniah dan menjadi tingkatan kesucian dan keheningan batiniah dalam perjalanan rohaniah. Bukan ruang atau luar akasa yang dihitung dengan jarak meter, tetapi kedalaman dan tingkatan keheningan atau kemurnian rohaniah.

Dalam Kidung Wargasari dari Pupuh 195 sampai Pupuh 258 menjelaskan perjalanan sampai ke sana secara sangat kompleks, dan bisa jadi akan membingungkan kalau tidak memahami berbagai dasar dari bija mantra, yama dan niyama, saptapada, 7 chakra dan sistem kundalini.

Saya merekomendasi membaca dengan serius Kidung Wargasari secara perlahan dan hati-hati — tentu dengan bimbingan seorang senior yang memahami isinya, agar tidak mejugjag ngawag dalam pembacaannya.

.

.

Kidung ini sering dianggap remeh. Tapi dalam “kesederhanaan” tembangnya yang sangat populer mengandung berbagai pesan etik atau susila, yang bersifat praksis sampai pedoman esoterik yang mendalam (atau kebatinan kadharman memasuki tingkatan chakra).

Melalui latihan baik lewat sistem chakra atau Kundalini, atau pelatihan batin yang ketat, setelah seseorang bisa melampaui TRI GUNA — semua tindakannya tidak lagi terpengaruh satwam-rajas-tamas, seseroang mencapai Waikuntha.

Bhagawata Purana menjelaskan: “…orang memasuki alam kesadaran Waikuntha jika yang bersangkutantelah melampaui Tri Guna, bisa diraih walaupun masih hidup (XI.25.22)”.

Mengutip Kidung Wargasari:

“Jagat-Mayanepuniku
ne nguluk-uluk deweke ngawinang idepe bingung
Sang Hyang Atma linglung paling
Awidhyane nekepin kakaput bahan Tri-guna makrana ragane wanuh
kadi kicalan patitis.”

Terjemahannya:

“Jagat semu itu
yang mengolok-olok diri kita menyebabkan pikiran bingung
Sang Hyang Atma tidak tahu arah
kegelapan itu yang menutupi dibalut oleh triguna menyebabkan badan itu yang diperhamba
bagaikan kehilangan arah.”

Tri Guna yang membalut sang Atma sehingga tidak tahu arah?

Apa itu Tri Guna?

Kidung Warga Sari menjelaskan dengan sangat baik. Tetapi di sini saya selanjutnya memberikan pengertian umumnya.

Guna artinya: Kualitas, sifat, atribut [elemen], kecenderungan atau ciri Karakteristik dari segala sesuatu. Secara umum segala sesuatu dan di mana pun, di seluruh dunia [dunia material] berevolusi dalam 3 Guna atau  memiliki tiga mode secara alami, yaitu Satwam, Rajas, Tamas.

— Sifat kebaikan adalah Satwam

— Modus gairah [atau] keinginan adalah Rajas

— Sifat ketidaktahuan atau kegelapan [atau] masa bodo adalah Tamas

Variable apa yang menyusunnya?

— Satwa (Satwan) Guna tersusun dari: Kebahagiaan, Kemurnian, Kepuasan, Pengendalian Diri, Kebijaksanaan, Spiritualitas.

— Rajo (Rajas) Guna tersusun dari: Tindakan, Perubahan, Gairah, Gerakan, Ketidakstabilan.

— Tamo (Tamas) Guna tersusun dari : Kemalasan, Tidak Aktif, Kegelapan, Masa Bodo, Ketidaktahuan, Ketakutan.

Bisakah Satwa Guna tidak tercampur dengan Raja Guna dan Tamo Guna?

Jika manusia sampai bisa tidak tercampur dirinya dengan dorongan Rajas dan Tamas, murni dalam dorongan Satwam, ia memiliki “pondasi” memasuki Waikuntha. Atau dalam istilah lain di Bali Waikuntha lebih dikenal sebagai Viṣṇuloka — tempat berstananya Bhatara Wisnu.

Catatan: Tahap murni dalam dorongan Satwam pun baru merupakan “pondasi” untuk melanjutkan perjalanan rohani yang lebih dalam. Untuk memasuki Viṣṇuloka maka Satwam Guna atau Gunasatwa pun harus “dilepaskan” atau “sang diri” telah melampauinya.

Siapapun selama masih terikat atau liputi Triguna — atau dalam istilah Kidung Warga Sari disebut “kaput bahan Tri-guna” — maka siapapun tidak bisa memasuki Waikuntha / Viṣṇuloka — alam berstananya Bhatara Wisnu.

Penganut pāraṃpara yang memuliakan Bhatara Wisnu akan menyebut pencapaian ini sebagai Waikuntha / Viṣṇuloka. Sementara yang mengutamakan Bhatara Śiwa akan mendambakan memasuki alam stana Bhatara Śiwa atau Śivaloka.

Mereka yang telah mencapai tingkatan pemahaman tinggi tidak akan mendebatkusirkan Waikuntha/ Viṣṇuloka versus Śivaloka. Yang memperdebatkan umumnya yang tidak paham atau tidak sampai pemahamannya.

Sangat bersyukur masyarakat Hindu Bali mewarisi teks ajaran yang menyinggung Waikuntha Dharma ini — jalan suci menuju Viṣṇuloka. Masyarakat memiliki bahan renungan untuk dibaca dan dijadikan referensi atau sesuluh untuk menimbang. Punya semacam koridor batin tinimbang sekedar debat masuk angin tanpa dasar bacaan.

Kidung Warga Sari lontarnya bisa dibaca langsung di Pusat Dokumentasi Bali. Teks-teks yang dimuat di dalamnya adalah kompilasi ajaran kuno yang beredar dalam masyarakat Bali dan atas kebajikan seorang pengawi atau penyurat lontar bernama pena Jyestha Hili teks-teks Warga Sari yang tercecer di tengah masyarakat pencinta sastra klasik Bali dikompilasi menjadi 262 pupuh.

Jyestha Hili sebagai pengawi yang merangkai berbagai teks dalam penutupnya meminta maaf dan kelapangan hati pembacanya:

“Ampura samatra katur
kramaning pangabhaktine
sakadi katur ring hayun
boyaja sangkaning uning
uninge saking manguping
bruke takil tekekang luwir pangucining manuk
gehemin mangadut jlihjih”

“Ksama tityang atur dusun
geng rena pangampurane
lungsur tityang saking tuhu
mlarapan dredha subhakti
amatra prasida ngiring asebit sari mayajnya
mangertyang lacur dharmaning dumadi”

Artinya:

“Mohon maaf karena sedikit yang dapat disampaikan
tata cara sembah sujud bakti itu
seperti telah dijelaskan di atas bukanlah karena telah mahir mengetahuinya lewat mendengarkan
ibarat beruk dibungkus kuat-kuat
bagaikan memikat burung genggami dengan gabah.”

“Maafkanlah saya orang bodoh
sudilah kiranya memaafkannya
hamba mohonkan dengan
penuh tulus ikhlas
yang dilandasi rasa hormat bakti
semoga dapat mengiringi berbuat kebajikan karena miskin
berjasanya orang yang miskin kewajiban orang menjelma”.

Pengawi yang mengkompilasi teks ajaran kuno ini memberikan kita contoh untuk tetap tidak pongah dan rendah hati.

Begitulah yang paham akan mengaku bodoh. Yang tak paham baru kenal istilah biasanya pongah. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS
Tags: aksarabalikidungKidung Wargasarisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kata-Kata untuk Pemegang Tahta

Next Post

Pondok Literasi Sabih dan Masa Depan Pedawa

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Pondok Literasi Sabih dan Masa Depan Pedawa

Pondok Literasi Sabih dan Masa Depan Pedawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co