22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

WAIKUNTHA DALAM KIDUNG HINDU BALI

Sugi Lanus by Sugi Lanus
January 8, 2024
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

  • Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Januari 2024

Siapa yang tidak kenal Kidung Wargasari dalam masyarakat Hindu Bali?

Kidung ini begitu populer di pencinta tembang sastra Bali Klasik. Naskahnya dalam bentuk fotokopi dan salinan lainnya beredar dalam berbagai versi.

Sampai sekarang masih dijadikan salah satu materi penting dalam kelompok tembang atau mabebasan. Dalam tradisi mabebasan Kidung Wargasari ditembangkan, didiskusikan isinya, dan dijadikan semacam koridor mempelajari sastra klasik yang lebih tinggi. Kedudukannya sama terkenal dibandingkan tembang/gaguritan Sucita atau tembang Tamtam. Menjadi penerang dan suluh dalam pembelajaran batin.

Dalam Kidung Wargasari ini disebutkan istilah: WAIKUNTHA DHARMA.

Kutipannya pupuh tersebut:

“Sang Dewi sampun mingruhur ring Swadisthana- Cakra-ne makering Bhatara Wisnu Maha-laksmi, Saraswati, Dakini, Śakti mwang Writti, Goluka, Waikunthadharma mwang Dewa-Dewi lulut nunggal ring Bhatari”

Artinya:

“Sang Dewi (dalam hal ini berarti Kundalini) sudah ke atas ke tahap Swadistana Cakra itu mengiringi Batara Wisnu Maha Laksmi, Saraswati, Dakini, Sakti, dan Wreti, Goluka, Waikunta Darma, dan dewa-dewi lekat menyatu dengan Batari.”

Waikuntha-Dharma ini menjadi penjelas dari tahapan menaiki aliran chakra yang ada di tubuh manusia. Atau menjadi bagian terintegrasi jika ingin memahami ajian tentang Kundalini.

Dalam Kidung Wargasari semua karakter dan penjelasan chakra cukup baik dijelaskan.

Dalam ajaran Kundalalini atau sistem chakra dalam tubuh, yang dimaksud dengan Svadhisthana (Svādhiṣṭhāna) adalah chakra kedua, bermakna: “di mana keberadaanmu didirikan.” “Swa” berarti diri dan “adhishthana” berarti didirikan. Merupakan chakra utama kedua menurut tradisi Tantrisme Hindu.

Chakra ini disebutkan terhalang atau diblok oleh rasa takut, terutama rasa takut akan kematian. Dengan jalan membuka chakra ini maka terbuka meningkat kreativitas, membuat hidup menjadi antusias dan kepercayaan diri meningkat. Jika chakra ini tertutup atau belum hidup, maka hidup seseorang akan terjebak perasaan bosan, tidak bersemangat, tidak antusias melakukan hal-hal baik, tidak memiliki percaya diri. Chakra ini perlu dibuka agar kita melihat makna hidup. Jika chakra ini masih tertutup atau belum hidup seseroang akan merasa hidupnya sia-sia, kebanyakan meboya, tidak optimis, semua tampak salah, hidup seperti kutukan dan hanya muncul sebagai kesusahan saja.

Secara kebatinan chakra Svadhisthana digambarkan sebagai teratai putih, dengan enam kelopak berwarna merah terang yang bertuliskan suku kata: बं baṃ, भं bhaṃ, मं maṃ, यं yaṃ, रं raṃ dan लं laṃ. Dalam teratai ini tampak bulan sabit putih yang melambangkan wilayah perairan yang dijaga oleh dewa Varuna .

Untuk memahami Kidung Warga Sari ini saya membuka referensi lain yang menjelaskan bahwa:

“Biji mantra benih, yang terletak di lingkaran paling dalam, berbentuk वं vaṃ berwarna putih bulan. Di atas mantra yang ada di dalam bindu, atau titik, dengan dewata Dewa Wisnu — berwarna biru tua dan memakai dhoti kuning, memegang keong , gada, roda-chakra dan teratai, memakai tanda shrivatsa, dan permata kaustubha, duduk di atas teratai merah muda, atau di atas Garuda.”

Kembali ke Kidung Wargasari, disebutkan pada chakra Svadhisthana melinggih atau berstana Batara Wisnu didampingi Maha Laksmi, Saraswati, Dakini, Sakti, dan Wreti, Goluka, dengan ajaran Waikuntha-Dharma, dan dewa-dewi lekat menyatu dengan Batari.

Apa itu Waikuntha Dharma?

Ijinkan saya meramu berbagai referensi bahwa Waikutha adalah “medan kesadaran” yang tertinggi. Kadang dijelaskan sebagai susunan planet atau loka, tetapi “loka” yang dimaksud lebih pada “tahapan kesadaran batiniah” bukan sebagaimana “planet-planet” sebagaimana pelajaran tata surya dalam buku ajar sekolah dasar. Planet sebenarnya bukan terjemahan yang tepat untuk “loka”. Seperti halnya “Sunya-loka” tidak bisa diterjemahkan sebagai “Planet-Sunyi”. Atau “Śiwa-loka” tentu tidak bisa diterjemahkan sebagai “Planet-Dewa Śiwa”. Istilah “loka” adalah medan kesadaran yang batiniah dan menjadi tingkatan kesucian dan keheningan batiniah dalam perjalanan rohaniah. Bukan ruang atau luar akasa yang dihitung dengan jarak meter, tetapi kedalaman dan tingkatan keheningan atau kemurnian rohaniah.

Dalam Kidung Wargasari dari Pupuh 195 sampai Pupuh 258 menjelaskan perjalanan sampai ke sana secara sangat kompleks, dan bisa jadi akan membingungkan kalau tidak memahami berbagai dasar dari bija mantra, yama dan niyama, saptapada, 7 chakra dan sistem kundalini.

Saya merekomendasi membaca dengan serius Kidung Wargasari secara perlahan dan hati-hati — tentu dengan bimbingan seorang senior yang memahami isinya, agar tidak mejugjag ngawag dalam pembacaannya.

.

.

Kidung ini sering dianggap remeh. Tapi dalam “kesederhanaan” tembangnya yang sangat populer mengandung berbagai pesan etik atau susila, yang bersifat praksis sampai pedoman esoterik yang mendalam (atau kebatinan kadharman memasuki tingkatan chakra).

Melalui latihan baik lewat sistem chakra atau Kundalini, atau pelatihan batin yang ketat, setelah seseorang bisa melampaui TRI GUNA — semua tindakannya tidak lagi terpengaruh satwam-rajas-tamas, seseroang mencapai Waikuntha.

Bhagawata Purana menjelaskan: “…orang memasuki alam kesadaran Waikuntha jika yang bersangkutantelah melampaui Tri Guna, bisa diraih walaupun masih hidup (XI.25.22)”.

Mengutip Kidung Wargasari:

“Jagat-Mayanepuniku
ne nguluk-uluk deweke ngawinang idepe bingung
Sang Hyang Atma linglung paling
Awidhyane nekepin kakaput bahan Tri-guna makrana ragane wanuh
kadi kicalan patitis.”

Terjemahannya:

“Jagat semu itu
yang mengolok-olok diri kita menyebabkan pikiran bingung
Sang Hyang Atma tidak tahu arah
kegelapan itu yang menutupi dibalut oleh triguna menyebabkan badan itu yang diperhamba
bagaikan kehilangan arah.”

Tri Guna yang membalut sang Atma sehingga tidak tahu arah?

Apa itu Tri Guna?

Kidung Warga Sari menjelaskan dengan sangat baik. Tetapi di sini saya selanjutnya memberikan pengertian umumnya.

Guna artinya: Kualitas, sifat, atribut [elemen], kecenderungan atau ciri Karakteristik dari segala sesuatu. Secara umum segala sesuatu dan di mana pun, di seluruh dunia [dunia material] berevolusi dalam 3 Guna atau  memiliki tiga mode secara alami, yaitu Satwam, Rajas, Tamas.

— Sifat kebaikan adalah Satwam

— Modus gairah [atau] keinginan adalah Rajas

— Sifat ketidaktahuan atau kegelapan [atau] masa bodo adalah Tamas

Variable apa yang menyusunnya?

— Satwa (Satwan) Guna tersusun dari: Kebahagiaan, Kemurnian, Kepuasan, Pengendalian Diri, Kebijaksanaan, Spiritualitas.

— Rajo (Rajas) Guna tersusun dari: Tindakan, Perubahan, Gairah, Gerakan, Ketidakstabilan.

— Tamo (Tamas) Guna tersusun dari : Kemalasan, Tidak Aktif, Kegelapan, Masa Bodo, Ketidaktahuan, Ketakutan.

Bisakah Satwa Guna tidak tercampur dengan Raja Guna dan Tamo Guna?

Jika manusia sampai bisa tidak tercampur dirinya dengan dorongan Rajas dan Tamas, murni dalam dorongan Satwam, ia memiliki “pondasi” memasuki Waikuntha. Atau dalam istilah lain di Bali Waikuntha lebih dikenal sebagai Viṣṇuloka — tempat berstananya Bhatara Wisnu.

Catatan: Tahap murni dalam dorongan Satwam pun baru merupakan “pondasi” untuk melanjutkan perjalanan rohani yang lebih dalam. Untuk memasuki Viṣṇuloka maka Satwam Guna atau Gunasatwa pun harus “dilepaskan” atau “sang diri” telah melampauinya.

Siapapun selama masih terikat atau liputi Triguna — atau dalam istilah Kidung Warga Sari disebut “kaput bahan Tri-guna” — maka siapapun tidak bisa memasuki Waikuntha / Viṣṇuloka — alam berstananya Bhatara Wisnu.

Penganut pāraṃpara yang memuliakan Bhatara Wisnu akan menyebut pencapaian ini sebagai Waikuntha / Viṣṇuloka. Sementara yang mengutamakan Bhatara Śiwa akan mendambakan memasuki alam stana Bhatara Śiwa atau Śivaloka.

Mereka yang telah mencapai tingkatan pemahaman tinggi tidak akan mendebatkusirkan Waikuntha/ Viṣṇuloka versus Śivaloka. Yang memperdebatkan umumnya yang tidak paham atau tidak sampai pemahamannya.

Sangat bersyukur masyarakat Hindu Bali mewarisi teks ajaran yang menyinggung Waikuntha Dharma ini — jalan suci menuju Viṣṇuloka. Masyarakat memiliki bahan renungan untuk dibaca dan dijadikan referensi atau sesuluh untuk menimbang. Punya semacam koridor batin tinimbang sekedar debat masuk angin tanpa dasar bacaan.

Kidung Warga Sari lontarnya bisa dibaca langsung di Pusat Dokumentasi Bali. Teks-teks yang dimuat di dalamnya adalah kompilasi ajaran kuno yang beredar dalam masyarakat Bali dan atas kebajikan seorang pengawi atau penyurat lontar bernama pena Jyestha Hili teks-teks Warga Sari yang tercecer di tengah masyarakat pencinta sastra klasik Bali dikompilasi menjadi 262 pupuh.

Jyestha Hili sebagai pengawi yang merangkai berbagai teks dalam penutupnya meminta maaf dan kelapangan hati pembacanya:

“Ampura samatra katur
kramaning pangabhaktine
sakadi katur ring hayun
boyaja sangkaning uning
uninge saking manguping
bruke takil tekekang luwir pangucining manuk
gehemin mangadut jlihjih”

“Ksama tityang atur dusun
geng rena pangampurane
lungsur tityang saking tuhu
mlarapan dredha subhakti
amatra prasida ngiring asebit sari mayajnya
mangertyang lacur dharmaning dumadi”

Artinya:

“Mohon maaf karena sedikit yang dapat disampaikan
tata cara sembah sujud bakti itu
seperti telah dijelaskan di atas bukanlah karena telah mahir mengetahuinya lewat mendengarkan
ibarat beruk dibungkus kuat-kuat
bagaikan memikat burung genggami dengan gabah.”

“Maafkanlah saya orang bodoh
sudilah kiranya memaafkannya
hamba mohonkan dengan
penuh tulus ikhlas
yang dilandasi rasa hormat bakti
semoga dapat mengiringi berbuat kebajikan karena miskin
berjasanya orang yang miskin kewajiban orang menjelma”.

Pengawi yang mengkompilasi teks ajaran kuno ini memberikan kita contoh untuk tetap tidak pongah dan rendah hati.

Begitulah yang paham akan mengaku bodoh. Yang tak paham baru kenal istilah biasanya pongah. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS
Tags: aksarabalikidungKidung Wargasarisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kata-Kata untuk Pemegang Tahta

Next Post

Pondok Literasi Sabih dan Masa Depan Pedawa

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Pondok Literasi Sabih dan Masa Depan Pedawa

Pondok Literasi Sabih dan Masa Depan Pedawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co