2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ziarah ke Makam R.M. Djojo Poernomo, Guru Spiritual Laskar Diponegoro dan Pendiri Parikunan Purwa Ayu Mardi Utomo

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
December 19, 2023
in Tualang
Ziarah ke Makam R.M. Djojo Poernomo, Guru Spiritual Laskar Diponegoro dan Pendiri Parikunan Purwa Ayu Mardi Utomo

Lusikan sosok R.M, Djojo Poernomo | Foto: Yudi Setiawan

DI ATAS kapal ferry Citra Mandala Sakti, setelah digoyang ombak Selat Bali sekitar 40 menitan, saya sampai di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.

Cuaca berawan menyambut kedatangan saya di bumi Blambangan sore itu. Saya ke Banyuwangi bukan untuk pulang kampung atau liburan; tetapi untuk menemani teman saya yang sedang gawat dihantam tugas kuliahnya.

Ia bercerita harus membuat proposal penelitian yang mengangkat tentang sejarah lokal sebagai tugas akhir semesternya. Setelah mencari beberapa referensi di internet maupun rujukan dari kating-nya (kakak tingkat, maksudnya), dengan sedikit ragu, ia ingin meneliti salah satu tokoh guru spiritual dan pendiri salah satu ajaran kejawen yang berada di Dusun Tojo Kidul, Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu, Banyuwangi.

Setelah berkendara sekitar satu jam; setelah melewati jalanan kota Banyuwangi yang tampak cukup ramai; sekitar pukul 8 malam, saya sampai di Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar. Namun, untuk menuju rumah teman saya ini, saya harus melewati jalanan desa di tengah-tengah kebun jeruk dan kebun buah naga, yang memaksa saya berkendara dengan sedikit akrobatik.

Jalanan itu, jika di ibaratkan lukisan, ia seperti hasil lukisan Affandi Koesama—maestro seni lukis abstrak Indonesia. Seperempat di aspal, seperempat lagi di paving, seperempatnya hanya tumpukan batu-batu tajam dan sisanya tanah berdebu, dan di sepanjang jalan itu dipenuhi dengan lubang-lubang yang cukup dalam. Dan sialnya, sebagai jalan penghubung desa, tak ada satu pun pencahayaan lampu jalan yang meneranginya. Sangat abstrak dan penuh misteri, bukan?

Sesampainya saya di rumahnya, selayaknya orang Jawa pada umumnya, saya diperlakukan seperti tamu yang datang dari kota yang sangat jauh, yang harus diterima dengan jamuan yang mewah. ”Wah..tak usah repot-repot, kayak saya ini siapa aja,”ucap saya kepada si empunya rumah.

Dengan jawaban yang sudah template, ia berkata, “Nggak apa-apa, Mas. Nggak repot, biasanya kami memang begini, kok.”Ya, mau bagaimana lagi, toh, orang Jawa memang begitu kan? Selalu memuliakan setiap tamu yang datang ke rumahnya.

***

Keesokan harinya, pagi masih sangat buta dan suara burung-burung masih belum genap, selepas adzan subuh, saya sudah bangun dan duduk di teras depan rumah teman saya ini. Sebab, jika saya tetap melakukan kebiasaan saya di Singaraja—bangun jam 11 siang—maka, yang jelas saya pasti akan mempermalukan diri sendiri sebagai tamu yang tak tahu diri.

Setelah sinar matahari sudah cukup hangat terasa, sekitar jam sembilan pagi, perjalanan kami lanjutkan ke arah barat Kota Banyuwangi, tepatnya di Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu. Sesampainya di Dusun Tojo Kidul, sebuah gapura dengan papan nama “Tjandi Sonja Ruri Sarean R M Djojo Poernomo” menandakan bahwa kami telah sampai di tujuan.

Pintu makam R.M, Djojo Poernomo / Foto: Yudi Setiawan

Beberapa bangunan di area makam itu tak seperti bangunan-bangunan di sekitarnya. Rumah-rumah di area makam itu seperti sebuah pendopo bangunan khas rumah Joglo. Padahal, desa itu dihuni oleh mayoritas suku Osing yang notabennya sangat berbeda secara adat istiadat maupun bentuk rumah dengan orang Jawa Tengahan.

Di sebelah selatan area makam, terdapat dua rumah yang berisi papan nama Dewan Parikunan Pusat Purwa Ayu Mardi Utama. Sedangkan di depan area makam, terdapat satu rumah yang selanjutnya saya tahu bahwa rumah itu adalah tempat tinggal penjaga makam tersebut.

Di dalam area makam yang kurang lebih seluas 900 meter persegi, terdapat tiga buah kolam yang konon dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai kolam bertuah. Dan, terdapat sebuah bangunan candi sebagai bangunan makam dari R M. Djojo Poernomo yang bernama Tjandi Sonja Ruri.

Setelah puas menyusuri berbagai sudut area makam, kami menyempatkan diri untuk ziarah ke dalam bangunan candi. Di dalam bangunan itu, terdapat dua buah makam yang berada lebih tinggi daripada lantainya, dan harus melewati beberapa anak tangga untuk mencapai makam tersebut. Dua makam itu bertuliskan nama R M. Djojo Poernomo dan R A. Soeprapti Djojo Poernomo.

Sedangkan di belakang makam, terdapat satu lukisan cukup besar yang merupakan lukisan foto dari RM. Djojo Poernomo, serta aroma kemenyan yang menyeruap di seluruh ruangan menambah aura mistis selama kami berada di dalam bangunan candi itu.

***

Lantas siapa R.M. Djojo Poernomo?

Menurut penuturan dari Hendri, selaku juru kunci makam, Djojo Poernomo merupakan tokoh pahlawan yang masih memiliki hubungan darah dengan Kerajaan Mataram Islam.

R.M. Djojo Poernomo lahir di lingkungan Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-18. Ia merupakan anak dari R. A. Kustinah—putri dari Nyi Ageng Serang—dengan P. Mangkudiningrat, yang merupakan anak dari Hamengkubuwono II.

Djojo Poernomo sebenarnya merupakan nama samaranya ketika ia meninggalkan kerajaan setelah terjadinya Perjanjian Giyanti. Nama asli dari Djojo Poernomo sendiri sebenarnya adalah R.M. Papak atau Aryo Papak yang bergelar Pangeran Notoprojo, yang merupakan gelar yang sama seperti bapak dari Nyi Ageng Serang, yakni Pangeran Notoprojo atau Panembahan Serang.

Sejak muda, Pangeran Notoprojo sudah berjuang bersama dengan Pangeran Diponegoro dan neneknya, Nyi Ageng Serang. Karena kegigihan dan kepiawaiannya dalam berperang serta kemantapan spiritualnya, ia, oleh Pangeran Diponegoro dijadikan guru spiritual guna membangun semangat barisan pasukan Pangeran Diponegoro.

Pasca perang Jawa tahun 1830 dan kondisi Kerajaan Mataram Islam yang sudah terpecah akibat adanya Perjanjian Giyanti—yang terjadi pada tahun 1755—membuat Pangeran Notoprojo memilih untuk tetap melanjutkan perlawanan terhadap kolonial Belanda, dengan cara berpindah-pindah tempat guna menyusun barisan perlawanan di setiap tempat yang ia kunjungi.

Di setiap tempat pelarian itulah ia kemudian berganti-ganti nama, seperti ketika di Surabaya, misalnya, ia dikenal dengan nama Kiai Korek; di Trenggalek ia dikenal dengan Pangeran Presil Kopodilem; dan nama-nama lain seperti Markam Kasan Munadja, Raden Gimbal, Raden Joko, dan lain sebagainya.

Sebelum sampai di Bumi Blambangan, beberapa kali Pangeran Notoprojo juga menetap di Blitar dan Malang guna menghindari kejaran pihak Belanda. Dan setibanya di Banyuwangi, Pangeran Notoprojo kemudian kembali berganti nama menjadi R. M. Djojo Poernomo.

Silsilah R.M, Djojo Poernomo / Foto: Yudi Setiawan

Di Banyuwangi, sebelum menetap di Dusun Tojo, Desa Temuguruh, ia juga sempat bermukim di Dusun Sumber Wadung, Desa Tulung Rejo, Glenmore, yang dengan cerdiknya mengelabuhi pihak Belanda dengan membuat makam Mbah Joyo, yang merupakan makam palsu dari dirinya guna melanjutkan pelariannya hingga sampai di Dusun Tojo Kidul.

Sesampainya di Dusun Tojo Kidul, Djojo Poernomo membangun pasukan kembali dengan istilah barisan pendem. Suatu barisan perlawanan yang ia persiapkan untuk melawan pihak Belanda yang mengejarnya. Namun, setelah membangun barisan pendem tersebut, Djojo Poernomo melakukan penyepian diri dengan cara bertapa selama beberapa tahun di sebelah selatan desa.

Menurut penuturan Hari, selaku penjaga warisan Djojo Poernomo—berupa Pusaka keris dan jubah serta kupluk—, karena keprihatinannya terhadap keadaan bangsa saat itu, alasan Djojo Poernomo meninggalkan kerajaan karena merasa kecewa dengan adanya Perjanjian Giyanti. Maka, ia memutuskan untuk menjadi Pujangga Kejawen sebagai jalan alternatifnya melawan pihak kolonial Belanda

Karena tak pernah menetap di satu tempat untuk waktu yang cukup lama, hingga usia senja, Djojo Poernomo tak memiliki istri. Namun, setibanya di Dusun Tojo Kidul dan seusai melakukan penyepian diri, Djojo Poernomo memperistri R.A Soeprapti yang merupakan abdi dalem setianya.  R.A Soeprapti sebelumnya telah memiliki seorang suami namun telah meninggal bernama Mangunatmodjo yang merupakan seorang pegawai kehutanan di Tojo Kidul.

“Dari perkawinannya itu, Djojo Poernomo tak memiliki keturunan. Sebab, perkawinan itu dilakukan hanya sebagai pejangkep atau pelengkap dalam kehidupan sang guru spiritual itu,” lanjut Hari menjelaskan.

Selama di Dusun Tojo Kidul, Djojo Poernomo juga menyebarkan ajaran agama Islam dengan pendekatan ajaran Jawa kultural, sesuai dengan karakteristik masyarakat di sekitarnya. Sehingga, guna merangkul masyarakat di sana, selain menyebarkan ajaran Islam dan membangun barisan pendem, Djojo Poernomo membangun sebuah padepokan yang ia beri nama “Tjandi Sunja Ruri”.

Pusara R.M, Djojo Poernomo / Foto: Yudi Setiawan

Di Padepokan itulah ia menyusun beberapa buku, seperti Roro Jinem, Kresnomurco, Peto Peroyo, dan beberapa Tatal—lontar aksara Jawa—dan sebuah kitab yang ia beri nama “Purwa Ayu Mardi Utama”—selanjutnya ditulis Pamu. Kitab itu merupakan serapan dari makna Al-qur’an yang ia terjemahkan ke dalam bahasa Jawa.

Di dalam buku Anggaran Dhasaaring Kaweruh Pranataning Kamanungsan Purwa Ayu Mardi Utama disebutkan bahwa Pamu bukanlah sebuah agama, partai, atau organisasi politik. Tetapi, Pamu merupakan sebuah ajaran bagi manusia untuk hidup yang berguna dan mati dengan sempurna. Oleh karena itu, menurut kitab tersebut, manusia harus berusaha dari awal untuk mendapat keselamatan dengan jalan memperkuat budi pekerti yang tiada cacat

Pamu sendiri terbentuk menjadi sebuah Parikunan Kejawen pada tahun 1912 berdasarkan Staatsblads tahun 1912 no. 600, atas prakarsa dari R M. Djojo Poernomo, dan dengan wakil wirid sebagai nama pemimpin dari Parikunan tersebut.

Djojo Poernomo meninggal pada tahun 1956 dan dikebumikan di dalam area candi Sunja Ruri. Setiap bulan Suro, diadakan haul Djojo Poernomo dan acara silaturahmi oleh penghayat kepercayaan Pamu yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, yang digelar selama beberapa hari dengan pagelaran wayang kulit sebagai penutup acara.

Ah, banyak hal yang terjadi di masa lalu, yang membuat saya, sebagai orang yang pernah menempuh pendidikan sejarah, sadar bahwa ternyata tak banyak pengetahuan lokal yang saya kuasai. Dan mengenai riwayat hidup R.M. Djojo Poernomo, menyadarkan saya bahwa bangsa ini memang patut berterima kasih kepada leluhur yang telah berjuang sampai titik darah penghabisan.

Setelah selesai berziarah dan mendapat cukup informasi, kami beranjak ke rumah sebelum kembali menempuh perjalanan Banyuwangi-Singaraja—yang bagi beberapa orang cukup melelahkan itu. Alfatihah untuk R.M. Djojo Poernomo a.k.a R.M. Papak atau Aryo Papak yang bergelar Pangeran Notoprojo.[T]  

Ke Songgon, Kami Mencari Ketenangan: Sebuah Kenangan Perjalanan
Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi
Rumah Literasi Indonesia di Banyuwangi, Bukan Sekadar Membaca, Tapi Juga Berwisata
Tualang Banyuwangi (1) – Bertaruh Nyawa di Kawah Ijen
Tags: banyuwangiperjalananpetualangansejarahziarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Soegianto Sastrodiwiryo, Dokter yang Sejarawan Itu Berpulang

Next Post

Nyaru Basa

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Nyaru Basa

Nyaru Basa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co