23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kutukan Empat Windu | Cerpen Putri Oktaviani

Putri Oktaviani by Putri Oktaviani
November 12, 2023
in Cerpen
Kutukan Empat Windu | Cerpen Putri Oktaviani

Ilustrasi tatkala.co

WINDU pertama, bocah perempuan kecil tidak merayakan ulang tahun kedelapan seperti teman-temannya sebelumnya. Di hari ulang tahunnya itu, dia menyusun boneka-boneka –bekas sepupunya yang beranjak besar– secara melingkar. Bersenandung seolah para boneka tengah merayakan ulang tahunnya. Raut gembira bersemayam di wajah ovalnya. Potongan rambutnya seperti kartun Dora, bibirnya tipis, alisnya berbentuk seperti gunung, sehingga orang-orang baru selalu memujinya meski kulitnya tidak terlalu putih.

Ketika terik matahari semakin silau, dia buru-buru merapikan boneka-boneka ke tempat semula. Bergegas masuk ke rumah, mencuci kaki dan tangan, lalu merayap ke kamar sebelum sang ibu tiba. Jika tidak, dia akan mendapati pahanya biru-biru.

Mulutnya selalu ingin bertanya, kenapa dia tidak diperlakukan seperti dua kakak lelakinya. Yang bisa bebas main saat siang hari, tak melakukan bersih-bersih rumah, atau setidaknya merapikan mainannya kembali seperti awal. Namun mulutnya seperti tersumpal oleh perkataan; Anak perempuan tidak sama seperti anak lelaki.

Seperti di hari libur pagi, dia sudah sibuk menyapu seluruh area rumah dari dalam hingga luar. Meski tubuhnya tidak besar, tapi dia pandai bersih-bersih. Sementara kedua kaka lelakinya yang usianya terpaut dua dan tiga tahun di atasnya, masih tertidur pulas. Ibunya berteriak jika dia tidak bergegas bangun apalagi tidur selepas subuh. Katanya, anak perempuan dilarang tidur setelah subuh meski hari libur. Katanya, anak perempuan harus membantu ibunya di dapur dan pekerjaan rumah lainnya.

Tapi dia selalu bertanya, kenapa itu tidak terjadi pada dua kakaknya, dan jawabannya selalu sama; Anak perempuan tidak sama seperti anak lelaki.

Ketika siang hari, dua kakak lelakinya sibuk bermain playstation. Bocah perempuan itu menghampiri, menonton, dan sebetulnya sangat ingin bermain. Tetapi, tak pernah diberi. Ibunya melarang karena katanya, itu adalah permainan lelaki. Gelas-gelas kotor dan sisa makanan ringan dua kakak lelakinya berserakan. Mereka tak pernah dimarahi oleh sang ibu untuk hal itu. Tetapi selalu menyalahkan dia yang diam saja karena ada hal kotor di rumahnya. Lantas, dia membersihkan tanpa berhasil memegang stick playstation sekali pun.

Windu kedua, usianya beranjak enam belas tahun. Saat dirinya menginjak kelas sebelas, dia tidak pernah menghadiri pesta-pesta yang biasa dilakukan teman-temannya. Atau berlibur ke pantai, gunung, apalagi tempat rekreasi lainnya. Dia tidak mendapatkan izin dengan alasan, anak perempuan dilarang berpergian selain bersama keluarganya. Berbeda dengan dua kakak lelakinya, yang terkadang pulang tengah malam, pergi menginap untuk liburan, dan hal lainnya di luar rumah.

Dengan wawasan dan pemikiran semakin berkembang, dia bertanya, kenapa dia tidak boleh melakukan apa yang kakak lelakinya lakukan. Lantas ibunya menjawab, jikalau anak perempuan yang sudah baligh memiliki harga diri yaitu keperawanan. Jika hal itu sudah hilang, maka perempuan sudah tidak ada harga dirinya lagi. Dia selalu manggut-manggut saat ibunya menjawab, tak berani bertanya lebih lanjut.

Menjelang hari kelulusan tiba, seorang ibu menggedor-gedor rumahnya. Dirinya hanya berdua dengan satu kaka lelakinya yang paling tua. Dia disuruh membuka pintu dan menurutinya. Saat melihat tamu, wajahnya berubah ketakutan. Tatkala raut marah dan emosi menyatu di wajah ibu itu.

“Mana kakakmu?! Panggilkan dia! Heri harus tanggungjawab sama anak saya!”

Mendengar hal itu, dia berlari masuk, memanggil sang kakak yang wajahnya panik dan ketakutan. Dia tidak keluar dan memilih mengunci pintu sendirian di kamar. Sementara perempuan itu kembali ke teras rumah.

“Bang Heri tidak ada di rumah, Bu.”

“Bohong! Panggilkan ibumu!”

“Ibu juga tidak ada di rumah.”

Selepas itu, malam harinya, ibu-ibu yang wajahnya seperti singa siap menerkam datang lagi bersama suami serta anaknya. Pukul sepuluh malam, mereka berembuk. Membicarakan keputusan apa yang selanjutnya dilakukan untuk kedua anak mereka. Keputusan akhirnya adalah mereka dinikahkan.

“Lihat! Kalau kamu jadi perempuan yang mudah digauli seperti itu, nasibmu sama seperti dia. Tidak bisa melanjutkan kuliah dan mencari pekerjaan lantaran sudah hamil duluan. Makanya, jadi perempuan mesti pandai jaga harga diri,” nasihat Ibu pada anak perempuannya.

Dia diam saja. Tidak menyahut dan hanya mengangguk. Pikirannya bertanya-tanya, jadi ini semua salah siapa?

Windu ketiga, kehidupannya lebih terjal lagi. Ketika usianya hampir memasuki quarter life crisis itu menanggung seisi rumah. Satu rumah diisi tiga kepala keluarga. Kedua kakak lelakinya menganggur dan beristri. Sementara sang ayah sudah pensiun. Sang ibu hanya menjual nasi pada pagi hari. Anak perempuannya yang tersisa sebagai tulang punggung bekerja di pabrik. Meskipun terkadang rasa iri muncul karena tak bisa bebas seperti teman-temannya, dia selalu manut pada keluarganya.

“Perempuan harus bisa cari uang sendiri. Biar nanti kalau sudah beristri tidak menyusahkan suami seperti kedua kakak iparmu.” Begitulah nasihat ibunya kali ini.

Pekerjaannya di rumah sudah cukup ringan dengan bantuan dua kakak iparnya. Tetapi di pabrik, badannya seperti diremukkan dua kali lipat. Mencari uang hanya untuk hilang sekejap. Tidak punya tabungan apalagi pegangan harian. Seluruh gajinya diserahkan pada sang ibu. Dia pasrah meski otaknya sudah pandai dan tahu jika dia seperti sapi perah. Tidak ada penolakan, bantahan, apalagi kalimat cacian pada keluarganya. Justru sebaliknya, dia selalu menjadi bualan sang ibu jika gajinya terlambat atau dipotong.

Suatu hari, pemilik usaha galon di tempatnya datang. Menagih utang yang entah pada siapa. Dia memanggil ibunya yang keluar secara malu-malu.

“Duh! Bang Tohar, cepat sekali datangnya. Bukannya seminggu lagi?”

“Ini sudah terlambat satu minggu. Sesuai janji awal saja, bagaimana?”

Sang ibu meliriknya tanpa sebab. Lalu mengangguk cepat. “Tapi uangnya dilebihkan ya? Utang saya lunas. Juga, dua anak lelaki saya diterima kerja di usahanya Bang Tohar, bagaimana?”

“Setuju!”

Tanpa tahu maksud pembicaraan mereka, dia hanya diam dan masuk ke dalam. Tetapi malamnya, dia dirias oleh dua kakak iparnya. Katanya, menyambut kedatangan calon suaminya. Awalnya dia terkejut, tetapi sang ibu menahannya dengan seribu alasan dan tatapan mengerikan.

Dia dijodohkan oleh Tohar malam itu juga.

“Anak perempuan saya ini betul-betul masih perawan. Rajin, karena sejak kecil saya ajarkan cara bersih-bersih rumah. Saat remaja pun tidak pernah keluar tanpa saya atau keluarga. Tidak pernah pacaran dan betul-betul menuruti setiap perkataan saya, apalagi suaminya nanti. Pokoknya dijamin, anak perempuan saya sempurna. Maharnya seratus juta, ya, Bang?”

“Setuju.”

Windu keempat. Usianya sudah menginjak 32 tahun. Tetapi dirinya sudah berstatus janda selama dua tahun. Diusir dari rumah mertua dan juga keluarganya sendiri dengan dua anak tanggungan. Suaminya menceraikannya sewaktu usia pernikahan mereka baru lima tahun.

Dia selalu melakukan apa yang suaminya perintahkan. Termasuk tidak mengunjungi keluarganya lagi. Meski dia seringkali dipukul tiap malam hingga wajahnya lebam, dia selalu tak bersuara. Dia mengingat pesan sang ibu sebelumnya; Istri wajib tunduk pada suami, tidak boleh melawan suami, apalagi menjelekkan suami di depan orang-orang. Bagi seorang istri, suami adalah pengganti orangtua.

Setelah dia melakukan apa yang dinasihati sang ibu, dia berakhir di rumah sakit. Ketika seseorang hendak melaporkan perbuatan keji suaminya padanya, dia menolak. Saat itulah sang suami menceraikannya sebelum berurusan lebih lanjut pada kepolisian.

Sekarang, dia sudah terbebas dari kutukan empat windu yang pernah ia baca di buku cerita. Kebebasan seorang perempuan memang dimulai setelah usia empat windunya terlewat. Tanpa suara, dia berhasil melewati semua keresahan yang terjadi pada dirinya yang terlahir sebagai perempuan. [T]

  • Baca CERPEN lain
Wanita yang Hidup Dalam Kebencian | Cerpen Riska Widiana

Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan
Saklon | Cerpen Sonhaji Abdullah
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Seseorang Dalam Puisi

Next Post

Pande Made Sukerta dan Usaha Membumikan serta Mengembangkan Rebab di Buleleng

Putri Oktaviani

Putri Oktaviani

Lahir di Tangerang Tahun 2000. Alumnus Akuntansi, UNPAM. Senang menulis novel dan cerpen. Tulisannya terpercik di media cetak maupun online seperti; Solopos, Kedaulatan Rakyat, Radar Mojokerto, Busurnusa, Mbludus, Magrib Id, Majalah Cantante, Cerpenmu, Takanta, Marewai, Literasi Kalbar, Cerpen Sastra, Novel Life, dan Fizzo. Cerpennya berjudul Setelah Ledakan Juara 1 Lomba Cerpen Loka Media. Instagram @putri.oktavn

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Pande Made Sukerta dan Usaha Membumikan serta Mengembangkan Rebab di Buleleng

Pande Made Sukerta dan Usaha Membumikan serta Mengembangkan Rebab di Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co