24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kutukan Empat Windu | Cerpen Putri Oktaviani

Putri Oktaviani by Putri Oktaviani
November 12, 2023
in Cerpen
Kutukan Empat Windu | Cerpen Putri Oktaviani

Ilustrasi tatkala.co

WINDU pertama, bocah perempuan kecil tidak merayakan ulang tahun kedelapan seperti teman-temannya sebelumnya. Di hari ulang tahunnya itu, dia menyusun boneka-boneka –bekas sepupunya yang beranjak besar– secara melingkar. Bersenandung seolah para boneka tengah merayakan ulang tahunnya. Raut gembira bersemayam di wajah ovalnya. Potongan rambutnya seperti kartun Dora, bibirnya tipis, alisnya berbentuk seperti gunung, sehingga orang-orang baru selalu memujinya meski kulitnya tidak terlalu putih.

Ketika terik matahari semakin silau, dia buru-buru merapikan boneka-boneka ke tempat semula. Bergegas masuk ke rumah, mencuci kaki dan tangan, lalu merayap ke kamar sebelum sang ibu tiba. Jika tidak, dia akan mendapati pahanya biru-biru.

Mulutnya selalu ingin bertanya, kenapa dia tidak diperlakukan seperti dua kakak lelakinya. Yang bisa bebas main saat siang hari, tak melakukan bersih-bersih rumah, atau setidaknya merapikan mainannya kembali seperti awal. Namun mulutnya seperti tersumpal oleh perkataan; Anak perempuan tidak sama seperti anak lelaki.

Seperti di hari libur pagi, dia sudah sibuk menyapu seluruh area rumah dari dalam hingga luar. Meski tubuhnya tidak besar, tapi dia pandai bersih-bersih. Sementara kedua kaka lelakinya yang usianya terpaut dua dan tiga tahun di atasnya, masih tertidur pulas. Ibunya berteriak jika dia tidak bergegas bangun apalagi tidur selepas subuh. Katanya, anak perempuan dilarang tidur setelah subuh meski hari libur. Katanya, anak perempuan harus membantu ibunya di dapur dan pekerjaan rumah lainnya.

Tapi dia selalu bertanya, kenapa itu tidak terjadi pada dua kakaknya, dan jawabannya selalu sama; Anak perempuan tidak sama seperti anak lelaki.

Ketika siang hari, dua kakak lelakinya sibuk bermain playstation. Bocah perempuan itu menghampiri, menonton, dan sebetulnya sangat ingin bermain. Tetapi, tak pernah diberi. Ibunya melarang karena katanya, itu adalah permainan lelaki. Gelas-gelas kotor dan sisa makanan ringan dua kakak lelakinya berserakan. Mereka tak pernah dimarahi oleh sang ibu untuk hal itu. Tetapi selalu menyalahkan dia yang diam saja karena ada hal kotor di rumahnya. Lantas, dia membersihkan tanpa berhasil memegang stick playstation sekali pun.

Windu kedua, usianya beranjak enam belas tahun. Saat dirinya menginjak kelas sebelas, dia tidak pernah menghadiri pesta-pesta yang biasa dilakukan teman-temannya. Atau berlibur ke pantai, gunung, apalagi tempat rekreasi lainnya. Dia tidak mendapatkan izin dengan alasan, anak perempuan dilarang berpergian selain bersama keluarganya. Berbeda dengan dua kakak lelakinya, yang terkadang pulang tengah malam, pergi menginap untuk liburan, dan hal lainnya di luar rumah.

Dengan wawasan dan pemikiran semakin berkembang, dia bertanya, kenapa dia tidak boleh melakukan apa yang kakak lelakinya lakukan. Lantas ibunya menjawab, jikalau anak perempuan yang sudah baligh memiliki harga diri yaitu keperawanan. Jika hal itu sudah hilang, maka perempuan sudah tidak ada harga dirinya lagi. Dia selalu manggut-manggut saat ibunya menjawab, tak berani bertanya lebih lanjut.

Menjelang hari kelulusan tiba, seorang ibu menggedor-gedor rumahnya. Dirinya hanya berdua dengan satu kaka lelakinya yang paling tua. Dia disuruh membuka pintu dan menurutinya. Saat melihat tamu, wajahnya berubah ketakutan. Tatkala raut marah dan emosi menyatu di wajah ibu itu.

“Mana kakakmu?! Panggilkan dia! Heri harus tanggungjawab sama anak saya!”

Mendengar hal itu, dia berlari masuk, memanggil sang kakak yang wajahnya panik dan ketakutan. Dia tidak keluar dan memilih mengunci pintu sendirian di kamar. Sementara perempuan itu kembali ke teras rumah.

“Bang Heri tidak ada di rumah, Bu.”

“Bohong! Panggilkan ibumu!”

“Ibu juga tidak ada di rumah.”

Selepas itu, malam harinya, ibu-ibu yang wajahnya seperti singa siap menerkam datang lagi bersama suami serta anaknya. Pukul sepuluh malam, mereka berembuk. Membicarakan keputusan apa yang selanjutnya dilakukan untuk kedua anak mereka. Keputusan akhirnya adalah mereka dinikahkan.

“Lihat! Kalau kamu jadi perempuan yang mudah digauli seperti itu, nasibmu sama seperti dia. Tidak bisa melanjutkan kuliah dan mencari pekerjaan lantaran sudah hamil duluan. Makanya, jadi perempuan mesti pandai jaga harga diri,” nasihat Ibu pada anak perempuannya.

Dia diam saja. Tidak menyahut dan hanya mengangguk. Pikirannya bertanya-tanya, jadi ini semua salah siapa?

Windu ketiga, kehidupannya lebih terjal lagi. Ketika usianya hampir memasuki quarter life crisis itu menanggung seisi rumah. Satu rumah diisi tiga kepala keluarga. Kedua kakak lelakinya menganggur dan beristri. Sementara sang ayah sudah pensiun. Sang ibu hanya menjual nasi pada pagi hari. Anak perempuannya yang tersisa sebagai tulang punggung bekerja di pabrik. Meskipun terkadang rasa iri muncul karena tak bisa bebas seperti teman-temannya, dia selalu manut pada keluarganya.

“Perempuan harus bisa cari uang sendiri. Biar nanti kalau sudah beristri tidak menyusahkan suami seperti kedua kakak iparmu.” Begitulah nasihat ibunya kali ini.

Pekerjaannya di rumah sudah cukup ringan dengan bantuan dua kakak iparnya. Tetapi di pabrik, badannya seperti diremukkan dua kali lipat. Mencari uang hanya untuk hilang sekejap. Tidak punya tabungan apalagi pegangan harian. Seluruh gajinya diserahkan pada sang ibu. Dia pasrah meski otaknya sudah pandai dan tahu jika dia seperti sapi perah. Tidak ada penolakan, bantahan, apalagi kalimat cacian pada keluarganya. Justru sebaliknya, dia selalu menjadi bualan sang ibu jika gajinya terlambat atau dipotong.

Suatu hari, pemilik usaha galon di tempatnya datang. Menagih utang yang entah pada siapa. Dia memanggil ibunya yang keluar secara malu-malu.

“Duh! Bang Tohar, cepat sekali datangnya. Bukannya seminggu lagi?”

“Ini sudah terlambat satu minggu. Sesuai janji awal saja, bagaimana?”

Sang ibu meliriknya tanpa sebab. Lalu mengangguk cepat. “Tapi uangnya dilebihkan ya? Utang saya lunas. Juga, dua anak lelaki saya diterima kerja di usahanya Bang Tohar, bagaimana?”

“Setuju!”

Tanpa tahu maksud pembicaraan mereka, dia hanya diam dan masuk ke dalam. Tetapi malamnya, dia dirias oleh dua kakak iparnya. Katanya, menyambut kedatangan calon suaminya. Awalnya dia terkejut, tetapi sang ibu menahannya dengan seribu alasan dan tatapan mengerikan.

Dia dijodohkan oleh Tohar malam itu juga.

“Anak perempuan saya ini betul-betul masih perawan. Rajin, karena sejak kecil saya ajarkan cara bersih-bersih rumah. Saat remaja pun tidak pernah keluar tanpa saya atau keluarga. Tidak pernah pacaran dan betul-betul menuruti setiap perkataan saya, apalagi suaminya nanti. Pokoknya dijamin, anak perempuan saya sempurna. Maharnya seratus juta, ya, Bang?”

“Setuju.”

Windu keempat. Usianya sudah menginjak 32 tahun. Tetapi dirinya sudah berstatus janda selama dua tahun. Diusir dari rumah mertua dan juga keluarganya sendiri dengan dua anak tanggungan. Suaminya menceraikannya sewaktu usia pernikahan mereka baru lima tahun.

Dia selalu melakukan apa yang suaminya perintahkan. Termasuk tidak mengunjungi keluarganya lagi. Meski dia seringkali dipukul tiap malam hingga wajahnya lebam, dia selalu tak bersuara. Dia mengingat pesan sang ibu sebelumnya; Istri wajib tunduk pada suami, tidak boleh melawan suami, apalagi menjelekkan suami di depan orang-orang. Bagi seorang istri, suami adalah pengganti orangtua.

Setelah dia melakukan apa yang dinasihati sang ibu, dia berakhir di rumah sakit. Ketika seseorang hendak melaporkan perbuatan keji suaminya padanya, dia menolak. Saat itulah sang suami menceraikannya sebelum berurusan lebih lanjut pada kepolisian.

Sekarang, dia sudah terbebas dari kutukan empat windu yang pernah ia baca di buku cerita. Kebebasan seorang perempuan memang dimulai setelah usia empat windunya terlewat. Tanpa suara, dia berhasil melewati semua keresahan yang terjadi pada dirinya yang terlahir sebagai perempuan. [T]

  • Baca CERPEN lain
Wanita yang Hidup Dalam Kebencian | Cerpen Riska Widiana

Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan
Saklon | Cerpen Sonhaji Abdullah
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Seseorang Dalam Puisi

Next Post

Pande Made Sukerta dan Usaha Membumikan serta Mengembangkan Rebab di Buleleng

Putri Oktaviani

Putri Oktaviani

Lahir di Tangerang Tahun 2000. Alumnus Akuntansi, UNPAM. Senang menulis novel dan cerpen. Tulisannya terpercik di media cetak maupun online seperti; Solopos, Kedaulatan Rakyat, Radar Mojokerto, Busurnusa, Mbludus, Magrib Id, Majalah Cantante, Cerpenmu, Takanta, Marewai, Literasi Kalbar, Cerpen Sastra, Novel Life, dan Fizzo. Cerpennya berjudul Setelah Ledakan Juara 1 Lomba Cerpen Loka Media. Instagram @putri.oktavn

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Pande Made Sukerta dan Usaha Membumikan serta Mengembangkan Rebab di Buleleng

Pande Made Sukerta dan Usaha Membumikan serta Mengembangkan Rebab di Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co