14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tajun Cup IV: Kisah Mistis Pedagang Jagung, Himappta Akhiri Dahaga Juara, dan Dwi Nugraha Sempurnakan Malam

Komang Sujana by Komang Sujana
October 13, 2023
in Khas
Tajun Cup IV: Kisah Mistis Pedagang Jagung, Himappta Akhiri Dahaga Juara, dan Dwi Nugraha Sempurnakan Malam

Citroen Pedawa (biru) vs Lazer Sidetapa (putih). Dok | Dian Pratiwi (Admin Voli Buleleng)

MALAM ITU, pertandingan voli di Lapangan Giri Mukti, Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, masih berlangsung. Penonton cukup ramai. Tapi mereka lewat begitu saja di depan Made Sudarsana, pria asal Desa Kubutambahan yang sedang berjualan jagung bakar. Sesekali ada yang mendekat, meski sekadar untuk bertegur sapa.

Ya, Made Sudarsana, cukup dikenal oleh penggemar kompetisi voli Tajun Cup. Pada tahun sebelumnya ia juga mengais rezeki di tempat itu, di depan tangga masuk lapangan. Persis di bekas pohon book yang menurut masyarakat usianya sudah ada sedari dulu. Pohon book ini kemudian ditebang saat pengembangan lapangan tahun 2017.

Ia berharap penonton yang datang tentu tidak sekadar mampir untuk bertanya kabar, laris atau tidak. Atau mendekat hanya untuk menghangatkan jemari tangan yang kedinginan di atas bara api miliknya—saat malam suasana di Tajun memang cukup dingin. Apalagi angin kadang-kadang berembus cukup kencang.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 10 malam. Pertandingan sesi pertama telah selesai. Ia belum mendapatkan hasil sebagaimana hari-hari biasanya. Dalam hatinya sedikit ada rasa pesimis, tapi ia tetap setia duduk sembari mengatur bara api tetap hidup.

Namun, istrinya yang senantiasa setia mendampingi setiap kali ia berjualan sudah kehilangan semangat. Ia seperti tidak merasakan keriuhan pertandingan bertajuk hidup mati—pertandingan penentuan bagi tim untuk bisa tetap bertahan pada kompetisi yang diikuti—itu. Padahal suara komentator dan sorak-sorai penonton terus bergema dari dalam lapangan.

“Baru dapat tiga puluh ribu, untuk bayar cuk sepuluh ribu. Rugi besar bergadang hari ini,” kata Luh Piliasih, menggerutu.

“Sabar. Pertandingan sesi kedua sesaat lagi selesai. Pasti ada yang berbelanja seperti kemarin-kemarin,” kata suaminya, menenangkan sembari tetap menjaga bara api semangat dalam dirinya.

Made Sudarsana, Pedagang Jagung / Dok. Penulis

Menjelang tengah malam, pertandingan telah selesai. Penonton satu persatu meninggalkan lapangan. Juga panitia telah bergegas pulang menemui keluarga tercinta.

Saat itu suasana malam sungguh tenang. Angin yang tadinya sempat bertiup tipis mendadak hilang. Suara binatang malam pun tiada terdengar.  Sungguh malam dengan arti yang sesungguhnya. Made Sudarsana pun bersiap bergegas untuk pulang dengan perasaan sedikit tak bahagia.

Namun, di tengah kesibukannya berberes, tiba-tiba terdengarlah derap langkah kaki turun dari tangga lapangan mendekat ke arahnya. Dilihat dari wajahnya, ia sudah tua. Lalu meminta dibakarkan jagung.

“Akhirnya ada yang belanja,” kata Piliasih dalam hati. Ia lega akan dapat tambahan pemasukan. Wajahnya yang sedari tadi muram kali ini mulai bersinar.

Tanpa membuang kesempatan, dengan cepat ia mengupas kulit jagung untuk diberikan kepada suaminya. Tanpa basa-basi, Made Sudarsana pun dengan semangat mengipas-ngipas arang. Inginkan jagung cepat selesai dibakar sebab hari sudah tengah malam.

Tanpa basa-basi juga, orang tua itu menyodorkan uang sepuluh ribuan kepada Made Sudarsana. Setelah itu, situasi semakin ramai. Entah datang dari mana, tiba-tiba ia sudah dikerumuni puluhan orang yang meminta dibakarkan jagung.

Made Sudarsana mulai curiga. Ia merasa ada yang aneh. Situasi seperti ini, di areal lapangan yang dulunya bekas kuburan itu, tidak pernah ia alami pada malam-malam sebelumnya. Jika pun mendapat hasil yang banyak, penonton datang dua sampai tiga orang silih berganti dari menjelang petang sampai malam.

Ia tahu istrinya seorang penakut. Maka ia menahan diri untuk tidak menunjukkan gerak-gerik bahwa ada sesuatu yang di luar nalar. Apalagi akan memberitahunya secara langsung. Bisa-bisa istrinya akan lari tunggang langgang. Ia tidak ingin menambah masalah. Mana hari semakin larut malam.

Sedangkan istrinya tetap sibuk mengupas kulit jagung. Made Sudarsana pun terus melayani permintaan puluhan orang yang mengerumuninya. Ia sesekali mencuri pandang saat menerima uang. Memastikan bahwa pembelinya berwajah normal layaknya manusia biasa.

Suasana malam terakhir Tajun Cup IV. Penonton memadati Lapangan Giri Mukti / Dok. Penulis

Tidak terasa satu kampil jagung isian sekitar 100 biji telah ludes. Tibalah saatnya pada pembeli terakhir yang masih berdiri tepat di depannya. Pandangannya ke sekitar cukup terhalangi. Karena kecurigaannya semakin membesar, ia mencoba melihat dengan jelas situasi sekitar saat memberikan jagung bakar. Namun, tiba-tiba pembeli terakhir itu meniup matanya sehingga berkedip. Saat mata kembali terbuka, seketika semua sudah sirna. Hanya ada ia dan istrinya. Lampu lapangan pun tiba-tiba mati. Semakin meyakinkan bahwa para pembeli itu bukan orang biasa.

Ia bergegas ke parkiran sembari tetap menjaga rahasia kepada istrinya. Sesampainya di rumah barulah ia ceritakan keadaan yang sebenarnya.

“Luh, apakah kamu tadi tidak merasakan sesuatu yang aneh?”

“Sedikit, Bli. Setelah lampu tiba-tiba mati dan tidak ada siapa pun. Bahkan semua warung telah tutup,” jawabnya dengan perasaan sedikit takut.

“Sebenarnya lampu lapangan telah dimatikan oleh panitia setelah pertandingan sesi kedua selesai. Pedagang pun telah pulang beberapa saat setelah penonton meninggalkan lapangan,” jelasnya.

“Lalu siapa yang menghidupkan lampu-lampu itu lagi, Bli?”

“Ya, mereka!” sembari berusaha menenangkan istrinya.

Seketika Luh Piliasih terkejut. Ia tak menyangka telah melayani para penunggu lapangan Giri Mukti. Tapi ia bersyukur makhluk tak biasa itu berhati mulia. Mengasihi ia dan suaminya. Mereka semakin percaya bahwa ketika setiap hal yang dilakukan diawali dengan doa yang tulus, maka Tuhan akan senantiasa memberikan anugerahnya.

Keesokan harinya ia tetap berdagang tapi sedikit bergeser ke atas, tepatnya di depan pintu masuk TPST Desa Tajun. Rezekinya mengalir sampai turnamen selesai.

Itulah cerita Made Sudarsana menjelang final semiopen Tajun Cup IV, Rabu, (11/10/2023). Ia mengenang kisahnya berjualan saat Tajun Cup III tahun lalu sembari membakar jagung.

Pada gelaran Tajun Cup IV tahun ini ia memilih berjualan di luar area lapangan di pinggir jalan Desa Tajun-Tunjung, tepatnya di depan Pura Dalem Dasar Desa Adat Tajun. Rezekinya mengalir seperti juga pedagang-pedagang lainnya.

Tajun Cup benar-benar menghidupkan roda perekonomian selain memberikan hiburan.

Himappta Akhiri Dahaga Juara

Sementara itu, warga terus berdatangan untuk memadati tribun Giri Mukti. Yang datang tidak hanya penggemar voli dari Kabupaten Buleleng, tetapi juga ada yang rela jauh-jauh datang dari Bangli dan Karangasem. Menjelang pukul 22.30 wita, tribun Giri Mukti telah penuh, walaupun tidak sebanyak final Tajun Cup III yang sampai berdesak-desakan.

Penonton yang paling banyak tentunya penonton atau pendukung dari Himappta, sang tuan rumah. Mulai dari anak-anak sampai lansia, semua tumpah ruah memberikan sorak sorai dan iringan tepuk tangan kepada tim kebanggannya, Himappta.

Selain dikenal maniak voli, kedatangan mereka di lapangan juga ingin sekali menyaksikan Eka Palud, dkk., berhasil menjadi yang terbaik pada final pertamanya di Giri Mukti. Ya, Himappta baru kali ini berhasil menapaki babak final setelah empat kali kejuaraan digelar di Giri Mukti (LPD Cup Tajun 2015, Tajun Cup I 2017, Tajun Cup II 2018, Tajun Cup III 2022).

Himappta Tajun Juara 1 Semiopen dan Juara 3 Lokal Desa Tajun Cup IV / Dok. Dian Pratiwi (Admin Voli Buleleng)

Himappta sudah tancap gas sejak awal set pertama. Trio Proliga, I Made Vandim Sanjaya Putra, Nyoman Julianta, dan Made Adhi Suartama—yang memperkuat Himappta—berkali-kali menghujani pertahanan MVC Baracuda Karangsem dengan open spike dan back attack mematikan.

MVC Baracuda yang diperkuat oleh pemain-pemain muda seperti Surya, Molen, dan Marlon, sesekali memberikan perlawanan. Reli panjang yang mereka ciptakan membuat spot jantung para penonton lumayan deg-deg-ser.

MVC Baracuda (Hijau) Vs Himappta (Putih) / Dok. Dian Pratiwi (Admin Voli Buleleng)

Tetapi Vandim dan Julianta benar-benar menunjukkan kelasnya. Dua pemain ini seperti tidak ada obat. Himappta akhirnya dibawanya menang 3-0. Kemenangan ini mengakhiri dahaga juara Himappta di kandang sendiri.

Sedangkan pada perebutan juara 3/4, The Winner Windrawati Aselole, klub voli dari Desa Temukus, berhasil menjadi terbaik ketiga setelah mengandaskan perlawanan Bimanaka Banjarasem dengan skor 3-0 pula.

Juara Baru

Sementara itu, pada babak final format lokal desa, Selasa, (10/10/2023), tersaji pertandingan yang tidak kalah menegangkan. Bertajuk final Bali Aga. Ya, karena yang berlaga di partai puncak adalah Lazer Sidetapa vs Citroen Pedawa.

Sama-sama memiliki materi pemain yang berimbang menjadikan pertandingan berjalan dalam reli-reli panjang. Poin kedua tim diraih dengan penuh perjuangan, tidak ada yang diraih secara cuma-cuma.

Jual beli serangan hampir terjadi sepanjang pertandingan. Lazer Sidetapa yang bermain sedikit lebih rapi—terutama pada receive bola—akhirnya memenangkan pertandingan dengan skor, 3-1.

Para juara lokal desa Tajun Cup IV / Dok. Dian Pratiwi (Admin Voli Buleleng)

“Benar-benar puas. Ini baru final ideal. Bola sing baanga ngantug tanah (bola tak diberi kesempatan menyentuh tanah),” kata Ketut Wirana, yang akrab disapa Vanron, salah satu penonton setia Tajun Cup IV mengomentari penampilan kedua tim.

Ya, sepanjang pertandingan kedua tim mempertontonkan pertahanan yang ulet. Semua pemain tak rela bola mendarat mulus di area pertahanannya. Semua tak ingin mati sia-sia. Sampai-sampai, saya pun kewalahan memandu jalannya pertandingan saking banyaknya reli yang terjadi.

Sementara itu, pada perebutan juara 3/4, Himappta berhasil menjadi terbaik ketiga setelah berhasil mengalahkan Indrapura Depeha. Eka Palud, dkk., menang cukup mudah atas Indrapura, 3-0.

Para juara semiopen Tajun Cup IV / Dok. Dian Pratiwi (Admin Voli Buleleng)

Dengan kemangan yang diraih oleh Himappta pada turnamen semiopen dan Lazer Sidetapa pada lokal desa, maka Tajun Cup memiliki juara baru. (Selama gelaran kompetisi di Lapangan Giri Mukti belum ada tim yang bisa meraih juara dua kali.)

Pada LPD Cup Tajun 2015 (lokal desa) dimenangkan Jinengmas Jinengdalem; Tajun Cup I 2017 (lokal desa) PAG Gobleg; Tajun Cup II 2018 (semiopen) Bajul Banyualit; dan Tajun Cup III 2022 (semiopen) Planet Sembiran.

Perputaran Roda Perekonomian

Terselenggaranya Tajun Cup IV tidak terlepas dari peran Pemerintah Desa Tajun dan Desa Adat Tajun. Hubungannya yang ibarat suami-istri itu menunjukkan sinergi yang baik.

Tajun Cup IV yang diikuti oleh 16 tim lokal desa dari kabupaten Buleleng, Bangli, dan Gianyar, serta 8 tim semiopen dari Kabupaten Buleleng, Bangli, Gianyar, dan Karangasem, berlangsung dengan aman dan nyaman selama 25 hari.

Perbekel Tajun, I Gede Agustawan, S.H., pada acara penutupan Rabu, (11/10/2023) kemarin, menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh penonton, khususnya masyarakat Desa Tajun yang telah berpartisipasi menyukseskan kejuaraan. Ia pun tidak lupa mengajak kembali generasi muda untuk hidup sehat dengan berolahraga dan menjauhi narkoba.

Perbekel Tajun saat memberikan sambutan menutup Tajun Cup IV / Dok. Panitia

Hal yang sama disampaikan oleh Bendesa Adat Tajun, Made Sumarka, saat menyampaikan sekapur sirih. Dirinya selalu mendukung setiap kegiatan keolahragaan di Desa Tajun.

“Sebab, selain sebagai wadah generasi muda untuk mengembangkan minat dan bakat, turnamen olahraga bola voli juga memberikan kesempatan pelaku usaha, para pedagang, untuk mengais rezeki lebih banyak,” ujarnya.

Seperti yang disampaikan oleh Ketut Latrayasa, Ketua Panitia Tajun Cup IV, dalam laporannya bahwa estimasi uang yang masuk di Desa Tajun mencapai Rp 500 juta. Ini dari penjualan tiket dan uang yang berputar di dagang-dagang.

Dwi Nugraha Sempurnakan Malam

Malam terakhir di Giri Mukti semakin lengkap berkat penampilan Made Dwi Nugraha, putra asli Desa Tajun pasangan Jero Gede Dana dan Jero Ketut Supadi. Ia adalah peserta BRTV tahun 2023 yang saat ini sedang berjuang menuju babak 16 besar.

Pada awalnya ia hanya menyanyikan dua buah lagu. Tapi suara emasnya berhasil membius penonton sehingga ia diminta untuk menyanyikan satu buah lagu lagi. Dwi Nugraha kemudian menyanyikan lagu Bagus Wirata yang sedang hits:”Batur Kitamani”.

Suara emas Made Dwi Nugraha sempurnakan malam di Giri Mukti / Dok. Penulis

Mengakhiri penampilannya, ia yang saat ini masih menjalani kuliah S-1 Ilmu Pendidikan, Psikologi dan Bimbingan, Undiksha, tidak lupa memohon dukungan kepada seluruh penonton, khususnya masyarakat Desa Tajun, dengan cara like, share, dan komen video dirinya di YouTube program Bali TV.

Tampilnya Dwi Nugraha setidaknya mengobati masyarakat Desa Tajun yang sejak tahun lalu ingin sekali penutupan Tajun Cup dimeriahkan dengan hiburan atau konser musik. Harapan itu sepertinya tetap tersimpan dan bisa direalisasikan setidaknya tahun depan. Sebab, kata Ketua Panitia, Tajun Cup V direncanakan akan digelar lagi tahun 2024.

Sampai jumpa di lain kesempatan.[T]

Baca juga artikel terkait VOLI atau tulisan menarik lainnya KOMANG SUJANA

Reporter: Komang Sujana
Penulis: Komang Sujana
Editor: Jaswanto

Ada Tajun Cup IV, Suasana Malam di Desa Tajun Jadi Tak Biasa
Turnamen Bola Voli Desa Tamblang: Konsernya Bagus Wirata, Juaranya Himappta Tajun
Pesona Pemain Timnas di Turnamen Bola Voli Tajun Cup III dan Dampaknya Bagi Buleleng
Bukan Hanya Cengkeh dan Tuak, Desa Tajun Punya Atlet Voli, Karate Hingga Motocross
Tags: Desa Tajunolahragavoli
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

ISPA di Masa Pancaroba, Ini Dia Imun Boosternya

Next Post

Gampang Cuan (2023): Potret Tulang Punggung Keluarga

Komang Sujana

Komang Sujana

Guru SMP Negeri 2 Sawan. Suka menulis puisi Bali. Biasa jadi komentar dalam turnamen bola voli

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Gampang Cuan (2023): Potret Tulang Punggung Keluarga

Gampang Cuan (2023): Potret Tulang Punggung Keluarga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co