2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Made Sanggra Adalah Federico Garcia Lorca dari Bali

I Made Sujaya by I Made Sujaya
July 23, 2023
in Khas
Made Sanggra Adalah Federico Garcia Lorca dari Bali

“Tribute to Made Sanggra: Katemu Made Sanggra ring Bali Jani”, digelar di Ksirarnawa, Denpasar, Sabtu sore, 22 Juli 2023.

SASTRA BALI MODERN saat ini berkembang baik di Bali. Banyak penulis-penulis muda Bali sudah tak malu-malu lagi menulis karya sastra modern dengan berbahasa Bali. Banyak buku puisi dan cerita berbahasa Bali terbit, meski terbit dengan jumlah terbatas.

Kondisi baik itu tentu saja melegakan. Jika Made Sanggra masih ada, ia barangkali akan sangat senang melihat perkembangan Sastra Bali Modern saat ini. Made Sanggra adalah orang, di masa hidupnya, yang selalu memberi semangat kepada para penulis muda untuk terus menulis, dalam bahasa Indonesia, apalagi dalam bahasa Bali.

Untuk itu, bukan hal berlebihan jika dalam Festival Seni Bali Jani V tahun 2023, nama Made Sanggra dibicarakan lagi dengan pergelaran yang dikemas dalam berbagai bentuk seperti musikalisasi puisi, pergelaran drama, video documenter dan video testimony.

Di sela pergelaran itu juga diselipi gelar wicara (talkshow) bersama sejumlah tokoh, seperti Jean Couteau, Putu Suasta, Ari Dwijayanti serta putra kedua Made Sanggra yang juga sastrawan Bali modern, I Made Suarsa. Ditampilkan juga bintang tamu penyair Wayan Jengki Sunarta dan pangawi sastra Bali modern, Carma Citrawati yang membacakan sajak-sajak Made Sanggra.

Pergelaran itu bertajuk “Tribute to Made Sanggra: Katemu Made Sanggra ring Bali Jani”, digelar di Ksirarnawa, Denpasar, Sabtu sore, 22 Juli 2023.

Pergelaran Tribute to Made Sanggra merupakan wujud apresiasi atas pencapaian dan pengabdian Made Sanggra pada dunia seni sastra Bali. Persembahan Yayasan Wahana Dharma sastra Made Sanggra Sukawati digarap Putu Suarthama, seorang jurnalis dan penulis yang juga putra Made Sanggra dan Gde Aryantha Soethama, sastrawan yang juga berasal dari banjar yang sama dengan Made Sanggra di Banjar Gelulung, Desa Sukawati Gianyar.

Siapa Made Sanggra?

Made Sanggra merupakan sastrawan kelahiran 1 Mei 1926 di Banjar Geliulung, Desa Sukawati, Gianyar dan meninggal 20 Juni 2007 karena sakit tua. Sebagai veteran pejuang, Made Sanggra dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Gianyar.

Made Sanggra memulai proses kreatifnya sejak duduk di kelas tertinggi Vervlog School di Sukawati tahun 1938. Karya pertamanya terkumpul dalam buku “Hikayat Prabu Mayadenawa” berupa geguritan Sinom.

“Tribute to Made Sanggra: Katemu Made Sanggra ring Bali Jani” | Foto: Tim Kreatif FSBJ 2023

Dia menulis dalam bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Dia beberapa kali meraih juara dalam lomba menulis. Cerpen “Katemu ring Tampaksiring” menyabet juara I Sayembara Listibya Bali, 1972.  

Made Sanggra meraih hadiah sastra Rancage perdana untuk sastra Bali tahun 1998 melalui buku “Kidung Republik”. Penghargaan lainnya, Satya Lencana Perang Kemerdekaan (1, II), Bintang Gerilya dan Bintang Legiun Veteran RI.

Selain itu ia jua menerima Penghargaan Seni Wija Kusuma dari Pemerintah Kabupaten Gianyar (1986) dan Piagam Penghargaan Seni dan Medali Emas Dharma Kusuma dari Guberur Bali 1987.

Transformasi Kevudayaan Bali

Selain sebagai penulis yang tekun, Made Sanggra juga turut berperan dalam transformasi kebudayaan Bali melalui jalur sastra. Dia menjadi semacam jembatan antara Bali lama yang mencurahkan perhatian pada tradisi dan Bali sekarang yang lebih modern dan mengindonesia.

Tak hanya itu, Made Sanggra juga sebagai jembatan dengan dunia luar. Itu tercermin dalam karyanya cerpen “Katemu ring Tampaksiring” yang berkisah tentang hubungan antara orang Bali dan Belanda.

“Cerita itu menyangkut peristiwa pascaperjuangan, sedangkan dia sendiri terlibat dalam perjuangan. Artinya, dia bisa melampaui segala ketegangan bahkan mungkin segala kebencian yang terkait dengan perjuangan untuk menjadi universal di dalam sikapnya. Saya rasa ini yang bisa dicatat sebagai sumbangan beliau,” kata budayawan Jean Couteau tentang Made Sanggra dalam acara pergelaran tribute di Gedung Ksirarnawa itu.  

Penyair dan pemerhati seni, Hartanto, mengutip kata sastrawan Umbu Landu Paranggi yang menyebut Made Sanggra sebagai Federico Garcia Lorca dari Bali. Lorca merupakan penyair dan dramawan Spanyol yang karya-karyanya menggabungkan unsur tradisionalitas dan tema kontroversial.

“Karya-karya Pak Sanggra visioner. Dalam puisi-puisi beliau tentang Denpasar, misalnya. Beliau mengatakan sawah akan jadi rumah, rumah akan jadi sawah. Itu merupakan kritik terhadap developmentalist,” kata Hartanto.

Aktivis dan pengamat sosial, Putu Suasta mengaku tak begitu kenal Made Sanggra, tapi membaca karya-karyanya. Dari karya-karyanya itu Putu Suasta menyimpulkan Made Sanggra mampu bermetamorfosis karena hidup dalam tiga zaman yang berbeda, yakni zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang, dan zaman kemerdekaan.

“Tak hanya bermetamorfosis, dia juga bertransformasi, melompat beradaptasi dengan semangat zaman. Dia punya visi dan karakternya membentuk energi luar biasa,” tandas Putu Suasta.

Akademisi serta sastrawan Bali modern, Ni Made Ary Dwijayanti mengaku tak pernah bertemu Made Sanggra tapi dia merasa berutang sastra terhadap Made Sanggra. Karya-karya Made Sanggra menerbitkan keinginannya untuk menulis sastra Bali. “Karya-karya Pak Made Sanggra ibarat mantra dalam hidup saya. Dalam puisinya tentang hidupe nemu sengsara. Tapi, Pak Made Sanggra juga meyakinkan saya, di jalan sastra, saya tidak akan mati kelaparan,” kata Ary.

Putra Made Sanggra, I Made Suarsa yang kini melanjutkan sang ayah menjadi pangawi sastra Bali modern mengaku selalu ingat dengan wasiat dan nasihat ayahnya agar ikut membantu kelangsungan sastra Bali modern.

“Ayah tahu basic saya sastra Indonesia. Ayah berkata, ‘Sa, tulungin jep sastra Bali anyar, pang ada ajak liu. Sastra Indonesia kan suba ajak liu. Itu yang membuat saya terjun ke sastra Bali, walaupun saya sering dikatakan salah pilih jurusan karena memilih sastra Indonesia tapi berkarya di sastra Bali. Tapi, justru saya mendapat banyak penghargaan karena menulis sastra Bali,” tutur Suarsa.

“Tribute to Made Sanggra: Katemu Made Sanggra ring Bali Jani” | Foto: Tim Kreatif FSBJ 2023

Suarsa juga mengapresiasi karya-karya ayahnya diapresiasi, bahkan menjadi makin berkembang. “Katemu ring Tampaksiring” yang merupakan cerita pendek dikembangkan menjadi cerita panjang dalam bentuk drama gong, arja, dan belakangan geguritan. Alih wahana ini menjadi karya-karya Made Sanggra melintas batas dan diterima berbagai kalangan.

Memang, cerpen “Katemu ring Tampaksiring” karya Made Sanggra pernah dialihwahanakan menjadi arja oleh Prof. Wayan Dibia. Belakangan, cerpen itu dijadikan lakon drama gong dalam lomba drama gong remaja Pesta Kesenian Bali (PKB).

Menurut Dibia, awalnya dia tak tertarik dengan cerpen “Katemu ring Tampaksiring” karena hanya cerpen. Namun, setelah membacanya, dia menyadari karya itu penting karena merepresentasikan relasi Bali dalam konteks globalisasi. Lalu muncul idenya untuk menjadikannya sebagai lakon arja.

“Saya lalu menemui Pak Made Sanggra, minta izin untuk menjadikan cerpennya sebagai lakon arja. Ketika saya minta izin memasukkan tokoh antagonis, beliau tak memasalahkan,” tutur Dibya. [T]

Tribute to Maestro I Gusti Putu Gede Wedhasmara — Lagu-lagunya Melegenda Secara Nasional, Tapi Namanya Kurang Dikenal
Berguru Kepada Sang Guru, Gerson Poyk
Tags: Festival Seni Bali JaniMade Sanggrasastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebebasan Ruang Menonton dalam Kolaborasi Muspus dan Fotografi Percakapan Selat Kelompok Sekali Pentas

Next Post

Menghidupkan Kembali Atraksi Sapi Gerumbungan dalam Lovina Festival 2023

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Menghidupkan Kembali Atraksi Sapi Gerumbungan dalam Lovina Festival 2023

Menghidupkan Kembali Atraksi Sapi Gerumbungan dalam Lovina Festival 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co