23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Made Sanggra Adalah Federico Garcia Lorca dari Bali

I Made Sujaya by I Made Sujaya
July 23, 2023
in Khas
Made Sanggra Adalah Federico Garcia Lorca dari Bali

“Tribute to Made Sanggra: Katemu Made Sanggra ring Bali Jani”, digelar di Ksirarnawa, Denpasar, Sabtu sore, 22 Juli 2023.

SASTRA BALI MODERN saat ini berkembang baik di Bali. Banyak penulis-penulis muda Bali sudah tak malu-malu lagi menulis karya sastra modern dengan berbahasa Bali. Banyak buku puisi dan cerita berbahasa Bali terbit, meski terbit dengan jumlah terbatas.

Kondisi baik itu tentu saja melegakan. Jika Made Sanggra masih ada, ia barangkali akan sangat senang melihat perkembangan Sastra Bali Modern saat ini. Made Sanggra adalah orang, di masa hidupnya, yang selalu memberi semangat kepada para penulis muda untuk terus menulis, dalam bahasa Indonesia, apalagi dalam bahasa Bali.

Untuk itu, bukan hal berlebihan jika dalam Festival Seni Bali Jani V tahun 2023, nama Made Sanggra dibicarakan lagi dengan pergelaran yang dikemas dalam berbagai bentuk seperti musikalisasi puisi, pergelaran drama, video documenter dan video testimony.

Di sela pergelaran itu juga diselipi gelar wicara (talkshow) bersama sejumlah tokoh, seperti Jean Couteau, Putu Suasta, Ari Dwijayanti serta putra kedua Made Sanggra yang juga sastrawan Bali modern, I Made Suarsa. Ditampilkan juga bintang tamu penyair Wayan Jengki Sunarta dan pangawi sastra Bali modern, Carma Citrawati yang membacakan sajak-sajak Made Sanggra.

Pergelaran itu bertajuk “Tribute to Made Sanggra: Katemu Made Sanggra ring Bali Jani”, digelar di Ksirarnawa, Denpasar, Sabtu sore, 22 Juli 2023.

Pergelaran Tribute to Made Sanggra merupakan wujud apresiasi atas pencapaian dan pengabdian Made Sanggra pada dunia seni sastra Bali. Persembahan Yayasan Wahana Dharma sastra Made Sanggra Sukawati digarap Putu Suarthama, seorang jurnalis dan penulis yang juga putra Made Sanggra dan Gde Aryantha Soethama, sastrawan yang juga berasal dari banjar yang sama dengan Made Sanggra di Banjar Gelulung, Desa Sukawati Gianyar.

Siapa Made Sanggra?

Made Sanggra merupakan sastrawan kelahiran 1 Mei 1926 di Banjar Geliulung, Desa Sukawati, Gianyar dan meninggal 20 Juni 2007 karena sakit tua. Sebagai veteran pejuang, Made Sanggra dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Gianyar.

Made Sanggra memulai proses kreatifnya sejak duduk di kelas tertinggi Vervlog School di Sukawati tahun 1938. Karya pertamanya terkumpul dalam buku “Hikayat Prabu Mayadenawa” berupa geguritan Sinom.

“Tribute to Made Sanggra: Katemu Made Sanggra ring Bali Jani” | Foto: Tim Kreatif FSBJ 2023

Dia menulis dalam bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Dia beberapa kali meraih juara dalam lomba menulis. Cerpen “Katemu ring Tampaksiring” menyabet juara I Sayembara Listibya Bali, 1972.  

Made Sanggra meraih hadiah sastra Rancage perdana untuk sastra Bali tahun 1998 melalui buku “Kidung Republik”. Penghargaan lainnya, Satya Lencana Perang Kemerdekaan (1, II), Bintang Gerilya dan Bintang Legiun Veteran RI.

Selain itu ia jua menerima Penghargaan Seni Wija Kusuma dari Pemerintah Kabupaten Gianyar (1986) dan Piagam Penghargaan Seni dan Medali Emas Dharma Kusuma dari Guberur Bali 1987.

Transformasi Kevudayaan Bali

Selain sebagai penulis yang tekun, Made Sanggra juga turut berperan dalam transformasi kebudayaan Bali melalui jalur sastra. Dia menjadi semacam jembatan antara Bali lama yang mencurahkan perhatian pada tradisi dan Bali sekarang yang lebih modern dan mengindonesia.

Tak hanya itu, Made Sanggra juga sebagai jembatan dengan dunia luar. Itu tercermin dalam karyanya cerpen “Katemu ring Tampaksiring” yang berkisah tentang hubungan antara orang Bali dan Belanda.

“Cerita itu menyangkut peristiwa pascaperjuangan, sedangkan dia sendiri terlibat dalam perjuangan. Artinya, dia bisa melampaui segala ketegangan bahkan mungkin segala kebencian yang terkait dengan perjuangan untuk menjadi universal di dalam sikapnya. Saya rasa ini yang bisa dicatat sebagai sumbangan beliau,” kata budayawan Jean Couteau tentang Made Sanggra dalam acara pergelaran tribute di Gedung Ksirarnawa itu.  

Penyair dan pemerhati seni, Hartanto, mengutip kata sastrawan Umbu Landu Paranggi yang menyebut Made Sanggra sebagai Federico Garcia Lorca dari Bali. Lorca merupakan penyair dan dramawan Spanyol yang karya-karyanya menggabungkan unsur tradisionalitas dan tema kontroversial.

“Karya-karya Pak Sanggra visioner. Dalam puisi-puisi beliau tentang Denpasar, misalnya. Beliau mengatakan sawah akan jadi rumah, rumah akan jadi sawah. Itu merupakan kritik terhadap developmentalist,” kata Hartanto.

Aktivis dan pengamat sosial, Putu Suasta mengaku tak begitu kenal Made Sanggra, tapi membaca karya-karyanya. Dari karya-karyanya itu Putu Suasta menyimpulkan Made Sanggra mampu bermetamorfosis karena hidup dalam tiga zaman yang berbeda, yakni zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang, dan zaman kemerdekaan.

“Tak hanya bermetamorfosis, dia juga bertransformasi, melompat beradaptasi dengan semangat zaman. Dia punya visi dan karakternya membentuk energi luar biasa,” tandas Putu Suasta.

Akademisi serta sastrawan Bali modern, Ni Made Ary Dwijayanti mengaku tak pernah bertemu Made Sanggra tapi dia merasa berutang sastra terhadap Made Sanggra. Karya-karya Made Sanggra menerbitkan keinginannya untuk menulis sastra Bali. “Karya-karya Pak Made Sanggra ibarat mantra dalam hidup saya. Dalam puisinya tentang hidupe nemu sengsara. Tapi, Pak Made Sanggra juga meyakinkan saya, di jalan sastra, saya tidak akan mati kelaparan,” kata Ary.

Putra Made Sanggra, I Made Suarsa yang kini melanjutkan sang ayah menjadi pangawi sastra Bali modern mengaku selalu ingat dengan wasiat dan nasihat ayahnya agar ikut membantu kelangsungan sastra Bali modern.

“Ayah tahu basic saya sastra Indonesia. Ayah berkata, ‘Sa, tulungin jep sastra Bali anyar, pang ada ajak liu. Sastra Indonesia kan suba ajak liu. Itu yang membuat saya terjun ke sastra Bali, walaupun saya sering dikatakan salah pilih jurusan karena memilih sastra Indonesia tapi berkarya di sastra Bali. Tapi, justru saya mendapat banyak penghargaan karena menulis sastra Bali,” tutur Suarsa.

“Tribute to Made Sanggra: Katemu Made Sanggra ring Bali Jani” | Foto: Tim Kreatif FSBJ 2023

Suarsa juga mengapresiasi karya-karya ayahnya diapresiasi, bahkan menjadi makin berkembang. “Katemu ring Tampaksiring” yang merupakan cerita pendek dikembangkan menjadi cerita panjang dalam bentuk drama gong, arja, dan belakangan geguritan. Alih wahana ini menjadi karya-karya Made Sanggra melintas batas dan diterima berbagai kalangan.

Memang, cerpen “Katemu ring Tampaksiring” karya Made Sanggra pernah dialihwahanakan menjadi arja oleh Prof. Wayan Dibia. Belakangan, cerpen itu dijadikan lakon drama gong dalam lomba drama gong remaja Pesta Kesenian Bali (PKB).

Menurut Dibia, awalnya dia tak tertarik dengan cerpen “Katemu ring Tampaksiring” karena hanya cerpen. Namun, setelah membacanya, dia menyadari karya itu penting karena merepresentasikan relasi Bali dalam konteks globalisasi. Lalu muncul idenya untuk menjadikannya sebagai lakon arja.

“Saya lalu menemui Pak Made Sanggra, minta izin untuk menjadikan cerpennya sebagai lakon arja. Ketika saya minta izin memasukkan tokoh antagonis, beliau tak memasalahkan,” tutur Dibya. [T]

Tribute to Maestro I Gusti Putu Gede Wedhasmara — Lagu-lagunya Melegenda Secara Nasional, Tapi Namanya Kurang Dikenal
Berguru Kepada Sang Guru, Gerson Poyk
Tags: Festival Seni Bali JaniMade Sanggrasastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebebasan Ruang Menonton dalam Kolaborasi Muspus dan Fotografi Percakapan Selat Kelompok Sekali Pentas

Next Post

Menghidupkan Kembali Atraksi Sapi Gerumbungan dalam Lovina Festival 2023

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Menghidupkan Kembali Atraksi Sapi Gerumbungan dalam Lovina Festival 2023

Menghidupkan Kembali Atraksi Sapi Gerumbungan dalam Lovina Festival 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co