27 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sandya Gita Mahayuning Sagara dari Buleleng:  Peristiwa Penting dan 5 Strategi Sukses Dalam Seni

I Putu Ardiyasa by I Putu Ardiyasa
June 25, 2023
in Ulas Pentas
Sandya Gita Mahayuning Sagara dari Buleleng:  Peristiwa Penting dan 5 Strategi Sukses Dalam Seni

Sandya Gita Mahayuning Sagara dari Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2023

PESTA KESENIAN BALI (PKB) XLV tahun 2023, tepatnya pada hari ke-4,  tepatnya lagi 22 Juni 2023, menjadi hari spesial bagi saya. Itu adalah kesempatan pertama saya datang ke PKB tidak lagi sebagai penyaji tetapi saya datang sebagai penggarap sebuah karya.

Saya membuat karya sandya gita bersama I Ketut Pany Ryandhi sebagai penata karawitan dan Ni Putu Diah Kusuma Dewi sebagai penata gerak. Sandya gita, sebuah karya musik vokal group dengan iringan gong kebyar. Dalam hal ini sandya gita yang saya garap bicara tentang nelayan yang menjaga dan merawat pesisir laut penyangga sumber kehidupan.

Karya itu diberi judul Sandya Gita Mahayuning Sagara. Garapan ini dibawakan oleh Sanggar seni Gita Mahosadhi Desa Umajero, Kecamatan Busungniu Duta Gong Kebyar Wanita Kabupaten Buleleng di Panggung Ardha Candra Art Center, Taman Budaya Bali di Denpasar.

Pertunjukkannya berlangsung lancar. Dan saya pulang. Di perjalanan saya mengingat kembali peristiwa penting yang saya lalui sambil mendengarkan ulang Rekaman Sandya Gita Mahyuning Segara.

***

Pentingnya Riset

Karya Mahyuning Segara ini terinspirasi dari karya Tari Nelayan yang dibuat oleh I Ketut Merdana pada tahun 1960 yang secara latar ide sama-sama berangkat dari aktivitas pesisir.

Selain itu karya ini juga diilhami   kehidupan pesisir Bali Utara pada zaman Bali Kuno. Pesisir pantai  Bali Utara membentang panjang dari ujung timur ke barat memiliki peradaban kehidupan masyarakat Bali kuno yang telah banyak diteliti oleh para peneliti, arkeolog, terutama pada bidang perniagaan.

Adanya peradaban ini dibuktikan dengan penelitian jejak pelabuhan purba di Bali Utara seperti di Julah, Sembiran yang tersirat di prasasti Sukawana, Kutabanding di Kubutambahan, Pabean Menasa Sangsit, dan Pabean Pulaki.

Penggunaan kata pabean atau tempat pemungutan pajak menjadi indikasi kuat bahwa pesisir Bali Utara sudah dipergunakan sebagai tempat perniagaan Bali kuno bahkan skala internasional sejak 300 tahun sebelum masehi. 

Dapat diyakini bahwa aktivitas kehidupan pesisir berperan sebagai sumber ide penciptaan kesenian. Termasuk garapan Sandya Gita ini, berpijak pada peradaban di Pesisir Bali utara yang berfokus pada bendega atau nelayan sebagai spirit peradaban Sagara baniaga dalam konteks skala sebagai penjaga pesisir, serta ritual niskala yang diungkapkan melalui ritual melasti, ritual sanggah bucu dan ritual lainnya.

Ritus ini divisualkan ke dalam konsep garap tetembangan, lirik-lirik, gaya musikal khas kakebyaran, serta dipadukan dengan komposisi tari yang harmonis.

Peramuan ide sehingga menjadi wujud visual karya sandya Gita ini tentu melibatkan proses riset kecil yang saya lakukan dengan berdiskusi dengan beberapa nelayan di pantai desa Les dan banyuning, berdiskusi dengan para budayawan Buleleng, termasuk membaca beberapa penelitian tentang peradaban segara baniaga.

Keterlibatan (engagement),  Keterhubungan (relationship)  Dalam Seni

Ketika memasuki Ardha Candra, rasanya seperti genderang perang Brata Yudha bersuara, setelah sangkakala para kesatria Pandawa dan Korawa dibunyikan. Begitu menegangkan. Tetapi suasana langsung berubah bahagia penuh keyakinan ketika melihat para penembang dan penabuh sudah siap menyambut gelaran itu.

Tentu saya meyakinkan mereka dengan mengumpulkan mereka (para penembang) di panggung, membuat lingkaran kecil dan saling memegang tangan, dengan tujuan untuk mendapatkan energi yang sama dan saling menguatkan.

Bagi Maria Tri Sulistyani dalam bukunya Selepas napas (2022) pola melingkar itu sangat penting sebelum dan setelah pentas. Ini yang saya sebut sebagai “pelibatan” (enggagement) energi panggung.

Moment penting lainnya yang saya catat pada malam itu adalah keterlibatan orang-orang terdekat yang semakin meneguhkan keyakinan saya tentang fungsi seni tidak hanya sebagai ritual atau media komunikasi, tetapi seni mampu menghubungkan relationship kedekatan emosional setiap orang yang terlibat.

Kondiis manusiawi bahwa seseorang akan bangga melihat orang terdekatnya mencapai titik prestasi, atauapun seseorang akan merasa bangga apabila dalam pencapaian itu ada orang-orang terdekat yang hadir memberi dukungan.

Pada moment pentas PKB khususnya setelah pentas sandya gita, saya melihat mereka (penembang) dicari oleh banyak orang, saya yakin itu adalah orang-orang terdekatnya untuk mengabadikan moment melalui layar kamera handphonenya. Keterlibatan dan keterhubungan jika terus terbangun, pasti akan tumbuh wellness dan awereness di sekitar kita.

Siklus Kehidupan (The Cylce)  Seni

Siklus hidup seni ini dimulai dari pemahaman  tentang beberapa hal:

1) Aset seni. Dalam riset tesis saya tahun 2017 tentang relasi, saya menemukan bahwa aset seni yang paling berharga selain material adalah intangible aset (imaterial) berupa ide, gagasan, konsep dan nilai-nilai.

2) Proses Latihan. Kualitas seni terbaik yang lahir dari proses latihan yang sungguh-sungguh dan dari hati.

3) Komitmen menghadirkan peristiwa (event) seni didasarkan atas komitmen waktu, skill seniman, jaringan dan sumber daya organsasi agar bisa menghadirkan energi, antusiasme audiens (masyrakat). Di balik itu, ada anggota dan sukarelawan dalam hal ini masyrakat desa yang secara konsisten membantu menghadirkan seni.

4) Audiens (stakeholder) melalui komitmen itu maka audiens akan merasa terpenuhi kebutuhan menontonya, setelah itu akan menceritakannya kepada orang lain untuk menonton kembali.

5) Kesehatan Finansial. Sebuah prinsip-prinsip keungan tentang tansparansi, jujur dan bertanggung jawab. Penting bagi seluruh pengelola organsiasi untuk menerapkan prinsip terebut sehingga dapat mencapai kesehatan finansial sebuah organisasi. Siklus hidup seni semacam inilah yang  yakini oleh Michael M. Kaiser dan Brett Egan sebagai strategi sukses dalam berkesenian.

Latihan dan pendidikan Memanusiakan Manusia

Sama-sama ciptaan Tuhan seperti halnya binatang, manusia hadir di dunia dibekali dengan tubuh, di dalam tubuhnya sama-sama  ada otak tetapi ukurannya sangat berbeda. Sebagai imbangannya Tuhan memberi binatang Insting. Begitu lahir tidak perlu waktu lama untuk beradaptasi.

Tidak demikian dengan manusia, yang lahir dengan tubuh lemah dan perlu waktu lama untuk beradaptasi. Kompensasinya, dengan mengasah otak manusia dapat menghitung, membaca atau belajar mengenai tanda-tanda dan mencipta. dengan demikian, tanpa latihan dan pendidikan, manusia akan berperilaku tak ubahnya binatang. 

Dalam konteks ini, saya  ingin mengajak membaca ulang makna dibalik proses seni yang panjang yang mengingatkan bahwa penting bagi manusia untuk latihan dan merawat pikiran (akal sehat) itu.

Proses latihan yang dilakukan setiap hari adalah proses pendidikan, tentang bagaiamana menjaga rasa, mengontrol emosi, tentang menjalin kerjasama (menyamakan frekuensi), tentang menghargai waktu, tentang profesionalitas kerja. Tentang menyajikan karya dengan tulus dari lubuk hati yang paling dalam. Apabila ini menjadi rutinitas, menurut saya seni akan berperan untuk memanusiakan manusia.

***

Bapakkkk…. Terdengar suara Dala  (anak saya) memanggil

Ehhh ternyata saya sudah d igarase rumah, terlihat Dala bersama ibunya menunggu saya di depan pintu sedang memanggil saya.  Tanpa ragu saya akan menceritakan moment tadi kepada mereka berdua juga.

Akhirnya kami masuk ke kamar. Seperti wayang masuk ke dalam kerupak. Tancep Kayonan [T]

  • BACA artikel-artikel lain tentang PESTA KESENIAN BALI
Mengenang Kembali Fragmentari “Krtaning Panarajon”: Berani Berbeda Demi Makna Tanpa Meninggalkan Jati Diri
Seniman-seniman Cilik Pilih Tanding dalam Lomba Gender Wayang
Tabuh Rekonstruksi Karya I Wayan Lotring dalam Parade Palegongan Klasik Duta Badung dan Gianyar
Peed Aya Selalu Heboh dan Mereka pun Berimpit-impitan | Catatan Pawai Pembukaan PKB 2023
“Betawi Dalam Bhinneka Tunggal Ika” di Pesta Kesenian Bali
Kisah dari Novel “Sukreni Gadis Bali” dalam Drama Gong Duta Gianyar
Tags: bulelenggong kebyarkesenian baliPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2023seni sandya gita
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Malam AJW 2023: Pewarta Warga Merespon Masa Depan Bali

Next Post

Lima Hal yang Patut Dihindari Sebelum Memasuki Umur 30-an

I Putu Ardiyasa

I Putu Ardiyasa

Dalang, Dosen STAHN Mpu Kuturan

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Lima Hal yang Patut Dihindari Sebelum Memasuki Umur 30-an

Lima Hal yang Patut Dihindari Sebelum Memasuki Umur 30-an

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Orang Bali Tetaplah Orang Bali
Esai

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

by Angga Wijaya
May 26, 2026
Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur
Bahasa

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa...

by I Made Sudiana
May 26, 2026
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
Buzzer Rakyat
Esai

Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

by Hartanto
May 25, 2026
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah
Tualang

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

by Chusmeru
May 25, 2026
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh
Panggung

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

by Made Chandra
May 25, 2026
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
Perokok Bertanggung Jawab
Esai

Perokok Bertanggung Jawab

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di...

by Angga Wijaya
May 25, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen
Khas

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111
Ulas Musik

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co