2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang Kembali Fragmentari “Krtaning Panarajon”: Berani Berbeda Demi Makna Tanpa Meninggalkan Jati Diri

I Putu Ardiyasa by I Putu Ardiyasa
June 21, 2023
in Ulas Pentas
Mengenang Kembali Fragmentari “Krtaning Panarajon”: Berani Berbeda Demi Makna Tanpa Meninggalkan Jati Diri

Salah satu adegan dalam fragmentari Krtaning Panarajon | Foto: Dok. Ardiyasa

TEPAT SATU BULAN karya Krtaning Panerajon sudah berlalu. Memorinya masih jelas teringat sampai saat ini.

Krtaning Panerajon adalah Fragmentari Kolosal Duta Kecamatan Kintamani untuk memeriahkan pawai HUT ke-819 Kota Bangli, pada 21 Mei 2023 di depan Alun-alun Kota Bangli.

Sebulan sudah berlalu. Saya ingat. Penari meliukkan tubuhnya, penabuh memainkan gamelannya, tim properti atau bahkan ibu-ibu penyedia kopi dan nasi yang sibuk sambil menonton. Tak luput dari perhatian bagaimana para pejabat berdiri menghidupkan layar kamera saat adegan tajen dimulai.

Kenangan yang tidak luput dari ingatan, ya proses latihannya. Latihan di tempat dingin, tentu menantang, tapi menjadi hangat karena bisa menikmati bakso hangat di sela-sela latihan di tengah suhu dingin dan kabut tebal  Kintamani. Saya menikmatinya bersama Pak Camat sembari bercerita. Begini ceritanya;

Berkarya Berani Berbeda

Kintamani selalu dikenal dengan tokoh Jaya Pangus, bahkan kisahnya sudah menghiasi panggung-panggung besar yang mendunia. seakan kisah ini menjadi ikon Kintamani, dan Kabupaten Bangli secara umum.

Apakah tidak ada peradaban yang lain? Jelas ada.

Kisah Kumpi Mrdaya yang membangun Pasanggrahan di Bukit Cintamani yang dibantu oleh 3 orang biksu bernama Siwa Kang Sita, Siwa Nirmala dan Siwa Pradnya.  Sumber ceritanya adalah Prasasti Sukawana A1, sebuah prasasti yang terkenal di kalangan peneliti Balai Arkeologi ataupun para peneliti kajian Bali.

Saya melihat bahwa jauh sebelum Jaya Pangus Berjaya, sudah ada sosok Kumpi Mrdaya yang membuat peradaban bersama biksu yang diyakini itu orang Cina.

Sambil menyeruput kuah bakso, dengan lugas saya mengatakan bahwa kisah Kumpi Mrdaya dalam garapan ini memang berbeda, menjadi antitesi tentang Jaya Pangus, tetapi melalui karya ini semakin meneguhkan jati diri Kintamani dengan peradaban tinggi terutama pada bidang pertanian dan perniagaan. Melalui kisah inipun kita dapat mengetahui peran Ratu Daha Tua.

Menurut Jro Mangku Sabaraka dalam wawancara saya di kediamannya (Sukawana), Ratu Daha Tua dipuja (sekarang) di Pura Pucak Penulisan sebagai simbolisasi sakti pemberi kesuburan.

Jro Mangku Sabaraka juga megatakan bahwa Bukit Panarajon ini dikelilingi oleh sumber air yang tersebar di desa-desa di bawahnya, di barat ada Pahbina di Desa Catur, utara ada sumber air Kutuh dan Julah, di timur ada ada sumber air besar di Desa Les, di selatan ada di Desa Kuum. (14 April 2023).

Akhirnya peradaban besar itu dvisualisasikan kedalam garapan besar yang digarap oleh 11 orang seniman asli Kintamani.

Bahkan penari, penabuh, tata proerti dan kostumnya adalah sumber daya Kintamani. Ini adalah langkah yang tentu berbeda dari pola sebelumnya, namun perbedaan pola ini saya yakin menghasilkan karya yang tidak sekedar berbeda.

Hal ini dibuktikan dengan kemasan visual karya yang eskloratif, dan kreatif dengan memanfaatkan kekuatan garap parade yang bertumpu pada kedinamisan sebuah karya, kekuatan musikalitas dengan karakter maskulinitas sebagai identitas kesenian Kintamani yang khas.

Mengulik Lebih Dalam Demi Makna

Sejenak saya berhenti menyeruput kuah bakso, karena penting untuk disampaikan  bahwa:

Pertama, Kintamani memiliki sumber daya kesenian yang unggul.  Jika keunggulan itu diberdayagunakan dengan tepat, maka akan menghasilkan karya yang berkualitas. Bukti nyatanya tentu karya Krtaning Panerajon ini sebagai tanda bahwa Kintamani memiliki ekosistem berkesenian yang terus tumbuh dan bergerak maju.

Para seniman penggarap Krtating Panerajon sedang berpose | Foto: Dok Ardiyasa

Karya ini digarap dengan upaya menyampaikan pesan peradaban kesenian di Kintamani melahirkan senman-seniman muda yang memberikan sentuhan inovasi (kebaharuan)  bahwa Pegunungan Kintamani khususnya di Sukawana memiliki peradaban sebagai pusat kehidupan dengan sumber-sumber mata airnya dan perniagaan dengan pasar Singa Mandawanya.

Kedua, khazanah peradaban Bali Kuno yang ada di Kintamani itu harus diaktualisasikan ke dalam berbagai media, salah satunya seni pertunjukan. Karena, masyarakat umum, khususnya generasi muda  membutuhkan sentuhan dan pendekatan yang berbeda, membicarakan konteks sejarah dengan peradaban tinggi perlu disederhanakan.

Seperti  garapan Krtaning, melalui proses berkesenian, penari, penabuh dan emua tim yang terlibat akan mengetahui langsung ceirta dalam garapannya, termasuk pemaknaan di dalamnya.

Bagi saya, melalui pertunjuan Krtating Panerajon ini. pasti akan lahir karya-karya lain yang tidak hanya bertumpu pada satu isah yang popular saja, tetapi akan lahir karya-karya dengan latar kisah identitas kedaerahan yang kaya dengan makna.

Tanpa Meninggalkan Jati Diri

Menurut Maria Tri Sulistiani (2016) karya yang berkualitas itu akan hadir apabila dikerjakan dengan tulus dari hati. Sedangkan Sal Murgiyanto (2015) menyebutkan bahwa mencipta itu adalah berani berbeda demi makna, tanpa meningkalkan jati diri.

Saya sepakat dengan kedua pendapat itu, bahwa karya Krtaning Panerajon dengan setulus hari digarap dan dipersembahkan untuk masyarakat Kintamani. Tidak hanya dari sisi ceritanya, jati diri kesenian Kintamani yang maskulin ditonjolkan dalam garapan-garapan tari dan musikalnya.

Konsep rerejangan dan bebarisan adalah identias yang menjadi nafas kepenariannya, sedangkan gong gede adalah nafas musikalnya. Kisahnya dikemas sedemikian rupa dengan pendekatan Kawi Dalang yang berusaha untuk membuat kemasan estetika, namun jika dalam prosesnya terdapat kesamaan penamaan, itu sepenuhnya adalah kawi carita.

Saat latihan tiba, saya selalu ingin melihat perkembangan kesenian identitas yang menjadi embrio itu tumbuh ke dalam kesenian modern yang kami sepakati sebagai fragmentari. Bahkan perjalanan Buleleng-Kintamani yang saya lalui setiap latihan pun tidak pernah menyurutkan semangat.

Jati diri sebagai warga Kintamanipun selalu membakar api semangat untuk menunjukkan kisah-kisah besar peradaban Kintamani, Untuk menunjukan bahwa ekositem kesenian Kintamani layak untuk diperhitungkan.

Terkahir, ada hal penting yang ingin saya sampaikan, namun bakso yang saya santap ternyata sudah habis, tak mantap kalau bercerita di Kintamani itu tanpa sesuatu yang hangat-hangat. Jadi saya lanjutkan ceritanya di lain waktu.

Terimakasih. Wayang kembali masuk ke keropak. Tancep Kayonan. [T]

Pekik Semangat Krtaning Panarajon dari Perbukitan Cintamani Mmal
Bukit Cintamani Mmal: Minoritas Wacana dan Stigmatisasi di Dalamnya
Drama Gong Sancaya Era Baru, Mewangi Kini dan Nanti
Tags: cintamani mmalHUT Kota Banglikesenian baliKintamaniseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah dari Novel “Sukreni Gadis Bali” dalam Drama Gong Duta Gianyar

Next Post

Mulailah Perjalanan Penuh Emosi  | Catatan dari Philadelphia [1]

I Putu Ardiyasa

I Putu Ardiyasa

Dalang, Dosen STAHN Mpu Kuturan

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Mulailah Perjalanan Penuh Emosi  | Catatan dari Philadelphia [1]

Mulailah Perjalanan Penuh Emosi  | Catatan dari Philadelphia [1]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co