21 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dicky Bisinglasi: “Membekukan” Peristiwa Olahraga dengan Kamera

Jaswanto by Jaswanto
May 19, 2023
in Persona
Dicky Bisinglasi: “Membekukan” Peristiwa Olahraga dengan Kamera

Dicky Bisinglasi saat memberikan workshop foto jurnalistik olahraga di Tatkala May May May 2023 | Foto: Dok. Tatkala.co

FOTOGRAFI DAN OLAHRAGA adalah kawan lama. Tidakkah ada yang bertanya mengapa para atlet sepakbola, misalnya, repot-repot berpose sebelum pertandingan? Atau, mengapa fotografer ditempatkan di atas lapangan, yang notabene berada dalam satu tataran dengan pemain dan pelatih?

Barangkali tokoh yang satu ini dapat menjawabnya: Dicky Bisinglasi, seorang Jurnalis Visual dan Fotografer Dokumenter Indonesia yang sekarang tinggal di Bali.

Dicky Bisinglasi, atau akrab dipanggil Dicky, lahir di Malang pada tahun 1987, dan memulai karier profesionalnya pada 2014 sebagai staf jurnalis foto untuk sebuah surat kabar lokal.

Pada 2019, ia memutuskan untuk menjadi pekerja lepas penuh waktu di jurnalisme foto dan video untuk beberapa media internasional.

Dicky Bisinglasi / Foto: Dok. Pribadi

Laki-laki keturunan NTT itu mengaku, sejak kecil ia sudah menyukai seni visual. Dicky suka menggambar-melukis sejak TK sampai SD. “Bahkan SD sudah mulai motret juga. Waktu itu pakai kamera film point and shoot alias tustel, brand Fujifilm, yang tinggal jepret tanpa mikirin exposure. Cuma nggak sering. Lebih dominan lukis dan gambar,” terangnya kepada Tatkala.co, Senin (15/5/2023) sore.

Namun sayang, kegemarannya memotret agak berkurang sejak ia masuk SMP, bahkan berlanjut sampai SMA. “Agak ninggalin seni visual, karena pindah ke seni musik. Tapi sesekali masih menggambar,” ujarnya.

Ia kembali ke “pelukan” fotografi lagi pada 2009, saat kuliah di Ilmu Komunikasi. Ia mengatakan, saat itu, ada mata kuliah dasar-dasar fotografi, dari sana ia mulai serius mengenal fotografi.

Dicky semakin serius mempelajari dan menekuni dunia fotografi ketika masuk klub fotografi kampus. Namanya JUFOC (JUrnalistik FOtografi Club). Di JUFOC, katanya, banyak seniornya yang sudah jadi photojournalist. “Awalnya ikut hype-nya doang sih, belum yang terinspirasi gimana-gimana. Malah pernah cuti kuliah dan nyoba kerja di bidang lain, di Bali, alih-alih jadi fotografer, apalagi photojournalist,” katanya sambil tertawa.

Tetapi, pada tahun 2012, Dicky mulai aktif kembali di JUFOC. Beberapa kali ia mencoba ngejob—walaupun lebih banyak ngejob komersial—dan sesekali membantu majalah otomotif sebuah brand motor sebagai freelancer.

Memulai karier profesional

Dicky bergerita: tahun 2014 ada pelatihan foto story oleh salah seorang senior di JUFOC. Namanya Lukman Bintoro, seorang photojournalist untuk media Australia di Bali waktu itu. Saat itu tugasnya adalah bikin coverage foto story tentang difabel.

“Dari situ saya (benar-benar) mulai mengenal fotografi jurnalistik lebih serius lagi, terutama esensinya: kenapa orang motret jurnalistik, dan untuk apa. Di kemudian hari saya merasa, tanpa pemahaman esensi ini, orang tidak akan paham apalagi terjun ke dunia photojournalist,” ungkapnya, menjelaskan.

Lukman Bintoro, fotografer yang diakui Dicky sebagai mentornya, tak hanya memberikan pengetahuan tentang foto story saja, tapi juga memberinya sebuah scarf (syal) dari Kamboja.

“Namanya Krama, yang dia dapat saat workshop foto Angkor Photo di sana. Saat itu dia bilang, ‘Ini adalah lambang perjuangan rakyat Kamboja’. Setelah itu saya jadi berpikir banyak hal, dari apa artinya, dan kenapa ini dipakai banyak jurnalis foto,” ucapnya, mengenang.

Ia tak paham betul apa makna di balik itu semua, yang jelas, pemikiran-pemikiran esensial tersebut semakin menginspirasinya untuk, suatu saat, terjun ke dunia foto jurnalistik.

Akhirnya, pada September 2014, kesempatan itu datang. Sebuah koran di Malang membutuhkan jurnalis foto. Ya, di koran Malang Post Dicky mengawali karier profesionalnya hingga 2019.

Di sana ia belajar banyak hal, dari ilmu jurnalistik, sampai telnis fotografi—di sana ia dituntut dapat motret apapun dalam kondisi apapun. Tetapi, menurutnya, mental itu yang membentuk karakternya sampai skarang.

Dan, pada tahun 2019, setelah resign dari staff koran, Dicky memutusukan menjadi freelancer dan akhirnya pindah ke Bali, sampai sekarang.

Sebagai jurnalis foto freelance, menurut pengakuannya, ia sering dituntut lebih, apalagi media asing, yang kebutuhannya tentu berbeda dari media lokal setingkat kota. Tetapi, ia belajar banyak, terutama kualitas, orisinalitas ide, dan kteatifitas ”Tidak seperti saat masih bekerja di koran dulu, yang tak terlalu risau soal kualitas,” akunya.

Karena freelance, Dicky bekerja untuk banyak media dan wire service asing, baik foto maupun video. “Di dunia jurnalistik, posisi seperti ini sering disebut visual journalist,” katanya.

Memotret olahraga

Selama di Malang Post, hampir 4 tahun lebih ia habiskan waktu untuk liputan sepakbola, khususnya klub bola Arema FC. “Saya sering motret pertandingan resmi mereka di Malang maupun di luar kota atau pulau,” katanya.

Selain memotret event-event olahraga selain sepakbola yang ada di Malang, ia mengatakan, meliput pertandingan bola juga mengasah skill-nya dalam fotografi olahraga.

“Fotografi Jurnalistik Olahraga merupakan segala bentuk fotografi yang dilakukan berkaitan dengan dunia olahraga, baik yang berupa action maupun yang bersifat dokumenter. Atau bisa juga storytelling,” terang Dicky dilansir dari Tatkala.co, Selasa (16/5/2023).

Dikutip dari Tatkala.co, Dicky mengatakan, fotografi dalam olahraga tidak hanya mengambil momen saat atlet menyundul atau menangkap bola, atau ketika seorang atlet renang melakukan lompatan indah saja, tetapi, ada kalanya beberapa momen sangat perlu untuk diabadikan. Dan tentunya, beberapa momen ini tidak kalah penting dengan foto action yang dilakukan.

“Misalnya, momen ketika pemain melakukan selebrasi atau ekspresi mengalami kekalahan. Tentu, hasil fotonya akan menjadi sebuah kenangan yang sangat berarti bagi para pemain. Terlebih lagi jika momentum itu tidak dapat terulang kembali,” tambahnya.

Dicky Bisinglasi mengabadikan momen kiper yang sedang melakukan ritual dan seorang pemain yang menunjukkan ekspresi kekalahan

Karenanya, foto adalah medium yang tepat untuk menziarahi kenangan, terutama yang terlupakan karena ingatan.

Menurut Dicky, setidaknya ada sepuluh shotlist dalam fotografi olahraga: mulai dari momen puncak action; momen bersejarah; duel kompetisi; selebrasi; ekspresi kekalahan; ekspresi penonton; insiden; ritual pemain; solidaritas; sampai hal-hal menarik lainnya.

Berbeda dengan fotografi lainnya yang lebih mengutamakan estetika, dalam fotografi jurnalistik olahraga, menurut Dicky, lebih cenderung mengutamakan story telling dari gambar yang dihasilkan. Sehingga, orang-orang yang nantinya melihat gambar tersebut dapat mengetahui jalan cerita yang terjadi.

“Fotografi dalam olahraga juga bisa menjadi media dalam membuktikan kecurangan atau menampilkan peristiwa-peristiwa yang mungkin terlewatkan oleh mata kita,” katanya.

Benar. Seperti Piala Dunia 1986, misalnya.Tepatnya kala Diego Maradona mencetak satu gol paling terkenal sepanjang masa, yaitu Gol Tangan Tuhan.

Di kala fans Inggris tak percaya Maradona mencetak gol dengan tangannya, wasit tertipu untuk mengesahkan gol tersebut, dan cuplikan siaran televisi tak pernah mampu mengungkap momen “Tangan Tuhan” secara sahih dan memuaskan, foto datang untuk memberikan bukti tak terbantahkan. Tanpa foto, peristiwa di atas hanya akan menjadi dongeng belaka.

Tahun 2021, saat pandemi Covid-19, kompetisi sepakbola Liga 1 Indonesia harus dalam sistem bubble, yang kebetulan diselenggarakan di Bali. Penyelenggara liga membutuhkan fotografer dan seorang teman merekomendasikan Dicky. “Dan masih berlanjut hingga sekarang. Senang rasanya bisa kembali “merumput” motret sepak bola lagi,” ujarnya.

Menurut Dicky, salah satu yang mempengaruhi hasil dalam fotografi olahraga, adalah shuter speed atau kecepatan rana. Kecepatan rana merujuk kepada durasi waktu pembukaan media perekam dalam kamera yang digunakan untuk pengambilan gambar.

Mode shutter speed digunakan dalam pengambilan gambar dari objek yang bergerak cepat. Dalam dunia olahraga, shutter speed biasanya digunakan seorang fotografer ketika sedang mengambil gambar dari pertandingan sepakbola, lari, lompat jauh, dan yang lainnya, terutama olahraga dengan action yang lebih banyak.

“Pengalaman saya ketika mengambil gambar saat pertandingan sepakbola, agar dapat menghasilkan foto yang bagus adalah dengan mengatur speed. Minimal saya gunakan 1/1250. Sehingga dapat menghasilkan gambar bola yang sedang ditendang, seakan-akan terhenti dan melayang di udara,” ujar Dicky dilansir dari Tatkala.co, Selasa (16/5/2023).

Dikutip dari Tatkala.co, shutter speed memiliki dua macam pengaturan: rendah dan tinggi. Speed rendah digunakan untuk menyampaikan dinamika gerakan. Pengaturan ini biasanya digunakan oleh fotografer agar gambar yang dihasilkan memiliki semacam bayangan sesuai dengan arah gerakannya, yang biasa disebut dengan efek blur motion.

“Sedangkan speed tinggi digunakan untuk membekukan gerak dari suatu objek gambar. Fotografer akan menggunakan speed tinggi untuk menangkap gambar dari  objek yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Sehingga, seolah-olah objek yang bergerak tersebut dibekukan (freeze),” jelas Dicky.

Karya Dicky Bisinglasi

Ya, sejatinya, fotografi memang “membekukan” benda-benda dalam waktu dan peristiwa yang bergerak. Tapi pembekuan itu tak harus menjadikan objek menjadi kaku.

Teknologi memungkinkan pembekukan waktu itu tetap mengesankan benda-benda dan peristiwa di dalamnya tetap hidup, bergerak, dalam bingkai yang kita inginkan, agar cerita yang terkandung di dalamnya tetap abadi.

Karena itu, foto menjadi bagian dari kesenian. Ia setara dengan sastra, lukisan, atau karya-karya agung lain dari cipta karya tangan manusia.

Foto mengabadikan cerita manusia dan benda-benda di sekelilingnya: waktu yang terus bergerak menjadi berhenti, terabadikan dalam lensa kamera, sehingga generasi berikutnya mendapat pengetahuan yang sama dengan mereka yang berada dalam peristiwa-peristiwa itu—termasuk peristiwa dalam olahraga.

Di luar fotografi olahraga—yang untuk saat ini sifatnya sebagai sampingan—Dicky masih tetap mengerjakan jurnalisme visual secara umum, baik di hard news, soft news maupun dokumenter. “Saya juga masih melanjutkan project personal saya tentang konservasi satwa laut, khususnya mamalia laut dan penyu di Indonesia,” katanya.[T]

Seni Foto Jurnalistik Olahraga ala Dicky Bisinglasi | Catatan Tatkala May May May 2023
Yoga Pratama: Mencoba Mendengar Masa Lalu dari Piringan Hitam
Tags: fotografijurnalistikolahragatokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jika Harga Kelapa Rendah, Olah Jadi Berbagai Produk Unggulan

Next Post

“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails
Next Post
“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan

"Proyek Mengeringkan Air" Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
Hati-Hati Ada Proyek!
Esai

Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co