17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dicky Bisinglasi: “Membekukan” Peristiwa Olahraga dengan Kamera

Jaswanto by Jaswanto
May 19, 2023
in Persona
Dicky Bisinglasi: “Membekukan” Peristiwa Olahraga dengan Kamera

Dicky Bisinglasi saat memberikan workshop foto jurnalistik olahraga di Tatkala May May May 2023 | Foto: Dok. Tatkala.co

FOTOGRAFI DAN OLAHRAGA adalah kawan lama. Tidakkah ada yang bertanya mengapa para atlet sepakbola, misalnya, repot-repot berpose sebelum pertandingan? Atau, mengapa fotografer ditempatkan di atas lapangan, yang notabene berada dalam satu tataran dengan pemain dan pelatih?

Barangkali tokoh yang satu ini dapat menjawabnya: Dicky Bisinglasi, seorang Jurnalis Visual dan Fotografer Dokumenter Indonesia yang sekarang tinggal di Bali.

Dicky Bisinglasi, atau akrab dipanggil Dicky, lahir di Malang pada tahun 1987, dan memulai karier profesionalnya pada 2014 sebagai staf jurnalis foto untuk sebuah surat kabar lokal.

Pada 2019, ia memutuskan untuk menjadi pekerja lepas penuh waktu di jurnalisme foto dan video untuk beberapa media internasional.

Dicky Bisinglasi / Foto: Dok. Pribadi

Laki-laki keturunan NTT itu mengaku, sejak kecil ia sudah menyukai seni visual. Dicky suka menggambar-melukis sejak TK sampai SD. “Bahkan SD sudah mulai motret juga. Waktu itu pakai kamera film point and shoot alias tustel, brand Fujifilm, yang tinggal jepret tanpa mikirin exposure. Cuma nggak sering. Lebih dominan lukis dan gambar,” terangnya kepada Tatkala.co, Senin (15/5/2023) sore.

Namun sayang, kegemarannya memotret agak berkurang sejak ia masuk SMP, bahkan berlanjut sampai SMA. “Agak ninggalin seni visual, karena pindah ke seni musik. Tapi sesekali masih menggambar,” ujarnya.

Ia kembali ke “pelukan” fotografi lagi pada 2009, saat kuliah di Ilmu Komunikasi. Ia mengatakan, saat itu, ada mata kuliah dasar-dasar fotografi, dari sana ia mulai serius mengenal fotografi.

Dicky semakin serius mempelajari dan menekuni dunia fotografi ketika masuk klub fotografi kampus. Namanya JUFOC (JUrnalistik FOtografi Club). Di JUFOC, katanya, banyak seniornya yang sudah jadi photojournalist. “Awalnya ikut hype-nya doang sih, belum yang terinspirasi gimana-gimana. Malah pernah cuti kuliah dan nyoba kerja di bidang lain, di Bali, alih-alih jadi fotografer, apalagi photojournalist,” katanya sambil tertawa.

Tetapi, pada tahun 2012, Dicky mulai aktif kembali di JUFOC. Beberapa kali ia mencoba ngejob—walaupun lebih banyak ngejob komersial—dan sesekali membantu majalah otomotif sebuah brand motor sebagai freelancer.

Memulai karier profesional

Dicky bergerita: tahun 2014 ada pelatihan foto story oleh salah seorang senior di JUFOC. Namanya Lukman Bintoro, seorang photojournalist untuk media Australia di Bali waktu itu. Saat itu tugasnya adalah bikin coverage foto story tentang difabel.

“Dari situ saya (benar-benar) mulai mengenal fotografi jurnalistik lebih serius lagi, terutama esensinya: kenapa orang motret jurnalistik, dan untuk apa. Di kemudian hari saya merasa, tanpa pemahaman esensi ini, orang tidak akan paham apalagi terjun ke dunia photojournalist,” ungkapnya, menjelaskan.

Lukman Bintoro, fotografer yang diakui Dicky sebagai mentornya, tak hanya memberikan pengetahuan tentang foto story saja, tapi juga memberinya sebuah scarf (syal) dari Kamboja.

“Namanya Krama, yang dia dapat saat workshop foto Angkor Photo di sana. Saat itu dia bilang, ‘Ini adalah lambang perjuangan rakyat Kamboja’. Setelah itu saya jadi berpikir banyak hal, dari apa artinya, dan kenapa ini dipakai banyak jurnalis foto,” ucapnya, mengenang.

Ia tak paham betul apa makna di balik itu semua, yang jelas, pemikiran-pemikiran esensial tersebut semakin menginspirasinya untuk, suatu saat, terjun ke dunia foto jurnalistik.

Akhirnya, pada September 2014, kesempatan itu datang. Sebuah koran di Malang membutuhkan jurnalis foto. Ya, di koran Malang Post Dicky mengawali karier profesionalnya hingga 2019.

Di sana ia belajar banyak hal, dari ilmu jurnalistik, sampai telnis fotografi—di sana ia dituntut dapat motret apapun dalam kondisi apapun. Tetapi, menurutnya, mental itu yang membentuk karakternya sampai skarang.

Dan, pada tahun 2019, setelah resign dari staff koran, Dicky memutusukan menjadi freelancer dan akhirnya pindah ke Bali, sampai sekarang.

Sebagai jurnalis foto freelance, menurut pengakuannya, ia sering dituntut lebih, apalagi media asing, yang kebutuhannya tentu berbeda dari media lokal setingkat kota. Tetapi, ia belajar banyak, terutama kualitas, orisinalitas ide, dan kteatifitas ”Tidak seperti saat masih bekerja di koran dulu, yang tak terlalu risau soal kualitas,” akunya.

Karena freelance, Dicky bekerja untuk banyak media dan wire service asing, baik foto maupun video. “Di dunia jurnalistik, posisi seperti ini sering disebut visual journalist,” katanya.

Memotret olahraga

Selama di Malang Post, hampir 4 tahun lebih ia habiskan waktu untuk liputan sepakbola, khususnya klub bola Arema FC. “Saya sering motret pertandingan resmi mereka di Malang maupun di luar kota atau pulau,” katanya.

Selain memotret event-event olahraga selain sepakbola yang ada di Malang, ia mengatakan, meliput pertandingan bola juga mengasah skill-nya dalam fotografi olahraga.

“Fotografi Jurnalistik Olahraga merupakan segala bentuk fotografi yang dilakukan berkaitan dengan dunia olahraga, baik yang berupa action maupun yang bersifat dokumenter. Atau bisa juga storytelling,” terang Dicky dilansir dari Tatkala.co, Selasa (16/5/2023).

Dikutip dari Tatkala.co, Dicky mengatakan, fotografi dalam olahraga tidak hanya mengambil momen saat atlet menyundul atau menangkap bola, atau ketika seorang atlet renang melakukan lompatan indah saja, tetapi, ada kalanya beberapa momen sangat perlu untuk diabadikan. Dan tentunya, beberapa momen ini tidak kalah penting dengan foto action yang dilakukan.

“Misalnya, momen ketika pemain melakukan selebrasi atau ekspresi mengalami kekalahan. Tentu, hasil fotonya akan menjadi sebuah kenangan yang sangat berarti bagi para pemain. Terlebih lagi jika momentum itu tidak dapat terulang kembali,” tambahnya.

Dicky Bisinglasi mengabadikan momen kiper yang sedang melakukan ritual dan seorang pemain yang menunjukkan ekspresi kekalahan

Karenanya, foto adalah medium yang tepat untuk menziarahi kenangan, terutama yang terlupakan karena ingatan.

Menurut Dicky, setidaknya ada sepuluh shotlist dalam fotografi olahraga: mulai dari momen puncak action; momen bersejarah; duel kompetisi; selebrasi; ekspresi kekalahan; ekspresi penonton; insiden; ritual pemain; solidaritas; sampai hal-hal menarik lainnya.

Berbeda dengan fotografi lainnya yang lebih mengutamakan estetika, dalam fotografi jurnalistik olahraga, menurut Dicky, lebih cenderung mengutamakan story telling dari gambar yang dihasilkan. Sehingga, orang-orang yang nantinya melihat gambar tersebut dapat mengetahui jalan cerita yang terjadi.

“Fotografi dalam olahraga juga bisa menjadi media dalam membuktikan kecurangan atau menampilkan peristiwa-peristiwa yang mungkin terlewatkan oleh mata kita,” katanya.

Benar. Seperti Piala Dunia 1986, misalnya.Tepatnya kala Diego Maradona mencetak satu gol paling terkenal sepanjang masa, yaitu Gol Tangan Tuhan.

Di kala fans Inggris tak percaya Maradona mencetak gol dengan tangannya, wasit tertipu untuk mengesahkan gol tersebut, dan cuplikan siaran televisi tak pernah mampu mengungkap momen “Tangan Tuhan” secara sahih dan memuaskan, foto datang untuk memberikan bukti tak terbantahkan. Tanpa foto, peristiwa di atas hanya akan menjadi dongeng belaka.

Tahun 2021, saat pandemi Covid-19, kompetisi sepakbola Liga 1 Indonesia harus dalam sistem bubble, yang kebetulan diselenggarakan di Bali. Penyelenggara liga membutuhkan fotografer dan seorang teman merekomendasikan Dicky. “Dan masih berlanjut hingga sekarang. Senang rasanya bisa kembali “merumput” motret sepak bola lagi,” ujarnya.

Menurut Dicky, salah satu yang mempengaruhi hasil dalam fotografi olahraga, adalah shuter speed atau kecepatan rana. Kecepatan rana merujuk kepada durasi waktu pembukaan media perekam dalam kamera yang digunakan untuk pengambilan gambar.

Mode shutter speed digunakan dalam pengambilan gambar dari objek yang bergerak cepat. Dalam dunia olahraga, shutter speed biasanya digunakan seorang fotografer ketika sedang mengambil gambar dari pertandingan sepakbola, lari, lompat jauh, dan yang lainnya, terutama olahraga dengan action yang lebih banyak.

“Pengalaman saya ketika mengambil gambar saat pertandingan sepakbola, agar dapat menghasilkan foto yang bagus adalah dengan mengatur speed. Minimal saya gunakan 1/1250. Sehingga dapat menghasilkan gambar bola yang sedang ditendang, seakan-akan terhenti dan melayang di udara,” ujar Dicky dilansir dari Tatkala.co, Selasa (16/5/2023).

Dikutip dari Tatkala.co, shutter speed memiliki dua macam pengaturan: rendah dan tinggi. Speed rendah digunakan untuk menyampaikan dinamika gerakan. Pengaturan ini biasanya digunakan oleh fotografer agar gambar yang dihasilkan memiliki semacam bayangan sesuai dengan arah gerakannya, yang biasa disebut dengan efek blur motion.

“Sedangkan speed tinggi digunakan untuk membekukan gerak dari suatu objek gambar. Fotografer akan menggunakan speed tinggi untuk menangkap gambar dari  objek yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Sehingga, seolah-olah objek yang bergerak tersebut dibekukan (freeze),” jelas Dicky.

Karya Dicky Bisinglasi

Ya, sejatinya, fotografi memang “membekukan” benda-benda dalam waktu dan peristiwa yang bergerak. Tapi pembekuan itu tak harus menjadikan objek menjadi kaku.

Teknologi memungkinkan pembekukan waktu itu tetap mengesankan benda-benda dan peristiwa di dalamnya tetap hidup, bergerak, dalam bingkai yang kita inginkan, agar cerita yang terkandung di dalamnya tetap abadi.

Karena itu, foto menjadi bagian dari kesenian. Ia setara dengan sastra, lukisan, atau karya-karya agung lain dari cipta karya tangan manusia.

Foto mengabadikan cerita manusia dan benda-benda di sekelilingnya: waktu yang terus bergerak menjadi berhenti, terabadikan dalam lensa kamera, sehingga generasi berikutnya mendapat pengetahuan yang sama dengan mereka yang berada dalam peristiwa-peristiwa itu—termasuk peristiwa dalam olahraga.

Di luar fotografi olahraga—yang untuk saat ini sifatnya sebagai sampingan—Dicky masih tetap mengerjakan jurnalisme visual secara umum, baik di hard news, soft news maupun dokumenter. “Saya juga masih melanjutkan project personal saya tentang konservasi satwa laut, khususnya mamalia laut dan penyu di Indonesia,” katanya.[T]

Seni Foto Jurnalistik Olahraga ala Dicky Bisinglasi | Catatan Tatkala May May May 2023
Yoga Pratama: Mencoba Mendengar Masa Lalu dari Piringan Hitam
Tags: fotografijurnalistikolahragatokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jika Harga Kelapa Rendah, Olah Jadi Berbagai Produk Unggulan

Next Post

“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails
Next Post
“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan

"Proyek Mengeringkan Air" Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 16, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 15, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co