23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Usia 20-an, Masa Paling Melelahkan dalam Hidup dan Cara Memaknainya

Kadek Risma Widiantari by Kadek Risma Widiantari
April 19, 2023
in Esai
Usia 20-an, Masa Paling Melelahkan dalam Hidup dan Cara Memaknainya

Ilustrasi tatkala.co

QUARTER LIFE CRISIS merupakan periode ketidakpastian dan pencarian jati diri yang dialami individu pada saat mencapai usia pertengahan 20 hingga awal 30 tahun.

Memasuki usia 20-an, banyak hal yang mulai dihadapi, dari perasaan takut dan khawatir terhadap masa depan, termasuk dalam hal pendidikan, karier, relasi, kehidupan sosial, tentunya juga tak luput dari pesoalan asmara.

Pada umur-umur ini, seseorang seolah-olah menaiki bianglala kehidupan, kadang di atas, tapi kadang lebih  sering di bawah.

Kalau dipikir-pikir, usia 20-an ini merupakan waktu untuk kita mencari jati diri. Mencari apa yang kita senangi, bertahan sementara dengan apa yang sudah kita jalani dan mengakhiri sesuatu yang tidak kita sukai. Seakan-akan tak pernah behenti, berulang begitu saja, berputar seperti bianglala. Rasanya melelahkan sekali, bukan?

Berada di usia dua puluhan seringkali membingungkan dan, tentu saja, sepi. Bisa dibilang, ini memasuki masa mulai pura-pura dewasa. Seperti, mulai mencoba hidup mandiri di rantauan; mulai mencoba karier baru; mulai mencoba hubungan baru dan banyak hal lagi.

Fenomena ini sesuai dengan riset dari Harvard Business Review: Why You Late Twenties Is The Worst Time Of Your Life.

Artikel yang dimuat dalam majalah manajemen umum Universitas Harvard tersebut, dinyatakan bahwa, keadaan sementara yang berkepanjangan ini tentunya mengakibatkan banyak penderitaan. Dan dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa generasi muda saat ini lebih menderita daripada generasi sebelumnya.

Misalnya saja, usia rata-rata untuk timbulnya depresi telah turun, yang biasanya menunjukkan angka dari usia akhir empat puluhan atau awal lima puluhan, namun dari 30 tahun yang lalu berubah menjadi rentang usia di pertengahan dua puluhan, dan diperkirakan akan semakin turun seiring berjalannya waktu.

***

Selama tahun-tahun inilah, orang akan mengalami pikiran dan perasaan paling negatif. Tentunya juga mengalami pengembaraan pikiran paling banyak, suatu keadaan psikologis yang telah terbukti dapat merusak tingkat dari kesejahteraan.

Terlepas dari apa penyebabnya, fase quarter life crisis ini seringkali berlangsung dalam beberapa tahun. YA, B.E.B.E.R.A.P.A  T.A.H.U.N!

Kondisi Ini dimulai dengan adanya perasaan terikat pada komitmen di tempat kerja, di rumah, atau dengan seseorang (katakanlah: kekasih). Orang-orang mulai mengambil pekerjaan, menyewa kontrakan hingga apartment, dan menjalin hubungan dengan orang baru secara terus menerus. Tetapi kemudian, kamu merasa terjebak dalam ke-dewasa-an pura-pura.

Berada pada fase terkunci, sangatlah tragis. Bagaimana tidak? terkadang kita ingin terlepas atau melepas sesuatu, namun masih saja ragu. Padahal kita sudah tahu, bertahan juga bukan suatu pilihan yang tepat.

Apa kalian juga sedang mengalami fase ini? Huft!..sudahlah. Menjadi dewasa itu memang suatu keharusan, karena waktu akan terus bergerak tanpa menoleh kebelakang.

Merasa terkunci di dalam sangkar burung. Perasaan ini merupakan sebuah ilusi, kita bisa saja keluar dan lari sejauh mungkin, namun akan tetap merasa terkunci pada suatu keadaan. Stuck pada situasi yang membuat kita tidak nyaman.

Perlahan akan timbul perasaan bahwa rutinitas, bahkan hubungan yang dijalaninya itu, tidak membuat perasaan bahagia. Kita akan merasa semuanya sia-sia. Hal-hal seperti ini sering terjadi, biasanya karena hanya ingin membahagiakan orang-orang di sekitar tanpa mempedulikan diri sendiri.

Proses ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun, atau berulang kali. Nah, karena ini merupakan proses yang menyakitkan (menurutku), jadi kalian harus tetap kuat ya! Hehe…

***

Eitss! Tetapi jangan pandang dari satu sisi saja.

Fase ini juga dapat menjadi peluang pertumbuhan yang luar biasa bagi kita, karena dengan melalui proses ini dapat menciptakan individu yang lebih matang lagi, kita bisa menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan lebih bahagia.

Lantas, bagaimana caranya memanfaatkan peluang itu? Tenang, kalian tak usah risau, kali ini aku akan memberikan beberapa solusi yang bisa kamu coba, agar quarter life crisis kamu bisa terkontrol.

Fase berhenti (mengakhiri komitmen-komitmen)

Ini merupakan tahap awal yang cukup berat. Bayangkan saja, jika kita harus berhenti dari sebuah pekerjaan yang tidak kita sukai, namun di satu sisi kita sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk keberlangsungan hidup.

Atau putus dengan orang yang tidak tepat, tapi sudah terlanjur sayang. Hmm… ibaratnya seperti kata-kata bucin yang pernah FYP di salah satu aplikasi. Begini bunyinya: “Sama kamu sakit, tapi kalau gak sama kamu lebih sakit”.

Memang, mempertahankan sesuatu yang tak lagi seirama dengan kita itu bukanlah suatu yang mudah. Tetapi, mau tidak mau, suka tiak suka, harus dilakukan.

Mulai sekarang, cobalah untuk belajar meninggalkan dan melepaskan. Yapss! Melepaskan sesuatu yang sudah tidak bisa digenggam lagi.

Berhenti mengejar standar sosial

Jangan terlalu berambisi. Jangan memaksakan untuk menyetarakan diri dengan orang di luaran sana—walaupun nanti kita akan dipandang sebelah mata dan menjadi terisolasi. Dunia ini tidak akan pernah ada habisnya. Semakin kita mengejar, maka kita justru akan tergerus.

Please stop!

Membanding-bandingkan diri dengan kehidupan orang lain—atau menjadikan gambaran hidup orang lain sebagai standar “hidup yang ideal”—memang mudah sekali bagi kita.

Ibaratnya: kita sedang mengendarai sepeda motor, lalu kita mengikuti jalan yang ditempuh oleh orang lain (yang tidak pernah kita tahu, arahnya menuju ke mana).

Jadi, sebenarnya kita selalu mempunyai pilihan untuk menjalani hidup sesuai dengan pilihan kita sendiri. Artinya, tetap menjadi diri sendiri ya, teman. Aku harap demikian. Hehe.

Fase refleksi

Masuk ke dalam diri sendiri. Merenungkan pikiran, emosi, bahkan keputusan-keputusan yang telah kita ambil. Amati diri, apa yang harus diperbaiki, tentang pencapaian-pencapaian yang didapatkan atau mungkin, mulai merancang apa yang ingin dilakukan di masa yang akan datang, dengan cara mengekplorasi hal-hal baru.

Cara ini dapat membuat kita lebih terarah dan menjadi pelajaran untuk ke depannya. Kita bisa memulainya dengan misalnya, rutin menulis jurnal harian atau kembali menulis diary. Ini akan memudahkan, sebagai catatan untuk menjadi bahan pertimbangan atau pembeda dari refleksi-refleksi yang akan kita lakukan ke depan.

Percayalah, setelah melewati beberapa fase di atas, perlahan-lahan akhirnya kita akan menuju kebahagian lagi. Kita semua bisa melewati usia 20-an ini dengan full senyum (walaupun sambil sedikit menangis. Tidak apa-apa, namanya juga fase hidup).

Dan memang begitu fase hidup, seperti bianglala. Sebelum mencapai puncak, kita semua mengawalinya dari bawah, hingga berada di tengah-tengah, kemudian berhenti sejenak (ketika ada yang akan naik wahana), lalu berputar perlahan menuju puncak, dan akan kembali berada di bawah. Hah… begitulah kira-kira filosofi kehidupan.

Kamu hebat, kita semua hebat. Coba tatap diri kalian dicermin, kemudian bisikan pada diri sendiri: “You can do it!”

Terakhir, yuk nyanyi sama-sama!

Sudah di kepala dua

Harus mulai dari mana?

Ambisiku bergejolak, antusias tak karuan

Banyak mimpi-mimpi yang ‘kan kukejar

Lika-liku perjalanan

Ku terjebak sendirian

Tumbuh dari kebaikan, bangkit dari kesalahan

Berusaha pendamkan kenyataan bahwa

Takut tambah dewasa

Takut aku kecewa

Takut tak seindah yang kukira

Takut tambah dewasa

Takut aku kecewa

Takut tak sekuat yang kukira.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Bukan Mau Su’udzon, tapi Orang Bilang Itu Friendzone
Andai Aku Punya Pintu ke Mana Saja
Gabut Berkedok Self Healing dan Saran untuk Mengatasinya
Tags: dewasaesaikehidupanRemaja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cuti Bersama? Cobalah Trekking Menyambut Fajar di Jalur Buu-Yangudi, Desa Les, Tejakula

Next Post

Postingan Galau di Media Sosial Bisa Merusak Personal Branding?

Kadek Risma Widiantari

Kadek Risma Widiantari

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi di STAH N mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Postingan Galau di Media Sosial Bisa Merusak Personal Branding?

Postingan Galau di Media Sosial Bisa Merusak Personal Branding?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co