2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Usia 20-an, Masa Paling Melelahkan dalam Hidup dan Cara Memaknainya

Kadek Risma Widiantari by Kadek Risma Widiantari
April 19, 2023
in Esai
Usia 20-an, Masa Paling Melelahkan dalam Hidup dan Cara Memaknainya

Ilustrasi tatkala.co

QUARTER LIFE CRISIS merupakan periode ketidakpastian dan pencarian jati diri yang dialami individu pada saat mencapai usia pertengahan 20 hingga awal 30 tahun.

Memasuki usia 20-an, banyak hal yang mulai dihadapi, dari perasaan takut dan khawatir terhadap masa depan, termasuk dalam hal pendidikan, karier, relasi, kehidupan sosial, tentunya juga tak luput dari pesoalan asmara.

Pada umur-umur ini, seseorang seolah-olah menaiki bianglala kehidupan, kadang di atas, tapi kadang lebih  sering di bawah.

Kalau dipikir-pikir, usia 20-an ini merupakan waktu untuk kita mencari jati diri. Mencari apa yang kita senangi, bertahan sementara dengan apa yang sudah kita jalani dan mengakhiri sesuatu yang tidak kita sukai. Seakan-akan tak pernah behenti, berulang begitu saja, berputar seperti bianglala. Rasanya melelahkan sekali, bukan?

Berada di usia dua puluhan seringkali membingungkan dan, tentu saja, sepi. Bisa dibilang, ini memasuki masa mulai pura-pura dewasa. Seperti, mulai mencoba hidup mandiri di rantauan; mulai mencoba karier baru; mulai mencoba hubungan baru dan banyak hal lagi.

Fenomena ini sesuai dengan riset dari Harvard Business Review: Why You Late Twenties Is The Worst Time Of Your Life.

Artikel yang dimuat dalam majalah manajemen umum Universitas Harvard tersebut, dinyatakan bahwa, keadaan sementara yang berkepanjangan ini tentunya mengakibatkan banyak penderitaan. Dan dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa generasi muda saat ini lebih menderita daripada generasi sebelumnya.

Misalnya saja, usia rata-rata untuk timbulnya depresi telah turun, yang biasanya menunjukkan angka dari usia akhir empat puluhan atau awal lima puluhan, namun dari 30 tahun yang lalu berubah menjadi rentang usia di pertengahan dua puluhan, dan diperkirakan akan semakin turun seiring berjalannya waktu.

***

Selama tahun-tahun inilah, orang akan mengalami pikiran dan perasaan paling negatif. Tentunya juga mengalami pengembaraan pikiran paling banyak, suatu keadaan psikologis yang telah terbukti dapat merusak tingkat dari kesejahteraan.

Terlepas dari apa penyebabnya, fase quarter life crisis ini seringkali berlangsung dalam beberapa tahun. YA, B.E.B.E.R.A.P.A  T.A.H.U.N!

Kondisi Ini dimulai dengan adanya perasaan terikat pada komitmen di tempat kerja, di rumah, atau dengan seseorang (katakanlah: kekasih). Orang-orang mulai mengambil pekerjaan, menyewa kontrakan hingga apartment, dan menjalin hubungan dengan orang baru secara terus menerus. Tetapi kemudian, kamu merasa terjebak dalam ke-dewasa-an pura-pura.

Berada pada fase terkunci, sangatlah tragis. Bagaimana tidak? terkadang kita ingin terlepas atau melepas sesuatu, namun masih saja ragu. Padahal kita sudah tahu, bertahan juga bukan suatu pilihan yang tepat.

Apa kalian juga sedang mengalami fase ini? Huft!..sudahlah. Menjadi dewasa itu memang suatu keharusan, karena waktu akan terus bergerak tanpa menoleh kebelakang.

Merasa terkunci di dalam sangkar burung. Perasaan ini merupakan sebuah ilusi, kita bisa saja keluar dan lari sejauh mungkin, namun akan tetap merasa terkunci pada suatu keadaan. Stuck pada situasi yang membuat kita tidak nyaman.

Perlahan akan timbul perasaan bahwa rutinitas, bahkan hubungan yang dijalaninya itu, tidak membuat perasaan bahagia. Kita akan merasa semuanya sia-sia. Hal-hal seperti ini sering terjadi, biasanya karena hanya ingin membahagiakan orang-orang di sekitar tanpa mempedulikan diri sendiri.

Proses ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun, atau berulang kali. Nah, karena ini merupakan proses yang menyakitkan (menurutku), jadi kalian harus tetap kuat ya! Hehe…

***

Eitss! Tetapi jangan pandang dari satu sisi saja.

Fase ini juga dapat menjadi peluang pertumbuhan yang luar biasa bagi kita, karena dengan melalui proses ini dapat menciptakan individu yang lebih matang lagi, kita bisa menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan lebih bahagia.

Lantas, bagaimana caranya memanfaatkan peluang itu? Tenang, kalian tak usah risau, kali ini aku akan memberikan beberapa solusi yang bisa kamu coba, agar quarter life crisis kamu bisa terkontrol.

Fase berhenti (mengakhiri komitmen-komitmen)

Ini merupakan tahap awal yang cukup berat. Bayangkan saja, jika kita harus berhenti dari sebuah pekerjaan yang tidak kita sukai, namun di satu sisi kita sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk keberlangsungan hidup.

Atau putus dengan orang yang tidak tepat, tapi sudah terlanjur sayang. Hmm… ibaratnya seperti kata-kata bucin yang pernah FYP di salah satu aplikasi. Begini bunyinya: “Sama kamu sakit, tapi kalau gak sama kamu lebih sakit”.

Memang, mempertahankan sesuatu yang tak lagi seirama dengan kita itu bukanlah suatu yang mudah. Tetapi, mau tidak mau, suka tiak suka, harus dilakukan.

Mulai sekarang, cobalah untuk belajar meninggalkan dan melepaskan. Yapss! Melepaskan sesuatu yang sudah tidak bisa digenggam lagi.

Berhenti mengejar standar sosial

Jangan terlalu berambisi. Jangan memaksakan untuk menyetarakan diri dengan orang di luaran sana—walaupun nanti kita akan dipandang sebelah mata dan menjadi terisolasi. Dunia ini tidak akan pernah ada habisnya. Semakin kita mengejar, maka kita justru akan tergerus.

Please stop!

Membanding-bandingkan diri dengan kehidupan orang lain—atau menjadikan gambaran hidup orang lain sebagai standar “hidup yang ideal”—memang mudah sekali bagi kita.

Ibaratnya: kita sedang mengendarai sepeda motor, lalu kita mengikuti jalan yang ditempuh oleh orang lain (yang tidak pernah kita tahu, arahnya menuju ke mana).

Jadi, sebenarnya kita selalu mempunyai pilihan untuk menjalani hidup sesuai dengan pilihan kita sendiri. Artinya, tetap menjadi diri sendiri ya, teman. Aku harap demikian. Hehe.

Fase refleksi

Masuk ke dalam diri sendiri. Merenungkan pikiran, emosi, bahkan keputusan-keputusan yang telah kita ambil. Amati diri, apa yang harus diperbaiki, tentang pencapaian-pencapaian yang didapatkan atau mungkin, mulai merancang apa yang ingin dilakukan di masa yang akan datang, dengan cara mengekplorasi hal-hal baru.

Cara ini dapat membuat kita lebih terarah dan menjadi pelajaran untuk ke depannya. Kita bisa memulainya dengan misalnya, rutin menulis jurnal harian atau kembali menulis diary. Ini akan memudahkan, sebagai catatan untuk menjadi bahan pertimbangan atau pembeda dari refleksi-refleksi yang akan kita lakukan ke depan.

Percayalah, setelah melewati beberapa fase di atas, perlahan-lahan akhirnya kita akan menuju kebahagian lagi. Kita semua bisa melewati usia 20-an ini dengan full senyum (walaupun sambil sedikit menangis. Tidak apa-apa, namanya juga fase hidup).

Dan memang begitu fase hidup, seperti bianglala. Sebelum mencapai puncak, kita semua mengawalinya dari bawah, hingga berada di tengah-tengah, kemudian berhenti sejenak (ketika ada yang akan naik wahana), lalu berputar perlahan menuju puncak, dan akan kembali berada di bawah. Hah… begitulah kira-kira filosofi kehidupan.

Kamu hebat, kita semua hebat. Coba tatap diri kalian dicermin, kemudian bisikan pada diri sendiri: “You can do it!”

Terakhir, yuk nyanyi sama-sama!

Sudah di kepala dua

Harus mulai dari mana?

Ambisiku bergejolak, antusias tak karuan

Banyak mimpi-mimpi yang ‘kan kukejar

Lika-liku perjalanan

Ku terjebak sendirian

Tumbuh dari kebaikan, bangkit dari kesalahan

Berusaha pendamkan kenyataan bahwa

Takut tambah dewasa

Takut aku kecewa

Takut tak seindah yang kukira

Takut tambah dewasa

Takut aku kecewa

Takut tak sekuat yang kukira.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Bukan Mau Su’udzon, tapi Orang Bilang Itu Friendzone
Andai Aku Punya Pintu ke Mana Saja
Gabut Berkedok Self Healing dan Saran untuk Mengatasinya
Tags: dewasaesaikehidupanRemaja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cuti Bersama? Cobalah Trekking Menyambut Fajar di Jalur Buu-Yangudi, Desa Les, Tejakula

Next Post

Postingan Galau di Media Sosial Bisa Merusak Personal Branding?

Kadek Risma Widiantari

Kadek Risma Widiantari

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi di STAH N mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Postingan Galau di Media Sosial Bisa Merusak Personal Branding?

Postingan Galau di Media Sosial Bisa Merusak Personal Branding?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co