14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prodi Teologi Hindu di Kampus Hindu: Peluang Kerja Banyak, Tapi Sepi Peminat

Jaswanto by Jaswanto
April 18, 2023
in Liputan Khusus
Prodi Teologi Hindu di Kampus Hindu: Peluang Kerja Banyak, Tapi Sepi Peminat

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari berbagai sumber

JIKA DIBANDINGKAN dengan program studi (prodi) lain, Prodi Teologi Hindu di kampus berbasiskan agama Hindu selalu paling sedikit peminatnya. Padahal Prodi Teologi Hindu merupakan prodi yang menaungi bidang keagamaan, yang secara umum meliputi studi tentang pengenalan dan pembahasan mengenai susastra dan kitab suci agama Hindu, serta implementasi ajarannya dalam kehidupan sosial religius masyarakat.

Atau, dalam bahasa lain, Prodi Teologi Hindu barangkali dapat juga disebut sebagai prodi yang mempelajari dan menganalisa berbagai teori agama, spiritualitas, dan keyakinan Hindu secara rasional untuk dapat diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih mudah serta dapat disesuaikan dengan zaman.

Namun, minat lulusan SMA untuk mendaftar pada Prodi Telogi Hindu selalu sedikit. Yang banyak diminati justru prodi yang tidak secara khusus mempelajari agama Hindu, semisal Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Ilmu Komunikasi.  

Sebagai salah satu ikon dari lembaga pendidikan agama Hindu, tentu prodi Teologi Hindu memiliki kekhususan dibandingkan dengan program studi lainnya. Tetapi, benar memang, tak banyak kampus yang membuka program studi ini. Artinya, Prodi Teologi Hindu cukup langka, hanya beberapa kampus Hindu saja yang membukanya.

Logikanya, jika prodi itu langka, seharusnya banyak anak muda yang mendaftar, karena setamat kuliah mereka bisa melangkah pada peluang kerja dengan saingan yang tidak banyak. Apalagi, pada zaman yang tak menentu ini, ilmu-ilmu agama dari lulusan Prodi Teologi Hindu akan sangat dibutuhkan, bukan hanya di ruang publik, tapi juga pada lembaga-lembaga formal.

 STAHN Mpu Kuturan

Dari beberapa kampus berbasiskan agama Hindu, Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan Singaraja, menjadi salah satu kampus yang memiliki Prodi Teologi Hindu.

Gedung STAHN Mpu Kuturan Singaraja | Foto: Ist

Prodi Teologi Hindu STAHN Mpu Kuturan berdiri sejak 2016.  Dan sejak  pertama didirikan, sampai sekarang, prodi yang menjadi bagian dari Jurusan Brahma Widya—bersama Prodi Filsafat Hindu—itu bisa dibilang telah mencetak generasi (Hindu) yang unggul. Hal ini terbukti dari beberapa lulusannya yang sudah bekerja di berbagai instansi.

Meski demikian, khusus di STAHN Mpu Kuturan, Teologi Hindu terkenal dengan program studi yang sepi peminat. Hal tersebut tampak aneh, mengingat, STAH adalah lembaga pendidikan tinggi agama Hindu.

Lihat saja, berdasarkan data 4 April 2023, dari total 1.025 kursi yang disiapkan kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja, sudah hampir 60% terisi pada pendaftaran gelombang I. Dan sudah dapat ditebak, Program Studi Teologi Hindu selalu mendapat sedikit peminat (pendaftar).

Kepala Program Studi Teologi Hindu STAHN Mpu Kuturan, I Wayan Titra Gunawijaya, S.Fil., M.Ag, membenarkan hal tersebut. “Memang benar, peminat Program Studi Teologi Hindu sangat langka,” katanya, melalui pesan WhatsApp, Selasa (11/4/23) pagi.

Sekadar informasi, hingga saat ini, menurut data dari Ketua Panitia PMB 2023 STAH Negeri Mpu Kuturan, Made Gami Sandi Untara, calon mahasiswa baru yang mendaftar Prodi Teologi Hindu hanya 21 pendaftar dari 764 calon mahasiswa baru yang mendaftar di 12 program studi (prodi) di 4 jurusan (Dharma Duta, Dharma Acarya, Dharma Sastra, dan Brahma Widya). Jumlah itu jauh lebih sedikit dari Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang mendapat 237 pendaftar.

Sepi Peminat

Apa yang membuat prodi Teologi Hindu di kampus Hindu ini tak banyak diminati?

Menurut Kaprodi Teologi Hindu STAHN Mpu Kuturan, alasan Prodi Teologi Hindu kurang diminati karena prodi ini sangat eksklusif, khusus membicarakan mengenai ajaran ketuhanan, kemudian implementasi keagamaan dalam kehidupan sosial, serta bagaimana jalan mencapai kebahagiaan yang bersifat jasmani dan rohani.

“Sedangkan, hari ini banyak anak muda yang tak tertarik dengan hal-hal demikian. Mereka lebih berminat untuk mempelajari hal-hal yang baru serta lebih berminat ke prodi yang sesuai dengan kemampuannya,” ujarnya.

Apakah hanya itu? Apakah prospek pekerjaan tidak berpengaruh terhadap minat calon mahasiswa baru dalam memilih prodi termasuk Teologi Hindu, misalnya?

Persembahyangan bersama di STAHN Mpu Kuturan Singaraja | Foto: Ist

Ni Made Ari Diasih, mahasiswi Jurusan Dharma Acarya Prodi Pendidikan Agama Hindu itu menjawab pertanyaan di atas. Ia mengatakan, dirinya tidak mengambil prodi tersebut karena berpikir prospek kerja sebagai lulusan Teologi Hindu tidaklah luas (banyak).

Alasan tersebut cukup masuk akal. Mengingat, kebanyakan pasar dunia kerja hari ini tidak terlalu melihat soal-soal kerohanian. Yang kebanyakan dilihat adalah skill yang benar-benar ada relevansinya dengan pekerjaan yang dibutuhkan.

Bahkan, perguruan tinggi sekarang seolah bukan lagi tempat untuk mengeksplor ilmu pengetahuan, tapi semata-mata menjadi tempat untuk mempersiapkan calon tenaga kerja yang dibutuhkan pasar. Semuanya bergerak untuk memenuhi pasar.

Selain pertimbangan prospek kerja, Ari juga beranggapan bahwa Prodi Teologi Hindu itu didominasi oleh mahasiswa yang menjadi Jro. “Oh iya, sebenarnya saya juga ragu akan kemampuan otak saya dalam memahami soal-soal kedewa-dewaan itu,” tambahnya sambil bercanda.

Berbeda dengan Ari, Ni Made Adhi Wedanti mengungkapkan bahwa dirinya tidak cocok masuk ke Prodi Teologi Hindu sebab merasa menjadi hamba Tuhan yang pembangkang—alasan yang agak mengada-ada sebenarnya.

“Saya pikir tidak cocok saya masuk prodi yang berbau ketuhanan. Dan sebenarnya, sedari awal memang ingin masuk Prodi Ilmu Komunikasi—yang menurut saya sesuai dengan kemampuan yang saya miliki,” kata mahasiswi Jurusan Dharma Duta Prodi Ilmu Komunikasi itu.

Sedangkan Putri Retno Wulandari berpendapat, sejak awal ia memang tidak kepikiran untuk memilih Prodi Teologi. “Aku hanya tahu Prodi Pendidikan dan Ilmu Komunikasi, karena aku tidak terlalu tahu soal agama,” ujarnya.

Memilih Prodi Teologi Hindu

Di lain pihak, Made Sukerta Yasa, mahasiswa semester 6 Teologi Hindu, menyampaikan alasannya memilih prodi ini karena sejak awal memang ingin menjadi seorang rohaniawan yang intelektual. “Untuk mengajarkan ajaran agama Hindu ke masyarakat, termasuk anak muda,” terangnya.

Mulia sekali. Ia mengaku memilih Prodi Teologi Hindu untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama Hindu, guna meningkatkan srada dan bakti masyarakat.

Ia berpendapat bahwa ini merupakan kesempatan bagus untuk memperkenalkan bahwa sesungguhnya ajaran ketuhanan atau ajaran agama Hindu secara umum itu tidak hanya bisa dipelajari oleh orang yang sudah tua saja, tetapi juga bisa dipelajari semua kalangan masyarakat.

Menurutnya, mindset seperti itu perlu ditanamkan pada diri anak muda zaman sekarang—yang kebanyakan berpikir kalau ajaran agama itu merupakan suatu proses yang berat dipahami dan hanya cocok untuk dipelajari oleh orang-orang yang sudah berumur saja.

“Zaman sekarang anak muda banyak yang tidak memahami ajaran agama Hindu. Jadi, banyak juga yang keliru. Saya memilih prodi Teologi Hindu juga dengan harapan dapat mengajegkan ajaran Hindu Bali melalui sastra maupun Weda,” tegas Sukerta.

Tetapi, hal itu menjadi wajar sebab pemuda yang berasal dari Bangli ini memang seorang Jro Mangku. “Jadi saya ingin menambah kepercayaan saya dalam beragama dan juga menamabah relasi. Saya ingin melanjutkan pendidikan sampai S2; ingin menjadi dosen agama sekaligus menjadi seorang rohaniawan,” ujar pemuda yang kerap disapa Dane Jro Penyarikan Duuran ini.

Peluang Kerja Lulusan Prodi Teologi Hindu

Jika salah satu alasan tidak memilih Prodi Teologi Hindu karena prospek kerja, lantas, apa saja peluang pekerjaan bagi lulusan Teologi Hindu?

Dikutip dari laman resmi STAHN Mpu Kuturan bagian penjelasan tentang Jurusan Brahma Widya, ada empat pekerjaan yang cocok bagi lulusan Teologi Hindu: 1) Sebagai Teolog; 2) Akademisi; 3) Peneliti; dan 4) Ahli Agama dan Konsultan Agama.

Hal senada juga disampaikan Kaprodi Teologi Hindu STAHN Mpu Kuturan, I Wayan Titra Gunawijaya, S.Fil., M.Ag. “Utamanya menjadi penyuluh agama Hindu untuk memberikan pemahaman mengenai ajaran agama yang sesuai dengan susastra Hindu,” ujarnya menjelaskan.

Ia juga membenarkan bahwa peluang karier dan pekerjaan utama dari seorang lulusan Teologi Hindu memang menjadi guru atau dosen agama baik formal maupun non formal. “Tetapi, sebenarnya tidak terbatas itu saja. Lulusan Teologi Hindu juga bisa menjalani karier lainnya. Misalnya sebagai penulis buku agama Hindu, konsultan keagamaan, peneliti publik, atau pemuka agama (rohaniawan),” tambahnya.

Sampai di sini, terlepas dari sedikitnya minat calon mahasiswa baru yang memilih Prodi Teologi Hindu, yang jelas, prodi yang memiliki visi mencetak lulusan yang berkarakter Tri Kaya Parisudha ini, tetap mampu mempertahankan keberadaannya atau eksistensinya hingga saat ini.

“Kami tetap gencar melakukan strategi, sosialisasi, pengenalan, supaya generasi muda tertarik untuk mendaftar ke prodi kami. Sebab, pelajaran teologi sangat penting,” ujar Titra.[T]

Reporter: Dewa Ayu Yuliarini, Kadek Sri Widiastuti, Kadek Risma Widiantari, dan Dyah Sri Khrisna Aryantini. Reporter adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Laris Manis Prodi PGSD di Perguruan Tinggi, Hitung-hitung Bisa Cepat Balik Modal
Bersiap Jadi Institut, STAHN Mpu Kuturan Sedia 1.025 Kursi Untuk Mahasiswa Baru
Nitya | Gadis Hindu Jawa yang Bintang Dharmawacana Itu Pilih Kuliah di Singaraja
Tags: balibulelengPendidikanSTAHN Mpu KuturanTeologi Hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rumput Odot, Penyelamat Peternak Sapi pada Musim Kering

Next Post

Istilah-istilah Seputar Kuliah yang Harus Diketahui Mahasiswa Baru, Khususnya di Undiksha

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

by Agus Wiratama
January 9, 2026
0
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

BERJUMPA dengan pelaku Gambuh Batuan, membuat saya bertanya: “Tubuh yang membentuk tari, atau tari yang membentuk tubuh? Karya yang membentuk...

Read moreDetails

Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

by Jaswanto
February 28, 2025
0
Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

SEBAGAIMANA Banyuwangi di Pulau Jawa, secara geografis, letak Pulau Lombok juga cukup dekat dengan Pulau Bali, sehingga memungkinkan penduduk kedua...

Read moreDetails

Kisah Pilu Sekaa Gong Wanita Baturiti-Kerambitan:  Jawara Tabanan Tapi Jatah PKB Digugurkan

by Made Adnyana Ole
February 13, 2025
0
Kisah Pilu Sekaa Gong Wanita Baturiti-Kerambitan:  Jawara Tabanan Tapi Jatah PKB Digugurkan

SUNGGUH kasihan. Sekelompok remaja putri dari Desa Baturiti, Kecamatan Kerambitan, Tabanan—yang tergabung dalam  Sekaa Gong Kebyar Wanita Tri Yowana Sandhi—harus...

Read moreDetails

Relasi Buleleng-Banyuwangi: Tak Putus-putus, Dulu, Kini, dan Nanti

by Jaswanto
February 10, 2025
0
Relasi Buleleng-Banyuwangi: Tak Putus-putus, Dulu, Kini, dan Nanti

BULELENG-BANYUWANGI, sebagaimana umum diketahui, memiliki hubungan yang dekat-erat meski sepertinya lebih banyak terjadi secara alami, begitu saja, dinamis, tak tertulis,...

Read moreDetails

Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi | Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco

by Jaswanto
February 3, 2025
0
Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi  |  Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco

ADA kisah pilu pada pertengahan Oktober 2023 lalu. Gadis (23) penyandang disabilitas rungu wicara diperkosa oleh kerabatnya sendiri yang berumur...

Read moreDetails
Next Post
Istilah-istilah Seputar Kuliah yang Harus Diketahui Mahasiswa Baru, Khususnya di Undiksha

Istilah-istilah Seputar Kuliah yang Harus Diketahui Mahasiswa Baru, Khususnya di Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co