25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas: Potret Kekerasan Terhadap Perempuan

Kadek Mitha Septiani by Kadek Mitha Septiani
February 27, 2023
in Ulas Buku
Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas: Potret Kekerasan Terhadap Perempuan

Novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas

Pagi itu saya berangkat menuju rumah kedua saya yaitu kampus, saat diperjalanan yang sangat ramai, saya tak sengaja melihat truk yang bak belakangnya berisi tulisan “Pulang Malu Tak Pulang Rindu” berisikan gambar wanita cantik dan tubuhnya seksi dambaan semua para lelaki mata keranjang.

Saat melihat gambar itu, saya ingat dengan novel yang berjudul “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas” karya Eka Kurniawan. Novel ini menggambarkan kisah laki laki yang memperjuangkan kejantanan yang ia miliki agar dapat terbangun dari kerasnya dunia dan mengisahkan kekerasan yang dialami oleh perempuan.

Novel “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas” karya Eka Kurniawan ini berlatar tahun 80 hingga awal 90-an. Tak hanya tentang kisah cinta sang jagoan, novel karya Eka Kurniawan ini juga adalah bentuk pemikiran penulis dari toxic masculinity dan juga kekerasan seksual yang banyak terjadi pada zaman revolusi hingga saat ini.

Ada suatu bagian utuh yang tercermin dari kepuasan dan juga penjajahan, salah satunya bisa dilihat dan menonjol yaitu kekerasan seksual. Tidak hanya itu, kekerasan yang terdapat dalam novel ini mengenai kekerasan psikologis, kekerasan fisik, kekrasan secara finalsial dan kekerasan spiritual.

Judul “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas” ini dengan jelas mencerminkan bahwa hasrat akan sesuatu. Kata dendam pun memiliki arti yang hadir bersamaan dengan kata rindu, yang dimana rindu dendam memiliki arti sangat birahi atau menaruh cinta kasih pada seseorang.

Hasrat akan sesuatu seperti kesenangan, dendam, pemenuhan, kuasa, rindu, dan lainnya. Dengan demikian, istilah rindu-dendam dari judul novel tersebut merupakan makna hasrat untuk melakukan sesuatu.

Awal cerita dari novel “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas” ini bermula dari suatu kisah yang tragis seorang tokoh laki-laki yang impoten, akibat dari masa kecilnya yang menyaksikan perbuatan keji yang dilakukan oleh dua aparat yang tak punya naluri dan otak, dengan memperkosa Rona Merah, seorang wanita yang sudah mengalami gangguan jiwa.

Tokoh laki-laki tersebut yaitu Ajo Kawir. Seorang laki-laki yang sudah tidak memiliki keluarga yang utuh, namun memiliki sahabat yang baik dan sudah menganggapnya sebagai saudara kandung. Ajo Kawir digambarkan dalam karakter yang pemberani dan selalu menyelesaikan masalahnya dengan kekerasan yaitu perkelahian.

Namun di satu sisi Ajo Kawir merasakan hasrat seksual yang tak bisa terlampiaskan, karena burung yang tertidur sepanjang masa, membuat Ajo Kawir merasa tak pantas untuk mencintai seseorang, sehingga ia berfikir hanya orang yang tidak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati. Kekerasan fisik sudah dialami Ajo Kawir sejak menginjak masa remaja, karena Ajo Kawir memiliki hobi berkelahi.

Tokoh Ajo Kawir tak pernah luput dari suatu konflik kekerasan yang dialaminya, namun Ajo melakukan suatu kekerasan, karena ia merasa bahwa hal tersebut memang salah dan harus diselesaikan dengan perkelahian bahkan sampai bertumpah darah. Kekerasan demi kekerasan sudah dilihat dengan mata telanjang, sehingga membuat Ajo Kawir sangat geram dan ingin membunuh seseorang yang sudah melakukan perbuatan bejat tersebut.

“Si Pemilik Luka menghampirinya, berdiri di belakangnya, melingkarkan tangannya ke tubuh Rona Merah. Ia meremas dadanya perlahan. Telapak tangan Si Pemilik Luka bergerak seperti pengrajin keramik bermain-main dengan tanah liat, berputar- putar mengikuti bentuknya. Rona Merah mengerang. Si Pemilik Luka mencium ubun- ubun perempuan itu, sementara tangannya bergerak semakin lama semakin kencang.”(SDRHDT hlm 25)

“Si Pemilik Luka terhuyung, tapi ia sempat menangkap Rona Merah dan menahannya di meja. Rona Merah berontak namun Si Pemilik Luka naik ke meja dan menindihnya. Rona Merah memekik pendek, Si Pemilik Luka menampar wajahnya sambil berseru, “Diam, Sinting!. Dengan rakus Si Pemilik Luka kembali menjilati dada Rona Merah. Sesekali ia membenamkan wajahnya di sana sementara Si Perempuan meronta-ronta.”(SDRHDT hlm 26)

Dilihat sudut pandang yang berbeda, novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas mengsuguhkan kisah kekerasan yang dialami oleh tokoh perempuan, yang mengalami kekerasan pada masa lalunya, sehingga membuat seorang wanita tersebut memiliki sisi atau sifat maskulinitas dalam dirinya yang sudah ditanam sejak dini. Tokoh tersebut adalah Iteung.

Iteung memiliki masa lalu yang suram, karena perbuatan seorang guru yang bejat dan keji, ia mengalami kekerasan seksual saat SMA, sehingga Iteung berfikir untuk mengikuti les berkelahi dan meminta kepada orang tuanya untuk mendaftarkan ia les berkelahi disuatu pasraman. Tokoh Iteung ini berparas wanita cantik, namun memiliki jiwa laki-laki. Oleh karena itu menurut Iteung perkelahian hanya untuk melindungi diri sendiri dari laki-laki bejat.

“Kenapa kamu ingin belajar berkelahi?” “Aku ingin melindungi ini.” Ia menunjuk satu titik dipangkal kedua pahanya.”(SDRHDT hlm 168)

Dikisahkan juga tokoh Ajo Kawir yang impoten bertemu dengan tokoh Iteung yang cantik, namun pemberani, berawal dari Ajo Kawir ingin membunuh Pak Lebe seorang laki-laki yang sudah menodai seorang janda kampung tempat tinggalnya, sehingga Ajo Kawir tidak terima perbuatan mesum dan bejat tersebut, Ajo ingin menghabisi Pak Lebe, namun dihalau oleh Iteung, karena Iteung menjadi anak buah dari Pak Lebe. Dari kejadian tersebutlah muncul benih-benih cinta Ajo Kawir kepada Iteung.

Tokoh Ajo Kawir dan Iteung ini memiliki persamaan masa lalu yaitu kekerasan seksual dan kekerasan fisik, maka tak disalahkan penulis mentomini hasrat kekerasan yang dibangun oleh kedua tokoh tersebut sehingga cerita dalam novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas dapat membangunkan jiwa sang pembaca.

“Ia berbaring di tempat tidur dan menangis. Pak Lebe sudah menanggalkan pakaiannya, Ia berharap tak perlu melihat Pak Lebe, tapi lelaki itu menyentuh wajahnya, membuatnya terpaksa melihat wajah lelaki itu. Ia kembali menangis dan Pak Lebe tersenyum.”(SDRHDThlm 45).

Novel karya Eka Kurniawan ini lebih banyak menjelaskan tentang kekerasan pada seorang wanita pada zaman dahulu, karena faktor kemiskinan yang dialami, seperti cerita yang terdapat didalam novel ini seorang janda yang tidak bisa membayar kontrakannya, sehingga harus membayar dengan tubuh yang ia miliki.

Pada zaman dulu payung hukum belum jelas terlihat dan teratur mengenai kekerasan pada perempuan, dan masyarakat pun enggan untuk melaporkan kejadian-kejadian yang terkadang sudah melanggar hak-hak kemanusian. Sehingga dalam novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas ini, terlihat nilai sosial dan budaya sangat tidak terjalin. Eka Kurniawan sangat mengkemas cerita ini dengan baik, sehingga para pembaca terhanyut dan terbawa kemasa lalu pada tahun 80 sampai awal 90-an.

Pembahasan mengenai kekerasan pada perempuan berlatar belakang tahun 80-90an sangat tergambarkan pada novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, karya Eka Kurniawan, yang dimana seorang perempuan hanya menuruti apa perintah laki-laki yang ia cintai dan mau melakukan apapun, jika sudah terdesak dalam kondisi yang amat sulit terselesaikan.

Namun Novel karya Eka Kurniawan ini juga membubuhi karya-karyanya dengan bersifat maskulin yakni digambarkan tokoh Iteung. Kaum perempuan dalam Novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas adalah salah satu objek penceritaan, Kehadiran perempuan dalam karya sastra Eka Kurniawan merupakan bagian dari upaya merefleksikan permasalahan kehidupan yang ada dalam masyarakat.

Permasalahan Perempuan, baik individu maupun kelompok dalam karya sastra dipandang sebagai masalah kemanusiaan yang penting berhubungan dengan kedudukan dan hak-hak perempuan.

Pada dasarnya dunia tidak pernah ramah bagi perempuan, perempuan bukanlah objek seksual bukan pula sebagai pemuas birahi, perempuan sudah seharusnya dihargai, bukan lantas disakiti oleh manusia yang tak punya hati. Dimata mereka tubuh perempuan sangat rentan mudah dikuasai dan bahkan sampai dinikmati.

“Yang melahirkan peradaban tidak pantas untuk dilecehkan“ [T]

Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan
Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami
Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini
Tags: Eka KurniawannovelSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Drama Gong Lawas Bersiap Tutup Bulan Bahasa Bali V Tahun 2023 di Taman Budaya Bali

Next Post

“Meme”, Jendela Kebebasan Berekspresi Anak Muda Indonesia

Kadek Mitha Septiani

Kadek Mitha Septiani

Lahir di Singaraja, 2003. Sekarang tinggal bersama keluarga di Banyuasri Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng. Terdaftar sebagai Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Gemar menulis puisi bahasa Indonesia dan Bahasa Bali, serta gemar mejejahitan Janur Bali.

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
“Meme”, Jendela Kebebasan Berekspresi Anak Muda Indonesia

“Meme”, Jendela Kebebasan Berekspresi Anak Muda Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co