4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas: Potret Kekerasan Terhadap Perempuan

Kadek Mitha Septiani by Kadek Mitha Septiani
February 27, 2023
in Ulas Buku
Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas: Potret Kekerasan Terhadap Perempuan

Novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas

Pagi itu saya berangkat menuju rumah kedua saya yaitu kampus, saat diperjalanan yang sangat ramai, saya tak sengaja melihat truk yang bak belakangnya berisi tulisan “Pulang Malu Tak Pulang Rindu” berisikan gambar wanita cantik dan tubuhnya seksi dambaan semua para lelaki mata keranjang.

Saat melihat gambar itu, saya ingat dengan novel yang berjudul “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas” karya Eka Kurniawan. Novel ini menggambarkan kisah laki laki yang memperjuangkan kejantanan yang ia miliki agar dapat terbangun dari kerasnya dunia dan mengisahkan kekerasan yang dialami oleh perempuan.

Novel “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas” karya Eka Kurniawan ini berlatar tahun 80 hingga awal 90-an. Tak hanya tentang kisah cinta sang jagoan, novel karya Eka Kurniawan ini juga adalah bentuk pemikiran penulis dari toxic masculinity dan juga kekerasan seksual yang banyak terjadi pada zaman revolusi hingga saat ini.

Ada suatu bagian utuh yang tercermin dari kepuasan dan juga penjajahan, salah satunya bisa dilihat dan menonjol yaitu kekerasan seksual. Tidak hanya itu, kekerasan yang terdapat dalam novel ini mengenai kekerasan psikologis, kekerasan fisik, kekrasan secara finalsial dan kekerasan spiritual.

Judul “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas” ini dengan jelas mencerminkan bahwa hasrat akan sesuatu. Kata dendam pun memiliki arti yang hadir bersamaan dengan kata rindu, yang dimana rindu dendam memiliki arti sangat birahi atau menaruh cinta kasih pada seseorang.

Hasrat akan sesuatu seperti kesenangan, dendam, pemenuhan, kuasa, rindu, dan lainnya. Dengan demikian, istilah rindu-dendam dari judul novel tersebut merupakan makna hasrat untuk melakukan sesuatu.

Awal cerita dari novel “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas” ini bermula dari suatu kisah yang tragis seorang tokoh laki-laki yang impoten, akibat dari masa kecilnya yang menyaksikan perbuatan keji yang dilakukan oleh dua aparat yang tak punya naluri dan otak, dengan memperkosa Rona Merah, seorang wanita yang sudah mengalami gangguan jiwa.

Tokoh laki-laki tersebut yaitu Ajo Kawir. Seorang laki-laki yang sudah tidak memiliki keluarga yang utuh, namun memiliki sahabat yang baik dan sudah menganggapnya sebagai saudara kandung. Ajo Kawir digambarkan dalam karakter yang pemberani dan selalu menyelesaikan masalahnya dengan kekerasan yaitu perkelahian.

Namun di satu sisi Ajo Kawir merasakan hasrat seksual yang tak bisa terlampiaskan, karena burung yang tertidur sepanjang masa, membuat Ajo Kawir merasa tak pantas untuk mencintai seseorang, sehingga ia berfikir hanya orang yang tidak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati. Kekerasan fisik sudah dialami Ajo Kawir sejak menginjak masa remaja, karena Ajo Kawir memiliki hobi berkelahi.

Tokoh Ajo Kawir tak pernah luput dari suatu konflik kekerasan yang dialaminya, namun Ajo melakukan suatu kekerasan, karena ia merasa bahwa hal tersebut memang salah dan harus diselesaikan dengan perkelahian bahkan sampai bertumpah darah. Kekerasan demi kekerasan sudah dilihat dengan mata telanjang, sehingga membuat Ajo Kawir sangat geram dan ingin membunuh seseorang yang sudah melakukan perbuatan bejat tersebut.

“Si Pemilik Luka menghampirinya, berdiri di belakangnya, melingkarkan tangannya ke tubuh Rona Merah. Ia meremas dadanya perlahan. Telapak tangan Si Pemilik Luka bergerak seperti pengrajin keramik bermain-main dengan tanah liat, berputar- putar mengikuti bentuknya. Rona Merah mengerang. Si Pemilik Luka mencium ubun- ubun perempuan itu, sementara tangannya bergerak semakin lama semakin kencang.”(SDRHDT hlm 25)

“Si Pemilik Luka terhuyung, tapi ia sempat menangkap Rona Merah dan menahannya di meja. Rona Merah berontak namun Si Pemilik Luka naik ke meja dan menindihnya. Rona Merah memekik pendek, Si Pemilik Luka menampar wajahnya sambil berseru, “Diam, Sinting!. Dengan rakus Si Pemilik Luka kembali menjilati dada Rona Merah. Sesekali ia membenamkan wajahnya di sana sementara Si Perempuan meronta-ronta.”(SDRHDT hlm 26)

Dilihat sudut pandang yang berbeda, novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas mengsuguhkan kisah kekerasan yang dialami oleh tokoh perempuan, yang mengalami kekerasan pada masa lalunya, sehingga membuat seorang wanita tersebut memiliki sisi atau sifat maskulinitas dalam dirinya yang sudah ditanam sejak dini. Tokoh tersebut adalah Iteung.

Iteung memiliki masa lalu yang suram, karena perbuatan seorang guru yang bejat dan keji, ia mengalami kekerasan seksual saat SMA, sehingga Iteung berfikir untuk mengikuti les berkelahi dan meminta kepada orang tuanya untuk mendaftarkan ia les berkelahi disuatu pasraman. Tokoh Iteung ini berparas wanita cantik, namun memiliki jiwa laki-laki. Oleh karena itu menurut Iteung perkelahian hanya untuk melindungi diri sendiri dari laki-laki bejat.

“Kenapa kamu ingin belajar berkelahi?” “Aku ingin melindungi ini.” Ia menunjuk satu titik dipangkal kedua pahanya.”(SDRHDT hlm 168)

Dikisahkan juga tokoh Ajo Kawir yang impoten bertemu dengan tokoh Iteung yang cantik, namun pemberani, berawal dari Ajo Kawir ingin membunuh Pak Lebe seorang laki-laki yang sudah menodai seorang janda kampung tempat tinggalnya, sehingga Ajo Kawir tidak terima perbuatan mesum dan bejat tersebut, Ajo ingin menghabisi Pak Lebe, namun dihalau oleh Iteung, karena Iteung menjadi anak buah dari Pak Lebe. Dari kejadian tersebutlah muncul benih-benih cinta Ajo Kawir kepada Iteung.

Tokoh Ajo Kawir dan Iteung ini memiliki persamaan masa lalu yaitu kekerasan seksual dan kekerasan fisik, maka tak disalahkan penulis mentomini hasrat kekerasan yang dibangun oleh kedua tokoh tersebut sehingga cerita dalam novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas dapat membangunkan jiwa sang pembaca.

“Ia berbaring di tempat tidur dan menangis. Pak Lebe sudah menanggalkan pakaiannya, Ia berharap tak perlu melihat Pak Lebe, tapi lelaki itu menyentuh wajahnya, membuatnya terpaksa melihat wajah lelaki itu. Ia kembali menangis dan Pak Lebe tersenyum.”(SDRHDThlm 45).

Novel karya Eka Kurniawan ini lebih banyak menjelaskan tentang kekerasan pada seorang wanita pada zaman dahulu, karena faktor kemiskinan yang dialami, seperti cerita yang terdapat didalam novel ini seorang janda yang tidak bisa membayar kontrakannya, sehingga harus membayar dengan tubuh yang ia miliki.

Pada zaman dulu payung hukum belum jelas terlihat dan teratur mengenai kekerasan pada perempuan, dan masyarakat pun enggan untuk melaporkan kejadian-kejadian yang terkadang sudah melanggar hak-hak kemanusian. Sehingga dalam novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas ini, terlihat nilai sosial dan budaya sangat tidak terjalin. Eka Kurniawan sangat mengkemas cerita ini dengan baik, sehingga para pembaca terhanyut dan terbawa kemasa lalu pada tahun 80 sampai awal 90-an.

Pembahasan mengenai kekerasan pada perempuan berlatar belakang tahun 80-90an sangat tergambarkan pada novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, karya Eka Kurniawan, yang dimana seorang perempuan hanya menuruti apa perintah laki-laki yang ia cintai dan mau melakukan apapun, jika sudah terdesak dalam kondisi yang amat sulit terselesaikan.

Namun Novel karya Eka Kurniawan ini juga membubuhi karya-karyanya dengan bersifat maskulin yakni digambarkan tokoh Iteung. Kaum perempuan dalam Novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas adalah salah satu objek penceritaan, Kehadiran perempuan dalam karya sastra Eka Kurniawan merupakan bagian dari upaya merefleksikan permasalahan kehidupan yang ada dalam masyarakat.

Permasalahan Perempuan, baik individu maupun kelompok dalam karya sastra dipandang sebagai masalah kemanusiaan yang penting berhubungan dengan kedudukan dan hak-hak perempuan.

Pada dasarnya dunia tidak pernah ramah bagi perempuan, perempuan bukanlah objek seksual bukan pula sebagai pemuas birahi, perempuan sudah seharusnya dihargai, bukan lantas disakiti oleh manusia yang tak punya hati. Dimata mereka tubuh perempuan sangat rentan mudah dikuasai dan bahkan sampai dinikmati.

“Yang melahirkan peradaban tidak pantas untuk dilecehkan“ [T]

Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan
Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami
Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini
Tags: Eka KurniawannovelSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Drama Gong Lawas Bersiap Tutup Bulan Bahasa Bali V Tahun 2023 di Taman Budaya Bali

Next Post

“Meme”, Jendela Kebebasan Berekspresi Anak Muda Indonesia

Kadek Mitha Septiani

Kadek Mitha Septiani

Lahir di Singaraja, 2003. Sekarang tinggal bersama keluarga di Banyuasri Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng. Terdaftar sebagai Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Gemar menulis puisi bahasa Indonesia dan Bahasa Bali, serta gemar mejejahitan Janur Bali.

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
“Meme”, Jendela Kebebasan Berekspresi Anak Muda Indonesia

“Meme”, Jendela Kebebasan Berekspresi Anak Muda Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co