6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pura Subak | Cerpen DN Sarjana

DN Sarjana by DN Sarjana
December 18, 2022
in Cerpen
Pura Subak | Cerpen DN Sarjana

ilustrasi tatkala.co

“Bapa Kelian, jangan tenget ya. Subak ini bukan milik Bapa. Jangan sok-sok Bapa membela Pura Subak?”

Bapa Darma, kelian subak yang biasa juga dipanggil dengan nama Bapa Kelian hanya diam mendengar kata-kata I Wayan Degag di tengah paruman atau rapat warga subak.

“Biar Bapa tahu, jangankan Pura Subak, rasanya tanah carik, tanah sawah, semua di subak ini kalau dijual akan dibayar oleh investor. Kok Bapa repot. Bapa duduk manis sudah dapat persenan. Uang warna merah akan bertumpuk-tumpuk di semua saku baju dan celana Bapa!”

I Wayan Degag yang penampilan parlente itu terus berkotbah di depan Bapa Darma dan pengurus subak yang lain. Tangannya penuh cincin dengan permata batu akik. Di lehernya bergelayut kalung emas. I Wayan Degag dengan mulut berbuih terus merayu kelian subak agar mau memindahkan Pura Subak ke tempat lain.

Pura Subak memang sangat strategis tempatnya. Ajakan untuk menjual dan memindahkan Pura Subak sudah sejak lama didengar Bapa Darma. Banyak makelar mendatanginya. Ada yang secara halus, tapi ada juga bernada keras, seperti mengancam. Dengan memindahkan Pura Subak, maka siapa pun, terutama investor, akan mudah membuat jalan menuju areal persawahan di belakang. Jika jalan sudah dibangun maka tanah sawah di belakang Pura Subak satu persatu akan mudah juga untuk bisa dijual.

“Yan, coba duduk dulu. Tidak bagus berdiri seperti itu. Lihat orang-orang tua duduk bersila. Belajarlah menghormati orang tua,” kata Bapa Darma kepada I Wayan Degag dengan suara halus.

I Wayan Degag duduk setelah membuang putung rokok dengan sembarangan.

“Wayan Degag. Bapa mengerti. Apa yang Wayan sampaikan tadi benar. Namanya pengusaha pasti uangnya banyak,” kata Bapa Darma.

“Terus, kenapa Bapa tidak setuju? Apa Pura itu milik Bapa? Bapa sibuk jadi kelian subak mengajak karma subak membersihkan plastik berserakan di parit. Terus apa yang Bapa dapat?”

Wayan Degag memotong pembicaraan tanpa memikirkan perasaan orang tua yang diajak bicara. Kelihatan krama subak sangat kesal. Satu persatu berdiri, terus meninggalkan paruman. Wayan Degag bengong. Dikiranya orang-orang tua merasa takut kepada orang seperti Wayan Degag, ternyata tidak.

“Yan, sudah lihat. Krama sudah pulang. Mau bicara apa lagi?”

Bapa Darma menyentil, dan meninggalkan Wayan Degag. Wayan Degag bengong sendirian. Tatapan matanya kosong. Ia kesal. Bayangan uang ratusan juta yang sudah di depan mata ternyata tidak mudah didapat.

[][][]

Setelah menikmati makan siang, Bapa Darma merebahkan tubuhnya di bale-bale. Tatapan matanya lurus ke depan tapi lemah, seolah menyimpan beban yang berlebih. Bapa Darma sudah tiga puluh tahun menjadi kelian subak, dan sejak lima tahun ini merasa bebannya begitu berat.

Sejak peruamahn dibangun dengan memanfaatkan subak tegalan, subak sawah di Subak Yeh Telu juga kena dampaknya. Para pemilik modal mencari tanah lain untuk pengembangan pemukiman. Padahal Subak Yeh Telu merupakan subak sawah yang menjadi tulang punggung bagi kelangsungan penghidupan dari lima banjar.

Warga di banjar itu rata-rata memiliki sawah kisaran tiga puluh are. Panen di Subak Yeh Telu jarang sekali gagal. Dari namanya sudah disebut Yeh Telu. Air yang mengalir di subak ini bersumber dari tiga mata air, sehingga rata-rata panen tiga kali setahun.

“Kalau jabatan Kelian Subak ini diserahkan kepada orang lain, lalu siapa tugas itu diserahkan? Teman-teman petani sudah pada tua.” Bapa Darma ngomong sendirian.

“Mengapa ngomong sendiri, Bli. Kalau tidur, ya tidur. Tidurlah, nanti sore biar sehat agar bisa mencarikan rumput untuk sapi,” kata istri Bapa Darma tiba-tiba.

Bapa Darma terkejut mendengar suara istrinya. Dia terbangun.

“Pikiranku tidak tenang, Men Iluh. Tadi I Wayan Degag sedikit mengancam di paruman,” kata Bapa Darma.

“Tentang apa, Bli?”

Bapa Darma menceritakan apa yang dialaminya. Kecut wajah istri Bapa darma mendengar keluhan suaminya.

“Begini saja, Bli. Serahkan jabatan Kelian Subak. Bli kan sudah tua. Tidak boleh berpikir berat. Bisa struk,” kata istri Bapa Darma.

“Terus bagaimana nasib sawah-sawah nanti?”

“Ya, mau apa lagi. Bli kan tidak ada apa-apanya buat mereka. Kita terlalu kecil bagi mereka yang punya uang. Kalau tanah kita masih bisa dipertahankan, ya pertahankan tanah sawah Bli saja.”

Begitulah percakapan berlangsung. Tidak terasa sudah sore. Bapa Darma pergi ke sawah menyabit rumput, sambil menghalau burung di sawah. Waktu terus berlalu. Kehidupan di Subak Yeh Telu berlangsung normal. Dua bulan lagi panen pertama di bulan Mei akan berlangsung. Tampak buah padi sudah kelihatan besar. Di sudut-sudut sawah, banyak sesaji yang dihaturkan. Memang ada yang memulai ngerasak, sebagai wujud syukur padi sudah selamat.

Bunyi kentongan jelas terdengar. Ibu-ibu dengan setia menghalau burung-burung. Ada juga dengan mengikat plastik warna-warni yang ditarik-tarik sehingga burung pada terbang.

[][][]

Musim panen telah berlalu. Seperti biasa sawah harus dibiarkan selama satu bulan menunggu waktu tepat untuk memulai kerja di sawah. Petani banyak yang bekerja jadi tukang bangunan agar tetap mendapat penghasilan.

Beda dengan Bapa Darma. Dia tiap hari pergi ke sawah karena hanya itu satu-satunya pekerjaannya. Sambil duduk di sawah dia melihat banyak orang bergerombol. Tidak ada yang dia kenal. Tapi di situ dilihatnya Wayan Degag.

Bapa Darma mencoba mendekat.

“Bapa Darma, ini pekerjaan kecil bagi saya. Bapa Doglar sudah menjual sawahnya. Jalan akan diambil dari sini. Melingkar untuk mencari sawah di dalam. Sawah Bapa urus saja sendirian. Sudah tidak perlu,” kata Wayan Degag.

Muncul rasa amarah yang luar biasa di hati Bapa Darma. Tapi dia sadar tidak bisa berbuat apa karena umur sudah tua. Pelan dia menjawab, “Ya, Wayan. Kalau sudah semua sepakat, Bapa tidak bisa melarang karena itu hak mereka menjual.”

“Begitu dah, Baa. Sekarang sudah beres. Milik Bapa biar dah sendirian. Mudah-mudahan ada jalan untuk ke sawah. Tanah di sekeliling Bapa akan semua dipagari.”

Wayan Degag seenaknya meninggalkan Bapa Darma, sambil memegang meteran gulung. Dia bergerak ke sana ke mari membentangkan meteran.

[][][]

Enam bulan sudah berlalu. Bapa Darma merasa ditipu dan sedih melihat pematang sawah sudah hancur. Tidak lagi bisa dikenali sawah milik siapa. Yang masih bertahan hanyalah sawah Bapa Darma, Men Rentug, dan Pan Ciri.

Sawah-sawah itu semua berada di kisaran Pura Subak. Sebagian lagi berada jauh di pinggiran. Mungkin biaya untuk merawat mahal.

Waktu terus berlalu. Sawah yang dulunya menghijau, kini ditumbuhi oleh rumah-rumah. Tidak ada lagi tempat untuk bercengkrama dengan para tetua di sawah. Tidak ada lagi cericit suara burung berkicau. Tiada lagi anak-anak bermain layang-layang.

Bapa Darma merasa sedih. Yang paling berat dia pikirkan adalah dari mana kini dia dan kawan-kawan masuk untuk melaksanakan upacara di Pura Subak. Jalan ke Pura Subak tertutup pagar.

“Tuh Hyang Widhi. Hyang Dewi Sri. Kuatkan hambamu untuk menjaga tempat sucimu!” Bapa Darma bicara sendiri.

Tabanan, 23-10-2022

Merpati Merah | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Improvisasi Tokoh 1 | Cerpen Nyoman Sukaya Sukawati
“Sakit Gegaen Anak” | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dendeng Asap Babi Hitam dari Desa Panji, Nyaem, Nyaem…

Next Post

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

DN Sarjana

DN Sarjana

Guru. Ketua PGRI Tabanan

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co