14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Adham T. Fusama Merancang Cerita?

Wendy Fermana by Wendy Fermana
December 1, 2022
in Persona
Bagaimana Adham T. Fusama Merancang Cerita?

Adham T. Fusama | Sumber foto: https://instagram.com/indonesianauthor

BEBERAPA BULAN LALU, saya tiba di Kota Bogor untuk sebuah pekerjaan. Ketika melintasi dua ikon kota ini, saya memotret Tugu Kujang dan Gerbang Ampat. Dengan mengandalkan pengetahuan minim dan menelusuri mesin pencarian, saya menerjemahkan sekenanya makna tulisan yang diukirkan di gerbang akbar tersebut.

Saya mengunggahnya ke Instagram. Beberapa mengomentari keberadaan saya dan arti kata itu. Sampai kemudian akun @indonesianauthor mampir dalam direct mesage. “Saya di Bogor. Ayo ketemu.” Saya berjanjian dengan dua orang kawan, tetapi ternyata mereka ada kerjaan lain. Saya kok baru sadar ternyata Adham T. Fusama a.k.a. A. Mustafa berasal dan kembali bermukim di Kota Bogor. 

Malam hari, usai kegiatan, saya dijemput Adham untuk nongkrong. Ia kebingungan, mencari-cari kafe yang masih buka di malam hari. Kebanyakan sudah close order. Kami pun menepi ke sebuah warung kopi. Di sanalah saya dan Adham bercakap-cakap. Saya mencatat obrolan bersama sang penulis dan penyunting tangguh asal Kota Bogor ini. 

Bagaimana kamu pertama kali menulis?

Semuanya dimulai dari dongeng. Saat kelas dua SD, saya mendapat tugas disuruh menulis dongeng. Tugas itu saya tulis berdasarkan hasil penuturan almarhum nenek. Saat kecil itu juga, saya sering dibacakan buku dongeng oleh orang tua. Setelah diingat sekarang, ternyata saya menulis dulu, baru kemudian membaca. Bacaan masa kecil saya dimulai dengan komik. 

Kalau pertama kali memutuskan untuk serius di dunia menulis?

Saya menyeriusi menulis saat kuliah. Saat itu ingin sekali menulis novel, tetapi tak pernah berhasil.

Lulus dari FISIP Hubungan Internasional (HI), saat orang-orang melamar kerja ke kedubes, dengan impian menjadi diplomat, saya justru melamar dan bekerja di Transmedia Pustaka. Saya tidak lama di sana karena alasan tertentu. Namun, saya melihat di grup penerbitan itu, ada penerbit dan insan-insan penerbit yang bersinar. Saya kenal banyak penulis yang kini jadi sohib bermula dari sana. Lalu, saya pindah ke Rak Buku. Tak lama kemudian, saya ke Bentang Pustaka. 

Selama dua setengah tahun di Bentang Pustaka, saya memegang naskah, sampai kemudian saya menyunting Supernova. 

Apa saja pengalaman problematik saat menjadi editor di penerbitan?

Saya ikut dalam kuratorial dan menolak naskah. Misalnya, saya menolak naskah Qwertyuiop karya Asdfghjkl (Adham menyebut judul buku dan nama seorang penulis). Meskipun, kemudian naskah ini terbit di penerbit lain.

Kenapa ditolak? 

Tidak cocok saja dengan Bentang Pustaka. Genrenya crime thriller dan berdarah-darah. Genre ini memang sulit dijual. Dan setiap penerbit tentu punya fokus tertentu.

Apa yang laku saat itu? 

Kalau ditanya, apa yang laku, sepertinya tetap sama, romance, drama keluarga, dan cerita-cerita yang uplifting.

Setelah tidak lagi bekerja sebagai editor di penerbitan, kamu sibuk di media, boleh cerita sedikit soal kesibukanmu?

Saya sekarang bekerja di sebuah studio televisi kecil di Bogor. Ini tempat terlama saya bekerja. Saya sudah di sini empat tahun mulai 2018 sampai sekarang 2022. 

Kenapa bisa lama bertahan? Karena pulang ke rumah?

Ya, saya merasa nyaman berada dekat dengan keluarga. Namun, yang utama tempat kerjanya bikin saya betah. Meskipun ya karena bos saya orang Kanada dan belakangan setelah pandemi berakhir dia kembali lagi ke sana, saya jadi memiliki jam-jam kerja yang unik. Saya jadi mesti meeting di jam-jam yang mestinya saya tertidur.

Adham T. Fusama menunjukkan buku saat bercakap-cakap | Foto: Wendy Fermana

***

Bagaimana jam membacamu?

Sekarang semuanya tidak lagi sama. Jam membacaku hanya setelah pulang kerja. Kini tanpa target. Membaca satu buku dalam satu bulan saja sudah alhamdulillah. Tapi, untuk membaca komik pasti kelar. 

Saya baru saja beres membaca kumpulan cerpen Risda Nur Widia. Sekarang sedang baca novel terjemahan Zxcvbnm (Adham menyebut nama sebuah penerbit). Ini penerbit yang kadang punya terjemahan yang asyik, kadang parah. Contohnya ini, mereka menerjemahkan ‘rumah miskin’, kupikir ini asalnya pasti poor house. Atau ada banyak sekali kata ‘wah’. Setiap kata wah ini pasti di bahasa aslinya dari kata well. Jadi, jengkel sekali. Memang menerjemahkan itu tidak gampang, begitu pula dengan menyunting terjemahan.

Kalau diingat-ingat, saya juga pernah begini. Kalau kamu baca buku Poiuytrewq karya Lkjhgfdsa (Adham menyebut judul buku dan nama penulis), terjemahannya payah sekali. Saya juga pusing membereskannya. Karena terlalu banyak, saya biarkan saja. Saya juga merasa berdosa, tapi ya mau bagaimana lagi.

Kalau menulis, sekarang bagaimana?

Saya sedang dalam proses menulis. Saat ini sedang lancar-lancarnya. Kemarin-kemarin, menulis tiga ide lama, baru halaman 20-an sudah stuck.

Bagaimana menulisnya? Apakah sudah merancang struktur?

Saya sudah bikin struktur. Namun, strugle-nya adalah memulai. Seperti kali ini, setelah sepuluh kali merombak awalan, alhamdulillah puas dan baru kemudian lanjut.

Jadi, menurutmu kata pertama, kalimat pertama, paragraf pertama, bab pertama, akan sangat menentukan?

Kadang bab pertama sudah sangat bagus, tapi ternyata tidak bisa melancarkan bagian selanjutnya. Barangkali bagus secara teks. Namun, konteksnya yang ingin disampaikan malah tidak dapat. Sekarang sudah halaman 27. Enggak tahu akan berlanjut atau tidak. Semoga bisa sampai 50 halaman.

Bagaimana persiapan menulisnya? Ada struktur? Bisa memperkirakan panjangnya akan berapa?

Detail tidak, tapi peta sampai akhir sudah tahu. Berapa panjang halaman? Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman, saya memperkirakan sekitar 200 halaman, eh ternyata sampai 250 halaman. Yang sekarang di Gramedia Pustaka Utama saya kira 150 halaman beres, ternyata sampai 180 halaman.

Sekarang saya sedang menulis dan mengira akan menuliskannya dalam satu bab, ternyata terus sampai tiga bab. Akhirnya, saya menulis saja. Nanti kalau sudah tahap kuedit, saya bisa pangkas. 

Waktu menulis buku pertama, saya bikin rancangan yang detail sekali. Dulu saya belajar, karakter harus detail sampai zodiak, warna favorit, dan harus tahu makanan dan minuman kesukaan. Ujungnya mumet karena harus lihat catatan melulu.

Kemudian saat hendak menerbitkan ulang Kritikus Adinan, saya ketemu dan mengobrol dengan Pak Budi Darma. Kata Pak Budi, yang penting dari cerita itu ya ceritanya; tokoh, setting, tidak penting. Saya memaki-maki saat itu. Kata Pak Budi, tokoh, setting, apa pun itu hanya melayani cerita. Saya menyadari. Oh, ini ternyata yang membuat saya terkungkung dan tidak bisa melayani cerita. 

Nah, di Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman, saya sudah mulai memegang nasihat Pak Budi ini. Di Surat dari Kematian juga, saat menulis, saya tidak membuat karakterisasi Kinan dan Zein secara detail. Saya cuma tentukan tokoh ini secara umum seperti apa. Misalnya, Kinan lebih logis dan Zein lebih spiritual. Saat membentuk karakternya sambil jalan saja. Selain itu, tokoh utama dalam cerita saya biasanya berasal dari tokoh yang benar-benar ada. Jadi, lebih gampang membayangkannya. Saya pikir agak susah membentuk tokoh dari yang tidak ada.

Boleh ceritakan bagaimana kamu menemukan ide-ide cerita itu? Bagaimana proses kreatifmu?

Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman, saya dapat cerita itu tahun 2018 saat mendengar khotbah Jumat. Kemudian, saya menelusuri, mendatangi, dan mewawancari tokoh-tokohnya. Setelah itu, saya menulis. Saya mengerjakannya selama tiga bulan. Tapi tidak semuanya semulus itu.

(Adham lalu mengeluarkan laptop Lenovo warna hitam dari ranselnya. Ia menunjukkan sebuah folder. Di sana terdapat puluhan draf novel. Ia menunjuk satu judul.)

Ini “Pada Suatu Masa di Indonesia”. Kalau kamu ingat, Once Upon a Time in Hollywood atau Inglarious Bastards, saya ingin mengacak-acak sejarah semacam itu, tetapi tidak ada adegan gore-nya. 

Ini yang akan terbit di Gramedia Pustaka Utama?

Bukan. Yang akan terbit naskah “Ekspedisi Paus Yunus”. Ceritanya mengenai petualangan menyelam ke palung. 

Latarnya di mana?

Di laut. Ha-ha-ha. Di Bali, sih. Padahal saya tidak pernah ke Bali. Setting-nya di Bali, tapi di awal saja, kemudian mereka ini ke laut.

Sastra maritim ini ya?

Ha-ha-ha. Ini campuran antara Steven Spielberg, James Cameron, Wes Anderson, ketemu Disney, Pixar, ketemu Ghibli.

Kapan terbit?

Saya tidak yakin tahun ini, tapi semoga secepatnya. Saat ini, saya juga sangat menunggu naskah “Gerbang Dua Semesta” yang menang di Kwikku. Naskah itu sudah dua tahun dan saya harap sesegera mungkin diterbitkan. [T]

Royyan Julian: Aku Tidak Mau Meromantisasi Madura
Berbincang Tentang Buku dengan Okky Madasari: “Yang Penting Kamu Baca”
Tags: Adham T. FusamaLiterasinovelpenulisSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Momen-Momen Bahagia Guru di Hari Guru

Next Post

Piala Dunia Afrika Selatan 2010: Saat Musik dan Sepakbola Bersatu

Wendy Fermana

Wendy Fermana

Lahir di Palembang, 10 November 1994. Ia menulis buku Kawan Lama (Teras Budaya Jakarta, 2017) dan Ratu Bagus Kuning (Balai Bahasa Sumatera Selatan, 2017). Saat ini, ia bergiat di Komunitas Kota Kata dan berkhidmat sebagai pengajar bahasa Indonesia di MTs Negeri 1 Lubuklinggau. Ia dapat disapa di instagram @anamref.

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
Piala Dunia Afrika Selatan 2010:  Saat Musik dan Sepakbola Bersatu

Piala Dunia Afrika Selatan 2010: Saat Musik dan Sepakbola Bersatu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co