6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Pesan Kinan | Cerpen Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
September 24, 2022
in Cerpen
Membaca Pesan Kinan | Cerpen Teddy Chrisprimanata Putra

Ilustrasi tatkala.co | Karya I Kadek Wiradinata

Suara kesakitan terdengar sayup-sayup dari pinggir kota yang masih basah karena hujan. Itu suara Satya. Lengan kanannya dipenuhi luka. Darah segar mengalir dari ujung bibirnya. Pandangannya mulai mengabur, suara-suara semakin samar, rasa sakit mulai menguasai tubuhnya, kemudian hanya gelap sejauh mata memandang.

Satya kini terbaring di kamar kos.  Rasa sakit masih ia rasakan. Ia dipersilakan pulang setelah sempat menerima perawatan di rumah sakit.

Matanya menangkap Tilem duduk dengan tatapan yang tajam ke layar laptop.

“Aku yakin ini akibat dari berita yang kau tulis beberapa waktu lalu,” kata Tilem kemudian membaca berita yang ia maksud.

***

Diduga Alami Kekerasan Seksual, Seorang Mahasiswi Akhiri Hidup dengan Menenggak Racun Serangga

Kota B, Suara Pos – Seorang mahasiswi berinisial SK ditemukan tewas di kamar kosnya, Senin (17/7/2017), diduga menerima kekerasan seksual.
Kapolsek Kota B, Dana Setiawan mengatakan, dugaan itu berdasarkan surat yang ditemui di meja belajar korban.
“Dari surat yang kami temukan, SK diduga menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh dosennya,” kata Dana.
Dana mengatakan, salah seorang temannya menemukan korban sudah dalam keadaan tidak bernyawa sekitar pukul 11.30.
“Saksi kembali ke kos karena korban tidak kunjung terlihat di kampus, setelah sampai di kamar korban, saksi telah mendapati korban dalam keadaan terbaring dengan cairan putih keluar dari mulutnya,” ujar Dana.
Jajaran Polsek Kota B tengah menyelidiki kasus bunuh diri yang diduga melibatkan dosen berinisial SP di salah satu perguruan tinggi ternama di Kota B.
“Dalam surat yang diduga ditulis korban, kronologis diceritakan secara rinci, dan lewat surat dan saksi-saksi yang ada, kami akan lakukan penyelidikan lebih lanjut,” tutur Dana.

***

“Ya. Aku pikir juga demikian,” kata Satya sembari melihat luka di lengan kanannya yang telah diperban.

“Kau terlalu berani untuk menyebutkan inisial terduga pelaku dalam berita.”

“Aku hanya menuliskan fakta. Tidak ada hal yang aku buat-buat.”

“Apa kau mendapatkan salinan surat yang ditulis korban?”

“Ya. Tentu saja,” seru Satya kemudian merogoh ranselnya.

“Ini dia!”

Satya kemudian menyodorkan lipatan kertas ke arah Tilem yang masih duduk di balik meja kerjanya.

***

Aku pikir ini adalah kesempatan terakhirku menceritakan apa yang aku alami selama 6 bulan belakangan. Pengalaman yang tidak pernah terlintas sebelumnya di kepala. Pengalaman yang membuatku terjebak di lorong kegelapan tanpa cahaya setitik pun, dan meninggalkan luka menganga di hati. Aku menyesal tidak menceritakan ini pada sahabatku, apalagi orang tua di kampung. Aku tak punya kuasa untuk membuka aib ini. Ketakutanku begitu besar. Aku tak mau membebani sahabat, apalagi orang tuaku dengan masalah yang datang ke hidupku.

Dr. Surya Prakasa ditakdirkan menjadi dosen pembimbingku. Saat itu hanya rasa syukur dan senang yang aku rasakan. Bersyukur karena terhindar dari dosen “killer”, senang karena banyak teman-teman perempuanku yang iri denganku, termasuk Melati—sahabatku. Mula-mula tidak ada yang aneh, semua berjalan seperti halnya seorang dosen yang membimbing mahasiswanya. Namun berbeda di pertemuan kedua, Pak Surya mulai memberi tatapan yang aku rasa memiliki maksud lain. Kemudian perlahan ia mendekatkan tubuhnya. Tangannya mulai menggerayangi pahaku begitu lahap. Aku pun tak kuasa bertahan setelah Pak Surya melontarkan ancaman. Tak main-main kelulusanku menjadi taruhannya.

Aku kehilangan kuasa atas tubuhku. Sepenuhnya direbut oleh Pak Surya. Pakaianku dilucuti begitu kasarnya. Tubuhku dibolak-balik seenaknya demi memuaskan nafsu berahinya. Lenguh dan senyum puasnya meninggalkan guratan luka dalam diri ini. Tidak hanya sekali, aku harus menyerahkan diri ini berkali-kali. Entah berapa lama, aku pun tidak mau mengingatnya. Sampai hal yang aku takutkan menghampiri. Pagi hari, seminggu sebelum ujian skripsi, aku merasakan hal aneh di tubuhku. Mual-mual tidak karuan. Apakah aku sedang tidak enak badan? Tapi aku punya kecurigaan lain soal ini, maka aku putuskan untuk membeli test pack sepulang dari kampus. Tak terasa air mata mengalir melewati kedua pipiku. Dua garis biru tampak jelas di alat itu. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku bicara jujur dan meminta pertanggungjawaban dari Pak Surya? Atau malah mengugurkan janin yang tumbuh di waktu yang salah?

Kembali aku menemui Pak Surya, pertemuan itu bertujuan untuk mempersilakannya menilai kesiapanku untuk ujian. Tapi tak berhenti di sana. Tubuhku kembali dilumat habis olehnya. Sari-sari kehidupan rasanya sudah tak tersisa dalam tubuh. Entah kekuatan dari mana, aku masih mampu mengatakan apa yang ingin aku minta darinya—orang yang memang harus bertanggung jawab atas semua ini. Kamu tahu apa jawabannya? Ia langsung menarikku dari ranjang, menyuruhku segera pulang dan bersiap untuk menggugurkan janin ini. “Setelah ujian, kamu ikut saya! Jangan sampai janin itu tumbuh lebih lama di dalam perutmu”. Sungguh perkataan yang menyakitkan.

Setelahnya, aku hanya bisa meratapi yang aku alami. Menangisi apa yang telah terjadi. Apa ini kesalahanku? Atau memang Tuhan menyiapkan skenario ini untukku? Tapi aku sudah memutuskan. Siapa pun yang membaca surat ini aku ucapkan terima kasih. Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku dan janin ini sudah tidak ada di dunia yang menyimpan beragam kenangan buruk.

Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya.

Sukma Kinanti

***

“Setelah ini kau harus berhenti, Sat!”

“Tidak! Aku akan melanjutkan dengan segala risikonya.”

***

Dua lelaki berbadan kekar dengan pakaian serba hitam masuk ke dalam sebuah rumah besar. Berbagai jenis bunga itu selalu siap menyambut setiap orang yang datang di rumah itu. Namun warna-warni bunga itu tak mencerminkan suasana hati si pemilik rumah hari ini.

Rumah itu milik Surya. Kedua alisnya bertemu begitu lama seperti dua orang saudara yang baru bertemu setelah sekian tahun terpisahkan. Kedua kakinya tak henti menghentak lantai tatkala dua orang berbadan kekar tersebut sudah duduk di hadapannya.

“Sudah kalian kasi pelajaran bocah itu?” kata Surya, kemudian menyodorkan sebuah amplop cokelat kepada dua lelaki itu.

“Aman, Pak!” kata salah satu dari lelaki itu sambil menghitung isi di dalam amplop cokelat.

“Oke. Kalau dia macam-macam lagi, kalian bersiaplah. Pasti pekerjaan akan datang lagi untuk kalian.”

“Siap, Bos!”

Dua orang itu pergi meninggalkan Surya yang masih duduk di tempatnya semula.

“Bisa-bisanya Kinan meninggalkan surat yang secara jelas menyebut namaku di dalamnya. Bisa habis karirku kalau enggak berbuat sesuatu!” ujar Surya kemudian menggebrak meja.

Semenjak Kinan memutuskan untuk bunuh diri, ketenangan menjadi barang langka dalam hidupnya. Setiap mengingat Kinan, ia langsung terlempar ke masa-masa ia memanfaatkan kuasanya sebagai dosen. Tak pernah ia bayangkan perempuan polos seperti Kinan berani mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya. Pemberitaan media berhasil memperkeruh keadaan. Apalagi kampus belakangan sudah bekerja sama dengan banyak pihak untuk mengungkap kasus ini.

Begitu banyak hal berloncatan di pikirannya. Apa yang akan terjadi dengan dirinya? Akankah ia diberhentikan sebagai dosen? Akankah ia berakhir di dalam jeruji besi? Atau ia harus mengakhiri hidup dan menyusul Kinan dan janinnya ke alam sana? Begitu banyak hal yang ia pikirkan sampai akhirnya ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang—saksi bisu pergulatannya bersama Kinan.

***

Beberapa langkah lagi Satya tiba di ruangan salah seorang pimpinan legislatif di daerahnya. Tekadnya bulat untuk melanjutkan, meski Tilem—sahabatnya bersikeras melarang.

Sesekali Satya menggosokkan kedua telapak tangannya agar terasa hangat. Tidak sering ia berada di ruangan sedingin ini. “Memang nyaman ya ruangan pejabat yang katanya mewakili rakyat,” pikirnya.

Ukiran burung Garuda yang diapit foto Presiden dan Wakil Presiden menghiasi tembok di belakang meja kerja pejabat yang akan ditemuinya. Beberapa menit sekali aroma-aroma lavender memenuhi ruangan yang dua kali lebih luas dari kamar kosnya. Konon aroma ini dapat mengurangi rasa cemas dan membuat tubuh menjadi rileks.

Tidak lama menunggu, pejabat yang ditunggu oleh Satya pun masuk dari pintu khusus. Senyum khas pejabat saat bertemu tamu menghiasi wajah Nyoman Prakasa—salah seorang pimpinan legislatif di daerahnya. Satya kemudian mengeluarkan alat perekam suara dan meletakkannya di atas meja.

“Jadi apa yang bisa saya bantu untuk seorang wartawan muda yang tampak begitu bersemangat ini?” ujarnya sambil menghempaskan tubuhnya di kursi kerja.

“Wah alangkah senangnya saya mendapat pujian dari seorang tokoh masyarakat seperti bapak.”

“Saya tidak punya banyak waktu, karena beberapa menit lagi sidang paripurna akan segera dimulai dan saya harus memimpin jalannya rapat, jadi langsung ke poin pertanyaan saja ya,” saran Nyoman Prakasa.

“Baik. Bagaimana tanggapan Bapak soal kasus bunuh diri seorang mahasiswi yang diduga terjadi akibat pelecehan seksual yang diterima dari seorang dosen beberapa waktu lalu?

Senyum yang sejak tadi menghiasi wajah Pak Nyoman mendadak dilalap kobaran api. Hilang, lenyap—diganti dengan tatapan tajam seolah ingin melenyapkan orang-orang yang berada di hadapannya. Tangannya langsung meraih kopi yang sudah disuguhkan bahkan sebelum ia duduk di kursinya. Wajahnya memerah, tangannya mencoba memperbaiki dasi yang sejak tadi sudah terpasang dengan baik.

“Kenapa kamu menanyakan hal itu pada saya?” jawabnya terbata-bata.

“Karena saya mendapatkan beberapa data yang mengatakan bahwa Bapak adalah kerabat dari oknum dosen tersebut.”

“Maksud saudara?!” Wajahnya makin memerah dan tubuhnya semakin mendekat ke bibir meja kerjanya.

“Jadi begini, kemarin saya mendapat data-data oknum dosen tersebut, sumbernya tidak saya sebutkan demi melindungi informan. Data tersebut menunjukkan bahwa Bapak Nyoman Prakasa adalah ayah kandung dari oknum dosen berinisial SR tersebut,” jelas Satya sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya.

Nyoman Prakasa meradang setelah dipojokkan oleh seorang anak muda yang baru lahir kemarin. Ia pun tidak bisa menahan diri untuk menggebrak meja kerjanya. Tatapannya semakin tajam ke arah Satya, seolah ingin membakar lawan bicaranya hingga tersisa debu yang dapat dibersihkan kapan saja.

“Siapa nama kamu?! Dari media mana kamu?!” tanya Nyoman dengan nada tinggi sambil menunjuk wajah Satya.

Bulir-bulir keringat mengucur di pelipisnya saat melihat respon dari pejabat di hadapannya. Ia memilih untuk meminum kopi yang telah tersuguh di depannya sebelum menjawab pertanyaan Nyoman Prakasa.

“Saya Satya, Pak. Saya dari Suara Pos,” Ia meletakkan kembali kopi di tempatnya semula.

“Lebih baik kamu keluar sekarang!” kata Nyoman Prakasa sambil menunjuk pintu keluar.

***

“TAK MAU BERI KETERANGAN, NYOMAN PRAKASA PILIH TINGGALKAN RUANGAN”

“Sudah gila kau, Sat?!!” bentak Tilem setelah membaca judul berita yang ditulis Satya.

“Kenapa gila? Aku tulis berdasarkan fakta yang ada.”

“Bahkan kau beberkan data yang kau dapat dari kampus. Itu bisa membahayakan pihak kampus, Sat!” kata Tilem sambil menunjuk-nunjuk dengan kasar koran di tangannya.

“Aku sudah menyamarkan sumber informasinya,” sahut Satya dengan cukup tenang.

“Argghh! Bingung aku hadapi kau, Sat. Sekarang kau harus jaga diri, kau kan tahu kalau Pak Nyoman itu terkenal sebagai preman dulu. Bahkan anak buahnya semakin banyak hari ini. Kalau dia tersinggung, bisa habis kau karenanya.”

“Hei, coba kamu tenang. Sepertinya kamu terlalu banyak menonton film, jadi khayalanmu kemana-mana.” Satya coba cairkan suasana.

“Ahh, terserah kau saja!”

Satya memungut koran yang dijatuhkan oleh Tilem. Membaca kembali berita yang telah ia tulis. “Menurutku tidak ada yang salah dari apa yang tertulis. Semua berbasis data dan fakta,” gumamnya. Ia melipat koran dan memasukkannya ke dalam tas.

***

Sinar cahaya bulan mempercantik tanaman bunga yang tumbuh di halaman rumah Surya Prakasa. Beberapa orang dengan tubuh kekar berpakaian serba hitam terlihat berdiri dan mendengar arahan dari dua orang yang sedang duduk di hadapannya. Bagai tantara yang mendapat tugas dari komandannya, orang-orang bertubuh kekar tersebut menjawab dengan kompak dan bubar setelahnya.

“Gara-gara ulahmu, karir Bapak terancam. Dasar anak goblok!”

“Mana Surya tahu kalau anak itu bakal ninggalin surat sebelum mati. Surya juga tidak menduga kalau hari ini masih ada wartawan yang seberani Satya.” Surya coba mengelak.

“Sudah tidak perlu diperpanjang. Bapak sudah komunikasi sama beberapa teman supaya kasusmu aman, dan sekarang tinggal urus satu serangga saja. Setelah itu, hidup kita bakal aman,” tegas Nyoman Prakasa kemudian meninggalkan Surya Prakasa.

***

Bruuaagghh….

Satya terlempar dari motornya. Sebuah mobil hitam menabrak bagian belakang motornya dengan kencang. Ia terjungkal cukup jauh. Tidak ada luka di tubuhnya. Jaket dan celana jeansnya robek di beberapa bagian. Ia bersyukur hari ini menggunakan pakaian yang serba menutupi tubuhnya. Ia pun bangkit mencari motornya yang terlempar entah kemana.

Bugh! Sebuah pukulan di kepalanya berhasil membuatnya tersungkur. Helmnya terlepas, menggelinding ke sembarang arah.

Arrgghh! Satya bangkit sembari menahan rasa sakit.

“Siapa kalian?” kata Satya kemudian terkesiap melihat empat orang berbadan kekar berdiri di hadapannya. “Mau apa kalian? Apa salah saya?” Satya mencoba mundur dan coba berlari. Namun salah seorang berbadan kekar berhasil menarik leher jaketnya dan kembali membantingnya ke permukaan tanah.

Pria berbadan kekar tersebut mendaratkan pukulan ke wajahnya beberapa kali. Darah mengucur deras bak air terjun dari hidungnya.

Rasa asin ia rasakan tatkala darah tersebut melintas dan masuk ke mulutnya. Tak lama kemudian tubuhnya diangkat oleh dua orang lainnya. Pria yang sudah mendaratkan banyak pukulan di wajahnya tampak masih belum puas memukulinya.

Satya coba berontak, kedua kakinya yang masih bebas melayangkan sepakan pada pria yang masih asik memukulinya. Satu, dua tendangan berhasil mengenai pria di hadapannya, namun tendangannya belum cukup kuat untuk membuat pria tersebut tersungkur. Pria yang menahan lengannya pun menghadiahi sebuah tendangan ke kedua kakinya yang berhasil membuat Satya berteriak kesakitan. “Percuma kau teriak, tidak ada orang yang akan mendengar,” ujar pria yang sedang mengamati pemukulannya.

“Ada pesan terakhir?” salah seorang pria yang memegangi lengan kirinya akhirnya buka suara.

“Argh! Pesan terakhir?”

“Ya, pesan terakhir. Karena malam ini akan menjadi hari terakhirmu melihat dunia,” kaat salah satu dari pria itu disambut dengan tawa empat pria kekar lainnya.

“Aku pikir tidak ada pesan terakhir. Aku tidak menyesali apa yang telah aku lakukan!” kata Satya sembari tertawa kecil yang tertahan karena sakit.

Dorr!!! Dorr!!!

Suara tembakan yang menembus dada kiri Satya. Tembakan itu bagai sebuah pelepasan yang membuat dirinya terbebas dari segala hal. Percakapannya dengan Tilem sepintas terlihat di depannya. Seorang sahabat yang begitu khawatir dengan keselamatannya. Senyum menghiasi wajahnya sebelum ia memeluk bumi—memeluk Tilem.

***

Ungkap Kebenaran!!!

Tangkap Pelaku Intelektual Pembunuhan Satya!!!

Teriakan massa yang tergabung dalam gerakan #MenolakLupaPembunuhanSatya memenuhi jalanan di depan kantor legislatif. Beberapa massa aksi juga membawa kertas dan spanduk yang bertuliskan #10TahunSatya #10TahunMenolakLupa. Mereka menuntut adanya kejelasan hukum terhadap kasus hilangnya nyawa Satya—seorang wartawan muda yang tewas saat sedang memberitakan kasus bunuh diri seorang mahasiswi yang melibatkan oknum dosen dari kampus ternama.

“Sudah sepuluh tahun kasus ini berjalan, tapi tidak ada kejelasan sama sekali dari pihak penegak hukum. Kami menuntut keadilan, karena otak dari pembunuhan ini belum juga tertangkap dan mungkin masih ongkang-ongkang kaki di suatu tempat,” jelas Tilem pada media yang meminta keterangannya.

Sedangkan di sisi lain, Surya Prakasa bersama ayahnya sedang berbahagia merayakan terpilihnya Surya Prakasa sebagai Dekan Fakultas dan Nyoman Prakasa terpilih kembali sebagai pimpinan legislatif di periode yang baru. [T]

_____

Baca cerpen lain

Celepuk | Cerpen Arnata Pakangraras
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Agoes Andika, Ask. | Pagi Hari Menghadap Matahari

Next Post

Harakat Warna Hardiman

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails
Next Post
Harakat Warna Hardiman

Harakat Warna Hardiman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali
Pameran

Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai...

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini
Pendidikan

Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini

PERINGATAN Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan anak di Indonesia. Melalui kolaborasi antara Yayasan...

by tatkala
June 6, 2026
Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 
Esai

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek...

by I Nyoman Tingkat
June 6, 2026
‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur
Panggung

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

DI Desa Adat Pecatu, hujan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa alam. Ia adalah harapan, doa, sekaligus sumber kehidupan yang dinantikan...

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
Cerita Rakyat Sebagai Identitas
Khas

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

by I Wayan Artika
June 6, 2026
Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur
Esai

Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika...

by Agung Sudarsa
June 6, 2026
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co