3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ulasan Buku Puisi Anak-anak Pandemi: Menyaksikan Kambali “Meliput” Pandemi

Yahya Umar by Yahya Umar
September 10, 2022
in Ulas Buku
Ulasan Buku Puisi Anak-anak Pandemi: Menyaksikan Kambali “Meliput” Pandemi

Yahya Umar (penulis) dalam acara bedah buku Anak-anak Pandemi di Komunitas Mahima, Singaraja, Minggu 14 Agustus 2022

PANDEMI Covid-19 memunculkan beragam reaksi raga dan jiwa dari setiap orang yang bernyawa. Rasa sedih, takut, kalang kabut, pasrah, kecewa, curiga, marah seperti campur aduk menjadi satu. Bahkan ada yang merasa dirinya sudah mati.

Pandemi pada kenyataanya tidak hanya menyangkut sakit badan, tetapi juga memunculkan penyakit bagi batin. Kata-kata banyak yang tercerabut dari kemuliaannya. Caci maki ikut mewarnai pandemi.

Hidup dan kehidupan benar-benar abnormal. Semua berbalik 180 derajat dari kehidupan biasanya. Bukan hanya kota-kota yang mati suri. Desa-desa dan pelosok negeri semakin sepi.

Sudut-sudut kota berubah menjadi taman-taman nisan. Tempat para korban Covid-19 dibaringkan oleh petugas yang berjubah APD kedodoran.

Sebagai jurnalis-sastrawan, Kambali Zutas melakukan liputan terhadap pandemi dan segala dampaknya terhadap kehidupan manusia. Namun ia tak hanya melakukan liputan dengan pandangan mata selayaknya seorang jurnalis. Ia juga melakukan ‘liputan dengan batin dan nuraninya’.

Jika wartawan menuliskan hasil liputannya menjadi ‘straight news’ atau berita feature, Kambali menuangkan ‘liputan batin atau liputan nuraninya’ ke dalam puisi atau sajak. Ya Kambali menuliskan ‘liputan batin atau nuraninya’ itu di bukunya “Anak-anak Pandemi”. Membaca buku “Anak-anak Pandemi”, saya seperti menyaksikan Kambali ‘meliput’ pandemi.

Dalam laporan ‘liputan batinnya’, Kambali tak hanya menulis fakta tentang pandemi Covid-19 dan segala dampaknya, tetapi juga menuangkan reaksi pikirannya, reaksi batinnya, perasaannya, jeritan nuraninya, dan sikapnya. Ia empati, sedih, kecewa bahkan marah.

Saya membaca, bahwa buku Anak-anak Pandemi menggambarkan reaksi hati, reaksi jiwa, reaksi pikiran, reaksi nurani dan reaksi kemanusiaan Kambali.

Bagaimana Kambali melihat pandemi Covid-19 ini? Bagi Kambali pandemi adalah “hidup tak ada yang dirasa/berusaha tak dapat apa-apa/di rumah semakin sedih/anak istri belum makan”. (puisi Sayup-sayub Ayyub).

Dengan nada getir dan perih Kambali merekam akibat pandemi. “Bayi kecil kurus terkulai/tergeletak tertidur di lantai/beralaskan sehelai kain pantai/di kamar kecil di dusun tengah kota”.

“Bayi sehari tak tersusui/apa daya susu tak punya/tetek ibu tak lagi mengeluarkan ASI/air putih mendidih bercampur beras/tak sanggup menipu”.

“Ibu bangkit dan beranjak/bersandar di daun pintu kayu/matanya memandang/kota sejuta harapan dan impian/kota penabur bunga kerinduan/kota cinta dan kasih sayang/kini berubah menjadi kota mati/kota tempat mengubur mayat dan jenazah/ia pun teringat kata-kata terakhir suaminya;/”aku di-PHK/aku akan cari kerja/hanya beberapa hari saja/rawatlah anak-anak kita”.

“Rasa sedih menoleh melihat kedua anaknya,/dipeganginya perutnya./”Ini sudah sembilan bulan./mengapa engkau tak kunjung pulang./anak-anak belum makan./anak-anak lapar./Tangannya memegangi perutnya yang kosong/tak makan beberapa hari ini,/sedih, iba dan pikiran tak karuan/ia kini lemas/dan terkulai”. (Anak-anak Pandemi #1)

Pandemi tak hanya menyebabkan penyakit dan kematian bagi raga. Pandemi ternyata juga merubah prilaku manusia dalam keluarga, dalam masyarakat bahkan dalam bernegara. Dalam puisi Anak-anak Pandemi #2 Kambali melukiskan perubahan itu.

“Ibu, ayah di mana?/Ayah tadi yang video call//Ibu, adik di mana?/Adik tadi yang kirim foto//Ibu, kakak di mana?/Kakak tadi yang kirim video//Ibu, kakek dan nenek di mana?/Kakek dan nenek tadi yang telpon//Ibu, teman-temanku di mana?/Teman-temanmu tadi yang chat di grup//Ibu, guruku di mana?/Gurumu tadi yang memberi tugas hari ini//Ibu, ibu, ibuku di mana?/Ibu ada di sini, di tanganmu”.

Anak-anak Pandemi, Liputan Batin Kambali Zutas | Dari Bedah Buku Puisi di Komunitas Mahima

Dalam puisi Anak-anak Pandemi #2 ini, Kambali mencatat perubahan hubungan seseorang dengan kerabatnya, dengan temannya dan dengan orang luar menjadi serba online. Pandemi Covid-19 menjadikan manusia tak saling kontak satu sama lain, relasi antarmanusia lebih banyak dilakukan secara daring.

Kebetulan pandemi Covid-19 berimpitan dengan perkembangan atau kemajuan teknologi digital. Digitalisasi di berbagai sektor inten digelar. HP pintar menggantikan segalanya. Bahkan menggantikan peran seorang ibu. “Ibu ada di sini, di tanganmu”. 

Batin Kambali tidak hanya bereaksi getir terhadap ragam persoalan yang muncul karena pandemi. Ia dengan bijak menasehati anak-anak pandemi untuk tidak sedih, tidak menangis dan tidak menuntut siapa-siapa. “Nak, jika besar nanti/Maafkan bapak dan ibu tak menemanimu/Tanpa meninggalkan bekal untukmu/Kecuali kabar duka dan kisah pilu/satu per satu meninggalkanmu/Pergi bersama takdir dan nasibmu”. (Anak-anak Pandemi #3)

Dalam puisi Anak-anak Pandemi #4, Kambali juga melukiskan kematian janin, bayi atau anak-anak karena pandemi, bukan tak berarti. Kematian semacam itu bukan sia-sia. Tapi mereka meninggal dalam keadaan suci. Mereka diyakini akan menjadi penghuni surga di alam nanti. Menjadi penghuni surga adalah cita-cita paling tinggi bagi setiap Muslim.

Sebagai manusia Kambali juga marah kepada mereka yang memanfaatkan pandemi untuk keuntungan pribadi, apalagi untuk menumpuk kekayaan. Dalam puisi “Gerombolan Mayat Pandemi”, Kambali meluapkan kemarahannya kepada pejabat (seorang Menteri) yang mengkorupsi bantuan bagi warga terdampak pandemi.

“hai mayat liang pojok utara!/pejabat itu laknat!/tega sekali dan tak manusiawi/aku sekeluarga mati kelaparan/tidak makan sembilan bulan/bantuan dikorupsi, bajingan”.

“hai mayat liang sebelah selatan/dan mayat liang pojok utara!/pejabat itu benar-benar keparat!/aku dan bayiku mati telat diberi obat/sekarat tak ada pejabat”.

Sebaliknya Kambali menunjukkan rasa bangga dan apresiasinya terhadap mereka peduli dan tulus berbagi bagi mereka yang didera pandemi. Padahal mereka sendiri tak luput dari deraan pandemi. Bagi Kambali tak masalah meskipun sekadar sepotong tempe, secangkir kopi atau sebungkus nasi. Juga masker, vitamin, sembako hingga uang jutaan. Yang penting ikhlas berbagi.

“atas nama rasa kasih sayang/atas nama rasa kemanusiaan/dari lubuk hati yang paling dalam/kami ucapkan terima kasih”.

Dalam perjalanan ‘liputan batin atau liputan nuraninya’, Kambali juga menduga-duga sifat-sifat macam apa saja yang akan muncul dari individu-individu di tengah kehidupan yang ditetapkan WHO sebagai pandemi ini. Itu terbaca dalam puisinya “WHO”. Dalam puisi “WHO” itu, Kambali juga menduga-duga nasib apa saja yang akan dialami tiap-tiap orang selama berada dalam kepungan pandemi.

“siapa dan barang siapa/yang bisa dermawan di masa ini/siapa dan barang siapa/yang bisa kikir di masa ini”

“siapa dan barang siapa/yang bisa peduli di masa ini/siapa dan barang siapa/ yang bisa jujur di masa ini”

“siapa dan barang siapa/yang bisa dipercaya di masa ini/siapa dan barang siapa/yang bisa adil di masa ini”.

“siapa dan barang siapa/yang bisa batil di masa ini/siapa dan barang siapa/yang bisa bijaksana di masa ini”

“siapa dan barang siapa/yang bisa rakus di masa ini/siapa dan barang siapa/yang bisa tamak di masa ini”

“siapa dan barang siapa/yang bisa miskin di masa ini/siapa dan barang siapa/yang bisa kaya di masa ini”

“siapa dan barang siapa/yang bisa serakah di masa ini/siapa dan barang siapa/yang bisa korupsi di masa ini”

“siapa dan barang siapa/yang bisa berhati di masa ini/siapa dan barang siapa/yang bisa hidup di masa ini”

“siapa dan barang siapa/yang bisa mati di masa ini”

Yang juga menyayat hati adalah membaca hasil ‘liputan batin’ Kambali seperti dalam puisi ‘kabar dari bali: made termangu menunggu tamu’. Kambali melukiskan kesedihan Bali akibat Bali seperti ini: “senyum sedih sembunyi di balik cerita bali hari ini/mata memandang deretan kamar tak berpenghuni”.

Dalam ‘tafakur di sanur’, Kambali juga melukiskan “sanur hari ini/di titik aku berdiri/di masa buaian pandemi/terasa sepi nan sunyi”. Sungguh berbeda dengan keseharian Sanur yang biasanya ramai, penuh hiruk pikuk. Alunan rindik biasanya mengiringi hilir mudik turis di sepanjang pantai Sanur.

Dalam puisi ‘taman nisan’, laporan ‘liputan batin’ Kambali tak kalah menyayat hati. “taman nisan/indah dipandang/sedih terasa/duka lara”. “taman nisan/taman tangisan/taman lagu bela sungkawa/taman tanam bunga setaman/taman ayat berkhidmat/taman nyanyian surga”. “taman nisan/taman saksi/taman pandemi”.     

Dan saya menyaksikan Kambali menangis, menangisi dirinya, menangisi tetangganya, menangisi masyarakatnya, menangisi bangsa, dan menangisi manusia yang sudah tak berdaya di hadapan pandemi.

“anak istri pergi tak kembali/vonis penyakit dan sakit/tak bisa dinalar jadi penguji/musibah, cobaan, atau jalan/di masa panjang pandemi/”aku tak kuat lagi”. (Sayup-sayub Ayyub).

Berapa banyak orang yang meneriakkan ‘aku tak kuat lagi’. Ratusan, ah mungkin ribuan, bahkan mungkin jutaan. Mereka tak kuat lagi menahan pedih, menahan sedih, menahan rasa takut.

Di tengah kepanikan, ketakutan, kesedihan, kemarahan dan rasa putus asa melanda penduduk bumi, Kambali mengajak manusia mengingat Nabi Ayyub. Mengingat kepada kesabaran dan keikhlasannya menjalani musibah yang menimpa, dan kalau mungkin meneladaninya.

‘Sayup-sayub Ayyub/begitu jelas aku mendengarnya/sosok sebatang kara/hidup sakit menahun/delapan belas tahun satu bulan/menderita sakit mendera/tak ada yang menerimanya/mengasihinya/iman apalagi yang tertanam dalam hati/kecuali keikhalasan”.

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Ya Nabi Ayyub merupakan manusia yang sangat sabar. Ia diuji dengan kekayaannya yang lenyap. Anak-anaknya yang meninggal. Lalu, Nabi Ayyub ditimpa penyakit (lepra) selama 18 tahun. Namun, tak sedikit pun ia mengeluh, apalagi marah. Ia sabar. Istrinya bahkan meninggalkannya dan meminta orang lain untuk merawat karena sudah tidak kuat. Namun, Ayyub tetap sabar. Ia bahkan malu mengeluh kepada Tuhan agar penyakitnya disembuhkan. Sebab, menurutnya, Tuhan telah memberinya kesehatan selama 70 tahun. Dan baru 18 tahun ia diberi ujian sakit.

Dengan puisi itu, Kambali seperti ingin menegaskan bahwa “Di musim pandemi, manusia tak hanya butuh vaksin dan vitamin. Lebih dari itu, di musim pandemi ini, manusia tak boleh bosan merebahkan jiwa di pangkuan Pemilik semesta. 👍

  • Artikel ini disajikan dalam bedah buku Anak-anak Pandemi karya Kambali Zutas di Komunitas Mahima Singaraja, Minggu, 14 Agustus 2022.
Tags: Bukubuku puisiPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kilas Balik Jegeg Bagus Tabanan 2022: “The Spirit of Ngerebeg”, Cantik dan Cerdas

Next Post

Bupati Buleleng Kukuhkan Anggota Paskibraka 2022

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Buleleng Kukuhkan Anggota Paskibraka 2022

Bupati Buleleng Kukuhkan Anggota Paskibraka 2022

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co