12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ulasan Buku Puisi Anak-anak Pandemi: Menyaksikan Kambali “Meliput” Pandemi

Yahya Umar by Yahya Umar
September 10, 2022
in Ulas Buku
Ulasan Buku Puisi Anak-anak Pandemi: Menyaksikan Kambali “Meliput” Pandemi

Yahya Umar (penulis) dalam acara bedah buku Anak-anak Pandemi di Komunitas Mahima, Singaraja, Minggu 14 Agustus 2022

PANDEMI Covid-19 memunculkan beragam reaksi raga dan jiwa dari setiap orang yang bernyawa. Rasa sedih, takut, kalang kabut, pasrah, kecewa, curiga, marah seperti campur aduk menjadi satu. Bahkan ada yang merasa dirinya sudah mati.

Pandemi pada kenyataanya tidak hanya menyangkut sakit badan, tetapi juga memunculkan penyakit bagi batin. Kata-kata banyak yang tercerabut dari kemuliaannya. Caci maki ikut mewarnai pandemi.

Hidup dan kehidupan benar-benar abnormal. Semua berbalik 180 derajat dari kehidupan biasanya. Bukan hanya kota-kota yang mati suri. Desa-desa dan pelosok negeri semakin sepi.

Sudut-sudut kota berubah menjadi taman-taman nisan. Tempat para korban Covid-19 dibaringkan oleh petugas yang berjubah APD kedodoran.

Sebagai jurnalis-sastrawan, Kambali Zutas melakukan liputan terhadap pandemi dan segala dampaknya terhadap kehidupan manusia. Namun ia tak hanya melakukan liputan dengan pandangan mata selayaknya seorang jurnalis. Ia juga melakukan ‘liputan dengan batin dan nuraninya’.

Jika wartawan menuliskan hasil liputannya menjadi ‘straight news’ atau berita feature, Kambali menuangkan ‘liputan batin atau liputan nuraninya’ ke dalam puisi atau sajak. Ya Kambali menuliskan ‘liputan batin atau nuraninya’ itu di bukunya “Anak-anak Pandemi”. Membaca buku “Anak-anak Pandemi”, saya seperti menyaksikan Kambali ‘meliput’ pandemi.

Dalam laporan ‘liputan batinnya’, Kambali tak hanya menulis fakta tentang pandemi Covid-19 dan segala dampaknya, tetapi juga menuangkan reaksi pikirannya, reaksi batinnya, perasaannya, jeritan nuraninya, dan sikapnya. Ia empati, sedih, kecewa bahkan marah.

Saya membaca, bahwa buku Anak-anak Pandemi menggambarkan reaksi hati, reaksi jiwa, reaksi pikiran, reaksi nurani dan reaksi kemanusiaan Kambali.

Bagaimana Kambali melihat pandemi Covid-19 ini? Bagi Kambali pandemi adalah “hidup tak ada yang dirasa/berusaha tak dapat apa-apa/di rumah semakin sedih/anak istri belum makan”. (puisi Sayup-sayub Ayyub).

Dengan nada getir dan perih Kambali merekam akibat pandemi. “Bayi kecil kurus terkulai/tergeletak tertidur di lantai/beralaskan sehelai kain pantai/di kamar kecil di dusun tengah kota”.

“Bayi sehari tak tersusui/apa daya susu tak punya/tetek ibu tak lagi mengeluarkan ASI/air putih mendidih bercampur beras/tak sanggup menipu”.

“Ibu bangkit dan beranjak/bersandar di daun pintu kayu/matanya memandang/kota sejuta harapan dan impian/kota penabur bunga kerinduan/kota cinta dan kasih sayang/kini berubah menjadi kota mati/kota tempat mengubur mayat dan jenazah/ia pun teringat kata-kata terakhir suaminya;/”aku di-PHK/aku akan cari kerja/hanya beberapa hari saja/rawatlah anak-anak kita”.

“Rasa sedih menoleh melihat kedua anaknya,/dipeganginya perutnya./”Ini sudah sembilan bulan./mengapa engkau tak kunjung pulang./anak-anak belum makan./anak-anak lapar./Tangannya memegangi perutnya yang kosong/tak makan beberapa hari ini,/sedih, iba dan pikiran tak karuan/ia kini lemas/dan terkulai”. (Anak-anak Pandemi #1)

Pandemi tak hanya menyebabkan penyakit dan kematian bagi raga. Pandemi ternyata juga merubah prilaku manusia dalam keluarga, dalam masyarakat bahkan dalam bernegara. Dalam puisi Anak-anak Pandemi #2 Kambali melukiskan perubahan itu.

“Ibu, ayah di mana?/Ayah tadi yang video call//Ibu, adik di mana?/Adik tadi yang kirim foto//Ibu, kakak di mana?/Kakak tadi yang kirim video//Ibu, kakek dan nenek di mana?/Kakek dan nenek tadi yang telpon//Ibu, teman-temanku di mana?/Teman-temanmu tadi yang chat di grup//Ibu, guruku di mana?/Gurumu tadi yang memberi tugas hari ini//Ibu, ibu, ibuku di mana?/Ibu ada di sini, di tanganmu”.

Anak-anak Pandemi, Liputan Batin Kambali Zutas | Dari Bedah Buku Puisi di Komunitas Mahima

Dalam puisi Anak-anak Pandemi #2 ini, Kambali mencatat perubahan hubungan seseorang dengan kerabatnya, dengan temannya dan dengan orang luar menjadi serba online. Pandemi Covid-19 menjadikan manusia tak saling kontak satu sama lain, relasi antarmanusia lebih banyak dilakukan secara daring.

Kebetulan pandemi Covid-19 berimpitan dengan perkembangan atau kemajuan teknologi digital. Digitalisasi di berbagai sektor inten digelar. HP pintar menggantikan segalanya. Bahkan menggantikan peran seorang ibu. “Ibu ada di sini, di tanganmu”. 

Batin Kambali tidak hanya bereaksi getir terhadap ragam persoalan yang muncul karena pandemi. Ia dengan bijak menasehati anak-anak pandemi untuk tidak sedih, tidak menangis dan tidak menuntut siapa-siapa. “Nak, jika besar nanti/Maafkan bapak dan ibu tak menemanimu/Tanpa meninggalkan bekal untukmu/Kecuali kabar duka dan kisah pilu/satu per satu meninggalkanmu/Pergi bersama takdir dan nasibmu”. (Anak-anak Pandemi #3)

Dalam puisi Anak-anak Pandemi #4, Kambali juga melukiskan kematian janin, bayi atau anak-anak karena pandemi, bukan tak berarti. Kematian semacam itu bukan sia-sia. Tapi mereka meninggal dalam keadaan suci. Mereka diyakini akan menjadi penghuni surga di alam nanti. Menjadi penghuni surga adalah cita-cita paling tinggi bagi setiap Muslim.

Sebagai manusia Kambali juga marah kepada mereka yang memanfaatkan pandemi untuk keuntungan pribadi, apalagi untuk menumpuk kekayaan. Dalam puisi “Gerombolan Mayat Pandemi”, Kambali meluapkan kemarahannya kepada pejabat (seorang Menteri) yang mengkorupsi bantuan bagi warga terdampak pandemi.

“hai mayat liang pojok utara!/pejabat itu laknat!/tega sekali dan tak manusiawi/aku sekeluarga mati kelaparan/tidak makan sembilan bulan/bantuan dikorupsi, bajingan”.

“hai mayat liang sebelah selatan/dan mayat liang pojok utara!/pejabat itu benar-benar keparat!/aku dan bayiku mati telat diberi obat/sekarat tak ada pejabat”.

Sebaliknya Kambali menunjukkan rasa bangga dan apresiasinya terhadap mereka peduli dan tulus berbagi bagi mereka yang didera pandemi. Padahal mereka sendiri tak luput dari deraan pandemi. Bagi Kambali tak masalah meskipun sekadar sepotong tempe, secangkir kopi atau sebungkus nasi. Juga masker, vitamin, sembako hingga uang jutaan. Yang penting ikhlas berbagi.

“atas nama rasa kasih sayang/atas nama rasa kemanusiaan/dari lubuk hati yang paling dalam/kami ucapkan terima kasih”.

Dalam perjalanan ‘liputan batin atau liputan nuraninya’, Kambali juga menduga-duga sifat-sifat macam apa saja yang akan muncul dari individu-individu di tengah kehidupan yang ditetapkan WHO sebagai pandemi ini. Itu terbaca dalam puisinya “WHO”. Dalam puisi “WHO” itu, Kambali juga menduga-duga nasib apa saja yang akan dialami tiap-tiap orang selama berada dalam kepungan pandemi.

“siapa dan barang siapa/yang bisa dermawan di masa ini/siapa dan barang siapa/yang bisa kikir di masa ini”

“siapa dan barang siapa/yang bisa peduli di masa ini/siapa dan barang siapa/ yang bisa jujur di masa ini”

“siapa dan barang siapa/yang bisa dipercaya di masa ini/siapa dan barang siapa/yang bisa adil di masa ini”.

“siapa dan barang siapa/yang bisa batil di masa ini/siapa dan barang siapa/yang bisa bijaksana di masa ini”

“siapa dan barang siapa/yang bisa rakus di masa ini/siapa dan barang siapa/yang bisa tamak di masa ini”

“siapa dan barang siapa/yang bisa miskin di masa ini/siapa dan barang siapa/yang bisa kaya di masa ini”

“siapa dan barang siapa/yang bisa serakah di masa ini/siapa dan barang siapa/yang bisa korupsi di masa ini”

“siapa dan barang siapa/yang bisa berhati di masa ini/siapa dan barang siapa/yang bisa hidup di masa ini”

“siapa dan barang siapa/yang bisa mati di masa ini”

Yang juga menyayat hati adalah membaca hasil ‘liputan batin’ Kambali seperti dalam puisi ‘kabar dari bali: made termangu menunggu tamu’. Kambali melukiskan kesedihan Bali akibat Bali seperti ini: “senyum sedih sembunyi di balik cerita bali hari ini/mata memandang deretan kamar tak berpenghuni”.

Dalam ‘tafakur di sanur’, Kambali juga melukiskan “sanur hari ini/di titik aku berdiri/di masa buaian pandemi/terasa sepi nan sunyi”. Sungguh berbeda dengan keseharian Sanur yang biasanya ramai, penuh hiruk pikuk. Alunan rindik biasanya mengiringi hilir mudik turis di sepanjang pantai Sanur.

Dalam puisi ‘taman nisan’, laporan ‘liputan batin’ Kambali tak kalah menyayat hati. “taman nisan/indah dipandang/sedih terasa/duka lara”. “taman nisan/taman tangisan/taman lagu bela sungkawa/taman tanam bunga setaman/taman ayat berkhidmat/taman nyanyian surga”. “taman nisan/taman saksi/taman pandemi”.     

Dan saya menyaksikan Kambali menangis, menangisi dirinya, menangisi tetangganya, menangisi masyarakatnya, menangisi bangsa, dan menangisi manusia yang sudah tak berdaya di hadapan pandemi.

“anak istri pergi tak kembali/vonis penyakit dan sakit/tak bisa dinalar jadi penguji/musibah, cobaan, atau jalan/di masa panjang pandemi/”aku tak kuat lagi”. (Sayup-sayub Ayyub).

Berapa banyak orang yang meneriakkan ‘aku tak kuat lagi’. Ratusan, ah mungkin ribuan, bahkan mungkin jutaan. Mereka tak kuat lagi menahan pedih, menahan sedih, menahan rasa takut.

Di tengah kepanikan, ketakutan, kesedihan, kemarahan dan rasa putus asa melanda penduduk bumi, Kambali mengajak manusia mengingat Nabi Ayyub. Mengingat kepada kesabaran dan keikhlasannya menjalani musibah yang menimpa, dan kalau mungkin meneladaninya.

‘Sayup-sayub Ayyub/begitu jelas aku mendengarnya/sosok sebatang kara/hidup sakit menahun/delapan belas tahun satu bulan/menderita sakit mendera/tak ada yang menerimanya/mengasihinya/iman apalagi yang tertanam dalam hati/kecuali keikhalasan”.

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Ya Nabi Ayyub merupakan manusia yang sangat sabar. Ia diuji dengan kekayaannya yang lenyap. Anak-anaknya yang meninggal. Lalu, Nabi Ayyub ditimpa penyakit (lepra) selama 18 tahun. Namun, tak sedikit pun ia mengeluh, apalagi marah. Ia sabar. Istrinya bahkan meninggalkannya dan meminta orang lain untuk merawat karena sudah tidak kuat. Namun, Ayyub tetap sabar. Ia bahkan malu mengeluh kepada Tuhan agar penyakitnya disembuhkan. Sebab, menurutnya, Tuhan telah memberinya kesehatan selama 70 tahun. Dan baru 18 tahun ia diberi ujian sakit.

Dengan puisi itu, Kambali seperti ingin menegaskan bahwa “Di musim pandemi, manusia tak hanya butuh vaksin dan vitamin. Lebih dari itu, di musim pandemi ini, manusia tak boleh bosan merebahkan jiwa di pangkuan Pemilik semesta. 👍

  • Artikel ini disajikan dalam bedah buku Anak-anak Pandemi karya Kambali Zutas di Komunitas Mahima Singaraja, Minggu, 14 Agustus 2022.
Tags: Bukubuku puisiPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kilas Balik Jegeg Bagus Tabanan 2022: “The Spirit of Ngerebeg”, Cantik dan Cerdas

Next Post

Bupati Buleleng Kukuhkan Anggota Paskibraka 2022

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Buleleng Kukuhkan Anggota Paskibraka 2022

Bupati Buleleng Kukuhkan Anggota Paskibraka 2022

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co