2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahar Nikah Paling Mahal | Cerpen Ni Wayan Wijayanti

Ni Wayan Wijayanti by Ni Wayan Wijayanti
September 24, 2022
in Cerpen, Pilihan Editor
Mahar Nikah Paling Mahal | Cerpen Ni Wayan Wijayanti

Foto ilustrasi tatkala.co | Diolah dari karya Satia Guna

“Gugurkan saja!”

Suara berat Danu memecah keheningan kala senja itu. Langit belum sepenuhnya menghitam. Guratan-guratan cakrawala yang kemerahan masih menghias bilik peraduan surya yang hendak beranjak tidur. 

Gadis di hadapan Danu membalas dengan tatapan nanar. Sebentar saja air mata itu akan terurai bagai hujan deras tak terbendung.

“Ini darah dagingmu. Leluhurmu yang kembali meminta segenggam nasi,” kata Gayatri, gadis itu.

“Leluhurku? Apa benar kamu hanya tidur denganku, bukan yang lain?”

Gayatri sekonyong-konyong kaget mendengar pertanyaan kekasihnya. “Aku berani bersumpah demi Sang Pencipta, hanya ada kamu seorang. Tiada yang lain, sungguh,” ucap Gayatri. Ia tak menyangka Danu serendah itu menilai dirinya.

“Aku belum siap menikah,” tandas Danu.

“Dasar laki-laki pecundang!” teriak Gayatri, suaranya semakin serak saja.

Namun Danu tak menggubris. Dia hanya berlalu pergi. Sosoknya secepat kilat menghilang dari tatapan Gayatri yang telah samar, tertimbun air mata.

Yah, Danu tahu. Tentu saja itu darah dagingnya sendiri, bukan yang lain. Hanya saja setidaknya biarkan kali ini dia mengelak barang sedetik, meski sia-sia belaka dia menyangkal. Perdebatan itu tetap tak berujung seperti minggu-minggu sebelumnya.

Danu selalu enggan membahas hal ini. Bukannya dia tidak mencintai Gayatri, bukan pula dia ingin meregang tanggung jawab. Dia tak punya pilihan apa pun. Menikahi Gayatri, berarti dia harus siap dengan mahar dua ekor sapi, sebagaimana tradisi turun-temurun di kampungnya.

Kampung itu kampung kecil yang tak jauh dari kaldera gunung. Gunung suci yang sudah turun temurun dianggap penduduknya sebagai surga para leluhur. Tradisi itu kuat dijaga dalam balutan aturan ketat yang tidak bisa dibantahkan.

Aturan tersebut begitu menyiksa bagi dirinya yang hanya seorang buruh tani. Bukan petani, tetapi buruh tani. Bagaimana bisa dia membayar mahar itu, alih-alih untuk makan pun dia harus mencukup-cukupkan upah.

Lagi pula setelah menikah nanti, apa dia akan bisa menghidupi kekasih dan anaknya itu dengan layak?

Berhutang? Apa yang bisa dia gadaikan? Ia hanya punya sepeda motor tua serta sepetak gubuk kecil yang bahkan tak layak sebagai jaminan hutang. Dia benar-benar pusing.

Malam sudah larut, namun pikiran Danu masih terjaga pada keadaan Gayatri. Apa susahnya menggugurkan? Gayatri anak orang berada, sementara dirinya hanya seorang pemuda yatim-piatu yang ditinggal entah ke mana oleh kedua orang tuanya.

Sejak kecil Danu diasuh oleh nenek. Namun empat bulan lalu, nenek yang sangat dia cintai dan satu-satunya yang ia punya telah berpulang. Bersamaan dengan kehadiran Gayatri yang datang secara diam-diam memperlihatkan hasil test-pack bergaris dua.

Gadis itu memberikan kabar kehamilannya tepat sesaat setelah pemakaman neneknya yang sangat sederhana baru saja usai dilakukan di gunung suci.

***

Sementara itu di kamar, Gayatri masih menangis. Mata gadis malang itu tampak sembab. Dia tidak berani bercerita kepada siapa pun mengenai kondisi kehamilannya. Dia takut akan murka kedua orang tuanya, terutama Bapak.

Bapak tak pernah menyetujui hubungan mereka, hanya karena Danu seorang pemuda miskin.

“Masih banyak pria lain di luar sana yang pantas untuk menyandingmu, yang bahkan sanggup membayar lebih dari sekedar mahar dua ekor sapi.”

Tetapi tentu saja, cinta telah membutakan Gayatri. Dia tetap diam-diam menemui Danu. Memeluk dan bercumbu mesra dengan pemuda itu di gubuk kecil yang sepi, di balik pematang sawah dengan belukar. Bernaung dalam rimbunan pohon mahoni.

Hasrat kedua muda-mudi itu tak tertahankan. Hanya langit yang menjadi saksi saat Danu mulai menanam benih di dalam rahim Gayatri. Awan berarak menutupi cahaya matahari. Seolah tak membiarkan sang raja siang itu bercelah untuk mengintip, meski malu-malu.

Gayatri sangat menyesal. Pun kata maaf tak akan mengubah segalanya. Haruskah dia gugurkan? Tetapi tiba-tiba perutnya seolah berdenyut. Hingga lelap malam ia bermimpi menggendong seorang putri kecil yang sangat manis. Dalam jaganya niat itu pun urung. Sungguh dia tak sanggup membunuh buah hati itu.

Namun bagaimana bisa Danu, yang telah membuatnya jatuh cinta, yang telah menumbuhkan benih itu, dengan gampangnya berkata demikian? Kemana selama ini Danu yang ia kenal? Danu yang selalu membelainya lembut. Danu yang tak pernah memberinya air mata. Kini telah menjadi Danu yang lain.

Pagi itu, Danu naik angkot menuju pusat kota yang jauh dari kampungnya. Dengan mengenakan celana jeans rombeng, kaos berjaket yang warnanya telah pudar, dia berjalan menyusuri area pasar yang tampak sangat ramai.

Hatinya mantap untuk berusaha mendapatkan uang agar bisa membayar mahar menikahi Gayatri. Niat meminta Gayatri menggugurkan janin mereka, kini dia buang jauh.

Semalam dia bermimpi, neneknya datang meminta sepiring nasi kepadanya.

“Nak, di gunung ini nenek lapar. Bolehkah nenek pulang dan meminta makanan padamu? Walau hanya sepiring nasi pun tak mengapa.” Kata neneknya dalam mimpi itu.  

Mimpi itu membuatnya tersentak kaget. Jam menunjuk pukul 2 dini hari. Bulu kuduknya merinding.

Dia menjadi yakin bahwa janin yang dikandung Gayatri, tak lain adalah mendiang neneknya yang ingin terlahir kembali, dengan pertanda mimpi itu. Setidaknya begitulah kata tetua-tetua di kampung.

Dilihatnya beberapa orang yang sedang menurunkan beras dari mobil pick-up ke dalam sebuah toserba. Danu menghampiri menawarkan jasa. Namun dia menerima penolakan.

Danu tidak menyerah, dia mencoba mencari hal yang sekiranya bisa dia kerjakan. Tapi meski siang telah menjelang, tak satu pun pekerjaan didapat.

“Ternyata sulit sekali mencari pekerjaan di kota,” Begitupikirnya. Kota tidak segemerlap yang dia bayangkan.

Pemuda gunung itu kemudian duduk menyandarkan tubuh dengan putus asa di bawah sebatang pohon palem tepi jalan. Keringat menetes di kening, dan perutnya lapar sekali. “Aku harus secepatnya mengumpulkan uang untuk membeli mahar agar bisa menikahi Gayatri,” gumamnya.

Sekejap saja niat tersebut menjadi niatan buruk yang membakar habis pikiran pemuda berusia 24 tahun itu. Membuat dirinya tak ada waktu untuk memilah lagi. Maka ia pun berlari cepat sembari menyambar tas seorang ibu yang berjalan tepat di depannya. “Copeeettt…!!!”

Orang-orang spontan heboh mengejar. Dia kini bagaikan seekor rusa dalam buronan para singa yang mengamuk. Tubuh kurus itu melaju cepat. Tak tentu arah, tak tau tujuan.

“Cepat tangkap copet itu!”

Seru-seruan orang-orang terdengar semakin riuh.

Danu memacu, kemanapun kaki mengajak berlari, yang penting tidak tertangkap. Sebentar lagi dia akan sampai di ujung jalan sana. Orang-orang masih terus mengejar. Berusaha mengungguli kecepatan lari pemuda itu.

Tepat di ujung jalan, Danu menoleh sekilas. Dirinya sudah terkepung, dari arah belakang, kanan, dan kiri. Satu-satunya cara meloloskan diri hanyalah berlari maju menyeberangi jalan raya kota yang padat di hadapannya. Tertangkap atau mati?

Jika tertangkap dia akan dipenjara, sama saja dia tidak akan dapat menikahi Gayatri dengan kandungan yang akan semakin membesar. Lagi pula uang untuk mahar belum juga terkumpul.

Sementara jika dirinya memilih maju ke jalanan padat di depannya, ada kemungkinan dia mati tertabrak. Tetapi tentu, dia akan mati dengan cara yang lebih terhormat di mata Gayatri.

“Gayatri, jika benar nilai manusia jauh melebihi harga dua ekor sapi, maka jadikanlah nyawaku ini sebagai maharmu yang paling mahal.”

Danu masih memandang kepungan orang-orang.

“Untuk anak kita. Mungkin aku takkan sempat memberi sebuah nama, atau mencium keningnya. Mungkin juga bukan aku nanti yang mendendangkan dia dengan bait-bait kidung sebagaimana tradisi di desa kita. Namun setidaknya dengan begini, aku bisa lebih baik di mata kalian.”

 Pemuda itu kini menatap tas dalam genggaman.

“Ceritakanlah pada anak kita nanti, bahwa aku pun mencintainya. Aku bukan lagi Danu, seorang pecundang…”

Danu menarik nafas. Memberi kepasrahan pada langit untuk memutar kembali alur takdir.

Danu menggenggam erat tas kulit di tangan. Dalam pikirannya hanya uang mahar untuk Gayatri. Hal itu mendorongnya sangat kuat untuk berani bertaruh nyawa dengan menerobos maju. Sosok itu tanpa ragu berlari, melibas jalan raya yang padat di hadapannya.

Sebuah bus pariwisata melaju kencang ke arah Danu yang tengah berlari. Hal itu terjadi sangat cepat. Sopir bus yang kaget tidak sempat mengerem. Pengendara lain membunyikan klakson bersahut-sahutan dengan nyaring.

Tabrakan tak ayal terjadi. Orang-orang yang mengejarnya tentu tak kalah kaget. Mereka tidak mengira pencopet itu akan bertindak sangat nekat, hingga jazad itu hancur meregang nyawa dan berdarah-darah.

Tak lama kemudian, raungan sirine mobil polisi bersahut-sahutan bersama dengan bising suara ambulance. Jalanan menjadi semakin macet. Polisi membentangkan garis kuning, dan rute jalan pun dialihkan. Sebentar saja media sudah heboh memberitakan kejadian itu.

***

Gayatri masih termenung di dalam kamar. Sejam yang lalu, tanpa sengaja dia memecahkan gelas. Puing-puing gelas berserakan. Merobek sedikit ujung kaki. Membuatnya spontan meringis tanpa suara.

Seharian itu entah mengapa ada rasa gundah yang tak biasa, mengalir dalam nadi gadis itu. Bahkan perutnya berkali-kali berdenyut hingga Gayatri merasa nyeri. Seolah ada hal yang janin itu hendak sampaikan. Gadis itu bersandar di dinding tembok ruang tamu, mematung sembari mengelus-elus perutnya yang masih belum tenang.

Tiba-tiba sirine ambulace membuyarkan lamunan. Disingkapnya gorden. Dari sana Gayatri melihat orang-orang tengah ramai di jalanan. Hati gadis itu bergetar. Kekhawatiran menjalar kembali, kali ini terasa lebih jelas. Dia bergegas keluar, mengikuti orang-orang menuju sebuah rumah, dengan tidak bertanya sepatah kata pun.

Tanpa sebab yang dirinya pun tak tau mengapa, pikirannya seolah sudah menerka skenario terburuk yang telah terjadi. Tiba-tiba air mata Gayatri jatuh dengan deras. Air mata itu menetes-netes sesaat setelah dirinya melihat seonggok jenazah yang berbalut kain kafan putih.

Ada bercak darah yang meluber keluar, mengeluarkan aroma segar. Jenazah itu diturunkan oleh para petugas tepat di depan pintu rumah seseorang yang sangat dia kenal. “Danu!” [T]

Bali, 10 Juli 2022

_____

BACA CERPEN LAIN:

Menjadi Sarjana | Cerpen Teddy Chrisprimanata Putra
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Kambali Zutas | tikus-tikus pandemi

Next Post

BaliMakãrya Film Festival 2022 | Menjadikan Bali Sebagai Kiblat Ideal Festival-Festival Film Terpenting

Ni Wayan Wijayanti

Ni Wayan Wijayanti

lahir di kota seni Gianyar-Bali pada 30 April. Menulis cerpen adalah hobinya sejak masih anak-anak. Cerpen karya-karyanya telah beberapa kali dimuat di berbagai media seperti Kompas, Ceritanet, Indonesiana.Id, Cerano, dan lain-lain. Saat ini aktif sebagai seorang SEO Content Writer untuk beberapa media dan sales marketing di salah satu penginapan wilayah Ubud.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
BaliMakãrya Film Festival 2022 | Menjadikan Bali Sebagai Kiblat Ideal Festival-Festival Film Terpenting

BaliMakãrya Film Festival 2022 | Menjadikan Bali Sebagai Kiblat Ideal Festival-Festival Film Terpenting

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co