23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rita Ishara dan Seni Draping | Merawat Nilai dan Memicu Geliat Kain Tradisional Bali

Kadek Desi Nurani by Kadek Desi Nurani
April 20, 2022
in Persona
Rita Ishara dan Seni Draping | Merawat Nilai dan Memicu Geliat Kain Tradisional Bali

Rita Ishara | Foto-foto Dok Rita Ishara

Membuka lembaran kain tak jauh beda seperti membaca halaman buku. Cara Rita Ishara mengibaskan kain ke udara, lalu mengukur dan melipat kain agar menyatu dengan tubuh para penari dan modelnya, memperlihatkan pada kita betapa kain yang selembar itu mampu membuka narasi dan ruang imajinasi tentang seni, budaya, kearifan lokal dan khususnya lagi, sosial perempuan sekitar kita. Hanya dengan melipat, kain yang tetap utuh sebagai kain ini dapat disulap menjadi aneka bentuk pakaian yang mengagumkan.

Bagi Rita, kain mampu membicarakan banyak hal, mulai dari ide kreatif, peluang kerja, kesempatan untuk terus belajar, dan tumbuhnya sebuah peradaban. Atas ketertarikannya dengan kain, Rita melakukan upaya pengenalan teknik draping kain dari panggung ke panggung. Tak seperti penggunaan kain yang mesti dijahit dan dipotong terlebih dahulu untuk menjadi pakaian kebanyakan, teknik atau seni draping memungkinkan kain tetap utuh dan membentuk berbagai model busana yang unik serta memiliki nilai estetika tinggi.

“Aku tertarik menekuni teknik drapping ini karena mewakili diriku sebagai perempuan. Draping menuntut kita berkreativitas dalam segenap keterbatasan, dimana kain dibiarkan utuh, gak boleh dipotong dan dijahit, tapi tetap harus bisa dijadikan pakaian yang unik dan menarik”, jelas perempuan yang sempat menjadi finalis Indonesian Idol ini.

Draping dan Perempuan

Teknik draping sesungguhnya telah hadir dalam berbagai rutinitas kehidupan masyarakat, Hanya saja, oleh masyarakat kebanyakan, draping belum disadari sebagai suatu keterampilan bahkan seni. Penata busana biasanya menggunakan draping dengan cara lipatan atau pola langsung di badan manekin atau model tanpa menggunting pola dan menjahitnya. Untuk  memperkuat pola yang telah dibentuk, draping hanya membutuhkan jarum pentul dan jahit cubit sebagai bantuan. Di sinilah keterampilan penata busana menjadi demikian krusial. Dibutuhkan imajinasi dan kreativitas yang tinggi untuk membuat pola draping menjadi menarik secara visual.

Jika diamati lebih dalam, teknik draping yang menghindari pemotongan pola dan menjahit, sesungguhnya mencerminkan nilai-nilai keperempuanan yang begitu kuat. Sehari-hari, draping biasa digunakan perempuan untuk memakai kamen (busana adat Bali), mengikatnya untuk membuat gendongan bayi, atau menggulungnya sebagai alas jinjing kepala. Pola draping dalam kehidupan sehari-hari, dimana begitu banyak interaksi yang terjadi antara perempuan dan kain dalam merespon situasi sosialnya, dapat dipandang sebagai cerminan negosiasi  dan kebijaksanaan perempuan itu sendiri.

“Draping itu kayak teknik untuk menjaga keutuhan tapi juga sekaligus menciptakan variasi baru tanpa menghilangkan kesejatian. Kan itu yang biasa perempuan alami kan? Jadi anak, jadi remaja, jadi istri sekaligus ibu dan nenek”, sambung Rita, perempuan kelahiran Jembrana ini.

Ibudaya Festival | Tubuh yang Tegang, Marwah Jasmine Okubo

Kultur cair dan beragam identitas yang ada di Jembrana membuat Rita menyadari identitas perempuan yang berubah-ubah baik saat perempuan ada di masa kanak, remaja, menjadi istri, ibu dan nenek, ia tetaplah perempuan. Namun, pada tiap fase perkembangan perempuan, selalu ada yang berubah, selalu menjumpai berbagai bentuk negosiasi.

Dalam kecenderungan konteks perempuan Bali, sedari kanak, perempuan sudah harus bernegosiasi dengan lingkungan yang patriarkis, yang menuntut mereka untuk tampil dalam fungsi dan perannya sebagai perempuan. Menuju remaja, perempuan mengalami negosisasi dalam penerimaan bentuk menstruasi, memperhatikan pakaian juga laku gerak dan aktivitasnya agar tetap merasa nyaman dan aman. Demikian pula ketika masuk ke jenjang rumah tangga, meninggalkan keluarga kecilnya, berinteraksi dengan keluarga baru dan relasi sosial sekitarnya.

Perempuan adalah selembar kain. Mereka membawa kesejarahan yang tidak dapat diubah oleh siapapun. Sementara draping adalah negosiasi yang mesti dilakoni perempuan dalam merespon perubahan-perubahan sekitarnya tanpa harus kehilangan jati dirinya. Jika menjahit dan memotong adalah jalan pintas satu arah untuk sampai ke akhir perjalanan, draping adalah jalan berliku dua arah yang senantiasa menawarkan proses antara awal dan akhir perjalanan.

Perbawa Pepohonan, “Purwa Jiwa” Hingga “Purna Jiwa”

Sebagai gambaran, selembar kain yang dipotong dan dijahit untuk dijadikan pakaian yang indah saat kita kanak, namun tak akan lagi bisa kita gunakan saat remaja. Sementara dalam draping, kita hanya perlu membuat polanya, mengaitkannya sesuai kebutuhan. Melalui draping, kita tetap mampu mengembalikan kain sewaktu-waktu ke awal mula.  Demikianlah draping layaknya perempuan yang bergerak dalam rangkaian perubahan beragam identitas sebagai anak, remaja, istri, ibu dan nenek serta pekerjaannya di ruang domestik dan publik.

Panggung Draping

Dalam perhelatan fashion designer, panggung menjadi salah satu peluang pertama bagaimana gagasan atau ide penciptaan tentang kain dan desainnya dapat diterima oleh khalayak. Itu pula yang diyakini Rita sehingga berani memutuskan untuk mengangkat draping khususnya pada kain tradisional Bali.

Saat ini, pameran kain-kain tradisional memang tidak pernah sepi akan kehadiran panggung fashion show. Kemahiran perancang busana dengan menggunakan teknik penjahitan telah banyak menghadirkan beragam model dan bentuk busana. Namun, bagi Rita, menjadi penting kemudian panggung fashion show yang bertajuk pelestarian kain tradisional saat ini lebih banyak membuka ruang-ruang untuk teknik draping.

Melalui draping, fashion tidak hanya berhenti pada figur desainernya saja. Draping memungkinkan terbukanya kesempatan bagi para pengrajin masyarakat untuk tampil setara dengan figur desainer, model, dan distributor dalam satu panggung. Menyadari eksistensi kain-kain tradisional masih perlu untuk diangkat lebih banyak, dalam stiap kesempatan, Rita Ishara akan menggunakan kesempatan ini untuk berbagi dengan para UMKM. Ia ingin agar UMKM untuk turut serta hadir dalam setiap panggung pertunjukan fashionnya.

Karena pola draping sangat menghindari teknik potong pola dan jahit mati. penikmat fashion show dapat menikmati keutuhan nilai kain. Dalam hal ini kehadiran pengerajin jadi penting nilainya dalam pertunjukan fashion itu sendiri. Kehadiran sejarah, ide dan motif pengrajin dalam kain akan sepenuhnya tergambar utuh. Melalui draping, perancang busana lebih banyak sebagai fasilitator untuk melengkapi nilai jual terhadap kain itu sendiri sehingga bentuk pelestarian secara pemberdayaan pengerajin, pelestarian hasil karya, sama-sama dapat terjadi.

“Melalui draping akhirnya aku jadi tahu, bukan hanya UMKM yang bisa aku beri ruang dalam pertunjukan fashionku, tetapi ada model, aktor, penata rias, pemusik, penulis, dan bahkan sanggar-sanggar tari atau ekting. Jadi menurut aku ini juga bisa dipakai peluang kerja kreatif.”

Keyakinan Rita akan panggung fashion show tentu saja tak sebatas pandangan bagaimana ia mendemokan teknik draping pada kain tradisional. Namun demikian seperti yang Rita ungkap bahwa kain, teknik draping, dan panggung fashion show adalah peluang bagi siapa saja untuk menumbuhkan karya atau kerja.

Dengan konsep fashion show theatrical, ia pun memiliki harapan terhadap pelestarian kekayaan budaya Indonesia lainnya, seperti halnya cerita rakyat nusantara. Proses adopsi dan adaptasi cerita rakyat nusantara dalam pertunjukan fashion Rita adalah misi lain untuk menyelamatkan rasa khawatirnya terhadap pengklaiman budaya-budaya Indonesia oleh negara lain. Belum lagi ia menyadari, untuk menyelamatkan itu yang musti ia tumbuhkan adalah rasa mampu bersaing dan ruang keberadaan yang pasti. Dengan kata lain Rita berharap apa yang ia awali akan berdampak baik bagi banyak orang. Baik itu penegrajin maupun pelaku seni.

Tabu Dan Batasan-Batasan yang Mengekang Tubuh

Belajar dari selembar kain, tentu tidak berarti apapun jika kita hanya memilikinya. Namun dari kacamata Rita, kain bisa meletakan kita bisa setara di panggung yang sama.  Baik itu desainernya, pengrajinnya, kainnya, penikmatnya, semuanya.  Jika berbicara prihal nilai-nilai keperempuanan pun kemudian adalah kesetaraan. Apapun rasnya, kelasnya, budayanya, semuanya harus adil, merata dan setara. [T]

Denpasar, 2022

Tags: kain tenunkain tradisionalPerempuanPerempuan Baliseni draping
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayang Sinema, Tawaran Menarik Dalam Dunia Pewayangan Kini

Next Post

Dicari, Jegeg Bagus Karangasem 2022 | Daftar dan Jadilah Kabanggaan Karangasem

Kadek Desi Nurani

Kadek Desi Nurani

Pemain teater, juga menulis puisi dan cerpen. Puisinya terkumpul dalam antologi "Hadiah untuk Langit". Alumni Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, Singaraja. Kini tinggal di Denpasar

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Dicari, Jegeg Bagus Karangasem 2022 | Daftar dan Jadilah Kabanggaan Karangasem

Dicari, Jegeg Bagus Karangasem 2022 | Daftar dan Jadilah Kabanggaan Karangasem

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co