17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tabu Dan Batasan-Batasan yang Mengekang Tubuh

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
December 19, 2019
in Ulasan
Tabu Dan Batasan-Batasan yang Mengekang Tubuh

Pentas kolaborasi ‘Tabu’ yang digelar pada 6 dan 7 Desember lalu di Cushcush Galery, Denpasar dalam rangka Program Hibah Kolaborasi Yayasan Kelola (Foto Iwan Sastrawan)

‘Pak, bagaimanakah pandangan bapak tentang tabu di Bali?’

Jika pertanyaan semacam itu yang terlontar ketika melakukan wawancara, percayalah kita takkan pernah mendapat informasi apapun yang diinginkan. Mendengar pertanyaan sensistif semacam itu, apalagi dengan narasumber yang lekat dan terkungkung dengan pola pikir tradisi kolektif masyarakatnya, tentu akan sama kualitasnya seperti mendengar dengung tawon, yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar kita. Alih-alih menanggapinya sebagai bagian dari eksistensi yang hidup berdampingan di luar tubuh-diri, kehadiran pertanyaan atau dengung tawon ini bisa dianggap jadi gangguan yang mengancam. Tinggal menunggu waktu saja, saat sapu lidi terbentang mengayun di udara, lalu… ‘Plak!’.

Tawon mati. Tanpa pernah tahu di mana letak salahnya. Pun demikian dengan nasib pertanyaan yang diajukan kepada narasumber. Maka kemampuan memilih metode riset dengan strategi yang tepat menjadi indikator penting sesungguhnya untuk mencapai hasil yang diinginkan. Riset tak hanya melulu soal membaca literature, observasi dan wawancara. Ada kerja-kerja disiplin lain yang mesti dibarengi dalam menentukan strategi riset, penerapannya ke lapangan, hingga pada eksekusi yang dihadirkan dalam panggung pertunjukan.

Bagaimanakah kerja semacam ini menemukan alur kreatifnya? Pentas kolaborasi ‘Tabu’ yang digelar pada 6 dan 7 Desember lalu di Cushcush Galery, Denpasar dalam rangka Program Hibah Kolaborasi Yayasan Kelola ini, barangkali menjadi bahan penting untuk digunakan sebagai studi kasus.

Tabu Sebagai Kerja Kolaborasi

“Seorang anak perempuan lahir dan tinggal dalam dunia rekaan Swoofone, Siji, Gumatat Gumitit Gospel, Agung Indra dan Ninus. Melalui kolaborasi film, video mapping, fashion, musik dan tari, TABU akan membagikan perspektif subjektif ketika hal yang dikira tabu, dipertanyakan dan ditelusuri kembali.”

Demikian kira-kira pengantar pentas yang tercantum pada poster Tabu tersebar di media. Sebagai sebuah kerja kolaborasi, tabu barangkali satu dari sedikit pertunjukan di Bali yang dengan tegas mempercayai sisi-sisi disiplin ilmu para kolaboratornya. Pada adegan pertama, penonton sudah digedor dengan dentuman musik elektrik komposisi Gumatat Gumitit Gospel, dibaur dengan film dari Agung Indra pada layar putih berbentuk lingkaran belakang panggung. Sementara di sisi kanan kirinya, kain putih terjulur seperti lidah rangda, dibalur video mapping bernuansa rajah merah karya Swoofone.

Film sendiri lebih banyak memunculkan bentuk solo tari. Diperankan oleh Ninus yang mengeksplorasi kostum karya Siji. Mengisahkan perjalanan kelahiran-kematian perempuan Bali dengan segala hal tentang tabu yang menyertainya. Meski tema yang diangkat begitu rentan akan tegangan konsep kultur adat Bali, baik dari segi konstruksi simbol-simbol atas perempuan dalam praktik budaya patriarki hingga ulang alik tegangan konsep tabu antara budaya urban dan budaya lokal, menariknya pentas tabu tak lantas menjebakkan diri ke dalam bentuk-bentuk tradisi.

Idiom-idiom yang biasa hadir dalam lingkungan sosial masyarakat Bali justru dimunculkan dengan menggunakan konsep defamiliarisasi melalui pengasingan bentuk dan makna. Guwungan ayam misalnya, yang biasa digunakan sebagai tempat kurungan ayam sekaligus sebagai simbol kelahiran dalam upacara, diasingkan bentuk dan makna asalnya, menjadi topi yang dilekatkan di kepala penari. Ada pula rambut perempuan dalam upacara adat Bali yang biasa diikat sanggul, sementara dalam film dibiarkan tergerai. Pun simbol ayam jago yang biasa dibawa oleh lelaki, kini begitu saja dipasangkan dengan perempuan.

Tegangan atas bentuk defamiliarisasi ini tentu saja menjadi hal unik untuk dikuliti lebih lanjut. Sayang, pengasingan bentuk dan makna yang berjubel banyaknya ini malah tak diimbangi dengan penyajian narasi yang matang. Struktur narasi yang dibangun dalam pentas tabu dengan tak menjadikannya cerita linier, membuat pentas jadi kehilangan fokus narasi. Kata-kata seolah berhamburan keluar begitu saja, meski dalam pentas sendiri lebih banyak menyajikan bahasa visual dan gerak tubuh tanpa satupun kata di dalamnya. Hal ini rupanya diamini oleh Ninus sendiri pada diskusi, bahwa tabu, dengan begitu banyak data dan perspektif yang diperoleh, membuat para kolaboratornya tak bisa menemukan simpulan tunggal atas apa dan bagaimana sebenarnya tabu itu. Maka tabu hanya menyajikan fragmen-fragmen data yang dikritisi dengan konsep defamiliarisasi tadi.

Tak ada analisis. Tak ada refleksi lebih lanjut. Menjadikan defamiliarisasi yang semula menjanjikan untuk dikorek nilainya, jadi kehilangan daya pantulnya di benak penonton. Semacam rangkaian mercon tahun baru yang memekarkan bunga api namun tak kunjung meletup di langit-langit kepala. Yang berhasil barangkali hanya gerak tubuh Ninus dalam film. Ia lapangkan tubuhnya yang notabene tergolong kecil dan mungil untuk diberi teks, menampung narasi-narasi tentang tubuh perempuan Bali dengan segala macam tabu persoalan.

Anehnya, tubuh Ninus yang putih, kecil dan mungil ini, yang timpang dengan kesan perempuan Bali umumnya, mampu memberi daya tawar lebih akan pembacaan terhadap tubuh perempuan Bali yang tak kunjung tumbuh karena tabu yang membelenggunya. Maka tabu dalam tarian Ninus dapat diterjemahkan sebagai batasan yang mengekang dan membelenggu tubuh.

Tabu dengan Segala Potensi yang Menyertai

Sebagai sebuah ide, tabu adalah salah satu fenomena yang menarik untuk digali dan diperbincangkan. Di Bali khususnya, yang kental memegang adat budaya tradisi, tabu seperti sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Tabu adalah pantangan atau larangan terhadap satu hal yang dianggap suci sebagaimana yang terkandung dalam makna leksikalnya. Dalam konteks ini, dapat kita rasai pengaruh irasionalitas begitu lekat hadir dalam kerangka menjelaskan eksistensi suatu objek/fenomena yang dianggap suci.

Irasionalitas inilah yang dalam pentas tabu tampak hendak dipertentangan dengan kerangka pikir rasional. Boleh jadi, tabu bisa dibaca ulang sebagai kelatahan akan pembatasan struktur berpikir suatu masyarakat dari generasi ke generasi tentang suatu fenomena, yang mengerak jadi pakem di kepala orang yang memercayainya. Maka tabu bukan soal pembatasan akan suatu objek yang ada di luar tubuh saja, melainkan juga pembatasan akan tubuh serta pikiran-pikiran kita sendiri.

Alih-alih merefleksikannya sebagai tema, konsep tabu sebagai sebuah pembatasan ini malah bocor, merasuk dalam kerja-kerja tim produksi dalam menyusun pertunjukannya. Mungkin karena saking percayanya pada disiplin ilmu sendiri, para kolaboratornya justru terasa begitu tabu untuk keluar dari pakem kerjanya masing-masing. Alhasil yang tersaji adalah kerja-kerja tekhnikal pertunjukan. Seperti komposisi Gumatat Gumitit Gospel yang hanya sebagai ilustrasi musik pertunjukan, serta video mapping Swoofone yang menyajikan mapping dengan jenis dan bentuk yang hampir tak ada bedanya dengan yang biasa dihadirkan pada setiap karyanya. Jika saja ada riset dan pembacaan lebih dalam tentang tema tabu, dua bentuk seni ini sejatinya punya daya tawar lebih, di tengah minimnya bentuk pertunjukan menggunakan mapping dan musik sebagai penggalian artistik.

Jika boleh dikata, pentas tabu sesungguhnya lebih condong pada bentuk film-tari ketimbang pertunjukan panggung. Dengan porsi dan durasi film karya Agung Indra yang cukup panjang, penonton disuguhi banyak data-data riset, temuan-temuan, sampai eksplorasi nilai tabu dalam film. Menjadi persoalan kemudian ketika perspektif film hanya berorientasi jadi karya film semata tanpa pertimbangan, bahwa film sendiri akan berhadapan dengan panggung pertunjukan. Tawar menawar bentuk film, pengambilan gambar, penyajian warna, penempatan layar film setidaknya menjadi hal yang mesti dielaborasi lebih lanjut dalam rangka memaksimalkan film sebagai tontonan dalam panggung.

Hal ini dibarengi pula dengan kerja koreografi Ninus dalam panggung, yang  berkebalikan dengan film. Jika dalam film, Ninus cukup berhasil membangun narasi perempuan Bali hanya dengan solo tubuhnya, namun dalam koreografi panggung,  yang semestinya paling berperan memberi esensi pertunjukan, justru tak menampilkan tarinya sebagai teks. Para penari lindap dan senyap begitu saja sebagai tubuh-tubuh yang hanya merespon film.

Andai saja kerja kolaborasi dibarengi dengan kerja-kerja dramaturgi, tentulah apa yang dipentaskan punya pengaruh besar bagi penontonnya. Sebab pada kerja dramaturgilah, terbuka ruang buat membedah, mencari kemungkinan potensi dan ditata strateginya untuk sampai menemukan konteksnya di ruang publik. Ragam kostum yang dibuat Siji berdasar riset tentang cara berpakaian orang Bali, misalnya mungkin adalah yang paling berpeluang besar untuk dijadikan dasar pijak pertunjukan. Bagaimana tubuh-tubuh masyarakat Bali yang terperangkap tabu lantaran mesti menyesuaikan dengan baju adat tradisionalnya. Pun sebaliknya, bagaimana desain baju adat tradisional Bali hari ini, ingin lepas dari kungkungan tabu adat tradisinya sendiri.

Di tengah lingkungan sosial masyarakat Bali yang secara tak langsung dipaksa untuk terbuka dengan kehadiran anasir-anasir luar kebudayaan primordialnya, tabu merupakan salah satu hal yang paling rentan berhadapan secara langsung dengan lintas kebudayaan yang saling bersilangan ini. Tak jarang, tabu kian hilang dari ingatan sosial masyarakat pemeluknya, sebagaimana hilangnya eksistensi sawah, ladang, sungai, hutan yang notabene menjadi rumah reproduksi terhadap nilai-nilai tabu itu sendiri.

Maka kolaborasi pentas tabu, di luar segala kekurangan dan kelebihannya telah menjadi ruang renung tersendiri bagi para penontonnya buat membaca, mengkritisi, atau paling tidak sekadar mengenang, bahwa dulu pernah ada tabu yang begitu tabu untuk dilupakan apalagi jika tak dihiraukan.

Demikianlah, semoga saja ada tabu-tabu lain yang menyusul untuk dipentaskan. Semoga saja tak dilarang karena dianggap tabu. [T]

Denpasar, 2019

Tags: CushCush GalleryTeaterTubuh
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Next Post

Membaca Kumpulan Cerpen dalam Pentas Drama “A Mother & A Monster” di Kampus Bawah Undiksha

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Kumpulan Cerpen dalam Pentas Drama “A Mother & A Monster” di Kampus Bawah Undiksha

Membaca Kumpulan Cerpen dalam Pentas Drama “A Mother & A Monster” di Kampus Bawah Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co