24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Festival Sastra Bali Modern: Pembuktian Juara dan Hal-hal Lain dalam Sastra Bali Modern

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 7, 2022
in Khas
Catatan Festival Sastra Bali Modern: Pembuktian Juara dan Hal-hal Lain dalam Sastra Bali Modern

Wulan dan Nurjaya

Festival Sastra Bali Modern—pertama dan terbesar di dunia—dibuka dengan diskusi kelayakan sekaligus pertanggungjawaban karya oleh juara satu dan dua lomba Timbang Buku Sastra Bali Modern. Peserta duskusi yang merupakan masyarakat pembaca, penikmat dan pelaku, dan peserta umum bisa menanyakan hal-hal terkait karya yang berbentuk esai kritik sastra atau proses atau kemantapan diri menerima juara. Secara garis besar, festival yang digelar selama satu bulan (tak penuh) dan melibatkan 74 pelaku sastra ini diniatkan untuk merespon dan memberikan apresiasi, sekaligus memelihara hubungan baik, dan hubungan kreatif dengan 60 orang peserta Lomba Esai Timbang Buku.

Pada umumnya, lomba akan selesai pada penjurian lalu pengumuman kemudian penyerahan hadiah; juara biasanya secara langsung dianggap terbaik—juara satu lebih baik dari juara dua, juara dua lebih baik dari juara tiga, dan menurun sampai akhir. Tentu Festival ini berniat lebih. Juara tidak selesai sebagai juara, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk mendiskusikan, layak-tidaknya juara, dan penting-tidaknya juara khususnya dalam ekosistem Sastra Bali Modern hari ini.

Meskipun telah melewati perdebatan paling sengit sejagat sastra Bali Modern, dengan juri kawakan, yaitu Made Adnyana Ole, sastrawan, wartawan, dan founder Tatkala.co; Gde Aryantha Soethama yang merupakan wartawan, penulis esai, dan cerpenis; serta akademisi, kritikus, dan penulis, yaitu I Made Sujaya, tentu masih ada residu yang patut untuk diperdebatkan kembali.

Diskusi yang berlangsung pada 5 Februari 2022, melalui zoom meeting ini berlangsung dengan percakapan dan pertanyaan-pertanyaan menarik dari peserta—akhirnya, obrolan tidak hanya pada karya timbang buku, tapi juga menyinggung situasi Sastra Bali Modern dan sistem penjurian pada lomba terkait kumpulan karya yang dikupas oleh pembicara. Dalam konteks ini, juara dianggap sebagai satu strategi untuk melontarkan wacana tertentu. Alhasil, pertanyaan ini mengantar peserta dan pembicara untuk mempercakapkan lomba sebagai satu ekosistem pembangun wacana, di mana lomba, sedikit tidak, berperan dalam konstruksi wacana dalam kepenulisan.

Di awal diskusi, pembicara sempat melempar satu pernyataan, bahwa tema yang diangkat dalam karya sastra Bali Modern cenderung pada kisah mistik, seolah-olah, untuk membicarakan Bali harus melalui konteks itu, sebagaimana narasi yang mengatakan bahwa membicarakan Bali mesti membicarakan adat, padahal ada berbagai isu kontemporer yang tidak kalah penting untuk dibahas, begitu juga dengan tatapan penulis dalam penokohan yang hampir serupa. Tampaknya, ada satu kemapanan cara pandang dalam dunia kepenulisan Sastra Bali Modern yang mesti diguncang untuk beranjak pada pengangkatan isu dan teknik menulis.

Ada pula satu terma yang layak untuk direnungkan, yaitu realitas Bali hari ini yang tidak lagi hidup dalam kerangka berpikir bahasa yang tunggal. Masyarakat Bali sebagaimana masyarakat belahan dunia lainnya merupakan masyarakat bilingual, dan rupanya, dalam analisis karya ditemukan bahwa ada berbagai pengaruh dari bahasa lain yang masuk dalam karya sastra Bali Modern. Tentu saja, jika karya sastra dipandang sebagai satu representasi realitas, tentu cara pandang ini perlu ditimbang dalam penulisan karya sastra Bali Modern.

Rupanya peserta memiliki  berbagai hal menarik untuk dibicarakan dalam forum ini, semisal satu lemparan protes oleh peserta lain terkait pandangan juara yang dianggap begitu-begitu saja. Peserta tersebut mengatakan sebagai berikut: “Hal yang saudara sampaikan itu sudah pernah dibahas para pelaku sastra Bali Modern, adakah tatapan lain yang saudara temukan?” Protes peserta tersebut. Tentu saja, kemampuan Made Nurjaya dan Wulan Dewi Saraswati tidak perlu diragukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para peserta. Tapi sebelum itu, mari kita lihat latar belakang dua juara ini.

Made Nurjaya adalah seorang guru. Ia menulis hal-hal post positifistik tentang kebudayaan serta religiusitas masyarakat Bali, aktif dalam mempublikasi jurnal ilmiah, salah satunya Gama Tirtha Ideology, Hegemoni Kekusaan Raja Klungkung Melalui Pemahaman Mitos Ratu Gede Nusa Penida, dan lain sebagainya. Naskahnya yang dibincangkan dalam Festival Sastra Bali Modern ini berjudul “menaja risalah maya: antara popularisme dan hedonisme dalam nyujuh langit duur bukit” mendapat juara satu.

Wulan Dewi Saraswati yang merupakan juara dua dalam lomba ini merupakan penulis, sutradara, pendiri sekaligus creative director Komunitas Aghumi. Naskah dramanya dihimpun dalam antologi “Penjarah” terbitan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali 2017, menulis naskah film pendek “Samsara”. Antologi puisinya bertajuk Seribu Pagi Secangkir Cinta (Mahima Institute Indonesia, 2017). Naskahnya yang dibincangkan dalam Festival Sastra Bali Modern ini berjudul “corak estetika mistik dalam kumpulan naskah drama mamula”.

Peserta yang mengharapkan tatapan lain dari peserta itu ditanggapi oleh Nurjaya dengan upaya Carma Citrawati dalam “Cerpen Dadong Raja”. Dalam cerpen itu, Nurjaya menemukan usaha Carma untuk merekonstruksi cara pandang umum terhadap konstruksi nilai yang mapan, yaitu usaha melihat sisi lain citra ilmu pengleakan. Sementara Wulan Dewi Saraswati menebalkan bahwa tidak ada hal baru di dunia ini, dan yang kita lihat baru barangkali kolaborasi dari hal-hal yang sudah ada, dan dalam buku kumpulan naskah drama yang ditemui Wulan terletak pada upaya beberapa penulis menghilangkan kadar “seram” pada hantu-hantu yang masuk dalam cerita.  Sementara itu, kebaruan lain adalah usaha penulis memandang hal-hal mistis dan pandangan hari ini.

Pecakapan yang hangat ini tampaknya mampu membuat peserta bertahan, meskipun diskusi berlangsung selama kurang lebih dua setengah jam, dengan jumlah peserta sebanyak rata-rata peserta yaitu 29 orang.

Berikut traffic peserta diskusi edisi pertama:

Tags: Festival Sastra Bali ModernLomba Esai Timbang Buku Sastra Bali Modernsastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belum Sempat Ditiduri Mahasiswa, Asrama Baru STAH Mpu Kuturan Jadi Tempat Isoter

Next Post

Ubud Artisan Market, Berpameran Sambil Menuntut Ilmu

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Ubud Artisan Market, Berpameran Sambil Menuntut Ilmu

Ubud Artisan Market, Berpameran Sambil Menuntut Ilmu

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co