13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meeting Point Artist Talk di Komunitas Mahima: Dialog Masa Kini Seniman Rusia dan Indonesia

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
October 25, 2021
in Khas
Meeting Point Artist Talk di Komunitas Mahima: Dialog Masa Kini Seniman Rusia dan Indonesia

Dua seniman Rusia, Anna Evtiugina dan Nikita Shokhov di Komunitas Mahima, Singaraja, Bali

Dua seniman asal Rusia, Anna Evtiugina (producer & curator) dan Nikita Shokhov (visual artist & filmmaker) hadir di rumah Belajar Komunitas Mahima di Singaraja Bali, dalam acara  Meeting Point Artist Talk  “How to Reach Greatness in Your Artistic Medium”, Jumat 22 oktober 2021.

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Lepud Art Management bersama Komunitas Mahima dan Main Cerita,  itu hadir dan bicara juga seniman Indonesia, Kadek Sonia Piscayanti (writer), Wanda & Jegeg Bulan (ventriloquist), Kardian Narayana (Journalist & Filmmaker) dan saya sendiri, I Gede Made Surya Darma (Pelukis & seniman Performance).

Dari Museum Arma

Acara ini di latar belakangi oleh pertemuan saya dengan Anna Evtiugina dan Nikita Shokhov. Dua seniman itu bercerita tentang proyek kesenian dan ketertarikannya dengan budaya Indonesia.

Dalam proyek-proyeknya, Nikita sering mengeksplorasi aspek karnaval dari realitas dalam budaya barat. Dalam arti tertentu, citraan karnaval ini menyatu dengan tradisi dan kesenian Indonesia.  Hal ini memunculkan minatnya untuk meneliti dan mempelajari lebih dalam tentang budaya dan seni Bali.

Nikita mengenal budaya Indonesia pertama kali saat melihat tarian tradisional di The Watermill Center. Dalam residensi seni di New York ini, ia bekerja dengan Robert Wilson dalam mengembangkan produksi operanya. Kemudian, Nikita melihat pertunjukan Orkestra Gamelan di California Institute of the Arts di mana ia belajar pembuatan film eksperimental.

Ia juga belajar agama Buddha di sebuah biara dekat San Francisco, dan agama Hindu di India. Ia pun tertarik dengan kisah seniman kelahiran Rusia berkebangsaan Jerman, Walter Spies, yang menetap di Bali.

Karena itulah saya kemudian mengajak Nikita dan Anna mengunjungi Museum Arma Ubud menyaksikan lebih dekat mengenai karyanya. Kami  disambut Anak Agung Gde Rai, pemilik Museum ARMA, yang kemudian menceritakan menegenai kisah jejak perjalanan Walter Spies, serta menunjukkan koleksinya mengenai karya Walter Spies.

Saya (Surya Darma) bersama Agung Rai, Anna dan Nikita di Museum Arma, Ubud, Gianyar

Saat kami makan bersama di restaurant di Museum Arma pun kami melanjutkan obrolan. Anak Agung Gde Rai menceritakan secara detail latar belakang beliau yang awalnya seorang pedagang acung, pedagang yang menjajakan lukisan untuk wisatawan, sejak SMP hingga akhirnya pada pada umur 20 tahun sudah mampu membeli tanah untuk membangun museum, dan pada umur 40 tahun akhirnya museum ARMA  diresmikan atas jerih payah dan kecintaanya terhadap karya seni.  Kami juga diberitahu proyek terakhirnya mengenai Wisma Seni untuk kegiatan artist in residency.

Artist Talk

Dengan latar belakang tersebut, saya melalui Lepud Art Management berinisiatif untuk mengadakan presentasi dan artist talk, bekerja sama dengan Komunitas Mahima dan juga Main Cerita di Singaraja.

Dalam acara tersebut, masing masing seniman yang terlibat mempresentasikan karyanya, sesuai dengan minat dan bidang masing masing, yang berupa lukisan, film, karya sastra, performance art dan pertunjukan ventriloquist.

Kardian Narayana menampilkan karya film yang berjudul “Belajar Pada Pandemi”, yang dibuatnya pada masa dunia dilanda Pandemi Covid-19. Film tersebut disutradarai oleh Eka Prasetya dan Kardian Narayana.

Kardian Narayana (kanan)

Dalam film tersebut memperlihatkan kisah ibu tentang berbagai kendala yang dialami dalam proses belajar mengajar di masa pemberian pelajaran secara daring, juga menampilkan kisah seorang guru yang sedang hamil untuk mengajar siswanya. Karena keterbatasan para siswa yang tidak memiliki handphone android, untuk kebutuhan mendapatkan pelajaran, dengan susah payah harus menemui siswanya menaiki perbukitan. Sangat ironi  sekali.

Bali sebelum terkena pandemi bergelimpangan harta, dampak dari pariwisata, namun disisi lain banyak daerah di Bali masih dengan situasi di bawah garis kemiskinan.

Kadek Sonia Piscayanti seorang sutradara dan penulis naskah drama dan puisi, menampilkan karya puisi yang berjudul Schizo Voice dan Burning Tongue tahun 2017.

Kadek Sonia Piscayanti

Schizo Voice adalah tentang suara seorang pengidap schizophrenia yang berada di antara masa lalu, kini dan masa depan. Sedangkan Burning Tongue adalah soal bagaimana kita harusnya memelihara lidah dan kata, agar tak menyakiti. Sebuah sarkas soal lidah dan kata yang bisa melukai seumur hidup.

“Jadi di puisi itu saya bilang kalau tidak bisa menggunakan lidah dengan baik, sebaiknya dibakar,” ujar Sonia, kehidupan sosial masyarakat sehari-hari banyak menjadi ide karya Sonia, dan bebera karyanya pernah  di pentaskan di Malaysia, India, Nepal, Australia, Belanda  dan Prancis diajang pertunjukan kesenian di tingkat Dunia.

NI Luh Wanda Putri Pradanti, seorang ventriloquist muda asal Bali menampilkan karya kalaborasinya dengan boneka Vent Figure yang di beri nama Jegeg Bulan, nama Jegeg Bulan tersebut di ambil dari, kata Bahasa Bali yang berarti sangat cantik. Dalam acara ini Wanda & Jegeg Bulan menampilkan karya yang berjudul A Story of Stars, bercerita tentang seorang anak yang mengunjungi bintang-bintang.

NI Luh Wanda Putri Pradanti

Cerita ini biasanya dibawakan sebagai pengantar jika ingin mengajak anak-anak mencari tahu tentang siklus hidup bintang dan tentang benda langit lainnya. Awal perjalanan Wanda sebagai ventriloquist adalah karena ia sering mendongeng untuk anak-anak. Ia percaya mendongeng untuk anak-anak dapat membantu mengembangkan imajinasi mereka, serta membangun kedekatan emosional. Ia jadi akrab dengan penggunaan boneka, kemudian mulai tertarik dengan dunia ventriloquism.

Saya sendiri, I Gede Made Surya Darma, mempresentasikan karya seni yang pernah ditampilkan di ajang seni, International di berbagai negara seperti Cina, Malaysia, India, Jepang, Myanmar, Jerman, Filipina, dan Austria.  Saya juga menunjukkan dokumentasi karya performance art mengenai perjalanan wabah yang diakibatkan oleh virus di seluruh dunia sejak 1200 tahun SM hingga saat ini, yaitu Covid-19.

Saya (Surya Darma)

Saya juga mempresentasikan keterlibatan dalam pembuatan proyek kesenian seperti  Festival International Performance Art  yang mengambil tema “Spiritual Renewal” bersama Performance Club Jogja pada tahun 2007, ikut dalam komunitas seniman di asia “Asian Youth Imagination” membuat festival subak dengan nama  “Subak with Art Festival tahun 2010.”

Saya pernah menjadi menejer di salah satu gallery kontemporer di Bali, menjadi direktur project pameran Ironi In Paradise di Museum Arma ubud padatahun 2013 bersama Sanggar Dewata Indonesia, konseptor acara dan Direktur proyek Festival Pasar Rakyat Denpasar tahun 2019, dan akhirnya membentuk management seni bernama Lepud Art Management.

Anna dan Nikita

Anna Evtiugina merupakan seorang produser dan kurator seni yang saat ini menetap di New York. Ia bercerita mengenai  proyek kurator kesenianya. Ia merupakan salah satu pendiri studio kreatif iPureLand, lembaga penasihat dan kuratorial yang berfokus pada proyek seni internasional.

Ia juga memiliki pengalaman profesional bekerja dengan International Studio and Curatorial Program, Residency Unlimited NY, State Hermitage Museum, San Jose Museum of Art, Moscow Museum of Modern Art, Galerie Iragui, Pictura Gallery. mendukung keberlanjutan organisasi seni dan budaya melalui konsultasi, kemitraan strategis dengan bisnis, dan pengembangan profesional.

Ia juga bercerita mengenai penelitianya yang saat ini difokuskan pada pengembangan kemitraan dan pertukaran strategis AS-Rusia di bidang seni. Di ISCP, Anna mengkurasi Artist Residency Award untuk artis pendatang baru yang didirikan bersama dengan grup AES+F (sejak 2020). Di Residency Unlimited, Anna mengkurasi program pengembangan dan pertukaran profesional untuk seniman, kurator, dan galeris yang berbasis di Rusia pada tahun 2019.

Nikita Shokhov (kanan) dan Anna Evtiugina

Selain itu, ia juga bercerita mengenai keterlibatanya dalam proyek  pembuatan film eksperimental 360 derajat The Klaxon (AS/Rusia, 2021) yang disutradarai oleh Nikita Shokhov, Anna mengeksplorasi penggunaan gambar sferis untuk imersif baru dan pendekatan partisipatif untuk melibatkan komunitas lokal.

Bersama Antonio Geusa, Anna mengkurasi proyek instalasi video dan media multi-channel Maret lalu oleh Naum Medovoy, Nikita Shokhov dan Oleg Makarov. Pada tahun 2017, bersama-sama mengkurasi pameran Maret Terakhir di Museum Seni Modern Moskow bekerja sama dengan galeri Salamatina yang berbasis di NY pada tahun 2017.

Pada tahun 2021, bagian kedua dari proyek dipamerkan di pusat seni Cube.Moscow dan fasad media di Yeltsin Center. Ruang tontonan online proyek: https://lastmarch.org/en. Di Museum State Hermitage, Anna bekerja di pameran monografi Roberto Matta sebagai asisten kurator (2019).

Anna mengkurasi The Art of Becoming Black in America di Indiana University (2017) yang mencakup simposium dua hari tentang peran seni dalam sejarah perlawanan dan lokakarya gerakan dengan African American Dance Company.

Pada 2011-2015, ia menjadi direktur dan asisten kuratorial di Galerie Iragui di Moskow, untuk seniman konseptual Rusia dan seniman eksperimental baru.

Evtiugina memegang gelar MA dalam Administrasi Seni dari Universitas Indiana, MA dalam Bisnis Internasional dari Universitas Federal Ural (Yekaterinburg, Rusia) dan sertifikat dalam Komunikasi Antarbudaya dari Universitas Friedrich-Schiller Jena (Jerman). Deskripsi tentang program dukungan untuk galeri yang berbasis di Rusia termasuk partisipasi dalam pameran seni, pengembangan profesional, dan residensi di NY.

Nikita Shokhov seniman visual, menjadikan manusia sebagai subjek utama dari praktiknya bersama dengan agenda filosofis.  Ia mempelajari seni visual berbasis lensa di dapatnya ketika menempuh Pendidikan di Rusia dan Amerika Serikat. Dalam presentasinya, ia menceritakan pengalamanya dalam berbagai bidang proyek kesenian, juga ketertarikanya mengenai lingkungan yang imersif, melalui karya grafik 3D dalam kehiduapan realitas, juga mengenai karyanya yang berbentuk dokumenter, video volumetrik, fotografi, dan film.

Karya-karya yang ditampilkan dalam presentasinya adalah karya yang pernah ia pamerkan di Moscow Museum of Contemporary Art, Manifesta 10 di St. Petersburg, Photoquai Biennial di Paris, galeri GRAD di London, Spring/Break Art Show di New York, teater Redcat di Los Angeles.

Atas keunikan karyanya, Nikita mendapat penghargaan di bidang kesenian di World Press Photo dan Nova Art.

Seniman Indonesia dan Rusia

Hubungan seniman Indonesia dan Rusia sudah dibina sejak kedatangan Walter Spies yang datang ke Indonesia tahun 1923. Dan menetap di Bali sejak tahun 1927.

Di masa pemerintahannya, presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, pernah dihadiahi lukisan  langka dari seniman Rusia, Konstantin Yegorovich Makovsky dengan judul “Perkawinan Adat Russia”  dengan ukuran 295 x 450 cm saat kunjungan presiden Soekarno ke Rusia. Lukisan ini merupakan hadiah rakyat  Rusia melalui Pemimpin Uni Soviet (1956-1964), Nikita Khurushchev. Lukisan tersebut di perkirakan usianya lebih dari 129 tahun

Hubungan ini juga terlihat dengan dipamerkanya karya lukisan Indonesia di Museum The State Of Oriental di Moskow yang bertajuk “ Kehidupan Baru. Kesenian Indonesia” pada tanggal 28 September hingga 16 Oktober 2016. Pameran tersebut diselenggarakan untuk memeriahkan acara Tahun Kebudayaan Rusia-ASEAN. Ada 33 koleksi lukiansa, yaitu karya karya lukisan seniman Indonesia di era tahun 1950 – 1960-an.

Semua karya itu dibuat pada priode artistik Indonesia yang sangat penting dan sekaligus menandai tahap baru perkemabangan seni rupa Indonesia. Beberapa seniman terkenal Indonesia yang ikut pameran tersebut, antara lain Joko Pekik, A. Rustamaji, Basuki Rosobowo, dan Idji Tarmizi.

Karena adanya alasan ideologi, di Indonesia sendiri karya-karya seniman di era tersebut tidak banyak ditemukan, dan pameran tersebut dianggap penting karena pengenalan sejarah Indonesia pada masa itu.

Hubungan bilateral Indonesia dengan Rusia baru-baru ini juga ditandai dengan diadakan pameran yang bertajuk “Untaian Katulistiwa (Necklace of Equator) yang digelar di Galeri Nasional Indonesia, di Jakarta. Pada tanggal 3-17 Februari 2019 Pameran tersebut untuk memperingati 70 tahun hubungan Indonesia dengan Russia.

Hubungan-hubungan seperti ini melalui seni dan kebudayaan patut di jaga untuk kemajuan seni dan kebudayaan bersama. [T]

Tags: Komunitas MahimaRusiaSeniseni pertunjukanSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kesemarakan Beragama dan Kebangkrutan Moralitas

Next Post

Hari Dokter Nasional: Saya Memilih Sebuah Otokritik

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Hari Dokter Nasional: Saya Memilih Sebuah Otokritik

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co