12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Dokter Nasional: Saya Memilih Sebuah Otokritik

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
October 25, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Tanggal 24 Oktober ini diperingati sebagai hari dokter nasional, hari lahir Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang ke 71. Cukup banyak sebetulnya isu yang sedang panas di kalangan dokter saat ini, namun yang paling ramai dibahas adalah isu kebijakan prakter dokter hanya di satu tempat saja dan regulasi yang memungkinkan dokter asing berpraktek di Indonesia.

Tentu saja, kedua situasi itu saja sudah cukup mencemaskan kita para dokter Indonesia. Belum lagi berbagai aturan, yang sebagain besar selama ini terkait dengan sistem jaminan kesehatan masyarakat (JKN) telah dinilai merugikan dokter. Profesi yang sejak kelahirannya selalu dimuliakan oleh karena kedekatannya dengan sisi kemanusiaan, harus diakui belakangan rentan akan cobaan dan ujian.

Untuk itu, kita para dokter, perlu duduk sesaat sambil nyeruput kopi hangat, untuk merenung melihat ke dalam kejujuran hati kita akan perjalanan profesi ini dan berbagai dinamika yang telah terjadi. Saya sendiri, menulis sebuah otokritik.

Ayo ke Pedalaman

Salah satu penyebab kerentanan profesi dokter saat ini adalah semakin tajamnya persaingan. Distribusi dokter, terutama dokter ahli yang terpusat di kota-kota Jawa dan Bali harus diakui memicu potensi persaingan sesama dokter. Meski jumlah penduduk di kota-kota tersebut terus bertambah, namun penambahan jumlah rumah sakit tidak seimbang dengan jumlah tamatan dokter dan kesenjangan ini dipastikan semakin curam.

Sejawat dokter hendaknya tidak perlu ragu-ragu untuk bekerja di kota-kota kabupaten wilayah NKRI yang lebih terpencil seperti Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan dan Sumtera serta NTB/NTT. Tentu saja, dalam hal ini pemerintah harus menyiapkan fasilitas kesehatan maupun insentif  yang layak bagi dokter dan regulasi yang cukup kuat untuk bisa mengatur distribusi dokter ini semakin merata di seluruh negeri.

Jika ini bisa terwujud, dampaknya tidak hanya peningkatan kualitas kesehatan bangsa yang bersumber dari pemerataan tenaga medis, pun dengan sendirinya kuota untuk peserta didik dokter ahli semakin banyak. Keadaan ini dapat mengurangi tensi persaingan baik sejak ujian masuk program pendidikan dokter spesialis (PPDS) maupun saat dokter-dokter ahli tersebut kemudian bekerja. Harus kita akui, persaingan yang keras selalu dapat mengundang cara-cara yang tidak fair dan licik.

Tidak Perlu “Upeti” Untuk Menjadi Dokter

Saya termasuk dokter yang beruntung, tidak mengeluakan uang besar untuk meraih ijazah, baik sebagai dokter umum maupun sebagai dokter ahli penyakit dalam. Lagi pula, jika harus membayar ratusan juta, dapat uang dari mana? Ayah saya cuma seorang guru SD dan ibu pedagang kecil. Saat bertugas di pedalaman pun, oleh karena masyarakat saya kurang mampu, uang sebesar itu pun takkan bisa saya miliki. Lebih surprise lagi, saat melanjutkan pendidikan dokter spesialis saya memperoleh beasiswa dari pemerintah.

Namun belakangan, meski tidak secara keseluruhan, tidak hanya pendidikan dokter ahli, untuk masuk sekolah dokter umum pun harus membayar dalam jumlah cukup besar. Jika kembali disadari saat ini negara masih butuh banyak dokter dan dokter ahli, terutama untuk wilayah lebih pelosok, seharusnya pemerintah dengan segala kemampuannya dapat memberikan subsidi yang besar kepada pendidikan dokter seperti pendidikan ikatan dinas lainnya.

Dengan demikian, jauh lebih mudah menempatkan para dokter di wilayah lebih terpencil. Tentu sekali lagi, pemerintah wajib menyiapkan fasilitas medis yang memadai, insentif yang layak serta pembangunan sektor lain guna memudahkan akses pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Jika kita mau berhitung, takkan seterusnya generasi-generasi selanjutnya dapat hidup di kota saat ini kita hidup, apalagi jika dikaitkan dengan profesi dokter. Makanya ibu kota negara pun dipandang perlu untuk dipindahkan. Orientasinya, tentu saja utamanya adalah pemerataan.

Berpraktek di Satu Tempat Juga Baik

Ini jika sudah tersedia sistem yang cukup efektif untuk mampu mengelola gagasan yang sangat baik dan efisien ini. Di negara-negara maju, bahkan tidak hanya diatur seorang dokter berpraktek di satu tempat saja, RS atau praktek mandiri misalnya. Juga sudah diatur agar dokter sejak awal mengambil hanya satu dari pilihan-pilihan akan menjadi dokter praktek baik sebagai dokter keluarga atau dokter spesialis, dosen/peneliti atau wamil misalnya.

Dengan berbagai opsi ini, pendapatan mereka sudah diatur agar layak dan berimbang. Dengan demikian, dokter takkan memaksa dirinya untuk harus menjadi dokter ahli, melainkan memilih opsi yang diminati dan sesuai bakatnya. Jika dianalisis secara matematis, baik berpraktek di tiga atau di satu tempat sebetulnya sama saja.

Untuk itu, kerjasama dengan JKN dalam hal pemerataan pasien yang berkunjung ke RS atau ke praktek mandiri merupakan syarat penting agar hanya dengan satu tempat praktek saja, jumlah pasien sudah mencukupi untuk seorang dokter. Bagaimanapun juga, saya sendiri pernah melihat langsung bagaimana konflik terjadi sesama sejawat dokter yang tidak berkenan untuk berbagi tempat praktek di satu RS.

Bagaimana Dengan Dokter Asing? 

Era perdagangan bebas ibarat kemajuan teknologi. Ia tidak bisa kita halangi. Menghalanginya adalah kemunduran. Di luar profesi dokter, pekerja asing baik skilled maupun unskilled, sudah sangat banyak hadir di Indonesia. Begitu pula, pekerja Indonesia pun tak terhitung banyaknya di luar negeri, termasuk di negera-negara maju dan modern.

Oleh karenanya, para dokter jangan terlalu gentar. Toh pada kenyataannya, orang-orang kaya Indonesia atau pejabat, memang lebih banyak berobat ke luar negeri, terutama Singapura dan Malaysia. Saya rasa bukan karena dokter mereka lebih hebat, namun lebih terkait teknologi medis mereka yang jauh lebih mumpuni dan modern.

Maka jelas ini sebuah tantangan dan peluang, untuk pemerintah lebih agresif mengupayakan pembangunan di bidang kesehatan yang lebih canggih. Ini jauh lebih efektif ketimbang terus-menerus berdebat terkait kebijakan global ini dengan berbagai narasi negatif yang cuma menguras energi.

Ikatan Dokter Indonesia, sebagai organisasi profesi terpandang dan disegani, sudah saatnya mengupayakan sinergisitas yang lebih sistematik dengan pemerintah. Empat isu faktual di atas harus bisa menjadi agenda penting pemerintah. Agar di masa depan para dokter dapat memberi kontribusi lebih besar untuk bangsa dan sebaliknya profesi mereka tetap dimuliakan, disegani dalam kehidupan yang layak tanpa dibayang-bayangi kecemasan dan intrik. [T]

Tags: dokterdokter spesialisIkatan Dokter Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meeting Point Artist Talk di Komunitas Mahima: Dialog Masa Kini Seniman Rusia dan Indonesia

Next Post

“Ini Sangat Berarti” | WTP 7 Kali, Plakat & Penghargaan, Dana Rp 40 M

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
“Ini Sangat Berarti” | WTP 7 Kali, Plakat & Penghargaan, Dana Rp 40 M

“Ini Sangat Berarti” | WTP 7 Kali, Plakat & Penghargaan, Dana Rp 40 M

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co