23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Dokter Nasional: Saya Memilih Sebuah Otokritik

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
October 25, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Tanggal 24 Oktober ini diperingati sebagai hari dokter nasional, hari lahir Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang ke 71. Cukup banyak sebetulnya isu yang sedang panas di kalangan dokter saat ini, namun yang paling ramai dibahas adalah isu kebijakan prakter dokter hanya di satu tempat saja dan regulasi yang memungkinkan dokter asing berpraktek di Indonesia.

Tentu saja, kedua situasi itu saja sudah cukup mencemaskan kita para dokter Indonesia. Belum lagi berbagai aturan, yang sebagain besar selama ini terkait dengan sistem jaminan kesehatan masyarakat (JKN) telah dinilai merugikan dokter. Profesi yang sejak kelahirannya selalu dimuliakan oleh karena kedekatannya dengan sisi kemanusiaan, harus diakui belakangan rentan akan cobaan dan ujian.

Untuk itu, kita para dokter, perlu duduk sesaat sambil nyeruput kopi hangat, untuk merenung melihat ke dalam kejujuran hati kita akan perjalanan profesi ini dan berbagai dinamika yang telah terjadi. Saya sendiri, menulis sebuah otokritik.

Ayo ke Pedalaman

Salah satu penyebab kerentanan profesi dokter saat ini adalah semakin tajamnya persaingan. Distribusi dokter, terutama dokter ahli yang terpusat di kota-kota Jawa dan Bali harus diakui memicu potensi persaingan sesama dokter. Meski jumlah penduduk di kota-kota tersebut terus bertambah, namun penambahan jumlah rumah sakit tidak seimbang dengan jumlah tamatan dokter dan kesenjangan ini dipastikan semakin curam.

Sejawat dokter hendaknya tidak perlu ragu-ragu untuk bekerja di kota-kota kabupaten wilayah NKRI yang lebih terpencil seperti Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan dan Sumtera serta NTB/NTT. Tentu saja, dalam hal ini pemerintah harus menyiapkan fasilitas kesehatan maupun insentif  yang layak bagi dokter dan regulasi yang cukup kuat untuk bisa mengatur distribusi dokter ini semakin merata di seluruh negeri.

Jika ini bisa terwujud, dampaknya tidak hanya peningkatan kualitas kesehatan bangsa yang bersumber dari pemerataan tenaga medis, pun dengan sendirinya kuota untuk peserta didik dokter ahli semakin banyak. Keadaan ini dapat mengurangi tensi persaingan baik sejak ujian masuk program pendidikan dokter spesialis (PPDS) maupun saat dokter-dokter ahli tersebut kemudian bekerja. Harus kita akui, persaingan yang keras selalu dapat mengundang cara-cara yang tidak fair dan licik.

Tidak Perlu “Upeti” Untuk Menjadi Dokter

Saya termasuk dokter yang beruntung, tidak mengeluakan uang besar untuk meraih ijazah, baik sebagai dokter umum maupun sebagai dokter ahli penyakit dalam. Lagi pula, jika harus membayar ratusan juta, dapat uang dari mana? Ayah saya cuma seorang guru SD dan ibu pedagang kecil. Saat bertugas di pedalaman pun, oleh karena masyarakat saya kurang mampu, uang sebesar itu pun takkan bisa saya miliki. Lebih surprise lagi, saat melanjutkan pendidikan dokter spesialis saya memperoleh beasiswa dari pemerintah.

Namun belakangan, meski tidak secara keseluruhan, tidak hanya pendidikan dokter ahli, untuk masuk sekolah dokter umum pun harus membayar dalam jumlah cukup besar. Jika kembali disadari saat ini negara masih butuh banyak dokter dan dokter ahli, terutama untuk wilayah lebih pelosok, seharusnya pemerintah dengan segala kemampuannya dapat memberikan subsidi yang besar kepada pendidikan dokter seperti pendidikan ikatan dinas lainnya.

Dengan demikian, jauh lebih mudah menempatkan para dokter di wilayah lebih terpencil. Tentu sekali lagi, pemerintah wajib menyiapkan fasilitas medis yang memadai, insentif yang layak serta pembangunan sektor lain guna memudahkan akses pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Jika kita mau berhitung, takkan seterusnya generasi-generasi selanjutnya dapat hidup di kota saat ini kita hidup, apalagi jika dikaitkan dengan profesi dokter. Makanya ibu kota negara pun dipandang perlu untuk dipindahkan. Orientasinya, tentu saja utamanya adalah pemerataan.

Berpraktek di Satu Tempat Juga Baik

Ini jika sudah tersedia sistem yang cukup efektif untuk mampu mengelola gagasan yang sangat baik dan efisien ini. Di negara-negara maju, bahkan tidak hanya diatur seorang dokter berpraktek di satu tempat saja, RS atau praktek mandiri misalnya. Juga sudah diatur agar dokter sejak awal mengambil hanya satu dari pilihan-pilihan akan menjadi dokter praktek baik sebagai dokter keluarga atau dokter spesialis, dosen/peneliti atau wamil misalnya.

Dengan berbagai opsi ini, pendapatan mereka sudah diatur agar layak dan berimbang. Dengan demikian, dokter takkan memaksa dirinya untuk harus menjadi dokter ahli, melainkan memilih opsi yang diminati dan sesuai bakatnya. Jika dianalisis secara matematis, baik berpraktek di tiga atau di satu tempat sebetulnya sama saja.

Untuk itu, kerjasama dengan JKN dalam hal pemerataan pasien yang berkunjung ke RS atau ke praktek mandiri merupakan syarat penting agar hanya dengan satu tempat praktek saja, jumlah pasien sudah mencukupi untuk seorang dokter. Bagaimanapun juga, saya sendiri pernah melihat langsung bagaimana konflik terjadi sesama sejawat dokter yang tidak berkenan untuk berbagi tempat praktek di satu RS.

Bagaimana Dengan Dokter Asing? 

Era perdagangan bebas ibarat kemajuan teknologi. Ia tidak bisa kita halangi. Menghalanginya adalah kemunduran. Di luar profesi dokter, pekerja asing baik skilled maupun unskilled, sudah sangat banyak hadir di Indonesia. Begitu pula, pekerja Indonesia pun tak terhitung banyaknya di luar negeri, termasuk di negera-negara maju dan modern.

Oleh karenanya, para dokter jangan terlalu gentar. Toh pada kenyataannya, orang-orang kaya Indonesia atau pejabat, memang lebih banyak berobat ke luar negeri, terutama Singapura dan Malaysia. Saya rasa bukan karena dokter mereka lebih hebat, namun lebih terkait teknologi medis mereka yang jauh lebih mumpuni dan modern.

Maka jelas ini sebuah tantangan dan peluang, untuk pemerintah lebih agresif mengupayakan pembangunan di bidang kesehatan yang lebih canggih. Ini jauh lebih efektif ketimbang terus-menerus berdebat terkait kebijakan global ini dengan berbagai narasi negatif yang cuma menguras energi.

Ikatan Dokter Indonesia, sebagai organisasi profesi terpandang dan disegani, sudah saatnya mengupayakan sinergisitas yang lebih sistematik dengan pemerintah. Empat isu faktual di atas harus bisa menjadi agenda penting pemerintah. Agar di masa depan para dokter dapat memberi kontribusi lebih besar untuk bangsa dan sebaliknya profesi mereka tetap dimuliakan, disegani dalam kehidupan yang layak tanpa dibayang-bayangi kecemasan dan intrik. [T]

Tags: dokterdokter spesialisIkatan Dokter Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meeting Point Artist Talk di Komunitas Mahima: Dialog Masa Kini Seniman Rusia dan Indonesia

Next Post

“Ini Sangat Berarti” | WTP 7 Kali, Plakat & Penghargaan, Dana Rp 40 M

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
“Ini Sangat Berarti” | WTP 7 Kali, Plakat & Penghargaan, Dana Rp 40 M

“Ini Sangat Berarti” | WTP 7 Kali, Plakat & Penghargaan, Dana Rp 40 M

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co