2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Dokter Nasional: Saya Memilih Sebuah Otokritik

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
October 25, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Tanggal 24 Oktober ini diperingati sebagai hari dokter nasional, hari lahir Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang ke 71. Cukup banyak sebetulnya isu yang sedang panas di kalangan dokter saat ini, namun yang paling ramai dibahas adalah isu kebijakan prakter dokter hanya di satu tempat saja dan regulasi yang memungkinkan dokter asing berpraktek di Indonesia.

Tentu saja, kedua situasi itu saja sudah cukup mencemaskan kita para dokter Indonesia. Belum lagi berbagai aturan, yang sebagain besar selama ini terkait dengan sistem jaminan kesehatan masyarakat (JKN) telah dinilai merugikan dokter. Profesi yang sejak kelahirannya selalu dimuliakan oleh karena kedekatannya dengan sisi kemanusiaan, harus diakui belakangan rentan akan cobaan dan ujian.

Untuk itu, kita para dokter, perlu duduk sesaat sambil nyeruput kopi hangat, untuk merenung melihat ke dalam kejujuran hati kita akan perjalanan profesi ini dan berbagai dinamika yang telah terjadi. Saya sendiri, menulis sebuah otokritik.

Ayo ke Pedalaman

Salah satu penyebab kerentanan profesi dokter saat ini adalah semakin tajamnya persaingan. Distribusi dokter, terutama dokter ahli yang terpusat di kota-kota Jawa dan Bali harus diakui memicu potensi persaingan sesama dokter. Meski jumlah penduduk di kota-kota tersebut terus bertambah, namun penambahan jumlah rumah sakit tidak seimbang dengan jumlah tamatan dokter dan kesenjangan ini dipastikan semakin curam.

Sejawat dokter hendaknya tidak perlu ragu-ragu untuk bekerja di kota-kota kabupaten wilayah NKRI yang lebih terpencil seperti Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan dan Sumtera serta NTB/NTT. Tentu saja, dalam hal ini pemerintah harus menyiapkan fasilitas kesehatan maupun insentif  yang layak bagi dokter dan regulasi yang cukup kuat untuk bisa mengatur distribusi dokter ini semakin merata di seluruh negeri.

Jika ini bisa terwujud, dampaknya tidak hanya peningkatan kualitas kesehatan bangsa yang bersumber dari pemerataan tenaga medis, pun dengan sendirinya kuota untuk peserta didik dokter ahli semakin banyak. Keadaan ini dapat mengurangi tensi persaingan baik sejak ujian masuk program pendidikan dokter spesialis (PPDS) maupun saat dokter-dokter ahli tersebut kemudian bekerja. Harus kita akui, persaingan yang keras selalu dapat mengundang cara-cara yang tidak fair dan licik.

Tidak Perlu “Upeti” Untuk Menjadi Dokter

Saya termasuk dokter yang beruntung, tidak mengeluakan uang besar untuk meraih ijazah, baik sebagai dokter umum maupun sebagai dokter ahli penyakit dalam. Lagi pula, jika harus membayar ratusan juta, dapat uang dari mana? Ayah saya cuma seorang guru SD dan ibu pedagang kecil. Saat bertugas di pedalaman pun, oleh karena masyarakat saya kurang mampu, uang sebesar itu pun takkan bisa saya miliki. Lebih surprise lagi, saat melanjutkan pendidikan dokter spesialis saya memperoleh beasiswa dari pemerintah.

Namun belakangan, meski tidak secara keseluruhan, tidak hanya pendidikan dokter ahli, untuk masuk sekolah dokter umum pun harus membayar dalam jumlah cukup besar. Jika kembali disadari saat ini negara masih butuh banyak dokter dan dokter ahli, terutama untuk wilayah lebih pelosok, seharusnya pemerintah dengan segala kemampuannya dapat memberikan subsidi yang besar kepada pendidikan dokter seperti pendidikan ikatan dinas lainnya.

Dengan demikian, jauh lebih mudah menempatkan para dokter di wilayah lebih terpencil. Tentu sekali lagi, pemerintah wajib menyiapkan fasilitas medis yang memadai, insentif yang layak serta pembangunan sektor lain guna memudahkan akses pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Jika kita mau berhitung, takkan seterusnya generasi-generasi selanjutnya dapat hidup di kota saat ini kita hidup, apalagi jika dikaitkan dengan profesi dokter. Makanya ibu kota negara pun dipandang perlu untuk dipindahkan. Orientasinya, tentu saja utamanya adalah pemerataan.

Berpraktek di Satu Tempat Juga Baik

Ini jika sudah tersedia sistem yang cukup efektif untuk mampu mengelola gagasan yang sangat baik dan efisien ini. Di negara-negara maju, bahkan tidak hanya diatur seorang dokter berpraktek di satu tempat saja, RS atau praktek mandiri misalnya. Juga sudah diatur agar dokter sejak awal mengambil hanya satu dari pilihan-pilihan akan menjadi dokter praktek baik sebagai dokter keluarga atau dokter spesialis, dosen/peneliti atau wamil misalnya.

Dengan berbagai opsi ini, pendapatan mereka sudah diatur agar layak dan berimbang. Dengan demikian, dokter takkan memaksa dirinya untuk harus menjadi dokter ahli, melainkan memilih opsi yang diminati dan sesuai bakatnya. Jika dianalisis secara matematis, baik berpraktek di tiga atau di satu tempat sebetulnya sama saja.

Untuk itu, kerjasama dengan JKN dalam hal pemerataan pasien yang berkunjung ke RS atau ke praktek mandiri merupakan syarat penting agar hanya dengan satu tempat praktek saja, jumlah pasien sudah mencukupi untuk seorang dokter. Bagaimanapun juga, saya sendiri pernah melihat langsung bagaimana konflik terjadi sesama sejawat dokter yang tidak berkenan untuk berbagi tempat praktek di satu RS.

Bagaimana Dengan Dokter Asing? 

Era perdagangan bebas ibarat kemajuan teknologi. Ia tidak bisa kita halangi. Menghalanginya adalah kemunduran. Di luar profesi dokter, pekerja asing baik skilled maupun unskilled, sudah sangat banyak hadir di Indonesia. Begitu pula, pekerja Indonesia pun tak terhitung banyaknya di luar negeri, termasuk di negera-negara maju dan modern.

Oleh karenanya, para dokter jangan terlalu gentar. Toh pada kenyataannya, orang-orang kaya Indonesia atau pejabat, memang lebih banyak berobat ke luar negeri, terutama Singapura dan Malaysia. Saya rasa bukan karena dokter mereka lebih hebat, namun lebih terkait teknologi medis mereka yang jauh lebih mumpuni dan modern.

Maka jelas ini sebuah tantangan dan peluang, untuk pemerintah lebih agresif mengupayakan pembangunan di bidang kesehatan yang lebih canggih. Ini jauh lebih efektif ketimbang terus-menerus berdebat terkait kebijakan global ini dengan berbagai narasi negatif yang cuma menguras energi.

Ikatan Dokter Indonesia, sebagai organisasi profesi terpandang dan disegani, sudah saatnya mengupayakan sinergisitas yang lebih sistematik dengan pemerintah. Empat isu faktual di atas harus bisa menjadi agenda penting pemerintah. Agar di masa depan para dokter dapat memberi kontribusi lebih besar untuk bangsa dan sebaliknya profesi mereka tetap dimuliakan, disegani dalam kehidupan yang layak tanpa dibayang-bayangi kecemasan dan intrik. [T]

Tags: dokterdokter spesialisIkatan Dokter Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meeting Point Artist Talk di Komunitas Mahima: Dialog Masa Kini Seniman Rusia dan Indonesia

Next Post

“Ini Sangat Berarti” | WTP 7 Kali, Plakat & Penghargaan, Dana Rp 40 M

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
“Ini Sangat Berarti” | WTP 7 Kali, Plakat & Penghargaan, Dana Rp 40 M

“Ini Sangat Berarti” | WTP 7 Kali, Plakat & Penghargaan, Dana Rp 40 M

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co