2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ranty | Cerpen Rastiti Era

Rastiti Era by Rastiti Era
October 23, 2021
in Cerpen
Ranty | Cerpen Rastiti Era

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Kematian datang menjemput tanpa undangan, kadang tanpa tanda-tanda. Seperti roda, kehidupan terus berputar hingga menemukan batasnya. Jika bisa memilih, manusia akan merencanakan kapan hari kematian itu tiba. Jika bisa memilih, manusia akan semakin semena-mena, apalagi jika bisa memutuskan kapan berhentinya kehidupan seseorang. Beruntunglah manusia tak tahu kapan hari kematian itu tiba. Walaupun begitu, ada kalanya, manusia mempunyai ego untuk mengatur kematian orang-orang termasuk dirinya sendiri.

***

Anak perempuan sepertiku tentu menyukai boneka beruang. Si beruang cokelat pemberian mama itu kunamakan Bobo, seperti nama majalah kesukaanku. Bobo menjadi pelipur lara bagiku. Ranty yang kesepian, Ranty yang selalu ditinggal bekerja, dan Ranty yang tak tahu kapan mama dan papa bisa mengajaknya bermain lagi. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, begitulah hal yang aku tahu setiap kali aku mengajak bermain walau hanya sebentar. Kadang aku lelah menunggu mereka pulang, ingin rasanya aku bisa menghilang dan mereka bingung mencariku.

Bobo menjadi temanku selama di rumah. Aku melakukan apa saja bersamanya. Kadang aku hanya diam dan menghayal jika Bobo bisa berbicara dan mengajakku bercerita apa saja. Aku ingin mengeluhkan bagaimana mama dan papa yang tak pernah peduli lagi denganku semenjak kesibukan mereka semakin banyak. Aku ingin Bobo menceritakan bagaimana enaknya menjadi boneka yang memiliki banyak teman karena mama membelikanku banyak boneka.

Aku ingin mengatakan betapa bosannya menjadi orang yang kesepian, kenapa mama dan papa selalu sibuk? Aku benci mereka! Bahkan untuk bermain denganku saja mereka tidak bisa. Apa gunanya aku buat mereka? Kenapa mereka melakukan ini padaku? Apakah aku bukan anak mereka?

Suatu hari pembantuku mengatakan bahwa ia berhenti bekerja menjadi pembantu di rumahku. Ibunya sakit keras, ia memerlukan perhatian yang lebih banyak sehingga pembantuku memilih untuk kembali ke kampungnya. Mama sudah menemukan pengganti, namanya Minah. Dia lebih muda dan cantik.

Dia sepertinya sangat akrab dengan mama, mereka terlihat seperti teman yang tak terpisahkan. Mereka mengobrol tentang banyak hal saat Minah baru sampai rumah. Minah tersenyum ramah padaku dan langsung mengajakku bermain. Dia berkata akan bekerja besok namun hari ini sudah pindah ke rumahku. Hari-hariku yang menyebalkan mulai terisi karena Minah selalu mau diajak bermain, entah di halaman atau hanya di kamar bermain boneka.

Suatu hari Minah tidak mau diganggu, katanya dia sibuk sekali dengan pekerjaannya. Aku pun hanya bisa diam bersama Bobo di dalam kamar. Hari itu aku mendengar suara mobil mama. Jarang sekali mama pulang secepat ini, pikirku. Aku pun menghampiri mama di pintu masuk, berharap ia akan mengajakku membeli boneka atau sekedar bermain di kamar.

Sayangnya, mama berkata dia sangat lelah dengan pekerjaannya. Aku disuruh kembali masuk ke kamarku dan bermain dengan Bobo. Aku hanya bisa mendengus kesal dan mengiyakan perkataan mama. Tak berselang berapa lama, mama kembali memacu mobilnya ke jalan. Aku bergegas keluar, ingin melihat apakah benar mama pergi dengan mobilnya. Di tengah ruang tamu berbentuk persegi ini Minah berada di dekat jendela yang menghadap jalanan yang dilewati mobil mama.

“Minah, ngapain?” tanyaku yang sontak membuatnya terkejut. Muka Minah pucat tapi segera dia menyuruhku makan siang. Badan Minah terlihat sangat lelah seperti habis mengerjakan sebuah pekerjaan yang berat.

Beberapa hari setelahnya, mama sempat pulang siang hari tapi tak lama setelahnya ia kembali memacu mobilnya ke jalanan. Sepertinya mama makan siang di rumah, pikirku. Tapi kenapa dia tidak mengajakku? Apa masalahnya untuk makan siang bersama anaknya sendiri?

Aku pun bertanya pada Minah apa yang mama lakukan saat dia berada di rumah. Minah hanya berkata mama ingin makan siang sendiri dan mengambil dokumen yang ketinggalan. Ah, baiklah mama memang jahat padaku dan aku malas sekali mempermasalahkan hal ini.

Suatu hari papa pulang lebih cepat dari hari biasanya. Aku bergegas menyambutnya dan papa ternyata membelikan boneka baru untukku. Ini akan menjadi teman baru kamu, katanya. Boneka baru ini mirip sekali dengan bobo, boneka kesayanganku. Papa menyuruhku untuk bermain di dalam kamar dan tidak mengganggunya karena dia akan mengerjakan pekerjaan di rumah.

Aku hanya bisa mendengus kesal dan kembali masuk ke kamarku. Ternyata papa juga terlalu sibuk walaupun bisa pulang lebih cepat, tak ada bedanya dengan mama.

Papa mengetuk pintu kamarku dan mengajakku makan siang. Aku mengiyakan dan segera mengikuti papa ke meja makan. Di meja makan hanya ada nugget dan nasi putih dengan jus jeruk yang papa ambil di kulkas.

Cerita tentang mama yang sempat pulang tapi kembali memacu mobilnya ke jalanan aku ungkapkan ke papa. Ia mendengarkan dengan seksama dan aku mulai bercerita kemana-mana. Aku senang papa mau makan siang bersamaku, aku sangat jarang bertemu dengannya.

Aku melihat ada bercak merah di beberapa bagian kemeja papa.

“Papa kok kemejanya merah? Papa buka sambal sampai muncrat?” Papa melihat kemejanya.

“Iya sayang tadi botol sambelnya susah banget dibuka, Papa jadi ngga sengaja muncratin deh.”

“Oh trus mana botolnya, Pa? Kok ngga dibawa kesini?” Muka Papa yang terlihat kelelahan itu segera mengambil botol sambal ke dapur.

“Ini sayang, kamu mau?”

“Mau, Pa, eh tapi kok ini keliatannya belum pernah dikeluarin sih, Pa?”

“Nih papa tuangin ke makananmu, udah ya, papa capek mending makan makanannya biar ngga cepet dingin.” Aku hanya mengiyakan dan melanjutkan ritual makanku yang sempat tertunda.

Sampai malam aku tak melihat keberadaan Minah. Papa menemaniku bermain seharian dan aku benar-benar senang hari itu. Suara mobil mama terdengar dan aku mengajak papa untuk melihat mama. Papa mengiyakan dan berjalan bersamaku.

Aku ingin mengajak mama bermain, segera aku pergi ke pintu dan menyambut mama. Muka mama sangat lelah dan tanpa melihat ke arah papa, ia bergegas menuju kamarnya. Papa menyusul mama dan menyuruhku untuk masuk ke kamarku dan segera tidur. Aku kesal, lagi (dan lagi) mengiyakan perkataan mama karena mataku juga sudah mengantuk.

Di kamarku yang besar ini aku tidur bersama Bobo dan boneka baru yang belum kuberi nama. Tak berselang berapa lama, aku mendengar mama dan papa beradu mulut, entah apa yang mereka ributkan. Aku berusaha tak peduli dengan urusan orang-orang dewasa itu. Tubuhku sudah terlalu lelah karena main kejar-kejaran bersama papa sore tadi. Sebenarnya aku masih bertanya-tanya, di mana Minah?

***

Tubuhku terasa sedikit bergoyang, entah ini mimpi atau tidak. Aku merasa berada di tempat yang bukan kasur empukku. Mataku mulai sedikit terbuka, dan aku tidur di dalam mobil bersama Bobo dan boneka baru yang belum aku beri nama.

“Udah bangun, Sayang?” sebuah suara datang dari kursi pengemudi.

“Papa,” kataku lemah.

“Iya, ini Papa. Kamu tidur lagi sana, ini udah malam.”

“Papa mau ngajak aku ke mana?”

“Ngga ke mana-mana kok sayang, Kamu tidur aja lagi.”

“Ngga mau, Udah nggak ngantuk.”

“Yaudah kalau ngga mau tidur, kamu diem aja di sana.”

Aku menegakkan badan dan duduk sambil melepaskan selimut yang melapisi tubuhku. Aku duduk di kursi penumpang dan aku melihat di bagasi belakang ada dua plastik hitam besar.

“Itu plastik apa, Pa?” tanyaku pada papa yang masih fokus mengemudikan mobilnya.

“Itu Mama sama Minah sayang,” jawab papa singkat. Ketakutan seketika menyelimutiku.

“Kenapa, Pa?” tanyaku gemetar.

“Karena mereka saling menyukai,” kata papa. Aku diam, tak berani mengungkapkan apa-apa. Papa tak berbicara sepatah kata pun. Aku memberanikan untuk bertanya lagi

“Lalu kita akan kemana, Pa?”

“Ke neraka,” katanya singkat.

Aku bisa merasakan mobil papa tak lagi menyentuh tanah. Aku merasakan sensasi ketakutan yang menjadi-jadi di sekitar angin yang tak mampu menahan laju mobil ini. Suara terakhir yang aku dengar adalah deburan ombak yang keras, lalu air masuk dari sela-sela mobil dan menenggelamkan kami di tengah kegelapan malam. [T]

__________

KLIK CERPEN LAIN

Petak Umpet-Umpetan | Cerpen Indra Putra

__________

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peran Kecil dengan Pelajaran Besar | Ikut-ikutan Main Teater di Komunitas Mahima untuk Festival Bali Jani 2021

Next Post

Puisi-puisi Winar Ramelan | Kelir Sunyi, Ziarah Angin

Rastiti Era

Rastiti Era

Biasa dipanggil Era, adalah penikmat teh, kopi, susu, dan buku. Mengulas buku melalui Podcast Sahabat Buku. Kini tercatat sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Punya hobi unik: berteman dengan siapa saja. Silakan hubungi di Instagram @rastiti_era.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Winar Ramelan | Kelir Sunyi, Ziarah Angin

Puisi-puisi Winar Ramelan | Kelir Sunyi, Ziarah Angin

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co