14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ranty | Cerpen Rastiti Era

Rastiti Era by Rastiti Era
October 23, 2021
in Cerpen
Ranty | Cerpen Rastiti Era

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Kematian datang menjemput tanpa undangan, kadang tanpa tanda-tanda. Seperti roda, kehidupan terus berputar hingga menemukan batasnya. Jika bisa memilih, manusia akan merencanakan kapan hari kematian itu tiba. Jika bisa memilih, manusia akan semakin semena-mena, apalagi jika bisa memutuskan kapan berhentinya kehidupan seseorang. Beruntunglah manusia tak tahu kapan hari kematian itu tiba. Walaupun begitu, ada kalanya, manusia mempunyai ego untuk mengatur kematian orang-orang termasuk dirinya sendiri.

***

Anak perempuan sepertiku tentu menyukai boneka beruang. Si beruang cokelat pemberian mama itu kunamakan Bobo, seperti nama majalah kesukaanku. Bobo menjadi pelipur lara bagiku. Ranty yang kesepian, Ranty yang selalu ditinggal bekerja, dan Ranty yang tak tahu kapan mama dan papa bisa mengajaknya bermain lagi. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, begitulah hal yang aku tahu setiap kali aku mengajak bermain walau hanya sebentar. Kadang aku lelah menunggu mereka pulang, ingin rasanya aku bisa menghilang dan mereka bingung mencariku.

Bobo menjadi temanku selama di rumah. Aku melakukan apa saja bersamanya. Kadang aku hanya diam dan menghayal jika Bobo bisa berbicara dan mengajakku bercerita apa saja. Aku ingin mengeluhkan bagaimana mama dan papa yang tak pernah peduli lagi denganku semenjak kesibukan mereka semakin banyak. Aku ingin Bobo menceritakan bagaimana enaknya menjadi boneka yang memiliki banyak teman karena mama membelikanku banyak boneka.

Aku ingin mengatakan betapa bosannya menjadi orang yang kesepian, kenapa mama dan papa selalu sibuk? Aku benci mereka! Bahkan untuk bermain denganku saja mereka tidak bisa. Apa gunanya aku buat mereka? Kenapa mereka melakukan ini padaku? Apakah aku bukan anak mereka?

Suatu hari pembantuku mengatakan bahwa ia berhenti bekerja menjadi pembantu di rumahku. Ibunya sakit keras, ia memerlukan perhatian yang lebih banyak sehingga pembantuku memilih untuk kembali ke kampungnya. Mama sudah menemukan pengganti, namanya Minah. Dia lebih muda dan cantik.

Dia sepertinya sangat akrab dengan mama, mereka terlihat seperti teman yang tak terpisahkan. Mereka mengobrol tentang banyak hal saat Minah baru sampai rumah. Minah tersenyum ramah padaku dan langsung mengajakku bermain. Dia berkata akan bekerja besok namun hari ini sudah pindah ke rumahku. Hari-hariku yang menyebalkan mulai terisi karena Minah selalu mau diajak bermain, entah di halaman atau hanya di kamar bermain boneka.

Suatu hari Minah tidak mau diganggu, katanya dia sibuk sekali dengan pekerjaannya. Aku pun hanya bisa diam bersama Bobo di dalam kamar. Hari itu aku mendengar suara mobil mama. Jarang sekali mama pulang secepat ini, pikirku. Aku pun menghampiri mama di pintu masuk, berharap ia akan mengajakku membeli boneka atau sekedar bermain di kamar.

Sayangnya, mama berkata dia sangat lelah dengan pekerjaannya. Aku disuruh kembali masuk ke kamarku dan bermain dengan Bobo. Aku hanya bisa mendengus kesal dan mengiyakan perkataan mama. Tak berselang berapa lama, mama kembali memacu mobilnya ke jalan. Aku bergegas keluar, ingin melihat apakah benar mama pergi dengan mobilnya. Di tengah ruang tamu berbentuk persegi ini Minah berada di dekat jendela yang menghadap jalanan yang dilewati mobil mama.

“Minah, ngapain?” tanyaku yang sontak membuatnya terkejut. Muka Minah pucat tapi segera dia menyuruhku makan siang. Badan Minah terlihat sangat lelah seperti habis mengerjakan sebuah pekerjaan yang berat.

Beberapa hari setelahnya, mama sempat pulang siang hari tapi tak lama setelahnya ia kembali memacu mobilnya ke jalanan. Sepertinya mama makan siang di rumah, pikirku. Tapi kenapa dia tidak mengajakku? Apa masalahnya untuk makan siang bersama anaknya sendiri?

Aku pun bertanya pada Minah apa yang mama lakukan saat dia berada di rumah. Minah hanya berkata mama ingin makan siang sendiri dan mengambil dokumen yang ketinggalan. Ah, baiklah mama memang jahat padaku dan aku malas sekali mempermasalahkan hal ini.

Suatu hari papa pulang lebih cepat dari hari biasanya. Aku bergegas menyambutnya dan papa ternyata membelikan boneka baru untukku. Ini akan menjadi teman baru kamu, katanya. Boneka baru ini mirip sekali dengan bobo, boneka kesayanganku. Papa menyuruhku untuk bermain di dalam kamar dan tidak mengganggunya karena dia akan mengerjakan pekerjaan di rumah.

Aku hanya bisa mendengus kesal dan kembali masuk ke kamarku. Ternyata papa juga terlalu sibuk walaupun bisa pulang lebih cepat, tak ada bedanya dengan mama.

Papa mengetuk pintu kamarku dan mengajakku makan siang. Aku mengiyakan dan segera mengikuti papa ke meja makan. Di meja makan hanya ada nugget dan nasi putih dengan jus jeruk yang papa ambil di kulkas.

Cerita tentang mama yang sempat pulang tapi kembali memacu mobilnya ke jalanan aku ungkapkan ke papa. Ia mendengarkan dengan seksama dan aku mulai bercerita kemana-mana. Aku senang papa mau makan siang bersamaku, aku sangat jarang bertemu dengannya.

Aku melihat ada bercak merah di beberapa bagian kemeja papa.

“Papa kok kemejanya merah? Papa buka sambal sampai muncrat?” Papa melihat kemejanya.

“Iya sayang tadi botol sambelnya susah banget dibuka, Papa jadi ngga sengaja muncratin deh.”

“Oh trus mana botolnya, Pa? Kok ngga dibawa kesini?” Muka Papa yang terlihat kelelahan itu segera mengambil botol sambal ke dapur.

“Ini sayang, kamu mau?”

“Mau, Pa, eh tapi kok ini keliatannya belum pernah dikeluarin sih, Pa?”

“Nih papa tuangin ke makananmu, udah ya, papa capek mending makan makanannya biar ngga cepet dingin.” Aku hanya mengiyakan dan melanjutkan ritual makanku yang sempat tertunda.

Sampai malam aku tak melihat keberadaan Minah. Papa menemaniku bermain seharian dan aku benar-benar senang hari itu. Suara mobil mama terdengar dan aku mengajak papa untuk melihat mama. Papa mengiyakan dan berjalan bersamaku.

Aku ingin mengajak mama bermain, segera aku pergi ke pintu dan menyambut mama. Muka mama sangat lelah dan tanpa melihat ke arah papa, ia bergegas menuju kamarnya. Papa menyusul mama dan menyuruhku untuk masuk ke kamarku dan segera tidur. Aku kesal, lagi (dan lagi) mengiyakan perkataan mama karena mataku juga sudah mengantuk.

Di kamarku yang besar ini aku tidur bersama Bobo dan boneka baru yang belum kuberi nama. Tak berselang berapa lama, aku mendengar mama dan papa beradu mulut, entah apa yang mereka ributkan. Aku berusaha tak peduli dengan urusan orang-orang dewasa itu. Tubuhku sudah terlalu lelah karena main kejar-kejaran bersama papa sore tadi. Sebenarnya aku masih bertanya-tanya, di mana Minah?

***

Tubuhku terasa sedikit bergoyang, entah ini mimpi atau tidak. Aku merasa berada di tempat yang bukan kasur empukku. Mataku mulai sedikit terbuka, dan aku tidur di dalam mobil bersama Bobo dan boneka baru yang belum aku beri nama.

“Udah bangun, Sayang?” sebuah suara datang dari kursi pengemudi.

“Papa,” kataku lemah.

“Iya, ini Papa. Kamu tidur lagi sana, ini udah malam.”

“Papa mau ngajak aku ke mana?”

“Ngga ke mana-mana kok sayang, Kamu tidur aja lagi.”

“Ngga mau, Udah nggak ngantuk.”

“Yaudah kalau ngga mau tidur, kamu diem aja di sana.”

Aku menegakkan badan dan duduk sambil melepaskan selimut yang melapisi tubuhku. Aku duduk di kursi penumpang dan aku melihat di bagasi belakang ada dua plastik hitam besar.

“Itu plastik apa, Pa?” tanyaku pada papa yang masih fokus mengemudikan mobilnya.

“Itu Mama sama Minah sayang,” jawab papa singkat. Ketakutan seketika menyelimutiku.

“Kenapa, Pa?” tanyaku gemetar.

“Karena mereka saling menyukai,” kata papa. Aku diam, tak berani mengungkapkan apa-apa. Papa tak berbicara sepatah kata pun. Aku memberanikan untuk bertanya lagi

“Lalu kita akan kemana, Pa?”

“Ke neraka,” katanya singkat.

Aku bisa merasakan mobil papa tak lagi menyentuh tanah. Aku merasakan sensasi ketakutan yang menjadi-jadi di sekitar angin yang tak mampu menahan laju mobil ini. Suara terakhir yang aku dengar adalah deburan ombak yang keras, lalu air masuk dari sela-sela mobil dan menenggelamkan kami di tengah kegelapan malam. [T]

__________

KLIK CERPEN LAIN

Petak Umpet-Umpetan | Cerpen Indra Putra

__________

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peran Kecil dengan Pelajaran Besar | Ikut-ikutan Main Teater di Komunitas Mahima untuk Festival Bali Jani 2021

Next Post

Puisi-puisi Winar Ramelan | Kelir Sunyi, Ziarah Angin

Rastiti Era

Rastiti Era

Biasa dipanggil Era, adalah penikmat teh, kopi, susu, dan buku. Mengulas buku melalui Podcast Sahabat Buku. Kini tercatat sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Punya hobi unik: berteman dengan siapa saja. Silakan hubungi di Instagram @rastiti_era.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Winar Ramelan | Kelir Sunyi, Ziarah Angin

Puisi-puisi Winar Ramelan | Kelir Sunyi, Ziarah Angin

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co