23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibudaya Festival | Warna Hidup Tini Wahyuni, Dari Trauma Hingga Asik Mengempu Diri

Ibudaya Festival by Ibudaya Festival
October 18, 2021
in Khas
Ibudaya Festival | Warna Hidup Tini Wahyuni, Dari Trauma Hingga Asik Mengempu Diri

Tono Wahyuni | Foto-foto: Dok Ibudaya Festival

“Mbok Tini, nama lengkapnya siapa  dan lahirnya kapan nggih ?” tanya saya.

“Nyoman Tini Wahyuni, tiang lahir 21 April 1965, makanya nama tiang isi Tini-nya, dari Kartini” jawabnya

“Gelar dokternya saya isi, dados ?”

“Tiang lahir kan tidak ada gelar,” ujar Mbok Tini sambil tertawa.

Kami tertawa renyah berbarengan, dua atau tiga kali percakapan dihiasi dengung sepeda motor yang lewat di sepanjang jalan Danau Poso, Semawang, Sanur. Sebagai catatan tulisan ini merupakan hasil ngobrolan santai melalui telepon whatshapp, saya di Sanur – Denpasar dan Mbok Tini di Buleleng.

Nyoman Tini Wahyuni, saya akrab memanggilnya Mbok Tini. Perjumpaan saya pertama dengan Mbok Tini, saat merancang pementasan keliling Kantor Teater (Jakarta) – Edisi Bali. Waktu itu kami akan pentas di Rumah Berdaya, rumah teduh bagi kawan-kawan skizofrenia di Denpasar. Mbok Tini dengan paras teduh, berbaju putih, dan rambut pendek – di sisir rapi, begitu tenggelam dalam sesapan rokoknya, sembari memandang sejumlah kawan skizofrenia yang sedang beraktifitas.

Perjumpaan saya kedua di kediamannya di Jalan Ngurah Rai- Buleleng. Rumah tua peninggalan orang tuanya yang sarat bernuansa arsitektur Belanda. Saat memasuki lorong rumah itu saya terkesima dengan atmosfer kesunyiannya, tenang dan sepi. Padahal saya baru saja melakukan perjalanan dari Denpasar ke Singaraja, kok tiba-tiba senyap kepala saya.

“Saya lahir di rumah ini, sampai sekarang tetap bertumbuh di sini, dinding rumah menyimpan banyak cerita keluarga, untuk itu saya tidak pernah merenovasinya secara menyeluruh,” ujarnya

Tini Wahyuni melukis

Di rumah itulah setiap kenangannya tersimpan rapi, di antara celah dindingnya, di silang terali jendelanya, di ubin-ubin tua yang kerak oleh waktu. Setiap cerita terakumulasi dengan baik, yang Mbok Tini paling ingat ialah kenangan bersama ibunya.

Ia sangat bersyukur mendapat didikan keras dari ibu. Ibunya merupakan sisa-sisa didikan era kolonial. Mbok Tini hampir selama 5 tahun, dari SMP hingga SMA, setiap hari sabtu harus ke Denpasar untuk kursus piano.  Waktu  itu ia merasa tertekan, karena baginya lebih asik bermain bersama teman-teman dibanding harus ke Denpasar hanya untuk kursus.

“Tapi ketika saya menoleh ke belakang, di usia saya yang agak nyerendeng kauh ini. Saya merasa bersyukur, kalau tidak digituin dulu sama ibu, saya nggak mungkin bisa bermain piano sekarang,” ujarnya mengenang.

Tini Wahyuni memainkan gamelan gender

Mbok Tini ialah seorang dokter, pelukis, pemain piano, pemain gender dan praktisi meditasi. Dalam kesejarahan hidupnya banyak hambatan yang terjadi, ia digempur oleh hidup tanpa berkesudahan, setamat kuliah, hingga menikah, berpisah dengan anak, dan akhirnya kenangan-kenangan itu tumpang tindih di dalam pikiran,  menjadi semacam monster yang ingin menggerogoti dirinya.

Perlahan monster tersebut, dijinakkan melalui kegiatan meditasi, melukis, bermain piano dan bermain gender.

“Saya harus bilang perjalanan hidup saya nggak mulus, saat terguncang itu saya mulai bertanya pada diri sendiri, pencaharian  saya ke dalam diri, lewat meditasi, nggak aneh – aneh kok, saya bertanya untuk apa saya lahir, untuk apa saya di dunia, kenapa hidup saya begini,” tegas Mbok Tini.

Satu trauma yang ia ceritakan secara mendetail ialah saat dirinya menjadi korban hidup dalam peristiwa bom Bali tahun 2005, di Raja’s Cafe Kuta. Peristiwa tersebut memberikan trauma mendalam yang sulit disingkirkan. Pasca kejadian ia takut melihat keramaian, ia takut mendengar sirine, ia gemetar medengar suara dentuman. Hingga akhirnya ia berfikir untuk melukis, untuk menuangkan segala kecemasannya tanpa kata-kata. Baginya melukis untuk terapi tidak ada salah dan benar, namun sebuah kenikmatan – keasyikan dalam mengempu diri.

Masih terkait lukisan, Mbok Tini melukis untuk dirinya sendiri, sebelum melukis ia biasanya melakukan meditasi terlebih dahulu. Hasil meditasi itu ia tuangkan secara perlahan di bidang canvas. Mungkin jika dilihat sepintas, lukisannya hanya berupa puasan silang tak berarah, namun itu merupakan cerminan gejolak batin yang dialami oleh Mbok Tini. Baginya hukum normal orang hidup ada luka, ada kecewa, ada senang, ada derita, semuanya adalah rabuk untuk menemukan diri paling sunyi dan paling damai.

Alhasil meditasi dan melukis dapat mengikis sedikit demi sedikit trauma yang ia alami. Hingga sekarang ia masih melakukannya kemudian diselingi bermain piano dan gender.

Kemudian dari perjalanan dan pengalaman hidup itu, Mbok Tini mendapat satu kesimpulan, semesta maha luas dalam ketidak berbatasannya tersebut semesta juga maha adil dan maha tahu atas apa yang kita butuhkan. Untuk menemukan itu satu caranya melalui jalan spiritual, spritual yang ia maksudkan ialah bertemu kepada diri sendiri, itu merupakan hubungan yang paling dekat dengan Tuhan.

“Saya tahu bahwa banyak hal yang saya tidak tahu, maka dari itu hidup menuntun kita untuk mengerjakan sesuatu yang kita yakini baik,” pungkasnya

Tini Wahyuni melukis di rumahnya

Di Ibudaya Festival, Mbok Tini mendapat kesempatan untuk bermain piano, ia memainkan lagu Ibu karya Ayu Laksmi. Ia menerangkan ketika memainkan ibu, ia teringat ibunya yang telah mengajarkan banyak hal. Kenangan-kenangan itu silih berganti datang dan padam, seperti  film tua berwarna hitam putih, usang dan hampa. Di ruang kehampaan itulah Mbok Tini suka menyendiri, menemukan dirinya paling utuh, tanpa berusaha untuk menjadi orang lain.

Selain bermain piano ia juga memainkan tabuh Gender bertajuk Lagu Candi Rebah yang ia pelajari dari kanal youtube serta fragmen melukis dengan judul Introvert Hangover.

Hari menjelang sore percakapan kami sudahi, saya beranjak pulang ke Denpasar. Jalan Danau Poso dulunya ramai, sekarang sepi karena pandemi,  ini mungkin yang dikatakan Mbok Tini, belajar dari diri untuk menemukan kehampaan. Dari hampa ini kita bisa belajar menerima kesalahan terdahulu.[T]

  • Penulis: Jong Santiasa Putra

___________

  • Ibudaya Festival adalah festival perempuan dengan mengusung tema Mula Ka Mula. Menghayati nilai luhur kearifan lokal melalui cinta kasih sang Ibu, untuk itu pulanglah ke rumah bertemu Ibu, untuk menanam diri dengan kebaikan, agar tumbuh kebajikan demi keselarasan alam semesta.
  • Ibudaya festival persembahan Dadisiki Bali yang digagas Ayu Laksmi Kegiatan ini dilaksanakan oleh Antida Music Production didukung oleh Bali Wariga. Singaraja, Kabupaten Buleleng akan menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan perdana Ibudaya Festival 2021.
  • Puncak Ibudaya Festival 2021 akan tayang di kanal Youtube “Ibudaya Festival” & “Kemenparekraf” pada 24 Oktober 2021 pukul 16.30 WITA

BACA JUGA

Ibudaya Festival, Merawat Negeri dari Bali Utara

Ibudaya Festival, Merawat Negeri dari Bali Utara

Ibudaya Festival | Tubuh yang Tegang, Marwah Jasmine Okubo

Ibudaya Festival | Tubuh yang Tegang, Marwah Jasmine Okubo

__________

Tags: baliIbudaya Festivalkebudayaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Recovery Pariwisata Pasca Pandemi: Belajar dari Kritik Pemulihan Pariwisata Pasca Bom Bali

Next Post

Tirtour Yatour Edisi Bangli | Bukan Hanya Sekadar Gigs Gradag-Grudug

Ibudaya Festival

Ibudaya Festival

Ibudaya merupakan festival perempuan yang digagas Ayu Laksmi melalui Bali Wariga. Ibudaya Festival 2021 mengangkat tema Mula ka Mula yang akan dilaksanakan secara virtual di sebuah rumah kolonial di Buleleng.

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Tirtour Yatour Edisi Bangli | Bukan Hanya Sekadar Gigs Gradag-Grudug

Tirtour Yatour Edisi Bangli | Bukan Hanya Sekadar Gigs Gradag-Grudug

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co