3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibudaya Festival | Warna Hidup Tini Wahyuni, Dari Trauma Hingga Asik Mengempu Diri

Ibudaya Festival by Ibudaya Festival
October 18, 2021
in Khas
Ibudaya Festival | Warna Hidup Tini Wahyuni, Dari Trauma Hingga Asik Mengempu Diri

Tono Wahyuni | Foto-foto: Dok Ibudaya Festival

“Mbok Tini, nama lengkapnya siapa  dan lahirnya kapan nggih ?” tanya saya.

“Nyoman Tini Wahyuni, tiang lahir 21 April 1965, makanya nama tiang isi Tini-nya, dari Kartini” jawabnya

“Gelar dokternya saya isi, dados ?”

“Tiang lahir kan tidak ada gelar,” ujar Mbok Tini sambil tertawa.

Kami tertawa renyah berbarengan, dua atau tiga kali percakapan dihiasi dengung sepeda motor yang lewat di sepanjang jalan Danau Poso, Semawang, Sanur. Sebagai catatan tulisan ini merupakan hasil ngobrolan santai melalui telepon whatshapp, saya di Sanur – Denpasar dan Mbok Tini di Buleleng.

Nyoman Tini Wahyuni, saya akrab memanggilnya Mbok Tini. Perjumpaan saya pertama dengan Mbok Tini, saat merancang pementasan keliling Kantor Teater (Jakarta) – Edisi Bali. Waktu itu kami akan pentas di Rumah Berdaya, rumah teduh bagi kawan-kawan skizofrenia di Denpasar. Mbok Tini dengan paras teduh, berbaju putih, dan rambut pendek – di sisir rapi, begitu tenggelam dalam sesapan rokoknya, sembari memandang sejumlah kawan skizofrenia yang sedang beraktifitas.

Perjumpaan saya kedua di kediamannya di Jalan Ngurah Rai- Buleleng. Rumah tua peninggalan orang tuanya yang sarat bernuansa arsitektur Belanda. Saat memasuki lorong rumah itu saya terkesima dengan atmosfer kesunyiannya, tenang dan sepi. Padahal saya baru saja melakukan perjalanan dari Denpasar ke Singaraja, kok tiba-tiba senyap kepala saya.

“Saya lahir di rumah ini, sampai sekarang tetap bertumbuh di sini, dinding rumah menyimpan banyak cerita keluarga, untuk itu saya tidak pernah merenovasinya secara menyeluruh,” ujarnya

Tini Wahyuni melukis

Di rumah itulah setiap kenangannya tersimpan rapi, di antara celah dindingnya, di silang terali jendelanya, di ubin-ubin tua yang kerak oleh waktu. Setiap cerita terakumulasi dengan baik, yang Mbok Tini paling ingat ialah kenangan bersama ibunya.

Ia sangat bersyukur mendapat didikan keras dari ibu. Ibunya merupakan sisa-sisa didikan era kolonial. Mbok Tini hampir selama 5 tahun, dari SMP hingga SMA, setiap hari sabtu harus ke Denpasar untuk kursus piano.  Waktu  itu ia merasa tertekan, karena baginya lebih asik bermain bersama teman-teman dibanding harus ke Denpasar hanya untuk kursus.

“Tapi ketika saya menoleh ke belakang, di usia saya yang agak nyerendeng kauh ini. Saya merasa bersyukur, kalau tidak digituin dulu sama ibu, saya nggak mungkin bisa bermain piano sekarang,” ujarnya mengenang.

Tini Wahyuni memainkan gamelan gender

Mbok Tini ialah seorang dokter, pelukis, pemain piano, pemain gender dan praktisi meditasi. Dalam kesejarahan hidupnya banyak hambatan yang terjadi, ia digempur oleh hidup tanpa berkesudahan, setamat kuliah, hingga menikah, berpisah dengan anak, dan akhirnya kenangan-kenangan itu tumpang tindih di dalam pikiran,  menjadi semacam monster yang ingin menggerogoti dirinya.

Perlahan monster tersebut, dijinakkan melalui kegiatan meditasi, melukis, bermain piano dan bermain gender.

“Saya harus bilang perjalanan hidup saya nggak mulus, saat terguncang itu saya mulai bertanya pada diri sendiri, pencaharian  saya ke dalam diri, lewat meditasi, nggak aneh – aneh kok, saya bertanya untuk apa saya lahir, untuk apa saya di dunia, kenapa hidup saya begini,” tegas Mbok Tini.

Satu trauma yang ia ceritakan secara mendetail ialah saat dirinya menjadi korban hidup dalam peristiwa bom Bali tahun 2005, di Raja’s Cafe Kuta. Peristiwa tersebut memberikan trauma mendalam yang sulit disingkirkan. Pasca kejadian ia takut melihat keramaian, ia takut mendengar sirine, ia gemetar medengar suara dentuman. Hingga akhirnya ia berfikir untuk melukis, untuk menuangkan segala kecemasannya tanpa kata-kata. Baginya melukis untuk terapi tidak ada salah dan benar, namun sebuah kenikmatan – keasyikan dalam mengempu diri.

Masih terkait lukisan, Mbok Tini melukis untuk dirinya sendiri, sebelum melukis ia biasanya melakukan meditasi terlebih dahulu. Hasil meditasi itu ia tuangkan secara perlahan di bidang canvas. Mungkin jika dilihat sepintas, lukisannya hanya berupa puasan silang tak berarah, namun itu merupakan cerminan gejolak batin yang dialami oleh Mbok Tini. Baginya hukum normal orang hidup ada luka, ada kecewa, ada senang, ada derita, semuanya adalah rabuk untuk menemukan diri paling sunyi dan paling damai.

Alhasil meditasi dan melukis dapat mengikis sedikit demi sedikit trauma yang ia alami. Hingga sekarang ia masih melakukannya kemudian diselingi bermain piano dan gender.

Kemudian dari perjalanan dan pengalaman hidup itu, Mbok Tini mendapat satu kesimpulan, semesta maha luas dalam ketidak berbatasannya tersebut semesta juga maha adil dan maha tahu atas apa yang kita butuhkan. Untuk menemukan itu satu caranya melalui jalan spiritual, spritual yang ia maksudkan ialah bertemu kepada diri sendiri, itu merupakan hubungan yang paling dekat dengan Tuhan.

“Saya tahu bahwa banyak hal yang saya tidak tahu, maka dari itu hidup menuntun kita untuk mengerjakan sesuatu yang kita yakini baik,” pungkasnya

Tini Wahyuni melukis di rumahnya

Di Ibudaya Festival, Mbok Tini mendapat kesempatan untuk bermain piano, ia memainkan lagu Ibu karya Ayu Laksmi. Ia menerangkan ketika memainkan ibu, ia teringat ibunya yang telah mengajarkan banyak hal. Kenangan-kenangan itu silih berganti datang dan padam, seperti  film tua berwarna hitam putih, usang dan hampa. Di ruang kehampaan itulah Mbok Tini suka menyendiri, menemukan dirinya paling utuh, tanpa berusaha untuk menjadi orang lain.

Selain bermain piano ia juga memainkan tabuh Gender bertajuk Lagu Candi Rebah yang ia pelajari dari kanal youtube serta fragmen melukis dengan judul Introvert Hangover.

Hari menjelang sore percakapan kami sudahi, saya beranjak pulang ke Denpasar. Jalan Danau Poso dulunya ramai, sekarang sepi karena pandemi,  ini mungkin yang dikatakan Mbok Tini, belajar dari diri untuk menemukan kehampaan. Dari hampa ini kita bisa belajar menerima kesalahan terdahulu.[T]

  • Penulis: Jong Santiasa Putra

___________

  • Ibudaya Festival adalah festival perempuan dengan mengusung tema Mula Ka Mula. Menghayati nilai luhur kearifan lokal melalui cinta kasih sang Ibu, untuk itu pulanglah ke rumah bertemu Ibu, untuk menanam diri dengan kebaikan, agar tumbuh kebajikan demi keselarasan alam semesta.
  • Ibudaya festival persembahan Dadisiki Bali yang digagas Ayu Laksmi Kegiatan ini dilaksanakan oleh Antida Music Production didukung oleh Bali Wariga. Singaraja, Kabupaten Buleleng akan menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan perdana Ibudaya Festival 2021.
  • Puncak Ibudaya Festival 2021 akan tayang di kanal Youtube “Ibudaya Festival” & “Kemenparekraf” pada 24 Oktober 2021 pukul 16.30 WITA

BACA JUGA

Ibudaya Festival, Merawat Negeri dari Bali Utara

Ibudaya Festival, Merawat Negeri dari Bali Utara

Ibudaya Festival | Tubuh yang Tegang, Marwah Jasmine Okubo

Ibudaya Festival | Tubuh yang Tegang, Marwah Jasmine Okubo

__________

Tags: baliIbudaya Festivalkebudayaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Recovery Pariwisata Pasca Pandemi: Belajar dari Kritik Pemulihan Pariwisata Pasca Bom Bali

Next Post

Tirtour Yatour Edisi Bangli | Bukan Hanya Sekadar Gigs Gradag-Grudug

Ibudaya Festival

Ibudaya Festival

Ibudaya merupakan festival perempuan yang digagas Ayu Laksmi melalui Bali Wariga. Ibudaya Festival 2021 mengangkat tema Mula ka Mula yang akan dilaksanakan secara virtual di sebuah rumah kolonial di Buleleng.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Tirtour Yatour Edisi Bangli | Bukan Hanya Sekadar Gigs Gradag-Grudug

Tirtour Yatour Edisi Bangli | Bukan Hanya Sekadar Gigs Gradag-Grudug

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co