23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ito Joyoatmojo Mengenang Eddy Soetriyono: Majalah Tempo, Edith Piaf, dan Warna Lukisan

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
October 15, 2021
in Khas
Ito Joyoatmojo Mengenang Eddy Soetriyono:  Majalah Tempo, Edith Piaf, dan  Warna Lukisan

Eddy Soetriyono

9 Oktober 2021 jagat seni rupa Indonesia berduka atas berpulangnya Eddy Soetriyono yang dikenal sebagai penulis, kurator seni rupa, kritikus dan pengamat seni. Kecelakaan tunggal telah merenggut nyawanya.

Berita duka itu saya dengar saat menonton pembukaan pameran lukisan di salah satu gallery seni di Bali. Banyak ucapan belasungkawa dituliskan di beragai beranda media sosial kawan kawan seniman, penulis, maupun pencinta seni.

Ada salah satu tulisan ucapan bela sungkawa yang mengetuk hati saya. Itu tulisan  yang dibuat seniman Ito Joyoatmojo mengenai persahabatannya dengan Eddy Soetriyono.

Saya kemudian menghubungi Ito Joyoatmojo.  Saya bertanya dan ingin tahu lebih banyak mengenai Eddy Soetriyono yang ditulis dalam status ucapan bela sungkawa yang begitu panjang itu. Tulisan itu bercerita masa kenangannya bekerja di Majalah Tempo pimpinan Goenawan Mohamad, sebelum Ito Joyoatmojo menetap di Swiss.  Ito bercerita tentang masa lalu Eddy sebelum menjadi kurator sekaligus bercerita mengenai kenangannya bekerja di majalah Tempo .

Ito Joyoatmojo

Diceritakan, tahun 1975 Eddy kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain Jurusan Tekstil  ITB. Pada masa kuliah di ITB, Eddy sangat tertarik dengan dunia sastra, drama dan kegiatan tulis-menulis, serta kegiatan teater yang dipimpin Remy Sylado.

Eddy pernah menjadi asisten dosen dan pada masa kuliahnya banyak membantu kawan-kawannya dalam penulisan skripsi di kampusnya. Ia  juga gemar menulis lirik lagu.

Sempat dikabarkan menjadi kandidat kuat menjadi dosen filsafat seni dan sejarah kebudayaan di almamaternya. Sempat menempuh pendidikan, namun akhirnya Eddy hijrah ke Jakarta berkerja di Majalah Tempo dan di Graffiti Pers.

Eddy sempat menjadi salah seorang redaktur pelaksana  di majalah SWASEMBADA (SWA) juga menulis buku tentang tokoh pebisnis top Indonesia, Liem Sioe Liong. Tahun 2005 pernah menjadi pinpinan Visual Arts, majalah seni di Indonesia.

Nah, Ito Joyoatmojo bertemu Eddy pada tahun 1979.  Pertemuan Ito Joyoatmojo bermula ketika ia bekerja di majalah Tempo.  Ito menggambarkan bagaimana situasi dia berkerja saat itu yang bekerja di ruangan tertutup di Proyek Senen yang kala itu merupakan proyek pertokoan dan pasar dalam ruangan tertutup. Semburan udara dingin dari AC yang memaksanya harus menggunakan jaket pada saat bekerja.

Ito Joyoatmojo bekerja di bidang tata muka, atau yang kita kenal sekarang design grafis dan Eddy sebagai kontrol editor. Ito mengungkapkan kekagumannya atas sosok Eddy Soetriyono, atas ketelitainya dan kesabarannya mengikuti deretan huruf dalam setiap artikel yang akan dicetak.   Itu memang tugas sebagai penjaga gawang terakhir agar tidak terjadi kesalahan pada saat majalah tersebut di cetak. Apalagi setiap artikel ditulis dengan speed yang tinggi.

“Pada saat saat piket,  malam Selasa dan Kamis, adalah masa menegangkan mereka bekerja waktu itu. Harus standby sepanjang malam, untuk menjaga bila ada breaking news yang penting yang harus disiapkan, apalagi saat itu banyak pekerjaan dikerjakan manual, tidak menggunakan computer to plate seperti saat ini,” ujar Ito.

Di sela-sela lembur Ito sering mendengarkan musik yang mereka  gemari bersama Eddy yaitu Edith Piaf, musisi jalanan dari Parris, dan saling tukar cassette tape (pita kaset) untuk didengarkan melalui walkman, sambil membicarakan perkembangan seni rupa di Indonesia.

Pada suatu ketika, Ito sempat berdiskusi mengenai karya lukisannya yang abstrak, yang kebanyakan warnanya hitam putih. Diskusi itu diwarnai perdebatan yang berlarut-larut.  Eddy mengkritik Ito atas pendapatnya tentang kenapa pilihan warnanya hitam putih.

Ito menjelaskan bahwa ia tidak percaya dengan warna. Dan sambil mengembalikan walkman dan album baru Edith Piaf,  Eddy Soetriyono pun memberi ucapan terkhir malam itu sebelum pulang lembur, “ Ito, berwarna itu kan penting, dan tidak ada urusanya berwarna atau tidak. Kamu dengar lagunya Edith Piat, bagaimana dan apa jadinya kalau lagunya tidak ada warnanya?”

Kata-kata itu masih membekas sampai sekarang di benak Ito. Saat itu Eddy belum menjadi kurator seni maupun kritikus seni, tapi bakatnya sudah muncul saat itu.

Selang beberapa bulan selanjutnya Ito pun melanjutkan kariernya bekerja di Swiss. Puluhan tahun Ito dan Eddy tidak saling berkabar, karena waktu Itu Eddy masih kos, masih pindah-pindah, begitu juga Ito di Swiss belum mempunyai handphone dan belum tukaran nomor telepon rumah. Pada saat menetap di Swiss, studio dan rumah tempat tinggal Ito beberapa kali sempat menjadi tempat singgah seniman di Indonesia, antara lain  Made Wianta dan Eddie Hara.

Alm Made Wianta bersama Ito Joyoatmojo di Swis

Tiga puluh tahun kemudian Ito Joyoatmojo pulang ke Indonesia dan bertemu kembali Eddy Soetriyono di sebuah pameran di Jakarta. Saat itu Eddy sudah menjadi kurator seni rupa, dan kritikus seni. Mereka saling bertegur sapa saking lamanya tidak bertemu.

Eddy menawari Ito makan bersama sambil  melanjutkan obrolan tentang penyanyi jalanan Edith Piaf. Mereka juga saling berkisah tentang kehidupan Ito di Swiss dan kisah perjalanan Eddy sampai akhirnya menjadi kritikus seni, dan kurator kondang di Indonesia. Mereka saling memuji kehebatan masing-masing, dan saling mengingat masa lalu saat bekerja lembur dan menggunakan jaket tebal karena dinginnya AC di Tempo.  Tak lupa mereka mengenang masa muda saat kos dan kegemaran mendengarkan musik, diselangi cerita keluarga dan anak-anaknya. Dan itulah pertemuan terakhir Ito Joyoatmojo dengan Eddy Soetriyono.

Eddy Sutriyono sempat mengirim fotografer ke kediamanya Ito Joyoatmojo untuk memotret Ito dengan karya lukisannya. Entah mau diapakan foto itu. Rencananya, hasil foto itu dikirimkan juga kepada Ito. Namun sampai sekarang Ito masih bertanya-tanya tentang foto itu.

Sampai akhirnya Ito mendengar berita kecelakaan itu. Ito merasakan duka yang amat mendalam atas kepergian sahabatnya itu. Semoga damai menyertai Pak Eddy Soetriyono, dan semua keluarga tabah menghadapi cobaan ini. [T]

Jimbaran 14 Oktober 2021

Tags: Eddy Soetriyonoin memoriamIto JoyoatmojoSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek Wariga, Ethos Kerja Respek pada Alam

Next Post

Tentang Tanaman: Babat Dulu, Lestarikan Kemudian

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Tentang Tanaman: Babat Dulu, Lestarikan Kemudian

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co