23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ito Joyoatmojo Mengenang Eddy Soetriyono: Majalah Tempo, Edith Piaf, dan Warna Lukisan

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
October 15, 2021
in Khas
Ito Joyoatmojo Mengenang Eddy Soetriyono:  Majalah Tempo, Edith Piaf, dan  Warna Lukisan

Eddy Soetriyono

9 Oktober 2021 jagat seni rupa Indonesia berduka atas berpulangnya Eddy Soetriyono yang dikenal sebagai penulis, kurator seni rupa, kritikus dan pengamat seni. Kecelakaan tunggal telah merenggut nyawanya.

Berita duka itu saya dengar saat menonton pembukaan pameran lukisan di salah satu gallery seni di Bali. Banyak ucapan belasungkawa dituliskan di beragai beranda media sosial kawan kawan seniman, penulis, maupun pencinta seni.

Ada salah satu tulisan ucapan bela sungkawa yang mengetuk hati saya. Itu tulisan  yang dibuat seniman Ito Joyoatmojo mengenai persahabatannya dengan Eddy Soetriyono.

Saya kemudian menghubungi Ito Joyoatmojo.  Saya bertanya dan ingin tahu lebih banyak mengenai Eddy Soetriyono yang ditulis dalam status ucapan bela sungkawa yang begitu panjang itu. Tulisan itu bercerita masa kenangannya bekerja di Majalah Tempo pimpinan Goenawan Mohamad, sebelum Ito Joyoatmojo menetap di Swiss.  Ito bercerita tentang masa lalu Eddy sebelum menjadi kurator sekaligus bercerita mengenai kenangannya bekerja di majalah Tempo .

Ito Joyoatmojo

Diceritakan, tahun 1975 Eddy kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain Jurusan Tekstil  ITB. Pada masa kuliah di ITB, Eddy sangat tertarik dengan dunia sastra, drama dan kegiatan tulis-menulis, serta kegiatan teater yang dipimpin Remy Sylado.

Eddy pernah menjadi asisten dosen dan pada masa kuliahnya banyak membantu kawan-kawannya dalam penulisan skripsi di kampusnya. Ia  juga gemar menulis lirik lagu.

Sempat dikabarkan menjadi kandidat kuat menjadi dosen filsafat seni dan sejarah kebudayaan di almamaternya. Sempat menempuh pendidikan, namun akhirnya Eddy hijrah ke Jakarta berkerja di Majalah Tempo dan di Graffiti Pers.

Eddy sempat menjadi salah seorang redaktur pelaksana  di majalah SWASEMBADA (SWA) juga menulis buku tentang tokoh pebisnis top Indonesia, Liem Sioe Liong. Tahun 2005 pernah menjadi pinpinan Visual Arts, majalah seni di Indonesia.

Nah, Ito Joyoatmojo bertemu Eddy pada tahun 1979.  Pertemuan Ito Joyoatmojo bermula ketika ia bekerja di majalah Tempo.  Ito menggambarkan bagaimana situasi dia berkerja saat itu yang bekerja di ruangan tertutup di Proyek Senen yang kala itu merupakan proyek pertokoan dan pasar dalam ruangan tertutup. Semburan udara dingin dari AC yang memaksanya harus menggunakan jaket pada saat bekerja.

Ito Joyoatmojo bekerja di bidang tata muka, atau yang kita kenal sekarang design grafis dan Eddy sebagai kontrol editor. Ito mengungkapkan kekagumannya atas sosok Eddy Soetriyono, atas ketelitainya dan kesabarannya mengikuti deretan huruf dalam setiap artikel yang akan dicetak.   Itu memang tugas sebagai penjaga gawang terakhir agar tidak terjadi kesalahan pada saat majalah tersebut di cetak. Apalagi setiap artikel ditulis dengan speed yang tinggi.

“Pada saat saat piket,  malam Selasa dan Kamis, adalah masa menegangkan mereka bekerja waktu itu. Harus standby sepanjang malam, untuk menjaga bila ada breaking news yang penting yang harus disiapkan, apalagi saat itu banyak pekerjaan dikerjakan manual, tidak menggunakan computer to plate seperti saat ini,” ujar Ito.

Di sela-sela lembur Ito sering mendengarkan musik yang mereka  gemari bersama Eddy yaitu Edith Piaf, musisi jalanan dari Parris, dan saling tukar cassette tape (pita kaset) untuk didengarkan melalui walkman, sambil membicarakan perkembangan seni rupa di Indonesia.

Pada suatu ketika, Ito sempat berdiskusi mengenai karya lukisannya yang abstrak, yang kebanyakan warnanya hitam putih. Diskusi itu diwarnai perdebatan yang berlarut-larut.  Eddy mengkritik Ito atas pendapatnya tentang kenapa pilihan warnanya hitam putih.

Ito menjelaskan bahwa ia tidak percaya dengan warna. Dan sambil mengembalikan walkman dan album baru Edith Piaf,  Eddy Soetriyono pun memberi ucapan terkhir malam itu sebelum pulang lembur, “ Ito, berwarna itu kan penting, dan tidak ada urusanya berwarna atau tidak. Kamu dengar lagunya Edith Piat, bagaimana dan apa jadinya kalau lagunya tidak ada warnanya?”

Kata-kata itu masih membekas sampai sekarang di benak Ito. Saat itu Eddy belum menjadi kurator seni maupun kritikus seni, tapi bakatnya sudah muncul saat itu.

Selang beberapa bulan selanjutnya Ito pun melanjutkan kariernya bekerja di Swiss. Puluhan tahun Ito dan Eddy tidak saling berkabar, karena waktu Itu Eddy masih kos, masih pindah-pindah, begitu juga Ito di Swiss belum mempunyai handphone dan belum tukaran nomor telepon rumah. Pada saat menetap di Swiss, studio dan rumah tempat tinggal Ito beberapa kali sempat menjadi tempat singgah seniman di Indonesia, antara lain  Made Wianta dan Eddie Hara.

Alm Made Wianta bersama Ito Joyoatmojo di Swis

Tiga puluh tahun kemudian Ito Joyoatmojo pulang ke Indonesia dan bertemu kembali Eddy Soetriyono di sebuah pameran di Jakarta. Saat itu Eddy sudah menjadi kurator seni rupa, dan kritikus seni. Mereka saling bertegur sapa saking lamanya tidak bertemu.

Eddy menawari Ito makan bersama sambil  melanjutkan obrolan tentang penyanyi jalanan Edith Piaf. Mereka juga saling berkisah tentang kehidupan Ito di Swiss dan kisah perjalanan Eddy sampai akhirnya menjadi kritikus seni, dan kurator kondang di Indonesia. Mereka saling memuji kehebatan masing-masing, dan saling mengingat masa lalu saat bekerja lembur dan menggunakan jaket tebal karena dinginnya AC di Tempo.  Tak lupa mereka mengenang masa muda saat kos dan kegemaran mendengarkan musik, diselangi cerita keluarga dan anak-anaknya. Dan itulah pertemuan terakhir Ito Joyoatmojo dengan Eddy Soetriyono.

Eddy Sutriyono sempat mengirim fotografer ke kediamanya Ito Joyoatmojo untuk memotret Ito dengan karya lukisannya. Entah mau diapakan foto itu. Rencananya, hasil foto itu dikirimkan juga kepada Ito. Namun sampai sekarang Ito masih bertanya-tanya tentang foto itu.

Sampai akhirnya Ito mendengar berita kecelakaan itu. Ito merasakan duka yang amat mendalam atas kepergian sahabatnya itu. Semoga damai menyertai Pak Eddy Soetriyono, dan semua keluarga tabah menghadapi cobaan ini. [T]

Jimbaran 14 Oktober 2021

Tags: Eddy Soetriyonoin memoriamIto JoyoatmojoSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek Wariga, Ethos Kerja Respek pada Alam

Next Post

Tentang Tanaman: Babat Dulu, Lestarikan Kemudian

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Tentang Tanaman: Babat Dulu, Lestarikan Kemudian

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co