14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Tanaman: Babat Dulu, Lestarikan Kemudian

Agus Wiratama by Agus Wiratama
October 15, 2021
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Ada satu hal yang Grudug hindari bila tinggal di kampung: terlibat dalam upacara adat. Bagi sebagian orang, upacara adalah tempat untuk bertemu saudara, berkumpul, dan bergibah—itu idealnya—tapi adalah suatu tekanan bagi Grudug yang pengetahuannya di bawah rata-rata tentang segala pernik upacara, sopan-santun yang harus dituruti, dan segala keperluannya; semua itu rumit, seperti benang kusut yang tiba-tiba muncul di kepala bila ruwet memikirkan sesuatu.

Upacara seperti sebuah kepastian, akan tiba dan tidak mungkin untuk menghindarinya. Grudug pun demikian. Suatu waktu, ia tidak bisa menghindar. Seperti ketika upacara digelar di rumahnya. Orang tuanya sibuk menyiapkan Banten dan keperluan lainnya. Ia sebagai anak tunggal, muda—dan sedikit tidak bisa diandalkan—mendapat tugas sederhana, layaknya anak muda yang tumben urun dalam kegiatan adat: mencari beberapa jenis tanaman sebagai pelengkap sarana upacara. Orang tua, paman, sepupu yang sibuk tidak memberinya rambu-rambu tentang tanaman yang mesti dicari untuk keperluan upacara.

“Pergi ke rumah Paman Anu, tanya jenis-jenis tanaman yang diperlukan di sana,” kata salah seorang saudara padanya.

Dengan berat hati, Grudug menghubungi teman untuk membantunya memburu keperluan. Salah satu hal yang menempel di kepalanya ialah babakan badung. Entah apa yang disebut “babakan”, entah apa yang disebut “badung”. Kata-kata itu begitu asing. Masa kecilnya rasa-rasanya tidak tersentuh oleh tanaman macam itu—pengetahuannya tentang tanaman dangkal betul, mungkin ia pernah melihat, hanya saja tidak tahu nama. Dan, setelah ia berkunjung dan berat hati bertanya pada orang yang ditunjuk oleh saudara, lagi-lagi ia dilempar ke rumah-rumah tetangga. Tampaknya telah menjadi pengetahuan umum, jika seseorang memiliki tanaman yang dibutuhkan untuk upacara, maka akan sering dikunjungi tetangga.

Sejak saat itulah, pengetahuan Grudug tentang tanaman mulai bertambah. Beberapa di antaranya sudah ia tahu karena masa kecil anak kampung seusianya pasti sempat bersentuhan dengan tanaman seperti itu, hanya saja ia belum tahu nama dan fungsinya dalam upacara. Ia berpikir sejenak. “Betul bila upacara adalah salah satu ritus untuk mempertahankan tanaman tertentu, betul bahwa upacara menjadi satu tempat penurunan pengetahuan tentang tanaman, tapi bagaimana jika suatu tanaman tidak masuk dalam daftar yang dibutuhkan? Bolehkan kita menambah kebutuhan tanaman dalam upacara agar lebih banyak tanaman yang bertahan?” bisik Grudug dalam hati.

Ia kagum. Kagum atas pertanyaannya sendiri. “Orang cerdas harus bertanya cerdas,” katanya. Padahal, jika diingat-ingat, beberapa tanaman yang ia butuhkan itu sesungguhnya pernah ada di rumahnya. Tapi, semua tanaman itu dianggap kuno, tak bernilai estetik—entah apa yang ia maksud estetik—tak mirip taman di hotel… tak mirip taman di hotel!

Bayangkan saja, Grudug bermimpi taman di rumahnya tertata dengan tumbuhan yang ia anggap enak dipandang seperti villa, bungalow, bahkan motel. Eh… Hotel!

Sebelum Grudug menjadi negara api yang menyerang tamannya sendiri, sesungguhnya di halaman rumahnya ditumbuhi tanaman yang semuanya berguna; katakan saja, tanaman bunga, tanaman dengan daun-daun yang akan selalu diperlukan, bahkan toga, alias tanaman obat keluarga. Meski berwarna, tanaman bunga yang ada di kebunnya tidak ada dalam daftar bagus menurut hotel, jadi harus dicabut. Lalu begitu seterusnya dengan tanaman-tanaman lain. Ia mencabut semua hingga halaman rumahnya mirip taman di hotel.

“Orang-orang dulu memang tak mengenal keindahan,” katanya. Padahal, jika diingat-ingat, dulu, halaman rumah tidak memerlukan perhatian khusus. Tanaman tumbuh dan dipotong seperlunya dan semua itu bisa bercampur: cabai, bunga, kencur, kunyit, dan sebagainya. Tapi, sekarang, taman di halaman rumahnya harus dirawat, sebab tak ada yang masuk dalam daftar tumbuhan yang digunakan dalam ucapara atau kebutuhan lainnya. Jadi, jika lewat beberapa bulan, rumahnya akan lebat, dan dia harus menata lagi, misal: beberapa bagian harus dicukur agar tetap simetris dan rapi, sebagian lagi agar bentuknya tetap bagus, sebagian lainnya agar berbunga dan subur.

Kebiasaan memang bukan suatu yang gampang diubah. Di taman yang rapi, dengan pot-pot tertata, tiba-tiba tumbuh segerombolan cabai, tomat, gemitir, dan sebangsanya itu. Grudug tahu siapa yang mempunyai perkerjaan itu: paman atau bibi atau orang tuanya. “Mereka memang tidak paham kerapian,” ungkapnya.

Kebiasaan lama itu sesungguhnya sangat memudahkan. Dulu, sebelum sebagian besar halaman dibeton, tanah yang agak luang belum diisi rumput berkelas yang tidak boleh dicampur tanaman lain, cabai bisa tumbuh di mana-mana. Jadi, cabai bukan suatu hal yang sulit dicari, jika bukan di dekat dapur, di halaman rumah, paling tidak bisa ada di belakang rumah. Maka, tak ada keluhan cabai mahal, sebab sebatang-dua batang cabai sudah cukup untuk beberapa waktu.

Mungkin, jawaban atas pertanyaan “bagaimana kita melestarikan tanaman?” tidak penting lagi, sebab, paling tidak, upacara telah membuat Grudug menjadi tahu bahwa tanaman yang semasa kecil hanya dia makan atau permainkan adalah tanaman penting yang mesti dijaga karena selalu dibutuhkan. Dan, lebih dari itu, halaman rumah adalah tempat untuk mendapatkan tanaman itu sebelum keinginan menjadikan halaman rumah seperti halaman villa yang perlu dirawat, yang harus selalu ditata, diperhatikan, yang sesungguhnya merepotkan.[T]

Tags: adatbalidesa adattanaman obattanaman organiktanaman pangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ito Joyoatmojo Mengenang Eddy Soetriyono: Majalah Tempo, Edith Piaf, dan Warna Lukisan

Next Post

“Abug Glebug”, Jaja Bali dari Pedawa | Biasa Dibuat Saat Tumpek Wariga

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
“Abug Glebug”, Jaja Bali dari Pedawa | Biasa Dibuat Saat Tumpek Wariga

“Abug Glebug”, Jaja Bali dari Pedawa | Biasa Dibuat Saat Tumpek Wariga

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co