2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Tanaman: Babat Dulu, Lestarikan Kemudian

Agus Wiratama by Agus Wiratama
October 15, 2021
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Ada satu hal yang Grudug hindari bila tinggal di kampung: terlibat dalam upacara adat. Bagi sebagian orang, upacara adalah tempat untuk bertemu saudara, berkumpul, dan bergibah—itu idealnya—tapi adalah suatu tekanan bagi Grudug yang pengetahuannya di bawah rata-rata tentang segala pernik upacara, sopan-santun yang harus dituruti, dan segala keperluannya; semua itu rumit, seperti benang kusut yang tiba-tiba muncul di kepala bila ruwet memikirkan sesuatu.

Upacara seperti sebuah kepastian, akan tiba dan tidak mungkin untuk menghindarinya. Grudug pun demikian. Suatu waktu, ia tidak bisa menghindar. Seperti ketika upacara digelar di rumahnya. Orang tuanya sibuk menyiapkan Banten dan keperluan lainnya. Ia sebagai anak tunggal, muda—dan sedikit tidak bisa diandalkan—mendapat tugas sederhana, layaknya anak muda yang tumben urun dalam kegiatan adat: mencari beberapa jenis tanaman sebagai pelengkap sarana upacara. Orang tua, paman, sepupu yang sibuk tidak memberinya rambu-rambu tentang tanaman yang mesti dicari untuk keperluan upacara.

“Pergi ke rumah Paman Anu, tanya jenis-jenis tanaman yang diperlukan di sana,” kata salah seorang saudara padanya.

Dengan berat hati, Grudug menghubungi teman untuk membantunya memburu keperluan. Salah satu hal yang menempel di kepalanya ialah babakan badung. Entah apa yang disebut “babakan”, entah apa yang disebut “badung”. Kata-kata itu begitu asing. Masa kecilnya rasa-rasanya tidak tersentuh oleh tanaman macam itu—pengetahuannya tentang tanaman dangkal betul, mungkin ia pernah melihat, hanya saja tidak tahu nama. Dan, setelah ia berkunjung dan berat hati bertanya pada orang yang ditunjuk oleh saudara, lagi-lagi ia dilempar ke rumah-rumah tetangga. Tampaknya telah menjadi pengetahuan umum, jika seseorang memiliki tanaman yang dibutuhkan untuk upacara, maka akan sering dikunjungi tetangga.

Sejak saat itulah, pengetahuan Grudug tentang tanaman mulai bertambah. Beberapa di antaranya sudah ia tahu karena masa kecil anak kampung seusianya pasti sempat bersentuhan dengan tanaman seperti itu, hanya saja ia belum tahu nama dan fungsinya dalam upacara. Ia berpikir sejenak. “Betul bila upacara adalah salah satu ritus untuk mempertahankan tanaman tertentu, betul bahwa upacara menjadi satu tempat penurunan pengetahuan tentang tanaman, tapi bagaimana jika suatu tanaman tidak masuk dalam daftar yang dibutuhkan? Bolehkan kita menambah kebutuhan tanaman dalam upacara agar lebih banyak tanaman yang bertahan?” bisik Grudug dalam hati.

Ia kagum. Kagum atas pertanyaannya sendiri. “Orang cerdas harus bertanya cerdas,” katanya. Padahal, jika diingat-ingat, beberapa tanaman yang ia butuhkan itu sesungguhnya pernah ada di rumahnya. Tapi, semua tanaman itu dianggap kuno, tak bernilai estetik—entah apa yang ia maksud estetik—tak mirip taman di hotel… tak mirip taman di hotel!

Bayangkan saja, Grudug bermimpi taman di rumahnya tertata dengan tumbuhan yang ia anggap enak dipandang seperti villa, bungalow, bahkan motel. Eh… Hotel!

Sebelum Grudug menjadi negara api yang menyerang tamannya sendiri, sesungguhnya di halaman rumahnya ditumbuhi tanaman yang semuanya berguna; katakan saja, tanaman bunga, tanaman dengan daun-daun yang akan selalu diperlukan, bahkan toga, alias tanaman obat keluarga. Meski berwarna, tanaman bunga yang ada di kebunnya tidak ada dalam daftar bagus menurut hotel, jadi harus dicabut. Lalu begitu seterusnya dengan tanaman-tanaman lain. Ia mencabut semua hingga halaman rumahnya mirip taman di hotel.

“Orang-orang dulu memang tak mengenal keindahan,” katanya. Padahal, jika diingat-ingat, dulu, halaman rumah tidak memerlukan perhatian khusus. Tanaman tumbuh dan dipotong seperlunya dan semua itu bisa bercampur: cabai, bunga, kencur, kunyit, dan sebagainya. Tapi, sekarang, taman di halaman rumahnya harus dirawat, sebab tak ada yang masuk dalam daftar tumbuhan yang digunakan dalam ucapara atau kebutuhan lainnya. Jadi, jika lewat beberapa bulan, rumahnya akan lebat, dan dia harus menata lagi, misal: beberapa bagian harus dicukur agar tetap simetris dan rapi, sebagian lagi agar bentuknya tetap bagus, sebagian lainnya agar berbunga dan subur.

Kebiasaan memang bukan suatu yang gampang diubah. Di taman yang rapi, dengan pot-pot tertata, tiba-tiba tumbuh segerombolan cabai, tomat, gemitir, dan sebangsanya itu. Grudug tahu siapa yang mempunyai perkerjaan itu: paman atau bibi atau orang tuanya. “Mereka memang tidak paham kerapian,” ungkapnya.

Kebiasaan lama itu sesungguhnya sangat memudahkan. Dulu, sebelum sebagian besar halaman dibeton, tanah yang agak luang belum diisi rumput berkelas yang tidak boleh dicampur tanaman lain, cabai bisa tumbuh di mana-mana. Jadi, cabai bukan suatu hal yang sulit dicari, jika bukan di dekat dapur, di halaman rumah, paling tidak bisa ada di belakang rumah. Maka, tak ada keluhan cabai mahal, sebab sebatang-dua batang cabai sudah cukup untuk beberapa waktu.

Mungkin, jawaban atas pertanyaan “bagaimana kita melestarikan tanaman?” tidak penting lagi, sebab, paling tidak, upacara telah membuat Grudug menjadi tahu bahwa tanaman yang semasa kecil hanya dia makan atau permainkan adalah tanaman penting yang mesti dijaga karena selalu dibutuhkan. Dan, lebih dari itu, halaman rumah adalah tempat untuk mendapatkan tanaman itu sebelum keinginan menjadikan halaman rumah seperti halaman villa yang perlu dirawat, yang harus selalu ditata, diperhatikan, yang sesungguhnya merepotkan.[T]

Tags: adatbalidesa adattanaman obattanaman organiktanaman pangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ito Joyoatmojo Mengenang Eddy Soetriyono: Majalah Tempo, Edith Piaf, dan Warna Lukisan

Next Post

“Abug Glebug”, Jaja Bali dari Pedawa | Biasa Dibuat Saat Tumpek Wariga

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Abug Glebug”, Jaja Bali dari Pedawa | Biasa Dibuat Saat Tumpek Wariga

“Abug Glebug”, Jaja Bali dari Pedawa | Biasa Dibuat Saat Tumpek Wariga

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co