2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lalapan Pasar Burung Sanglah dan Kehangatan yang Ditawarkannya

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
October 14, 2021
in Khas
Lalapan Pasar Burung Sanglah dan Kehangatan yang Ditawarkannya

Lalapan Pasar Burung Sanglah | Sket Dedek

Suatu malam, saya lupa bulan apa yang jelas sebelum Pandemi Covid-19 ini menyebar dan membuat beberapa rutinitas lumpuh. Saya ingat malam setelah selesai latihan teater, bersama kawan-kawan pergi mencari makan ke Pasar Burung, letaknya di dekat Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Lebih tepatnya pada tengah-tengah Pasar Burung, pada sebuah tenda dekat dengan area parkirnya. Warung lalapan itu dikelilingi oleh bangunan pasar.

Jika pagi hingga sore Pasar Burung biasanya menjual berbagai burung juga segala kebutuhan yang menyangkut pemeliharaan hewan unggas. Saat malam tiba, pasar pun berubah menjadi tempat makan lalapan murah bagi mereka yang berkantong tipis.

Awalnya saya dan kawan-kawan sering makan di sana, selain murah rasanya pun uenak tenan. Gak bakal rugi. Gimana tidak? Dengan sepuluh ribu saya sudah mendapatkan paket komplit, nasi, udang, tempe, tahu, terong, tepung kremes, dan juga sambal. Berhubung saya tidak suka pedas jadi biasanya saya tidak memesan sambal atau saya berikan saja sambalnya ke kawan.

Sebelum pesanan datang biasanya saya di sana menunggu sangat lama hampir setengah jam. Ya wajar saja karena tempat ini selalu ramai oleh pengunjung, bahkan banyak pengunjung yang tetap bertahan sampai larut malam. Walau sudah selesai makan, biasanya mereka yang makan di sana akan tetap duduk dan berbincang hingga mereka puas atau sudah dirasa lelah dan ingin segera pulang. Entah kenapa tempat itu selalu ramai, tidak pernah saya melihat tempat itu sepi pengunjung.

Padahal kita duduk lesehan di area parkir pasar dan hanya beralaskan oleh karpet. Bangunan lalapannya pun merupakan sebuah tenda yang biasanya dipakai untuk tempat menggantung sangkar-sangkar burung ketika siang hari. Jadi sangat sederhana sebuah tenda, karpet, dan pohon yang cukup rindang menjadi atap tempat makan.

Tapi tempat itu cukup nyaman untuk menjadi tempat makan. Pertama lalapan di Pasar Burung itu tidak jauh dari jalan besar, tempat banyak orang berlalu lalang melakukan aktivitasnya di Denpasar. Tentu ini menjadi salah satu faktor yang membuat tempat itu ramai karena mudahnya akses. Bahkan dari Renon saja bisa ditempuh dalam lima sampai sepuluh menit.

Nah yang kedua, hawa tempat itu tidak begitu panas selain karena mereka buka pada malam hari. Tapi ada hal lain yang menurut saya menyebabkan tempat itu tidak panas. Dengan menggunakan tenda tanpa adanya sekat atau bisa kita sebut tempat makan outdoor membuat sirkulasi udara menjadi baik.

Ditambah lagi dengan adanya lorong-lorong kios di belakang lalapan yang juga memberikan angin sepoi-sepoi. Ada hal menarik tentang lorong-lorong ini, ketika hujan tiba lesehan yang berada pada tempat parkir kendaraan pasti tergenang air. Ya wajar saja wong tidak ada atapnya, nah lorong di mana berlalu lalang orang melihat barang dagangan di kios-kios pun disulap menjadi tempat makan.

Makan di lorong-lorong pasar pada malam hari menurut saya menjadi salah satu pengalaman makan yang cukup unik. Walaupun saya belum pernah merasakan langsung tetapi saya menantikan waktu di mana saya makan di sana bersama kawan-kawan pada lorong-lorong itu.

Jika keadaan malam hari cerah maka biasanya pengunjung akan makan di area lesehan temppat parkir motor pada siang hari. Ada sebuah pohon yang mungkin juga menjadi salah satu factor lain yang membuat area itu tidak panas. Atau jangan-jangan karena adanya pohonlah yang membuat suasana tidak begitu dingin pada malam hari? Saya kurang paham untuk persoalan ini, mungkin kalian yang membaca dapat membantu saya dalam menjawabnya.

Suhu yang tidak terlalu dingin dan panas saat malam, makanan yang enak dan murah, serta bangunan pasar yang mengelilingi lalapan membuat para pengunjung dapat menikmati makan sambil berbicara, bercakap, mengobrol, sendau gurau, berdiskusi, bahkan sampai tertawa terbahak-bahak tanpa perlu merisaukan ada yang melarang.

Mungkin dengan adanya bangunan pasar yang mengelilingi warung lalapan membuat suara-suara di dalam lalapan tidak sampai ke rumah penduduk. Atau bisa jadi karena lokasinya yang dekat pasar, keributan menjadi hal yang lumrah. Baik karena aktivitas pasar maupun karena suasana warung lalapan. Mungkin itu yang menjadi alasan kenapa tempat ini menjadi ramai, di mana pengunjung bisa ngobrol dengan leluaasa.

Obrolan-obrolan yang membuat kehangatan itu tercipta, kehangatan yang mengusir dingin malam dengan obrolan ringan sampai serius. Orang-orang biasanya makan di sana beramai-ramai membentuk lingkaran mereka sendiri karena posisi makan yang lesehan dan tidak ada penyekat dimana harus duduk seperti halnya pada meja makan di sebuah restoran.

Jadi jika kita membawa sepuluh orang atau lebih kita tidak perlu khawatir mencari tempat untuk menampung semua kawan ke dalam satu meja. Selain itu saya juga agak malas jika makan ke suatu tempat makan beramai-ramai dengan kawan. Kadang kala sulit mencari tempat duduk satu meja dan berakhir menjadi terpisah beberapa meja. Ini mungkin akan menjadi menyebalkan dan juga kita harus memilih teman untuk diajak duduk satu meja, siapa yang duduk dengan siapa. Bukankah kita datang untuk makan bersama satu meja?

Orang-orang yang makan pada warung lalapan ini tidak perlu merisaukan siapa yang duduk dengan siapa. Cukup dengan duduk lesehan dan membentuk lingkaran atau bentuk lainnya, mereka akan membuat ruang mereka sendiri. Ruang itu pun bisa besar atau kecil tergantung jumlah orang yang mereka ajak.

Di lalapan ini meja dan kursi tak akan jadi objek penyekat ruang-ruang. Orang-orang itu sendiri yang menjadi penyekat antar ruang yang ada. Jika kita biasanya mengenal dinding sebagai penyekat antar ruang di bangunan. Maka dalam ruang-ruang yang tak memiliki dinding seperti halnya warung lalapan itu, kumpulan orang yang duduk melingkar juga membentuk dinding imajinernya masing-masing.

Ruang itu pun memiliki zonanya sendiri seperti memiliki dunianya sendiri yang akan susah di masuki oleh orang luar. Di ruang itulah terjadi komunikasi antar orang, entah itu hanya sekadar menanyakan kabar, berbicara ngarul ngidul, bersenda gurau, berdiskusi, membicarakan kerja, membicarakan proyek atau gagasan-gagasan. Hal inilah yang membuat suasana lingkaran menjadi hangat di tengah malamnya kota. Menghangatkan fisik dikarenakan duduk melingkar dan berkumpul serta menghangatkan hubungan dengan bertukar kabar.

Makanan yang murah dan enak memang menjadi alasan saya pertama kali ke sana, namun ada hal lain juga yang membuat saya betah berlama-lama di sana. Ada sesuatu hal yang dimiliki tempat ini tetapi tidak dimiliki tempat makan lainnya. Sesuatu itu yang membuat saya ketagihan untuk kembali makan di sana. Sesuatu yang tidak dimiliki tempat nongkrong seperti coffee shop, starbucks, atau tempat nongkrong lainnya. Yaitu suasana yang membuat sebuah hubungan pertemanan menjadi lebih dekat dan hangat.

Dengan tempat duduk lesehan, semua menjadi setara, semua menjadi dekat. Tidak lagi dibatasi sekat meja dan kursi. Pada saat itu saya berpikir, tidak mesti sebuah warung harus memiliki arsitektur yang bagus. Cukup sederhana dan nyaman yang dapat menjadi ruang untuk menghangatkan tubuh serta hubungan. Bukankah itu memang fungsi sebuah arsitektur terbentuk? Menjadi ruang yang merekatkan hubungan penghuninya.[T]

Tags: denpasarkulinerMakan malam di DenpasarPasar Burungpedagang lalapan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Made Arya Palguna | Cerita Manusia, Wabah dan Kejenakaan Sehari-hari

Next Post

Desa Penglipuran dalam Cat Air | Menyambut Turis, Menjaga Tradisi, Menjaga Keindahan

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Desa Penglipuran dalam Cat Air | Menyambut Turis, Menjaga Tradisi, Menjaga Keindahan

Desa Penglipuran dalam Cat Air | Menyambut Turis, Menjaga Tradisi, Menjaga Keindahan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co