14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lalapan Pasar Burung Sanglah dan Kehangatan yang Ditawarkannya

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
October 14, 2021
in Khas
Lalapan Pasar Burung Sanglah dan Kehangatan yang Ditawarkannya

Lalapan Pasar Burung Sanglah | Sket Dedek

Suatu malam, saya lupa bulan apa yang jelas sebelum Pandemi Covid-19 ini menyebar dan membuat beberapa rutinitas lumpuh. Saya ingat malam setelah selesai latihan teater, bersama kawan-kawan pergi mencari makan ke Pasar Burung, letaknya di dekat Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Lebih tepatnya pada tengah-tengah Pasar Burung, pada sebuah tenda dekat dengan area parkirnya. Warung lalapan itu dikelilingi oleh bangunan pasar.

Jika pagi hingga sore Pasar Burung biasanya menjual berbagai burung juga segala kebutuhan yang menyangkut pemeliharaan hewan unggas. Saat malam tiba, pasar pun berubah menjadi tempat makan lalapan murah bagi mereka yang berkantong tipis.

Awalnya saya dan kawan-kawan sering makan di sana, selain murah rasanya pun uenak tenan. Gak bakal rugi. Gimana tidak? Dengan sepuluh ribu saya sudah mendapatkan paket komplit, nasi, udang, tempe, tahu, terong, tepung kremes, dan juga sambal. Berhubung saya tidak suka pedas jadi biasanya saya tidak memesan sambal atau saya berikan saja sambalnya ke kawan.

Sebelum pesanan datang biasanya saya di sana menunggu sangat lama hampir setengah jam. Ya wajar saja karena tempat ini selalu ramai oleh pengunjung, bahkan banyak pengunjung yang tetap bertahan sampai larut malam. Walau sudah selesai makan, biasanya mereka yang makan di sana akan tetap duduk dan berbincang hingga mereka puas atau sudah dirasa lelah dan ingin segera pulang. Entah kenapa tempat itu selalu ramai, tidak pernah saya melihat tempat itu sepi pengunjung.

Padahal kita duduk lesehan di area parkir pasar dan hanya beralaskan oleh karpet. Bangunan lalapannya pun merupakan sebuah tenda yang biasanya dipakai untuk tempat menggantung sangkar-sangkar burung ketika siang hari. Jadi sangat sederhana sebuah tenda, karpet, dan pohon yang cukup rindang menjadi atap tempat makan.

Tapi tempat itu cukup nyaman untuk menjadi tempat makan. Pertama lalapan di Pasar Burung itu tidak jauh dari jalan besar, tempat banyak orang berlalu lalang melakukan aktivitasnya di Denpasar. Tentu ini menjadi salah satu faktor yang membuat tempat itu ramai karena mudahnya akses. Bahkan dari Renon saja bisa ditempuh dalam lima sampai sepuluh menit.

Nah yang kedua, hawa tempat itu tidak begitu panas selain karena mereka buka pada malam hari. Tapi ada hal lain yang menurut saya menyebabkan tempat itu tidak panas. Dengan menggunakan tenda tanpa adanya sekat atau bisa kita sebut tempat makan outdoor membuat sirkulasi udara menjadi baik.

Ditambah lagi dengan adanya lorong-lorong kios di belakang lalapan yang juga memberikan angin sepoi-sepoi. Ada hal menarik tentang lorong-lorong ini, ketika hujan tiba lesehan yang berada pada tempat parkir kendaraan pasti tergenang air. Ya wajar saja wong tidak ada atapnya, nah lorong di mana berlalu lalang orang melihat barang dagangan di kios-kios pun disulap menjadi tempat makan.

Makan di lorong-lorong pasar pada malam hari menurut saya menjadi salah satu pengalaman makan yang cukup unik. Walaupun saya belum pernah merasakan langsung tetapi saya menantikan waktu di mana saya makan di sana bersama kawan-kawan pada lorong-lorong itu.

Jika keadaan malam hari cerah maka biasanya pengunjung akan makan di area lesehan temppat parkir motor pada siang hari. Ada sebuah pohon yang mungkin juga menjadi salah satu factor lain yang membuat area itu tidak panas. Atau jangan-jangan karena adanya pohonlah yang membuat suasana tidak begitu dingin pada malam hari? Saya kurang paham untuk persoalan ini, mungkin kalian yang membaca dapat membantu saya dalam menjawabnya.

Suhu yang tidak terlalu dingin dan panas saat malam, makanan yang enak dan murah, serta bangunan pasar yang mengelilingi lalapan membuat para pengunjung dapat menikmati makan sambil berbicara, bercakap, mengobrol, sendau gurau, berdiskusi, bahkan sampai tertawa terbahak-bahak tanpa perlu merisaukan ada yang melarang.

Mungkin dengan adanya bangunan pasar yang mengelilingi warung lalapan membuat suara-suara di dalam lalapan tidak sampai ke rumah penduduk. Atau bisa jadi karena lokasinya yang dekat pasar, keributan menjadi hal yang lumrah. Baik karena aktivitas pasar maupun karena suasana warung lalapan. Mungkin itu yang menjadi alasan kenapa tempat ini menjadi ramai, di mana pengunjung bisa ngobrol dengan leluaasa.

Obrolan-obrolan yang membuat kehangatan itu tercipta, kehangatan yang mengusir dingin malam dengan obrolan ringan sampai serius. Orang-orang biasanya makan di sana beramai-ramai membentuk lingkaran mereka sendiri karena posisi makan yang lesehan dan tidak ada penyekat dimana harus duduk seperti halnya pada meja makan di sebuah restoran.

Jadi jika kita membawa sepuluh orang atau lebih kita tidak perlu khawatir mencari tempat untuk menampung semua kawan ke dalam satu meja. Selain itu saya juga agak malas jika makan ke suatu tempat makan beramai-ramai dengan kawan. Kadang kala sulit mencari tempat duduk satu meja dan berakhir menjadi terpisah beberapa meja. Ini mungkin akan menjadi menyebalkan dan juga kita harus memilih teman untuk diajak duduk satu meja, siapa yang duduk dengan siapa. Bukankah kita datang untuk makan bersama satu meja?

Orang-orang yang makan pada warung lalapan ini tidak perlu merisaukan siapa yang duduk dengan siapa. Cukup dengan duduk lesehan dan membentuk lingkaran atau bentuk lainnya, mereka akan membuat ruang mereka sendiri. Ruang itu pun bisa besar atau kecil tergantung jumlah orang yang mereka ajak.

Di lalapan ini meja dan kursi tak akan jadi objek penyekat ruang-ruang. Orang-orang itu sendiri yang menjadi penyekat antar ruang yang ada. Jika kita biasanya mengenal dinding sebagai penyekat antar ruang di bangunan. Maka dalam ruang-ruang yang tak memiliki dinding seperti halnya warung lalapan itu, kumpulan orang yang duduk melingkar juga membentuk dinding imajinernya masing-masing.

Ruang itu pun memiliki zonanya sendiri seperti memiliki dunianya sendiri yang akan susah di masuki oleh orang luar. Di ruang itulah terjadi komunikasi antar orang, entah itu hanya sekadar menanyakan kabar, berbicara ngarul ngidul, bersenda gurau, berdiskusi, membicarakan kerja, membicarakan proyek atau gagasan-gagasan. Hal inilah yang membuat suasana lingkaran menjadi hangat di tengah malamnya kota. Menghangatkan fisik dikarenakan duduk melingkar dan berkumpul serta menghangatkan hubungan dengan bertukar kabar.

Makanan yang murah dan enak memang menjadi alasan saya pertama kali ke sana, namun ada hal lain juga yang membuat saya betah berlama-lama di sana. Ada sesuatu hal yang dimiliki tempat ini tetapi tidak dimiliki tempat makan lainnya. Sesuatu itu yang membuat saya ketagihan untuk kembali makan di sana. Sesuatu yang tidak dimiliki tempat nongkrong seperti coffee shop, starbucks, atau tempat nongkrong lainnya. Yaitu suasana yang membuat sebuah hubungan pertemanan menjadi lebih dekat dan hangat.

Dengan tempat duduk lesehan, semua menjadi setara, semua menjadi dekat. Tidak lagi dibatasi sekat meja dan kursi. Pada saat itu saya berpikir, tidak mesti sebuah warung harus memiliki arsitektur yang bagus. Cukup sederhana dan nyaman yang dapat menjadi ruang untuk menghangatkan tubuh serta hubungan. Bukankah itu memang fungsi sebuah arsitektur terbentuk? Menjadi ruang yang merekatkan hubungan penghuninya.[T]

Tags: denpasarkulinerMakan malam di DenpasarPasar Burungpedagang lalapan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Made Arya Palguna | Cerita Manusia, Wabah dan Kejenakaan Sehari-hari

Next Post

Desa Penglipuran dalam Cat Air | Menyambut Turis, Menjaga Tradisi, Menjaga Keindahan

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Desa Penglipuran dalam Cat Air | Menyambut Turis, Menjaga Tradisi, Menjaga Keindahan

Desa Penglipuran dalam Cat Air | Menyambut Turis, Menjaga Tradisi, Menjaga Keindahan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co