2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lalapan Pasar Burung Sanglah dan Kehangatan yang Ditawarkannya

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
October 14, 2021
in Khas
Lalapan Pasar Burung Sanglah dan Kehangatan yang Ditawarkannya

Lalapan Pasar Burung Sanglah | Sket Dedek

Suatu malam, saya lupa bulan apa yang jelas sebelum Pandemi Covid-19 ini menyebar dan membuat beberapa rutinitas lumpuh. Saya ingat malam setelah selesai latihan teater, bersama kawan-kawan pergi mencari makan ke Pasar Burung, letaknya di dekat Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Lebih tepatnya pada tengah-tengah Pasar Burung, pada sebuah tenda dekat dengan area parkirnya. Warung lalapan itu dikelilingi oleh bangunan pasar.

Jika pagi hingga sore Pasar Burung biasanya menjual berbagai burung juga segala kebutuhan yang menyangkut pemeliharaan hewan unggas. Saat malam tiba, pasar pun berubah menjadi tempat makan lalapan murah bagi mereka yang berkantong tipis.

Awalnya saya dan kawan-kawan sering makan di sana, selain murah rasanya pun uenak tenan. Gak bakal rugi. Gimana tidak? Dengan sepuluh ribu saya sudah mendapatkan paket komplit, nasi, udang, tempe, tahu, terong, tepung kremes, dan juga sambal. Berhubung saya tidak suka pedas jadi biasanya saya tidak memesan sambal atau saya berikan saja sambalnya ke kawan.

Sebelum pesanan datang biasanya saya di sana menunggu sangat lama hampir setengah jam. Ya wajar saja karena tempat ini selalu ramai oleh pengunjung, bahkan banyak pengunjung yang tetap bertahan sampai larut malam. Walau sudah selesai makan, biasanya mereka yang makan di sana akan tetap duduk dan berbincang hingga mereka puas atau sudah dirasa lelah dan ingin segera pulang. Entah kenapa tempat itu selalu ramai, tidak pernah saya melihat tempat itu sepi pengunjung.

Padahal kita duduk lesehan di area parkir pasar dan hanya beralaskan oleh karpet. Bangunan lalapannya pun merupakan sebuah tenda yang biasanya dipakai untuk tempat menggantung sangkar-sangkar burung ketika siang hari. Jadi sangat sederhana sebuah tenda, karpet, dan pohon yang cukup rindang menjadi atap tempat makan.

Tapi tempat itu cukup nyaman untuk menjadi tempat makan. Pertama lalapan di Pasar Burung itu tidak jauh dari jalan besar, tempat banyak orang berlalu lalang melakukan aktivitasnya di Denpasar. Tentu ini menjadi salah satu faktor yang membuat tempat itu ramai karena mudahnya akses. Bahkan dari Renon saja bisa ditempuh dalam lima sampai sepuluh menit.

Nah yang kedua, hawa tempat itu tidak begitu panas selain karena mereka buka pada malam hari. Tapi ada hal lain yang menurut saya menyebabkan tempat itu tidak panas. Dengan menggunakan tenda tanpa adanya sekat atau bisa kita sebut tempat makan outdoor membuat sirkulasi udara menjadi baik.

Ditambah lagi dengan adanya lorong-lorong kios di belakang lalapan yang juga memberikan angin sepoi-sepoi. Ada hal menarik tentang lorong-lorong ini, ketika hujan tiba lesehan yang berada pada tempat parkir kendaraan pasti tergenang air. Ya wajar saja wong tidak ada atapnya, nah lorong di mana berlalu lalang orang melihat barang dagangan di kios-kios pun disulap menjadi tempat makan.

Makan di lorong-lorong pasar pada malam hari menurut saya menjadi salah satu pengalaman makan yang cukup unik. Walaupun saya belum pernah merasakan langsung tetapi saya menantikan waktu di mana saya makan di sana bersama kawan-kawan pada lorong-lorong itu.

Jika keadaan malam hari cerah maka biasanya pengunjung akan makan di area lesehan temppat parkir motor pada siang hari. Ada sebuah pohon yang mungkin juga menjadi salah satu factor lain yang membuat area itu tidak panas. Atau jangan-jangan karena adanya pohonlah yang membuat suasana tidak begitu dingin pada malam hari? Saya kurang paham untuk persoalan ini, mungkin kalian yang membaca dapat membantu saya dalam menjawabnya.

Suhu yang tidak terlalu dingin dan panas saat malam, makanan yang enak dan murah, serta bangunan pasar yang mengelilingi lalapan membuat para pengunjung dapat menikmati makan sambil berbicara, bercakap, mengobrol, sendau gurau, berdiskusi, bahkan sampai tertawa terbahak-bahak tanpa perlu merisaukan ada yang melarang.

Mungkin dengan adanya bangunan pasar yang mengelilingi warung lalapan membuat suara-suara di dalam lalapan tidak sampai ke rumah penduduk. Atau bisa jadi karena lokasinya yang dekat pasar, keributan menjadi hal yang lumrah. Baik karena aktivitas pasar maupun karena suasana warung lalapan. Mungkin itu yang menjadi alasan kenapa tempat ini menjadi ramai, di mana pengunjung bisa ngobrol dengan leluaasa.

Obrolan-obrolan yang membuat kehangatan itu tercipta, kehangatan yang mengusir dingin malam dengan obrolan ringan sampai serius. Orang-orang biasanya makan di sana beramai-ramai membentuk lingkaran mereka sendiri karena posisi makan yang lesehan dan tidak ada penyekat dimana harus duduk seperti halnya pada meja makan di sebuah restoran.

Jadi jika kita membawa sepuluh orang atau lebih kita tidak perlu khawatir mencari tempat untuk menampung semua kawan ke dalam satu meja. Selain itu saya juga agak malas jika makan ke suatu tempat makan beramai-ramai dengan kawan. Kadang kala sulit mencari tempat duduk satu meja dan berakhir menjadi terpisah beberapa meja. Ini mungkin akan menjadi menyebalkan dan juga kita harus memilih teman untuk diajak duduk satu meja, siapa yang duduk dengan siapa. Bukankah kita datang untuk makan bersama satu meja?

Orang-orang yang makan pada warung lalapan ini tidak perlu merisaukan siapa yang duduk dengan siapa. Cukup dengan duduk lesehan dan membentuk lingkaran atau bentuk lainnya, mereka akan membuat ruang mereka sendiri. Ruang itu pun bisa besar atau kecil tergantung jumlah orang yang mereka ajak.

Di lalapan ini meja dan kursi tak akan jadi objek penyekat ruang-ruang. Orang-orang itu sendiri yang menjadi penyekat antar ruang yang ada. Jika kita biasanya mengenal dinding sebagai penyekat antar ruang di bangunan. Maka dalam ruang-ruang yang tak memiliki dinding seperti halnya warung lalapan itu, kumpulan orang yang duduk melingkar juga membentuk dinding imajinernya masing-masing.

Ruang itu pun memiliki zonanya sendiri seperti memiliki dunianya sendiri yang akan susah di masuki oleh orang luar. Di ruang itulah terjadi komunikasi antar orang, entah itu hanya sekadar menanyakan kabar, berbicara ngarul ngidul, bersenda gurau, berdiskusi, membicarakan kerja, membicarakan proyek atau gagasan-gagasan. Hal inilah yang membuat suasana lingkaran menjadi hangat di tengah malamnya kota. Menghangatkan fisik dikarenakan duduk melingkar dan berkumpul serta menghangatkan hubungan dengan bertukar kabar.

Makanan yang murah dan enak memang menjadi alasan saya pertama kali ke sana, namun ada hal lain juga yang membuat saya betah berlama-lama di sana. Ada sesuatu hal yang dimiliki tempat ini tetapi tidak dimiliki tempat makan lainnya. Sesuatu itu yang membuat saya ketagihan untuk kembali makan di sana. Sesuatu yang tidak dimiliki tempat nongkrong seperti coffee shop, starbucks, atau tempat nongkrong lainnya. Yaitu suasana yang membuat sebuah hubungan pertemanan menjadi lebih dekat dan hangat.

Dengan tempat duduk lesehan, semua menjadi setara, semua menjadi dekat. Tidak lagi dibatasi sekat meja dan kursi. Pada saat itu saya berpikir, tidak mesti sebuah warung harus memiliki arsitektur yang bagus. Cukup sederhana dan nyaman yang dapat menjadi ruang untuk menghangatkan tubuh serta hubungan. Bukankah itu memang fungsi sebuah arsitektur terbentuk? Menjadi ruang yang merekatkan hubungan penghuninya.[T]

Tags: denpasarkulinerMakan malam di DenpasarPasar Burungpedagang lalapan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Made Arya Palguna | Cerita Manusia, Wabah dan Kejenakaan Sehari-hari

Next Post

Desa Penglipuran dalam Cat Air | Menyambut Turis, Menjaga Tradisi, Menjaga Keindahan

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Desa Penglipuran dalam Cat Air | Menyambut Turis, Menjaga Tradisi, Menjaga Keindahan

Desa Penglipuran dalam Cat Air | Menyambut Turis, Menjaga Tradisi, Menjaga Keindahan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co