23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Made Arya Palguna | Cerita Manusia, Wabah dan Kejenakaan Sehari-hari

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
October 13, 2021
in Ulasan
Pameran Made Arya Palguna | Cerita Manusia, Wabah dan Kejenakaan Sehari-hari

Made Arya Palguna di tengah pameran tunggalnya di Sika Gallery, Ubud, Bali

I Made Arya Palguna menggelar pameran tunggal bertema “Pragment of Desires”, Selasa, 12 Oktober sampai 12 November 2021, di Sika Gallery, Jl. Raya Campuhan, Sayan, Ubud, Gianyar. Karya-karya yang dipamerkan banyak bercerita tentang kehidupan sehari hari di masa pandemi Covid-19.

Pada pameran tunggal kali ini Palguna memilih tema Pragment of Desires. Made Palguna memamerkan 36 karya seni lukis ditambah dua patung. Karya-karya lukisan itu dikerjakan semasa pandemi melanda dunia.

Dalam karya-karyanya itu, Palguna mencoba menangkap cuplikan-cuplikan kehidupan sehari-hari dan diabadikan dalam bentuk lukisan entah itu di canvas dan kertas. Misalnya karya yang berjudul “Sun Bathing” yang melukiskan sosok manusia yang sedang berjemur di pantai. Lukisan itu dibuat dengan garis seminimalis mungkin sebagaimana gaya sketsa Made Palguna dengan latar belakang kertas daur ulang yang warnanya mirip pasir Pantai Sanur dan Kuta.

Palguna berceritra ide dari karya itu dipicu oleh banyaknya berita di media online maupun televisi yang menjelaskan salah satu cara untuk melawan pandemi adalah dengan cara berjemur. Sesederhana itu. Dan dari situ ia membuat lukisan orang berjemur sampai 7 seri.

Selain itu, terdapat karya patung yang dipamerkan berjudul “Membatu”. Patung ini menggambarkan sosok atau figur manusia yang bengong di tempat tidur dengan selimut seperti batu. Pada karya ini Palguna ingin mengabadikan cuplikan kehidupan manusia yang bengong di tempat tidur ketika dunia dilanda wabah.

Terdapat juga patung lain dengan wujud wajah manusia dan bantal guling yang dicat warna pink. Judul patung itu “Diam itu Emas”. Palguna ingin menyampaikan pesan bahwa di masa pandemi ini sebaiknya kita lebih banyak melakukan aktivitas di rumah, dan menghasilkan karya, biar tidak kena wabah virus ini.

Patung karya Made Arya Palguna berjudul “Diam Itu Emas”

Pesan yang senada disampaikan juga pada lukisan dengan judul “Out of Style” dan “Stuck”. Pada “Stuck”, Palguna berceritra tentang pada suatu ketika dengan adanya wabah ini kita merasa stuck, terdiam tidak menemukan solusi. Begitu pula pada “Out of Style”, Palguna mencoba mengabadikan cuplikan kehidupan yang sudah tidak lagi seperti biasanaya. Dengan kata lain bahasa keren anak muda “mati gaya”.

Hampir semua pesan yang melekat dalam karya-karya Palguna terkesan sederhana: adalah hal-hal yang dilakukan manusia sehari-hari di tengah wabah. Berjemur, diam, atau rebahan. Namun cerita sehari-hari itu terasa sangat penting, penuh makna, dan tak bisa diabaikan. Tentu saja, karena cerita sehari-hari itu diolah dengan ketajaman imajinasi dan intuisi, sehingga lukisan atau patung itu tak sekadar menjadi bentuk atau gambar yang meniru kehidupan sehari-hari di tengah wabah, melainkan mengadon kembali cerita itu menjadi bentuk yang merangsang mata sekaligus otak untuk memikirkan kembali tentang perilaku manusia yang berubah-ubah di tengah situasi yang tak pernah sama.

Gaya yang Sama

I Made Arya Palguna adalah seniman kelahiran Ubud tahun 1976 dan menempuh Pendidikan di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogjakarta pada tahun 1996. Ia salah satu seniman yang tetap dengan gaya yang sama. Meski gaya-gayanya tak melompat-lompat atau berubah-ubah, ide-idenya terus berkembang sehingga lukisan-lukisannya sama sekali tak terkesan monoton, justru terasa makin kaya. Sejak tahun 2000 ia memilih berkesenian dengan karya piguratif, atas kekagumannya melihat karya-karya Pablo Picaso, Joan Miro dan Hendry Russo.

Beberapa trend seni rupa sempat terjadi di Yogjakarta. Sejumlah kawan kawannya mengalami gaya perubahan kekaryaan, misalnya terkena pengaruh boming seni rupa China di tahun 2006. Itu terjadi ketika buble ekonomi melanda dunia dengan adanya pengaruh karya-karya realisme China. Beberapa seniman yang berpengaruh waktu itu antara lain Yue Minjun, Fang Lijun, Ju Ming, Wang Guangyi, Xue Jiye, Zhou Chunya.

Namun Palguna tetap pada pendirian tidak terpengaruh dengan mengubah gaya lukisan. Walaupun di Indonesia waktu itu, karya-karya perupa yang berubah gaya menjadi mirip deretan seniman China tergolong laris manis dan menjadi boming seni rupa di Indonesia. Banyak seniman muda yang masih kuliah di Fakultas Seni Rupa ISI Yogjakarta, maupun di ITB, juga ISI Bali, memilih jalur realisme dalam berkarya, entah karena pengaruh pasar waktu itu.

Di awal tahun 2017 Palguna memilih hijrah ke kampung halamanya di Ubud untuk mendapatkan suasana baru setelah sekian lama memilih tinggal di Yogjakarta. Setahun kemudian, pada tahun 2018, Palguna mengadakan pameran tunggal “Coming Home: Momentary Lapse” di Komaneka Gallery.

Palguna sudah melakukan banyak pameran tunggal sebelumnya. Yang paling berkesan adalah pameran tunggalnya yang berjudul “ANJING” pada tahun 2000 di Bentara Budaya Yogjakarta. Kata “anjing” itu sangat propokative waku itu, membuat orang penasaran. Tentu karena sebuatan anjing di Jawa, Yogjakarta pada khususnya, sangatlah kasar. Seperti kita ketahui Yogjakarta adalah kawasan kota yang santun, dan dari segi berbicarapun sangat halus bahasanya. Namun pameran “Anjing” sangat ramai pengunjungnya dan mengalami kesuksesan waktu itu.

Pada tahun 2018, di kampungnya di Ubud, Palguna bersama sama kawan kawanya membentuk komunitas seniman dengan membangun ruang berkesenian bernama Kaktus Art Space. Tempat itu adalah sebuah ruko di Jalam Merta Sari milik Nyoman Susila. Komunitas itu dibentuk bersama Made Wira Dana, Nyoman Sujana Kenyem, Ida Bagus Purwa, Made Gunawan, I Kadek Susila Dwiyana, Made Romi Sukadana, Wayan Paramarta, Made Dolar Astawa, Teguh Ritma Iman, I Wayan Redika, Jinggo Pramarta, Dedy Reru, Made Duatmika, Made GalungAtmaja Wayan Arnata, I Wayan Gede Santiyasa, I Ketut Teja Astawa, A.A Ngurah Paramartha dan saya sendiri I Gede Made Surya Darma.

Kejenakaan Sehari-hari

Dalam pameran “Pragment of Desires” di Sayan ini, Palguna masih menunjukkan gaya lukisan dengan ide-ide sederhana. Meski menyampaikan sejumlah pesan yang terasa serius di tengah wabah ini, Palguna ternyata juga tak kehilangan kejenakaan dalam karya-karyanya. Seperti karya yang berjudul “Dog Farm”. Karya ini muncul ketika anjingnya punya anak. Lagi-lagi sesuatu yang sederhana. Kejenakaan yang ada di sekitar-sekitar kita.

Ada juga karya lukisan yang berjudul “Don’t Worry We are Fine So Far” yang melukiskan obyek monyet-monyet yang bergelantungan, dan satu pun tidak memakai masker. Digambarkan salah satu monyet duduk di ayunan seperti kursi goyang> Monyet-monyet itu tampak riang, saling bermain dengan gembira.

Ide lukisan monyet itu muncul ketika Palguna melewati kawasan Monkey Forest, yakni kawasan yang sering dilaluinya ketika datang dari studio Artbe Atelier, studio lukisan pribadi Made Palguna. Lukisan monyet-monyet inipun sengaja dibuat lebih besar, berbeda dengan ukuran lukisan lain. Ukurannya 200 x 250 cm dipasang pas di dinding terakhir ketika pengunjung melihat pameran Palguna.

Dipilihnya ukuran dan tempat di dinding terakhir itu seolah olah Palguna ingin menyampaikan pesan bahwa kita semua akan baik baik saja, seperti judul lukisan itu, “Don’t Worry We are Fine So Far.” [T]

Tags: ISI YogyakartaMade Arya PalgunaPameran Seni RupaSeni RupaUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pandan Berduri dan Ketajaman Pikiran

Next Post

Lalapan Pasar Burung Sanglah dan Kehangatan yang Ditawarkannya

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Lalapan Pasar Burung Sanglah dan Kehangatan yang Ditawarkannya

Lalapan Pasar Burung Sanglah dan Kehangatan yang Ditawarkannya

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co