2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Made Arya Palguna | Cerita Manusia, Wabah dan Kejenakaan Sehari-hari

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
October 13, 2021
in Ulasan
Pameran Made Arya Palguna | Cerita Manusia, Wabah dan Kejenakaan Sehari-hari

Made Arya Palguna di tengah pameran tunggalnya di Sika Gallery, Ubud, Bali

I Made Arya Palguna menggelar pameran tunggal bertema “Pragment of Desires”, Selasa, 12 Oktober sampai 12 November 2021, di Sika Gallery, Jl. Raya Campuhan, Sayan, Ubud, Gianyar. Karya-karya yang dipamerkan banyak bercerita tentang kehidupan sehari hari di masa pandemi Covid-19.

Pada pameran tunggal kali ini Palguna memilih tema Pragment of Desires. Made Palguna memamerkan 36 karya seni lukis ditambah dua patung. Karya-karya lukisan itu dikerjakan semasa pandemi melanda dunia.

Dalam karya-karyanya itu, Palguna mencoba menangkap cuplikan-cuplikan kehidupan sehari-hari dan diabadikan dalam bentuk lukisan entah itu di canvas dan kertas. Misalnya karya yang berjudul “Sun Bathing” yang melukiskan sosok manusia yang sedang berjemur di pantai. Lukisan itu dibuat dengan garis seminimalis mungkin sebagaimana gaya sketsa Made Palguna dengan latar belakang kertas daur ulang yang warnanya mirip pasir Pantai Sanur dan Kuta.

Palguna berceritra ide dari karya itu dipicu oleh banyaknya berita di media online maupun televisi yang menjelaskan salah satu cara untuk melawan pandemi adalah dengan cara berjemur. Sesederhana itu. Dan dari situ ia membuat lukisan orang berjemur sampai 7 seri.

Selain itu, terdapat karya patung yang dipamerkan berjudul “Membatu”. Patung ini menggambarkan sosok atau figur manusia yang bengong di tempat tidur dengan selimut seperti batu. Pada karya ini Palguna ingin mengabadikan cuplikan kehidupan manusia yang bengong di tempat tidur ketika dunia dilanda wabah.

Terdapat juga patung lain dengan wujud wajah manusia dan bantal guling yang dicat warna pink. Judul patung itu “Diam itu Emas”. Palguna ingin menyampaikan pesan bahwa di masa pandemi ini sebaiknya kita lebih banyak melakukan aktivitas di rumah, dan menghasilkan karya, biar tidak kena wabah virus ini.

Patung karya Made Arya Palguna berjudul “Diam Itu Emas”

Pesan yang senada disampaikan juga pada lukisan dengan judul “Out of Style” dan “Stuck”. Pada “Stuck”, Palguna berceritra tentang pada suatu ketika dengan adanya wabah ini kita merasa stuck, terdiam tidak menemukan solusi. Begitu pula pada “Out of Style”, Palguna mencoba mengabadikan cuplikan kehidupan yang sudah tidak lagi seperti biasanaya. Dengan kata lain bahasa keren anak muda “mati gaya”.

Hampir semua pesan yang melekat dalam karya-karya Palguna terkesan sederhana: adalah hal-hal yang dilakukan manusia sehari-hari di tengah wabah. Berjemur, diam, atau rebahan. Namun cerita sehari-hari itu terasa sangat penting, penuh makna, dan tak bisa diabaikan. Tentu saja, karena cerita sehari-hari itu diolah dengan ketajaman imajinasi dan intuisi, sehingga lukisan atau patung itu tak sekadar menjadi bentuk atau gambar yang meniru kehidupan sehari-hari di tengah wabah, melainkan mengadon kembali cerita itu menjadi bentuk yang merangsang mata sekaligus otak untuk memikirkan kembali tentang perilaku manusia yang berubah-ubah di tengah situasi yang tak pernah sama.

Gaya yang Sama

I Made Arya Palguna adalah seniman kelahiran Ubud tahun 1976 dan menempuh Pendidikan di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogjakarta pada tahun 1996. Ia salah satu seniman yang tetap dengan gaya yang sama. Meski gaya-gayanya tak melompat-lompat atau berubah-ubah, ide-idenya terus berkembang sehingga lukisan-lukisannya sama sekali tak terkesan monoton, justru terasa makin kaya. Sejak tahun 2000 ia memilih berkesenian dengan karya piguratif, atas kekagumannya melihat karya-karya Pablo Picaso, Joan Miro dan Hendry Russo.

Beberapa trend seni rupa sempat terjadi di Yogjakarta. Sejumlah kawan kawannya mengalami gaya perubahan kekaryaan, misalnya terkena pengaruh boming seni rupa China di tahun 2006. Itu terjadi ketika buble ekonomi melanda dunia dengan adanya pengaruh karya-karya realisme China. Beberapa seniman yang berpengaruh waktu itu antara lain Yue Minjun, Fang Lijun, Ju Ming, Wang Guangyi, Xue Jiye, Zhou Chunya.

Namun Palguna tetap pada pendirian tidak terpengaruh dengan mengubah gaya lukisan. Walaupun di Indonesia waktu itu, karya-karya perupa yang berubah gaya menjadi mirip deretan seniman China tergolong laris manis dan menjadi boming seni rupa di Indonesia. Banyak seniman muda yang masih kuliah di Fakultas Seni Rupa ISI Yogjakarta, maupun di ITB, juga ISI Bali, memilih jalur realisme dalam berkarya, entah karena pengaruh pasar waktu itu.

Di awal tahun 2017 Palguna memilih hijrah ke kampung halamanya di Ubud untuk mendapatkan suasana baru setelah sekian lama memilih tinggal di Yogjakarta. Setahun kemudian, pada tahun 2018, Palguna mengadakan pameran tunggal “Coming Home: Momentary Lapse” di Komaneka Gallery.

Palguna sudah melakukan banyak pameran tunggal sebelumnya. Yang paling berkesan adalah pameran tunggalnya yang berjudul “ANJING” pada tahun 2000 di Bentara Budaya Yogjakarta. Kata “anjing” itu sangat propokative waku itu, membuat orang penasaran. Tentu karena sebuatan anjing di Jawa, Yogjakarta pada khususnya, sangatlah kasar. Seperti kita ketahui Yogjakarta adalah kawasan kota yang santun, dan dari segi berbicarapun sangat halus bahasanya. Namun pameran “Anjing” sangat ramai pengunjungnya dan mengalami kesuksesan waktu itu.

Pada tahun 2018, di kampungnya di Ubud, Palguna bersama sama kawan kawanya membentuk komunitas seniman dengan membangun ruang berkesenian bernama Kaktus Art Space. Tempat itu adalah sebuah ruko di Jalam Merta Sari milik Nyoman Susila. Komunitas itu dibentuk bersama Made Wira Dana, Nyoman Sujana Kenyem, Ida Bagus Purwa, Made Gunawan, I Kadek Susila Dwiyana, Made Romi Sukadana, Wayan Paramarta, Made Dolar Astawa, Teguh Ritma Iman, I Wayan Redika, Jinggo Pramarta, Dedy Reru, Made Duatmika, Made GalungAtmaja Wayan Arnata, I Wayan Gede Santiyasa, I Ketut Teja Astawa, A.A Ngurah Paramartha dan saya sendiri I Gede Made Surya Darma.

Kejenakaan Sehari-hari

Dalam pameran “Pragment of Desires” di Sayan ini, Palguna masih menunjukkan gaya lukisan dengan ide-ide sederhana. Meski menyampaikan sejumlah pesan yang terasa serius di tengah wabah ini, Palguna ternyata juga tak kehilangan kejenakaan dalam karya-karyanya. Seperti karya yang berjudul “Dog Farm”. Karya ini muncul ketika anjingnya punya anak. Lagi-lagi sesuatu yang sederhana. Kejenakaan yang ada di sekitar-sekitar kita.

Ada juga karya lukisan yang berjudul “Don’t Worry We are Fine So Far” yang melukiskan obyek monyet-monyet yang bergelantungan, dan satu pun tidak memakai masker. Digambarkan salah satu monyet duduk di ayunan seperti kursi goyang> Monyet-monyet itu tampak riang, saling bermain dengan gembira.

Ide lukisan monyet itu muncul ketika Palguna melewati kawasan Monkey Forest, yakni kawasan yang sering dilaluinya ketika datang dari studio Artbe Atelier, studio lukisan pribadi Made Palguna. Lukisan monyet-monyet inipun sengaja dibuat lebih besar, berbeda dengan ukuran lukisan lain. Ukurannya 200 x 250 cm dipasang pas di dinding terakhir ketika pengunjung melihat pameran Palguna.

Dipilihnya ukuran dan tempat di dinding terakhir itu seolah olah Palguna ingin menyampaikan pesan bahwa kita semua akan baik baik saja, seperti judul lukisan itu, “Don’t Worry We are Fine So Far.” [T]

Tags: ISI YogyakartaMade Arya PalgunaPameran Seni RupaSeni RupaUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pandan Berduri dan Ketajaman Pikiran

Next Post

Lalapan Pasar Burung Sanglah dan Kehangatan yang Ditawarkannya

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Lalapan Pasar Burung Sanglah dan Kehangatan yang Ditawarkannya

Lalapan Pasar Burung Sanglah dan Kehangatan yang Ditawarkannya

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co