14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Pura Dalem Nusa Menjadi Dalem Ped?

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
September 29, 2021
in Opini
Mengapa Pura Dalem Nusa Menjadi Dalem Ped?

Pura Dalem Ped. Foto: nusapenidapanoramic.com

Apakah Anda mengenal “Pura Dalem Nusa” di Nusa Penida? Ah, Anda mungkin geleng-geleng kepala. Bagaimana dengan Pura Dalem Ped? Pasti sangat familiar-lah. Bukan hanya umat se-dharma, beberapa penekun spiritual (dari berbagai lintas agama) pun banyak yang mengenalnya. Padahal, Pura Dalem Nusa adalah nama lampau dari Pura Dalem Ped yang sekarang. Mengapa “Pura Dalem Nusa” berubah nama menjadi Pura Dalem Ped?

Sangat minim sumber yang menjelaskan latar belakang perubahan nama tersebut. Salah satu sumber yang menyinggung pergantian nama itu ialah buku Sejarah Nusa dan Sejarah Pura Dalem Ped karangan Drs. Wayan Putera Prata. Buku ini dijadikan sumber utama dari beberapa tulisan yang bertebaran di dunia maya.

Merujuk pada buku Sejarah Nusa dan Sejarah Dalem Ped, pergantian nama baru Pura Dalem Ped dilakukan oleh tokoh puri Klungkung pada zaman Dewa Agung. Namun, tidak dituliskan secara rinci pada pemerintahan siapa dan nama detail tokoh puri tersebut. Pun tidak disebutkan persis waktu pergantian nama itu.

Buku ini hanya menyebutkan bahwa pergantian nama “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped dilatarbelakangi oleh peristiwa sederhana. Peristiwa yang bersifat historis dan berbau mistis. Cerita bermula dari Ida Pedanda Abiansemal yang kehilangan tiga buah tapel. Ketiga tapel itu menghilang secara misterius.

Suatu hari, Ida Pedanda mendengar kabar bahwa ketiga tapelnya berada di Pura Dalem Nusa. Untuk membuktikan kepastian kabar ini, maka Ida bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa. Perjalanan Ida tidak sia-sia. Di luar dugaan, 3 tapel beliau muncul secara gaib di Pura Dalem Nusa.  

Namun, Ida Pedanda tidak mengambil kembali tapel-tapel itu. Entah apa dasar pertimbangannya. Beliau hanya berpesan kepada warga Nusa agar menjaga tapel-tapel itu dengan baik, dan secara kontinyu melakukan ritual (upacara) sebagaimana mestinya.

Pasca penemuan dan proses ritual, muncul kabar bahwa tapel-tapel itu memiliki kekuatan magis atau kesaktian. Konon, tapel-tapel itu mampu menyembuhkan berbagai penyakit baik yang diderita oleh manusia maupun tumbuhan. Kabar ini menyebar hingga ke seluruh pelosok  Bali, termasuk kepada warga Subak Sampalan.

Warga Subak Sampalan yang sedang dirundung serangan hama, mengutus kliannya untuk memohon anugerah (mesesangi) ke Pura Dalem Nusa. Intinya, memohon agar warga Subak Sampalan terhindar dari berbagai hama yang menyerang tanaman mereka.

Tak lama kemudian, serangan hama mulai mereda. Sesuai sesanginya, warga Subak Sampalan kemudian menggelar upacara mapeed. Langkah-langkah ini diikuti oleh subak-subak lain di sekitar Sampalan.

Kabar tentang pelaksanaan upacara mapeed itu terdengar hingga ke seluruh pelosok Nusa. Sejak saat itulah, Dewa Agung Klungkung mengganti nama Pura Dalem Nusa dengan Pura Dalem Peed (Ped).

Tafsir Cerita

Lalu, adakah efek skala atau niskala dari pergantian nama ini? Adakah riak-riak tanggapan dari masyarakat Nusa Penida kala itu? Saya belum pernah mendengar secara lisan ataupun membaca catatan tertulis terkait hal ini.

Namun, saya menduga bahwa besar kemungkinan tidak ada celah tanggapan (pengingkaran) dari masyarakat Nusa kala itu. Pertama, dilihat dari aspek historis, Nusa termasuk wilayah taklukan dari kerajaan Klungkung. Jadi, keputusan dari kerajaan Klungkung adalah realitas yang mesti diterima oleh masyarakat Nusa. Apalagi, keputusan ini datang dari seorang tokoh puri. Keluarga yang sangat disegani dan dihormati oleh seluruh masyarakat yang berada di bawah kekuasaannya, termasuk Nusa kala itu.

Kedua, pergantian nama pura itu dikemas dalam bingkai mistis. Biasanya, unsur mistis menjeruji daya nalar pengingkaran. Celah-celah rasional berpikir seolah-olah dimatikan. Semua peristiwa mistis harus diterima apa adanya. Kalau tidak, akan muncul ancaman efek niskala. Siapa yang berani melawan efek niskala?

Begitulah power cerita mistis. Ia akan menciptakan rasa ketakutan. Ketakutan untuk melawan. Mirip titah seorang raja kepada masyarakat kecil. Hanya ada satu kata yakni menerima, tunduk atau menjalankan. Entah benar atau salah. Itu urusan nanti.

Kalau kita mau merenung, jangan-jangan unsur mistis sudah menjadi semacam strategi “penjinakan” logika. Strategi untuk menyampingkan logika. Sebaliknya, selalu menjaga keintiman dengan rasa. Umumnya, rasa menerima. Rasa tunduk. Ujung-ujungnya, tumbuh kepercayaan dan keyakinan.

Karena itu, modal power (kekuasaan) dan mistis merupakan senjata yang sangat kuat untuk menundukkan mind set orang zaman dulu. Jangan-jangan kondisi ini masih berlaku hingga sekarang. Para penguasa memanfaatkan kolaborasi unsur power dan mistik untuk menundukkan pemikiran massa.

Saya tidak berniat meragukan atau membantah cerita di atas. Apalagi mengusik keyakinan/ kepercayaan orang. Akan tetapi, jika sebuah keputusan datang dari puri Klungkung (sebagai penguasa tertinggi) kepada wilayah bawahan (Nusa), tentu menarik ditelisik dari aspek politiknya.

Artinya, patut dicurigai bahwa cerita itu mungkin saja mengandung muatan politik. Ada maksud-maksud tertentu (pesan politis) yang tersembunyi dalam cerita tersebut untuk menguatkan keputusan mengubah “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped.

Dari segi semantis, kata “Dalem Nusa” mungkin menimbulkan citraan konfrontasi. Seolah-olah dua kata ini lebih menonjolkan maaf “perlawanan”. “Dalem” berarti raja, sedangkan “Nusa” adalah sebutan asal wilayah. Jadi, “Dalem Nusa” kurang lebih bermakna raja asal Nusa (raja Nusa).

Dari sisi politik, imaji yang ditimbulkan dari kata tersebut sangat sensitif. Pasalnya, tercatat dua kali raja Nusa melakukan pemberontakan terhadap kerajaan Bali (Klungkung). Pemberontakan I Dewa Bungkut pada masa pemerintahan dinasti Kresna Kepakisan dan Ratu Sawang pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong (sebelum Bali pecah menjadi 9 kerajaan kecil). Setidaknya, dua peristiwa ini menimbulkan luka sejarah (bagi masyarakat Nusa) dan trauma sejarah bagi kerajaan Klungkung.

Agar tidak terjadi pemberontakan ulangan, zaman dulu para penguasa kerajaan Bali menerapkan politik akulturasi dengan masyarakat Nusa. Caranya, menempatkan beberapa pejabat Klungkung dan sebagian laskarnya di Nusa Penida (Sidemen, 1984). Secara tidak langsung, pembuangan di NP juga menjadi semacam misi untuk mempercepat proses akulturasi.

Dalam konteks inilah, puri Klungkung memandang penting meredam efek imaji yang ditimbulkan dari kata “Dalem Nusa”. Kata ini mungkin dirasakan menyimpan spirit bahaya laten. Karena itu, mengganti “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped bisa jadi semacam tindakan politis yang sangat halus. Tujuannya, untuk mengurangi unsur penonjolan aroma raja Nusa. Hadirnya kata “Ped” di belakang “Dalem” terdengar lebih halus tetapi penuh tafsir.

Ped (peed) bermakna kurang lebih “beriringan”. Kesan yang tercintrakan menjadi tidak kontras. Beriringan mungkin mirip dengan makna seiring, berjalan ke arah yang sama. Lebih spesifik, melakukan perjalanan bersama-sama ke arah yang sama. Ya, bersatu mencapai tujuan yang sama.

Ada pesan persatuan dan perdamaian yang hendak dicitrakan dalam makna kata “Ped”. Barangkali, kerajaan Klungkung ingin mengajak masyarakat Nusa untuk melupakan luka dan trauma sejarah. Ketika tapel-tapel itu (dalam cerita) bisa menyembuhkan berbagai penyakit, pun diharapkan (secara simbolis) dapat mengobati luka-luka sejarah masyarakat Nusa. Selanjutnya, masyarakat Nusa diajak mapeed (bergandengan) untuk menciptakan hubungan yang harmonis—menuju kerajaan Klungkung yang lebih maju.

Pesan politis itu dikemas begitu rapi dalam cerita. Tapel-tapel (topeng) dapat disimbolkan sebagai maksud-maksud tersembunyi. Ada pesan politik yang hendak disembunyikan. Kemudian, tapel-tapel diabsurdkan bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam konteks hubungan politik antara kerajaan Klungkung-Nusa, luka dianggap paling fenomenal ialah luka/ dendam sejarah (pemberontakan).

Kerajaan Klungkung sangat memahami masa lalu kedua belah pihak. Karena itu, muncul peristiwa mapeed dalam cerita. Peristiwa mapeed dapat disimbolkan atau ditafsirkan sebagai “ajakan beriringan atau bergandengan” menuju satu tujuan yang dikonsepkan oleh pemerintah kerajaan Klungkung.

Dalam konteks“mengajak bergandengan” dari simbol mapeed, juga menimbulkan tafsir lain. Bisa jadi, mapeed mengandung maksud bahwa raja Nusa sudah takluk di bawah kekuasaan kerajaan Klungkung. Ada semacam ego politik untuk menonjolkan kekuasaan. Kerajaan Klungkung hendak memberikan kesadaran bahwa masyarakat Nusa sudah “ngiring” atau ikut kerajaan Klungkung.

Dua tafsir terakhir sangat berkolerasi dengan karakter raja yang memerintah di Klungkung zaman itu. Jika raja yang berkuasa memiliki karakter visioner, bijak dan rendah hati—maka besar kemungkinan mengarah kepada tafsir pertama. Ada pesan perdamaian dan persatuan yang hendak disampaikan dalam pergantian “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped.

Sebaliknya, jika raja yang berkuasa memiliki karakter arogan, ego dan suka dipuji-puji—bisa jadi mengarah kepada tafsir kedua. Kerajaan Klungkung hendak memamerkan power/ kekuasaan. Ada pesan superior dan inferior yang hendak disampaikan dalam pergantian “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped.

Di luar kepentingan politik, pergantian “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped mungkin mempertimbangkan aspek historis-silsilah. Aspek historis-silsilah yang dimaksud ialah berkaitan dengan (tabik pekulun) sesuhunan Ratu Gede Mecaling yang melinggih di Pura Dalem Ped.

Dalam beberapa sumber menyebutkan Ratu Gede Mecaling merupakan patih yang sakti mandraguna. Sedikit sumber yang menyebutkan bahwa beliau pernah menjabat sebagai seorang raja. Buku Babad Nusa Penida (Budha, 2007) misalnya, hanya menjelaskan bahwa I Mecaling adalah seorang pertapa yang memiliki kesaktian yang luar biasa (kanda sanga dan panca taksu)—pemimpin/penguasa wong samar.

Kuasa magisnya memang tidak diragukan lagi. Terbukti, pelinggih penyimpangan beliau bertebaran tidak hanya di Bali, tetapi hingga ke nusantara. Bahkan, mungkin hingga ke tingkat internasional. Karena Dalem Ped juga dipuja oleh beberapa penekun spiritual dari belahan dunia internasional.

Begitu juga dalam Geguritan Ratu Gede Mecaling, Karangasem I milik I Ketut Kari Br. Bias, Abang, Karangasem (2007) juga mendeskripsikan beliau seorang patih. Tidak ada deskripsi yang mengambarkan beliau seorang raja.

Mungkin atas dasar histori-silsilah inilah, nama “Dalem Nusa” (raja Nusa) dianggap kurang pas oleh pihak kerajaan Klungkung—meskipun beliau memiliki power (kuasa) magis (kesaktian) yang terkenal hingga ke seluruh Bali (waktu itu).

Namun, perlu diingat bahwa aspek apapun yang menjadi dasar pertimbangan pergantian “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped, rasanya sulit menihilkan muatan politisnya. Bagaimanapun, itu adalah keputusan kerajaan induk kepada pecahan daerah kekuasaannya. [T]

___

BACA artikel lain tentang Nusa Penida 

dari penulis Ketut Serawan

___

Tags: hinduKlungkungNusa PenidaPura Dalem Ped
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendadak Digital ala Birokrat

Next Post

Apa Saja 4 Kriteria Utama Aplikasi HR Terbaik?

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post
Apa Saja 4 Kriteria Utama Aplikasi HR Terbaik?

Apa Saja 4 Kriteria Utama Aplikasi HR Terbaik?

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co