24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Pura Dalem Nusa Menjadi Dalem Ped?

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
September 29, 2021
in Opini
Mengapa Pura Dalem Nusa Menjadi Dalem Ped?

Pura Dalem Ped. Foto: nusapenidapanoramic.com

Apakah Anda mengenal “Pura Dalem Nusa” di Nusa Penida? Ah, Anda mungkin geleng-geleng kepala. Bagaimana dengan Pura Dalem Ped? Pasti sangat familiar-lah. Bukan hanya umat se-dharma, beberapa penekun spiritual (dari berbagai lintas agama) pun banyak yang mengenalnya. Padahal, Pura Dalem Nusa adalah nama lampau dari Pura Dalem Ped yang sekarang. Mengapa “Pura Dalem Nusa” berubah nama menjadi Pura Dalem Ped?

Sangat minim sumber yang menjelaskan latar belakang perubahan nama tersebut. Salah satu sumber yang menyinggung pergantian nama itu ialah buku Sejarah Nusa dan Sejarah Pura Dalem Ped karangan Drs. Wayan Putera Prata. Buku ini dijadikan sumber utama dari beberapa tulisan yang bertebaran di dunia maya.

Merujuk pada buku Sejarah Nusa dan Sejarah Dalem Ped, pergantian nama baru Pura Dalem Ped dilakukan oleh tokoh puri Klungkung pada zaman Dewa Agung. Namun, tidak dituliskan secara rinci pada pemerintahan siapa dan nama detail tokoh puri tersebut. Pun tidak disebutkan persis waktu pergantian nama itu.

Buku ini hanya menyebutkan bahwa pergantian nama “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped dilatarbelakangi oleh peristiwa sederhana. Peristiwa yang bersifat historis dan berbau mistis. Cerita bermula dari Ida Pedanda Abiansemal yang kehilangan tiga buah tapel. Ketiga tapel itu menghilang secara misterius.

Suatu hari, Ida Pedanda mendengar kabar bahwa ketiga tapelnya berada di Pura Dalem Nusa. Untuk membuktikan kepastian kabar ini, maka Ida bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa. Perjalanan Ida tidak sia-sia. Di luar dugaan, 3 tapel beliau muncul secara gaib di Pura Dalem Nusa.  

Namun, Ida Pedanda tidak mengambil kembali tapel-tapel itu. Entah apa dasar pertimbangannya. Beliau hanya berpesan kepada warga Nusa agar menjaga tapel-tapel itu dengan baik, dan secara kontinyu melakukan ritual (upacara) sebagaimana mestinya.

Pasca penemuan dan proses ritual, muncul kabar bahwa tapel-tapel itu memiliki kekuatan magis atau kesaktian. Konon, tapel-tapel itu mampu menyembuhkan berbagai penyakit baik yang diderita oleh manusia maupun tumbuhan. Kabar ini menyebar hingga ke seluruh pelosok  Bali, termasuk kepada warga Subak Sampalan.

Warga Subak Sampalan yang sedang dirundung serangan hama, mengutus kliannya untuk memohon anugerah (mesesangi) ke Pura Dalem Nusa. Intinya, memohon agar warga Subak Sampalan terhindar dari berbagai hama yang menyerang tanaman mereka.

Tak lama kemudian, serangan hama mulai mereda. Sesuai sesanginya, warga Subak Sampalan kemudian menggelar upacara mapeed. Langkah-langkah ini diikuti oleh subak-subak lain di sekitar Sampalan.

Kabar tentang pelaksanaan upacara mapeed itu terdengar hingga ke seluruh pelosok Nusa. Sejak saat itulah, Dewa Agung Klungkung mengganti nama Pura Dalem Nusa dengan Pura Dalem Peed (Ped).

Tafsir Cerita

Lalu, adakah efek skala atau niskala dari pergantian nama ini? Adakah riak-riak tanggapan dari masyarakat Nusa Penida kala itu? Saya belum pernah mendengar secara lisan ataupun membaca catatan tertulis terkait hal ini.

Namun, saya menduga bahwa besar kemungkinan tidak ada celah tanggapan (pengingkaran) dari masyarakat Nusa kala itu. Pertama, dilihat dari aspek historis, Nusa termasuk wilayah taklukan dari kerajaan Klungkung. Jadi, keputusan dari kerajaan Klungkung adalah realitas yang mesti diterima oleh masyarakat Nusa. Apalagi, keputusan ini datang dari seorang tokoh puri. Keluarga yang sangat disegani dan dihormati oleh seluruh masyarakat yang berada di bawah kekuasaannya, termasuk Nusa kala itu.

Kedua, pergantian nama pura itu dikemas dalam bingkai mistis. Biasanya, unsur mistis menjeruji daya nalar pengingkaran. Celah-celah rasional berpikir seolah-olah dimatikan. Semua peristiwa mistis harus diterima apa adanya. Kalau tidak, akan muncul ancaman efek niskala. Siapa yang berani melawan efek niskala?

Begitulah power cerita mistis. Ia akan menciptakan rasa ketakutan. Ketakutan untuk melawan. Mirip titah seorang raja kepada masyarakat kecil. Hanya ada satu kata yakni menerima, tunduk atau menjalankan. Entah benar atau salah. Itu urusan nanti.

Kalau kita mau merenung, jangan-jangan unsur mistis sudah menjadi semacam strategi “penjinakan” logika. Strategi untuk menyampingkan logika. Sebaliknya, selalu menjaga keintiman dengan rasa. Umumnya, rasa menerima. Rasa tunduk. Ujung-ujungnya, tumbuh kepercayaan dan keyakinan.

Karena itu, modal power (kekuasaan) dan mistis merupakan senjata yang sangat kuat untuk menundukkan mind set orang zaman dulu. Jangan-jangan kondisi ini masih berlaku hingga sekarang. Para penguasa memanfaatkan kolaborasi unsur power dan mistik untuk menundukkan pemikiran massa.

Saya tidak berniat meragukan atau membantah cerita di atas. Apalagi mengusik keyakinan/ kepercayaan orang. Akan tetapi, jika sebuah keputusan datang dari puri Klungkung (sebagai penguasa tertinggi) kepada wilayah bawahan (Nusa), tentu menarik ditelisik dari aspek politiknya.

Artinya, patut dicurigai bahwa cerita itu mungkin saja mengandung muatan politik. Ada maksud-maksud tertentu (pesan politis) yang tersembunyi dalam cerita tersebut untuk menguatkan keputusan mengubah “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped.

Dari segi semantis, kata “Dalem Nusa” mungkin menimbulkan citraan konfrontasi. Seolah-olah dua kata ini lebih menonjolkan maaf “perlawanan”. “Dalem” berarti raja, sedangkan “Nusa” adalah sebutan asal wilayah. Jadi, “Dalem Nusa” kurang lebih bermakna raja asal Nusa (raja Nusa).

Dari sisi politik, imaji yang ditimbulkan dari kata tersebut sangat sensitif. Pasalnya, tercatat dua kali raja Nusa melakukan pemberontakan terhadap kerajaan Bali (Klungkung). Pemberontakan I Dewa Bungkut pada masa pemerintahan dinasti Kresna Kepakisan dan Ratu Sawang pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong (sebelum Bali pecah menjadi 9 kerajaan kecil). Setidaknya, dua peristiwa ini menimbulkan luka sejarah (bagi masyarakat Nusa) dan trauma sejarah bagi kerajaan Klungkung.

Agar tidak terjadi pemberontakan ulangan, zaman dulu para penguasa kerajaan Bali menerapkan politik akulturasi dengan masyarakat Nusa. Caranya, menempatkan beberapa pejabat Klungkung dan sebagian laskarnya di Nusa Penida (Sidemen, 1984). Secara tidak langsung, pembuangan di NP juga menjadi semacam misi untuk mempercepat proses akulturasi.

Dalam konteks inilah, puri Klungkung memandang penting meredam efek imaji yang ditimbulkan dari kata “Dalem Nusa”. Kata ini mungkin dirasakan menyimpan spirit bahaya laten. Karena itu, mengganti “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped bisa jadi semacam tindakan politis yang sangat halus. Tujuannya, untuk mengurangi unsur penonjolan aroma raja Nusa. Hadirnya kata “Ped” di belakang “Dalem” terdengar lebih halus tetapi penuh tafsir.

Ped (peed) bermakna kurang lebih “beriringan”. Kesan yang tercintrakan menjadi tidak kontras. Beriringan mungkin mirip dengan makna seiring, berjalan ke arah yang sama. Lebih spesifik, melakukan perjalanan bersama-sama ke arah yang sama. Ya, bersatu mencapai tujuan yang sama.

Ada pesan persatuan dan perdamaian yang hendak dicitrakan dalam makna kata “Ped”. Barangkali, kerajaan Klungkung ingin mengajak masyarakat Nusa untuk melupakan luka dan trauma sejarah. Ketika tapel-tapel itu (dalam cerita) bisa menyembuhkan berbagai penyakit, pun diharapkan (secara simbolis) dapat mengobati luka-luka sejarah masyarakat Nusa. Selanjutnya, masyarakat Nusa diajak mapeed (bergandengan) untuk menciptakan hubungan yang harmonis—menuju kerajaan Klungkung yang lebih maju.

Pesan politis itu dikemas begitu rapi dalam cerita. Tapel-tapel (topeng) dapat disimbolkan sebagai maksud-maksud tersembunyi. Ada pesan politik yang hendak disembunyikan. Kemudian, tapel-tapel diabsurdkan bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam konteks hubungan politik antara kerajaan Klungkung-Nusa, luka dianggap paling fenomenal ialah luka/ dendam sejarah (pemberontakan).

Kerajaan Klungkung sangat memahami masa lalu kedua belah pihak. Karena itu, muncul peristiwa mapeed dalam cerita. Peristiwa mapeed dapat disimbolkan atau ditafsirkan sebagai “ajakan beriringan atau bergandengan” menuju satu tujuan yang dikonsepkan oleh pemerintah kerajaan Klungkung.

Dalam konteks“mengajak bergandengan” dari simbol mapeed, juga menimbulkan tafsir lain. Bisa jadi, mapeed mengandung maksud bahwa raja Nusa sudah takluk di bawah kekuasaan kerajaan Klungkung. Ada semacam ego politik untuk menonjolkan kekuasaan. Kerajaan Klungkung hendak memberikan kesadaran bahwa masyarakat Nusa sudah “ngiring” atau ikut kerajaan Klungkung.

Dua tafsir terakhir sangat berkolerasi dengan karakter raja yang memerintah di Klungkung zaman itu. Jika raja yang berkuasa memiliki karakter visioner, bijak dan rendah hati—maka besar kemungkinan mengarah kepada tafsir pertama. Ada pesan perdamaian dan persatuan yang hendak disampaikan dalam pergantian “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped.

Sebaliknya, jika raja yang berkuasa memiliki karakter arogan, ego dan suka dipuji-puji—bisa jadi mengarah kepada tafsir kedua. Kerajaan Klungkung hendak memamerkan power/ kekuasaan. Ada pesan superior dan inferior yang hendak disampaikan dalam pergantian “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped.

Di luar kepentingan politik, pergantian “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped mungkin mempertimbangkan aspek historis-silsilah. Aspek historis-silsilah yang dimaksud ialah berkaitan dengan (tabik pekulun) sesuhunan Ratu Gede Mecaling yang melinggih di Pura Dalem Ped.

Dalam beberapa sumber menyebutkan Ratu Gede Mecaling merupakan patih yang sakti mandraguna. Sedikit sumber yang menyebutkan bahwa beliau pernah menjabat sebagai seorang raja. Buku Babad Nusa Penida (Budha, 2007) misalnya, hanya menjelaskan bahwa I Mecaling adalah seorang pertapa yang memiliki kesaktian yang luar biasa (kanda sanga dan panca taksu)—pemimpin/penguasa wong samar.

Kuasa magisnya memang tidak diragukan lagi. Terbukti, pelinggih penyimpangan beliau bertebaran tidak hanya di Bali, tetapi hingga ke nusantara. Bahkan, mungkin hingga ke tingkat internasional. Karena Dalem Ped juga dipuja oleh beberapa penekun spiritual dari belahan dunia internasional.

Begitu juga dalam Geguritan Ratu Gede Mecaling, Karangasem I milik I Ketut Kari Br. Bias, Abang, Karangasem (2007) juga mendeskripsikan beliau seorang patih. Tidak ada deskripsi yang mengambarkan beliau seorang raja.

Mungkin atas dasar histori-silsilah inilah, nama “Dalem Nusa” (raja Nusa) dianggap kurang pas oleh pihak kerajaan Klungkung—meskipun beliau memiliki power (kuasa) magis (kesaktian) yang terkenal hingga ke seluruh Bali (waktu itu).

Namun, perlu diingat bahwa aspek apapun yang menjadi dasar pertimbangan pergantian “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped, rasanya sulit menihilkan muatan politisnya. Bagaimanapun, itu adalah keputusan kerajaan induk kepada pecahan daerah kekuasaannya. [T]

___

BACA artikel lain tentang Nusa Penida 

dari penulis Ketut Serawan

___

Tags: hinduKlungkungNusa PenidaPura Dalem Ped
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendadak Digital ala Birokrat

Next Post

Apa Saja 4 Kriteria Utama Aplikasi HR Terbaik?

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Apa Saja 4 Kriteria Utama Aplikasi HR Terbaik?

Apa Saja 4 Kriteria Utama Aplikasi HR Terbaik?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co