2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Pura Dalem Nusa Menjadi Dalem Ped?

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
September 29, 2021
in Opini
Mengapa Pura Dalem Nusa Menjadi Dalem Ped?

Pura Dalem Ped. Foto: nusapenidapanoramic.com

Apakah Anda mengenal “Pura Dalem Nusa” di Nusa Penida? Ah, Anda mungkin geleng-geleng kepala. Bagaimana dengan Pura Dalem Ped? Pasti sangat familiar-lah. Bukan hanya umat se-dharma, beberapa penekun spiritual (dari berbagai lintas agama) pun banyak yang mengenalnya. Padahal, Pura Dalem Nusa adalah nama lampau dari Pura Dalem Ped yang sekarang. Mengapa “Pura Dalem Nusa” berubah nama menjadi Pura Dalem Ped?

Sangat minim sumber yang menjelaskan latar belakang perubahan nama tersebut. Salah satu sumber yang menyinggung pergantian nama itu ialah buku Sejarah Nusa dan Sejarah Pura Dalem Ped karangan Drs. Wayan Putera Prata. Buku ini dijadikan sumber utama dari beberapa tulisan yang bertebaran di dunia maya.

Merujuk pada buku Sejarah Nusa dan Sejarah Dalem Ped, pergantian nama baru Pura Dalem Ped dilakukan oleh tokoh puri Klungkung pada zaman Dewa Agung. Namun, tidak dituliskan secara rinci pada pemerintahan siapa dan nama detail tokoh puri tersebut. Pun tidak disebutkan persis waktu pergantian nama itu.

Buku ini hanya menyebutkan bahwa pergantian nama “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped dilatarbelakangi oleh peristiwa sederhana. Peristiwa yang bersifat historis dan berbau mistis. Cerita bermula dari Ida Pedanda Abiansemal yang kehilangan tiga buah tapel. Ketiga tapel itu menghilang secara misterius.

Suatu hari, Ida Pedanda mendengar kabar bahwa ketiga tapelnya berada di Pura Dalem Nusa. Untuk membuktikan kepastian kabar ini, maka Ida bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa. Perjalanan Ida tidak sia-sia. Di luar dugaan, 3 tapel beliau muncul secara gaib di Pura Dalem Nusa.  

Namun, Ida Pedanda tidak mengambil kembali tapel-tapel itu. Entah apa dasar pertimbangannya. Beliau hanya berpesan kepada warga Nusa agar menjaga tapel-tapel itu dengan baik, dan secara kontinyu melakukan ritual (upacara) sebagaimana mestinya.

Pasca penemuan dan proses ritual, muncul kabar bahwa tapel-tapel itu memiliki kekuatan magis atau kesaktian. Konon, tapel-tapel itu mampu menyembuhkan berbagai penyakit baik yang diderita oleh manusia maupun tumbuhan. Kabar ini menyebar hingga ke seluruh pelosok  Bali, termasuk kepada warga Subak Sampalan.

Warga Subak Sampalan yang sedang dirundung serangan hama, mengutus kliannya untuk memohon anugerah (mesesangi) ke Pura Dalem Nusa. Intinya, memohon agar warga Subak Sampalan terhindar dari berbagai hama yang menyerang tanaman mereka.

Tak lama kemudian, serangan hama mulai mereda. Sesuai sesanginya, warga Subak Sampalan kemudian menggelar upacara mapeed. Langkah-langkah ini diikuti oleh subak-subak lain di sekitar Sampalan.

Kabar tentang pelaksanaan upacara mapeed itu terdengar hingga ke seluruh pelosok Nusa. Sejak saat itulah, Dewa Agung Klungkung mengganti nama Pura Dalem Nusa dengan Pura Dalem Peed (Ped).

Tafsir Cerita

Lalu, adakah efek skala atau niskala dari pergantian nama ini? Adakah riak-riak tanggapan dari masyarakat Nusa Penida kala itu? Saya belum pernah mendengar secara lisan ataupun membaca catatan tertulis terkait hal ini.

Namun, saya menduga bahwa besar kemungkinan tidak ada celah tanggapan (pengingkaran) dari masyarakat Nusa kala itu. Pertama, dilihat dari aspek historis, Nusa termasuk wilayah taklukan dari kerajaan Klungkung. Jadi, keputusan dari kerajaan Klungkung adalah realitas yang mesti diterima oleh masyarakat Nusa. Apalagi, keputusan ini datang dari seorang tokoh puri. Keluarga yang sangat disegani dan dihormati oleh seluruh masyarakat yang berada di bawah kekuasaannya, termasuk Nusa kala itu.

Kedua, pergantian nama pura itu dikemas dalam bingkai mistis. Biasanya, unsur mistis menjeruji daya nalar pengingkaran. Celah-celah rasional berpikir seolah-olah dimatikan. Semua peristiwa mistis harus diterima apa adanya. Kalau tidak, akan muncul ancaman efek niskala. Siapa yang berani melawan efek niskala?

Begitulah power cerita mistis. Ia akan menciptakan rasa ketakutan. Ketakutan untuk melawan. Mirip titah seorang raja kepada masyarakat kecil. Hanya ada satu kata yakni menerima, tunduk atau menjalankan. Entah benar atau salah. Itu urusan nanti.

Kalau kita mau merenung, jangan-jangan unsur mistis sudah menjadi semacam strategi “penjinakan” logika. Strategi untuk menyampingkan logika. Sebaliknya, selalu menjaga keintiman dengan rasa. Umumnya, rasa menerima. Rasa tunduk. Ujung-ujungnya, tumbuh kepercayaan dan keyakinan.

Karena itu, modal power (kekuasaan) dan mistis merupakan senjata yang sangat kuat untuk menundukkan mind set orang zaman dulu. Jangan-jangan kondisi ini masih berlaku hingga sekarang. Para penguasa memanfaatkan kolaborasi unsur power dan mistik untuk menundukkan pemikiran massa.

Saya tidak berniat meragukan atau membantah cerita di atas. Apalagi mengusik keyakinan/ kepercayaan orang. Akan tetapi, jika sebuah keputusan datang dari puri Klungkung (sebagai penguasa tertinggi) kepada wilayah bawahan (Nusa), tentu menarik ditelisik dari aspek politiknya.

Artinya, patut dicurigai bahwa cerita itu mungkin saja mengandung muatan politik. Ada maksud-maksud tertentu (pesan politis) yang tersembunyi dalam cerita tersebut untuk menguatkan keputusan mengubah “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped.

Dari segi semantis, kata “Dalem Nusa” mungkin menimbulkan citraan konfrontasi. Seolah-olah dua kata ini lebih menonjolkan maaf “perlawanan”. “Dalem” berarti raja, sedangkan “Nusa” adalah sebutan asal wilayah. Jadi, “Dalem Nusa” kurang lebih bermakna raja asal Nusa (raja Nusa).

Dari sisi politik, imaji yang ditimbulkan dari kata tersebut sangat sensitif. Pasalnya, tercatat dua kali raja Nusa melakukan pemberontakan terhadap kerajaan Bali (Klungkung). Pemberontakan I Dewa Bungkut pada masa pemerintahan dinasti Kresna Kepakisan dan Ratu Sawang pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong (sebelum Bali pecah menjadi 9 kerajaan kecil). Setidaknya, dua peristiwa ini menimbulkan luka sejarah (bagi masyarakat Nusa) dan trauma sejarah bagi kerajaan Klungkung.

Agar tidak terjadi pemberontakan ulangan, zaman dulu para penguasa kerajaan Bali menerapkan politik akulturasi dengan masyarakat Nusa. Caranya, menempatkan beberapa pejabat Klungkung dan sebagian laskarnya di Nusa Penida (Sidemen, 1984). Secara tidak langsung, pembuangan di NP juga menjadi semacam misi untuk mempercepat proses akulturasi.

Dalam konteks inilah, puri Klungkung memandang penting meredam efek imaji yang ditimbulkan dari kata “Dalem Nusa”. Kata ini mungkin dirasakan menyimpan spirit bahaya laten. Karena itu, mengganti “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped bisa jadi semacam tindakan politis yang sangat halus. Tujuannya, untuk mengurangi unsur penonjolan aroma raja Nusa. Hadirnya kata “Ped” di belakang “Dalem” terdengar lebih halus tetapi penuh tafsir.

Ped (peed) bermakna kurang lebih “beriringan”. Kesan yang tercintrakan menjadi tidak kontras. Beriringan mungkin mirip dengan makna seiring, berjalan ke arah yang sama. Lebih spesifik, melakukan perjalanan bersama-sama ke arah yang sama. Ya, bersatu mencapai tujuan yang sama.

Ada pesan persatuan dan perdamaian yang hendak dicitrakan dalam makna kata “Ped”. Barangkali, kerajaan Klungkung ingin mengajak masyarakat Nusa untuk melupakan luka dan trauma sejarah. Ketika tapel-tapel itu (dalam cerita) bisa menyembuhkan berbagai penyakit, pun diharapkan (secara simbolis) dapat mengobati luka-luka sejarah masyarakat Nusa. Selanjutnya, masyarakat Nusa diajak mapeed (bergandengan) untuk menciptakan hubungan yang harmonis—menuju kerajaan Klungkung yang lebih maju.

Pesan politis itu dikemas begitu rapi dalam cerita. Tapel-tapel (topeng) dapat disimbolkan sebagai maksud-maksud tersembunyi. Ada pesan politik yang hendak disembunyikan. Kemudian, tapel-tapel diabsurdkan bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam konteks hubungan politik antara kerajaan Klungkung-Nusa, luka dianggap paling fenomenal ialah luka/ dendam sejarah (pemberontakan).

Kerajaan Klungkung sangat memahami masa lalu kedua belah pihak. Karena itu, muncul peristiwa mapeed dalam cerita. Peristiwa mapeed dapat disimbolkan atau ditafsirkan sebagai “ajakan beriringan atau bergandengan” menuju satu tujuan yang dikonsepkan oleh pemerintah kerajaan Klungkung.

Dalam konteks“mengajak bergandengan” dari simbol mapeed, juga menimbulkan tafsir lain. Bisa jadi, mapeed mengandung maksud bahwa raja Nusa sudah takluk di bawah kekuasaan kerajaan Klungkung. Ada semacam ego politik untuk menonjolkan kekuasaan. Kerajaan Klungkung hendak memberikan kesadaran bahwa masyarakat Nusa sudah “ngiring” atau ikut kerajaan Klungkung.

Dua tafsir terakhir sangat berkolerasi dengan karakter raja yang memerintah di Klungkung zaman itu. Jika raja yang berkuasa memiliki karakter visioner, bijak dan rendah hati—maka besar kemungkinan mengarah kepada tafsir pertama. Ada pesan perdamaian dan persatuan yang hendak disampaikan dalam pergantian “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped.

Sebaliknya, jika raja yang berkuasa memiliki karakter arogan, ego dan suka dipuji-puji—bisa jadi mengarah kepada tafsir kedua. Kerajaan Klungkung hendak memamerkan power/ kekuasaan. Ada pesan superior dan inferior yang hendak disampaikan dalam pergantian “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped.

Di luar kepentingan politik, pergantian “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped mungkin mempertimbangkan aspek historis-silsilah. Aspek historis-silsilah yang dimaksud ialah berkaitan dengan (tabik pekulun) sesuhunan Ratu Gede Mecaling yang melinggih di Pura Dalem Ped.

Dalam beberapa sumber menyebutkan Ratu Gede Mecaling merupakan patih yang sakti mandraguna. Sedikit sumber yang menyebutkan bahwa beliau pernah menjabat sebagai seorang raja. Buku Babad Nusa Penida (Budha, 2007) misalnya, hanya menjelaskan bahwa I Mecaling adalah seorang pertapa yang memiliki kesaktian yang luar biasa (kanda sanga dan panca taksu)—pemimpin/penguasa wong samar.

Kuasa magisnya memang tidak diragukan lagi. Terbukti, pelinggih penyimpangan beliau bertebaran tidak hanya di Bali, tetapi hingga ke nusantara. Bahkan, mungkin hingga ke tingkat internasional. Karena Dalem Ped juga dipuja oleh beberapa penekun spiritual dari belahan dunia internasional.

Begitu juga dalam Geguritan Ratu Gede Mecaling, Karangasem I milik I Ketut Kari Br. Bias, Abang, Karangasem (2007) juga mendeskripsikan beliau seorang patih. Tidak ada deskripsi yang mengambarkan beliau seorang raja.

Mungkin atas dasar histori-silsilah inilah, nama “Dalem Nusa” (raja Nusa) dianggap kurang pas oleh pihak kerajaan Klungkung—meskipun beliau memiliki power (kuasa) magis (kesaktian) yang terkenal hingga ke seluruh Bali (waktu itu).

Namun, perlu diingat bahwa aspek apapun yang menjadi dasar pertimbangan pergantian “Dalem Nusa” menjadi Dalem Ped, rasanya sulit menihilkan muatan politisnya. Bagaimanapun, itu adalah keputusan kerajaan induk kepada pecahan daerah kekuasaannya. [T]

___

BACA artikel lain tentang Nusa Penida 

dari penulis Ketut Serawan

___

Tags: hinduKlungkungNusa PenidaPura Dalem Ped
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendadak Digital ala Birokrat

Next Post

Apa Saja 4 Kriteria Utama Aplikasi HR Terbaik?

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Apa Saja 4 Kriteria Utama Aplikasi HR Terbaik?

Apa Saja 4 Kriteria Utama Aplikasi HR Terbaik?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co