4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pura Besakih, Kekuasaan, dan Gering Agung

Gede Suardana by Gede Suardana
August 20, 2021
in Opini
Tatkala Pandemi, (Bali) Jangan Berhenti Menggelar Ritual Seni dan Budaya

Gde Suardana

Pura Agung Besakih akan direnovasi dengan anggaran yang sangat besar, hampir mencapai Rp 1 triliun. Anggaran ini disumbangkan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Pemerintah Provinsi Bali.

Renovasi dilakukan secara menyeluruh, meliputi suci mandala Soring Ambal-Ambal hingga Luhuring Ambal-Ambal (memperbaiki pelinggih dan sarana dan prasarana pura yang dinilai tidak memadai lagi). Renovasi fisik akan dilaksanakan pada tahun 2021 hingga 2022. Pelaksanaannya sudah ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Bali Wayan Koster dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Rabu (18/8).

Dana renovasi bersumber dari Kementerian PUPR sebesar Rp 500 miliar dan APBD Bali sebesar Rp 400 miliar.

Renovasi Pura Agung Besakih di tengah masa gering agung Covid-19, menarik disimak dari perspektif hubungannya pura terbesar di Bali dengan kekuasaan. Bagaimana sejarah hubungan Pura Agung Besakih dengan kerajaan di Bali dan pemerintah kolonial serta dan bagaimana para penguasa memposisikan Pura Besakih dalam kekuasannya.

Mitos Gunung Agung

Pura Agung Besakih berdiri agung di punggung Gunung Agung. Mitos tentang asal-usul gunung, puncak gunung diyakini sebagai Kawasan suci dan bersemayamnya para dewata para penjaga kehidupan, bumi, dan roh para leluhur yang menganugerahkan kesejahteraan bagi umat manusia. Atau mengambilnya kembali dengan kemurkaannya membawa kematian dan kehancuran bagi dunia.

Dalam mitologi, Gunung Agung merupakan pecahan dari Gunung Mahameru, di mana dalam metafora genekologis, dewa Gunung Agung merupakan putra dari dewa Gunung Mahameru, yakni Dewa Pasupati.

Mitos yang terkenal tentang Gunung Agung sebagaimana ditulis dalam Babad pasek pada awal ke-13 menyebutkan pada masa lampau Pulau Bali dan Lombok dalam kondisi tidak stabil laksana perahu di atas permukaan laut. Terombang-ambing. Pada saat itu, di Bali hanya terdapat Gunung Lempuyang (timur), Andakasa (selatan), Watukaru (barat), Mangu atau Beratan (utara). Sangat mudah bagi Hyang Harimbhawana untuk mengguncang Pulau Bali.

Bhatara Pasupati perihatin dengan kondisi Bali. Ia mengijinkan kepada para dewa untuk mengambil bagian puncak Gunung Mahameru kemudian membawanya ke Bali dan Lombok. Si Badawangnala (penyu dewata) menopang dasar potongan, Sang Anantaboga dan Naga Basuki (naga dewata) menjadi tali pengikat yang memegang gunung sementara Naga Tatsaka membawanya melalui udara. Satu belahan gunung Mahameru di tempatkan di Pulau bali pada hari Wrespati Kliwon Wuku Merakih, yakni hari pertama bulan kesepuluh (sasih kedasa) tahun Saka 11.

Gunung Agung dalam naskah lontar dan prasasti lama juga menyebutnya dengan nama Bukit Tohlangkir atau Tulangkir hingga kini. Dewa penguasa gunung yang bersemayam disebut Hyang Tolangkir atau Mahadewa.

Kemarahan Dewata

Beberapa tahun berikutnya, tahun Saka 27, Bali diserang musibah bertubi-tubi. Angin rebut dan petir tak henti, hingga akhirnya terjadi gempa bumi diiringi suara gemuruh berupa ledakan. Setelah bencana berbulan-bulan, Gunung Agung meletus.

Gunung Agung telah berulang kali meletus sepanjang milenium. Letusan terjadi pada tahun 1543, 1615-1616, 1665, 1683-1684, dan 1710-1711. Pada tahun 1808 meletus lagi. Setelah lama tertidur Gunung Agung meletus kembali tahun 1963 secara dahsyat. Dan terakhir meletus kembali pada 13 Agustus 2017.

Ledakan Gunung Agung mahadahsyat yang paling bersejarah adalah ketika meletus hebat pada tanggal 17 Maret 1963, bertepatan dengan karya Ekadasa Rudra, upacara terbesar dalam sejarah Hindu Bali, sedang berlangsung di Pura Besakih, untuk pertama kali selama beberapa abad. Bagi orang Bali, kejadian ini bukan suatu kebetulan, diyakini kepercayaan bahwa letusan tersebut menandai kemarahan dewa di Gunung Agung.

Ledakan ini menyebabkan kerusakan berat Pura Besakih serta ditutupi oleh abu. Namun, pura ini tidak tersentuh oleh aliran lahar. Pura Besakih terlindungi dari terjangan batu dan aliran lahar walaupun jaraknya hanya 7,5 kilometer dari kawah letusan.

Perbaikan Pura Besakih

Berdasarkan catatan David J Stuart dalam buku Pura Besakih, Pura, Agama dan Masyarakat Bali (2010), pura terbesar di Bali pernah mengalami kerusakan dan perbaikan berulang kali.

Pura Agung Besakih mengalami kerusakan berulang akibat bencana gunung meletus, gempa bumi, dan terabaikan dalam kurun waktu sekian lama. Kerusakan pura paling parah akibat gempa bumi dahsyat pada hari Minggu-Umanis wuku Ukir pada hari ketigabelas tepatnya 21 Januari 1917.

Perbaikan Pura Besakih mendapatkan sokongan dana dari para raja yang berkuasa, seperti Raja Buleleng, Badung, Karangasem, Klungkung, Gianyar, dan Tabanan. Mendapatkan pendanaan dari Pemerintah Kolonial, urunan dari pihak swasta, dan donasi dari rakyat Bali. Di bawah kendali Pemerintah Kolonial, perbaikan dilakukan di bawah kendali arsitek J.A.P Moojen dari Batavia, dibantu oleh Gusti Made Gede dari Badung sebagai seorang ahli bangunan Bali dan Raden Mas Soetatmo, seorang Jawa menempati posisi sebagai pengawas.

Usaha perbaikan oleh Pemerintah Hindia-Belanda dengan memberikan bantuan jumlah uang cukup besar dan terlibat secara langsung dalam pengerjaan. Dari catatan ketika itu, Pemerintah Kolonial menyumbangkan f 25.000, Ratu Wilhelmina secara pribadi menyumbang f 1.000, biaya dari urunan masyarakat Bali sekitar f 14.000 dari biaya total yang ditaksir mencapai minimal sebesar f 100.000.

Perbaikan itu tak berjalan mulus. Perbaikan dan keterlibatan pemerintah kolonial memunculkan perdebatan sengit.

Perbaikan dan pemeliharaan Pura Besakih berlangsung bertahun-tahun. Untuk tahap selanjutnya dilaksanakan lembaga resmi, yang disebut Paroeman Kerta Negara pada tahun 1931. Lembaga ini mengurusi masalah ritual dan perbaikan dan perawatan fisik bangunan pura. Lembaga ini mengatur proyek pembangunan jalan dari Pringalot sampai ke pura, yang mungkin bisa dilalui mobil, dengan mengajukan proposal bantuan kepada Pemerintah Belanda pada tahun 1932. Serta mengurus penyelenggaraan upacara Panca Walikrama tahun 1933.

Pura Besakih dan Kekuasaan

Gunung diyakini sebagai sebuah lokus dewata sejak jaman prasejarah. Gunung Agung sebagai tempat bermayamnya para dewata dan leluhur. Pura Besakih juga memiliki hubungan dengan penguasa. Pura Besakih berada di lokasi Gunung Agung, sangat berhubungan pentingnya dengan kultur Penguasa Gunung.

Kepercayaan terhadap hubungan antara penguasa (negara) dan Dewa Gunung dan dukungan yang diberikan oleh penguasa bagi pemeliharaan Pura Besakih memunculkan pertanyaan mengenai apakah Pura Besakih merupakan salah satu sumber kekuasaan telah terjadi sejak Dinasti Gelgel.

Hubungan Pura Besakih, Gunung Agung, dan Penguasa Gelgel tercatat dalam beberapa teks seperti Babad Dalem. Kebanyakan mengacu pada hubungan antara penguasa Gelgel, yaitu Ida Dalem dengan Penguasa Gunung (Hyang Tolangkir atau Mahadewa.

Seirama perubahan keadaan negara di Bali, hubungan antara pura dan negara (penguasa) mengalami perubahan. Dari sebuah kerajaan pada zaman sebelum masuknya Majapahit ke Bali, menjadi wilayah pemerintahan istana tradisional Gelgel dan Klungkung, bersatu ke dalam pemerintahan kolonial Belanda, yaitu Hindia Belanda, kemudian bergabung sebagai bagian NKRI.

Penguasa memiliki tanggungjawab memelihara Pura Besakih serta menyokong pendanaan untuk melaksanakan upakaranya. Pemerliharaan dan pendanaan upacara memiliki hubungan erat dengan penguasa (negara).

Dukungan dinasti terhadap Pura Besakih, walaupun kedengarannya didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan politik dan keagamaan, bukan merupakan dasar dari kekuasaannya, hubungan mistis antara Dewa Gunung dan penguasa menuntut kehadiran penguasa pada upacara-upacara agama utama di Besakih, terutama Bhatara Turun Kabeh, dan dukungan material terhadap penyelengaraannya.

Hal ini merupakan bagian dari dharma seorang penguasa untuk pemeliharaan dan kemakmuran dunia. Tampaknya hal ini akan menambah rasa hormat dan pengormatan masyarakat kepadanya, dan dari sudut pandang ini, maka Pura Besakih telah berkontribusi terhadap peningkatan otoritas sang penguasa. Dengan kata lain, kurangnya dukungan yang memadai untuk Pura Besakih akan mengurangi otoritas sang penguasa. Bagaimana pun juga Pura Besakih menjadi kepentingan yang utama bagi legitimasi seorang penguasa.

Hal itulah yang terjadi pada periode Gelgel berkuasa. Di saat Bali berada di bawah hegemoni kekuasaan pemerintahan kerajaan tunggal yang sangat berkuasa, hubungan antara istana dan pura dibungkus rapi dalam satu ungkapan bahwa Besakih adalah (pang)ulun ing Gelgel, ‘kepala’ atau ‘bagian teratas/bagian tertinggi’ dari Gelgel. Hal tersebut menjadi hubungan hierarkis di mana Besakih sebagai kepala, berada pada posisi paling atas. Hal ini mengungkapkan struktur khusus di mana lokus kekuatan suci dan lokus dari kekuatan politik. Gelgel menjadi stana kekuatan politis, sedangkan Besakih adalah stana kekuatan suci.

Renovasi di Masa Gering Agung

Sejarah mencatat bahwa Pura Besakih memiliki hubungan erat dengan kekuasaan, dari masa Majapahit, Gelgel, Kolonial Belanda, Pemerintah Provinsi Bali, hingga NKRI. Tampak dari Pura Besakih mendapat sokongan dana untuk pemeliharaan dan membiayai upakara dari penguasa.

Berdasarkan catatan sejarah itu, tentu sah untuk berharap pembangunan penataan Pura Besakih saat ini dilaksanakan dengan tulus dan ikhlas. Tidak ada motivasi untuk mencari orotitas kekuasaan, menambah rasa hormat rakyat kepada penguasa, atau mencari keuntungan finansial untuk kepentingan perhelatan politik tahun 2024.

Biaya besar hampir mencapai Rp 1 trilun, jika dihubungkan dengan skala prioritas berdasarkan kontekstual Bali saat ini sedang menghadapi masa gering agung Covid-19, tampaknya dana yang melimpah itu akan lebih bermanfaat digunakan untuk memulihkan kesehatan dan menyejahtrekan rakyat Bali. Penguasa lebih fokus pada pembangunan kesehatan dan kesejahteraan ekonomi manusia Bali daripada melakukan pembangunan fisik, yang dibungkus rapi dalam satu narasi penataan Pura Agung Besakih untuk mewujudkan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali menuju Bali era baru secara sakala dan niskala.

Rakyat Bali yang sehat dan sejahtera akan bisa melewati masa gering agung Covid-19 dengan selamat, bisa tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Pura Agung Besakih. Senantiasa memikul tanggungjawab memelihara dan melaksanakan upakara di Pura Besakih. Berduyun-duyun tangkil memohon kesejahteraan dan kemakmuran serta terhindar dari kemurkaan dewata.

*disarikan dari berbagai sumber

Tags: baliPura Besakih
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Proyeksi Industri Film Bagi Pengembangan Bali

Next Post

Kisah Kehancuran Keluarga Sri Krishna dalam Kakawin Mausala Parwa

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Kehancuran Keluarga Sri Krishna dalam Kakawin Mausala Parwa

Kisah Kehancuran Keluarga Sri Krishna dalam Kakawin Mausala Parwa

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co