12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selamat Malam Cinta | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
August 7, 2021
in Cerpen
Selamat Malam Cinta | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

“Selamat malam cinta. Ke mana saja kau selama ini?” Perempuan yang baru saja memasuki mahligai cintanya mempertanyakan cintanya. Ia merasa kurang percaya diri karena baru seumur jagung pernikahannya sudah ada tanda-tanda merah. Ia tak menduga beragam kehidupan ternyata baru dimulai. Padahal, sudah sedari dulu saling menegenal. Ternyata yang dikenalinya cuma kulit luarnya saja. “Ke mana cinta selama ini?” Ia menanyai dirinya sendiri.

Ia rebahkan tubuhnya pada balai-balai kehidupan. Hatinya gelisah sudah beberapa hari ini suaminya jarang di rumah. Semestinya saat ini masih berbau bulan madu. Tapi  justru menjadi bulan tanpa madu. Tanpa rasa manis. “Ah, kau lelaki yang hanya pintar bersilat lidah. Rugi aku terlalu percaya pada kata-katamu. Kata-kata hanya sebuah permainan saja. Kau dengan sesuka hatimu memperlakukan diriku seperti ini. Kau hadirkan dalam keluarga besarmu, tapi kau buat aku kesepian. Dasar lelaki!”

“Ke mana kata-kata manis yang kau lontarkan dulu? Ke mana? Apa kau sudah lupa dengan kata-kata manis itu? Lupa memang membuat pikiran mengubah jalannya. Aku tahu itu. Tapi, aku sekarang ini meminta janji. Tolong ditepati.”

Putu Ari menahan beban yang teramat berat. Napasnya ditariknya berulang-ulang seperti ada gumpalan yang menyekat dadanya. Ia tahan dengan beberapa kali tarikan napas. “Apa sebenarnya yang kau cari dalam hidup ini? Kalau memang mau mempermainkan cintaku, akan kulawan. Aku bukan perempuan yang bisa ditaklukkan dengan ketidakjujuran. Untuk apa hidup bersama? Kalau di dalamnya bersemayan beragam kebohongan. Laki-laki macam apa kau ini.” Ia membanting foto pernikahannya “Praaaaaaaaaang!”

Mertuanya kaget. Ia ketuk pintu kamarnya. “Ada apa Tu?”

“Tanyakan pada anakmu! Putu sudah muak melihat sikapnya. Ternyata anak Bapa seperti ini.”

Laki-laki sepuh itu mendekatinya, “Sabar! Sabar! Sabaaaaaaaar Tu.”

“Pa, tiang sudah teramat sabar dengan anak Bapa. Tapi, apa tiang terus begini. Ini baru awal pernikahan saja sudah begini, apalagi nanti. Semestinya awal dimulai dengan rasa manis, tapi nyatanya? Awal sudah pahit dan memuakkan. Dasar laki-laki mau menang sendiri. Memang dia saja yang bisa berlaku seperti itu. Tiang pulang, Pa. Bosan saya di sini. Untuk apa menunggu laki-laki semacam ini.”

Putu Ari mengambil pakaiannya dan memasukkan ke dalam kopernya. Ia lemparkan gaun pengantin yang dipakainya beberapa bulan lalu. “Ini Pa. Ambil sana. Berikan anakmu.percuma memakai gaun semewah itu. Hati anakmu tak menghargainya.”

“Apa tidak bisa bisa besok Putu ke rumah orang tuamu?”

“Tidak untuk apa menunggu lama lagi. Coba Bapa pikrkan, siapa yang tiang tunggu di sini?”

Ia hidupkan sepeda motornya. Sepeda motor pemberian orang tuanya. Ia mainkan bunyinya hingga tetangga sebelahnya menggerutu. “Ada apa sebenarnya ini? Baru menikah saja sudah mengganggu tetangga. Ah dasar payah, anak-anak sekarang memang cepat naik darah. Sudahlah untuk apa memikirkan orang lain terlalu banyak. Toh, aku juga punya tangung jawab.”

Putu Ari mempercepat sepeda motornya. Ia langsung menuju rumah ayahnya. “Tu, kok malam-malam ke rumah ada apa? Ini tidak baik? Suamimu di mana?”

“Pa, ini lebih baik dibandingkan tiang tetap bersama Beli Gede. Ia telah mempermainkan hidup tiang, Pa. Sudah tiga hari ini, tak pulang-pulang. Coba Bapa pikir, memang pernikahan itu hanya pajangan saja? Siapa yang tidak marah, entah apa yang dialakukan dengan siapa ia pergi tak pernah jelas? Lebih baik, tiang kembali lagi ke rumah Bapa. Maaf, anak Bapa tak berbuat seperti yang Bapa harapkan.”

Ayahnya menatap mata anaknya. Ia terlalu yakin akan dengan pilihan anaknya. Bahkan sudah beberapa tahun saling mengenal. Tapi, nyatanya tak ada apa-apanya. Ia teringat sempat berpesan pada anak dan menantunya. “Menikah itu menyatukan dua hati. Menikah bukan tempat bermain-main, apalagi bermain api. Bisa-bisa terbakar karena api yang kau buat sendiri. Seorang suami bukan hanya kepala rumah tangga, ia juga menyangga kehidupan istrinya. Jadilah suami yang menyadari bahwa istri itu adalah bagian dari hidupmu. Jadilah suami yang membangun kehidupan keluarga.”

“Terima kasih, Pa. Putu belum sempat memberikan apapun? Lantas sekarang sudah meninggalkan Bapa. Maafkan Putu, Pa.

“Hanya satu yang bapa harapkan peganglah kesetiaan berumah tangga itu. Bangunlah rumah tanggamu dengan cinta. Rawat dan sirami dia dengan kejujuran. Menyatukan dua hati perlu proses. Akan ada riak-riak gelombang, hadapi dengan ketulusan.”

“Sudahlah Pa. Putu tahu, Bapa teringat dengan petuah-petuah Bapa. Biarkan saja. Ini semua bukan karena Putu. Biar orang lain memberi lebel Putu ini janda muda. Tidak masalah. Biar bayi dalam perut ini tanpa ayah, tidak apa-apa. Putu ingin hidup nyaman. Menikah itu ternyata menyakitkan buatku. Jika Putu tahu akan begini, tak akan kubiarkan  semua ini terjadi. Putu memang salah memilih pendamping hidup, Pa. Mulut manis bisa membutakan hati.”

“Tidur saja dulu, besok, Bapa tanyakan apa maksudnya memperlakukan Putu seperti ini?”

“Ndak usah ke sana Pa. Biarkan saja. Jangan Bapa menyentuh rumah itu lagi. Putu sudah muak.”

“Baiklah kalau begitu. Silakan ke kamarmu. Kamarmu tak ada yang berubah.”

Iseng tangannya membuka album lamanya. Ia ambil foto itu. Ia robek-robek hingga tak berwujud lagi. “Ini sudah kuhancurkan kenangan itu. Pergi kau dari hatiku. Biar aku menghadapi hidupku.”

Malam itu, Putu Ari tak bisa tidur nyenyak. Panas hatinya berbaur dengan panas malam itu. Kantuk tak mau mendekati matanya. Bayangan wajah ibunya hadir di hatinya. “Ibu, jika saja Putu mengikuti kata-kata Ibu, pasti tak akan begini jadinya. Ternyata hati nurani Ibu benar, Beli Gede laki-laki yang tak bisa dipercaya. Maafkan Putu, Ibu.”

“Sudahlah Tu, itu memang jalanmu. Ikuti saja. Ibu hanya bisa melihatmu dari sini. Tak usah bersedih. Jagalah dirimu karena godaan dan gunjingan pasti akan datang karena Putu sebagai janda muda. Tapi itu lebih baik dibandingkan Putu menderita selama hidup Putu.”

“Terima kasih, Bu.”

Mentari membangunkannya. Sinarnya merambat di sela-sela taman rumahnya. Putu Ari mendekati ayahnya, “Maaf Pa. Putu seperti ini. Malu Putu sama Bapa.”

“Ndak usah malu. Ikuti saja alur hidup ini. Tapi, biasanya kalau dulu ada kopi di sini?”

Putu Ari cepat-cepat menyuguhkan kopi buat ayahnya. Ia merasakan kembali aroma kasih sayang ayahnya. “Ini, Pa, sudah sesuai dengan pesanan Bapa. Hehehehe.”

“Terima kasih. Coba ke depan Tu seperti ada yang datang.”

Putu Ari ke depan melihat gerbangnya. Ia kaget. Dua orang polisi ke rumahnya menanyakan dirinya. “Benar ini Bu Putu Ari?”

“Benar Pak. Ada apa?”

“Ini ada ada surat dari suami ibu.”

 “Suami saya, Pak. Saya sudah tak punya suami. Ia sudah mati di hati saya.”

“Saya hanya mau menyampaikan bahwa suami ibu ada di kantor polisi sedari malam kemarin. Ibu disuruh menjenguknya.” [T]

___

BACA CERPEN LAIN

Kucing Betina Saya Tak Mau Pulang | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bersiap “Patah Hati” Ketika Sedang Asyik-asyiknya Menikah

Next Post

Tips Mensyukuri Hidup yang (Mungkin) Berbahaya

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Tips Mensyukuri Hidup yang (Mungkin) Berbahaya

Tips Mensyukuri Hidup yang (Mungkin) Berbahaya

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co