2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selamat Malam Cinta | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
August 7, 2021
in Cerpen
Selamat Malam Cinta | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

“Selamat malam cinta. Ke mana saja kau selama ini?” Perempuan yang baru saja memasuki mahligai cintanya mempertanyakan cintanya. Ia merasa kurang percaya diri karena baru seumur jagung pernikahannya sudah ada tanda-tanda merah. Ia tak menduga beragam kehidupan ternyata baru dimulai. Padahal, sudah sedari dulu saling menegenal. Ternyata yang dikenalinya cuma kulit luarnya saja. “Ke mana cinta selama ini?” Ia menanyai dirinya sendiri.

Ia rebahkan tubuhnya pada balai-balai kehidupan. Hatinya gelisah sudah beberapa hari ini suaminya jarang di rumah. Semestinya saat ini masih berbau bulan madu. Tapi  justru menjadi bulan tanpa madu. Tanpa rasa manis. “Ah, kau lelaki yang hanya pintar bersilat lidah. Rugi aku terlalu percaya pada kata-katamu. Kata-kata hanya sebuah permainan saja. Kau dengan sesuka hatimu memperlakukan diriku seperti ini. Kau hadirkan dalam keluarga besarmu, tapi kau buat aku kesepian. Dasar lelaki!”

“Ke mana kata-kata manis yang kau lontarkan dulu? Ke mana? Apa kau sudah lupa dengan kata-kata manis itu? Lupa memang membuat pikiran mengubah jalannya. Aku tahu itu. Tapi, aku sekarang ini meminta janji. Tolong ditepati.”

Putu Ari menahan beban yang teramat berat. Napasnya ditariknya berulang-ulang seperti ada gumpalan yang menyekat dadanya. Ia tahan dengan beberapa kali tarikan napas. “Apa sebenarnya yang kau cari dalam hidup ini? Kalau memang mau mempermainkan cintaku, akan kulawan. Aku bukan perempuan yang bisa ditaklukkan dengan ketidakjujuran. Untuk apa hidup bersama? Kalau di dalamnya bersemayan beragam kebohongan. Laki-laki macam apa kau ini.” Ia membanting foto pernikahannya “Praaaaaaaaaang!”

Mertuanya kaget. Ia ketuk pintu kamarnya. “Ada apa Tu?”

“Tanyakan pada anakmu! Putu sudah muak melihat sikapnya. Ternyata anak Bapa seperti ini.”

Laki-laki sepuh itu mendekatinya, “Sabar! Sabar! Sabaaaaaaaar Tu.”

“Pa, tiang sudah teramat sabar dengan anak Bapa. Tapi, apa tiang terus begini. Ini baru awal pernikahan saja sudah begini, apalagi nanti. Semestinya awal dimulai dengan rasa manis, tapi nyatanya? Awal sudah pahit dan memuakkan. Dasar laki-laki mau menang sendiri. Memang dia saja yang bisa berlaku seperti itu. Tiang pulang, Pa. Bosan saya di sini. Untuk apa menunggu laki-laki semacam ini.”

Putu Ari mengambil pakaiannya dan memasukkan ke dalam kopernya. Ia lemparkan gaun pengantin yang dipakainya beberapa bulan lalu. “Ini Pa. Ambil sana. Berikan anakmu.percuma memakai gaun semewah itu. Hati anakmu tak menghargainya.”

“Apa tidak bisa bisa besok Putu ke rumah orang tuamu?”

“Tidak untuk apa menunggu lama lagi. Coba Bapa pikrkan, siapa yang tiang tunggu di sini?”

Ia hidupkan sepeda motornya. Sepeda motor pemberian orang tuanya. Ia mainkan bunyinya hingga tetangga sebelahnya menggerutu. “Ada apa sebenarnya ini? Baru menikah saja sudah mengganggu tetangga. Ah dasar payah, anak-anak sekarang memang cepat naik darah. Sudahlah untuk apa memikirkan orang lain terlalu banyak. Toh, aku juga punya tangung jawab.”

Putu Ari mempercepat sepeda motornya. Ia langsung menuju rumah ayahnya. “Tu, kok malam-malam ke rumah ada apa? Ini tidak baik? Suamimu di mana?”

“Pa, ini lebih baik dibandingkan tiang tetap bersama Beli Gede. Ia telah mempermainkan hidup tiang, Pa. Sudah tiga hari ini, tak pulang-pulang. Coba Bapa pikir, memang pernikahan itu hanya pajangan saja? Siapa yang tidak marah, entah apa yang dialakukan dengan siapa ia pergi tak pernah jelas? Lebih baik, tiang kembali lagi ke rumah Bapa. Maaf, anak Bapa tak berbuat seperti yang Bapa harapkan.”

Ayahnya menatap mata anaknya. Ia terlalu yakin akan dengan pilihan anaknya. Bahkan sudah beberapa tahun saling mengenal. Tapi, nyatanya tak ada apa-apanya. Ia teringat sempat berpesan pada anak dan menantunya. “Menikah itu menyatukan dua hati. Menikah bukan tempat bermain-main, apalagi bermain api. Bisa-bisa terbakar karena api yang kau buat sendiri. Seorang suami bukan hanya kepala rumah tangga, ia juga menyangga kehidupan istrinya. Jadilah suami yang menyadari bahwa istri itu adalah bagian dari hidupmu. Jadilah suami yang membangun kehidupan keluarga.”

“Terima kasih, Pa. Putu belum sempat memberikan apapun? Lantas sekarang sudah meninggalkan Bapa. Maafkan Putu, Pa.

“Hanya satu yang bapa harapkan peganglah kesetiaan berumah tangga itu. Bangunlah rumah tanggamu dengan cinta. Rawat dan sirami dia dengan kejujuran. Menyatukan dua hati perlu proses. Akan ada riak-riak gelombang, hadapi dengan ketulusan.”

“Sudahlah Pa. Putu tahu, Bapa teringat dengan petuah-petuah Bapa. Biarkan saja. Ini semua bukan karena Putu. Biar orang lain memberi lebel Putu ini janda muda. Tidak masalah. Biar bayi dalam perut ini tanpa ayah, tidak apa-apa. Putu ingin hidup nyaman. Menikah itu ternyata menyakitkan buatku. Jika Putu tahu akan begini, tak akan kubiarkan  semua ini terjadi. Putu memang salah memilih pendamping hidup, Pa. Mulut manis bisa membutakan hati.”

“Tidur saja dulu, besok, Bapa tanyakan apa maksudnya memperlakukan Putu seperti ini?”

“Ndak usah ke sana Pa. Biarkan saja. Jangan Bapa menyentuh rumah itu lagi. Putu sudah muak.”

“Baiklah kalau begitu. Silakan ke kamarmu. Kamarmu tak ada yang berubah.”

Iseng tangannya membuka album lamanya. Ia ambil foto itu. Ia robek-robek hingga tak berwujud lagi. “Ini sudah kuhancurkan kenangan itu. Pergi kau dari hatiku. Biar aku menghadapi hidupku.”

Malam itu, Putu Ari tak bisa tidur nyenyak. Panas hatinya berbaur dengan panas malam itu. Kantuk tak mau mendekati matanya. Bayangan wajah ibunya hadir di hatinya. “Ibu, jika saja Putu mengikuti kata-kata Ibu, pasti tak akan begini jadinya. Ternyata hati nurani Ibu benar, Beli Gede laki-laki yang tak bisa dipercaya. Maafkan Putu, Ibu.”

“Sudahlah Tu, itu memang jalanmu. Ikuti saja. Ibu hanya bisa melihatmu dari sini. Tak usah bersedih. Jagalah dirimu karena godaan dan gunjingan pasti akan datang karena Putu sebagai janda muda. Tapi itu lebih baik dibandingkan Putu menderita selama hidup Putu.”

“Terima kasih, Bu.”

Mentari membangunkannya. Sinarnya merambat di sela-sela taman rumahnya. Putu Ari mendekati ayahnya, “Maaf Pa. Putu seperti ini. Malu Putu sama Bapa.”

“Ndak usah malu. Ikuti saja alur hidup ini. Tapi, biasanya kalau dulu ada kopi di sini?”

Putu Ari cepat-cepat menyuguhkan kopi buat ayahnya. Ia merasakan kembali aroma kasih sayang ayahnya. “Ini, Pa, sudah sesuai dengan pesanan Bapa. Hehehehe.”

“Terima kasih. Coba ke depan Tu seperti ada yang datang.”

Putu Ari ke depan melihat gerbangnya. Ia kaget. Dua orang polisi ke rumahnya menanyakan dirinya. “Benar ini Bu Putu Ari?”

“Benar Pak. Ada apa?”

“Ini ada ada surat dari suami ibu.”

 “Suami saya, Pak. Saya sudah tak punya suami. Ia sudah mati di hati saya.”

“Saya hanya mau menyampaikan bahwa suami ibu ada di kantor polisi sedari malam kemarin. Ibu disuruh menjenguknya.” [T]

___

BACA CERPEN LAIN

Kucing Betina Saya Tak Mau Pulang | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bersiap “Patah Hati” Ketika Sedang Asyik-asyiknya Menikah

Next Post

Tips Mensyukuri Hidup yang (Mungkin) Berbahaya

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Tips Mensyukuri Hidup yang (Mungkin) Berbahaya

Tips Mensyukuri Hidup yang (Mungkin) Berbahaya

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co