2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalan Berliku Menjadi Dokter | SMA Jual Canang, Indekos dengan Tempe dan Saur

dr. Putu Sukedana, S.Ked. by dr. Putu Sukedana, S.Ked.
June 29, 2021
in Khas
Jalan Berliku Menjadi Dokter | SMA Jual Canang, Indekos dengan Tempe dan Saur

Saya (penulis) bersama ibu dan foto Bapak serta adik

Pertama Kali ke Lombok

Brrrr… dingin Pelabuhan Padang Bai semakin membuat hatiku sedih. Di kejauhan bapak dan ibu melambaikan tangan membuatku sedikit lebih tegar. “Ini semua untuk mereka”, kataku di dalam hati. Kapal keberangkatan terakhir jalur Padang Bai-Lembar Lombok bergerak perlahan. Orang lain cerita indahnya bersama pergi ke Lombok, tapi saat pertama kali saya ke Lombok, saya seorang diri. Membuatku sedikit takut dan kesepian.

Jam di handphone jadulku menunjukkan pukul 00:28 WITA, handphone second yang kubeli dengan harga murah namun masih bisa digunakan untuk komunikasi. Bentuknya persegi panjang sekitar 10 cm x 5 cm dengan casing warna orange. Saya masih terengah-engah karna berlari dari parkiran ke geladak kapal, hampir saya ketinggalan kapal.

Segera kubalas lambaian tangan bapak dan ibu, berpura-pura tegar di depan mereka agar tidak khawatir. Sejujurnya mereka tak melihat air mataku menetes ke lantai besi kapal penyeberangan, suasana malam kala itu membuatnya tak begitu jelas terlihat.

Saat itu, saya ke Lombok untuk mendaftar kuliah Fakultas Kedokteran (FK) di Unram. Pagi sebelum ke Lombok, saya sebenarnya sudah ikut tes masuk FK di Unud. Jadi, pagi tes di Universitas Udayana, sore hari ada teman mengabarkan ada tes juga di FK Unram, jadi sebagai planing B saya coba juga tes di sana.

Hari itu juga dari Jimbaran langsung ke Singaraja, kemudian ke Pelabuhan Padang Bai sekitar jam 8 malam start dari rumah saya di Desa Tamblang, Kubutambahan, naik sepeda motor.

Beberapa teman memberiku nasehat jangan ke sana, namun toh hatiku tetap ingin mencoba peruntungan dengan kehati-hatian. Sampailah fajar di ufuk timur, saya sampai di Pelabuhan Lembar.

Senang akhirnya sampai sesuai rencana, sepeda motor bututku segera melaju ke arah kota. Dimana ya kotanya? Beruntung ada keluarga temen yang menjemput dan mengantarkan ke rumahnya. Lega sesaat karena setelah ini saya harus ke kampus Universitas Mataram mendaftar.

Di sana saya sadar, sepanjang ada niat maka pasti ada usaha. Niat, iya niat yang kuat dan besar. Setelah mendaftar di kampus itu, saya bertemu seorang dosen yang ternyata berasal dari Singaraja. Beliau memberikan nomor handphone-nya karena takut saya tersesat dan untuk saya hubungi saat emergency. Hari itu juga saya balik ke Bali. Tahun 2012 akan selalu saya ingat.

Makna Uang 20 Ribu hingga Jualan Canang

Di musim pandemi Covid 19 ini saya yakin adek-adek sedang di rumah bareng orang tua, orang-orang bilang belajar dari rumah. Yang indekos mungkin pulang ke kampung halaman. Okay, kehidupan indekos saya juga alami mulai dari SMP hingga kuliah. Percaya atau tidak saat itu saya kos dengan biaya 650 ribu setahun. Yak segitu.

Ukurannya sekitar 2 x 1,5 meter. Dindingnya lembab dan sedikit ada nuansa grafiti alami. Mirip kulit jamuran hehe karna memang disampingnya toilet dan mesin kulkas pembuat es balok. Alas tidur kasur tipis dibarengi semut-semut rajin mencuri lauk dan nasi saya. Berbaris tuk-wak-gak-pat, tuk-wak-gak-pat. Terkadang kalau lupa sembahyang bonus dicari sesuatu hehe jarang sih, semuanya baek-baek kok.

Seminggu sekali Bapak atau Ibu datang bawakan lauk seperti tempe kering, saur (sejenis olahan dari kelapa), ikan pindang kering plus beras. Terkadang kalau musim mangga bonus mangga harumanis nyam nyam nyam. Uang saku 20 ribu harus cukup untuk seminggu. Cukup? Yah dijawab sendiri deh

Tuntutan perut dan kebutuhan untuk sekolah akhirnya saya berpikir saya harus cari uang. Saat saya SMA awalnya kumpulin bunga kamboja untuk dijual, tapi karena lama prosesnya dapat uang saya memutuskan buat jualan canang. Analisisnya sederhana, selama orang-orang masih ingat Tuhan pasti perlu canang (salah satu sarana persembahyangan umat Hindu di Bali).

Sore-sore ke Pasar Banyuasri beli bunga, sam-sam (pandan yang dipotong kecil-kecil)  dan janur. Rangkai canang malam-malam atau subuh lalu dijual ke kelas-kelas di sekolah. Malu? Ya pastilah sebagai cowok ABG pasti itu, tapi masa bodoh saya yang penting bisa makan dan bantu orang tua.

Karena perlu tenaga ekstra dan saya sering kecapean setelah buat canang, maka akhirnya saya pikir lebih baik saya kerjasama sama orang lain. Singkat cerita setengah 6 pagi saya sudah harus ke Pasar Anyar di Singaraja dan membawanya ke kelas-kelas.

Saya sengaja pagi-pagi agar temen-temen semakin sedikit saya temui. Itu agar tuntutan perut dan rasa malu sedikit bisa dicarikan jalan tengahnya, haha. Sekolah saya adalah sekolah peninggalan jaman Belanda. Ada satu bangunan nan ikonik dengan tiga lantai.

Biasanya di lantai 2 dan 3 saya sudah melafalkan mantram Gayatri (salah satu doa menurut Hindu) karena sekolah masih sangat sepi hehe. Pengalaman diganggu? Syukurnya tidak pernah saat itu, mungkin “beliau-beliau” di sana iba melihat saya.

Cita-Citaku?

Sering saat memberikan materi untuk anak SD maupun SMP saya bertanya kepada mereka tentang cita-citanya kelak menjadi dokter. Biasanya banyak anak mengacungkan jari ingin menjadi dokter. Tapi jujur saja, saya waktu kecil hingga SMA awal tidak pernah bercita-cita menjadi dokter. Saat itu saya bercita-cita menjadi team angkatan bersenjata RI.

Rumah kami, dulu

Potongan rambut sering seperti para tentara saat SD karena dua alasan: 1) Memang ingin menjadi seperti Jendral Sudirman. Gagah, pemberani, membela nusa dan bangsa 2) Biar bisa hemat uang, haha, karena dengan potongan rambut seperti itu akan agak jarang potong rambutnya

Menjadi dokter adalah kata-kata yang paling saya hindari sewaktu kecil. Sebagai anak orang miskin, saya merasa profesi dokter maupun kesehatan lain terlalu sombong. Trauma di masa kecil membuat saya malas untuk bertemu dokter dan profesi kesehatan lainnya. Bukan karna takut disuntik lo ya haha

Namun takdir menuntun saya untuk menjadi dokter. Berawal dari kakek meninggal tahun 2009 dan peristiwa di tahun 2011 serta alasan pribadi lainnya yang belum bisa saya sebutkan di tulisan ini, yang jelas bukan semata-mata untuk cari prestise. Menjadi dokter adalah target yang mantap saya tancapkan di hati dan otak saya kala itu.

Pengumuman Lolos Seleksi Masuk FK

Setelah lama kunanti. Akhirnya pengumuman kelulusan saya di Fakultas Kedokteran Udayana (FK Unud) pun datang. Kala itu saya sedang bersiap-siap pergi ke Lombok untuk kedua kalinya. Seseorang menelepon dan mengatakan kalau nama saya muncul di koran. Saya tentu masih belum percaya dan akhirnya pergi ke kota mencari koran yang terbit untuk hari itu. Benar saja, saya lulus tes di FK Unud.

Hari itu suasana siang Kota Singaraja serasa sejuk. Saya berteriak di pantai dan melampiaskan semuanya. Akhirnya kami bisa. Untuk pertama kalinya keluarga kami ada yang bisa kuliah dan tembus kedokteran. Keluarga saya tidak ada yang kuliah saat itu. Jangankan kuliah, tamat SMA saja tidak ada. Kami rata-rata buruh maupun petani. Jujur, ini merupakan sejarah bagi kami karena anak pemetik kelapa bisa lulus menjadi calon dokter.

Tentang perasaan saya kala itu benar-benar susah digambarkan. Disini liku menjadi dokter  menanti. 

SPP 7 juta. What???

Sudah menjadi rahasia umum jika kuliah di kedokteran biayanya mahal. Namun karena keinginan dan kenekatan yang kuat membuat saya tetap ingin menjadi dokter. Bapak dan ibu sebenarnya melarang untuk kuliah di kedokteran karena permasalahan biaya. Takut jika tidak bisa mengikuti biaya perkuliahan saya.

Tentu saja saya harus merayu mereka. Dengan kata-kata saja tentu tidak akan setuju. Akhirnya berkat guru saya SMA namanya Bu Sukanadi saya mendapatkan info yang terang tentang beasiswa di perkuliahan. Beliau menelepon profesor yang kebetulan alumni SMA saya. Profesor tersebut menjelaskan bahwa di kedokteran ada banyak sekali beasiswa asalkan lulus tes dan ada prestasi. Dengan berbekal info ini bapak dan ibu menyetujui rencana gila saya sekolah di kedokteran. Kenapa saya bilang gila? Ya karena biaya tadi.

Setelah dapat FK seperti cerita di atas, ternyata mencari beasiswa cukup susah. Tapi berkat jalan-Nya, saya akhirnya mendapatkan 2 beasiswa penuh sekaligus. Pihak kampus menyarankan memilih salah satu dari beasiswa tersebut. Saya akhirnya memilih beasiswa Prof Mantra. Kenapa? Karena saat itu dengan beasiswa ini dijanjikan bebas SPP dan dapat uang saku 400 ribu per bulannya, hehe lumayan.

Setelah mendapatkan beasiswa, ternyata SPP 6 bulan pertama harus dibayarkan sebesar 7 juta rupiah. Seperti judul di atas WHAT??? Dari mana kami dapat uang sebesar itu. SPP pertama memang harus dibayar lunas dulu sehingga bisa kuliah. Walaupun akhirnya uang tersebut dijanjikan akan dikembalikan setelah dana beasiswa cair. Tetap saja waktu itu saya panik. Uang sebanyak itu susah dicari, akhirnya setelah bapak dan ibu meminjam uang, saya langsung bayarkan ke pihak kampus.

Aman??? Liat aja nanti.

Organisasi, hmmm…

Kesibukan belajar di kampus ternyata membuat jenuh juga. Saya harus cari cara agar bisa mencari pelarian yang positif. Saat itu saya ikut seleksi dua organisasi besar sekaligus yang berguna untuk soft skill saya dan relasi ke depannya. Saya memilih BEM dan Tim bantuan medis.

Ternyata seleksi di tim bantuan medis ketat dan melelahkan. Tapi karna sudah memutuskan ingin belajar kegawatdaruratan saya tidak menyerah. Walau akhirnya saya harus kehilangan sesuatu yang sangat berarti kala itu. Untuk pertama kalinya saya minum bir dan merokok. Minum bir bersama teman yang kebetulan sedang galau juga. Kami minum 1 botol bir berdua haha masalah minum saya cupu. Merokok saya hanya satu isapan saja lalu batuk dan kapok. Semenjak itu saya tidak pernah merokok.

Kondisi ini semakin membuat otak saya berpikir untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang positif. Banyak kepanitiaan saya ikuti agar pikiran-pikiran galau tidak menyelimuti. Akhirnya saya rasakan sekarang rencana Tuhan memang adalah yang terbaik. Berkat kejadian itu, saya punya teman dekat dan tahu sedikit pengalaman di berbagai kegiatan.

Organisasi menurut saya penting untuk teman-teman yang saat ini belum maupun sudah kuliah. Di sana perbanyaklah cari relasi. Dengan relasi, jujur saja saya dipermudah mengurus dokumen, mencari pekerjaan dan lain-lain. Namun, harus seimbang dengan tugas pokok kita untuk belajar.

Jangan organisasi dijadikan kambing hitam terhadap performa kuliah. Banyak yang dapat nilai bagus walau sibuk dengan organisasi.

KOAS : Enakkah?

Setelah lulus sarjana kedokteran tahun 2016, maka fase selanjutnya adalah mengikuti profesi dokter. Fase ini belajar di rumah sakit maupun puskesmas. Saya dapat bagian kardiologi/jantung pada fase pertama. Di bagian ini saya belajar bagaimana kita bisa mati kapan saja hanya dalam hitungan menit. Ya MENIT. Di lantai dua kala itu, ada seorang pasien dari daerah NTB, follow up jam 10 malam, masih stabil kondisinya bahkan asik bercerita tentang tanah kelahirannya. Saya cukup dekat dengan beliau. Namun sekitar jam 1 subuh kondisi pasien ini mengalami henti jantung dan akhirnya meninggal sekitar pukul 3 subuh.

Pernah juga saya melakukan sedikit eksperimen sederhana. Saya berdiri di dekat ruang jenazah selama 30 menit dan dalam waktu itu sekitar 3 pasien meninggal diantar oleh keluarganya ke ruang jenazah. Saya menangis seperti anak kecil yang mainannya diambil. Oh ternyata benar, nafas kita hanya titipan yang sewaktu-waktu diambil lagi.

Masa-masa koas terlalu banyak asam manisnya. Di bagian Kejiwaan banyak belajar bagaimana bersyukur terhadap situasi kita  ini. Jangan sampai saya depresi karena koas. Di bagian anak semakin semangat, setiap ada anak kecil aku selalu gemas dengan senyum mereka. Walaupun pas bagian ini pula bapak saya meninggal Maret 2017 lalu.

Semenjak itu tekanan dalam hidup saya semakin meningkat. Ibu sedang hamil 4 bulan, apa yang bisa aku perbuat. Akhirnya aku dibantu oleh orang baik untuk jualan buah, nasi kuning, dan lain-lain untuk membantu ibu. Saya berdoa semoga orang ini selalu berkecukupan. Teman-teman seangkatan saya juga baik-baik sekali, saya berhutang budi kepada mereka semua.

Bersama Ibu, foto Bapak, dan adikku saat
umur 10 bulan

Lulus Ujian Dokter dan Wisuda Tanpa Bapak

Setelah koas, kami mahasiswa diwajibkan mengikuti Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD), semacam Ujian nasional saat kita SD-SMA. Astungkara saat 1 hari sebelum perayaan Nyepi tahun 2018, saya dinyatakan lulus. Jujur saja saya menangis bersama ibu, akhirnya perjuangan kami tidak sia-sia. Saya jarang menangis, tapi hari itu entah kenapa air mata mengalir tak terbendung.

Mei 2018, saya bersama kawan-kawan seperjuangan wisuda dokter di kampus. Senang bercampur sedih karena bapak kami tak tampak wujudnya menemani foto kami. Tapi saya yakin, beliau tetap hadir saat itu. Sebagai anak, saya membenci bapak karena sering mabuk dan merokok. Namun, bukan manusia namanya kalau tidak punya sisi positif dan negatif. Bapak saya sangat rajin bekerja, pagi-pagi sudah bangun untuk memetik kelapa. Rencana saya adalah saat sudah menjadi dokter, bapak akan saya pensiunkan. Tapi Tuhan sudah pensiunkan beliau terlebih dahulu.

Menjelang kematian beliau, sebenarnya Bapak sudah bisa menurunkan kebiasaan merokoknya dan minum alkohol. Saya sering memberikan ceramah agar beliau panjang umur dan bisa melihat cucu nanti maka harus stop kebiasaan tersebut agar lebih sehat. Jujur saja, saya membenci kebiasaan itu (merokok dan minum alkohol) karena sudah trauma dari kecil akan efek kebiasaan itu. Maaf kepada semuanya yang suka merokok dan minum alkohol. Bukan bermaksud menyudutkan, namun karena kebiasaan Bapak itu saya hampir tidak bisa sekolah waktu SMA dan keluarga sering terjadi percekcokan.

Terlepas dari itu, Bapak cukup baik kalau tidak dalam pengaruh kebiasaannya itu. Tahun 2006 saat hari ketiga saya indekos di Kota Singaraja kami menangis bersama karena saya homesick. Bayangkan tamat SD sudah harus indekos, biasanya satu rumah bersama sekarang harus ditemani nyamuk dan semut-semut di dinding, haha. Serius, kamar saya ada banyak nyamuk kala itu dan semut-semut mencari makanan masakan saya. Saya masak beras sendiri. Yak, Anda tidak salah baca. Saya masak beras lalu karena kurangnya pengalaman membuat nasi sering gosong, haha.

Well, berkat kerja keras bersama dan ijin Tuhan serta bimbingan guru-guru saya dari tingkat SD, SMP, SMA hingga kuliah di FK kami berhasil mencapai hingga ke tangga ini. Semoga ilmu yang dititipkan bisa berguna untuk keluarga dan masyarakat sekitar. Terima kasih. [T]

Tags: biograficeritadokterPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Romantisme Musik Underground Singaraja | Jejak Langkah yang Memudar dalam Skena

Next Post

Berguru Pada Brahmana Keling | Sendratari Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa

dr. Putu Sukedana, S.Ked.

dr. Putu Sukedana, S.Ked.

Founder Budiarsana Foundation, Manager BMMC, Staff Managemen Pasien RSU Kertha Usada, Mahasiswa S2 Ilmu Managemen Pasca Sarjana Undiksha

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Berguru Pada Brahmana Keling | Sendratari Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa

Berguru Pada Brahmana Keling | Sendratari Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co