12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dona dan Lelaki Jangkung | Cerpen Dian Ayu Lestari

Dian Ayu Lestari by Dian Ayu Lestari
June 19, 2021
in Cerpen
Dona dan Lelaki Jangkung | Cerpen Dian Ayu Lestari

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Udara menyelinap lewat celah jendela. Pagi itu begitu dingin, namun tak juga berhasil menghadang cucuran keringat pada sekujur tubuh lelaki jangkung. Posisinya telentang, kedua matanya terbelalak, napasnya tak menentu, hingga membuat gerak dada tak menunjukkan kestabilan. Ia benci dengan perasaan semacam ini: perasaan resah, gelisah, tepatnya,  membuat dirinya gundah. Pikirannya terbungkam pada suatu ketakutan yang bahkan tak pasti ia ketahui.

Kesal—entah sudah keberapa kali—karena ia tengah sendiri di dalam remang kamar yang tak begitu luas. Kamar seukuran 3×3 yang mana memang ideal untuk ditinggali seorang diri. Di dalam sana terdapat kamar mandi. Puntung rokok yang sudah tinggal beberapa senti, terlihat memenuhi lantai bilik lembab tersebut. Entah apa penyebab tak terbesitnya niat untuk memungut barang se-puntung rokok saja. Mungkin ia memiliki maksud dan tujuan tertentu: sebagai koleksi pribadi, mungkin? Tak ada yang tahu.

Dalam kamar yang tak begitu luas ini, lelaki berambut cepak itu menata dengan sembarang beberapa jenis lemari. Sombong sekali rasanya bila dijelaskan dengan kata “beberapa”. Nyatanya hanya ada dua, namun karena sudah lebih dari satu, maka tidak salah untuk menyebutnya “beberapa” bukan? Ya, itulah permasalahan sepele yang seharusnya tak layak dijadikan perdebatan. Sama seperti perasaan resah yang tiba-tiba datang pada lelaki yang tengah sibuk mengucek mata sipitnya.

Perasaan resah hanyalah perasaan. Tak lebih, tak juga kurang. Namun, bagi lelaki  yang kini masih juga terengah di posisinya, mengartikan perasaan itu sebagai sebuah pertanda. Contoh kedua, dari permasalahan sepele yang tak layak diperdebatkan. Akan ada yang memercayainya sebagai sebuah pertanda—seperti yang dipikirkan lelaki jangkung—ada juga yang akan memercayainya hanya sebagai respon tubuh yang lelah. Bisa saja lelaki jangkung terlalu sering menonton sinetron yang menjadikan gelas pecah sebagai pengantar kabar.

Di tengah rasa gundah yang tak kunjung hilang, tiba-tiba sekelebat ingatan bersama Dona menguar tanpa aba-aba, merusak awang-awang ketakutan yang sempat terbesit di pikiran keruhnya.

Teringat dengan jelas, ketika matahari siap menyengat kulit siapa pun yang menantang teriknya, lelaki jangkung terlihat begitu sibuk. Ia duduk di bangku kayu panjang yang mengahadap kolam ikan. Di teras rumah, sepoi angin siang terasa lembut, sebuah pohon mangga besar yang tengah berbuah banyak menggelayut diterpa angin. Dalam lantunan pertemuan jari dan papan ketik laptop yang bertempo tetap, suara langkah kaki ternyata mampu mencuri atensinya. Lelaki jangkung menoleh. Ia mendapati Dona dengan kaki mungil, tubuh yang gempal, tergesa menuju ke arahnya.

Sembari membenarkan letak kacamata yang melorot, senyuman manis tercetak pada bibir tipisnya. Hatinya meneduh. Kalutnya hilang bersama kehadiran Dona yang memang selalu ia damba. Dona yang sudah berada di hadapannya, menatapnya begitu lamat. Dengan naluri alami, lelaki jangkung menarik Dona menuju pangkuannya. Memeluk dengan mesra, mengelus punggung Dona. Menghabiskan waktu bersama Dona memang bagian favorit di tengah-tengah kesibukannya. Ia menikmati gairah yang meningkat kala menatap mata Dona. Mata yang bulat sempurna, yang tak dimiliki oleh gadis manapun. Senyuman lelaki jangkung semakin merekah, kala Dona menggeliat di pangkuannya.

Dona menutup mata, bibirnya terkatup. Ia mungkin tengah menikmati elusan lembut yang tengah bergerilya di atasnya. Dada lelaki jangkung berdebar. Sesuatu membuat tenggorokannya menjadi kering. Dona yang menggeliat semakin resah di area perut hingga ke paha dalamnya, membuat bulu kuduk lelaki itu berdiri. Tangannya bergetar. Sesuatu melesat ke kepalanya. Rasanya, ia tak bisa menahan lebih sesuatu itu lebih lama lagi. Celananya tiba-tiba basah.

Namun, sesaat kemudian, lelaki jangkung seperti baru kembali dari suatu tempat yang jauh. Ia memperhatikan Dona. Kesayangannya masih juga tak bersuara. Semakin ia perhatikan, semakin terlihat jelas bahwa Dona sedang tidak seperti biasanya. Dona sedang tidak baik-baik saja.

“Kau kenapa?” kata lelaki Jangkung sambil menghentikan elusannya.

“Kau memikirkan kepergianku?” tanyanya sekali lagi.

Dona masih diam meringkuk. Lelaki jangkung menatap dengan cemas, dan melanjutkan gerak tangannya mengelus kepala Dona. Mata Dona terbuka. Ia nampak mengiba. Barangkali Dona tengah cemas. Lelaki jangkung tak benar-benar bisa menebak.

“Tenanglah. Kau tak akan sendiri. Ada Ibu dan Ayah. Aku hanya pergi sebentar. Takkan lama, Dona!” 

Lelaki itu kini melipat kakinya yang kurus panjang, memangku Dona, berusaha menghibur Dona yang tetap diam.  Sebentar lagi, lelaki itu harus kembali ke kota rantauan. Kewajibannya sebagai mahasiswa semester tua memaksanya untuk pergi menyelesaikan studi yang tinggal tak beberapa lama lagi. 

“Tapi kau harus berjanji padaku, Dona. Jangan nakal. Kau harus tetap menggemaskan seperti ini,” goda Lelaki Jangkung, yang nampaknya membuat Dona tersipu dan semakin merapatkan diri di pangkuannya.

Lelaki Jangkung tersenyum. Hatinya meneduh bila mengingat semua itu. Perasaan resahnya perlahan terkikis. Lelaki itu bangun dengan gerak yang malas, mengambil gelas, meneguk air putih. Nampaknya itu juga turut menenangkan Lelaki Jangkung pada dini hari yang cukup dingin. Ia kembali tidur. Ia ingin segera menyelesaikan studi agar bisa kembali bertemu dengan Dona.

***

Entah apa yang mengejar waktu, ia berlari begitu cepat. Lelaki Jangkung bahkan tak sadar, bahwa kini sudah memasuki bulan Januari. Orang-orang merayakan kedatangannya sebagai harapan akan kebahagian baru. Tetapi, Lelaki Jangkung nampaknya berbeda. Malam itu, keringatnya mengalir deras, hingga basah sekujur tubuhnya. Kakinya terseok dalam langkah gusar. Napasnya tersenggal. Ketakutan menguasai dirinya begitu penuh. Namun ia tak berhenti. Lelaki Jangkung terus berlari, menembus semak yang mungkin sudah memberi beberapa goresan di kaki telanjangnya.

 Suara bising di belakang terdengar semakin menakutkan. Derap langkah panjang juga terus terpacu mengejar lelaki jangkung yang kini mulai terlihat kewalahan. Kesadarannya mulai melemah. Penglihatannya tak sejelas sebelumnya, barangkali karena keringat yang membanjiri seluruh wajahnya. Tapi ia tak mau menyerah. Lelaki dengan tubuh kurus yang semakin  terasa memberat itu terus berlari, menghindar, menjauh. Ia berusaha membebaskan diri, tapi kejaran itu semakin…

DOR!

DOR!

DOR!

Lelaki itu kalah. Ia jatuh. Tubuhnya lemas, menapak tanah basah yang menjadi saksi bagaimana dua logam panas begitu lancang menembus kepalanya. Langit turut bersedih. Rintik hujan mulai berjatuhan, membilas darah segar yang masih mengucur pada wajah lelaki yang kini tergeletak dengan tatapan sayu.

Lelaki itu terbangun untuk kesekian kalinya. Tidurnya tak pernah lelap. Entah sudah hari keberapa, kebiasaan ini tak juga hilang. Terbangun pada hari yang terlampau pagi, dan merasakan detak jantung yang selalu saja terpacu begitu cepat. Peluh lagi-lagi membuat basah sekujur tubuh. Sial, mimpinya terlampau buruk. Otaknya bahkan tak mampu lagi menerka maksud atas mimpi-mimpi yang selalu saja sama di beberapa malam yang sudah terlewati.

Perasaan itu kembali menyelimutinya. Lelaki Jangkung yakin, ini memang sebuah pertanda, dan bukan sekadar penafsiran belaka. Dalam keyakinan yang masih melayang, dering ponsel membuat ia terperanjat. Kedua alisnya mulai berkerut, membuat garis-garis lipatan pada dahi lebarnya menjadi jelas. Sebuah panggilan masuk pada dini hari yang dingin. Bukankah adalah suatu keanehan? Foto Ibu tersenyum manis pada layar, membuat Lelaki Jangkung semakin was-was. Lelaki Jangkung berusaha tetap tenang, dan selanjutnya bergegas mengangkat panggilan yang telah menunggu jawabnya. Mungkin terlalu lama, panggilan itu justru berhenti, dan tergantikan oleh sebuah pesan panjang.

“Nak, maaf Ibu baru ingat mengabarimu dini hari begini. Mungkin kau masih tidur. Tak apa, kau bisa balas pesan ibu esok pagi. Nak, Dona mati. Kemarin malam, Pak Sorman datang ke rumah dan membawa kabar itu. Ibu dan Ayah langsung melihat keadaan Dona. Kasihan Dona. Ibu melihat lobang di lehernya. Bulu putihnya menjadi merah. Ekornya bahkan meringkuk hingga ke dalam. Mungkin karena terlalu sakit. Ah.. Ibu tak tahu! Badannya, ya Tuhan… sudah bau dan juga digerogot ulat. Akhir-akhir ini di rumah sering turun hujan. Tapi, Ibu dan Ayah sama sekali tak sadar kalau Dona tak terlihat sedari kemarin pagi. Maaf, Ibu dan Ayah tak bisa menjaga Dona, Nak. Beruntung Pak Sorman bersedia menyeret bangkai Dona yang sudah berulat itu ke sungai. Ibu sudah memberinya upah untuk itu, tak perlu kau pikirkan. Nanti, kamu bisa membeli anjing lagi. Lagi pula, Dona tak bisa menggonggong. Nanti, beli saja yang jantan”.

Ibunya tentu tak tahu, bagaimana keadaa Lelaki Jangkung setelah membaca pesan itu. [T]

___

BACA CERPEN LAIN:

Anjing Mana yang Akan Kau Beri Makan? | Cerpen Kadek Indra Putra
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dinamika “Nyundih” di Nusa Penida: Dulu Kebutuhan, Sekarang Pelarian

Next Post

Agus Janardana | Laki-laki Berwajah Plastik

Dian Ayu Lestari

Dian Ayu Lestari

Lahir di Singaraja, 22 Juni 2000 dan sedang menempuh pendidikan di Undiksha Singaraja dengan prodi Manajemen. Kini aktif di Teater Kampus Seribu Jendela

Related Posts

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails
Next Post
Agus Janardana | Laki-laki Berwajah Plastik

Agus Janardana | Laki-laki Berwajah Plastik

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co