24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dona dan Lelaki Jangkung | Cerpen Dian Ayu Lestari

Dian Ayu Lestari by Dian Ayu Lestari
June 19, 2021
in Cerpen
Dona dan Lelaki Jangkung | Cerpen Dian Ayu Lestari

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Udara menyelinap lewat celah jendela. Pagi itu begitu dingin, namun tak juga berhasil menghadang cucuran keringat pada sekujur tubuh lelaki jangkung. Posisinya telentang, kedua matanya terbelalak, napasnya tak menentu, hingga membuat gerak dada tak menunjukkan kestabilan. Ia benci dengan perasaan semacam ini: perasaan resah, gelisah, tepatnya,  membuat dirinya gundah. Pikirannya terbungkam pada suatu ketakutan yang bahkan tak pasti ia ketahui.

Kesal—entah sudah keberapa kali—karena ia tengah sendiri di dalam remang kamar yang tak begitu luas. Kamar seukuran 3×3 yang mana memang ideal untuk ditinggali seorang diri. Di dalam sana terdapat kamar mandi. Puntung rokok yang sudah tinggal beberapa senti, terlihat memenuhi lantai bilik lembab tersebut. Entah apa penyebab tak terbesitnya niat untuk memungut barang se-puntung rokok saja. Mungkin ia memiliki maksud dan tujuan tertentu: sebagai koleksi pribadi, mungkin? Tak ada yang tahu.

Dalam kamar yang tak begitu luas ini, lelaki berambut cepak itu menata dengan sembarang beberapa jenis lemari. Sombong sekali rasanya bila dijelaskan dengan kata “beberapa”. Nyatanya hanya ada dua, namun karena sudah lebih dari satu, maka tidak salah untuk menyebutnya “beberapa” bukan? Ya, itulah permasalahan sepele yang seharusnya tak layak dijadikan perdebatan. Sama seperti perasaan resah yang tiba-tiba datang pada lelaki yang tengah sibuk mengucek mata sipitnya.

Perasaan resah hanyalah perasaan. Tak lebih, tak juga kurang. Namun, bagi lelaki  yang kini masih juga terengah di posisinya, mengartikan perasaan itu sebagai sebuah pertanda. Contoh kedua, dari permasalahan sepele yang tak layak diperdebatkan. Akan ada yang memercayainya sebagai sebuah pertanda—seperti yang dipikirkan lelaki jangkung—ada juga yang akan memercayainya hanya sebagai respon tubuh yang lelah. Bisa saja lelaki jangkung terlalu sering menonton sinetron yang menjadikan gelas pecah sebagai pengantar kabar.

Di tengah rasa gundah yang tak kunjung hilang, tiba-tiba sekelebat ingatan bersama Dona menguar tanpa aba-aba, merusak awang-awang ketakutan yang sempat terbesit di pikiran keruhnya.

Teringat dengan jelas, ketika matahari siap menyengat kulit siapa pun yang menantang teriknya, lelaki jangkung terlihat begitu sibuk. Ia duduk di bangku kayu panjang yang mengahadap kolam ikan. Di teras rumah, sepoi angin siang terasa lembut, sebuah pohon mangga besar yang tengah berbuah banyak menggelayut diterpa angin. Dalam lantunan pertemuan jari dan papan ketik laptop yang bertempo tetap, suara langkah kaki ternyata mampu mencuri atensinya. Lelaki jangkung menoleh. Ia mendapati Dona dengan kaki mungil, tubuh yang gempal, tergesa menuju ke arahnya.

Sembari membenarkan letak kacamata yang melorot, senyuman manis tercetak pada bibir tipisnya. Hatinya meneduh. Kalutnya hilang bersama kehadiran Dona yang memang selalu ia damba. Dona yang sudah berada di hadapannya, menatapnya begitu lamat. Dengan naluri alami, lelaki jangkung menarik Dona menuju pangkuannya. Memeluk dengan mesra, mengelus punggung Dona. Menghabiskan waktu bersama Dona memang bagian favorit di tengah-tengah kesibukannya. Ia menikmati gairah yang meningkat kala menatap mata Dona. Mata yang bulat sempurna, yang tak dimiliki oleh gadis manapun. Senyuman lelaki jangkung semakin merekah, kala Dona menggeliat di pangkuannya.

Dona menutup mata, bibirnya terkatup. Ia mungkin tengah menikmati elusan lembut yang tengah bergerilya di atasnya. Dada lelaki jangkung berdebar. Sesuatu membuat tenggorokannya menjadi kering. Dona yang menggeliat semakin resah di area perut hingga ke paha dalamnya, membuat bulu kuduk lelaki itu berdiri. Tangannya bergetar. Sesuatu melesat ke kepalanya. Rasanya, ia tak bisa menahan lebih sesuatu itu lebih lama lagi. Celananya tiba-tiba basah.

Namun, sesaat kemudian, lelaki jangkung seperti baru kembali dari suatu tempat yang jauh. Ia memperhatikan Dona. Kesayangannya masih juga tak bersuara. Semakin ia perhatikan, semakin terlihat jelas bahwa Dona sedang tidak seperti biasanya. Dona sedang tidak baik-baik saja.

“Kau kenapa?” kata lelaki Jangkung sambil menghentikan elusannya.

“Kau memikirkan kepergianku?” tanyanya sekali lagi.

Dona masih diam meringkuk. Lelaki jangkung menatap dengan cemas, dan melanjutkan gerak tangannya mengelus kepala Dona. Mata Dona terbuka. Ia nampak mengiba. Barangkali Dona tengah cemas. Lelaki jangkung tak benar-benar bisa menebak.

“Tenanglah. Kau tak akan sendiri. Ada Ibu dan Ayah. Aku hanya pergi sebentar. Takkan lama, Dona!” 

Lelaki itu kini melipat kakinya yang kurus panjang, memangku Dona, berusaha menghibur Dona yang tetap diam.  Sebentar lagi, lelaki itu harus kembali ke kota rantauan. Kewajibannya sebagai mahasiswa semester tua memaksanya untuk pergi menyelesaikan studi yang tinggal tak beberapa lama lagi. 

“Tapi kau harus berjanji padaku, Dona. Jangan nakal. Kau harus tetap menggemaskan seperti ini,” goda Lelaki Jangkung, yang nampaknya membuat Dona tersipu dan semakin merapatkan diri di pangkuannya.

Lelaki Jangkung tersenyum. Hatinya meneduh bila mengingat semua itu. Perasaan resahnya perlahan terkikis. Lelaki itu bangun dengan gerak yang malas, mengambil gelas, meneguk air putih. Nampaknya itu juga turut menenangkan Lelaki Jangkung pada dini hari yang cukup dingin. Ia kembali tidur. Ia ingin segera menyelesaikan studi agar bisa kembali bertemu dengan Dona.

***

Entah apa yang mengejar waktu, ia berlari begitu cepat. Lelaki Jangkung bahkan tak sadar, bahwa kini sudah memasuki bulan Januari. Orang-orang merayakan kedatangannya sebagai harapan akan kebahagian baru. Tetapi, Lelaki Jangkung nampaknya berbeda. Malam itu, keringatnya mengalir deras, hingga basah sekujur tubuhnya. Kakinya terseok dalam langkah gusar. Napasnya tersenggal. Ketakutan menguasai dirinya begitu penuh. Namun ia tak berhenti. Lelaki Jangkung terus berlari, menembus semak yang mungkin sudah memberi beberapa goresan di kaki telanjangnya.

 Suara bising di belakang terdengar semakin menakutkan. Derap langkah panjang juga terus terpacu mengejar lelaki jangkung yang kini mulai terlihat kewalahan. Kesadarannya mulai melemah. Penglihatannya tak sejelas sebelumnya, barangkali karena keringat yang membanjiri seluruh wajahnya. Tapi ia tak mau menyerah. Lelaki dengan tubuh kurus yang semakin  terasa memberat itu terus berlari, menghindar, menjauh. Ia berusaha membebaskan diri, tapi kejaran itu semakin…

DOR!

DOR!

DOR!

Lelaki itu kalah. Ia jatuh. Tubuhnya lemas, menapak tanah basah yang menjadi saksi bagaimana dua logam panas begitu lancang menembus kepalanya. Langit turut bersedih. Rintik hujan mulai berjatuhan, membilas darah segar yang masih mengucur pada wajah lelaki yang kini tergeletak dengan tatapan sayu.

Lelaki itu terbangun untuk kesekian kalinya. Tidurnya tak pernah lelap. Entah sudah hari keberapa, kebiasaan ini tak juga hilang. Terbangun pada hari yang terlampau pagi, dan merasakan detak jantung yang selalu saja terpacu begitu cepat. Peluh lagi-lagi membuat basah sekujur tubuh. Sial, mimpinya terlampau buruk. Otaknya bahkan tak mampu lagi menerka maksud atas mimpi-mimpi yang selalu saja sama di beberapa malam yang sudah terlewati.

Perasaan itu kembali menyelimutinya. Lelaki Jangkung yakin, ini memang sebuah pertanda, dan bukan sekadar penafsiran belaka. Dalam keyakinan yang masih melayang, dering ponsel membuat ia terperanjat. Kedua alisnya mulai berkerut, membuat garis-garis lipatan pada dahi lebarnya menjadi jelas. Sebuah panggilan masuk pada dini hari yang dingin. Bukankah adalah suatu keanehan? Foto Ibu tersenyum manis pada layar, membuat Lelaki Jangkung semakin was-was. Lelaki Jangkung berusaha tetap tenang, dan selanjutnya bergegas mengangkat panggilan yang telah menunggu jawabnya. Mungkin terlalu lama, panggilan itu justru berhenti, dan tergantikan oleh sebuah pesan panjang.

“Nak, maaf Ibu baru ingat mengabarimu dini hari begini. Mungkin kau masih tidur. Tak apa, kau bisa balas pesan ibu esok pagi. Nak, Dona mati. Kemarin malam, Pak Sorman datang ke rumah dan membawa kabar itu. Ibu dan Ayah langsung melihat keadaan Dona. Kasihan Dona. Ibu melihat lobang di lehernya. Bulu putihnya menjadi merah. Ekornya bahkan meringkuk hingga ke dalam. Mungkin karena terlalu sakit. Ah.. Ibu tak tahu! Badannya, ya Tuhan… sudah bau dan juga digerogot ulat. Akhir-akhir ini di rumah sering turun hujan. Tapi, Ibu dan Ayah sama sekali tak sadar kalau Dona tak terlihat sedari kemarin pagi. Maaf, Ibu dan Ayah tak bisa menjaga Dona, Nak. Beruntung Pak Sorman bersedia menyeret bangkai Dona yang sudah berulat itu ke sungai. Ibu sudah memberinya upah untuk itu, tak perlu kau pikirkan. Nanti, kamu bisa membeli anjing lagi. Lagi pula, Dona tak bisa menggonggong. Nanti, beli saja yang jantan”.

Ibunya tentu tak tahu, bagaimana keadaa Lelaki Jangkung setelah membaca pesan itu. [T]

___

BACA CERPEN LAIN:

Anjing Mana yang Akan Kau Beri Makan? | Cerpen Kadek Indra Putra
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dinamika “Nyundih” di Nusa Penida: Dulu Kebutuhan, Sekarang Pelarian

Next Post

Agus Janardana | Laki-laki Berwajah Plastik

Dian Ayu Lestari

Dian Ayu Lestari

Lahir di Singaraja, 22 Juni 2000 dan sedang menempuh pendidikan di Undiksha Singaraja dengan prodi Manajemen. Kini aktif di Teater Kampus Seribu Jendela

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Agus Janardana | Laki-laki Berwajah Plastik

Agus Janardana | Laki-laki Berwajah Plastik

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co