24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dona dan Lelaki Jangkung | Cerpen Dian Ayu Lestari

Dian Ayu Lestari by Dian Ayu Lestari
June 19, 2021
in Cerpen
Dona dan Lelaki Jangkung | Cerpen Dian Ayu Lestari

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Udara menyelinap lewat celah jendela. Pagi itu begitu dingin, namun tak juga berhasil menghadang cucuran keringat pada sekujur tubuh lelaki jangkung. Posisinya telentang, kedua matanya terbelalak, napasnya tak menentu, hingga membuat gerak dada tak menunjukkan kestabilan. Ia benci dengan perasaan semacam ini: perasaan resah, gelisah, tepatnya,  membuat dirinya gundah. Pikirannya terbungkam pada suatu ketakutan yang bahkan tak pasti ia ketahui.

Kesal—entah sudah keberapa kali—karena ia tengah sendiri di dalam remang kamar yang tak begitu luas. Kamar seukuran 3×3 yang mana memang ideal untuk ditinggali seorang diri. Di dalam sana terdapat kamar mandi. Puntung rokok yang sudah tinggal beberapa senti, terlihat memenuhi lantai bilik lembab tersebut. Entah apa penyebab tak terbesitnya niat untuk memungut barang se-puntung rokok saja. Mungkin ia memiliki maksud dan tujuan tertentu: sebagai koleksi pribadi, mungkin? Tak ada yang tahu.

Dalam kamar yang tak begitu luas ini, lelaki berambut cepak itu menata dengan sembarang beberapa jenis lemari. Sombong sekali rasanya bila dijelaskan dengan kata “beberapa”. Nyatanya hanya ada dua, namun karena sudah lebih dari satu, maka tidak salah untuk menyebutnya “beberapa” bukan? Ya, itulah permasalahan sepele yang seharusnya tak layak dijadikan perdebatan. Sama seperti perasaan resah yang tiba-tiba datang pada lelaki yang tengah sibuk mengucek mata sipitnya.

Perasaan resah hanyalah perasaan. Tak lebih, tak juga kurang. Namun, bagi lelaki  yang kini masih juga terengah di posisinya, mengartikan perasaan itu sebagai sebuah pertanda. Contoh kedua, dari permasalahan sepele yang tak layak diperdebatkan. Akan ada yang memercayainya sebagai sebuah pertanda—seperti yang dipikirkan lelaki jangkung—ada juga yang akan memercayainya hanya sebagai respon tubuh yang lelah. Bisa saja lelaki jangkung terlalu sering menonton sinetron yang menjadikan gelas pecah sebagai pengantar kabar.

Di tengah rasa gundah yang tak kunjung hilang, tiba-tiba sekelebat ingatan bersama Dona menguar tanpa aba-aba, merusak awang-awang ketakutan yang sempat terbesit di pikiran keruhnya.

Teringat dengan jelas, ketika matahari siap menyengat kulit siapa pun yang menantang teriknya, lelaki jangkung terlihat begitu sibuk. Ia duduk di bangku kayu panjang yang mengahadap kolam ikan. Di teras rumah, sepoi angin siang terasa lembut, sebuah pohon mangga besar yang tengah berbuah banyak menggelayut diterpa angin. Dalam lantunan pertemuan jari dan papan ketik laptop yang bertempo tetap, suara langkah kaki ternyata mampu mencuri atensinya. Lelaki jangkung menoleh. Ia mendapati Dona dengan kaki mungil, tubuh yang gempal, tergesa menuju ke arahnya.

Sembari membenarkan letak kacamata yang melorot, senyuman manis tercetak pada bibir tipisnya. Hatinya meneduh. Kalutnya hilang bersama kehadiran Dona yang memang selalu ia damba. Dona yang sudah berada di hadapannya, menatapnya begitu lamat. Dengan naluri alami, lelaki jangkung menarik Dona menuju pangkuannya. Memeluk dengan mesra, mengelus punggung Dona. Menghabiskan waktu bersama Dona memang bagian favorit di tengah-tengah kesibukannya. Ia menikmati gairah yang meningkat kala menatap mata Dona. Mata yang bulat sempurna, yang tak dimiliki oleh gadis manapun. Senyuman lelaki jangkung semakin merekah, kala Dona menggeliat di pangkuannya.

Dona menutup mata, bibirnya terkatup. Ia mungkin tengah menikmati elusan lembut yang tengah bergerilya di atasnya. Dada lelaki jangkung berdebar. Sesuatu membuat tenggorokannya menjadi kering. Dona yang menggeliat semakin resah di area perut hingga ke paha dalamnya, membuat bulu kuduk lelaki itu berdiri. Tangannya bergetar. Sesuatu melesat ke kepalanya. Rasanya, ia tak bisa menahan lebih sesuatu itu lebih lama lagi. Celananya tiba-tiba basah.

Namun, sesaat kemudian, lelaki jangkung seperti baru kembali dari suatu tempat yang jauh. Ia memperhatikan Dona. Kesayangannya masih juga tak bersuara. Semakin ia perhatikan, semakin terlihat jelas bahwa Dona sedang tidak seperti biasanya. Dona sedang tidak baik-baik saja.

“Kau kenapa?” kata lelaki Jangkung sambil menghentikan elusannya.

“Kau memikirkan kepergianku?” tanyanya sekali lagi.

Dona masih diam meringkuk. Lelaki jangkung menatap dengan cemas, dan melanjutkan gerak tangannya mengelus kepala Dona. Mata Dona terbuka. Ia nampak mengiba. Barangkali Dona tengah cemas. Lelaki jangkung tak benar-benar bisa menebak.

“Tenanglah. Kau tak akan sendiri. Ada Ibu dan Ayah. Aku hanya pergi sebentar. Takkan lama, Dona!” 

Lelaki itu kini melipat kakinya yang kurus panjang, memangku Dona, berusaha menghibur Dona yang tetap diam.  Sebentar lagi, lelaki itu harus kembali ke kota rantauan. Kewajibannya sebagai mahasiswa semester tua memaksanya untuk pergi menyelesaikan studi yang tinggal tak beberapa lama lagi. 

“Tapi kau harus berjanji padaku, Dona. Jangan nakal. Kau harus tetap menggemaskan seperti ini,” goda Lelaki Jangkung, yang nampaknya membuat Dona tersipu dan semakin merapatkan diri di pangkuannya.

Lelaki Jangkung tersenyum. Hatinya meneduh bila mengingat semua itu. Perasaan resahnya perlahan terkikis. Lelaki itu bangun dengan gerak yang malas, mengambil gelas, meneguk air putih. Nampaknya itu juga turut menenangkan Lelaki Jangkung pada dini hari yang cukup dingin. Ia kembali tidur. Ia ingin segera menyelesaikan studi agar bisa kembali bertemu dengan Dona.

***

Entah apa yang mengejar waktu, ia berlari begitu cepat. Lelaki Jangkung bahkan tak sadar, bahwa kini sudah memasuki bulan Januari. Orang-orang merayakan kedatangannya sebagai harapan akan kebahagian baru. Tetapi, Lelaki Jangkung nampaknya berbeda. Malam itu, keringatnya mengalir deras, hingga basah sekujur tubuhnya. Kakinya terseok dalam langkah gusar. Napasnya tersenggal. Ketakutan menguasai dirinya begitu penuh. Namun ia tak berhenti. Lelaki Jangkung terus berlari, menembus semak yang mungkin sudah memberi beberapa goresan di kaki telanjangnya.

 Suara bising di belakang terdengar semakin menakutkan. Derap langkah panjang juga terus terpacu mengejar lelaki jangkung yang kini mulai terlihat kewalahan. Kesadarannya mulai melemah. Penglihatannya tak sejelas sebelumnya, barangkali karena keringat yang membanjiri seluruh wajahnya. Tapi ia tak mau menyerah. Lelaki dengan tubuh kurus yang semakin  terasa memberat itu terus berlari, menghindar, menjauh. Ia berusaha membebaskan diri, tapi kejaran itu semakin…

DOR!

DOR!

DOR!

Lelaki itu kalah. Ia jatuh. Tubuhnya lemas, menapak tanah basah yang menjadi saksi bagaimana dua logam panas begitu lancang menembus kepalanya. Langit turut bersedih. Rintik hujan mulai berjatuhan, membilas darah segar yang masih mengucur pada wajah lelaki yang kini tergeletak dengan tatapan sayu.

Lelaki itu terbangun untuk kesekian kalinya. Tidurnya tak pernah lelap. Entah sudah hari keberapa, kebiasaan ini tak juga hilang. Terbangun pada hari yang terlampau pagi, dan merasakan detak jantung yang selalu saja terpacu begitu cepat. Peluh lagi-lagi membuat basah sekujur tubuh. Sial, mimpinya terlampau buruk. Otaknya bahkan tak mampu lagi menerka maksud atas mimpi-mimpi yang selalu saja sama di beberapa malam yang sudah terlewati.

Perasaan itu kembali menyelimutinya. Lelaki Jangkung yakin, ini memang sebuah pertanda, dan bukan sekadar penafsiran belaka. Dalam keyakinan yang masih melayang, dering ponsel membuat ia terperanjat. Kedua alisnya mulai berkerut, membuat garis-garis lipatan pada dahi lebarnya menjadi jelas. Sebuah panggilan masuk pada dini hari yang dingin. Bukankah adalah suatu keanehan? Foto Ibu tersenyum manis pada layar, membuat Lelaki Jangkung semakin was-was. Lelaki Jangkung berusaha tetap tenang, dan selanjutnya bergegas mengangkat panggilan yang telah menunggu jawabnya. Mungkin terlalu lama, panggilan itu justru berhenti, dan tergantikan oleh sebuah pesan panjang.

“Nak, maaf Ibu baru ingat mengabarimu dini hari begini. Mungkin kau masih tidur. Tak apa, kau bisa balas pesan ibu esok pagi. Nak, Dona mati. Kemarin malam, Pak Sorman datang ke rumah dan membawa kabar itu. Ibu dan Ayah langsung melihat keadaan Dona. Kasihan Dona. Ibu melihat lobang di lehernya. Bulu putihnya menjadi merah. Ekornya bahkan meringkuk hingga ke dalam. Mungkin karena terlalu sakit. Ah.. Ibu tak tahu! Badannya, ya Tuhan… sudah bau dan juga digerogot ulat. Akhir-akhir ini di rumah sering turun hujan. Tapi, Ibu dan Ayah sama sekali tak sadar kalau Dona tak terlihat sedari kemarin pagi. Maaf, Ibu dan Ayah tak bisa menjaga Dona, Nak. Beruntung Pak Sorman bersedia menyeret bangkai Dona yang sudah berulat itu ke sungai. Ibu sudah memberinya upah untuk itu, tak perlu kau pikirkan. Nanti, kamu bisa membeli anjing lagi. Lagi pula, Dona tak bisa menggonggong. Nanti, beli saja yang jantan”.

Ibunya tentu tak tahu, bagaimana keadaa Lelaki Jangkung setelah membaca pesan itu. [T]

___

BACA CERPEN LAIN:

Anjing Mana yang Akan Kau Beri Makan? | Cerpen Kadek Indra Putra
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dinamika “Nyundih” di Nusa Penida: Dulu Kebutuhan, Sekarang Pelarian

Next Post

Agus Janardana | Laki-laki Berwajah Plastik

Dian Ayu Lestari

Dian Ayu Lestari

Lahir di Singaraja, 22 Juni 2000 dan sedang menempuh pendidikan di Undiksha Singaraja dengan prodi Manajemen. Kini aktif di Teater Kampus Seribu Jendela

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Agus Janardana | Laki-laki Berwajah Plastik

Agus Janardana | Laki-laki Berwajah Plastik

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co