2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dona dan Lelaki Jangkung | Cerpen Dian Ayu Lestari

Dian Ayu Lestari by Dian Ayu Lestari
June 19, 2021
in Cerpen
Dona dan Lelaki Jangkung | Cerpen Dian Ayu Lestari

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Udara menyelinap lewat celah jendela. Pagi itu begitu dingin, namun tak juga berhasil menghadang cucuran keringat pada sekujur tubuh lelaki jangkung. Posisinya telentang, kedua matanya terbelalak, napasnya tak menentu, hingga membuat gerak dada tak menunjukkan kestabilan. Ia benci dengan perasaan semacam ini: perasaan resah, gelisah, tepatnya,  membuat dirinya gundah. Pikirannya terbungkam pada suatu ketakutan yang bahkan tak pasti ia ketahui.

Kesal—entah sudah keberapa kali—karena ia tengah sendiri di dalam remang kamar yang tak begitu luas. Kamar seukuran 3×3 yang mana memang ideal untuk ditinggali seorang diri. Di dalam sana terdapat kamar mandi. Puntung rokok yang sudah tinggal beberapa senti, terlihat memenuhi lantai bilik lembab tersebut. Entah apa penyebab tak terbesitnya niat untuk memungut barang se-puntung rokok saja. Mungkin ia memiliki maksud dan tujuan tertentu: sebagai koleksi pribadi, mungkin? Tak ada yang tahu.

Dalam kamar yang tak begitu luas ini, lelaki berambut cepak itu menata dengan sembarang beberapa jenis lemari. Sombong sekali rasanya bila dijelaskan dengan kata “beberapa”. Nyatanya hanya ada dua, namun karena sudah lebih dari satu, maka tidak salah untuk menyebutnya “beberapa” bukan? Ya, itulah permasalahan sepele yang seharusnya tak layak dijadikan perdebatan. Sama seperti perasaan resah yang tiba-tiba datang pada lelaki yang tengah sibuk mengucek mata sipitnya.

Perasaan resah hanyalah perasaan. Tak lebih, tak juga kurang. Namun, bagi lelaki  yang kini masih juga terengah di posisinya, mengartikan perasaan itu sebagai sebuah pertanda. Contoh kedua, dari permasalahan sepele yang tak layak diperdebatkan. Akan ada yang memercayainya sebagai sebuah pertanda—seperti yang dipikirkan lelaki jangkung—ada juga yang akan memercayainya hanya sebagai respon tubuh yang lelah. Bisa saja lelaki jangkung terlalu sering menonton sinetron yang menjadikan gelas pecah sebagai pengantar kabar.

Di tengah rasa gundah yang tak kunjung hilang, tiba-tiba sekelebat ingatan bersama Dona menguar tanpa aba-aba, merusak awang-awang ketakutan yang sempat terbesit di pikiran keruhnya.

Teringat dengan jelas, ketika matahari siap menyengat kulit siapa pun yang menantang teriknya, lelaki jangkung terlihat begitu sibuk. Ia duduk di bangku kayu panjang yang mengahadap kolam ikan. Di teras rumah, sepoi angin siang terasa lembut, sebuah pohon mangga besar yang tengah berbuah banyak menggelayut diterpa angin. Dalam lantunan pertemuan jari dan papan ketik laptop yang bertempo tetap, suara langkah kaki ternyata mampu mencuri atensinya. Lelaki jangkung menoleh. Ia mendapati Dona dengan kaki mungil, tubuh yang gempal, tergesa menuju ke arahnya.

Sembari membenarkan letak kacamata yang melorot, senyuman manis tercetak pada bibir tipisnya. Hatinya meneduh. Kalutnya hilang bersama kehadiran Dona yang memang selalu ia damba. Dona yang sudah berada di hadapannya, menatapnya begitu lamat. Dengan naluri alami, lelaki jangkung menarik Dona menuju pangkuannya. Memeluk dengan mesra, mengelus punggung Dona. Menghabiskan waktu bersama Dona memang bagian favorit di tengah-tengah kesibukannya. Ia menikmati gairah yang meningkat kala menatap mata Dona. Mata yang bulat sempurna, yang tak dimiliki oleh gadis manapun. Senyuman lelaki jangkung semakin merekah, kala Dona menggeliat di pangkuannya.

Dona menutup mata, bibirnya terkatup. Ia mungkin tengah menikmati elusan lembut yang tengah bergerilya di atasnya. Dada lelaki jangkung berdebar. Sesuatu membuat tenggorokannya menjadi kering. Dona yang menggeliat semakin resah di area perut hingga ke paha dalamnya, membuat bulu kuduk lelaki itu berdiri. Tangannya bergetar. Sesuatu melesat ke kepalanya. Rasanya, ia tak bisa menahan lebih sesuatu itu lebih lama lagi. Celananya tiba-tiba basah.

Namun, sesaat kemudian, lelaki jangkung seperti baru kembali dari suatu tempat yang jauh. Ia memperhatikan Dona. Kesayangannya masih juga tak bersuara. Semakin ia perhatikan, semakin terlihat jelas bahwa Dona sedang tidak seperti biasanya. Dona sedang tidak baik-baik saja.

“Kau kenapa?” kata lelaki Jangkung sambil menghentikan elusannya.

“Kau memikirkan kepergianku?” tanyanya sekali lagi.

Dona masih diam meringkuk. Lelaki jangkung menatap dengan cemas, dan melanjutkan gerak tangannya mengelus kepala Dona. Mata Dona terbuka. Ia nampak mengiba. Barangkali Dona tengah cemas. Lelaki jangkung tak benar-benar bisa menebak.

“Tenanglah. Kau tak akan sendiri. Ada Ibu dan Ayah. Aku hanya pergi sebentar. Takkan lama, Dona!” 

Lelaki itu kini melipat kakinya yang kurus panjang, memangku Dona, berusaha menghibur Dona yang tetap diam.  Sebentar lagi, lelaki itu harus kembali ke kota rantauan. Kewajibannya sebagai mahasiswa semester tua memaksanya untuk pergi menyelesaikan studi yang tinggal tak beberapa lama lagi. 

“Tapi kau harus berjanji padaku, Dona. Jangan nakal. Kau harus tetap menggemaskan seperti ini,” goda Lelaki Jangkung, yang nampaknya membuat Dona tersipu dan semakin merapatkan diri di pangkuannya.

Lelaki Jangkung tersenyum. Hatinya meneduh bila mengingat semua itu. Perasaan resahnya perlahan terkikis. Lelaki itu bangun dengan gerak yang malas, mengambil gelas, meneguk air putih. Nampaknya itu juga turut menenangkan Lelaki Jangkung pada dini hari yang cukup dingin. Ia kembali tidur. Ia ingin segera menyelesaikan studi agar bisa kembali bertemu dengan Dona.

***

Entah apa yang mengejar waktu, ia berlari begitu cepat. Lelaki Jangkung bahkan tak sadar, bahwa kini sudah memasuki bulan Januari. Orang-orang merayakan kedatangannya sebagai harapan akan kebahagian baru. Tetapi, Lelaki Jangkung nampaknya berbeda. Malam itu, keringatnya mengalir deras, hingga basah sekujur tubuhnya. Kakinya terseok dalam langkah gusar. Napasnya tersenggal. Ketakutan menguasai dirinya begitu penuh. Namun ia tak berhenti. Lelaki Jangkung terus berlari, menembus semak yang mungkin sudah memberi beberapa goresan di kaki telanjangnya.

 Suara bising di belakang terdengar semakin menakutkan. Derap langkah panjang juga terus terpacu mengejar lelaki jangkung yang kini mulai terlihat kewalahan. Kesadarannya mulai melemah. Penglihatannya tak sejelas sebelumnya, barangkali karena keringat yang membanjiri seluruh wajahnya. Tapi ia tak mau menyerah. Lelaki dengan tubuh kurus yang semakin  terasa memberat itu terus berlari, menghindar, menjauh. Ia berusaha membebaskan diri, tapi kejaran itu semakin…

DOR!

DOR!

DOR!

Lelaki itu kalah. Ia jatuh. Tubuhnya lemas, menapak tanah basah yang menjadi saksi bagaimana dua logam panas begitu lancang menembus kepalanya. Langit turut bersedih. Rintik hujan mulai berjatuhan, membilas darah segar yang masih mengucur pada wajah lelaki yang kini tergeletak dengan tatapan sayu.

Lelaki itu terbangun untuk kesekian kalinya. Tidurnya tak pernah lelap. Entah sudah hari keberapa, kebiasaan ini tak juga hilang. Terbangun pada hari yang terlampau pagi, dan merasakan detak jantung yang selalu saja terpacu begitu cepat. Peluh lagi-lagi membuat basah sekujur tubuh. Sial, mimpinya terlampau buruk. Otaknya bahkan tak mampu lagi menerka maksud atas mimpi-mimpi yang selalu saja sama di beberapa malam yang sudah terlewati.

Perasaan itu kembali menyelimutinya. Lelaki Jangkung yakin, ini memang sebuah pertanda, dan bukan sekadar penafsiran belaka. Dalam keyakinan yang masih melayang, dering ponsel membuat ia terperanjat. Kedua alisnya mulai berkerut, membuat garis-garis lipatan pada dahi lebarnya menjadi jelas. Sebuah panggilan masuk pada dini hari yang dingin. Bukankah adalah suatu keanehan? Foto Ibu tersenyum manis pada layar, membuat Lelaki Jangkung semakin was-was. Lelaki Jangkung berusaha tetap tenang, dan selanjutnya bergegas mengangkat panggilan yang telah menunggu jawabnya. Mungkin terlalu lama, panggilan itu justru berhenti, dan tergantikan oleh sebuah pesan panjang.

“Nak, maaf Ibu baru ingat mengabarimu dini hari begini. Mungkin kau masih tidur. Tak apa, kau bisa balas pesan ibu esok pagi. Nak, Dona mati. Kemarin malam, Pak Sorman datang ke rumah dan membawa kabar itu. Ibu dan Ayah langsung melihat keadaan Dona. Kasihan Dona. Ibu melihat lobang di lehernya. Bulu putihnya menjadi merah. Ekornya bahkan meringkuk hingga ke dalam. Mungkin karena terlalu sakit. Ah.. Ibu tak tahu! Badannya, ya Tuhan… sudah bau dan juga digerogot ulat. Akhir-akhir ini di rumah sering turun hujan. Tapi, Ibu dan Ayah sama sekali tak sadar kalau Dona tak terlihat sedari kemarin pagi. Maaf, Ibu dan Ayah tak bisa menjaga Dona, Nak. Beruntung Pak Sorman bersedia menyeret bangkai Dona yang sudah berulat itu ke sungai. Ibu sudah memberinya upah untuk itu, tak perlu kau pikirkan. Nanti, kamu bisa membeli anjing lagi. Lagi pula, Dona tak bisa menggonggong. Nanti, beli saja yang jantan”.

Ibunya tentu tak tahu, bagaimana keadaa Lelaki Jangkung setelah membaca pesan itu. [T]

___

BACA CERPEN LAIN:

Anjing Mana yang Akan Kau Beri Makan? | Cerpen Kadek Indra Putra
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dinamika “Nyundih” di Nusa Penida: Dulu Kebutuhan, Sekarang Pelarian

Next Post

Agus Janardana | Laki-laki Berwajah Plastik

Dian Ayu Lestari

Dian Ayu Lestari

Lahir di Singaraja, 22 Juni 2000 dan sedang menempuh pendidikan di Undiksha Singaraja dengan prodi Manajemen. Kini aktif di Teater Kampus Seribu Jendela

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Agus Janardana | Laki-laki Berwajah Plastik

Agus Janardana | Laki-laki Berwajah Plastik

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co