14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dinamika “Nyundih” di Nusa Penida: Dulu Kebutuhan, Sekarang Pelarian

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
June 19, 2021
in Opini
Dinamika “Nyundih” di Nusa Penida: Dulu Kebutuhan, Sekarang Pelarian

Perlengkapan “nyundih” di Nusa Penida [Foto Penulis]

Bagi masyarakat pesisir Nusa Penida, purnama-tilem tidak hanya dianggap sebagai hari suci (sakral) tetapi juga dijadikan momen spesial mengais rezeki yaitu “nyundih” (nyuluh). “Nyundih” merupakan kegiatan mencari (menangkap) ikan, gurita, udang, kepiting dan lain sebagainya pada malam hari di laut. Karena itu, aktivitas “nyundih” biasanya dilakukan dua atau tiga hari pasca purnama-tilem. Karena pada hitungan hari inilah, air laut mengalami puncak surut pada malam hari.

“Nyundih” berasal kata dasar “sundih” yang maknanya kurang lebih yaitu alat penerang. Artinya, aktivitas “nyundih” tidak bisa dilepaskan dari alat penerang. Alat penerang inilah yang menjadi kunci utamanya. Karena “nyundih” dilakukan pada malam hari.

Karena aktivitasnya di laut, maka “penyundih” harus memahami waktu surut air laut pada malam hari. Walaupun masyarakat di kampung saya tidak pernah mempelajari tentang oseanografi (ilmu kelautan), tetapi mereka sangat paham dengan kondisi (waktu) pasang-surut air laut.

Patokan mereka adalah momen purnama dan tilem. Biasanya, rentang 2-3 hari sebelum purnama-tilem mulai ada kondisi surut air laut. Jika waktu surutnya terjadi pada sore hari, maka semakin ke depan akan terus bergerak telat mendekati malam.

Misalnya, 3 hari sebelum purnama-tilem surut dimulai pada pukul 15.00 wita, maka keesokan harinya akan lebih telat, mungkin sekitar 15.30 atau 16.00. Esoknya lebih telat lagi. Bisa diprediksi pasca 2-3 hari purnama-tilem surut dimulai pada malam hari. Inilah momen yang paling tepat dimanfaatkan warga untuk kegiatan “nyundih”.

Esensi dan Dinamika “Nyundih”

Sebetulnya, tidak semua orang di kampung saya menangkap ikan pada malam hari. Beberapa ada yang melakukan penangkapan di luar malam hari. Misalnya, mereka menangkap ikan ketika air surut pada pagi atau sore hari. Orang-orang di kampung saya menyebutnya dengan istilah “noba”. Padahal, perlengkapan dan teknis penangkapan sama persis dengan “nyundih”. Perbedaannya hanya terletak pada waktu dan kehadiran alat penerang.

Baik “noba” maupun “nyundih” biasanya membawa perlengkapan meliputi alat penangkap dan wadah hasil tangkapan. Alat-alat penangkap yang dibawa biasanya sederhana berupa poke (tombak panak bermata satu), sambleng (tombak panah bermata lebih dari satu), dan seser/ sawu. Sementara itu, wadah hasil tangkapan umumnya berupa dungki atau ember plastik.

Kelebihan perlengkapan “nyundih” terletak pada alat penerang. Tahun 80-an hingga 90-an, alat penerang yang populer digunakan ialah lampu strongking/ petromaks. Warga di kampung saya menyebutnya dengan istilah “damar kaos”. Bahan bakar utamanya ialah minyak tanah, tetapi awal penyalaannya dibantu menggunakan bahan stimulus lain yaitu spritus.

Lampu petomaks memiliki titik nyala pada kantong (kaos) tipis berjaring. Letaknya ditengah-tengah, dibentengi oleh bilah-bilah kaca yang rapat, tebal, menyerupai bentuk tabung. Kaca-kaca ini mungkin berfungsi untuk melindungi nyala kaos tipis itu dari sentuhan benda lain yang sifatnya merusak. Pun melindungi nyala kaos tipis dari serangan angin.

Di dalam benteng kaca, persisnya di bawah kantong tipis, ada wadah kecil menaruh spritus. Ketika spritus bersentuhan dengan api, maka api sedikit demi sedikit membakar bagian permukaan kaos. Begitu kaos terbakar, api dari sumber spritus mati (karena spritus habis). Pada saat inilah, pompa lampu petromaks yang terletak di bagian tangki bawah dimainkan naik-turun. Sesekali, spuyer lampu juga ikut diputar ke arah kanan-kiri. Alat berbentuk bunder pipih ini berfungsi mengatur tekanan bahan bakar.

Lampu petromaks inilah yang dipanggul dengan sanan bersama benda berat lainnya (diikat pada ujung), sebagai penyeimbang. Agar cahaya lampu lebih terfokus, biasanya petromaks dilengkapi dengan tedung (seperti piringan agak melengkung ke bawah). Tedung ini membatasi kumpulan cahaya sehingga ikan-ikan tertarik lebih dekat dengan para “penyundih”. Bahkan, beberapa ikan seperti ikan lamat (anak-anak ikan) sangat menyukai dan memburu cahaya petromaks.

Pembatasan cahaya dan efek cahaya lampu menyebabkan ikan, udang, kepiting, gurita menjadi lebih jinak. Di tambah lagi dengan kondisi air laut yang dangkal sehingga binatang laut menjadi terbatas geraknya. Kebanyakan binatang laut ini terjebak dalam kubangan-kubangan air laut yang dangkal. Kondisi ini memudahkan para “penyundih” menangkap hewan-hewan laut tersebut.

Ikan, kepiting, gurita memiliki penyelamatan dengan bersembunyi di balik terumbu karang atau batu karang dasar laut lainnya. Akan tetapi, senjata poke siap menghunjami mereka dari atas. Jika keluar dan memilih bersembunyi di balik rumput laut liar atau lumpur, maka sambleng siap menusuk dari atas. Dan jika hendak berlari ke tempat terbuka, sawu siap menjaringnya.


Lampu petromaks: Peralatan “nyundih” yang populer tahun 80-an dan 90-an di Nusa Penida

Era 80-an dan awal 90-an, lampu petromaks tidak hanya populer di kalangan para “penyundih” tetapi menjadi tumpuan dan andalan penerangan dalam berbagai kegiatan di kampung saya. Peran penting lampu petromaks ini sangat terasa karena kampung saya belum tersentuh listrik. Semua kegiatan sosial seperti piodalan, tiga bulanan, acara balih-balihan mengandalkan lampu petromaks sebagai penerang kala itu.

Lampu petromaks mengalami puncak kejayaan ketika drama gong sedang booming di kampung saya. Saya yakin generasi penggila drama gong pasti tidak bisa melupakan pregina-pregina legendaris di kampung, kisah-kisah dramatisnya, dan tentu saja peran lampu penerang “petromaks” saat pertunjukan.

Kepemilikan atas lampu petromaks juga tidak sembarang. Tidak semua warga di kampung saya memiliki lampu petromaks. Hanya orang-orang tertentu (ekonominya cukup) yang bisa memiliki lampu ini. Lampu petromaks seolah-olah menjadi citra status sosial di kampung saya kala itu.

Sebelum lampu petromaks merajai dunia “persundihan” di kampung saya, konon tradisi “nyundih” dulu menggunakan “prarak” sebagai alat penerang. Daun kering dari kelapa dilepaskan dari tulang daunnya, kemudian diikat segenggam tangan orang dewasa. Menurut paman saya, para “penyundih” membawa beberapa ikat “prarak” sesuai kebutuhan. “Prarak” inilah yang dibakar dengan korek api dan digunakan sebagai penerang saat “nyundih”.

Alat penerang “prarak” tentu murah meriah. Tidak membutuhkan biaya operasional semahal lampu petromaks. Keberadaannya juga melimpah dan gampang didapat. Karena itu, “prarak” tetap populer digunakan sebagai alat penerang mencari kleted oleh anak-anak zaman saya.

Kleted adalah sejenis serangga (kumbang) berukuran kecil, empat kali lipat lebih kecil dari kumbang kotoran sapi (beduda), warnanya coklat mengkilap, dan pemakan daun-daunan. Kleted tergolong kumbang nokturnal. Siangnya, menimbun diri di dalam tanah, dengan ciri gundukan tanah kecil dan halus di atasnya. Malam harinya, mereka keluar beraktivitas mencari makan. Mereka memakan berbagai jenis daun seperti daun sawo, mangga, jambu, dan terutama daun pisang.

Cara menangkapnya mudah. Jika bertengger pada daun yang rendah, kita cukup mengambilnya dengan tangan. Namun, jika bertengger pada daun yang agak tinggi, maka “prarak” diangkat lebih tinggi. Ujung “prarak” yang menyala didekatkan dengan badan “kleted”. Rasa panas api menyebabkan “kleted” terjatuh ke tanah. Selanjutnya, kleted tinggal dipungut dan dimasukkan ke dalam bumbung.

Era saya kecil, kleted menjadi lauk populer di kampung saya. Cara mengolahnya sederhana. Cukup digoreng hingga matang. Kemudian, dimakan dengan atau tanpa nasi. Keberadaan “kleted” bersifat musiman. Serangga ini biasanya eksis bersamaan dengan musim tanam jagung.

Begitu juga dengan “nyundih”. Aktivitas “nyundih” dilakukan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan lauk di dapur. Jarang sekali ada warga sampai menjual hasil tangkapan “nyundih”. Biasanya, hasil tangkapan digunakan murni untuk dikonsumsi. Berbeda dengan nelayan. Orientasinya ialah menjual hasil tangkapan.

Berbicara soal hasil tangkapan “nyundih”, seingat saya makin ke depan hasil tangkapannya kurang maksimal. Waktu kecil (tahun 80-an), saya ingat hasil tangkapan “nyundih” dari ayah saya sangat maksimal. Satu dungki  besar bisa penuh. Belum lagi, ember lain juga penuh. Jenis tangkapannya pun bervariasi, misalnya ikan, gurita, udang (lobster), siput, belut laut, kepiting dan lain sebagainya.

Ya, mungkin waktu itu ekosistem laut masih terjaga dengan baik. Terumbu karang, rumput laut liar, lumut, batu-batu karang dasar laut, dan lain-lainnya masih terpelihara dengan baik. Namun, ketika budidaya rumput laut mulai merambah sekitar tahun 90-an, masyarakat berebut mencari lahan (petak) untuk ditanami rumput laut. Karang-karang dasar laut dan termasuk terumbu karang harus dibersihkan dari areal petak rumput laut. Dari sinilah, keberadaan biodata laut mulai sedikit terganggu.

Perlengkapan “nyundih” di Nusa Penida

Penguasaan petak-petak (lahan) oleh petani rumput laut menyebabkan arena “nyundih” semakin sempit. Populasi ikan dan jenis hewan laut lainnya juga dirasakan berkurang. Mungkin faktor inilah salah satu yang menjadi penyebab semakin berkurangnya hasil tangkapan “nyundih” dari warga.

Padahal, era kejayaan budi daya rumput laut orang semakin jarang melakukan aktivitas “nyundih”. Ya, mungkin kebanyakan petani rumput laut lelah karena seharian melakukan aktivitas bertani rumput laut. Selain itu, banyak yang beranggapan bahwa kebutuhan terhadap lauk dapat dipenuhi dengan cara membeli dari para nelayan. Karena perekonomian masyarakat pesisir waktu itu cukup baik.

Dampaknya, aktivitas “nyundih” kian berkurang pendukungnya. Pasca runtuhnya rumput laut (awal tahun 2000-an), aktivitas “nyundih” juga lerlihat sepi. Kesepian ini berlanjut ketika pariwisata berkembang di NP mulai sekitar tahun 2016. Aktivitas “nyundih” menemui titik nadir.

Namun, di penghujung tahun 2019 pariwisata NP anjlok dilanda pandemi Covid-19. Ekonomi masyarakat di kampung saya mulai kedodoran. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan lauk dirasakan sangat sulit. Kondisi ini menyebabkan aktivitas “nyundih” mendapat dukungan kembali. Beberapa anak milenial mulai melakukan aktivitas “nyundih” untuk memenuhi keperluan lauk dapurnya.

Namun, ada perubahan “nyundih” masa kini dengan masa sebelumnya, terutama pada alat penerangnya. Ketika lampu petromaks sudah masuk museum, maka muncul alat penerang yang lebih praktis dan portabel yaitu lampu senter (charger) dengan berbagai tipe. Umumnya, tipe yang paling digandrungi oleh masyarakat ialah lampu senter yang diletakkan di atas kepala.

Bukan hanya berbeda soal alat penerang, “nyundih” dulu dan sekarang juga memiliki spirit yang tak sama. Dulu,  “nyundih” menjadi ketulusan untuk menghadapi kenyataan (kebutuhan) hidup. Akan tetapi, sekarang “nyundih” tak ubahnya sebagai sebuah spirit pelarian kenyataan hidup. [T]

___

BACA artikel lain tentang Nusa Penida dari penulis Ketut Serawan

Tags: KlungkungNusa Penida
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Upaya Mengenggam Kebahagiaan | Ulasan Novel “Gas” Nanoq da Kansas

Next Post

Dona dan Lelaki Jangkung | Cerpen Dian Ayu Lestari

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails
Next Post
Dona dan Lelaki Jangkung | Cerpen Dian Ayu Lestari

Dona dan Lelaki Jangkung | Cerpen Dian Ayu Lestari

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co