14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Drama Politik | Bupati Masuk Kandang Banteng Setelah Bertempur Menundukkan Sang Banteng

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
May 10, 2021
in Khas
Drama Politik | Bupati Masuk Kandang Banteng Setelah Bertempur Menundukkan Sang Banteng

Gede Winasa, Putu Bagiada dan Nyoman Suwirta | Foto-foto diambil dari Google

Politik itu drama. Ia fakta, ada peristiwanya, tapi kisahnya seakan-akan rekaan, mirip-mirip fiksi. Bupati Klungkung Suwirta mengumumkan dirinya masuk PDIP. Yang seakan drama, Suwirta masuk kandang banteng setelah dua kali bertempur menjadi bupati dengan menundukkan calon-calon bupati dari PDIP.

Kisah politik Suwirta bukan pentas drama baru di dunia politik di Bali. Seperti kisah-kisah cinta dalam drama picisan yang selalu berulang, kisah dalam drama politik juga kadang berulang-ulang.

Sebelumnya-sebelumnya ada kisah yang mirip. Tokoh politik yang sedang duduk di kursi Bupati melompat ke kandang banteng setelah dalam pemilihan bupati sebelumnya sempat mengalahkan calon bupati dari PDIP, bahkan mengalahkan dengan pertempuran politik yang sengit. 

Satu kisah terjadi di Jembrana dengan tokoh utama yang kontroversial, Gede Winasa. Satu lagi di Buleleng dengan tokoh tak terduga-duga, Putu Bagiada. Begini kisahnya:

Drama Winasa

Setelah Soeharto dengan Orde Baru jatuh, PDI (Partai Demokrasi Indonesia) yang berubah nama menjadi PDI Perjuangan (PDIP) langsung meroket. Di mana-mana, terutama di Bali, PDIP langsung berkuasa dalam pemilu legislatif tahun 1999. PDIP menang di semua kabupaten dan kota sehingga jumlah kader PDIP yang menjadi anggota DPRD di semua kabupaten dan kota, termasuk di provinsi, juga terbanyak.

Logikanya, dengan anggota DPRD terbanyak, PDIP bisa menang mudah dalam pemilihan kepala daerah. Saat itu, pemilihan kepala daerah dilakukan lewat sidang DPRD. Yang memilih hanya anggota DPRD, belum berlaku sistem pemilihan langsung oleh rakyat. Jika terjadi voting, PDIP dengan jumlah suara terbanyak pastilah bisa memenangkan calon bupati dari PDIP.

Tapi nyatakan tidak. Di Kabupaten Jembrana, pada sidang Pemilihan Bupati, calon Bupati dari PDIP, Ketut Sandyasa, ternyata kalah. Yang menang adalah calon Bupati I Gede Winasa yang saat itu berpasangan dengan Suania. Padahal Winasa-Suania diusung oleh fraksi dari partai kecil di Jembrana, yakni PPP dan Partai Republik.

Winasa saat itu mendapatkan 19 suara, sementara saingannya mendapat 11 suara. Kemenangan Winasa tentu saja menimbulkan protes dari kader dan massa PDIP saat itu, karena secara logika calon PDIP tak mungkin kalah. Massa PDIP marah terhadap anggota Fraksi PDIP yang beberapa di antaranya diduga membelot untuk mendukung Winasa.

Gelombang protes berlanjut hingga ke acara pelantikan Winasa sebagai Bupati Jembrana. Acara pelantikan berlangsung ricuh sampai menimbulkan korban jiwa. Seorang kader PDIP tewas saat terjadi kericuhan sehingga pelantikan batal dan diundur. Winasa akhirnya dilantik Agustus 2000.

Setelah menjabat sebagai Bupati Jembrana, nama Winasa moncer, Program-programnya yang unik, langka, dan juga kontroversial mendapatkan perhatian besar, bukan saja bagi masyarakat Jembarana, melainkan juga dari berbagai kalangan di Bali dan Indonesia. Misalnya SPP gratis, Bebas Pajak bagi Petani, dan yang paling banyak mendapat pujian adalah keberaniannya melakukan reformasi di bidang birokrasi.

  • BACA JUGA: 32 Fakta I Gede Winasa yang Perlu Anda Ketahui

Nah, menjelang Pilkada 2005, Winasa tiba-tiba melompat ke kandang banteng. Ia tak hanya menjadi kader PDIP, tapi juga berhasil merebut kursi Ketua DPC PDIP Jembrana. Ia mendapat dukungan penuh dari PAC-PAC PDIP di kecamatan, sehingga tak ada yang bisa menghalangi langkahnya untuk memimpin PDIP.

Perhitungan Winasa sungguhlah matang. Dengan menjadi Ketua DPC PDIP, langkahnya untuk menjadi calon bupati pada Pilkada 2005 akan berjalan mulus. Karena, pada Pilkada 2005, pemilihan sudah harus dilakukan secara langsung, bukan lagi lewat sidang yang penuh drama di Gedung DPRD sebagaimana pilkada sebelumnya.

Dan, singkat cerita, saat Pilkada 2005, Winasa mendapat rekomendasi untuk menjadi calon bupati dengan usungan penuh dari PDIP, partai yang ia kalahkan pada Pilkada sebelumnya. Ia berpasangan dengan  I Putu Artha.

Pasangan Winasa-Artha menang telak pada Pilkada 2005. Pasangan itu meraih 88,56 persen suara. Konon perolehan suara Winasa pada Pilkada itu terbesar di Indonesia. Untuk jumlah perolehan yang besar itu, Winasa pun dianugerahi penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Winasa pun menjadi Bupati Jembrana untuk periode kedua, 2005-2010.

Drama politik Winasa pun menemui babak baru ketika ia gagal mendapatkan rekomendasi PDIP untuk mencalonkan diri menjadi Calon Gubernur pada Pilgub Bali 2008. Ia nekat mencalonkan diri melalui Partai Demokrat, dan dikalahkan oleh calon gubernur dari PDIP, Mangku Pastika-Puspayoga.

Sejak kekalahan di Pilgub Bali, nama Winasa dalam percaturan politik di Bali merosot. Apalagi, setelah pensiun dari kursi Bupati, ia terlibat sejumlah kasus korupsi dan masuk penjara.

Drama politik Winasa secara personal mungkin berakhir, tapi drama politik di Jembrana terus bersambung dan makin seru, bahkan sepertinya selalu saja ada nama Winasa dalam setiap Pilkada.

Mantan wakil Winasa, yakni I Putu Artha, maju menjadi calon bupati yang diusung PDIP pada Pilkada Jembrana 2010. Artha berpasangan dengan Kembang Hartawan yang saat itu menjadi Ketua DPRD Jembrana. Sementara Winasa tetap melawan melalui anaknya, I Gede Ngurah Patriana Krisna, yang menjadi calon bupati melalui Partai Demokrat dan Partai Golkar.

Pasangan Artha-Kembang menang. Anak Winasa kalah.

Tapi drama belum berakhir. Setelah dua periode memimpin Jembrana, pasangan Arta-Kembang menjalani babak politik baru. Arta tak bisa mencalonkan diri lagi karena peraturan tak membolehkannya maju lagi, maka majulah Kembang Hartawan menjadi calon bupati pada Pilkada 2020.

Dan kita tahu, Kembang kalah. Siapa yang mengalahkannya? Kita semua tahu, yang mengalahkan adalah Patriana Krisna, anak Winasa yang saat Pilkada ini menjadi calon wakil bupati, sementara calon bupatinya adalah Nengah Tamba. Pasangan itu diusung oleh Partai Golkar-Gerindra-Demokrat.

Jadi, drama ini, untuk sementara berakhir dengan Patriana Krisna yang sukses mengalahkan calon dari PDIP, sebagaimana bapaknya, Gede Winasa, yang sukses juga mengalahkan calon PDIP pada Pilkada 2000.

Apakah Patriana juga akan lompat ke PDIP sebagaimana pernah dilakukan Winasa dulu setelah sempat mengalahkan PDIP? Ah, soal itu, siapa pun tak tahu.

Drama Bagiada

Tahun 2002, drama serupa terjadi di Kabupaten Buleleng. Pada Pilkada yang dilakukan melalui sidang DPRD, pasangan calon bupati dan calon wakil bupati, Putu Bagiada dan Gede Wardana, menang, mengalahkan calon bupati dan wakil bupati yang diusung Fraksi PDIP, Nyoman Sudharmaja Duniaji dan Nyoman Sudiana.

Kisahnya sungguh mirip dengan yang terjadi dalam sidang pemilihan bupati di Jembrana tahun 2000. Di DPRD Buleleng, jumlah anggota Fraksi PDIP terbanyak, bahkan jumlah kader PDIP setengah lebih dari keseluruhan 45 jumlah anggota DPRD Buleleng. Namun calon dari PDIP kalah.

Pasangan Bagiada-Wardana memperoleh 25 suara, sementara pasangan Sudharmaja-Sudiana hanya mendapatkan 18 suara. Sama seperti di Jembrana, usai sidang terjadi kericuhan karena massa PDIP marah dan sejumlah anggota Fraksi PDIP membelot, tidak memilih calon PDIP, namun memilih calon dari fraksi lain. Saat itu, pasangan Bagiada-Wardana diusung oleh gabungan fraksi di luar PDIP, termasuk fraksi TNI/Polri.

Meski terjadi kericuhan dalam waktu yang cukup panjang, Bagiada-Wardana akhirnya dilantik memimpin Buleleng sekitar Agustus 2002.  Awal-awal periode pertama Bagiada-Wardana memimpin Buleleng suasana panas politik masih tetap terasa dalam pemerintahan, apalagi Ketua DPRD saat itu masih dipegang Sudharmaja yang sebelumnya dikalahkan Bagiada saat Pilkada.

Namun, lagi-lagi serupa tapi tak sama dengan drama politik di Jembrana. Menjelang Pilkada 2007 yang dilakukan secara langsung, Bagiada harus mencari kendaraan politik untuk bisa mencalonkan diri lagi menjadi bupati. Ia sempat ikut bersaing untuk merebut ketua DPC Partai Demokrat Buleleng dengan harapan bisa mencalonkan diri lewat Partai Demokrat. Tapi lacur, dalam pemilihan itu Bagiada dikalahkan oleh I Gede Dharma Wijaya, sehingga niatnya untuk maju lewat Partai Demokrat rontok seketika.

Tapi, situasi politik saat itu memang berpihak pada Bagiada. Apakah Bagiada yang mendekati PDIP atau PDIP yang mendekati Bagiada, nama Bagiada lantas masuk kandang banteng. Namanya dibicarakan dalam bursa calon Bupati dari PDIP untuk bertanding dalam Pilkada Buleleng 2007. Jalan begitu mulus, Bagiada akhirnya mendapatkan rekomendasi untuk maju sebagai calon bupati berpasangan dengan kader PDIP dari kota Singaraja, Arga Pynatih.

Pasangan Bagiada-Arga Pynatih menang dalam Pilkada Buleleng 2007. Ia mengalahkan tiga pasangan lainnya, yakni Sugawa Korry-Luh Kerianing, paket Ray Yusa-Putu Febri Antari, dan pasangan Made Westra-Ketut Englan. Sehingga, jadilah Bagiada sebagai petugas partai dari PDIP untuk memimpin Buleleng 2007-2012.

  • BACA JUGA: Putu Bagiada | Dari Bupati ke Bhawati, Dari Riuh Politik ke Hening Pengetahuan

Sampai di situ, drama politik Bagiada memang mirip dengan drama politik Winasa di Jembrana. Yang berbeda, meski Bagiada masuk kandang banteng, ia tak pernah menjabat sebagai Ketua DPC PDIP sebagaimana Winasa. Ia mungkin juga tak punya kartu anggota PDIP, tapi, saat itu, ia jelas Bupati dari PDIP. 

Menjelang Pilkada 2012, drama politik Bagiada kembali mirip dengan Winasa. Ia tak bisa lagi mencalonkan diri karena sudah menjabat dua periode, maka ia mendorong anaknya, Gede Ariadi untuk maju. Karena tak bisa mendapatkan rekomendasi dari PDIP, Ariadi kemudian diusung oleh Partai Golkar, PKPB, dan PAN, berpasangan dengan Wayan Artha yang saat itu menjadi Wakil Ketua DPRD. Praktis, pada Pilkada 2012, Bagiada kembali “memusuhi” PDIP. 

Sama seperti anak Winasa, anak Bagiada juga dikalahkan calon bupati dari PDIP. Gede Ariadi-Artha kalah oleh pasangan Putu Agus Suradnyana-Nyoman Sutjidra. Mirip-mirip seperti drama di Jembrana, usai menjabat Bupati, Bagiada pun terjerat kasus korupsi.

Drama Suwirta

Ini drama terbaru dalam dunia politik. Masri lompat ke Klungkung. Di gumi serombotan itu tampaknya terjadi juga drama lompat-lompatan politik. Meski agak beda plot dan alurnya, drama politik di Klungkung tampaknya bisa membuktikan bahwa trend bupati lompat ke partai lain setelah sempat mengalahkan partai itu, , tampaknya tak akan pernah stop sepanjang masih ada Pilkada.

Awal Mei 2021 ini, I Nyoman Suwirta, Bupati Klungkung yang masih duduk di kursi Bupati, mengumumkan diri masuk kandang banteng dan secara resmi menerima kartu anggota PDIP. Langkah ini tidak terlalu mengejutkan, karena isunya di media massa termasuk santer sejak sekitar setahun lalu.

Seperti kisah Bupati Winasa dan Bupati Bagiada, Suwirta juga sempat mengalahkan PDIP dalam Pilkada sebelumnya. Bukan hanya satu pilkada, tapi dua pilkada. Suwirta bahkan mengalahkan PDIP dalam dua pemilihan langsung, bukan pemilihan tertutup dalam sidang DPRD sebagaimana terjadi di Jembrana dan Buleleng pada awal-awal Orde Reformasi.

Pada Pilkada Klungkung 2013 terdapat empat pasang calon Bupati dan Wakil Bupati. Saat itu I Nyoman Suwirta I Made Kasta  diusung Partai Gerindra, PKPB, PNBKI dan memperoleh 34.788 suara (31,90%). Pasangan ini mengalahkan calon dari PDIP, Anak Agung Gde Anom dan I Wayan Regeg yang hanya mendapatkan 27.728 suara (25,42%).

Setelah sukses menaikkan citra Klungkung sebagai kabupaten kecil yang maju dan jaya, banyak yang kemudian menduga, Suwirta bakal lompat ke PDIP pada Pilkada Klungkung 2018. Sejumlah berita di media massa menyebut-nyebut, sejumlah tokoh PDIP mulai menebarkan “rayuan” agar Suwirta mau dicalonkan PDIP sebagai Bupati untuk kedua kalinya, dan PDIP sendiri cukup “menitipkan” calon wakil bupati.

Tapi, saat gong Pilkada Klungkung 2018 ditabuh, Suwirta tetap berpasangan dengan Kasta, untuk maju ke periode kedua. Partai yang mengusungnya adalah Gerindra, Nasdem, Demokrat, Golkar. Pasangan ini head to head dengan calon dari PDIP, Tjokorda Bagus Oka-I Ketut Mandia

Kita tahu, Suwirta-Kasta kembali menang, bahkan menang telak. Pasangan itu meraih 92.944 suara atau 76,23 persen. Pasangan PDIP  Tjokorda Bagus Oka-I Ketut Mandia hanya mendapatkan 28.977 suara atau 23,77 persen.

Setelah pemerintahan periode kedua berjalan sekitar tiga tahun, Suwirta melompat ke PDIP. Keputusan ini tentu beda motif dengan Bupati Winasa dan Bagiada. Winasa dan Bagiada lompat ke kandang banteng menjelang Pilkada dengan motif jelas untuk bisa maju lagi merebut kekuasaan periode kedua.

Suwirta tak perlu lagi merebut kekuasaan periode kedua, karena tanpa PDIP pun ia sudah menang. Tapi, ia justru melompat ketika berada pada kemenangan periode kedua. Apakah motifnya untuk bisa melangkah ke kursi gubernur atau wakil gubernur? Ah, tentu saja prediksi itu bakal dibantah.

Dalam sebuah berita media massa, Suwirta menyebut langkahnya bergabung ke PDIP untuk melanjutkan garis perjuangan, dan hanya sebatas sebagai kader biasa. “Saya ingin membangun Klungkung, lebih baik ke depan di sisa kepemimpinan yang kurang dari 3 tahun ini.“ kata Nyoman Suwirta, Minggu (2/5), sebagimana dikutip Kanal Bali/Kumparan.

Apakah ada alasan lain? Ah, sepertinya hanya Suwirta dan Tuhan yang tahu. [T]

Tags: I Gede WinasaNyoman SuwirtaPilkada BulelengPilkada JembranaPilkada KlungkungPolitikPutu Bagiada
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali yang Cantik dan Turis yang Nyeleneh

Next Post

Belajar dari Bitcoin | Yuk, Investasi Karya Sastra Bali Modern di Suara Saking Bali untuk Masa Depan yang Gemilang

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Belajar dari Bitcoin | Yuk, Investasi Karya Sastra Bali Modern di Suara Saking Bali untuk Masa Depan yang Gemilang

Belajar dari Bitcoin | Yuk, Investasi Karya Sastra Bali Modern di Suara Saking Bali untuk Masa Depan yang Gemilang

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co