12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pisang Susu dari Desa Siakin, Legenda Rasa yang Hampir Punah | Perlu Dibuatkan SE?

Nyoman Nadiana by Nyoman Nadiana
February 18, 2021
in Khas
Pisang Susu dari Desa Siakin, Legenda Rasa yang Hampir Punah | Perlu Dibuatkan SE?

Pisang bali dan pisang susu dari Desa Siakin, Kintamani, Bangli

Hujan gerimis menjelang sore ketika kabut putih terlihat di atas bukit hutan kintamani. Di situ ada sebuah desa. Di desa itu konon terdapat tanaman pisang dengan buah yang lezat tiada dua. Biu bali dan biu susu. Pisang bali dan pisang susu.

Timbul keinginan untuk menyibak kabut dan menemukenali lewat cerita dari pelaku nyata tentang melegendanya  pisang susu dari desa itu. Pisang bali dan pisang susu yang tak ada di swalayan, yang tak sepopuler jenis-jenis pisang modern dari Thailand. Tapi melegenda.

Itulah pisang bali dan pisang susu dari Desa Siakin, desa di tengah bukit Kintamani, Bangli itu.

Alam memang penuh dengan misteri dan kebaikan ketika saya berhenti di sebuah jalan tanjakan miring, saya lihat seseorang berdiri di teras pondok. Seorang nenek. Namanya kemudian saya tahu, Ketut Rasa, 67 tahun usianya. 

Saya langsung memanggilnya Dadong Ketut. Perkenalan saya dan Dadong Ketut pun terasa seperti cucu dengan neneknya padahal baru bertemu. Kekhasan sapa penduduk di pegunungan memang penuh kesederhanaan dan kehangatan.

Biu bali dan biu susu menjadi obrolan hangat di tengah isem atau kabut berteman kopi yang disangrai sendiri oleh Dadong dan dipetik dari kebunnya sendiri juga. Sangat mewah memang. Dadong Ketut Rasa adalah salah satu pelaku yang berkaitan erat dengan biu bali dan biu susu dri Siakin.

Ya. Sangat kebetulan, Dadong Ketut Rasa adalah pedagang biu bali dan biu susu sejak ia masih kecil.  Ceritanya mengalir tentang bagaimana biu bali dan biu susu siakin, tentang betapa disukainya pisang itu oleh para pembeli.

Pisang bali yang dimaksud di Desa Siakin mirip seperti pisang atau biu gedangsaba, bentuk buahnya bersegi-empat, tapi warga di situ mengatakan pisang itu bukan pisang gedangsaba sebagaimana banyak ditemukan di desa lin di Bali. Pisang susu, tentu saja semua tahu. Itu pisang dengan lingkar kulit tanpa segi. Ada bitnik-bintik hitam, bahkan kadang banyak noda hitam pada kulit buahnya.

Hampir setiap hari Dadong Ketut Rasa membawa dagangannya, mulai jam 06.00 pagi, dari Siakin ke Pasar Desa Les, Tejakula, Buleleng. Dan tiga hari sekali ke  Pasar Desa Penuktukan dengan membawa hasil pertanian, yang pasti pisang bali dan pisang susu.

Memang, sejak saya kecil di Deswa Les, biu susu dan biu bali siakin sudah sangat terkenal karena mempunyai tekstur legit, awet, bisa di biarkan sampai 10 hari, dan tidak benyek.

Penulis bersama Dadong Ketut Rasa di Desa Siakin

Kata Dadong Ketut Rasa, 20 tahun yang lalu adalah saat-saat terakhir ia berjalan untuk memasarkan pisang susu dan pisang bali ke Desa Les. Harganya masih  satus ringgit atau sekitar Rp.250. Sekarang di petani satu butir sudah Rp.1.000, kalau di pasar sudah pasti lebih.

Angka yang fantastis terlebih dari dulu harga pisang susu dan pisang bali siakin ini sangat tinggi,mengalahkan varian pisang yang lain.

Dadong Ketut Rasa bercerita dengan semangatnya tentang pisang bali dan pisang susu di desanya. Tak lupa saya diajak ke kebun.

Di kebun saya menemukan pohon pisang bali. Sangat beruntung pisang itu baru berbuah sejak 5 bulan kalender bali (satu bulan = 35 hari). Kurang beruntungnya, ya, buahnya belum matang. Diperkirakan akan matang dua bulan lagi.

Di kebun saya bertemu saudagar pisang di Desa Siakin, Nyoman Sumatra. Usianya kira-kira 50 tahun.

Laiknya kisah anak di Desa Siakin yang belajar ilmu dagang dari orang tuanya, Sumatra naik turun berjalan kaki lewat gege ( bukit terjal) ke Desa Les dan Desa Penuktukan yang jaraknya, kalu dihitung bolak-balik sekitar 30 kilometer. Ia berjalan sembari memikul keranjang berisi pisang.  Terkadang bermalam di rumah warga di Desa Les atau Penuktukan kalau musim hujan/ “Tapi kebanyakan perjalanan bolak-balik,”  kenangnya.

Kenapa kalau ngomongin biu susu dan biu bali di wilayah Tejakula, mungkin juga di wilayah Kintamani, identik dengan Desa Siakin?

Sumatra menjawab dengan sangat polos sesuai dengan yang ia lakukan sebagai petani dan  pedagang pisang. Rasa pisang bali dan pisang susu siakin memang spesial, banyak faktor semisal kondisi geografis, yakni kondisi tanah, ketinggian dan tanah tak terlalu dingin. Biu itu bisa juga berkembang di daerah lain tapi rasa pasti tak akan sama dengan pisang susu dan bali yang tumbuh di Siakin. Di tengah pandemi yang hampir setahun berlangsung ini, harga pisang ini per butirnya malah tambah mahal, katanya.

Bersama saudagar pisang, Nyoman Sumatra (kiri)

Pisang susu dan bali dari Desa Siakin juga pernah mengalami masa kritis, hampir punah, seperti punahnya jeruk tejakula. Sepuluh tahun lalu penyakit membuat kisah pisang legenda ini hampir tinggal cerita. Tapi semesta memang bekerja dengan banyak keajaiban, beberapa umbi pisang susu dan pisang bali siakin memunculkan tunas dan kembali bisa dikembangbiakan.

Apakah pisang susu dan pisang bali dari Siakin ini pernah diteliti tu dikembangkan oleh pemerintah atau lembaga tertentu?

Sumatra dengan senyum santai sambil berseloroh mengatakan, pemerintah belum pernah ada penelitian atau apapun terkait pisang susu dan bali yang menjadi idola di pasar pisang lokal ini. Padahal, jika diteliti, mungkin saja pisang susu dan pisang bali dari Desa Siakin ini bisa menjadi komuditi unggulan di Bali, mengalahkan pisang jenis impor yang banyak ditemukan di swalayan.

Apakah pisang bali dan pisang susu ini perlu dibuatkan Surat Edaran alias SE? Haha.

Memang, bicara soal produk lokal, semacam pisang susu dari Siakin ini, tentu masalah waktu dan jumlah produksi menjadi hambatan untuk masuk dunia industry.

Untuk mendapatkan hasil maksimal, pisang ini membutuhkan waktu panen yang lama, dan tak bisa ditanam dalam jumlah yang banyak. Tapi mungkin itulah yang menyebabkan pisang itu jadi enak, lezat dan unggul.

Sejak muncul embud (bakal buah) dibutuhkan 6 bulan kalender bali (6 X 35 hari) agar siap dipanen. Kalau pisang biasa saja mungkin setengahnya. Dan dalam pekatnya kabut sebelum saya pamit, Sumatra berkata: biu bali dan biu susu siakin sing ade ngalahang (pisang bali dan pisang susu Siakin tak terkalahkan  di tengah gempuran pisang thailand.

Kalau banyak-banyakan, jelas pisang siakin kalah sama pisang thailand. Tapi, industri memerlukan sesuatu yang banyak dan terus-menerus. Sementara, pisang susu Siakin, meski enak, tapi panennya lama juga tak bisa banyak. Tapi justru itu pisang siakin, atau jenis tanaman lokal lain perlu diteliti dengan baik.

Siapa tahu bisa dikembangkan: rasanya tetap enak, panennya bisa lebih cepat, dan tanamnya bisa banyak. Siapa tahu. [T]

  • Editor Adnyana Ole
Tags: buah lokalDesa Siakinekonomipangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Siapa yang Keliru? | Distorsi Makna SE Endek dan Gaya Komunikasi Publik Gubernur Koster

Next Post

Mendulang Kesadaran Palsu Perempuan Bali di Arena Judi “Meceki”

Nyoman Nadiana

Nyoman Nadiana

Anak dari pelosok utara Bali. Suka ke semua penjuru arah mata angin menemukenali semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Mendulang Kesadaran Palsu Perempuan Bali di Arena Judi “Meceki”

Mendulang Kesadaran Palsu Perempuan Bali di Arena Judi “Meceki”

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co