14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pisang Susu dari Desa Siakin, Legenda Rasa yang Hampir Punah | Perlu Dibuatkan SE?

Nyoman Nadiana by Nyoman Nadiana
February 18, 2021
in Khas
Pisang Susu dari Desa Siakin, Legenda Rasa yang Hampir Punah | Perlu Dibuatkan SE?

Pisang bali dan pisang susu dari Desa Siakin, Kintamani, Bangli

Hujan gerimis menjelang sore ketika kabut putih terlihat di atas bukit hutan kintamani. Di situ ada sebuah desa. Di desa itu konon terdapat tanaman pisang dengan buah yang lezat tiada dua. Biu bali dan biu susu. Pisang bali dan pisang susu.

Timbul keinginan untuk menyibak kabut dan menemukenali lewat cerita dari pelaku nyata tentang melegendanya  pisang susu dari desa itu. Pisang bali dan pisang susu yang tak ada di swalayan, yang tak sepopuler jenis-jenis pisang modern dari Thailand. Tapi melegenda.

Itulah pisang bali dan pisang susu dari Desa Siakin, desa di tengah bukit Kintamani, Bangli itu.

Alam memang penuh dengan misteri dan kebaikan ketika saya berhenti di sebuah jalan tanjakan miring, saya lihat seseorang berdiri di teras pondok. Seorang nenek. Namanya kemudian saya tahu, Ketut Rasa, 67 tahun usianya. 

Saya langsung memanggilnya Dadong Ketut. Perkenalan saya dan Dadong Ketut pun terasa seperti cucu dengan neneknya padahal baru bertemu. Kekhasan sapa penduduk di pegunungan memang penuh kesederhanaan dan kehangatan.

Biu bali dan biu susu menjadi obrolan hangat di tengah isem atau kabut berteman kopi yang disangrai sendiri oleh Dadong dan dipetik dari kebunnya sendiri juga. Sangat mewah memang. Dadong Ketut Rasa adalah salah satu pelaku yang berkaitan erat dengan biu bali dan biu susu dri Siakin.

Ya. Sangat kebetulan, Dadong Ketut Rasa adalah pedagang biu bali dan biu susu sejak ia masih kecil.  Ceritanya mengalir tentang bagaimana biu bali dan biu susu siakin, tentang betapa disukainya pisang itu oleh para pembeli.

Pisang bali yang dimaksud di Desa Siakin mirip seperti pisang atau biu gedangsaba, bentuk buahnya bersegi-empat, tapi warga di situ mengatakan pisang itu bukan pisang gedangsaba sebagaimana banyak ditemukan di desa lin di Bali. Pisang susu, tentu saja semua tahu. Itu pisang dengan lingkar kulit tanpa segi. Ada bitnik-bintik hitam, bahkan kadang banyak noda hitam pada kulit buahnya.

Hampir setiap hari Dadong Ketut Rasa membawa dagangannya, mulai jam 06.00 pagi, dari Siakin ke Pasar Desa Les, Tejakula, Buleleng. Dan tiga hari sekali ke  Pasar Desa Penuktukan dengan membawa hasil pertanian, yang pasti pisang bali dan pisang susu.

Memang, sejak saya kecil di Deswa Les, biu susu dan biu bali siakin sudah sangat terkenal karena mempunyai tekstur legit, awet, bisa di biarkan sampai 10 hari, dan tidak benyek.

Penulis bersama Dadong Ketut Rasa di Desa Siakin

Kata Dadong Ketut Rasa, 20 tahun yang lalu adalah saat-saat terakhir ia berjalan untuk memasarkan pisang susu dan pisang bali ke Desa Les. Harganya masih  satus ringgit atau sekitar Rp.250. Sekarang di petani satu butir sudah Rp.1.000, kalau di pasar sudah pasti lebih.

Angka yang fantastis terlebih dari dulu harga pisang susu dan pisang bali siakin ini sangat tinggi,mengalahkan varian pisang yang lain.

Dadong Ketut Rasa bercerita dengan semangatnya tentang pisang bali dan pisang susu di desanya. Tak lupa saya diajak ke kebun.

Di kebun saya menemukan pohon pisang bali. Sangat beruntung pisang itu baru berbuah sejak 5 bulan kalender bali (satu bulan = 35 hari). Kurang beruntungnya, ya, buahnya belum matang. Diperkirakan akan matang dua bulan lagi.

Di kebun saya bertemu saudagar pisang di Desa Siakin, Nyoman Sumatra. Usianya kira-kira 50 tahun.

Laiknya kisah anak di Desa Siakin yang belajar ilmu dagang dari orang tuanya, Sumatra naik turun berjalan kaki lewat gege ( bukit terjal) ke Desa Les dan Desa Penuktukan yang jaraknya, kalu dihitung bolak-balik sekitar 30 kilometer. Ia berjalan sembari memikul keranjang berisi pisang.  Terkadang bermalam di rumah warga di Desa Les atau Penuktukan kalau musim hujan/ “Tapi kebanyakan perjalanan bolak-balik,”  kenangnya.

Kenapa kalau ngomongin biu susu dan biu bali di wilayah Tejakula, mungkin juga di wilayah Kintamani, identik dengan Desa Siakin?

Sumatra menjawab dengan sangat polos sesuai dengan yang ia lakukan sebagai petani dan  pedagang pisang. Rasa pisang bali dan pisang susu siakin memang spesial, banyak faktor semisal kondisi geografis, yakni kondisi tanah, ketinggian dan tanah tak terlalu dingin. Biu itu bisa juga berkembang di daerah lain tapi rasa pasti tak akan sama dengan pisang susu dan bali yang tumbuh di Siakin. Di tengah pandemi yang hampir setahun berlangsung ini, harga pisang ini per butirnya malah tambah mahal, katanya.

Bersama saudagar pisang, Nyoman Sumatra (kiri)

Pisang susu dan bali dari Desa Siakin juga pernah mengalami masa kritis, hampir punah, seperti punahnya jeruk tejakula. Sepuluh tahun lalu penyakit membuat kisah pisang legenda ini hampir tinggal cerita. Tapi semesta memang bekerja dengan banyak keajaiban, beberapa umbi pisang susu dan pisang bali siakin memunculkan tunas dan kembali bisa dikembangbiakan.

Apakah pisang susu dan pisang bali dari Siakin ini pernah diteliti tu dikembangkan oleh pemerintah atau lembaga tertentu?

Sumatra dengan senyum santai sambil berseloroh mengatakan, pemerintah belum pernah ada penelitian atau apapun terkait pisang susu dan bali yang menjadi idola di pasar pisang lokal ini. Padahal, jika diteliti, mungkin saja pisang susu dan pisang bali dari Desa Siakin ini bisa menjadi komuditi unggulan di Bali, mengalahkan pisang jenis impor yang banyak ditemukan di swalayan.

Apakah pisang bali dan pisang susu ini perlu dibuatkan Surat Edaran alias SE? Haha.

Memang, bicara soal produk lokal, semacam pisang susu dari Siakin ini, tentu masalah waktu dan jumlah produksi menjadi hambatan untuk masuk dunia industry.

Untuk mendapatkan hasil maksimal, pisang ini membutuhkan waktu panen yang lama, dan tak bisa ditanam dalam jumlah yang banyak. Tapi mungkin itulah yang menyebabkan pisang itu jadi enak, lezat dan unggul.

Sejak muncul embud (bakal buah) dibutuhkan 6 bulan kalender bali (6 X 35 hari) agar siap dipanen. Kalau pisang biasa saja mungkin setengahnya. Dan dalam pekatnya kabut sebelum saya pamit, Sumatra berkata: biu bali dan biu susu siakin sing ade ngalahang (pisang bali dan pisang susu Siakin tak terkalahkan  di tengah gempuran pisang thailand.

Kalau banyak-banyakan, jelas pisang siakin kalah sama pisang thailand. Tapi, industri memerlukan sesuatu yang banyak dan terus-menerus. Sementara, pisang susu Siakin, meski enak, tapi panennya lama juga tak bisa banyak. Tapi justru itu pisang siakin, atau jenis tanaman lokal lain perlu diteliti dengan baik.

Siapa tahu bisa dikembangkan: rasanya tetap enak, panennya bisa lebih cepat, dan tanamnya bisa banyak. Siapa tahu. [T]

  • Editor Adnyana Ole
Tags: buah lokalDesa Siakinekonomipangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Siapa yang Keliru? | Distorsi Makna SE Endek dan Gaya Komunikasi Publik Gubernur Koster

Next Post

Mendulang Kesadaran Palsu Perempuan Bali di Arena Judi “Meceki”

Nyoman Nadiana

Nyoman Nadiana

Anak dari pelosok utara Bali. Suka ke semua penjuru arah mata angin menemukenali semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Mendulang Kesadaran Palsu Perempuan Bali di Arena Judi “Meceki”

Mendulang Kesadaran Palsu Perempuan Bali di Arena Judi “Meceki”

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co