2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Upaya-Upaya Kecil Menghidupkan Genggong

tatkala by tatkala
February 15, 2021
in Khas
Upaya-Upaya Kecil Menghidupkan Genggong

Belajar memainkan genggong

Musik genggong di Bali memang langka. Tak banyak anak-anak zaman sekarang tahu tentang musik itu. Mungkin sesekali pernah mendengar, namun tak begitu tertarik untuk menelusurinya, apalagi mempelajarinya. Namun, bukan berarti tak ada yang ngotot dan setia melestarikan alat musik itu, termasuk mengajarkan cara bermainnya ke anak-anak muda.

Dulu tahun 80-an, setiap hari menjelang malam, genggong biasa diperdengarkan di sebuah radio di Bali itu. Lamat-lamat kemudian alat musik itu tak terdengar lagi di ruang publik maupun dikumandangkan lewat media elektronik. Sesekali memang dipentaskan di Pesta Kesenian Bali (PKB), namun penontonnya seringkali kalah dengan pementasan kesenian lain.

Namun kini banyak seniman-seniman Bali yang mulai berjuang untuk mengembangkan musik genggong yang langka itu. Salah satunya,  seniman muda I Ketut Lanus. Ia  dan kawan-kawannya mencoba melakukan eksperimen terhadap musik yang dibuat dari pelepah enau atau pelepah kelapa itu. Di bawah bendera Sanggar Cahya Art, Lanus mengemas musik kuno itu dengan motif-motif baru, sehingga lebih menarik dan inovatif. “Kami bukan mengubah pakem genggong yang sudah ada, tetapi hanya memberi nuansa baru,” katanya.

Genggong, sebuah alat musik yang terbuat dari pohon enao biasanya sebagai seni pertunjukan mengiringi dramatari dengan lakon “Godongan” (kehidupan katak besar). Dramatari kini biasa dipentaskan pada setiap upacara agama Hindu, dan acara spiritual lainnya. Jenis musik langka ini tak sepopuler musik gamelan gong kebyar. Keberadaannya sangat jarang, seperti ada di Karangasem, Desa Batuan Gianyar, dan Desa Munduk Lumbang, Baturiti, Tabanan.

Kini kesenian itu disajikan lebih atraktif. Unsur tari, teater, vokal dan musik ditata secara kental. Ide-ide baru menjadi pengembangannya sehingga mencapai kesempurnaan yang dibutuhkan masyarakat jaman sekarang.  Garapan ini lebih mengungkapkan visual bunyi, tidak ada cerita tetapi menggambarkan karakter katak seperti berjalan dan tingkah polah yang hidup dalam komunitas kelompoknya. Meski bentuknya kecil, tetapi kualitasnya tetap terjaga, bukan memiskinkan seni yang ada.

Sebuah garapan drama tari Bumi Bajra yang memperkenalkan musik genggong

Sajiannya masih berbentuk total musik, namun para pemain juga menari-nari dengan menonjolkan suara godokan. Mereka menari menirukan katak, bercanda, kemudian memainkan alat music, meniup suking dengan berbagai ukuran. “Kami hanya mencoba bereksprimen, masalah bagus dan jelak itu tidak masalah. Saya yakin berikutnya pasti akan bagus,” tegas Lanus seraya mengatakan seni eksprimen ini bakal disajikan pada sebuah event jazz di Bali.

Lagu-lagu (nyanyian) yang disajikan juga baru, namun nuansa tradisional dan klasik masih terasa kental. Artinya, ia tidak mengambil lagu dalam genggong yang sudah ada, namun menciptakan yang baru sesuai dengan kebutuhan seni kekinian.  Eksprimen yang berdurasi sekitar 20 menit ini juga tetap memasukkan pakem-pakem dalam gamelan tradisional Bali, seperti pengawit, pengawak dan pengecet.

Karya seni inovatif itu diawali dari keluarnya katak yang menari-nari kegirangan. Sambil menari mereka juga memainkan musik dari mulutnya sendiri. Kekilitan atau jalinan suara satu, dua, tiga dan seterusnya, terdengar manis menggambarkan keceriaan katak. Terkadang, menyanyi menggambarkan binatang ampibi yang bisa hidup di darat dan di air itu.

Pada bagian berikutnya, para penari katak itu lalu duduk magenjekan dan membawakan lagu-lagu bernuansa katak, juga keasrian alam persawahan. Memasuk bagian pengawak, mereka memainkan instrumen gamelan, seperti kendang, cengceng, seruling, kenang, tawa-tawa dan kenyur serta genggong. Ilustrasi musik suling dengan paduan genggong. Bagian pengecet memainkan lagu-lagu mendayu yang tetap manis. Dua orang pemain genggong lalu menari-nari mengungkapkan kegembiraannya hidup di alam bebas.

Selain Lanus, eksperimen ini juga didukung lima orang yang ahli memainkan genggong asli Desa Batuan, yaitu Wayan Sudarsana, Made Suryana, Nyoman Suwida, Nyoman Suarsana, Putu Suarsa dan Wayan Eka Putra.

Latih Anak-anak Secara Gratis

Salah seorang seniman genggong yang masih bertahan, I Nyoman Suwida belakangan mengembangkan musik genggong di sanggarnya. Seniman kelahiran Gianyar, 3 Agustus 1974, selain lihai memainkan musik genggong juga dikenal sebagai ahli dalam membuat alat musik itu.

Ia mengajar anak-anak memainkan alat musik genggong sebagai upaya melestarikan warisan leluhurnya itu. Ia juga membuat alat musik itu, sehingga bisa diberikan kepada anak-anak. Konon, musik tradisional yang ada di Desa Batuan, Gianyar, itu sudah dilakoni sejak umur 8 tahun yang belajar dari ayahnya sendiri. Alat musim genggong itu yang membuatnya bisa terbang ke Amsterdam Belanda.

Suwida mengenal dan biasa memainkan alat musik genggong sejak umur 8 tahun. Maklum, orang tua adalah pemain genggong dan juga sebagai pembuat gamelan genggong itu. “Saya ikut-ikutan memainkan alat music genggong, hanya saja belum bisa menentukan nada secara pasti. Pada saat itu, masyarakat hampir semuanya bergelut dengan kesenian, sehingga muncul beberapa sanggar Tari Kodok,” katanya.

Ia dipilih sebagai penari kodok, bukan sebagai pemain genggong. Saat itu, genggong dimainkan oleh pengrawit yang kebanyakan para orang tua yang memang aktif melakukan pentas di sejumlah tempat, termasuk di restoran dan hotel. Sekitar tahun 1980-an hingga  1990-an, sanggar-sanggar Tari Kodok di Desa Batuan memiliki jadwal pentas yang rutin. “Saya dan teman-teman yang masih anak-anak sangat senang bisa tampil menghibur turis,” katanya.

Latihan genggong di Sanggar Cahya Art pimpinan Ketut Lanus

Mungkin karena sering dilihat oleh para turis dan dikenal hingga ke luar negeri, pada tahun 2006 sanggar genggong miliknya kemudian diundang untuk tampil mengikuti sebuah festival musik di Amsterdam Belanda. Festival itu menampilkan berbagai jenis musik dari berbagai belahan dunia dengan media yang beragam, di antaranya alat musim dari besi, kuningan, bambu, kayu dan lainnya. “Saat itu, kami peserta dari Bali menampilkan alat musik pugpug,” katanya.

Datang dari Belanda, Suwinda memantapkan diri untuk menjadi pemain genggong, tetapi juga tertarik untuk bisa membuat instrumennya. “Saya kemudian belajar membuat genggong pada saudara dan terus memperdalam sampai sekarang. Saya juga memberikan pelatihan seni secara khusus pada anak-anak yang ada di lingkungan banjar,” katanya.

Untuk membuktikan dedikasinya pada pelestarian alat musik genggong, Suwida bahkan memberikan pelatihan secara gratis pada anak-anak. Ia juga memberikan alat musik genggong secara gratis kepada anak-anak, sehingga anak-anak merasa senang dan tanpa beban belajar memainkan alat musik dari pelepah enau itu. “Mereka hanya datang dan memainkan. Saya ingin kesenian genggong itu tetap lestari dan tidak akan mudah ditelan jaman. Keberadaannya, tak hanya ada di Batuan, tetapi juga di seluruh daerah Bali,” ujarnya.

Menurut Suwida, genggong sebenarnya tak memiliki nada. Untuk mendapatkan nada, caranya adalah  dengan mengolah kerongkongan seperti bumbung gamelan besi. Jadi kerongkongan itu berfungsi sebagai resonansi. “Teknik memainkannya, pertama harus menemukan getaran dari ikut capung genggong. Di dalamnya ada membran yang disebut pelayah. Ujung ikut capung digetarkan dengan cara menarik tali kalingan,” katanya.

Selain menjadi musik hiburan, kata Suwida, permainan genggong juga baik untuk dijadikan latihan pernafasan. Hal itu, hampir  sama dengan suling sebagai pelatihan pernafasan pranayama. “Kalau dalam keadaan sakit kepala, kita mencoba memainkan suling maka sakit itu bisa hilang. Demikian pula dengan genggong, alat music ini juga sebagai bentuk latihan pernafasan,” katanya.

Seniman lain yang juga punya kecintaan besar terhadap musik genggong adalah Made Agus Wardana. Buktinya, setelah pulang dari Belgia, dalam lawatan kesenian, ayah tiga putra ini merekonstruksi genggong, kesenian klasik yang ada di Banjar Pegok, Denpasar, kampung kelahirannya.

Genggong yang telah tidur puluhan tahun itu dipentaskan dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41. Selain menampilkan gending-gending kuno, juga mengkombinasikan genggong dengan gamelan geguntangan, dan menyajikan gending-gending ciptaan baru berjudul Gamut (gamelan mulut) yang menampilkan ocehan suara vocal meniru suara gamelan.

Made Agus Wardana adalah seniman yang mengajar gamelan tradisional Bali di Eropa. Menurutnya, minat masyarakat asing terhadap kesenian Bali sangat tinggi. Mereka tidak hanya menyaksikan sambil bertepuk tangan, tetapi juga menghampiri dan bertanya. “Ketika mereka memberi apresiasi seperti itu, saya sebagai seniman harus bisa menceritakan, menjelaskan kepada mereka terkait dengan kesenian Bali, termasuk genggong,” ujarnya. [T]

Tags: balimusikmusik tradisional Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Usaha Mengenal Piranti Keaktoran

Next Post

Bacaan Wajib Pendeta Hindu Bali

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Bacaan Wajib Pendeta Hindu Bali

Bacaan Wajib Pendeta Hindu Bali

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co