25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Upaya-Upaya Kecil Menghidupkan Genggong

tatkala by tatkala
February 15, 2021
in Khas
Upaya-Upaya Kecil Menghidupkan Genggong

Belajar memainkan genggong

Musik genggong di Bali memang langka. Tak banyak anak-anak zaman sekarang tahu tentang musik itu. Mungkin sesekali pernah mendengar, namun tak begitu tertarik untuk menelusurinya, apalagi mempelajarinya. Namun, bukan berarti tak ada yang ngotot dan setia melestarikan alat musik itu, termasuk mengajarkan cara bermainnya ke anak-anak muda.

Dulu tahun 80-an, setiap hari menjelang malam, genggong biasa diperdengarkan di sebuah radio di Bali itu. Lamat-lamat kemudian alat musik itu tak terdengar lagi di ruang publik maupun dikumandangkan lewat media elektronik. Sesekali memang dipentaskan di Pesta Kesenian Bali (PKB), namun penontonnya seringkali kalah dengan pementasan kesenian lain.

Namun kini banyak seniman-seniman Bali yang mulai berjuang untuk mengembangkan musik genggong yang langka itu. Salah satunya,  seniman muda I Ketut Lanus. Ia  dan kawan-kawannya mencoba melakukan eksperimen terhadap musik yang dibuat dari pelepah enau atau pelepah kelapa itu. Di bawah bendera Sanggar Cahya Art, Lanus mengemas musik kuno itu dengan motif-motif baru, sehingga lebih menarik dan inovatif. “Kami bukan mengubah pakem genggong yang sudah ada, tetapi hanya memberi nuansa baru,” katanya.

Genggong, sebuah alat musik yang terbuat dari pohon enao biasanya sebagai seni pertunjukan mengiringi dramatari dengan lakon “Godongan” (kehidupan katak besar). Dramatari kini biasa dipentaskan pada setiap upacara agama Hindu, dan acara spiritual lainnya. Jenis musik langka ini tak sepopuler musik gamelan gong kebyar. Keberadaannya sangat jarang, seperti ada di Karangasem, Desa Batuan Gianyar, dan Desa Munduk Lumbang, Baturiti, Tabanan.

Kini kesenian itu disajikan lebih atraktif. Unsur tari, teater, vokal dan musik ditata secara kental. Ide-ide baru menjadi pengembangannya sehingga mencapai kesempurnaan yang dibutuhkan masyarakat jaman sekarang.  Garapan ini lebih mengungkapkan visual bunyi, tidak ada cerita tetapi menggambarkan karakter katak seperti berjalan dan tingkah polah yang hidup dalam komunitas kelompoknya. Meski bentuknya kecil, tetapi kualitasnya tetap terjaga, bukan memiskinkan seni yang ada.

Sebuah garapan drama tari Bumi Bajra yang memperkenalkan musik genggong

Sajiannya masih berbentuk total musik, namun para pemain juga menari-nari dengan menonjolkan suara godokan. Mereka menari menirukan katak, bercanda, kemudian memainkan alat music, meniup suking dengan berbagai ukuran. “Kami hanya mencoba bereksprimen, masalah bagus dan jelak itu tidak masalah. Saya yakin berikutnya pasti akan bagus,” tegas Lanus seraya mengatakan seni eksprimen ini bakal disajikan pada sebuah event jazz di Bali.

Lagu-lagu (nyanyian) yang disajikan juga baru, namun nuansa tradisional dan klasik masih terasa kental. Artinya, ia tidak mengambil lagu dalam genggong yang sudah ada, namun menciptakan yang baru sesuai dengan kebutuhan seni kekinian.  Eksprimen yang berdurasi sekitar 20 menit ini juga tetap memasukkan pakem-pakem dalam gamelan tradisional Bali, seperti pengawit, pengawak dan pengecet.

Karya seni inovatif itu diawali dari keluarnya katak yang menari-nari kegirangan. Sambil menari mereka juga memainkan musik dari mulutnya sendiri. Kekilitan atau jalinan suara satu, dua, tiga dan seterusnya, terdengar manis menggambarkan keceriaan katak. Terkadang, menyanyi menggambarkan binatang ampibi yang bisa hidup di darat dan di air itu.

Pada bagian berikutnya, para penari katak itu lalu duduk magenjekan dan membawakan lagu-lagu bernuansa katak, juga keasrian alam persawahan. Memasuk bagian pengawak, mereka memainkan instrumen gamelan, seperti kendang, cengceng, seruling, kenang, tawa-tawa dan kenyur serta genggong. Ilustrasi musik suling dengan paduan genggong. Bagian pengecet memainkan lagu-lagu mendayu yang tetap manis. Dua orang pemain genggong lalu menari-nari mengungkapkan kegembiraannya hidup di alam bebas.

Selain Lanus, eksperimen ini juga didukung lima orang yang ahli memainkan genggong asli Desa Batuan, yaitu Wayan Sudarsana, Made Suryana, Nyoman Suwida, Nyoman Suarsana, Putu Suarsa dan Wayan Eka Putra.

Latih Anak-anak Secara Gratis

Salah seorang seniman genggong yang masih bertahan, I Nyoman Suwida belakangan mengembangkan musik genggong di sanggarnya. Seniman kelahiran Gianyar, 3 Agustus 1974, selain lihai memainkan musik genggong juga dikenal sebagai ahli dalam membuat alat musik itu.

Ia mengajar anak-anak memainkan alat musik genggong sebagai upaya melestarikan warisan leluhurnya itu. Ia juga membuat alat musik itu, sehingga bisa diberikan kepada anak-anak. Konon, musik tradisional yang ada di Desa Batuan, Gianyar, itu sudah dilakoni sejak umur 8 tahun yang belajar dari ayahnya sendiri. Alat musim genggong itu yang membuatnya bisa terbang ke Amsterdam Belanda.

Suwida mengenal dan biasa memainkan alat musik genggong sejak umur 8 tahun. Maklum, orang tua adalah pemain genggong dan juga sebagai pembuat gamelan genggong itu. “Saya ikut-ikutan memainkan alat music genggong, hanya saja belum bisa menentukan nada secara pasti. Pada saat itu, masyarakat hampir semuanya bergelut dengan kesenian, sehingga muncul beberapa sanggar Tari Kodok,” katanya.

Ia dipilih sebagai penari kodok, bukan sebagai pemain genggong. Saat itu, genggong dimainkan oleh pengrawit yang kebanyakan para orang tua yang memang aktif melakukan pentas di sejumlah tempat, termasuk di restoran dan hotel. Sekitar tahun 1980-an hingga  1990-an, sanggar-sanggar Tari Kodok di Desa Batuan memiliki jadwal pentas yang rutin. “Saya dan teman-teman yang masih anak-anak sangat senang bisa tampil menghibur turis,” katanya.

Latihan genggong di Sanggar Cahya Art pimpinan Ketut Lanus

Mungkin karena sering dilihat oleh para turis dan dikenal hingga ke luar negeri, pada tahun 2006 sanggar genggong miliknya kemudian diundang untuk tampil mengikuti sebuah festival musik di Amsterdam Belanda. Festival itu menampilkan berbagai jenis musik dari berbagai belahan dunia dengan media yang beragam, di antaranya alat musim dari besi, kuningan, bambu, kayu dan lainnya. “Saat itu, kami peserta dari Bali menampilkan alat musik pugpug,” katanya.

Datang dari Belanda, Suwinda memantapkan diri untuk menjadi pemain genggong, tetapi juga tertarik untuk bisa membuat instrumennya. “Saya kemudian belajar membuat genggong pada saudara dan terus memperdalam sampai sekarang. Saya juga memberikan pelatihan seni secara khusus pada anak-anak yang ada di lingkungan banjar,” katanya.

Untuk membuktikan dedikasinya pada pelestarian alat musik genggong, Suwida bahkan memberikan pelatihan secara gratis pada anak-anak. Ia juga memberikan alat musik genggong secara gratis kepada anak-anak, sehingga anak-anak merasa senang dan tanpa beban belajar memainkan alat musik dari pelepah enau itu. “Mereka hanya datang dan memainkan. Saya ingin kesenian genggong itu tetap lestari dan tidak akan mudah ditelan jaman. Keberadaannya, tak hanya ada di Batuan, tetapi juga di seluruh daerah Bali,” ujarnya.

Menurut Suwida, genggong sebenarnya tak memiliki nada. Untuk mendapatkan nada, caranya adalah  dengan mengolah kerongkongan seperti bumbung gamelan besi. Jadi kerongkongan itu berfungsi sebagai resonansi. “Teknik memainkannya, pertama harus menemukan getaran dari ikut capung genggong. Di dalamnya ada membran yang disebut pelayah. Ujung ikut capung digetarkan dengan cara menarik tali kalingan,” katanya.

Selain menjadi musik hiburan, kata Suwida, permainan genggong juga baik untuk dijadikan latihan pernafasan. Hal itu, hampir  sama dengan suling sebagai pelatihan pernafasan pranayama. “Kalau dalam keadaan sakit kepala, kita mencoba memainkan suling maka sakit itu bisa hilang. Demikian pula dengan genggong, alat music ini juga sebagai bentuk latihan pernafasan,” katanya.

Seniman lain yang juga punya kecintaan besar terhadap musik genggong adalah Made Agus Wardana. Buktinya, setelah pulang dari Belgia, dalam lawatan kesenian, ayah tiga putra ini merekonstruksi genggong, kesenian klasik yang ada di Banjar Pegok, Denpasar, kampung kelahirannya.

Genggong yang telah tidur puluhan tahun itu dipentaskan dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41. Selain menampilkan gending-gending kuno, juga mengkombinasikan genggong dengan gamelan geguntangan, dan menyajikan gending-gending ciptaan baru berjudul Gamut (gamelan mulut) yang menampilkan ocehan suara vocal meniru suara gamelan.

Made Agus Wardana adalah seniman yang mengajar gamelan tradisional Bali di Eropa. Menurutnya, minat masyarakat asing terhadap kesenian Bali sangat tinggi. Mereka tidak hanya menyaksikan sambil bertepuk tangan, tetapi juga menghampiri dan bertanya. “Ketika mereka memberi apresiasi seperti itu, saya sebagai seniman harus bisa menceritakan, menjelaskan kepada mereka terkait dengan kesenian Bali, termasuk genggong,” ujarnya. [T]

Tags: balimusikmusik tradisional Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Usaha Mengenal Piranti Keaktoran

Next Post

Bacaan Wajib Pendeta Hindu Bali

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails
Next Post
Bacaan Wajib Pendeta Hindu Bali

Bacaan Wajib Pendeta Hindu Bali

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co