12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Upaya-Upaya Kecil Menghidupkan Genggong

tatkala by tatkala
February 15, 2021
in Khas
Upaya-Upaya Kecil Menghidupkan Genggong

Belajar memainkan genggong

Musik genggong di Bali memang langka. Tak banyak anak-anak zaman sekarang tahu tentang musik itu. Mungkin sesekali pernah mendengar, namun tak begitu tertarik untuk menelusurinya, apalagi mempelajarinya. Namun, bukan berarti tak ada yang ngotot dan setia melestarikan alat musik itu, termasuk mengajarkan cara bermainnya ke anak-anak muda.

Dulu tahun 80-an, setiap hari menjelang malam, genggong biasa diperdengarkan di sebuah radio di Bali itu. Lamat-lamat kemudian alat musik itu tak terdengar lagi di ruang publik maupun dikumandangkan lewat media elektronik. Sesekali memang dipentaskan di Pesta Kesenian Bali (PKB), namun penontonnya seringkali kalah dengan pementasan kesenian lain.

Namun kini banyak seniman-seniman Bali yang mulai berjuang untuk mengembangkan musik genggong yang langka itu. Salah satunya,  seniman muda I Ketut Lanus. Ia  dan kawan-kawannya mencoba melakukan eksperimen terhadap musik yang dibuat dari pelepah enau atau pelepah kelapa itu. Di bawah bendera Sanggar Cahya Art, Lanus mengemas musik kuno itu dengan motif-motif baru, sehingga lebih menarik dan inovatif. “Kami bukan mengubah pakem genggong yang sudah ada, tetapi hanya memberi nuansa baru,” katanya.

Genggong, sebuah alat musik yang terbuat dari pohon enao biasanya sebagai seni pertunjukan mengiringi dramatari dengan lakon “Godongan” (kehidupan katak besar). Dramatari kini biasa dipentaskan pada setiap upacara agama Hindu, dan acara spiritual lainnya. Jenis musik langka ini tak sepopuler musik gamelan gong kebyar. Keberadaannya sangat jarang, seperti ada di Karangasem, Desa Batuan Gianyar, dan Desa Munduk Lumbang, Baturiti, Tabanan.

Kini kesenian itu disajikan lebih atraktif. Unsur tari, teater, vokal dan musik ditata secara kental. Ide-ide baru menjadi pengembangannya sehingga mencapai kesempurnaan yang dibutuhkan masyarakat jaman sekarang.  Garapan ini lebih mengungkapkan visual bunyi, tidak ada cerita tetapi menggambarkan karakter katak seperti berjalan dan tingkah polah yang hidup dalam komunitas kelompoknya. Meski bentuknya kecil, tetapi kualitasnya tetap terjaga, bukan memiskinkan seni yang ada.

Sebuah garapan drama tari Bumi Bajra yang memperkenalkan musik genggong

Sajiannya masih berbentuk total musik, namun para pemain juga menari-nari dengan menonjolkan suara godokan. Mereka menari menirukan katak, bercanda, kemudian memainkan alat music, meniup suking dengan berbagai ukuran. “Kami hanya mencoba bereksprimen, masalah bagus dan jelak itu tidak masalah. Saya yakin berikutnya pasti akan bagus,” tegas Lanus seraya mengatakan seni eksprimen ini bakal disajikan pada sebuah event jazz di Bali.

Lagu-lagu (nyanyian) yang disajikan juga baru, namun nuansa tradisional dan klasik masih terasa kental. Artinya, ia tidak mengambil lagu dalam genggong yang sudah ada, namun menciptakan yang baru sesuai dengan kebutuhan seni kekinian.  Eksprimen yang berdurasi sekitar 20 menit ini juga tetap memasukkan pakem-pakem dalam gamelan tradisional Bali, seperti pengawit, pengawak dan pengecet.

Karya seni inovatif itu diawali dari keluarnya katak yang menari-nari kegirangan. Sambil menari mereka juga memainkan musik dari mulutnya sendiri. Kekilitan atau jalinan suara satu, dua, tiga dan seterusnya, terdengar manis menggambarkan keceriaan katak. Terkadang, menyanyi menggambarkan binatang ampibi yang bisa hidup di darat dan di air itu.

Pada bagian berikutnya, para penari katak itu lalu duduk magenjekan dan membawakan lagu-lagu bernuansa katak, juga keasrian alam persawahan. Memasuk bagian pengawak, mereka memainkan instrumen gamelan, seperti kendang, cengceng, seruling, kenang, tawa-tawa dan kenyur serta genggong. Ilustrasi musik suling dengan paduan genggong. Bagian pengecet memainkan lagu-lagu mendayu yang tetap manis. Dua orang pemain genggong lalu menari-nari mengungkapkan kegembiraannya hidup di alam bebas.

Selain Lanus, eksperimen ini juga didukung lima orang yang ahli memainkan genggong asli Desa Batuan, yaitu Wayan Sudarsana, Made Suryana, Nyoman Suwida, Nyoman Suarsana, Putu Suarsa dan Wayan Eka Putra.

Latih Anak-anak Secara Gratis

Salah seorang seniman genggong yang masih bertahan, I Nyoman Suwida belakangan mengembangkan musik genggong di sanggarnya. Seniman kelahiran Gianyar, 3 Agustus 1974, selain lihai memainkan musik genggong juga dikenal sebagai ahli dalam membuat alat musik itu.

Ia mengajar anak-anak memainkan alat musik genggong sebagai upaya melestarikan warisan leluhurnya itu. Ia juga membuat alat musik itu, sehingga bisa diberikan kepada anak-anak. Konon, musik tradisional yang ada di Desa Batuan, Gianyar, itu sudah dilakoni sejak umur 8 tahun yang belajar dari ayahnya sendiri. Alat musim genggong itu yang membuatnya bisa terbang ke Amsterdam Belanda.

Suwida mengenal dan biasa memainkan alat musik genggong sejak umur 8 tahun. Maklum, orang tua adalah pemain genggong dan juga sebagai pembuat gamelan genggong itu. “Saya ikut-ikutan memainkan alat music genggong, hanya saja belum bisa menentukan nada secara pasti. Pada saat itu, masyarakat hampir semuanya bergelut dengan kesenian, sehingga muncul beberapa sanggar Tari Kodok,” katanya.

Ia dipilih sebagai penari kodok, bukan sebagai pemain genggong. Saat itu, genggong dimainkan oleh pengrawit yang kebanyakan para orang tua yang memang aktif melakukan pentas di sejumlah tempat, termasuk di restoran dan hotel. Sekitar tahun 1980-an hingga  1990-an, sanggar-sanggar Tari Kodok di Desa Batuan memiliki jadwal pentas yang rutin. “Saya dan teman-teman yang masih anak-anak sangat senang bisa tampil menghibur turis,” katanya.

Latihan genggong di Sanggar Cahya Art pimpinan Ketut Lanus

Mungkin karena sering dilihat oleh para turis dan dikenal hingga ke luar negeri, pada tahun 2006 sanggar genggong miliknya kemudian diundang untuk tampil mengikuti sebuah festival musik di Amsterdam Belanda. Festival itu menampilkan berbagai jenis musik dari berbagai belahan dunia dengan media yang beragam, di antaranya alat musim dari besi, kuningan, bambu, kayu dan lainnya. “Saat itu, kami peserta dari Bali menampilkan alat musik pugpug,” katanya.

Datang dari Belanda, Suwinda memantapkan diri untuk menjadi pemain genggong, tetapi juga tertarik untuk bisa membuat instrumennya. “Saya kemudian belajar membuat genggong pada saudara dan terus memperdalam sampai sekarang. Saya juga memberikan pelatihan seni secara khusus pada anak-anak yang ada di lingkungan banjar,” katanya.

Untuk membuktikan dedikasinya pada pelestarian alat musik genggong, Suwida bahkan memberikan pelatihan secara gratis pada anak-anak. Ia juga memberikan alat musik genggong secara gratis kepada anak-anak, sehingga anak-anak merasa senang dan tanpa beban belajar memainkan alat musik dari pelepah enau itu. “Mereka hanya datang dan memainkan. Saya ingin kesenian genggong itu tetap lestari dan tidak akan mudah ditelan jaman. Keberadaannya, tak hanya ada di Batuan, tetapi juga di seluruh daerah Bali,” ujarnya.

Menurut Suwida, genggong sebenarnya tak memiliki nada. Untuk mendapatkan nada, caranya adalah  dengan mengolah kerongkongan seperti bumbung gamelan besi. Jadi kerongkongan itu berfungsi sebagai resonansi. “Teknik memainkannya, pertama harus menemukan getaran dari ikut capung genggong. Di dalamnya ada membran yang disebut pelayah. Ujung ikut capung digetarkan dengan cara menarik tali kalingan,” katanya.

Selain menjadi musik hiburan, kata Suwida, permainan genggong juga baik untuk dijadikan latihan pernafasan. Hal itu, hampir  sama dengan suling sebagai pelatihan pernafasan pranayama. “Kalau dalam keadaan sakit kepala, kita mencoba memainkan suling maka sakit itu bisa hilang. Demikian pula dengan genggong, alat music ini juga sebagai bentuk latihan pernafasan,” katanya.

Seniman lain yang juga punya kecintaan besar terhadap musik genggong adalah Made Agus Wardana. Buktinya, setelah pulang dari Belgia, dalam lawatan kesenian, ayah tiga putra ini merekonstruksi genggong, kesenian klasik yang ada di Banjar Pegok, Denpasar, kampung kelahirannya.

Genggong yang telah tidur puluhan tahun itu dipentaskan dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41. Selain menampilkan gending-gending kuno, juga mengkombinasikan genggong dengan gamelan geguntangan, dan menyajikan gending-gending ciptaan baru berjudul Gamut (gamelan mulut) yang menampilkan ocehan suara vocal meniru suara gamelan.

Made Agus Wardana adalah seniman yang mengajar gamelan tradisional Bali di Eropa. Menurutnya, minat masyarakat asing terhadap kesenian Bali sangat tinggi. Mereka tidak hanya menyaksikan sambil bertepuk tangan, tetapi juga menghampiri dan bertanya. “Ketika mereka memberi apresiasi seperti itu, saya sebagai seniman harus bisa menceritakan, menjelaskan kepada mereka terkait dengan kesenian Bali, termasuk genggong,” ujarnya. [T]

Tags: balimusikmusik tradisional Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Usaha Mengenal Piranti Keaktoran

Next Post

Bacaan Wajib Pendeta Hindu Bali

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Bacaan Wajib Pendeta Hindu Bali

Bacaan Wajib Pendeta Hindu Bali

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co