23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Usaha Mengenal Piranti Keaktoran

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 15, 2021
in Esai
Usaha Mengenal Piranti Keaktoran

Agus Wiratama

Saya ingin menjadi anak yang baik: tapi dalam proses teater, saya harus merumuskan kembali, seperti apa anak yang baik? Dan siapa orang tuanya? Lalu saya ditampar khayalan sendiri: membayangkan diri menjadi seorang bayi—dalam kandungan kelompok—yang tidak bisa membedakan diri sendiri dan ibunya; bayi yang tumbuh dalam kandungan, tanpa memikirkan makanan yang enak; baju yang tepat; dan dunianya kelak. Tapi, setelah sembilan bulan, bayi akan lahir, lalu mulai merasakan keterlemparannya—mulai cemas atas banyaknya pilihan; cemas atas keinginan yang rumit; dan cemas atas masa depan tanpa garansi. Tapi, itu persis menunjukkan bahwa bayi telah hadir sebagai dirinya.

Tulisan awal tahun sebelumnya saya baca lagi dan terasa jauh tak menyentuh diri, terasa saya melihat teater dari tepi langit—seolah dekat namun sedikit pun tak tersentuh; tidak basah oleh apa yang saya bicarakan. Lalu, saya menimbang langkah yang harus diambil: memandang teater dengan kacamata ketiga sehingga saya merasa menjadi bayi dalam kandungan, atau memilih cara untuk basah: dan saya memilih yang kedua.

Setalah membaca catatan proses; mengingat latihan; mengingat pementasan; saya seperti tergelitik, sebab terkadang salah menerjemahkan apa yang terjadi pada diri saya; hal ini harus segera diatasi! Katakanlah ketika saya membaca catatan awal tahun sebelumnya—begitu pula mengingat proses—saya terjemahkan dengan kacamata pesimis, “Oh, saya memang tidak mampu, saya tidak bisa,” padahal bila saya tejemahkan dalam bahasa yang optimis, perasaan itu juga masuk dalam kategori yang optimis itu, lalu saya bertanya, “di mana letak salahnya?” Untuk sementara, saya sepakat dengan jawaban “bahasa”.

Saya harus memperkaya kosakata, sebab saya sering keliru atas pemaknaan. Semisal ketika merasa bahagia, saya terjemahkan sebagai senang, padahal dua hal itu berbeda: sehingga detail perasaan senang meracau detail perasaan bahagia yang dialami tubuh. Dan parahnya, ketika menerjemahkan perasaan bahagia—situasi tenang dan penuh penerimaan—sebagai lesu.

Peristiwa itu sangat mungkin terjadi karena keterbatasan kosa kata dan pengetahuan, dan hal ini menyaratkan saya agar piawai menggunakan alat sekaligus paham fungsinya; sebagaimana cangkul, sabit, dan traktor digunakan petani; sebagaimana palu, pahat, dan pisau mutik digunakan tukang ukir; begitu pula dengan bahasa, fisik, pikiran dan perasaan digunakan oleh aktor.

Ada hal penting yang—setidaknya menurut saya—mesti dituju, meskipun mustahil tapi usaha menemukannya akan memperkaya keaktoran, dan saya percaya itu: mengenal yang otentik melalui bahasa. Dalam hal ini, sikap seolah-olah menjadi pemula adalah jalan penting, sebagaimana melihat sesuatu pertama kali. Tapi, pemula dalam segala hal adalah kemustahilan dan mungkin hanya terjadi pada seorang bayi dalam artian harfiah. Tetapi, sikap “seolah-olah” menjadi pemula dalam segala hal memungkinkan kita untuk melihat sesuatu pada lapisan makna yang lebih murni dan kesadaran itu tidak praktis; maka ketika momen itu telah tercapai, saya harus menangkapnya, lalu menerjemahkannya dalam bahasa.

Sikap seolah-olah ini saya sejajarkan dengan sikap terbuka yang pada latihan olah tubuh menjadi salah satu hal yang disasar: kesadaran paling jujur, setidaknya jujur dengan diri sendiri, mampu mengenal lalu mengawetkannya dalam kulkas bahasa, sehingga latihan itu benar-benar menjadi milik diri yang berbeda dengan tubuh-tubuh lain dan dari sana saya menyadari: latihan tubuh dan latihan fisik adalah hal yang berbeda. Tubuh dapat dipahami sebagai keseluruhan—berkaitan dengan pikiran dan perasaan—dan fisik adalah jasmani itu sendiri.

Napas menjadi bagian penting dalam olah tubuh, sebab menyangkut pikiran yang seperti belut; bergerak lincah, cepat, bahkan cenderung susah ditangkap. Menyadari napas akan sangat membantu untuk menangkap belut pikiran itu; latihan napas mulai saya lakukan belakangan, sebab sadar, napas di panggung akan berbeda dengan napas sehari-hari, latihan ini saya mulai dengan latihan menyadari napas paling tidak lima menit: ketika beranjak bangun dan sebelum tidur. Mungkin pada kesempatan selanjutnya saya harus belajar mengaturnya: saya belum tahu. Hal-hal seperti ini biasanya akan berlanjut, berubah, atau berhenti setelah bertemu dengan orang-orang tertentu.

Tapi panggung sangat kompleks, tidak hanya soal napas; juga berkaitan dengan menonton dan ditonton. Ada kalanya aktor mengiklaskan diri sebagai objek yang ditonton dan sebaliknya, ada kalanya aktor berperan sebagai penonton. Tidak mudah bagi saya menyadari kedua hal ini, mengiklaskan diri menjadi objek, bagi saya adalah ketulusan mempersembahkan. Seperti ibu-ibu di pagi hari menghaturkan sesajen di berbagai titik. Mungkin bagi orang yang baru melakukan kegiatan ini terasa berat: setiap hari memotong daun, mengambil nasi secuil, lauk secuil, lalu dihaturkan keliling.

Namun, kebiasaan memberi jalan masuk untuk ikhlas. Saya ingat bagaimana awal latihan gerak bersama almarhum Suprapto Suryodarmo, untuk menggerakkan tangan dan mengangkat kaki saya ragu, untuk mengatakan “thank you” punmulut sangat gagu. Tapi, pembiasaan membuat saya iklas melakukannya, begitu pula ketika latihan mengakrabi tubuh; awalnya saya bingung untuk bergerak, bahkan cenderung malu, namun perlahan saya leluasa, saya terbiasa, meskipun kualitas yang dicapai belum seberapa.

Pada tahun 2020 saya tidak berharap banyak, tapi banyak yang saya dapat—setidaknya saya merasa begitu. Program Dini Ditu Kalangan salah satunya; program ini membuat saya berlatih menepati waktu, tidak ada jadwal yang mundur, justru sebaliknya. Sebab, Program ini mengharuskan saya belajar menggunakan piranti medsos yaitu live instagram, meskipun saya mengenal fitur ini sejak lama, tapi saya baru menggunakannya pada program ini.

Saya mengasuh program Tilik Titer—sub program Dini Ditu Kalangan. Tilik Titer adalah diskusi secara daring antara saya dengan pelaku tetaer di luar Bali. Program ini mengajarkan saya lebih terbuka dengan media sosial; mengajarkan saya memperhatikan penonton maya yang berada di antara; dan mengenal proses pelaku teater di luar Bali seperti: Andy Eswe, Aleksander Gebe, Wanggi Hoed, dan Roy Julian.

Pada tahun 2021 saya ingin mengulanginya lagi—tidak berharap banyak, tetapi belajar mengenal dan menggunakan piranti-piranti dalam dan—kalau memungkinkan—piranti-piranti luar keaktoran. Saya hanya bisa berharap tahun ini memberi kesempatan untuk saya mencapai target itu; sekaligus kesempatan untuk merawat mental dan fisik, karena sebagaimana pun saya berusaha mengenali piranti keaktoran, saya masih membutuhkan pertemuan. [T]

Tags: TeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

27 Perupa “Move On” di Bidadari Art Space, Mas, Ubud

Next Post

Upaya-Upaya Kecil Menghidupkan Genggong

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Upaya-Upaya Kecil Menghidupkan Genggong

Upaya-Upaya Kecil Menghidupkan Genggong

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co