2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Usaha Mengenal Piranti Keaktoran

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 15, 2021
in Esai
Usaha Mengenal Piranti Keaktoran

Agus Wiratama

Saya ingin menjadi anak yang baik: tapi dalam proses teater, saya harus merumuskan kembali, seperti apa anak yang baik? Dan siapa orang tuanya? Lalu saya ditampar khayalan sendiri: membayangkan diri menjadi seorang bayi—dalam kandungan kelompok—yang tidak bisa membedakan diri sendiri dan ibunya; bayi yang tumbuh dalam kandungan, tanpa memikirkan makanan yang enak; baju yang tepat; dan dunianya kelak. Tapi, setelah sembilan bulan, bayi akan lahir, lalu mulai merasakan keterlemparannya—mulai cemas atas banyaknya pilihan; cemas atas keinginan yang rumit; dan cemas atas masa depan tanpa garansi. Tapi, itu persis menunjukkan bahwa bayi telah hadir sebagai dirinya.

Tulisan awal tahun sebelumnya saya baca lagi dan terasa jauh tak menyentuh diri, terasa saya melihat teater dari tepi langit—seolah dekat namun sedikit pun tak tersentuh; tidak basah oleh apa yang saya bicarakan. Lalu, saya menimbang langkah yang harus diambil: memandang teater dengan kacamata ketiga sehingga saya merasa menjadi bayi dalam kandungan, atau memilih cara untuk basah: dan saya memilih yang kedua.

Setalah membaca catatan proses; mengingat latihan; mengingat pementasan; saya seperti tergelitik, sebab terkadang salah menerjemahkan apa yang terjadi pada diri saya; hal ini harus segera diatasi! Katakanlah ketika saya membaca catatan awal tahun sebelumnya—begitu pula mengingat proses—saya terjemahkan dengan kacamata pesimis, “Oh, saya memang tidak mampu, saya tidak bisa,” padahal bila saya tejemahkan dalam bahasa yang optimis, perasaan itu juga masuk dalam kategori yang optimis itu, lalu saya bertanya, “di mana letak salahnya?” Untuk sementara, saya sepakat dengan jawaban “bahasa”.

Saya harus memperkaya kosakata, sebab saya sering keliru atas pemaknaan. Semisal ketika merasa bahagia, saya terjemahkan sebagai senang, padahal dua hal itu berbeda: sehingga detail perasaan senang meracau detail perasaan bahagia yang dialami tubuh. Dan parahnya, ketika menerjemahkan perasaan bahagia—situasi tenang dan penuh penerimaan—sebagai lesu.

Peristiwa itu sangat mungkin terjadi karena keterbatasan kosa kata dan pengetahuan, dan hal ini menyaratkan saya agar piawai menggunakan alat sekaligus paham fungsinya; sebagaimana cangkul, sabit, dan traktor digunakan petani; sebagaimana palu, pahat, dan pisau mutik digunakan tukang ukir; begitu pula dengan bahasa, fisik, pikiran dan perasaan digunakan oleh aktor.

Ada hal penting yang—setidaknya menurut saya—mesti dituju, meskipun mustahil tapi usaha menemukannya akan memperkaya keaktoran, dan saya percaya itu: mengenal yang otentik melalui bahasa. Dalam hal ini, sikap seolah-olah menjadi pemula adalah jalan penting, sebagaimana melihat sesuatu pertama kali. Tapi, pemula dalam segala hal adalah kemustahilan dan mungkin hanya terjadi pada seorang bayi dalam artian harfiah. Tetapi, sikap “seolah-olah” menjadi pemula dalam segala hal memungkinkan kita untuk melihat sesuatu pada lapisan makna yang lebih murni dan kesadaran itu tidak praktis; maka ketika momen itu telah tercapai, saya harus menangkapnya, lalu menerjemahkannya dalam bahasa.

Sikap seolah-olah ini saya sejajarkan dengan sikap terbuka yang pada latihan olah tubuh menjadi salah satu hal yang disasar: kesadaran paling jujur, setidaknya jujur dengan diri sendiri, mampu mengenal lalu mengawetkannya dalam kulkas bahasa, sehingga latihan itu benar-benar menjadi milik diri yang berbeda dengan tubuh-tubuh lain dan dari sana saya menyadari: latihan tubuh dan latihan fisik adalah hal yang berbeda. Tubuh dapat dipahami sebagai keseluruhan—berkaitan dengan pikiran dan perasaan—dan fisik adalah jasmani itu sendiri.

Napas menjadi bagian penting dalam olah tubuh, sebab menyangkut pikiran yang seperti belut; bergerak lincah, cepat, bahkan cenderung susah ditangkap. Menyadari napas akan sangat membantu untuk menangkap belut pikiran itu; latihan napas mulai saya lakukan belakangan, sebab sadar, napas di panggung akan berbeda dengan napas sehari-hari, latihan ini saya mulai dengan latihan menyadari napas paling tidak lima menit: ketika beranjak bangun dan sebelum tidur. Mungkin pada kesempatan selanjutnya saya harus belajar mengaturnya: saya belum tahu. Hal-hal seperti ini biasanya akan berlanjut, berubah, atau berhenti setelah bertemu dengan orang-orang tertentu.

Tapi panggung sangat kompleks, tidak hanya soal napas; juga berkaitan dengan menonton dan ditonton. Ada kalanya aktor mengiklaskan diri sebagai objek yang ditonton dan sebaliknya, ada kalanya aktor berperan sebagai penonton. Tidak mudah bagi saya menyadari kedua hal ini, mengiklaskan diri menjadi objek, bagi saya adalah ketulusan mempersembahkan. Seperti ibu-ibu di pagi hari menghaturkan sesajen di berbagai titik. Mungkin bagi orang yang baru melakukan kegiatan ini terasa berat: setiap hari memotong daun, mengambil nasi secuil, lauk secuil, lalu dihaturkan keliling.

Namun, kebiasaan memberi jalan masuk untuk ikhlas. Saya ingat bagaimana awal latihan gerak bersama almarhum Suprapto Suryodarmo, untuk menggerakkan tangan dan mengangkat kaki saya ragu, untuk mengatakan “thank you” punmulut sangat gagu. Tapi, pembiasaan membuat saya iklas melakukannya, begitu pula ketika latihan mengakrabi tubuh; awalnya saya bingung untuk bergerak, bahkan cenderung malu, namun perlahan saya leluasa, saya terbiasa, meskipun kualitas yang dicapai belum seberapa.

Pada tahun 2020 saya tidak berharap banyak, tapi banyak yang saya dapat—setidaknya saya merasa begitu. Program Dini Ditu Kalangan salah satunya; program ini membuat saya berlatih menepati waktu, tidak ada jadwal yang mundur, justru sebaliknya. Sebab, Program ini mengharuskan saya belajar menggunakan piranti medsos yaitu live instagram, meskipun saya mengenal fitur ini sejak lama, tapi saya baru menggunakannya pada program ini.

Saya mengasuh program Tilik Titer—sub program Dini Ditu Kalangan. Tilik Titer adalah diskusi secara daring antara saya dengan pelaku tetaer di luar Bali. Program ini mengajarkan saya lebih terbuka dengan media sosial; mengajarkan saya memperhatikan penonton maya yang berada di antara; dan mengenal proses pelaku teater di luar Bali seperti: Andy Eswe, Aleksander Gebe, Wanggi Hoed, dan Roy Julian.

Pada tahun 2021 saya ingin mengulanginya lagi—tidak berharap banyak, tetapi belajar mengenal dan menggunakan piranti-piranti dalam dan—kalau memungkinkan—piranti-piranti luar keaktoran. Saya hanya bisa berharap tahun ini memberi kesempatan untuk saya mencapai target itu; sekaligus kesempatan untuk merawat mental dan fisik, karena sebagaimana pun saya berusaha mengenali piranti keaktoran, saya masih membutuhkan pertemuan. [T]

Tags: TeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

27 Perupa “Move On” di Bidadari Art Space, Mas, Ubud

Next Post

Upaya-Upaya Kecil Menghidupkan Genggong

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Upaya-Upaya Kecil Menghidupkan Genggong

Upaya-Upaya Kecil Menghidupkan Genggong

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co