24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Usaha Mengenal Piranti Keaktoran

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 15, 2021
in Esai
Usaha Mengenal Piranti Keaktoran

Agus Wiratama

Saya ingin menjadi anak yang baik: tapi dalam proses teater, saya harus merumuskan kembali, seperti apa anak yang baik? Dan siapa orang tuanya? Lalu saya ditampar khayalan sendiri: membayangkan diri menjadi seorang bayi—dalam kandungan kelompok—yang tidak bisa membedakan diri sendiri dan ibunya; bayi yang tumbuh dalam kandungan, tanpa memikirkan makanan yang enak; baju yang tepat; dan dunianya kelak. Tapi, setelah sembilan bulan, bayi akan lahir, lalu mulai merasakan keterlemparannya—mulai cemas atas banyaknya pilihan; cemas atas keinginan yang rumit; dan cemas atas masa depan tanpa garansi. Tapi, itu persis menunjukkan bahwa bayi telah hadir sebagai dirinya.

Tulisan awal tahun sebelumnya saya baca lagi dan terasa jauh tak menyentuh diri, terasa saya melihat teater dari tepi langit—seolah dekat namun sedikit pun tak tersentuh; tidak basah oleh apa yang saya bicarakan. Lalu, saya menimbang langkah yang harus diambil: memandang teater dengan kacamata ketiga sehingga saya merasa menjadi bayi dalam kandungan, atau memilih cara untuk basah: dan saya memilih yang kedua.

Setalah membaca catatan proses; mengingat latihan; mengingat pementasan; saya seperti tergelitik, sebab terkadang salah menerjemahkan apa yang terjadi pada diri saya; hal ini harus segera diatasi! Katakanlah ketika saya membaca catatan awal tahun sebelumnya—begitu pula mengingat proses—saya terjemahkan dengan kacamata pesimis, “Oh, saya memang tidak mampu, saya tidak bisa,” padahal bila saya tejemahkan dalam bahasa yang optimis, perasaan itu juga masuk dalam kategori yang optimis itu, lalu saya bertanya, “di mana letak salahnya?” Untuk sementara, saya sepakat dengan jawaban “bahasa”.

Saya harus memperkaya kosakata, sebab saya sering keliru atas pemaknaan. Semisal ketika merasa bahagia, saya terjemahkan sebagai senang, padahal dua hal itu berbeda: sehingga detail perasaan senang meracau detail perasaan bahagia yang dialami tubuh. Dan parahnya, ketika menerjemahkan perasaan bahagia—situasi tenang dan penuh penerimaan—sebagai lesu.

Peristiwa itu sangat mungkin terjadi karena keterbatasan kosa kata dan pengetahuan, dan hal ini menyaratkan saya agar piawai menggunakan alat sekaligus paham fungsinya; sebagaimana cangkul, sabit, dan traktor digunakan petani; sebagaimana palu, pahat, dan pisau mutik digunakan tukang ukir; begitu pula dengan bahasa, fisik, pikiran dan perasaan digunakan oleh aktor.

Ada hal penting yang—setidaknya menurut saya—mesti dituju, meskipun mustahil tapi usaha menemukannya akan memperkaya keaktoran, dan saya percaya itu: mengenal yang otentik melalui bahasa. Dalam hal ini, sikap seolah-olah menjadi pemula adalah jalan penting, sebagaimana melihat sesuatu pertama kali. Tapi, pemula dalam segala hal adalah kemustahilan dan mungkin hanya terjadi pada seorang bayi dalam artian harfiah. Tetapi, sikap “seolah-olah” menjadi pemula dalam segala hal memungkinkan kita untuk melihat sesuatu pada lapisan makna yang lebih murni dan kesadaran itu tidak praktis; maka ketika momen itu telah tercapai, saya harus menangkapnya, lalu menerjemahkannya dalam bahasa.

Sikap seolah-olah ini saya sejajarkan dengan sikap terbuka yang pada latihan olah tubuh menjadi salah satu hal yang disasar: kesadaran paling jujur, setidaknya jujur dengan diri sendiri, mampu mengenal lalu mengawetkannya dalam kulkas bahasa, sehingga latihan itu benar-benar menjadi milik diri yang berbeda dengan tubuh-tubuh lain dan dari sana saya menyadari: latihan tubuh dan latihan fisik adalah hal yang berbeda. Tubuh dapat dipahami sebagai keseluruhan—berkaitan dengan pikiran dan perasaan—dan fisik adalah jasmani itu sendiri.

Napas menjadi bagian penting dalam olah tubuh, sebab menyangkut pikiran yang seperti belut; bergerak lincah, cepat, bahkan cenderung susah ditangkap. Menyadari napas akan sangat membantu untuk menangkap belut pikiran itu; latihan napas mulai saya lakukan belakangan, sebab sadar, napas di panggung akan berbeda dengan napas sehari-hari, latihan ini saya mulai dengan latihan menyadari napas paling tidak lima menit: ketika beranjak bangun dan sebelum tidur. Mungkin pada kesempatan selanjutnya saya harus belajar mengaturnya: saya belum tahu. Hal-hal seperti ini biasanya akan berlanjut, berubah, atau berhenti setelah bertemu dengan orang-orang tertentu.

Tapi panggung sangat kompleks, tidak hanya soal napas; juga berkaitan dengan menonton dan ditonton. Ada kalanya aktor mengiklaskan diri sebagai objek yang ditonton dan sebaliknya, ada kalanya aktor berperan sebagai penonton. Tidak mudah bagi saya menyadari kedua hal ini, mengiklaskan diri menjadi objek, bagi saya adalah ketulusan mempersembahkan. Seperti ibu-ibu di pagi hari menghaturkan sesajen di berbagai titik. Mungkin bagi orang yang baru melakukan kegiatan ini terasa berat: setiap hari memotong daun, mengambil nasi secuil, lauk secuil, lalu dihaturkan keliling.

Namun, kebiasaan memberi jalan masuk untuk ikhlas. Saya ingat bagaimana awal latihan gerak bersama almarhum Suprapto Suryodarmo, untuk menggerakkan tangan dan mengangkat kaki saya ragu, untuk mengatakan “thank you” punmulut sangat gagu. Tapi, pembiasaan membuat saya iklas melakukannya, begitu pula ketika latihan mengakrabi tubuh; awalnya saya bingung untuk bergerak, bahkan cenderung malu, namun perlahan saya leluasa, saya terbiasa, meskipun kualitas yang dicapai belum seberapa.

Pada tahun 2020 saya tidak berharap banyak, tapi banyak yang saya dapat—setidaknya saya merasa begitu. Program Dini Ditu Kalangan salah satunya; program ini membuat saya berlatih menepati waktu, tidak ada jadwal yang mundur, justru sebaliknya. Sebab, Program ini mengharuskan saya belajar menggunakan piranti medsos yaitu live instagram, meskipun saya mengenal fitur ini sejak lama, tapi saya baru menggunakannya pada program ini.

Saya mengasuh program Tilik Titer—sub program Dini Ditu Kalangan. Tilik Titer adalah diskusi secara daring antara saya dengan pelaku tetaer di luar Bali. Program ini mengajarkan saya lebih terbuka dengan media sosial; mengajarkan saya memperhatikan penonton maya yang berada di antara; dan mengenal proses pelaku teater di luar Bali seperti: Andy Eswe, Aleksander Gebe, Wanggi Hoed, dan Roy Julian.

Pada tahun 2021 saya ingin mengulanginya lagi—tidak berharap banyak, tetapi belajar mengenal dan menggunakan piranti-piranti dalam dan—kalau memungkinkan—piranti-piranti luar keaktoran. Saya hanya bisa berharap tahun ini memberi kesempatan untuk saya mencapai target itu; sekaligus kesempatan untuk merawat mental dan fisik, karena sebagaimana pun saya berusaha mengenali piranti keaktoran, saya masih membutuhkan pertemuan. [T]

Tags: TeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

27 Perupa “Move On” di Bidadari Art Space, Mas, Ubud

Next Post

Upaya-Upaya Kecil Menghidupkan Genggong

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Upaya-Upaya Kecil Menghidupkan Genggong

Upaya-Upaya Kecil Menghidupkan Genggong

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co