4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalan Kehilangan || Cerpen Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
January 9, 2021
in Cerpen
Jalan Kehilangan || Cerpen Ozik Ole-olang

Ilustrasi tatkala.co || Satia Guna

Namanya jalan kehilangan. Dari namanya saja, jalan itu adalah tempat orang-orang yang kehilangangan sesuatu. Entah, apapun itu. Mereka ramai-ramai berjalan di sana merunduk seperti sedang mencari-cari sesuatu.

Jalan itu membentang panjang dari timur ke barat membelah antara dua gedung museum besar. Orang-orang ramai mengunjungi jalan itu sekedar mencari sesuatu atau memang mereka sengaja merayakan kehilangan. Seperti kemenangan, kehilangan juga patut dirayakan. Setidaknya dengan kesedihan atau pula ratapan.

Ramai, ramai sekali. Orang-orang dari berbagai penjuru daerah banyak yang mengunjungi jalan tersebut. Seperti lahan wisata saja, ada banyak pedagang di sana. Ada gorengan, minuman-minuman, atau juga oleh-oleh yang berupa suvenir dan banyak lagi macam pedagang di sana. Kau tahu, merasa kehilangan juga butuh tenaga, oleh karena itu, mereka yang berkunjung juga butuh minum dan camilan-camilan. Penjual-penjual itu berjejer dan berbaris rapi sepanjang tepi jalan menunggu ada pembeli datang.

Lihat saja, seperti di sore itu ada banyak pengunjung. Jalanan itu tak pernah sepi pengunjung. Setiap saat selalu ada yang datang. Kau pasti tahu sendiri, setiap hari pasti akan ada orang-orang yang kehilangan. Kehilangan barang, orang, atau bahkan umur dan kesempatan. Oleh karenanya, jalan itu akan selalu ramai dengan orang-orang.

Mereka semua merunduk, seperti meratapi sesuatu. Tak ada kendaraan di sana, semua orang berjalan, menyusuri bentangan aspal panjang dari ujung jalan ke ujung satunya lagi sambil sesekali duduk di taman-taman penuh bunga dan pedagang asongan. Sesekali pula menikmati minuman dan gorengan, sejenak, sebelum akhirnya kembali berjalan merayakan kehilangan. Bersama, tanpa saling kenal satu sama lain, para pengunjung itu memadati jalan kehilangan. Mereka tidak tahu nama-nama satu sama lain, yang mereka tahu adalah bahwa mereka memiliki satu nasib yang sama, yaitu: kehilangan sesuatu.

***

Seorang anak muda terlihat sedang melenggang dari arah timur. Jalannya sempoyongan seperti orang putus asa. Dia menggenggam sepucuk surat dan sebotol air minuman. Pelan ia seperti tanaman merambat menyusuri jalan itu. Terlihat ada sebuah foto tertempel pada surat yang ia bawa. Mungkin itu foto pacarnya yang telah lama putus dengannya. Kemudian dia duduk sejenak di samping taman-taman bunga sambil sesekali memandang isi surat yang ada fotonya itu.

Matanya merah mencoba tegar hadapi kenyataan. Ditenggaknya air mineral yang digenggamnya tadi itu sesekali agar haus tidak mengganggu kesyahduan meratapi kehilangan.

“Terkadang cinta adalah rangkaian peristiwa kehilangan kawan,” ucap seorang lelaki yang tiba-tiba duduk di sampingnya.

“Aku belum siap ketika itu. Kukira cinta hanya perihal menemukan seseorang, tapi nyatanya lebih kejam dari itu,” sahutnya dengan suara lirih.

Dua pemuda itu dipertemukan oleh nasib yang sama. Mereka putus cinta dan oleh karena itu, mereka berdua sama-sama kehilangan orang yang mereka sayangi. Mereka bertukar cerita, berbagi kepedihan dan saling menunjukan foto orang yang kini hilang dari pelukan mereka.

Waktu terus berjalan seiring percakapan dua pemuda itu. Tak terasa hari sudah mulai petang. Lampu-lampu sudah banyak yang dinyalakan dan semakin mewarnai gelap serta suasana muram di jalan kehilangan. Ya, begitulah jalan itu. Tempat dramatis bagi orang-orang yang ingin merayakan kehilangan dan keputusasaan. Sambil berjalan, pelan, meratapi kesyahduan.

Terkadang, tanpa disadari, apa atau siapapun yang orang-orang cari karena hilang itu ada di jalan tersebut. Ya, tapi karena namanya adalah jalan kehilangan maka mereka tak akan pernah menemukannya meski sudah jelas-jelas lewat di depan mereka. Andai saja nama jalan itu adalah jalan menemukan, niscaya yang kehilangan akan selalu menemukan.

Seperti saat itu, ketika dua pemuda tadi masih berbincang-bincang sementara malam semakin gelap, dua orang perempuan tanpa sengaja lewat di depannya. Dua perempuan itu saling berpegang tangan, seperti sedang menahan dingin dan kesedihan. Mereka tak saling kenal tapi tanpa sengaja mereka berpapasan dan saling berbincang. Ya, mirip dua lelaki tadi yang dipertemukan oleh nasib yang sama.

Dua perempuan itu terus melangkah berjejeran sambil saling merekatkan badan. Seolah ingin saling menguatkan dan menanggung masing-masing beban, keduanya semakin erat berpelukan sambil sesekali sesenggukan.

Wajahnya yang satu tirus dan yang satu bulat. Dalam balutan kerudung, samar-samar wajah dua perempuan itu mirip dengan foto yang dipegang dua laki-laki yang sedang berbincang tadi. Ah, tidak, dua perempuan itu memang orang yang ada di foto yang dipegang oleh dua laki-laki itu.

Dari keempatnya, tak ada yang sadar bahwa orang yang selama ini mereka cari ternyata ada di sana, ada di jalan kehilangan. Dua perempuan itu lewat di depan dua laki-laki yang sama-sama saling mencari dan merasa kehilangan. Mereka tak tahu kalau sebenarnya mereka ada dalam satu lokasi, bahkan mereka tak sadar bahwa mereka sangatlah dekat bahkan saling bersampingan.

Dua perempuan itu terus berjalan di hadapan dua lelaki mantan pacarnya tanpa ada apapun yang mereka sadari. Dua laki-laki itu juga terus saja berbincang tanpa menyadari bahwa perempuan yang menjadi tema perbincangannya lewat di depan mereka. Terus saja mereka begitu sampai akhirnya keempatnya saling berjauhan. Dua perempuan tadi terus berjalan semakin menjauh dari lokasi dua laki-laki tadi. Sampai akhirnya semua tak menemukan siapa yang mereka cari dan terus saja merasa kehilangan.

Ya, begitulah jalan kehilangan. Udara di sana sudah seperti candu dan rokok saja bagi orang-orang yang sedang kehilangan. Mereka menghirupnya agar bisa melupakan sesuatu. Aroma-aroma putus asa dan ratapan pekat memenuhinya sampai tengah malam. Sampai kemudian dua laki-laki tadi tak lagi terlihat entah ke mana. Dan orang-orang di sana terus berjalan dalam sesenggukan dan tundukan kepala.

***

Aku terus melangkah menembus hujan. Di bawah naungan payung hitam air terus saja menghujam bumi. Kakiku basah juga beberapa bagian bawah celanaku. Beberapa orang berteduh di depan toko-toko yang sudah tutup.

Terus saja aku menunggumu sayang. Sambil berjalan tak peduli nanti masuk angin atau tidak. Ah, tidak aku belum pantas memanggilmu begitu. Sejak dulu aku memang malu mengatakannya padamu. Tapi sekarang, sebelum kau pulang ke rumahmu dan tidak lagi sekota denganku, aku ingin kau mengetahuinya meski kau sudah milik orang lain.

“Maaf Ndre, aku tidak bisa menerima dua orang sekaligus di hatiku,” ucapmu beberapa jam lalu.

“Bukan, bukan itu maksudku, aku cuma …” Sebelum aku menyelesaikan perkataanku, Joko, pacarmu yang sekarang tiba-tiba datang memergoki kita yang sedang berduaan di taman waktu itu. Dengan sejurus singkat dia melayangkan kalimat “putus” dan mengancamku dengan tatapan sinis. Kau langsung meninggalkanku dan mengejarnya. Terus kau mengejarnya tapi apalah daya, kakimu keseleo dan kau terjatuh sementara si Joko terus saja menancap gas sepedanya menjauh ke dalam gelapnya malam.

Hujan turun deras sekali beberapa detik kemudian membasahi tubuhmu yang sedang berusaha bangun dari jatuh. Aku menghampirimu bermaksud menolongmu dan memberikan naungan payung yang memang kubawa sedari tadi. Tapi belum sampai aku padamu, kau langsung lari sekencang mungkin. Aku mau mengejarmu tapi angin buru-buru menerbangkan payungku dan sejenak aku terhuyung-huyung sebelum akhirnya aku tak lagi melihat tubuhmu. Entah kau pergi ke mana.

Aku terus berjalan, meninggalkan sepedaku yang diparkir di pinggir taman menerabas hujan dan berharap aku bisa menemukanmu di sela-sela trotoar.

Aku seperti merasa bersalah dan seperti, ah, sepertinya aku tak akan lagi pernah bertemu dan menemukanmu lagi. Ya, aku seperti kehilangan sesuatu. Bertahun-tahun aku menunggu kesempatan ini untuk bisa mengungkapkan perasaanku. Tapi nahas, Joko si pacarmu itu merusak segalnya. Aku sadar betapa kau akan marah padaku. Tapi aku juga pantas merasa marah pada si Joko itu.

Betapa kesempatan yang bertahun-tahun itu kutunggu hilang begitu saja. Aku tak berharap kau menerimaku sebagai pacarmu, aku hanya ingin menyampaikan dan kau mengerti, itu saja. Semua hilang dalam sekejap.

Malam terus berlanjut dan hujan terasa semakin deras. Aku berjalan terus saja menyusuri trotoar yang sudah basah dan malam yang semakin lembab. Terus berjalan dengan perasaan kehilangan. Sampai akhirnya aku menemukan plang nama jalan yang terpampang di tepi sebuah warung kecil.

Ya, kau pasti tahu nama jalan itu apa. Lihat, ada sesuatu tertulis di sana. Samar-sama kubaca plang arah jalan itu, hatiku berdesir. Betapa tepat dan kebetulan, aku tiba di suatu tempat yang pas untuk bisa merayakan kehilangan. Ya, apa lagi kalau bukan kehilanganmu. Plang jalan itu bertuliskan: Jl. Kehilangan.

Dari jauh, aku melihat banyak orang berjalan merunduk, di bawah naungan payung-payung dan hujan yang lebat jalan itu tetap saja ramai. Aku melesat di sela-sela kerumunan orang-orang. Aroma putus asa dan penyesalan pekat merebak.

Di ujung jalan, aku seperti melihatmu berdiri di bawah sebuah lampu jalanan. Tubuhmu basah dan seperti gemetar dan terlihat sesenggukan. Tapi tiba-tiba, dalam sekejap, tubuhmu lenyap menghilang dari pandanganku. Hilang, tak bisa kutemui lagi. Sirna, untuk selamanya. Ya, aku melihatmu terakhir kali di jalan ini, jalan kehilangan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS || Tentang Namanama, Sungai dalam Kepalaku

Next Post

Perempuan dan Perubahan Zaman

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan dan Perubahan Zaman

Perempuan dan Perubahan Zaman

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co