14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalan Kehilangan || Cerpen Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
January 9, 2021
in Cerpen
Jalan Kehilangan || Cerpen Ozik Ole-olang

Ilustrasi tatkala.co || Satia Guna

Namanya jalan kehilangan. Dari namanya saja, jalan itu adalah tempat orang-orang yang kehilangangan sesuatu. Entah, apapun itu. Mereka ramai-ramai berjalan di sana merunduk seperti sedang mencari-cari sesuatu.

Jalan itu membentang panjang dari timur ke barat membelah antara dua gedung museum besar. Orang-orang ramai mengunjungi jalan itu sekedar mencari sesuatu atau memang mereka sengaja merayakan kehilangan. Seperti kemenangan, kehilangan juga patut dirayakan. Setidaknya dengan kesedihan atau pula ratapan.

Ramai, ramai sekali. Orang-orang dari berbagai penjuru daerah banyak yang mengunjungi jalan tersebut. Seperti lahan wisata saja, ada banyak pedagang di sana. Ada gorengan, minuman-minuman, atau juga oleh-oleh yang berupa suvenir dan banyak lagi macam pedagang di sana. Kau tahu, merasa kehilangan juga butuh tenaga, oleh karena itu, mereka yang berkunjung juga butuh minum dan camilan-camilan. Penjual-penjual itu berjejer dan berbaris rapi sepanjang tepi jalan menunggu ada pembeli datang.

Lihat saja, seperti di sore itu ada banyak pengunjung. Jalanan itu tak pernah sepi pengunjung. Setiap saat selalu ada yang datang. Kau pasti tahu sendiri, setiap hari pasti akan ada orang-orang yang kehilangan. Kehilangan barang, orang, atau bahkan umur dan kesempatan. Oleh karenanya, jalan itu akan selalu ramai dengan orang-orang.

Mereka semua merunduk, seperti meratapi sesuatu. Tak ada kendaraan di sana, semua orang berjalan, menyusuri bentangan aspal panjang dari ujung jalan ke ujung satunya lagi sambil sesekali duduk di taman-taman penuh bunga dan pedagang asongan. Sesekali pula menikmati minuman dan gorengan, sejenak, sebelum akhirnya kembali berjalan merayakan kehilangan. Bersama, tanpa saling kenal satu sama lain, para pengunjung itu memadati jalan kehilangan. Mereka tidak tahu nama-nama satu sama lain, yang mereka tahu adalah bahwa mereka memiliki satu nasib yang sama, yaitu: kehilangan sesuatu.

***

Seorang anak muda terlihat sedang melenggang dari arah timur. Jalannya sempoyongan seperti orang putus asa. Dia menggenggam sepucuk surat dan sebotol air minuman. Pelan ia seperti tanaman merambat menyusuri jalan itu. Terlihat ada sebuah foto tertempel pada surat yang ia bawa. Mungkin itu foto pacarnya yang telah lama putus dengannya. Kemudian dia duduk sejenak di samping taman-taman bunga sambil sesekali memandang isi surat yang ada fotonya itu.

Matanya merah mencoba tegar hadapi kenyataan. Ditenggaknya air mineral yang digenggamnya tadi itu sesekali agar haus tidak mengganggu kesyahduan meratapi kehilangan.

“Terkadang cinta adalah rangkaian peristiwa kehilangan kawan,” ucap seorang lelaki yang tiba-tiba duduk di sampingnya.

“Aku belum siap ketika itu. Kukira cinta hanya perihal menemukan seseorang, tapi nyatanya lebih kejam dari itu,” sahutnya dengan suara lirih.

Dua pemuda itu dipertemukan oleh nasib yang sama. Mereka putus cinta dan oleh karena itu, mereka berdua sama-sama kehilangan orang yang mereka sayangi. Mereka bertukar cerita, berbagi kepedihan dan saling menunjukan foto orang yang kini hilang dari pelukan mereka.

Waktu terus berjalan seiring percakapan dua pemuda itu. Tak terasa hari sudah mulai petang. Lampu-lampu sudah banyak yang dinyalakan dan semakin mewarnai gelap serta suasana muram di jalan kehilangan. Ya, begitulah jalan itu. Tempat dramatis bagi orang-orang yang ingin merayakan kehilangan dan keputusasaan. Sambil berjalan, pelan, meratapi kesyahduan.

Terkadang, tanpa disadari, apa atau siapapun yang orang-orang cari karena hilang itu ada di jalan tersebut. Ya, tapi karena namanya adalah jalan kehilangan maka mereka tak akan pernah menemukannya meski sudah jelas-jelas lewat di depan mereka. Andai saja nama jalan itu adalah jalan menemukan, niscaya yang kehilangan akan selalu menemukan.

Seperti saat itu, ketika dua pemuda tadi masih berbincang-bincang sementara malam semakin gelap, dua orang perempuan tanpa sengaja lewat di depannya. Dua perempuan itu saling berpegang tangan, seperti sedang menahan dingin dan kesedihan. Mereka tak saling kenal tapi tanpa sengaja mereka berpapasan dan saling berbincang. Ya, mirip dua lelaki tadi yang dipertemukan oleh nasib yang sama.

Dua perempuan itu terus melangkah berjejeran sambil saling merekatkan badan. Seolah ingin saling menguatkan dan menanggung masing-masing beban, keduanya semakin erat berpelukan sambil sesekali sesenggukan.

Wajahnya yang satu tirus dan yang satu bulat. Dalam balutan kerudung, samar-samar wajah dua perempuan itu mirip dengan foto yang dipegang dua laki-laki yang sedang berbincang tadi. Ah, tidak, dua perempuan itu memang orang yang ada di foto yang dipegang oleh dua laki-laki itu.

Dari keempatnya, tak ada yang sadar bahwa orang yang selama ini mereka cari ternyata ada di sana, ada di jalan kehilangan. Dua perempuan itu lewat di depan dua laki-laki yang sama-sama saling mencari dan merasa kehilangan. Mereka tak tahu kalau sebenarnya mereka ada dalam satu lokasi, bahkan mereka tak sadar bahwa mereka sangatlah dekat bahkan saling bersampingan.

Dua perempuan itu terus berjalan di hadapan dua lelaki mantan pacarnya tanpa ada apapun yang mereka sadari. Dua laki-laki itu juga terus saja berbincang tanpa menyadari bahwa perempuan yang menjadi tema perbincangannya lewat di depan mereka. Terus saja mereka begitu sampai akhirnya keempatnya saling berjauhan. Dua perempuan tadi terus berjalan semakin menjauh dari lokasi dua laki-laki tadi. Sampai akhirnya semua tak menemukan siapa yang mereka cari dan terus saja merasa kehilangan.

Ya, begitulah jalan kehilangan. Udara di sana sudah seperti candu dan rokok saja bagi orang-orang yang sedang kehilangan. Mereka menghirupnya agar bisa melupakan sesuatu. Aroma-aroma putus asa dan ratapan pekat memenuhinya sampai tengah malam. Sampai kemudian dua laki-laki tadi tak lagi terlihat entah ke mana. Dan orang-orang di sana terus berjalan dalam sesenggukan dan tundukan kepala.

***

Aku terus melangkah menembus hujan. Di bawah naungan payung hitam air terus saja menghujam bumi. Kakiku basah juga beberapa bagian bawah celanaku. Beberapa orang berteduh di depan toko-toko yang sudah tutup.

Terus saja aku menunggumu sayang. Sambil berjalan tak peduli nanti masuk angin atau tidak. Ah, tidak aku belum pantas memanggilmu begitu. Sejak dulu aku memang malu mengatakannya padamu. Tapi sekarang, sebelum kau pulang ke rumahmu dan tidak lagi sekota denganku, aku ingin kau mengetahuinya meski kau sudah milik orang lain.

“Maaf Ndre, aku tidak bisa menerima dua orang sekaligus di hatiku,” ucapmu beberapa jam lalu.

“Bukan, bukan itu maksudku, aku cuma …” Sebelum aku menyelesaikan perkataanku, Joko, pacarmu yang sekarang tiba-tiba datang memergoki kita yang sedang berduaan di taman waktu itu. Dengan sejurus singkat dia melayangkan kalimat “putus” dan mengancamku dengan tatapan sinis. Kau langsung meninggalkanku dan mengejarnya. Terus kau mengejarnya tapi apalah daya, kakimu keseleo dan kau terjatuh sementara si Joko terus saja menancap gas sepedanya menjauh ke dalam gelapnya malam.

Hujan turun deras sekali beberapa detik kemudian membasahi tubuhmu yang sedang berusaha bangun dari jatuh. Aku menghampirimu bermaksud menolongmu dan memberikan naungan payung yang memang kubawa sedari tadi. Tapi belum sampai aku padamu, kau langsung lari sekencang mungkin. Aku mau mengejarmu tapi angin buru-buru menerbangkan payungku dan sejenak aku terhuyung-huyung sebelum akhirnya aku tak lagi melihat tubuhmu. Entah kau pergi ke mana.

Aku terus berjalan, meninggalkan sepedaku yang diparkir di pinggir taman menerabas hujan dan berharap aku bisa menemukanmu di sela-sela trotoar.

Aku seperti merasa bersalah dan seperti, ah, sepertinya aku tak akan lagi pernah bertemu dan menemukanmu lagi. Ya, aku seperti kehilangan sesuatu. Bertahun-tahun aku menunggu kesempatan ini untuk bisa mengungkapkan perasaanku. Tapi nahas, Joko si pacarmu itu merusak segalnya. Aku sadar betapa kau akan marah padaku. Tapi aku juga pantas merasa marah pada si Joko itu.

Betapa kesempatan yang bertahun-tahun itu kutunggu hilang begitu saja. Aku tak berharap kau menerimaku sebagai pacarmu, aku hanya ingin menyampaikan dan kau mengerti, itu saja. Semua hilang dalam sekejap.

Malam terus berlanjut dan hujan terasa semakin deras. Aku berjalan terus saja menyusuri trotoar yang sudah basah dan malam yang semakin lembab. Terus berjalan dengan perasaan kehilangan. Sampai akhirnya aku menemukan plang nama jalan yang terpampang di tepi sebuah warung kecil.

Ya, kau pasti tahu nama jalan itu apa. Lihat, ada sesuatu tertulis di sana. Samar-sama kubaca plang arah jalan itu, hatiku berdesir. Betapa tepat dan kebetulan, aku tiba di suatu tempat yang pas untuk bisa merayakan kehilangan. Ya, apa lagi kalau bukan kehilanganmu. Plang jalan itu bertuliskan: Jl. Kehilangan.

Dari jauh, aku melihat banyak orang berjalan merunduk, di bawah naungan payung-payung dan hujan yang lebat jalan itu tetap saja ramai. Aku melesat di sela-sela kerumunan orang-orang. Aroma putus asa dan penyesalan pekat merebak.

Di ujung jalan, aku seperti melihatmu berdiri di bawah sebuah lampu jalanan. Tubuhmu basah dan seperti gemetar dan terlihat sesenggukan. Tapi tiba-tiba, dalam sekejap, tubuhmu lenyap menghilang dari pandanganku. Hilang, tak bisa kutemui lagi. Sirna, untuk selamanya. Ya, aku melihatmu terakhir kali di jalan ini, jalan kehilangan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS || Tentang Namanama, Sungai dalam Kepalaku

Next Post

Perempuan dan Perubahan Zaman

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan dan Perubahan Zaman

Perempuan dan Perubahan Zaman

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co