25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalan Kehilangan || Cerpen Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
January 9, 2021
in Cerpen
Jalan Kehilangan || Cerpen Ozik Ole-olang

Ilustrasi tatkala.co || Satia Guna

Namanya jalan kehilangan. Dari namanya saja, jalan itu adalah tempat orang-orang yang kehilangangan sesuatu. Entah, apapun itu. Mereka ramai-ramai berjalan di sana merunduk seperti sedang mencari-cari sesuatu.

Jalan itu membentang panjang dari timur ke barat membelah antara dua gedung museum besar. Orang-orang ramai mengunjungi jalan itu sekedar mencari sesuatu atau memang mereka sengaja merayakan kehilangan. Seperti kemenangan, kehilangan juga patut dirayakan. Setidaknya dengan kesedihan atau pula ratapan.

Ramai, ramai sekali. Orang-orang dari berbagai penjuru daerah banyak yang mengunjungi jalan tersebut. Seperti lahan wisata saja, ada banyak pedagang di sana. Ada gorengan, minuman-minuman, atau juga oleh-oleh yang berupa suvenir dan banyak lagi macam pedagang di sana. Kau tahu, merasa kehilangan juga butuh tenaga, oleh karena itu, mereka yang berkunjung juga butuh minum dan camilan-camilan. Penjual-penjual itu berjejer dan berbaris rapi sepanjang tepi jalan menunggu ada pembeli datang.

Lihat saja, seperti di sore itu ada banyak pengunjung. Jalanan itu tak pernah sepi pengunjung. Setiap saat selalu ada yang datang. Kau pasti tahu sendiri, setiap hari pasti akan ada orang-orang yang kehilangan. Kehilangan barang, orang, atau bahkan umur dan kesempatan. Oleh karenanya, jalan itu akan selalu ramai dengan orang-orang.

Mereka semua merunduk, seperti meratapi sesuatu. Tak ada kendaraan di sana, semua orang berjalan, menyusuri bentangan aspal panjang dari ujung jalan ke ujung satunya lagi sambil sesekali duduk di taman-taman penuh bunga dan pedagang asongan. Sesekali pula menikmati minuman dan gorengan, sejenak, sebelum akhirnya kembali berjalan merayakan kehilangan. Bersama, tanpa saling kenal satu sama lain, para pengunjung itu memadati jalan kehilangan. Mereka tidak tahu nama-nama satu sama lain, yang mereka tahu adalah bahwa mereka memiliki satu nasib yang sama, yaitu: kehilangan sesuatu.

***

Seorang anak muda terlihat sedang melenggang dari arah timur. Jalannya sempoyongan seperti orang putus asa. Dia menggenggam sepucuk surat dan sebotol air minuman. Pelan ia seperti tanaman merambat menyusuri jalan itu. Terlihat ada sebuah foto tertempel pada surat yang ia bawa. Mungkin itu foto pacarnya yang telah lama putus dengannya. Kemudian dia duduk sejenak di samping taman-taman bunga sambil sesekali memandang isi surat yang ada fotonya itu.

Matanya merah mencoba tegar hadapi kenyataan. Ditenggaknya air mineral yang digenggamnya tadi itu sesekali agar haus tidak mengganggu kesyahduan meratapi kehilangan.

“Terkadang cinta adalah rangkaian peristiwa kehilangan kawan,” ucap seorang lelaki yang tiba-tiba duduk di sampingnya.

“Aku belum siap ketika itu. Kukira cinta hanya perihal menemukan seseorang, tapi nyatanya lebih kejam dari itu,” sahutnya dengan suara lirih.

Dua pemuda itu dipertemukan oleh nasib yang sama. Mereka putus cinta dan oleh karena itu, mereka berdua sama-sama kehilangan orang yang mereka sayangi. Mereka bertukar cerita, berbagi kepedihan dan saling menunjukan foto orang yang kini hilang dari pelukan mereka.

Waktu terus berjalan seiring percakapan dua pemuda itu. Tak terasa hari sudah mulai petang. Lampu-lampu sudah banyak yang dinyalakan dan semakin mewarnai gelap serta suasana muram di jalan kehilangan. Ya, begitulah jalan itu. Tempat dramatis bagi orang-orang yang ingin merayakan kehilangan dan keputusasaan. Sambil berjalan, pelan, meratapi kesyahduan.

Terkadang, tanpa disadari, apa atau siapapun yang orang-orang cari karena hilang itu ada di jalan tersebut. Ya, tapi karena namanya adalah jalan kehilangan maka mereka tak akan pernah menemukannya meski sudah jelas-jelas lewat di depan mereka. Andai saja nama jalan itu adalah jalan menemukan, niscaya yang kehilangan akan selalu menemukan.

Seperti saat itu, ketika dua pemuda tadi masih berbincang-bincang sementara malam semakin gelap, dua orang perempuan tanpa sengaja lewat di depannya. Dua perempuan itu saling berpegang tangan, seperti sedang menahan dingin dan kesedihan. Mereka tak saling kenal tapi tanpa sengaja mereka berpapasan dan saling berbincang. Ya, mirip dua lelaki tadi yang dipertemukan oleh nasib yang sama.

Dua perempuan itu terus melangkah berjejeran sambil saling merekatkan badan. Seolah ingin saling menguatkan dan menanggung masing-masing beban, keduanya semakin erat berpelukan sambil sesekali sesenggukan.

Wajahnya yang satu tirus dan yang satu bulat. Dalam balutan kerudung, samar-samar wajah dua perempuan itu mirip dengan foto yang dipegang dua laki-laki yang sedang berbincang tadi. Ah, tidak, dua perempuan itu memang orang yang ada di foto yang dipegang oleh dua laki-laki itu.

Dari keempatnya, tak ada yang sadar bahwa orang yang selama ini mereka cari ternyata ada di sana, ada di jalan kehilangan. Dua perempuan itu lewat di depan dua laki-laki yang sama-sama saling mencari dan merasa kehilangan. Mereka tak tahu kalau sebenarnya mereka ada dalam satu lokasi, bahkan mereka tak sadar bahwa mereka sangatlah dekat bahkan saling bersampingan.

Dua perempuan itu terus berjalan di hadapan dua lelaki mantan pacarnya tanpa ada apapun yang mereka sadari. Dua laki-laki itu juga terus saja berbincang tanpa menyadari bahwa perempuan yang menjadi tema perbincangannya lewat di depan mereka. Terus saja mereka begitu sampai akhirnya keempatnya saling berjauhan. Dua perempuan tadi terus berjalan semakin menjauh dari lokasi dua laki-laki tadi. Sampai akhirnya semua tak menemukan siapa yang mereka cari dan terus saja merasa kehilangan.

Ya, begitulah jalan kehilangan. Udara di sana sudah seperti candu dan rokok saja bagi orang-orang yang sedang kehilangan. Mereka menghirupnya agar bisa melupakan sesuatu. Aroma-aroma putus asa dan ratapan pekat memenuhinya sampai tengah malam. Sampai kemudian dua laki-laki tadi tak lagi terlihat entah ke mana. Dan orang-orang di sana terus berjalan dalam sesenggukan dan tundukan kepala.

***

Aku terus melangkah menembus hujan. Di bawah naungan payung hitam air terus saja menghujam bumi. Kakiku basah juga beberapa bagian bawah celanaku. Beberapa orang berteduh di depan toko-toko yang sudah tutup.

Terus saja aku menunggumu sayang. Sambil berjalan tak peduli nanti masuk angin atau tidak. Ah, tidak aku belum pantas memanggilmu begitu. Sejak dulu aku memang malu mengatakannya padamu. Tapi sekarang, sebelum kau pulang ke rumahmu dan tidak lagi sekota denganku, aku ingin kau mengetahuinya meski kau sudah milik orang lain.

“Maaf Ndre, aku tidak bisa menerima dua orang sekaligus di hatiku,” ucapmu beberapa jam lalu.

“Bukan, bukan itu maksudku, aku cuma …” Sebelum aku menyelesaikan perkataanku, Joko, pacarmu yang sekarang tiba-tiba datang memergoki kita yang sedang berduaan di taman waktu itu. Dengan sejurus singkat dia melayangkan kalimat “putus” dan mengancamku dengan tatapan sinis. Kau langsung meninggalkanku dan mengejarnya. Terus kau mengejarnya tapi apalah daya, kakimu keseleo dan kau terjatuh sementara si Joko terus saja menancap gas sepedanya menjauh ke dalam gelapnya malam.

Hujan turun deras sekali beberapa detik kemudian membasahi tubuhmu yang sedang berusaha bangun dari jatuh. Aku menghampirimu bermaksud menolongmu dan memberikan naungan payung yang memang kubawa sedari tadi. Tapi belum sampai aku padamu, kau langsung lari sekencang mungkin. Aku mau mengejarmu tapi angin buru-buru menerbangkan payungku dan sejenak aku terhuyung-huyung sebelum akhirnya aku tak lagi melihat tubuhmu. Entah kau pergi ke mana.

Aku terus berjalan, meninggalkan sepedaku yang diparkir di pinggir taman menerabas hujan dan berharap aku bisa menemukanmu di sela-sela trotoar.

Aku seperti merasa bersalah dan seperti, ah, sepertinya aku tak akan lagi pernah bertemu dan menemukanmu lagi. Ya, aku seperti kehilangan sesuatu. Bertahun-tahun aku menunggu kesempatan ini untuk bisa mengungkapkan perasaanku. Tapi nahas, Joko si pacarmu itu merusak segalnya. Aku sadar betapa kau akan marah padaku. Tapi aku juga pantas merasa marah pada si Joko itu.

Betapa kesempatan yang bertahun-tahun itu kutunggu hilang begitu saja. Aku tak berharap kau menerimaku sebagai pacarmu, aku hanya ingin menyampaikan dan kau mengerti, itu saja. Semua hilang dalam sekejap.

Malam terus berlanjut dan hujan terasa semakin deras. Aku berjalan terus saja menyusuri trotoar yang sudah basah dan malam yang semakin lembab. Terus berjalan dengan perasaan kehilangan. Sampai akhirnya aku menemukan plang nama jalan yang terpampang di tepi sebuah warung kecil.

Ya, kau pasti tahu nama jalan itu apa. Lihat, ada sesuatu tertulis di sana. Samar-sama kubaca plang arah jalan itu, hatiku berdesir. Betapa tepat dan kebetulan, aku tiba di suatu tempat yang pas untuk bisa merayakan kehilangan. Ya, apa lagi kalau bukan kehilanganmu. Plang jalan itu bertuliskan: Jl. Kehilangan.

Dari jauh, aku melihat banyak orang berjalan merunduk, di bawah naungan payung-payung dan hujan yang lebat jalan itu tetap saja ramai. Aku melesat di sela-sela kerumunan orang-orang. Aroma putus asa dan penyesalan pekat merebak.

Di ujung jalan, aku seperti melihatmu berdiri di bawah sebuah lampu jalanan. Tubuhmu basah dan seperti gemetar dan terlihat sesenggukan. Tapi tiba-tiba, dalam sekejap, tubuhmu lenyap menghilang dari pandanganku. Hilang, tak bisa kutemui lagi. Sirna, untuk selamanya. Ya, aku melihatmu terakhir kali di jalan ini, jalan kehilangan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS || Tentang Namanama, Sungai dalam Kepalaku

Next Post

Perempuan dan Perubahan Zaman

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan dan Perubahan Zaman

Perempuan dan Perubahan Zaman

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co