15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalan Kehilangan || Cerpen Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
January 9, 2021
in Cerpen
Jalan Kehilangan || Cerpen Ozik Ole-olang

Ilustrasi tatkala.co || Satia Guna

Namanya jalan kehilangan. Dari namanya saja, jalan itu adalah tempat orang-orang yang kehilangangan sesuatu. Entah, apapun itu. Mereka ramai-ramai berjalan di sana merunduk seperti sedang mencari-cari sesuatu.

Jalan itu membentang panjang dari timur ke barat membelah antara dua gedung museum besar. Orang-orang ramai mengunjungi jalan itu sekedar mencari sesuatu atau memang mereka sengaja merayakan kehilangan. Seperti kemenangan, kehilangan juga patut dirayakan. Setidaknya dengan kesedihan atau pula ratapan.

Ramai, ramai sekali. Orang-orang dari berbagai penjuru daerah banyak yang mengunjungi jalan tersebut. Seperti lahan wisata saja, ada banyak pedagang di sana. Ada gorengan, minuman-minuman, atau juga oleh-oleh yang berupa suvenir dan banyak lagi macam pedagang di sana. Kau tahu, merasa kehilangan juga butuh tenaga, oleh karena itu, mereka yang berkunjung juga butuh minum dan camilan-camilan. Penjual-penjual itu berjejer dan berbaris rapi sepanjang tepi jalan menunggu ada pembeli datang.

Lihat saja, seperti di sore itu ada banyak pengunjung. Jalanan itu tak pernah sepi pengunjung. Setiap saat selalu ada yang datang. Kau pasti tahu sendiri, setiap hari pasti akan ada orang-orang yang kehilangan. Kehilangan barang, orang, atau bahkan umur dan kesempatan. Oleh karenanya, jalan itu akan selalu ramai dengan orang-orang.

Mereka semua merunduk, seperti meratapi sesuatu. Tak ada kendaraan di sana, semua orang berjalan, menyusuri bentangan aspal panjang dari ujung jalan ke ujung satunya lagi sambil sesekali duduk di taman-taman penuh bunga dan pedagang asongan. Sesekali pula menikmati minuman dan gorengan, sejenak, sebelum akhirnya kembali berjalan merayakan kehilangan. Bersama, tanpa saling kenal satu sama lain, para pengunjung itu memadati jalan kehilangan. Mereka tidak tahu nama-nama satu sama lain, yang mereka tahu adalah bahwa mereka memiliki satu nasib yang sama, yaitu: kehilangan sesuatu.

***

Seorang anak muda terlihat sedang melenggang dari arah timur. Jalannya sempoyongan seperti orang putus asa. Dia menggenggam sepucuk surat dan sebotol air minuman. Pelan ia seperti tanaman merambat menyusuri jalan itu. Terlihat ada sebuah foto tertempel pada surat yang ia bawa. Mungkin itu foto pacarnya yang telah lama putus dengannya. Kemudian dia duduk sejenak di samping taman-taman bunga sambil sesekali memandang isi surat yang ada fotonya itu.

Matanya merah mencoba tegar hadapi kenyataan. Ditenggaknya air mineral yang digenggamnya tadi itu sesekali agar haus tidak mengganggu kesyahduan meratapi kehilangan.

“Terkadang cinta adalah rangkaian peristiwa kehilangan kawan,” ucap seorang lelaki yang tiba-tiba duduk di sampingnya.

“Aku belum siap ketika itu. Kukira cinta hanya perihal menemukan seseorang, tapi nyatanya lebih kejam dari itu,” sahutnya dengan suara lirih.

Dua pemuda itu dipertemukan oleh nasib yang sama. Mereka putus cinta dan oleh karena itu, mereka berdua sama-sama kehilangan orang yang mereka sayangi. Mereka bertukar cerita, berbagi kepedihan dan saling menunjukan foto orang yang kini hilang dari pelukan mereka.

Waktu terus berjalan seiring percakapan dua pemuda itu. Tak terasa hari sudah mulai petang. Lampu-lampu sudah banyak yang dinyalakan dan semakin mewarnai gelap serta suasana muram di jalan kehilangan. Ya, begitulah jalan itu. Tempat dramatis bagi orang-orang yang ingin merayakan kehilangan dan keputusasaan. Sambil berjalan, pelan, meratapi kesyahduan.

Terkadang, tanpa disadari, apa atau siapapun yang orang-orang cari karena hilang itu ada di jalan tersebut. Ya, tapi karena namanya adalah jalan kehilangan maka mereka tak akan pernah menemukannya meski sudah jelas-jelas lewat di depan mereka. Andai saja nama jalan itu adalah jalan menemukan, niscaya yang kehilangan akan selalu menemukan.

Seperti saat itu, ketika dua pemuda tadi masih berbincang-bincang sementara malam semakin gelap, dua orang perempuan tanpa sengaja lewat di depannya. Dua perempuan itu saling berpegang tangan, seperti sedang menahan dingin dan kesedihan. Mereka tak saling kenal tapi tanpa sengaja mereka berpapasan dan saling berbincang. Ya, mirip dua lelaki tadi yang dipertemukan oleh nasib yang sama.

Dua perempuan itu terus melangkah berjejeran sambil saling merekatkan badan. Seolah ingin saling menguatkan dan menanggung masing-masing beban, keduanya semakin erat berpelukan sambil sesekali sesenggukan.

Wajahnya yang satu tirus dan yang satu bulat. Dalam balutan kerudung, samar-samar wajah dua perempuan itu mirip dengan foto yang dipegang dua laki-laki yang sedang berbincang tadi. Ah, tidak, dua perempuan itu memang orang yang ada di foto yang dipegang oleh dua laki-laki itu.

Dari keempatnya, tak ada yang sadar bahwa orang yang selama ini mereka cari ternyata ada di sana, ada di jalan kehilangan. Dua perempuan itu lewat di depan dua laki-laki yang sama-sama saling mencari dan merasa kehilangan. Mereka tak tahu kalau sebenarnya mereka ada dalam satu lokasi, bahkan mereka tak sadar bahwa mereka sangatlah dekat bahkan saling bersampingan.

Dua perempuan itu terus berjalan di hadapan dua lelaki mantan pacarnya tanpa ada apapun yang mereka sadari. Dua laki-laki itu juga terus saja berbincang tanpa menyadari bahwa perempuan yang menjadi tema perbincangannya lewat di depan mereka. Terus saja mereka begitu sampai akhirnya keempatnya saling berjauhan. Dua perempuan tadi terus berjalan semakin menjauh dari lokasi dua laki-laki tadi. Sampai akhirnya semua tak menemukan siapa yang mereka cari dan terus saja merasa kehilangan.

Ya, begitulah jalan kehilangan. Udara di sana sudah seperti candu dan rokok saja bagi orang-orang yang sedang kehilangan. Mereka menghirupnya agar bisa melupakan sesuatu. Aroma-aroma putus asa dan ratapan pekat memenuhinya sampai tengah malam. Sampai kemudian dua laki-laki tadi tak lagi terlihat entah ke mana. Dan orang-orang di sana terus berjalan dalam sesenggukan dan tundukan kepala.

***

Aku terus melangkah menembus hujan. Di bawah naungan payung hitam air terus saja menghujam bumi. Kakiku basah juga beberapa bagian bawah celanaku. Beberapa orang berteduh di depan toko-toko yang sudah tutup.

Terus saja aku menunggumu sayang. Sambil berjalan tak peduli nanti masuk angin atau tidak. Ah, tidak aku belum pantas memanggilmu begitu. Sejak dulu aku memang malu mengatakannya padamu. Tapi sekarang, sebelum kau pulang ke rumahmu dan tidak lagi sekota denganku, aku ingin kau mengetahuinya meski kau sudah milik orang lain.

“Maaf Ndre, aku tidak bisa menerima dua orang sekaligus di hatiku,” ucapmu beberapa jam lalu.

“Bukan, bukan itu maksudku, aku cuma …” Sebelum aku menyelesaikan perkataanku, Joko, pacarmu yang sekarang tiba-tiba datang memergoki kita yang sedang berduaan di taman waktu itu. Dengan sejurus singkat dia melayangkan kalimat “putus” dan mengancamku dengan tatapan sinis. Kau langsung meninggalkanku dan mengejarnya. Terus kau mengejarnya tapi apalah daya, kakimu keseleo dan kau terjatuh sementara si Joko terus saja menancap gas sepedanya menjauh ke dalam gelapnya malam.

Hujan turun deras sekali beberapa detik kemudian membasahi tubuhmu yang sedang berusaha bangun dari jatuh. Aku menghampirimu bermaksud menolongmu dan memberikan naungan payung yang memang kubawa sedari tadi. Tapi belum sampai aku padamu, kau langsung lari sekencang mungkin. Aku mau mengejarmu tapi angin buru-buru menerbangkan payungku dan sejenak aku terhuyung-huyung sebelum akhirnya aku tak lagi melihat tubuhmu. Entah kau pergi ke mana.

Aku terus berjalan, meninggalkan sepedaku yang diparkir di pinggir taman menerabas hujan dan berharap aku bisa menemukanmu di sela-sela trotoar.

Aku seperti merasa bersalah dan seperti, ah, sepertinya aku tak akan lagi pernah bertemu dan menemukanmu lagi. Ya, aku seperti kehilangan sesuatu. Bertahun-tahun aku menunggu kesempatan ini untuk bisa mengungkapkan perasaanku. Tapi nahas, Joko si pacarmu itu merusak segalnya. Aku sadar betapa kau akan marah padaku. Tapi aku juga pantas merasa marah pada si Joko itu.

Betapa kesempatan yang bertahun-tahun itu kutunggu hilang begitu saja. Aku tak berharap kau menerimaku sebagai pacarmu, aku hanya ingin menyampaikan dan kau mengerti, itu saja. Semua hilang dalam sekejap.

Malam terus berlanjut dan hujan terasa semakin deras. Aku berjalan terus saja menyusuri trotoar yang sudah basah dan malam yang semakin lembab. Terus berjalan dengan perasaan kehilangan. Sampai akhirnya aku menemukan plang nama jalan yang terpampang di tepi sebuah warung kecil.

Ya, kau pasti tahu nama jalan itu apa. Lihat, ada sesuatu tertulis di sana. Samar-sama kubaca plang arah jalan itu, hatiku berdesir. Betapa tepat dan kebetulan, aku tiba di suatu tempat yang pas untuk bisa merayakan kehilangan. Ya, apa lagi kalau bukan kehilanganmu. Plang jalan itu bertuliskan: Jl. Kehilangan.

Dari jauh, aku melihat banyak orang berjalan merunduk, di bawah naungan payung-payung dan hujan yang lebat jalan itu tetap saja ramai. Aku melesat di sela-sela kerumunan orang-orang. Aroma putus asa dan penyesalan pekat merebak.

Di ujung jalan, aku seperti melihatmu berdiri di bawah sebuah lampu jalanan. Tubuhmu basah dan seperti gemetar dan terlihat sesenggukan. Tapi tiba-tiba, dalam sekejap, tubuhmu lenyap menghilang dari pandanganku. Hilang, tak bisa kutemui lagi. Sirna, untuk selamanya. Ya, aku melihatmu terakhir kali di jalan ini, jalan kehilangan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS || Tentang Namanama, Sungai dalam Kepalaku

Next Post

Perempuan dan Perubahan Zaman

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan dan Perubahan Zaman

Perempuan dan Perubahan Zaman

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co