24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Yang Mangkrak dan Yang Bergerak” – Berwisata Energi ke Nusa Penida

Lanang Taji by Lanang Taji
December 7, 2020
in Tualang
“Yang Mangkrak dan Yang Bergerak” – Berwisata Energi ke Nusa Penida

Berpose di areal pembangkit listrik yang mangkrak. [Foto-foto L Taji]

Gundukan tebing kars yang menjorok ke laut di pantai klingking, lubang pada tebing batu karang di Pantai Pasih Uug (Broken Beach), dua buruan latar selfie wisatawan yang mengunjungi Pulau Nusa Penida. Jika kurang, menikmati kesegaran kolam alami para bidadari di Angle Bilabong atau menikmati sebotol bir di atas pasir putih Cristal Bay sambil menunggu matahari yang tenggelam juga menjadi pilihan yang menggiurkan.

Ditemani kopi dalam tumbler sambil menanti surya menyingsing dari ufuk timur bisa dilakukan di pantai atuh kemudian menyusuri jalan menuju barisan perbukitan teletabis, pilihan yang lain yang sering dilakukan wisatawan. Jika memiliki tenaga dan kondisi fisik yang prima menyusuri anak tangga menuju mata air guyangan.

Sunset di Cristal Bay
Panorama di Nusa Penida

Panorama alam Nusa Penida menjadi daya tarik utama yang membuat banyak wisatawan mengunjungi pulau terbesar dari tiga gugus pulau di kecamatan Nusa Penida. Daya tarik yang didorong kegandrungan masyarakat hari ini ini untuk memiliki sebuah foto bagus dan lezat untuk memberi makan media social dan sedikit memamerkan setiap perjalanan yang di tempuh. Dan berbicara tentang foto yang bagus, Nusa Penida tentu menjadi sebuah pulau yang menjajikan hal tersebut.

Sebelum daya tarik panorama alamnya, dahulunya kunjungan orang ke Nusa Penida adalah untuk alasan tirta yatra (persembahyangan), perjalanan untuk melakukan proses persembahyangan di pura-pura besar yang tersebar di seluruh pulau. Hingga hari ini, ketika covid melanda, kunjungan orang ke pulau untuk mealukan persembahyangan masih tampak pada hari-hari besar, walau tentu saja mengalami penurunan.

Selain panorama alam yang aduhai dan situs spiritual religus Nusa Penida memiliki sebuah potensi objeck pariwisata yang luput dari pantauan khalayak ramai. Potensi tersebut tersebar, ada di desa tanglad, Puncak Mundi dan desa-desa lainnya. potensi tersebut adalah petualangan berburu artefak energi bersih.

Di Desa Tanglad sebuah tembok bangunan di tengah semak belukar yang tumbuh liar sebuah papan berdiri memberitahukan “Tanah Milik PLN”. Di sekelilingnya pagar besi melingkar, berkarat dikeroyok belukar yang terus tumbuh seiring waktu dan musim yang berganti. Sisa bangunan yang menyisakan puing adalah bukti yang tersisa bahwa warga Desa Tanglad pernah melihat dari dekat bagaimana listrik dilahirkan dari potensi energi matahari dan angin yang ada di daerah mereka. selain menyaksikan dan menikmatinya selama sekitar satu tahun, warga desa juga terlibat aktif dalam membantu proses pengadaan lahan untuk berdirinya pembangkit listrik tersebut.

Namun sayang pembangkit listrik yang didirikan pada pertengahan tahun 1990-an, hanya berhasil beroperasi selama satu tahun dan akhirnya rusak. Pengaplikasian energi bersih di Desa Tanglad ketika itu juga tidak lepas dari kondisi desa yang belum mendapat suplai energi dari pembangkit listrik tenaga disel yang ada di Desa Sampalan. Pemanfaatan matahari dan angin dengan bantuan cadangan dari disel dengan cakupan wilayah yang kecil sudah berhasil dibangun pada masa itu, bahkan berhasil membuat desa tersebut memiliki kemandirian energi, setidaknya selama satu tahun. Sebuah contoh baik yang sayangnya harus mangkrak dan kini akhirnya semua bergantung pada PLTD yang ada di Sampalan.

 Meninggalkan Desa Tangglad, menyusuri jalanan di antara terasering yang tersusun dari kepingan kecil kars, kincir angin berbaris di kejauhan. Berdiri diam, kaku tak terabaikan. Barisan kincir tersebut berdiri di Puncak Mundi. Titik tertinggi Pulau Nusa Penida dengan ketinggian sekitar 500mdpl. Dari ketinggian, berdiri sambil menatap lurus ke laut lepas.

PLTB dan PLTS di Puncak Mundi dibangun pada masa kepemimpinan Presiden SBY, pada kurun waktu pertengahan tahun 2000-an. Pembangunan pembangkit energi bersih tersebut sepertinya tidak bisa lepas dari penyelenggaraan KTT Iklim (United Nation Framework Convention on Climate Change) yang berlangsung pada tanggal 3-14 Desember 2007 di Nusa Dua, Bali. Namun sayang, penerapan tekhnologi tersebut tak berumur lama, bahkan umurnya lebih pendek dari satu periode masa jabatan presiden. Sempat beroperasi sekitar satu tahun kini PLTS dan PLTB Puncak Mundi mangkrak, terbengkalai seperti pendahulunya.

Berpose wisata di areal pembangkit listrik yang mangkrak
Bangunan-bangunan untuk energi bersih yang tak berlanjut

Ingin tahu bentuk penerapan yang lain, berhentilah di sebuah warung lalu pesan segelas kopi. Segelas jangan secangkir, kebanyakan warung menyajikan kopi menggunakan gelas bukan cangkir. Lalu cobalah bertanya apakah ada kelompok ternak yang mendapat biogas? Biasanya mereka akan dengan senang hati menginformasikan dimana bangunan biogas yang mangkrak. Jumlahnya pun tidak sedikit dan tersebar di beberapa desa.

Kehadiran biogas di Pulau Nusa Penida tidak lepas dari Program Simantri, program yang sempat menjadi unggulan milik Pemerintah Propinsi Bali. Biogas diberikan kepada kelompok ternak yang tergabung dalam program tersebut. berbeda dengan program energi bersih sebelumnya yang memproduksi listrik, biogas hadir untuk memproduksi kebutuhan akan bahan bakar. Bahan bakar gas yang dihasilkan merupakan hasil dari fermentasi kotoran sapi yang merupakan ternak yang banyak dirawat oleh warga Nusa Penida.

Nasib biogas tersebut tidak jauh berbeda dengan program pembangkitan energi bersih sebelumnya, tidak berumur panjang dan akhirnya ditinggalkan.

Lalu apa yang menarik sehingga artefak-artefat tersebut menjadi penting untuk dikunjungi oleh wisatawan?

Alasannya sederhana, perubahan iklim menjadi perhatin dunia saat ini. Serangkaian kampanye pengurangan penggunaan energi kotor dan dorongan kepada negara untuk beralih ke energi bersih kian menguat. Dari sisi ini Nusa Penida tentu memiliki nilai sejarah bagaimana usaha penerapan tersebut pernah dilakukan walau gagal. Alasan yang lain tentu saja pepatah lama belajarlah dari pengalaman, bagaimana kegagalan energi bersih diaplikasikan di Nusa Penida tentu saja bisa menjadi guru yang mengajarkan bahwasannya penerapan energi bersih tidaklah mudah. Membangun tanpa memperhitungkan bagaimana keberlangsungan dari pembangkit energi bersih kedepannya tentu bukan keputusan yang baik.

Alasan selanjutnya materi foto lain dari yang lain. Selfie dengan latar Pantai Klingking tentu sudah biasa, banyak yang melakukan itu. Namun selfie di depan kincir raksasa di ketinggian Nusa Penida tentunya memberikan variasi dari stok foto yang bisa dipamerkan di media social.

Kehadiran artefak-artefak bangunan pembangkit energi bersih tersebut juga menggambarkan bagaimana pulau Nusa Penida sebagai sebuah pulau yang menjadi ruang yang hidup diperlakukan, bagaimana mereka hadir lalu pergi begitu saja. Barisan kegagalan pembangunan energi bersih dengan skala proyek yang tidak murah, yang telah dibangun dari sekitar 25 tahun yang lalu dan berpotensi menjadi museum kegagalan pembanguna energi bersih jika tak ada niat baik membereskan jejak kegagalan tersebut.

Senja di RBBK

Jika masih ada waktu dan energi setelah melalui petualangan menyambangi jejak artefak kegagalan program energi bersih di Nusa Penida dan penasaran jika semua gagal, apakah Nusa Penida memiliki percontohan penerapan energi bersih?

Jawabannya ada. Cukup tanyakan pada penduduk sekitar arah menuju Banjar Nyuh, Desa Ped (sinyal seringkali menjadi kendala ketika menggunakan aplikasi peta sehingga bertanya (peta’) menjadi hal penting yang tak boleh dilupakan). Sesampainya di Bajar Nyuh jangan pula sungkan untuk bertanya dimana Rumah Belajar Bukit Keker. Jangan berfikir akan barisan panel surya di lahan yang luas, atau kincir raksasa yang berdiri kaku. Jangan juka berhaap berfikir melihat sebuah kubah raksasa tempat gas disimpan sebelum dialirkan ke dapur. Hal itu tidak ada, yang ada hanya jalan setapak dengan kebun disekitarnya dengan beberapa titik lampu panel surya yang ditempel ala kadarnya untuk menerangi jalan masuk ketika gelap tiba.

Sebuah ruang workshop, aoutlet, panggung, dapur, guest house, kandang sapi dan TPST tersebar di setiap sudut. Pertanyaannya dimana letak penerapan energi bersihnya? Penerapan energi bersih mengisi ruang antar bangunan, menjadi satu kesatuan bangunan yang utuh.

Solar panel dipasang berjajar di bagian depan guest house menjadi atap teras sehingga memperluas ruang teduh teras dan tentu saja mepercantik tampilan guest haouse yang awalnya datar. Sementara itu instalasi biogas berada di antara bangunan toilet dan kandang sapi. Seperti hal nya solar panel yang menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan rumah belajar akan energi listrik yang hanya menampilkan papan panel surya yang menjadi atap teras, biogas pun hanya menampilkan inlet, katup tuas utama, bak penekan dan outlet di atas permukan tanah. Sementara digester biogas dikubur di bawahh tanah, inverter dan batrai solar panel disembunyikan di dalam kamar.

Penerapan energi terbarukan di Rumah Belajar Bukit Keker
Pelatihan pengenalan dan perawatan solar panel
Penerapan energi bersih di Rumah Belajar Bukit Keker

Energi yang diproduksi dua system tersebut juga tidak besar, biogas yang digunakan hanya berukuran 4 kubik, menghasilkan sekitar 0,8-1,6 meter kubik perhari. Jumlah yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar rumah belajar. kebutuhan dapur Rumah Belajar Bukit Keker (RBBK) akan bahan bakar tidaklah terlalu tinggi, penggunaan baru terjadi ketika da tamu yang menginap atau jika ada kegiatan pelatihan. Hal tersebut memebuat biogas bisa dimanfaatkan oleh salah satu tetangga RBBK.

Kebutuhan akan energi listrik yang lebih dominan hal ini dikarenakan kebutuhan akan penerangan terutama ketika ada kegiatan pada malam hari dan menyalakan beberapa peralatan elektronik yang ada di RBBK. Hal tersebut yang membuat panel surya yang dipasang sebesar 1000wp dengan inverter 2kW dan kapasitas batrai 2x12watt. Setiap harinya bisa menghasilkan 3-4 kW dengan cadangan energi pada malam hari sebesar 2.040 wh (watt hours).

Jika dibandingkan dengan apa yang dibangun sebelum-sebelumnya di Nusa Penida produksi energi di RBBK tentu tidak besar. Jumlah produksi energi yang diusahakan RBBK sesuai dengan kebutuhan energi RBBK. Hal mendasar ketika berbicara pengusahaan energi secara mandiri adalah mengetahui pola konsumsi dan menghitung kebutuhan nyata dari konsumsi energi.

Mengetahui jumlah produksi yang berhasil diproduksi tanpa disadari membuat harus melakukan perhitungan ketika hendak mengkonsumsi energi. Jika ingin menggunakan energi tersebut lebih lama maka konsumsi energi harus diperkecil demikian jua sebaliknya. Misalkan energi listrik  yang berhasil dipanen dari panel surya dan simpan di batrai untuk malam hari sebesar 2.040 watt, jika kita ingin menggunakan cadangan energi tersebut selama 12 jam maka pemakaian energi yang harus dilakukan hanya sebesar 2.040 dibagi 12,sebesar 170 watt. Dari hasil perhitungan tersebut kemudian dipilih mana peralatan yang memang dibutuhkan mana yang tidak sehingga energi yang digunakan tidak lebih dari 170 watt. Hal yang sama juga berlaku pada pemanfatan bahan bakar biogas. Semakin sedikit energi yang digunakan setiap harinya semakin banyak yang bisa disimpan. Hal ini penting ketika tiba waktunya menyelenggarakan acara-acara yang lebih besar.

Menghitung konsumsi energi belumlah menjadi sebuah kebiasaan.  Kebutuhan energi yang selama ini terus disuplai tanpa henti baik oleh pembangkit listrik negara maupan oleh gas elpiji dalam tabung yang dijual di toko-toko kelontong dekat rumah membuat kita tidak punya waktu untuk menghitung jumlah konsumsi energi yang kita gunakan. Walau tanpa disadari jumlah konsumsi energi tersebut nyatanya telah menyita tenaga dan waktu dalam cara untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut.

Penerapan energi bersih di Rumah Belajar Bukit Keker

Energi tentu ukan persoalan sederhana bagi sebuah pulau kecil seperti Nusa Penida. Besaran daya listrik yang bisa diproduksi oleh PLTD (berbahan bakar solar) hingga pengangkutan bahan bakar baik itu solar maupun gas yang butuh menyebrangi lautan tentunya membutuhkan biaya yang tinggi. Disaat yang sama pemerintah merencanakan untuk semakin menggenjot junjungan wisata ke Nusa Penida. Nusa Penida direncanakan menjadi salah satu ikon baru pariwisata Bali. Artinya kebutuhan energi di pulau tersebut juga akan melonjak seiring dengan melonjaknya kedatangan orang ke pulau Nusa Penida.

Jika melihat kebiasaan pepatah “tamu adalah raja”, bisa jadi energi listrik yang berhasil diproduksi akan dialokasikan terlebih dahulu untuk memenuhi sang tamu (akomodasi wisata). Apalagi tamu tersebut datang dengan bawa uang. Kebutuhan masyarakat bisa menunggu tentunya. atau jika misalnya kemudain daya PLTD kemudain ditingkatkan, artinya lebih banyak bahan bakar yang dibutuhkan dan lebih banyak emisi yang dikeluarkan.

Kebutuhan energi yang terus meningkat seiring berjalannya waktu menjadi tantangan bagi Nusa Penida dan pulau-pulau kecil lainnya. tantangan yang coba disikapi oleh gerakan #ecologicnusapenida dengan membangun percontohan penerapan energi bersih di Nusa Penida. Penerapan solar panel di rumah belajar Bukit Keker yang dikelola yayasan taksu tridatu adalah salah satunya. Contoh lain dari penerapan energi bersih yang dibangun adalah biogas, berbeda dengan program sebelumnya yang menyasar kelompok kali ini percontohan biogas dibangun dengan menyasar rumah tangga. Setidaknya ada 5 keluarga yang tersebar di dua dusun (jurang pait dan ponjok) di desa Kutampi.

Terkait penerapan energi listrik dengan menggunakan panel surya, selain menghadirkan contoh penerapan energi bersih, gerakan #ecologicnusapenida yang digagas GFSGP dan Yayasan Wisnu juga melaksanakan pelatihan pengenalan dan perawatan solar panel untuk mengenalkan ragam potensi energi untuk memenuhi kebutuhan listrik juga mengenalkan dan memeberikan informasi bagaimana cara merawat solar panel.

Selain itu gerakan yang sudah berlangsung sejak 2 tahun yang lalu ini juga melaksanakan diskusi dengan melibatkan berbagai pihak pemangku kepentingan, tujuannya tentu saja untuk menarik perhatian pemangku kepentingan, bahwasannya ada persoalan energi yang tidak bisa dikesampingkan di Nusa Penida.

Langkah kecil telah dilakukan, sebuah objeck wisata baru lahir diantara keindahan pesaona alam Nusa Penida. Object yang akan mengajarkan kita dari bagaimana kegagalan penerapan energi bersih dengan pendekatan proyek skala besar yang hanya menjadi artefak dan bagaimana usaha menanam contoh penerapan kemandirian energi dalam sekala kecil dalam usaha menjaga keberlangsungan ekologi Nusa Penida. Sayang rasanya jika mengunjungi Nusa Penida hanya untuk mengeksplotasi pesona ekologinya tanpa kemudian mau belajar dari pulau kecil yang menyimpan segunung ilmu itu.[T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepuluh Seniman Muda Menulis dalam Buku “Seni Mau Dibawa ke Mana?” – Didiskusikan di Warung Men Brayut

Next Post

Mengapa Kita Tidak Menemukan Warna Hitam dalam Pelangi?

Lanang Taji

Lanang Taji

Part time citizen, full time netizen. tukang tulis di I NI timpalkopi

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Mengapa Kita Tidak Menemukan Warna Hitam dalam Pelangi?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co