2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Kita Tidak Menemukan Warna Hitam dalam Pelangi?

Wayan Purne by Wayan Purne
December 8, 2020
in Dongeng
Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Tatkala dulu, di bulan mati, istana kayangan dikelilingi cahaya bintang-bintang, menandakan para bidadari berkumpul bersuka-ria dan bercanda-ria.

“Teman-teman, ayo kita ke Bumi ketika matahari memancarkan cahayanya di ufuk timur,” ajak salah-satu bidadari.

Seketika itu, keadaan menjadi hening. Para bidadari terheran dengan ajakan temannya itu. Selama berada di kayangan sebagai bidadari, mereka tidak berpikiran memiliki keinginan ke Bumi.

“Untuk apa kita ke bumi?” sahut bidadari lainnya yang belum mengerti dengan ajakan temannya.

“Kita ke Bumi untuk melihat-lihat ciptaan Dewa Bhrahma. Pasti ciptaan-Nya sangat mengagumkan,” jawabnya.

“Bagaimana caranya kita ke Bumi? Kita tak memiliki kekuatan yang bisa mengatarkan ke Bumi?” tanya bidadari lainnya.

Seketika suasana menjadi hening, para bidadari terdiam memikirkan cara untuk bisa ke Bumi. Mereka tak mampu terbang ke Bumi. Mereka hanya mampu melayang-layang bersama awan-awan yang mengeliling Istana Langit.

“Kenapa kita tak menemui Dewa Wisnu? Kita memohon anugrah dari beliau sehingga bisa pergi kemanapun yang kita inginkan,” ucap salah satu bidadari memecah keheningan.

“Kalau begitu, ayo kita menghadap dan memohon kemurahan Dewa Wisnu!” Mendadak suasana riuh penuh semangat di antara para bidadari.

Para bidadari pun pergi ke istana Dewa Wisnu, tetapi Dewa Wisnu tidak ada di istana.

“Bagaimana ini? Kita tak bisa bertemu Dewa Wisnu. Pupus sudah keinginan kita mengunjungi Bumi. Entah apa yang sudah diciptakan oleh Dewa Bhrahma di Bumi? Kita tak akan tahu,” keluh salah satu bidadari mengikuti teman-temannya keluar dari istana Dewa Wisnu.

“Lihat  itu! Ternyata Dewa Wisnu sedang berada di taman langit bersama sang istri,” teriak bidadari lainnya mengagetkan teman-temannya.

Dewa Wisnu ikut menoleh dari kejauhan ke arah para bidadari karena mendengar namanya disebut. Tak lama kemudian, Dewa Wisnu memanggil para bidadari.

Para bidadari mendekat ke taman langit. Mereka sumringah bahagia bisa menemui Dewa Wisnu. “Apa yang hendak kalian lakukan di sini? Sepertinya kalian menginginkan sesuatu,” tanya Dewa Wisnu terheran.

“Maafkan kami telah mengganggu ketenangan Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi. Kami hanya ingin memohon sebuah anugrah,” pinta salah satu bidadari

“Anugrah apa yang kalian inginkan?” tanya Dewi Laksmi tanpa memberikan kesempatan kepada suaminya, Dewa Wisnu menjawab permintaan para bidadari.

“Maafkan hamba Dewi. Kami berkeinginan hendak berkunjung ke Bumi. Kami ingin menyaksikan keindahan alam Bumi,” jawab salah satu bidadari tertunduk.

“Anugrah apa lagi yang kalian minta? Bukankah semua anugrah sudah aku anugrahkan kepada kalian semua?” ucap Dewa Wisnu.

“Kami hanya ingin diberikan anugrah kekuatan yang mampu membawa kami ke Bumi,” jawab salah satu bidadari.

“Kalau keinginan kalian yang itu, aku belum bisa mengabulkannya. Belum waktunya kalian mendapatkan anugrah itu,” ucap Dewa Wisnu menolak permohonan para bidadari.

Mendengar jawaban Dewa Wisnu, para bidadari tertunduk sedih. Pupus sudah keinginan para bidadari turun ke Bumi menikmati keindahan alamnya.

“Mohon maaf, Dewi. Bolehkah kami meminjam selendang-selendang yang Dewi miliki? Hamba pernah dengar, selendang-selendang itu bisa mengantarkan siapa saja yang ingin ke Bumi ketika memakainya di pinggang,” pinta salah satu bidadari memberanikan diri kepada Dewi Laksmi.

Mendengar perkataan temannya, para bidadari lainnya terkejut. Seketika para bidadari dengan penuh rasa memohon menatap Dewi Laksmi.

“Bagaimana Adinda? Apakah Adinda akan memberikan selendang itu? Kakanda tak akan melarang Adinda karena semua itu adalah milik Adinda,” ucap Dewa Wisnu.

Dewi Laksmi masih terkejut dengan permohonan para bidadari. Ia tidak menyangka sudah ada bidadari yang tahu bahwa ia memiliki selendang-selendang itu.

Dewi Laksmi masih diam membisu. Para bidadari juga terdiam penuh harap, keinginan mereka dikabulkan oleh Dewi Laksmi. Bahkan, Dewa Wisnu ikut terdiam menunggu jawaban istrinya. Suasana jadi hening membeku.

“Baiklah, aku akan menghadiahkan selendang-selendang itu kepada kalian,” ucap Dewi Laksmi memecah kebekuan. Suasana kembali ceria. Wajah-wajah cantik para bidadari berseri-seri bahagia.

“Kalau begitu, ayo kita ke istana!” ajak Dewa Wisnu tiba-tiba.

“Ya, Kakanda, kita pulang ke istana. Sebab, seledang-selendangnya berada di istana,” jawab Dewi Laksmi.

Para bidadari kembali ke istana Dewa Wisnu. Mereka dengan senyum yang semakin memancarkan kecantikannya berkumpul di ruang tengah istana. Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi duduk bersila di depan para bidadari.

“Bersiaplah kalian menerima selendang-selendang dariku,” ucap Dewi Laksmi.

Tiba-tiba di antara mereka muncul sebuah kotak emas. Dari kotak itu, keluarlah selendang-selendang itu berwarna-warni. Selendang-selendang itu mengelilingi mereka. Seakan-akan,  mereka akan diselimuti berbagai warna-warni bunga di taman.

“Silahkan pilih warna selendang yang kalian mau, tetapi selendang-selendang ini tetap akan memilih kalian sebagai pasangannya,” ucap Dewi Laksmi.

Para bidadari sontak tersadar dari kekagumannya ketika mendengar ucapan Dewi Laksmi. Mereka bergegas mengambil seledang itu dan mengikatkannya di pinggang masing-masing.  Namun, satu bidadari masih termangu terpana dengan pancaran warna selendang-selendang itu. Tanpa ia sadari, tema-temannya sudah memiliki selendang.

“Hai, mengapa kamu masih bengong? Kamu tidak mengambil selendangmu?” ucap bidadari lainnya menyadarkannya.

“Ya, aku mengambilnya,” jawabnya mengambil selendang itu. Ternyata, selendang yang itu adalah selendang warna hitam sesuai dengan kesukaannya.

“Kini selendang itu yang bisa mengantarkan kalian ke Bumi. Kalian pun akan dinamakan sesuai dengan selendang-selendang itu. Tubuh kalian pun akan memacarkan warna yang sesuai selendang-selendang itu,” ucap Dewi Laksmi.

Para bidadari membungkuk hormat kepada Dewi Laksmi sebagai tanda terimakasih atas semua anugrah yang mereka terima. Mereka pun meninggalkan istana. Bidadari yang memperoleh selendang warna merah disebut sebagai Bidadari Merah. Begitu juga dengan yang lainnya, ada disebut sebagai Bidadari Kuning dan seterusnya menjadi bidadari warna-warni.

“Ayo kita sekarang lihat pemandangan yang ada di Bumi. Ciptaan yang sangat sempurna dari Dewa Brahma,” kata Bidadari Merah.

“Ayo kita pergi!” sahut para bidadari lainnya.

Para bidadari membentangkan selendangnya di antara badan mereka. Seketika mereka melayang menuju Bumi. Mereka berkeliling memutari Bumi. Namun, diam-diam Dewa Surya memperhatikan dan mengikuti mereka.

“Benarkan, pemandangannya seperti yang kita bayangkan. Sungguh mengagumkan,” ucap Bidadari Merah penuh ketakjuban.

Pohon-pohon yang rindang dan burung-burung berkicau bersahut-sahutan mendendangkan alunan musik yang indah. Binatang-binatang bercanda-ria, berlari-larian, dan berlompat-lompatan berebut makanan di dalam keindahan hutan.

“Lihat itu! Terlihat ada air terjun dengan gemericik air sungai yang jernih,” ucap Bidadari Kuning.

“Waah, sepertinya benar yang dikatakan oleh Bidadari Kuning. Ayo kita turun ke sana!” sahut Bidadari Biru.

Mereka turun melihat air terjun itu lebih dekat. Mereka berdiri di sebuah batu besar dekat air terjun. Percikan air terjun itu menyambutnya. Di balik air terjun yang begitu jernih, ada sebuah gua yang  besar. Seolah-olah air terjun itu menjadi lidah dari gua itu sendiri.

“Siapa di sana yang berisik menggangguku?” suara menggelegar dari dalam gua.

Para bidadari tersentak kaget mendengar kemarahan suara yang menggelegar di dalam gua.

“Maaf Tuan. Ini hamba, para bidadari sedang mengagumi keindahan alam bumi ini,” jawab Bidadari Merah.

Bayangan tinggi besar semakin mendekat di balik air terjun itu. “Karena sudah membangunkanku dari pertapaan, kalian harus ikut menemaniku sampai mencapai kesempurnaan,” terdengar suara menggelegar semakin mendekat kearah para bidadari.

Para bidadari mendadak terhentak ketakutan dan tak tahu harus melakukan apa.

“Maaf Tuan. Kami tak bermaksud mengganggu Tuan dari pertapaan,” ucap para bidadari ketakutan.

“Cepat  jauhi gua itu! Kalian nanti akan ditelan oleh tangan gelap,” tiba-tiba suara bisikan Dewa Surya menyusup di telingan para bidadari.

Bisikan penyelamat itu menandakan bahwa Dewa Surya sudah tahu sosok bayangan besar yang ada di balik air terjun itu.

“Ayo kita pergi dari sini,” bisik Bidadari Merah kepada teman-temannya yang semakin ketakutan.

“Kalian tidak akan bisa lari dari tanganku. Tak akan pernah bisa,” tiba-tiba tangan hitam yang sangat besar muncul dari balik air terjun itu. Tangan itu begitu besar seakan bisa menggenggam semua bidadari itu.

“Cepatlah terbang! Sebelum tangan hitam itu menggenggam kalian,” bisikan kilat Dewa Surya terngiang di telingan para bidadari.

Para bidadari secepat-cepatnya merentangkan selendangnya dan bergegas meninggalkan tempat itu agar tidak tertangkap. Tangan hitam itu tak kalah cepat menyambar para bidadari. Tangan hitam itu terus memanjang dari balik air terjun mengejar para bidadari. Akan tetapi, para bidadari masih bisa lolos dari cengkraman tangan hitam itu.

“Tolooooong! Aku tak bisa terbang lagi. Aku mau jatuh. Selendangku ditarik oleh tangan hitam itu,” teriak ketakutan Bidadari Hitam. Ternyata, ia berada paling belakang di antara teman-temannya.

 “Cepat lepaskan selendangmu,” perintah Dewa surya. Bidadari hitam berusaha melepas selendangnya, tetapi ia mengalami kesulitan. Secepat kilat Dewa Surya menolong Bidadari Hitam. Selendang Bidadari Hitam terlepas dan melilit di tangan hitam besar itu. Si tangan hitam itu kembali ke dalam gua, ia tak mampu lagi mengejar para bidadari karena terlilit oleh selendang hitam itu.

  Tiba-tiba, terdengar suara dentuman keras dan sesuatu yang aneh keluar terhempas dari balik gua melewati air terjun. Sesuatu itu seperti air terjun yang ikut terhempas, tetapi berwarna hitam. Suasana di gua itu pun menjadi hening hanya terdengar gemericik air terjun. Seolah-olah sosok yang ada di balik gua itu sudah tidak ada.

“Apa yang yang terjadi dan apa yang keluar dari balik gua itu?” tanya Bidadari Hitam kepada Dewa Surya.

“Kalian sudah mengganggu Dewa Brahma yang sedang bermeditasi. Karena kalian mengganggu puncak meditasi beliau, Dewa Brahma berubah menjadi raksasa seperti yang kalian lihat,” jawab Dewa Surya.

Para bidadari hanya mengangguk-ngangguk menahan rasa takutnya.

“Lalu, apa yang keluar dari balik gua itu?” tanya Bidadari Hitam yang masih menyimpan rasa takut.

“Itu serpihan-serpihan selendangmu yang melilit tangan dan tubuh Dewa Brahma ketika beliau berubah menjadi raksasa,” Ucap Dewa Surya.

Bidadari Hitam dan bidadari lainya hanya bergumam seolah-olah mengerti penjelasan Dewa Surya.

“Lihat itu! Coba perhatikan! Apa yang terjadi dengan serpihan-serpihan selendang itu?” ucap Dewa Surya mengalihkan perhatian para bidadari.

Para bidadari memperhatikan serpihan-serpihan itu melayang-layang di Bumi.

“Benar, serpihan itu ketika jatuh di atas batu, batu itu menjadi hitam,” ucap Bidadari Kuning.

“Ya, serpihan-serpihan itu meyebar dan jatuh di beberapa benda ataupun di beberapa tubuh binatang sehingga berubah menjadi hitam ataupun abu-abu,” jawab Dewa Surya.

Para bidadari pun memperhatikan setiap serpihan yang jatuh.

“Jangan-jangan semua yang ada di bumi berubah menjadi hitam,” terbelesit dalam pikiran para bidadari.

Namun, ternyata serpihan-serpihan itu sudah bisa menentukan dirinya dimana jatuh sehingga tidak semua yang ada di bumi bisa berubah warna.

“Pulanglah sekarang! Tak perlu takut lagi. Dewa Brahma sudah mengakhiri meditasinya. Beliau sudah ke istananya,” ucap Dewa Surya.

Para bidadari merasa tenang. Mereka bergegas kembali kekayangan.

“Hamba tinggal di sini aja,” ucap Bidadari Hitam gugup.

Dewa Surya kaget,”Mengapa kamu ingin tetap tinggal?”

“Hamba tak sanggup menemui Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi. Hamba pun tak lagi memiliki kekuatan selendang itu,” jawab Bidadari Hitam sedih.

“Baiklah jika itu keputusanmu. Kuberikan kamu kemampuan mengendalikan awan dan menemaniku menyinari Bumi,” ucap Dewa Surya mengabulkan keinginan Bidadari Hitam.

Kini, hari-harinya Bidadari Hitam mengiringi Dewa Surya.

“Hai, apa kabar, Bidadari Hitam?” sapa para bidadari yang akan berkunjung dunia.

Bidadari Hitam tersenyum dan menurunkan gerimis hujan mengiringi para bidadari yang turun ke Bumi. Hujan gerimis itu semakin memperindah kilauan warna selendang para bidadari di langit biru. Hanya saja tanpa ada lagi kilauan selendang hitamnya. Namun,  ia tetap ikut bahagia menyaksikan canda tawa para Bidadari.

Semenjak saat itu, manusia tidak bisa lagi menemukan warna hitam di dalam pelangi tatkala para bidadari turun ke bumi.[T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Yang Mangkrak dan Yang Bergerak” – Berwisata Energi ke Nusa Penida

Next Post

Jayaprana & Layonsari || Sebuah Refleksi Masa Kini

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails
Next Post
Jayaprana & Layonsari || Sebuah Refleksi Masa Kini

Jayaprana & Layonsari || Sebuah Refleksi Masa Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co