3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jayaprana & Layonsari || Sebuah Refleksi Masa Kini

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
December 8, 2020
in Esai
Jayaprana & Layonsari || Sebuah Refleksi Masa Kini

Poster pementasan drama Layonsari oleh Komunitas Mahima

Malam itu, Suck Cafe ramai sekali. Barangkali karena akhir pekan. Banyak muda-mudi datang. Nang Kocong dan Pan Gobyah kebagian tempat di teras, membaur dengan udara hangat di luar.

Di panggung, penyanyi memainkan Vienna yang cozy dalam akustik: I’m on my way to something new. And so are they, and so are you. Back to a time we all went through… Saya sedang dalam perjalanan menuju sesuatu yang baru. Begitu pula mereka, dan begitu pula Anda, kembali ke waktu yang kita semua alami.

Nang Kocong menuang minuman, sedangkan Pan Gobyah tampak berusaha mencungkil bistik yang beberapa kali mental dari garpu.

“Kudengar rekan kita di Buleleng, Putu Satriya Koesuma, menggarap lakon Jayaprana. Mau dibikin film,” kata Pan Gobyah sambil menghentikan sejenak kesibukan tangannya di piring.

“Wah, pantas saja lama tak kelihatan batang hidungnya, rupanya dia lagi ada projek baru. Putu itu passionnya memang teater. Kalau sudah urusan drama pastilah  dia mendadak sehat walafiat dan lupa yang lainnya.”

“Bagus ya kalau Jayaprana dibuat film.  Anak-anak muda bisa nonton kisah ini.”

“Betul, Byah, film lebih komunikatif bagi generasi milenial.”

“Jayaprana & Layonsari itu adalah Romeo & Juliet a la Bali. Ceritanya sama-sama romantis dan berujung tragis. Kalau dikemas dengan baik, anak muda pasti suka.” sambung Pan Gobyah.

“Konon Romeo & Juliet berasal dari roman kuno yang kemudian disusun sebagai karya sastra oleh sejumlah sastrawan Italia. Kisah ini jadi sangat terkenal setelah ditulis dan dikembangkan oleh William Shakespeare pada abad ke-17 dan diadaptasi dalam berbagai bentuk pertunjukan. Sedangkan kisah Jayaprana & Layonsari itu, kita tak tahu entah siapa pengarangnya.”

“Jayaprana & Layonsari itu legenda, Cong, benar-benar terjadi pada zaman dahulu. Setua ceritanya Shakespeare, kisah Jayaprana juga terjadi pada abad ke-17, sebab Kerajaan Kalianget berdiri sekitar tahun 1622. Bukti kuburan Jayaprana juga ada di Teluk Terima, bukan?” sahut Pan Gobyah.

“Bali memang kaya dengan folklor, bahkan beberapa dihubungkan dengan dewa-dewa dan nama tempat atau daerah sehingga ceritanya jadi berkesan sakral dan hidup.”

“Jayaprana bukan folklor tapi kisah nyata. Desa dan jejak peristiwanya masih ada sampai sekarang, bahkan sudah dibangun pura di sana. Tempatnya indah, di puncak bukit, menghadap teluk. Aku sejak kecil sudah seringkali ke sana. Bahkan pada hari-hari tertentu,  pemedeknya sangat padat. Mereka datang dengan berbagai harapan dan permintaan. Betara di sana bares atau murah hati. Banyak orang telah membuktikan.”

“Itu memang spot yang bagus untuk mereka yang suka foto-foto. Saat musim kemarau, pemandangan bukit akan terlihat dramatis dengan pohon-pohon merangas, ranting-ranting tak berdaun dan gersang. Bagus juga mendaki ke puncak untuk melatih dengkul.”

“Di Makam Jayaprana kita bisa merenung, mengenang tragedi yang menimpa dua insan malang itu. Kadangkala kehidupan bisa amat kejam tapi kita bisa belajar di situ.”

“Hebat orang yang dulu mengarang cerita ini dan memilih lokasi petilasannya. Pasti dia sastrawan pengelana. Atau mungkin pertapa. Bisa dibayangkan, ketika cerita dibuat pasti daerah sekitarnya sangat sepi, jauh dari pemukiman penduduk, tak ada jalan. Mereka tahu memilih tempat di belakang teluk yang indah dan terpencil itu sebagai bagian dari setting cerita sehingga kisahnya tetap hidup hingga saat ini. Agak mustahil cerita ini dikarang oleh pengembala kesasar.”

“Itu peristiwa pada masa kerajaan. Kalau raja sudah berkehendak, tak ada yang mustahil.”

“Ujung ceritanya dibikin tragis dan pilu, itu yang membuat emosi banyak orang mudah tersentuh dan berkecamuk oleh rasa marah dan sedih seakan-akan kisah itu menimpa dirinya.”

“Cinta kadang bisa mengubah orang jadi jahat. Hanya karena suka dengan Layonsari, seorang raja bisa berbuat kejam, sampai menghilangkan nyawa orang sepolos Jayaprana. Padahal dia abdi setia. Seperti tak ada wanita lain saja.”

“Namanya juga cerita. Boleh dibuat sedramatis mungkin supaya menarik.”

“Entahlah. Cuma, kesannya dia seperti tidak memiliki rasa kasih sayang, tidak punya hati, dan sewenang-wenang. Hidupnya seakan-akan hanya untuk ‘ngulurin indria’ dan nafsu. Apakah raja tidak punya penasihat, tidak ada yang memberi pertimbangan sebelum ambil keputusan?” Pan Gobyah nyeroscos seakan hatinya mengandung kesal.

“Sepertinya kamu menghayati betul cerita itu, Byah.”

“Ya, emosiku memang suka terpengaruh kalau ingat kisahnya, mungkin karena aku sering ke Makam Jayaprana.”

“Memangnya apa yang kamu ketahui tentang Jayaprana?”

“Itu kan sudah cerita umum, Cong. Jayaprana itu pemuda yatim piatu yang sejak kecil mengabdi di Kerajaan Kalianget. Bahkan dia abdi kesayangan raja karena berhati baik, rajin dan tulus.”

“Begitu, ya.”

“Suatu hari Jayaprana melamar Layonsari, putri kepala desa. Malah lamarannya dibuat dan disetujui oleh raja. Mereka pun menikah. Selesai upacara pernikahan, pasangan ini menghadap raja untuk memohon restu. Nah, sewaktu melihat kecantikan Layonsari, seketika raja merasa jatuh cinta dan ingin merebut Layonsari dari Jayaprana.”

“Itulah namanya cinta pada pandangan pertama, hehe…”

“Raja menyampaikan niatnya merebut Layonsari itu kepada Patih Saunggaling. Mereka kemudian menyusun siasat agar bisa menyingkirkan Jayaprana secara halus, dengan cara raja memerintahkan Jayaprana membasmi gerombolan perampok yang sedang mengganggu ketenteraman desa di tepi barat.”

“Maka tanda-tanda cerita sedih pun dimulai, hehe…”

“Jayaprana yang baru menikah terpaksa meninggalkan istrinya untuk menjalankan tugas dari raja. Sedangkan Layonsari, meski merasakan firasat buruk, mau tak mau, harus rela melepaskan suaminya.”

“Apa Jayaprana tidak berusaha menolak, mengingat ia baru saja menikah?”

“Itu perintah raja. Siapa bisa menolak? Jayaprana pun pergi bersama Patih Saunggaling diiringi beberapa prajurit. Saat rombongan tiba di kawasan hutan Teluk Terima, Patih Saunggaling pun menyampaikan tujuan sesungguhnya dari perjalanan mereka ini, bahwa Sang Raja menginginkan kematian Jayaprana dan dirinya yang ditugaskan mengeksekusi. Mendengar itu Jayaprana, yang seorang abdi setia, merasa tak punya pilihan lain, ia pun mengikhlaskan hidupnya diakhiri sesuai keinginan raja dan meminta Patih Saunggaling tidak ragu melaksanakan titah.”

“Apa mereka tidak bertempur, Byah?”

“Jayaprana kan sudah ikhlas. Tidak ada perlawanan. Biar kamu tahu, Cong, waktu Jayaprana ditusuk, darah yang keluar dari tubuhnya, berbau harum, lho. Itu tandanya dia seorang mulia. Setelah tewas, jenazah Jayaprana dikubur di hutan Teluk Terima itu. Di kerajaan, segera tersiar kabar Jayaprana telah tewas  dibunuh perampok. Tentu saja Layonsari sangat terpukul mendengar kabar itu. Setelah sukses melaksanakan tipu dayanya, raja berusaha menghibur Layonsari yang sedih dan berniat mengajaknya ke istana untuk diperistri.”

“Selanjutnya?”

“Hati kecil Layonsari tahu kalau kematian suaminya itu karena siasat dari raja sendiri. Dia jadi sangat marah, terpukul dan putus asa. Akhirnya dengan menggunakan keris milik raja, Layonsari menikam dirinya sendiri hingga tewas di tempat. Ia menyusul suaminya ke alam baka. Kematian Layonsari ini sangat mengguncang jiwa raja. Ia sangat marah, membuatnya lupa diri, bingung dan gila. Tragedi besar pun tercipta di Kerajaan Kalianget. Dalam kegilaan, raja mengamuk, menusuk semua orang yang ada di sekitarnya. Banjir darah di mana-mana. Korban berjatuhan. Kerajaan kacau dan perang saudara pun pecah. Orang-orang jadi kalap dan saling bunuh hingga kerajaan ini habis, musnah tak berbekas. Begitulah kira-kira kisahnya, Cong. Menyedihkan, tapi itu semua berawal dari cinta.”

“Dulu aku pernah dengar ceritanya. Kurang lebih memang seperti yang kamu sampaikan itu.”

“Kamu masih menganggap itu cerita karangan?”

“Bukan begitu, sih. Kita juga tak tahu siapa pengarangnya. Tapi memang cerita-cerita zaman dulu kebanyakan anonim, tidak diketahui nama pengarangnya, mungkin karena kisah itu diniatkan sebagai pembelajaran. Tapi aku tertarik dengan nama Jayaprana dan Layonsari. Sepertinya itu simbol.”

“Simbol apa? Mulai dah kamu ngarang-ngarang.”

“Jayaprana. Prana itu artinya nafas, purusa. Layonsari. Layon itu badan kasar, jasmani, prakerti. Saat prana dengan jasmani, atau purusa dengan prakerti, menyatu, kehidupan tercipta. Jadi Jayaprana dan Layonsari itu simbol manusia. Itu kisah tentang eksistensi manusia.”

“Yah, kalau dikulik-kulik, bisa saja, Cong. Lagian itu memang hobimu, suka mencocoklogikan sesuatu.”

“Peristiwanya terjadi di Kalianget. Kali anget, sungai yang hangat. Itu simbol aliran darah, merujuk pada tubuh. Jadi yang  diceritakan itu adalah peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Drama dalam hati manusia.”

“Terus ‘raja’ itu simbol ‘wong raja’ di kartu cekian, gitu? Jadi, itu kisah manusia main ceki? Haha…”

“Raja itu ego. Dalam ajaran catur marga itu dinamakan Raja Marga. Raja adalah penguasa. Raja atau pikiran egolah yang menguasai sifat manusia dalam kehidupannya.”

“Kalau Sawunggaling?”

“Sawunggaling itu mahapatih, tangan kanan, eksekutor. Dalam ajaran Catur Marga, ini disebut Karma Marga. Jayaprana & Layonsari itu lambang pengabdian, realisasi, prilaku, keberadaan hidup atau Bhakti Marga. Jadi kita semua sesungguhnya adalah Si Jayaprana sekaligus Raja Kalianget dan Patih Sawunggaling. Maksudnya dalam kita menjalani kehidupan ini, segala keputusan dan tindakan kita sesungguhnya dikendalikan oleh ego kita. Begitu, Byah.”

“Tapi yang kamu omongkan itu tidak nyambung dengan jalan cerita yang penuh tragedi!”

“Dalam cerita ini, satu hal yang tidak ada adalah jnana atau Jnana Marga. Jnana itu artinya pengetahuan, nilai-nilai, dharma. Tempat terbentuknya kesadaran moralitas atau etis dari kepribadian kita. Cerita ini hendak mengingatkan kehancuran macam apa yang bisa terjadi jika kehidupan tidak bersandar pada kesadaran jnana.”

“Maksudnya?”

“Kalau kamu hidup tanpa pengetahuan atau kesadaran moralitas atau dharma maka seperti yang digambarkan cerita Jayaprana itu, hidupmu akan terombang-ambing, mudah terjebak jaring-jaring maya duniawi, tak mengerti benar-salah. Segala keputusan dan tindakanmu hanya mengabdi pada nafsu dan kegilaan belaka. Makanya eksekutornya diberi nama Sawungggaling. Saung itu artinya liang, dan galing erasan dari galih atau tulang.  Sawunggaling itu sama artinya dengan liang kubur.  Maknanya, setiap tindakanmu hanya akan mendatangkan kematian dan kerusakan. Disimbolkan dengan kuburan di Teluk Terima. Itulah namanya hidup dalam tragedi. Hidup yang menciptakan kehancuran dan kesia-siaan. Akhirnya yang bisa dikenang dari eksistensimu di dunia ini hanya kuburanmu belaka. Cuma itu yang layak kamu terima.”

“Cing! Bisa saja kamu, Cong.”

“Maka dari itu, Byah, para leluhur mengajari kita Catur Marga Yoga atau Catur Yoga. Ada Yoga-nya. Istilah ini sering dimaknai sebagai penyatuan diri dengan kebenaran, kebijaksanaan dan kedewataan. Bersifat spiritual atau religius. Catur Marga Yoga itu kira-kira maksudnya empat jalan hidup yang berkesadaran, yakni Bhakti Marga Yoga, Karma Marga Yoga, Raja Marga Yoga, dan Jnana Marga Yoga.”

“Omonganmu tentang Catur Marga itu tidak seperti yang aku pahami, tapi apa yang ingin kamu jelaskan dengan itu?”

“Pada cerita Jayaprana, Jnana Marga ini yang tidak ada. Jnana ini sama dengan pengetahuan rohani. Dalam hidup, rohani ini yang diyogakan agar berada di jalan kesadaran atau tercerahkan dalam nilai-nilai niskala yang suci. Bila rohani tercerahkan maka ‘raja’ atau pikiran egomu, ‘sawunggaling’ atau tindakanmu, dan ‘jayaprana’ atau keberadaanmu di dunia akan tercerahkan. Jnana ini guru, penasihat, kompas dharma untuk pikiran ego dan segala tindakanmu sehingga kehidupanmu ada di jalur satyam, sivam, sundaram, dalam lingkar kebenaran, kesucian dan keharmonisan, jauh dari tragedi, kegilaan, kehancuran, dan kesia-siaan.”

“Kamu ini memang bisa aja.”

“Kisah Jayaprana itu seperti fragmen yang menggambarkan isi dari satu syair Bhagawad Gita, ‘kroddhad Bhavati sammohah, sammohat smrtivibhramah, smrtibhramsad budhinaso, budhinasat pranasyati’, bahwa berawal dari kemarahan, kemarahan akan memunculkan kebingungan, dari kebingungan hilanglah ingatan, hilangnya ingatan menghancurkan kecerdasan, hancurnya kecerdasan mengakibatkan kemusnahan.”

“Ya deh, disambung-sambungkan saja, Cong, sesukamu, hehe…”

“Makanya kalau nanti kamu pergi lagi ke Makam Jayaprana, hal inilah sepatutnya jadi bahan renunganmu di sana, bukannya malah minta nomor togel atau yang bukan-bukan. Kamu juga tak perlu larut oleh emosi di kulit cerita tapi hayati esensi maknanya. Kisah Jayaprana itu sesungguhnya kita semua mengalami, dengan kadarnya masing-masing. Mudah-mudahan sekarang kamu bisa belajar sesuatu, Byah.”

“Sip, sip… Habisin, Cong, minumannya. Aku sudah cukup uyeng-uyengan gara-gara ocehanmu.”

Dan di panggung kafe, si penyanyi mengakhiri nyanyiannya dengan fade out yang halus: I’m on my way to something new. Back to a time we all went through. [T]

Kuta, 2020.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengapa Kita Tidak Menemukan Warna Hitam dalam Pelangi?

Next Post

Hantu Kotak Kosong

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Hantu Kotak Kosong

Hantu Kotak Kosong

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co