2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jayaprana & Layonsari || Sebuah Refleksi Masa Kini

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
December 8, 2020
in Esai
Jayaprana & Layonsari || Sebuah Refleksi Masa Kini

Poster pementasan drama Layonsari oleh Komunitas Mahima

Malam itu, Suck Cafe ramai sekali. Barangkali karena akhir pekan. Banyak muda-mudi datang. Nang Kocong dan Pan Gobyah kebagian tempat di teras, membaur dengan udara hangat di luar.

Di panggung, penyanyi memainkan Vienna yang cozy dalam akustik: I’m on my way to something new. And so are they, and so are you. Back to a time we all went through… Saya sedang dalam perjalanan menuju sesuatu yang baru. Begitu pula mereka, dan begitu pula Anda, kembali ke waktu yang kita semua alami.

Nang Kocong menuang minuman, sedangkan Pan Gobyah tampak berusaha mencungkil bistik yang beberapa kali mental dari garpu.

“Kudengar rekan kita di Buleleng, Putu Satriya Koesuma, menggarap lakon Jayaprana. Mau dibikin film,” kata Pan Gobyah sambil menghentikan sejenak kesibukan tangannya di piring.

“Wah, pantas saja lama tak kelihatan batang hidungnya, rupanya dia lagi ada projek baru. Putu itu passionnya memang teater. Kalau sudah urusan drama pastilah  dia mendadak sehat walafiat dan lupa yang lainnya.”

“Bagus ya kalau Jayaprana dibuat film.  Anak-anak muda bisa nonton kisah ini.”

“Betul, Byah, film lebih komunikatif bagi generasi milenial.”

“Jayaprana & Layonsari itu adalah Romeo & Juliet a la Bali. Ceritanya sama-sama romantis dan berujung tragis. Kalau dikemas dengan baik, anak muda pasti suka.” sambung Pan Gobyah.

“Konon Romeo & Juliet berasal dari roman kuno yang kemudian disusun sebagai karya sastra oleh sejumlah sastrawan Italia. Kisah ini jadi sangat terkenal setelah ditulis dan dikembangkan oleh William Shakespeare pada abad ke-17 dan diadaptasi dalam berbagai bentuk pertunjukan. Sedangkan kisah Jayaprana & Layonsari itu, kita tak tahu entah siapa pengarangnya.”

“Jayaprana & Layonsari itu legenda, Cong, benar-benar terjadi pada zaman dahulu. Setua ceritanya Shakespeare, kisah Jayaprana juga terjadi pada abad ke-17, sebab Kerajaan Kalianget berdiri sekitar tahun 1622. Bukti kuburan Jayaprana juga ada di Teluk Terima, bukan?” sahut Pan Gobyah.

“Bali memang kaya dengan folklor, bahkan beberapa dihubungkan dengan dewa-dewa dan nama tempat atau daerah sehingga ceritanya jadi berkesan sakral dan hidup.”

“Jayaprana bukan folklor tapi kisah nyata. Desa dan jejak peristiwanya masih ada sampai sekarang, bahkan sudah dibangun pura di sana. Tempatnya indah, di puncak bukit, menghadap teluk. Aku sejak kecil sudah seringkali ke sana. Bahkan pada hari-hari tertentu,  pemedeknya sangat padat. Mereka datang dengan berbagai harapan dan permintaan. Betara di sana bares atau murah hati. Banyak orang telah membuktikan.”

“Itu memang spot yang bagus untuk mereka yang suka foto-foto. Saat musim kemarau, pemandangan bukit akan terlihat dramatis dengan pohon-pohon merangas, ranting-ranting tak berdaun dan gersang. Bagus juga mendaki ke puncak untuk melatih dengkul.”

“Di Makam Jayaprana kita bisa merenung, mengenang tragedi yang menimpa dua insan malang itu. Kadangkala kehidupan bisa amat kejam tapi kita bisa belajar di situ.”

“Hebat orang yang dulu mengarang cerita ini dan memilih lokasi petilasannya. Pasti dia sastrawan pengelana. Atau mungkin pertapa. Bisa dibayangkan, ketika cerita dibuat pasti daerah sekitarnya sangat sepi, jauh dari pemukiman penduduk, tak ada jalan. Mereka tahu memilih tempat di belakang teluk yang indah dan terpencil itu sebagai bagian dari setting cerita sehingga kisahnya tetap hidup hingga saat ini. Agak mustahil cerita ini dikarang oleh pengembala kesasar.”

“Itu peristiwa pada masa kerajaan. Kalau raja sudah berkehendak, tak ada yang mustahil.”

“Ujung ceritanya dibikin tragis dan pilu, itu yang membuat emosi banyak orang mudah tersentuh dan berkecamuk oleh rasa marah dan sedih seakan-akan kisah itu menimpa dirinya.”

“Cinta kadang bisa mengubah orang jadi jahat. Hanya karena suka dengan Layonsari, seorang raja bisa berbuat kejam, sampai menghilangkan nyawa orang sepolos Jayaprana. Padahal dia abdi setia. Seperti tak ada wanita lain saja.”

“Namanya juga cerita. Boleh dibuat sedramatis mungkin supaya menarik.”

“Entahlah. Cuma, kesannya dia seperti tidak memiliki rasa kasih sayang, tidak punya hati, dan sewenang-wenang. Hidupnya seakan-akan hanya untuk ‘ngulurin indria’ dan nafsu. Apakah raja tidak punya penasihat, tidak ada yang memberi pertimbangan sebelum ambil keputusan?” Pan Gobyah nyeroscos seakan hatinya mengandung kesal.

“Sepertinya kamu menghayati betul cerita itu, Byah.”

“Ya, emosiku memang suka terpengaruh kalau ingat kisahnya, mungkin karena aku sering ke Makam Jayaprana.”

“Memangnya apa yang kamu ketahui tentang Jayaprana?”

“Itu kan sudah cerita umum, Cong. Jayaprana itu pemuda yatim piatu yang sejak kecil mengabdi di Kerajaan Kalianget. Bahkan dia abdi kesayangan raja karena berhati baik, rajin dan tulus.”

“Begitu, ya.”

“Suatu hari Jayaprana melamar Layonsari, putri kepala desa. Malah lamarannya dibuat dan disetujui oleh raja. Mereka pun menikah. Selesai upacara pernikahan, pasangan ini menghadap raja untuk memohon restu. Nah, sewaktu melihat kecantikan Layonsari, seketika raja merasa jatuh cinta dan ingin merebut Layonsari dari Jayaprana.”

“Itulah namanya cinta pada pandangan pertama, hehe…”

“Raja menyampaikan niatnya merebut Layonsari itu kepada Patih Saunggaling. Mereka kemudian menyusun siasat agar bisa menyingkirkan Jayaprana secara halus, dengan cara raja memerintahkan Jayaprana membasmi gerombolan perampok yang sedang mengganggu ketenteraman desa di tepi barat.”

“Maka tanda-tanda cerita sedih pun dimulai, hehe…”

“Jayaprana yang baru menikah terpaksa meninggalkan istrinya untuk menjalankan tugas dari raja. Sedangkan Layonsari, meski merasakan firasat buruk, mau tak mau, harus rela melepaskan suaminya.”

“Apa Jayaprana tidak berusaha menolak, mengingat ia baru saja menikah?”

“Itu perintah raja. Siapa bisa menolak? Jayaprana pun pergi bersama Patih Saunggaling diiringi beberapa prajurit. Saat rombongan tiba di kawasan hutan Teluk Terima, Patih Saunggaling pun menyampaikan tujuan sesungguhnya dari perjalanan mereka ini, bahwa Sang Raja menginginkan kematian Jayaprana dan dirinya yang ditugaskan mengeksekusi. Mendengar itu Jayaprana, yang seorang abdi setia, merasa tak punya pilihan lain, ia pun mengikhlaskan hidupnya diakhiri sesuai keinginan raja dan meminta Patih Saunggaling tidak ragu melaksanakan titah.”

“Apa mereka tidak bertempur, Byah?”

“Jayaprana kan sudah ikhlas. Tidak ada perlawanan. Biar kamu tahu, Cong, waktu Jayaprana ditusuk, darah yang keluar dari tubuhnya, berbau harum, lho. Itu tandanya dia seorang mulia. Setelah tewas, jenazah Jayaprana dikubur di hutan Teluk Terima itu. Di kerajaan, segera tersiar kabar Jayaprana telah tewas  dibunuh perampok. Tentu saja Layonsari sangat terpukul mendengar kabar itu. Setelah sukses melaksanakan tipu dayanya, raja berusaha menghibur Layonsari yang sedih dan berniat mengajaknya ke istana untuk diperistri.”

“Selanjutnya?”

“Hati kecil Layonsari tahu kalau kematian suaminya itu karena siasat dari raja sendiri. Dia jadi sangat marah, terpukul dan putus asa. Akhirnya dengan menggunakan keris milik raja, Layonsari menikam dirinya sendiri hingga tewas di tempat. Ia menyusul suaminya ke alam baka. Kematian Layonsari ini sangat mengguncang jiwa raja. Ia sangat marah, membuatnya lupa diri, bingung dan gila. Tragedi besar pun tercipta di Kerajaan Kalianget. Dalam kegilaan, raja mengamuk, menusuk semua orang yang ada di sekitarnya. Banjir darah di mana-mana. Korban berjatuhan. Kerajaan kacau dan perang saudara pun pecah. Orang-orang jadi kalap dan saling bunuh hingga kerajaan ini habis, musnah tak berbekas. Begitulah kira-kira kisahnya, Cong. Menyedihkan, tapi itu semua berawal dari cinta.”

“Dulu aku pernah dengar ceritanya. Kurang lebih memang seperti yang kamu sampaikan itu.”

“Kamu masih menganggap itu cerita karangan?”

“Bukan begitu, sih. Kita juga tak tahu siapa pengarangnya. Tapi memang cerita-cerita zaman dulu kebanyakan anonim, tidak diketahui nama pengarangnya, mungkin karena kisah itu diniatkan sebagai pembelajaran. Tapi aku tertarik dengan nama Jayaprana dan Layonsari. Sepertinya itu simbol.”

“Simbol apa? Mulai dah kamu ngarang-ngarang.”

“Jayaprana. Prana itu artinya nafas, purusa. Layonsari. Layon itu badan kasar, jasmani, prakerti. Saat prana dengan jasmani, atau purusa dengan prakerti, menyatu, kehidupan tercipta. Jadi Jayaprana dan Layonsari itu simbol manusia. Itu kisah tentang eksistensi manusia.”

“Yah, kalau dikulik-kulik, bisa saja, Cong. Lagian itu memang hobimu, suka mencocoklogikan sesuatu.”

“Peristiwanya terjadi di Kalianget. Kali anget, sungai yang hangat. Itu simbol aliran darah, merujuk pada tubuh. Jadi yang  diceritakan itu adalah peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Drama dalam hati manusia.”

“Terus ‘raja’ itu simbol ‘wong raja’ di kartu cekian, gitu? Jadi, itu kisah manusia main ceki? Haha…”

“Raja itu ego. Dalam ajaran catur marga itu dinamakan Raja Marga. Raja adalah penguasa. Raja atau pikiran egolah yang menguasai sifat manusia dalam kehidupannya.”

“Kalau Sawunggaling?”

“Sawunggaling itu mahapatih, tangan kanan, eksekutor. Dalam ajaran Catur Marga, ini disebut Karma Marga. Jayaprana & Layonsari itu lambang pengabdian, realisasi, prilaku, keberadaan hidup atau Bhakti Marga. Jadi kita semua sesungguhnya adalah Si Jayaprana sekaligus Raja Kalianget dan Patih Sawunggaling. Maksudnya dalam kita menjalani kehidupan ini, segala keputusan dan tindakan kita sesungguhnya dikendalikan oleh ego kita. Begitu, Byah.”

“Tapi yang kamu omongkan itu tidak nyambung dengan jalan cerita yang penuh tragedi!”

“Dalam cerita ini, satu hal yang tidak ada adalah jnana atau Jnana Marga. Jnana itu artinya pengetahuan, nilai-nilai, dharma. Tempat terbentuknya kesadaran moralitas atau etis dari kepribadian kita. Cerita ini hendak mengingatkan kehancuran macam apa yang bisa terjadi jika kehidupan tidak bersandar pada kesadaran jnana.”

“Maksudnya?”

“Kalau kamu hidup tanpa pengetahuan atau kesadaran moralitas atau dharma maka seperti yang digambarkan cerita Jayaprana itu, hidupmu akan terombang-ambing, mudah terjebak jaring-jaring maya duniawi, tak mengerti benar-salah. Segala keputusan dan tindakanmu hanya mengabdi pada nafsu dan kegilaan belaka. Makanya eksekutornya diberi nama Sawungggaling. Saung itu artinya liang, dan galing erasan dari galih atau tulang.  Sawunggaling itu sama artinya dengan liang kubur.  Maknanya, setiap tindakanmu hanya akan mendatangkan kematian dan kerusakan. Disimbolkan dengan kuburan di Teluk Terima. Itulah namanya hidup dalam tragedi. Hidup yang menciptakan kehancuran dan kesia-siaan. Akhirnya yang bisa dikenang dari eksistensimu di dunia ini hanya kuburanmu belaka. Cuma itu yang layak kamu terima.”

“Cing! Bisa saja kamu, Cong.”

“Maka dari itu, Byah, para leluhur mengajari kita Catur Marga Yoga atau Catur Yoga. Ada Yoga-nya. Istilah ini sering dimaknai sebagai penyatuan diri dengan kebenaran, kebijaksanaan dan kedewataan. Bersifat spiritual atau religius. Catur Marga Yoga itu kira-kira maksudnya empat jalan hidup yang berkesadaran, yakni Bhakti Marga Yoga, Karma Marga Yoga, Raja Marga Yoga, dan Jnana Marga Yoga.”

“Omonganmu tentang Catur Marga itu tidak seperti yang aku pahami, tapi apa yang ingin kamu jelaskan dengan itu?”

“Pada cerita Jayaprana, Jnana Marga ini yang tidak ada. Jnana ini sama dengan pengetahuan rohani. Dalam hidup, rohani ini yang diyogakan agar berada di jalan kesadaran atau tercerahkan dalam nilai-nilai niskala yang suci. Bila rohani tercerahkan maka ‘raja’ atau pikiran egomu, ‘sawunggaling’ atau tindakanmu, dan ‘jayaprana’ atau keberadaanmu di dunia akan tercerahkan. Jnana ini guru, penasihat, kompas dharma untuk pikiran ego dan segala tindakanmu sehingga kehidupanmu ada di jalur satyam, sivam, sundaram, dalam lingkar kebenaran, kesucian dan keharmonisan, jauh dari tragedi, kegilaan, kehancuran, dan kesia-siaan.”

“Kamu ini memang bisa aja.”

“Kisah Jayaprana itu seperti fragmen yang menggambarkan isi dari satu syair Bhagawad Gita, ‘kroddhad Bhavati sammohah, sammohat smrtivibhramah, smrtibhramsad budhinaso, budhinasat pranasyati’, bahwa berawal dari kemarahan, kemarahan akan memunculkan kebingungan, dari kebingungan hilanglah ingatan, hilangnya ingatan menghancurkan kecerdasan, hancurnya kecerdasan mengakibatkan kemusnahan.”

“Ya deh, disambung-sambungkan saja, Cong, sesukamu, hehe…”

“Makanya kalau nanti kamu pergi lagi ke Makam Jayaprana, hal inilah sepatutnya jadi bahan renunganmu di sana, bukannya malah minta nomor togel atau yang bukan-bukan. Kamu juga tak perlu larut oleh emosi di kulit cerita tapi hayati esensi maknanya. Kisah Jayaprana itu sesungguhnya kita semua mengalami, dengan kadarnya masing-masing. Mudah-mudahan sekarang kamu bisa belajar sesuatu, Byah.”

“Sip, sip… Habisin, Cong, minumannya. Aku sudah cukup uyeng-uyengan gara-gara ocehanmu.”

Dan di panggung kafe, si penyanyi mengakhiri nyanyiannya dengan fade out yang halus: I’m on my way to something new. Back to a time we all went through. [T]

Kuta, 2020.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengapa Kita Tidak Menemukan Warna Hitam dalam Pelangi?

Next Post

Hantu Kotak Kosong

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Hantu Kotak Kosong

Hantu Kotak Kosong

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co