27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hantu Kotak Kosong

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
December 8, 2020
in Esai
Hantu Kotak Kosong

Made Adnyana Ole [Ilustrasi Nana Partha]

Segerombolan pencuri bermobil suatu malam di masa pandemi melakukan aksi heroik. Mereka membongkar sebuah toko kelontong. Setelah susah-payah merusak gembok, mereka sukses masuk ke dalam toko. Satu orang bergerak cepat menggotong kotak besi di sudut toko. Kotak dibawa keluar, masuk mobil, lalu meluncur ke markas. Di markas, kotak besi dibuka paksa, ternyata isinya kosong. “Sial, ini kotak kosong!” pekik mereka.

Pelajaran yang bisa dipetik dari cerita fiktif itu adalah: Jangan sekali-sekali mencuri di masa pandemi jika tak ingin mendapatkan kotak kosong. Kotak kosong di masa pandemi memang sedang naik daun, termasuk kotak kosong di tempat-tempat usaha. Tak peduli usaha besar atau usaha kecil dan menengah.

Seorang penjual bubur di sore hari hampir selalu bersungut-sungut ketika menutup warung. Buburnya habis, tapi kotak tempat menyimpan uang selalu saja kosong sebelum warung benar-benar tutup. Pembeli masih ada, uang sesungguhnya sudah sempat masuk kotak, tapi selalu dirogoh kembali untuk bayar cicilan barang yang dibutuhkan selama masa pandemi. Dan sungguh aneh, barang yang dibutuhkan saat pandemi justru barang yang termasuk mewah bagi kantongnya yang primer. Salah satunya adalah laptop. Tiga anaknya harus belajar online, dan laptop adalah salah satu perangkat yang mewah.

Dari ajang Pilkada serentak 2020 yang tetap akan berlangsung di masa pandemi ini lamat-lamat terdengar juga kabar dengan tema kotak kosong. Komisi Pemilihan Umum Indonesia (KPU) mencatat, pada Pilkada Serentak 2020 ini terdapat 25 daerah yang menyelenggarakan Pilkada dengan hanya satu pasang calon, salah satunya ada di Bali. Karena hanya ada satu pasang calon, sesuai peraturan yang terus diatur-atur agar teratur, maka pasangan itu harus melawan kotak kosong.  

Bukan kotak kosong karena tak isi duit, sebagaimana pemilik warung bubur di masa pandemi. Dalam pilkada, kotak kosong yang dimaksud adalah kotak tanpa isi nama calon kepala daerah. Kenapa bisa begitu? Ya, bisa saja. Ada seorang calon amat sakti, wikan dan wisesa, tak mendapatkan lawan tanding dalam pertandingan politik. Tak jelas, apakah memang tak ada yang berani melawan karena calon satu ini memang amat sakti, atau semua lawan sedang sibuk berdagang, misalnya sibuk berdagang “kayu papan”, “palu”, “paku”, dan “alat-alat lain”. Eh, untuk apa berjualan bahan-bahan kerja semacam itu? Ya, untuk membuat “kotak kosong”.

Meski sakti, sesungguhnya banyak kabar menyebutkan pada pilkada-pilkada sebelumnya banyak calon kepala daerah bisa kalah juga oleh kotak kosong. Saya punya teman seorang kepala desa alias perbekel yang sukses di Bali Utara. Kisah suksesnya tak perlu dikata lagi. Pada periode pertama ia sukses membangun desa, bukan hanya secara politik, melainkan juga secara ekonomi. Desanya banyak didatangi pengurus desa dari luar Bali untuk melihat langsung bagaimana warga desa itu bergerak ke masa modern tanpa menghilangkan jati diri sebagai warga desa yang ulet, warga desa yang menggarap potensi-potensi yang memang ada di desa itu. Sebagai perbekel, teman saya itu diundang ke mana-mana, terutama bicara soal Badan Usaha Milik Desa alias Bumdes, sebuah lembaga desa yang dikelola secara professional.

Syahdan, ia dicalonkan kembali sebagai kepala desa pada periode kedua. Karena tak ada yang berani melawan, akhirnya ia melawan kotak kosong. Dan teman saya itu menjadi cemas. Ia cemas karena kotak kosong bisa saja membuatnya menjadi malu. Kotak kosong bisa saja akan membuat seorang perbekel yang sukses membangun desa di periode pertama diberitakan kalah pda pemilihan pada periode kedua. Sialnya, ia kalah oleh kotak koosong.

Saya heran. Apa yang dicemaskan oleh teman saya? Ternyata ia cemas oleh politik yang tak serius, politik main-main. Orang-orang desa dikenal suka bermain, bahkan dalam dunia yang serius. Jangan-jangan ada banyak orang yang iseng memilih kotak kosong, lalu keisengan itu menular kepada banyak orang, lalu banyak orang mencoba-coba memilih kotak kosong, sekali lagi, hanya untuk main-main. Mungkin ada yang berpikir serius dalam permainan politik, misalnya ada yang dengan serius melakukan keisengan untuk menciptakan sejarah: “Biar pernah saja kotak kosong menang di desa kita”.

Syukurlah kecemasan teman saya itu tak terbukti. Ia menang di periode kedua dengan gemilang. Dan ia kembali membangun desa hingga sekarang.  Tapi, ngomong-ngomong, kecemasan perbekel yang sukses itu setidaknya punya alasan yang masuk akal di tengah situasi politik yang kadang-kadang tak masuk akal.

Kotak kosong, meski tak punya juru kampanye, tampaknya bisa sakti juga. Mungkin karena tak berisi nama calon, tak punya partai, tak punya juru kampanye, dan tak punya akun di sosial media, kotak kosong bisa dijadikan mainan. Misalnya jadi mainan iseng-iseng bagi orang-orang yang putus asa. Dan di masa pandemi ini, mungkin, mungkin saja, banyak orang masuk pada taraf putus asa, sehingga kotak kosong bisa jadi mainan berharga. Seperti kotak kulkas yang jadi mainan anak-anak di halaman.

“Coba iseng-iseng coblos kotak kosong, siapa tahu dunia berubah,” kata seorang teman. Ia bersiap ikut pilkada. Teman itu tak punya tujuan, tak punya maksud apa-apa. Hanya iseng-iseng. Coba-coba. Tapi, pada situasi yang tak pasti di musim pandemi ini, jangan-jangan banyak orang punya niat untuk iseng. Banyak orang punya niat coba-coba. Alasannya mungkin terkesan main-main; “Serius-serius, akhirnya toh begitu-begitu saja”.

Maka, jangan remehkan kotak kosong. Kosong berisi, isi itu kosong, begitulah kata orang bijaksana. Ini misal, lho, misal. Jika kotak kosong nanti menang, jangan kecewa. Anggap itu sejarah yang akan jadi pelajaran di masa lalu bahwa politik bisa berubah tanpa bisa ditebak. Jika kotak kosong kalah, jangan juga merasa jumawa. Wong cuma kotak kosong, tidak bisa melawan, ya memang gampang untuk kalah. Habis pilkada, buang kotak kosong itu, karena memang tak akan harganya lagi untuk dilawan.

Tapi di luar pilkada, rakyat sepertinya akan terus melawan kotak kosong. Pedagang bubur, pemilik toko kelontong di los pasar tradisional, atau petani sayur, sepertinya susah menang melawan kotak kosong.  Jika kotak diisi sebentar saja, isinya bisa dengan cepat menguap. Anak-anak minta kuota, minta HP, minta laptop, karena barang-barang yang dulu terkesan mewah itu kini sudah jadi kebutuhan mendasar.

Dengan begitu, ada atau tidak ada pilkada, pada saat pilkada atau pada saat pilkada berlalu, kotak kosong bisa akan selalu jadi hantu. Sebentar-sebentar isi, sebentar-sebentar puyung sing misi buyung. [T]

*Dengan sedikit variasi, esai ini pernah dimuat pada kolom Lolohin Malu di koran Bali Express (Jawa Pos Group) edisi cetak

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jayaprana & Layonsari || Sebuah Refleksi Masa Kini

Next Post

Gitaris Muda, Gitar Ibanez, dan Dangdut

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Gitaris Muda, Gitar Ibanez, dan Dangdut

Gitaris Muda, Gitar Ibanez, dan Dangdut

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co