24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hindu yang Universal, Seperti Apa?

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
August 21, 2020
in Opini
Hindu yang Universal, Seperti Apa?

Syafii Maarif ketika menulis orasi ilmiah dalam acara Nurcholish Madjid Memorial Lecture mengutip satu pandangan menarik dari Bassam Tibi tentang politik identitas diaspora Muslim di Eropa. Dalam pandangan Tibi, ada dua kemungkinan yang akan berlaku dalam hubungan Eropa dan Islam.

Pertama adalah proses pengeropaan Islam dan kedua pengislaman Eropa. Di sini Tibi memilih yang pertama yakni pengeropaan Islam, karena memang itu yang paling masuk akal dan realistik. “Namun tak dipungkiri ada kelompok politik identitas Islam yang justru memperjuangkan opsi yang kedua—sebagai kelanjutan dari gagasan dar-islam periode klasik yang mempengaruhi prilaku sebagaian orang Islam masa sekarang,” tulis Maarif.

Maka dari itu, lanjut Maarif, jika opsi kedua ini terus dipegang, maka bentrokan berdarah tidak mungkin dapat dihindarkan. Sebab, pada dasarnya prikologi orang Eropa masih belum rela menerima kehadiran Islam di kalangan mereka.

Berangkat dari pandangan Tibi dan komentar Maarif tersebut, saya teringat pandangan Gandhi tentang perbedaan Jesus dan kebudayaan barat. Pertanyaan pejalan Nir-Kekerasan ini sangat sederhana, tentunya berhubungan juga dengan pandangan Tibi di atas.

“Bila agama Kristen memiliki pesan universal, mengapa ia harus disampaikan melalui bahasa Barat, dalam pengertian sejarah Barat dan dalam bentuk sudut pandang Barat?

Pertanyaan yang sederhana ini ternyata merangsang orang-orang Kristen di Asia menghadapi tantangan untuk mencari identitas Kekristenan mereka. Akibatnya, jalan menuju keaslian kekristenan Asia menuntun ke arah khusus untuk melakukan inkulturasi, kepada dialog antaragama dan pada solidaritas dari mereka yang tertindas.

Tidak heran bila Kekristenan di Asia, termasuk Indonesia tetap mengadopsi identitas dan budaya lokal setempat. Di sini ternyata pandangan Gandhi menjadi penting—untuk sebuah dialog agama.

*

Introduksi itu mungkin cukup untuk kita membuat analisa tentang Hindu yang Universal. Jika kita tiru cara pandang Tibi, khususnya hubungan Hindu dan Indonesia, kira-kira mana yang kita pilih, antara meng-Hindukan Indonesia, atau meng-Indonesiakan Hindu?

Sejarah menunjukkan para leluhur nusantara memilih me-Nusantarakan Hindu atau secara lebih spesifik menjawakan Hindu, mem-Bali-kan Hindu melalui kecerdasan asimilatif mereka, sehingga Hindu di Indonesia memiliki ciri khas dan karakter kultural tersendiri.

Sebenarnya ini tanpa alasan, karena memang Hinduisme sendiri memiliki karakter dan pesan universal tersebut. Maksud dari universal di sini yakni Hindu tidak mesti diekspresikan dalam frame kultural India—termasuk dengan sistem teologi yang baku. Hindu bisa dibahasakan dalam frame kultural Jawa, Sunda, Kaharingan, dan Bali. Khusus di Indonesia, sebenarnya ini sudah dilakukan, karena Hinduisme memiliki semangat menyerap adat istiadat dan budaya lokal. 

Artinya jika ingin belajar tentang Hindu yang universal, Indonesia adalah salah satu tempatnya. Jika ada gerakan-gerakan yang mencoba menghomogenkan Hindu di Indonesia yang memiliki sifat universal dalam heterogenitas mereka secara langsung akan menimbulkan resistensi.

Swamin Nikhilananda sebagaimana dikutip Tyagi dalam bukunya The Philosophy of Radhakrisnan menjelaskan bahwa sifat universal Hinduisme menggagalkan setiap upaya untuk membatasinya. Ia pun meringkas prinsip utama dari Hindu yang kuat karakter universalnya yakni Ketuhanan yang non dualitas, keilahian jiwa, kesatuan eksistensi dan harmoni agama.

Senada dengan itu, Ramaswamy bahkan menyebut Hindu sebagai “a great golden umbrella” yang melindungi segala bentuk pemikiran dan spekulasi.” Sharma lebih suka menyebut Hinduisme sebagai “a league of religions” daripada agama tunggal dengan keyakinan yang pasti.

Hindu ibarat rumah besar yang ramah, ada ruang untuk semua jenis jiwa dari yang tertinggi sampai terendah. Ketika seseorang tumbuh dalam kebajikan, cinta dan wawasan, seseorang dapat berpindah dari satu ruangan ke ruangan yang lain dan tidak pernah merasa bahwa suasananya pengap atau panas.

Di titik ini sepertinya menarik kita bahas klasifikasi ciri umum dari Hinduisme sebagaimana pandangan S. Radhakrisnan. Ciri pertama Hinduisme, menurut Radhakrisnan, yakni komprehensif. Hinduisme seperti pohon besar yang selalu melindungi siapa pun yang menemuinya, dan getahnya tetap mengalir tanpa henti tanpa kehilangan kemurnian dan vitalitasnya. Ia mampu memasukkan sejumlah ragam kepercayaan ke dalam jalinannya. Inilah yang disebut karakter komprehensif tersebut.

Kedua, Hindu memiliki karakter universal. Ia meyakini pengalaman bathin tidak bisa dibatasi, seperti burung bisa mengapung di udara, ikan berenang di laut. Ia tidak membatasi variasi kehidupan dan jalan. Penekanannya pada kehidupan spiritual menghindari kebingungan dan antagonisme dalam masalah agama yang disebabkan oleh klaim kita yang berlebihan atas pandangan kita sendiri. Doktrin universalitas yang melekat dalam Hinduisme telah membuatnya energik, dinamis, sederhana, dan tepercaya. 

Ketiga, Hinduisme dicirikan sebagai non-historis—karena memang tak seperti agama lain di dunia. Tidak ada pendiri di dalam Hinduisme. Tidak ada manusia yang dikultuskan sebagai pendiri. Artinya Hinduisme tidak terletak pada kesejarahan sosok manusia tertentu, tindakan perkasa manusia, tetapi dalam “Kebenaran Abadi”. Inti dari Hindu terletak pada nilai-nilai yang kekal berorientasi kebenaran yang meliputi seluruh alam semesta menggantikan beberapa tokoh atau fakta sejarah.

Selanjutnya yang keempat, toleransi. Ciri keempat ini meniscayakan harmoni dan kesesuaian dari semua agama. Hinduisme telah menerima semua kepercayaan dan bentuk ibadah tanpa ragu sedikit pun. Dia menyadari dari ketinggian berawan, pemandangan spiritual di puncak bukit adalah sama, meskipun jalur dari lembah berbeda.

Kata Radhakrisnan: “Tolerance is the homepage which the finite mind pays to the inexhaustibility of the infinite”. Hinduisme lebih memilih untuk berpikir bahwa dalam masalah realisasi pribadi, kredo dan dogma, kata-kata dan simbol tidak lebih dari nilai instrumental, mereka hanya untuk menambah sesuatu untuk pertumbuhan jiwa dengan memberikan dukungan untuk suatu tugas  yang sangat pribadi. Hinduisme memiliki cukup ruang untuk mengakomodasi keyakinan atau praktik apa pun dan menyesuaikan diri dengan apa yang telah ada.

Ciri yang kelima adalah kepekaan intuitif. Kepekaan intuisi ini menuntun seseorang untuk menyadari yang ilahi di dalam dirinya, tidak hanya sebagai formula atau proposisi, tetapi sebagai fakta sentral dari keberadaannya, dengan tumbuh menjadi kesatuan dengannya karena jiwa penuh dengan kemungkinan yang sangat besar .

Di sini, harus diperhatikan bahwa intelek dan intuisi adalah tidak bertentangan tetapi terjalin erat. Dalam sepanjang hidup, sisi intuitif dan intelektual manusia bekerja. Tidak ada pemisahan antara intuisi dan intelek. Bergerak dari intelek ke intuisi tidak berarti bergerak ke arah yang tidak masuk akal, tetapi untuk masuk ke rasionalitas terdalam.

Menurut Radhakrishnan, intuisi adalah energi kreatif dari semua manusia. “Kreativitas dalam aktivitas kognitif, estetika, etika, atau religius,” menurut Radhakrishnan “muncul dari pemikiran yang intuitif.

Ciri keenam adalah memiliki sikap etis, pendisiplinan spiritual. Ia tidak hanya menghormati sesama manusia dan hewan, melainkan juga tumbuhan. Kemajuan moral manusia tidak harus dinilai dari kekuatannya atas kekuatan alam, tetapi oleh kontrolnya atas hasrat diri.

Dan terakhir adalah sikap humanis. Radhakrishnan tidak pernah lelah menekankan perlunya landasan spiritual bagi tatanan sosial di mana semua manusia dari kasta dan keyakinan yang berbeda dapat hidup seperti komunitas. Ia mengajarkan untuk bekerja demi kebahagiaan dunia: bahujana hitaya bahujana sukhaya. Hinduisme menemukan hubungan kekerabatan dalam semua melalui pengalaman spiritual dan selalu berusaha untuk membuat mereka menyadari kesatuan jiwa. Visi bahwa umat manusia adalah keluarga akan menjadi solusi mengatasi semua problem konflik di dunia.

Di sini Vasudhaiva Kutumbakam menjadi relevan digaungkan dalam merespon berbagai persoalan kemanusiaan di dunia. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Video Klip “Silih-silih Kambing” Poleng Band Dimainkan Bersama Pantomim Komunitas Mahima

Next Post

Pengangguran dan Obrolan yang Tak Menyenangkan

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Pengangguran dan Obrolan yang Tak Menyenangkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co