2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masjid, dan Kemungkinan Lain di Dalamnya – [Catatan dari Kampung di Singaraja]

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
February 23, 2021
in Khas
Masjid, dan Kemungkinan Lain di Dalamnya – [Catatan dari Kampung di Singaraja]

Masjid Jami Singaraja [sumber foto insanwisata.com]

Sudah lama sekali rasanya mengikuti bagaimana pola kehidupan yang diatur oleh keadaan mengenai pendemi ini, segala aspek rasanya terpaksa melakukan rehat yang begitu panjang. Dipaksa berjarak dari biasanya, tak terkecuali saya yang sering berkegiatan dalam pola hidup yang membutuhkan ruang lingkup yang luas.

Rasanya sangat hampa, entah bagaimana seorang aktor teater yang dasar pola hidupnya sudah acak adul kerja tanpa waktu yang tepat. Kemudian diketemukan oleh realitas baru seperti sekarang. Awal adanya isu Covid-19 segala pentas tertunda, kemudian segala kegiatan tertunda pula bahkan sampai ada yang tidak jadi untuk diselenggarakan.

Segala macam kegiatan terhenti, bahkan nyaris tidak ada pergerakan sama sekali. Awalnya saya sangat menyadari bahwa ritme pola kerja saya pun mengalami pemberhentian secara alami, yang saya curigai mungkin karena faktor lingkungan yang segalanya berhenti berkegiatan. Atau saya curiga juga mungkin faktor keinginan untuk beristirahat sejenak atau kasarnya ingin bermalas-malasan sebentar.

Kemudian ketika suatu hari  saya mencoba mengulik ulang apa yang terjadi pada diri saya sendiri, malah yang muncul ke permukaan pikiran adalah sudah lama sekali rasanya tidak lagi melakukan kegiatan rutin yang biasanya dilakukan sebelum pendemi. Semisal berdiskusi, membaca buku teater, ataupun menulis tentang keaktoran. Sampai-sampai saya kebingungan ketika mempunyai keinginan untuk menulis kembali, lalu harus dari mana saya memulai dan mengambil pijakan untuk melanjutkan.

Tapi ada beberapa hal yang kemudian saya jadikan perkiraan untuk melanjutkan atau mengambil pijakan untuk memulai, bahwa ada sebuah proses istirahat panjang dalam diri saya beberapa bulan belakangan ini. Ketika dihitung, tak terasa sudah hampir 4 bulan saya menghabiskan waktu untuk merenggangkan pikiran. Entah apakah itu murni untuk merenggangkan pikiran saya dari kebiasaan yang begitu berat, atau melepas segala hal-hal yang sudah saya jalani dalam dunia teater. Tegang rasanya, sebab dalam rehat panjang saya menghabiskan waktu di kampung halaman. Yang tentu dalam keseharian begitu berjarak dengan teater, walaupun sesekali dalam beberapa saat pikiran dan pertanyaan tentang teater muncul untuk diri sendiri.

Ada hal yang saya rasakan sangat berbeda ketika berada di kampung halaman begitu lama, bahwa ada sebuah pola pikir yang saya bawa dengan alami ketika saya melakukan rutinitas di kampung. Ada sudut pandang dan cara berpikir berbeda ketika melihat sesuatu yang ditunjukkan orang-orang di kampung halaman, ada pikiran mengkritisi pola hidup khususnya anak muda di kampung tapi bentuk dan wujud kritis itu saya lontarkan untuk diri saya sendiri. Guna mengasah perasaan saya, entah itu untuk apa. Tapi tentunya, saya kira sangat berbeda konteksnya ketika mengkritisi hal-hal yang biasa saya kritis di lingkungan saya berteater dengan hal-hal yang terjadi di kampung halaman.

Padahal realitas yang terjadi sama saja, di Denpasar ketika berteater saya juga berkumpul dengan teman sebaya saya membicarakan hal-hal yang biasa saya bicarakan. Tapi ketika saya pulang ke kampung halaman, dan berkumpul dengan teman sebaya saya, ada ketegangan baru yang saya temukan dalam lingkaran pergaulan di kampung. Awalnya saya mencurigai diri saya sendiri, bahwa ini adalah efek yang terjadi karena jarangnya saya memijakkan kaki berlama-lama di kampung halaman saya sendiri. Baru kali ini setelah beberapa tahun saya berteater di Denpasar akhirnya saya berdiam diri begitu lama di kampung halaman, tidak tanggung-tanggung lima bulan saya berada di kampung halaman. Dari yang biasanya hanya pulang kampung ketika hari raya, ataupun ada kegiatan yang kebetulan di kampung halaman. Ya biasanya paling lama 10 hari.

Dengan membawa interpretasi bahwa diri saya begitu lama tidak pernah memijakkan kaki di kampung halaman sendiri, akhirnya ada keinginan untuk mencoba mencari sebab dan kemungkinan lain. Apalagi pikiran tersebut datang ketika saya beru menginjakan kaki beberapa minggu saja di kampung. Saya mencoba mencari beberapa lingkaran pertemanan yang memang dalam sebuah lingkungan ada beberapa pergaulan yang mengkelompokkan dirinya sendiri. Contohnya begini, ada beberapa teman saya yang suka bergaul dengan teman di luar kampungnya bahkan hari-harinya habis untuk “mengukur jalan” dan berkumpul dengan temanya di luar. Ada juga beberapa teman yang memilih hanya bergaul dengan teman sekampungnya saja, bahkan karena berteman dan bergaul di kampung saja jadi mereka tak banyak mempunyai teman di luar kampungnya. Hal-hal tersebut alami terjadi tergantung bagaimana mereka membangun dirinya dengan keadaan sosial serta lingkaran pergaulan.

Kemudian saya menemukan lagi hal menarik dalam proses mempetakan pergaulan teman-teman saya, ada satu tempat dan moment yang membuat mereka akhirnya untuk dipaksa untuk bertegur sapa ataupun bertemu. Yaitu masjid, di masjid mereka dipertemukan tanpa ada kesepakatan sebelumnya. Beda ketika bergaul, mereka sebelumnya mengatur jadwal waktu dan tempat untuk berkumpul. Beda ketika di masjid, hal tersebut begitu saja terjadi. Tak terkecuali saya, saya merasakan sendiri bagaimana moment tersebut menjadi hal yang sangat tak terduga. Awalnya yang hanya memang memiliki keinginan pergi ke masjid untuk melakukan sholat, usai sholat ada saja tegur sapa atau perbincangan kecil yang terjadi tanpa direncanakan. Bahkan tak jarang lebih lama waktu mengobrol dengan teman di bandingkan dengan waktu sholat.

Akhirnya saya menyadari ada hal yang terbangun ketika berada di masjid, bahwa masjid di kampung saya tidak semata-mata hanya tempat untuk melakukan ibadah. Tapi ada hal lain di baliknya, bahkan tak jarang karena ke masjid saya bertemu dengan teman yang sudah lama sekali tidak bertemu. Atau bertemu teman yang tidak begitu akrab sebelumnya, tapi karena dengan nongkrong bersama seusai sholat akhirnya ada komunikasi yang perlahan dibangun.

Dan memang, waktu rehat saya selama 4-5 bulan hanya habis untuk berpergian ke masjid. Awalnya karena waktu itu bulan Ramadhan, dan ada perasaan malu terhadap diri saya sendiri ketika jarak rumah dengan masjid hanya seukuran lompatan belalang, begitu dekat.

Tak hanya itu, ada juga temuan-temuan saya yang lain selain bahwa masjid tidak sekedar menjadi tempat untuk beribadah. Ada pola hidup masyarakat yang dibangun secara perlahan dan tak kasat mata ketika berada di masjid dan melakukan tukar lintas disiplin di sana. Di masjid secara tidak langsung tukar kabar atau sekedar basa-basi terjadi, apalagi secara sadar orang-orang di kampung saya sangat mengetahui kegiatan selama di Denpasar.

Akhirnya basa-basi itupun selalu menjadi awal untuk membuka obrolan, sekedar menanyakan kabar dan apa saja kegiatan yang dilakukan hingga sangat jarang sekali bertemu. Dengan demikian kabar menjadi jembatan untuk mengobrol tentang hal-hal lainya. Ternyata apa yang biasa saya lakukan di Denpasar selama berada dalam lingkungan kesenian dan berkreatif terjadi juga di masjid ketika saya berada di kampung. Hal-hal yang sama terjadi adalah terjadinya obrolan lintas disiplin dari masing-masing orang yang saya temui, ada mahasiswa yang kebetulan pulang ke kampung karena keadaan pendemi.

Ada santri yang pulang dari pondok pesantren karena pendemi, ada pekerja yang pulang karena keadaan yang sama. Bahkan ada juga yang tak kemana-mana. Itu menjadi benang dengan warna yang berbeda-beda ketika bertemu dan mengobrol. Saya yang tentunya merasakan hal tersebut malah berpikir dan sering melompat kemudian melempar pikiran saya ke dimensi lain, bahwa hal-hal tukar pikiran ini tidak terjadi sama sekali ketika mereka berada pada pergaulan mereka masing-masing. Biasanya saya juga sering mengalami bahwa obrolan yang terjadi dalam siklus pergaulan di luar masjid hanya berpondasi pada satu hal saja. Misal yang senang bergaul di luar mereka hanya habis membicarakan keseruan dan kegiatan mereka selama di luar kampungnya, biasanya mereka mencari tempat untuk nongkrong di pinggir jalan sekitaran kampung. Dan mereka yang tidak senang bergaul keluar, tugasnya membicarakan mereka yang senang bermain keluar kemudian sambil sesekali membicarakan perdebatan-perdebatan lainya.

Biasanya mereka duduk di warung sekitaran kampung. Duduk sambil menunggu sapaan orang lain yang melintas di sekitar kampung. Saya mencoba memasuki ruang-ruang tersebut, saya mencoba bergaul dengan segala bentuk ruang di kampung. Memang begitu tegang, tapi sangatlah seru. Dan lagi-lagi saya tertegun ketika semua ruang-ruang yang terbagi tadi hanya bisa menjadi satu wadah ketika di masjid. Entah ini perasaan saya saja yang terlalu berlebihan melihat realitas seperti ini. Atau memang pada dasarnya begitulah cara membaca suatu pergaulan pada lingkungan. Bahwa ruang-ruang kecil yang terbagi tadi memang disusun secara alam bawah sadar untuk membentuk dan menyusun pola pikir seseorang yang kemudian menjadi dasar untuk dirinya sendiri ketika menghadapi realitas.

Katakanlah orang-orang yang menghabiskan waktunya di luar akan merasa menjadi asing di lingkunganya sendiri. Tapi, orang yang hanya menghabiskan waktu di kampung saja akan merasa asing oleh dunia luar. Itu saya dapatkan ketika saya banyak mengobrol dan mendengarkan bagaimana dari mereka menampakan diri mereka masing-masing. Tapi hal itu memang lumrah dan memang sah terjadi. Begitu tegang bukan? Ya memang begitulah adanya, sampai sekarang saya masih berpikir sebenarnya bagaimana cara yang benar dalam menjalani realitas. Sebab begitu tegang ketika berada pada dua lingkungan yang sama-sama penting untuk diri sendiri.

Tapi saya percaya, dengan menjaga kesadaran untuk mengisi dan membuka diri untuk dua lingkungan tersebut pasti akan seimbang antara menumbuhkan diri untuk berkembang dan bersosialiasi terhadap lingkungan tempat lahir. Agar tak berat sebelah. Terimakasih masjid, sebab selama beberapa bulan menghabiskan waktu untuk sekedar nongkrong disana saya sadar akan hal baru. Hal-hal berpikir seperti ini saya kira hanya bisa dilakukan saat saya berada dalam lingkungan teater saja, mengkritisi yang terjadi terhdap diri saya sendiri yang dipicu oleh situasi sekitar. Tetapi di ruang lain juga terjadi, ini yang saya katakan tadi bahwa ada sudut pendang yang menempel dan menjadi bekal dalam diri. Salam. [T]

Tags: kampungMasjidSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengerti Makna Profesor

Next Post

Budaya Bali, Kunci Pengembangan Pariwisata Medis

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Budaya Bali, Kunci Pengembangan Pariwisata Medis

Budaya Bali, Kunci Pengembangan Pariwisata Medis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co