26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Cokorda Gde Bayu Putra by Cokorda Gde Bayu Putra
July 17, 2020
in Khas
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Cokorda Gde Bayu Putra || Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Hari Sabtu Kliwon Wuku Landep di Bali dikenal oleh masyarakat sebagai perayaan Hari Tumpek Landep. Secara definisi, kata Tumpek berasal dari suku kata “tu” (metu) yang berarti lahir dan “pek” yang berarti berakhir atau putus. Hari Tumpek bertepatan dengan pertemuan dari berakhirnya Saptawara dengan Pancawara. Hari “Sabtu” yang merupakan hari terakhir dari Saptawara bertemu dengan Kliwon yang merupakan hari terakhir dalam perhitungan Pancawara. Selanjutnya “Wuku” yang menyertai juga berakhir pada hari “Sabtu”.

Landep sendiri sesuai Kamus Bahasa Bali diartikan “runcing” atau “tajam”. Pada Hari Tumpek Landep, masyarakat Hindu Bali memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Beliau sebagai “Sang Hyang Siwa Pasupati”. Dalam perkembangannya, intelektual Bali memandang Tumpek Landep sebagai kesempatan menajamkan pikiran (landeping idep). Maka realitanya di Bali acapkali kita lihat segala sesuatu yang berbetuk tajam, seperti: Keris, Tombak dan bentuk lainnya yang terbuat dari Besi diupacarai pada Hari Tumpek Landep tersebut sebagai bentuk sembah bhakti kehapadan “Sang Hyang Siwa Pasupati”.

Berbicara mengenai Pusaka “Keris” dan “Tombak” sesungguhnya sangat identik dengan sebuah simbol dan sarana mempertahankan kehormatan, terlebih dalam peristiwa peperangan yang terjadi di Bali di masa lalu. Puri Anyar Ubud sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dari Puri Agung Ubud pun hingga saat ini masih menyimpan dan merawat dengan baik tetamian (warisan) berupa Keris dan Tombak yang dimiliki dahulu oleh Ida Tjokorda Gde Rai Rengu (generasi pertama di Puri Anyar Ubud). 

Walaupun jumlah pusaka yang tersimpan saat ini tidak sebanyak dari yang tersimpan di Gedong Batu Puri Agung Ubud, namun terdapat sedikit kisah menarik dari keberadaan satu buah Keris dan satu buah Tombak di Puri Anyar Ubud yang dikenal dengan nama I Panti dan I Nganti (sebuah nama yang baru tahun lalu Saya temukan). Penemuannama I Panti dan I Nganti berawal dari ketidaksengajaan Saya sekitar pertengahan Tahun 2019 yang lalu. Saat itu, Saya dan Ida Bagus Oka Manobhawa (Gus Oka) dari Griya Peling Padangtegal Tengah yang juga sebagai Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Gianyar membersihkan salah satu lontar yang tersimpan di Puri Anyar Ubud (tetamian Ida Tjokorda Gde Rai Rengu).

Di dalam “kroprak” (kotak menyimpan lontar) tersebut terlepit selembar kertas yang berwarna kecoklatan seperti layaknya kertas-kertas kuno. Merasa ada yang unik dari Surat tersebut, Saya langsung memberikannya kepada Gus Oka untuk segera dibaca. Maklum, Beliau lebih cepat dalam membaca aksara Bali ketimbang Saya.

“Wah,,, niki Surat Tunggul” (Wah,,, Ini Surat Tunggul),” imbuh Gus Oka!!, dengan wajah sedikit terkejut. Saya pun segera meminta Beliau untuk menulis di kertas kosong salinan latin alih aksara dari Surat tersebut seperti yang dijelaskan dibawah ini:

“Puniki surat tunggul, katrangan maka pamerasan Ida Raja Dewata, Ida Tjokorda Gde Raka, mameras Ida Tjokorda Gde Rai. Maka Cihnan Ida Tjokorda Gde Rai dados putran Ida Tjokorda Gde Raka. Luwir maka pamerasan punika keris akatih mawasta I Panti, tumbak akatih mawasta I Nganti, mwuah carik, tegal, tanah ambengan wibuh sadruwen Ida Tjokorda Gde Raka, sajapaning sane sampun pecak kapaica antuk Ida Tjokorda Gde Raka ring anak Ida apesengan Tjokorda Putu Asak. Sakadi daging surat paperasan puniki, kapuputang tur kamargiyang antuk Ida Tjokorda Gde Sukwati, Punggawa Ubud, manut baos Ida Dewata duk Ida kari nyeneng ring Ida Tjokorda Gde Sukawati kalih ring Ida Pranda Ngurah Mayun. Pamargin paperasan puniki tur sampun sahuninging Ida pranda sane muputang karya pelebon Ida dewata apesengan Ida pranda Made Kajeng, kalih Ida Pranda Ngurah Mayun.  Duk dina, Wra, U, Wara Matal, tang, ping, 8, sasih,5, rah,8, teng,3,isaka,1838”.

Surat Tunggul Beraksara Bali

Senang rasanya mendapatkan informasi penting tentang keberadaan masa lalu Ida Tjokorda Gde Rai Rengu (wafat 1969) di Puri Anyar Ubud, utamanya mengenai nama sebuah Keris dan Tombak yang masih tersimpan baik sampai saat ini di Pemrajan Puri Anyar Ubud. Untuk sekedar diketahui sebelumnya, Ida Tjokorda Gde Rai Rengu yang lahir di Puri Saren Kauh Ubud diangkat anak (kedharmaputra) oleh paman Beliau (Ida Tjokorda Gde Raka) di Puri Sayan (kurang lebih 3km kearah barat dari Puri Ubud).

Bukti pengangkatan Tjokorda Gde Rai sebagai anak dari Ida Tjokorda Gde Raka adalah sebuah Keris bernama I Panti dan Sebuah Tombak bernama I Nganti. Memasuki era 1892-1897, dalam upaya membantu beban tugas yang cukup berat diemban Kepunggawaan Ubud di utamanya dibidang pencatatan, maka dititahkanlah agar Tjokorda Gde Rai Rengu yang sebelumnya kedharmaputra dan berdiam di Puri Sayan tersebut untuk kembali pulang ke Ubud serta menempati sebuah areal kosong persis disebelah utara Pamerajan Agung Ubud yang sampai saat ini dikenal dengan nama “Puri Anyar Ubud”. Itu sebabnya, I Panti dan I Nganti saat ini tersimpan di Pemrajan Puri Anyar Ubud.

Dari penamaan I Panti dan I Nganti tersebut, Saya mencoba menelusuri makna yang tersirat dari keduanya. Sesuai dengan Kamus Bali-Indonesia Edisi Ke-3 yang dikeluarkan Balai Bahasa Bali dijelaskan bahwa arti kata “Panti” adalah “kuil pemujaan leluhur dari sesuatu keluarga yang sudah kurang jelas pertalian kekerabatannya (lebih besar dari pura dadia)”. Sedangkan kata “Nganti” didefinisikan sebagai “sampai;hingga”. Dan juga pemberian awalan “I”, pada kata “Panti” dan “Nganti” menunjukkan penghormatan kepada kedua Benda Pusaka tersebut.

Jika dilihat dari berbagai definisi tersebut diatas, tentu dapat ditarik kesimpulan bahwa terselip sebuah pesan yang luhur akan nilai filosopi dan etika dari kedua Pusaka tersebut, yaitu sebuah pesan untuk selalu menjaga kerukunan dan jalinan tali persaudaraan yang harmonis selamanya (nyantos kapungkur wekasan) antara seluruh warih-warih (keturunan) Ida Tjokorda Gde Rai Rengu di Ubud dengan keluarga di Puri Agung Sayan serta seluruh kelurga besar Puri Agung Ubud. Hanya dengan menjaga persatuan dan kerukunan satu sama lainnya (saling asah asih asuh), segala rintangan jaman dapat dilalui dengan selamat di masa depan.   [T]  

____

Cerita dari Ubud yang Lain:

  • Buku Tamu 13 Juli 1949 || Catatan Kecil dari Ubud
  • Buda Kliwon Sinta di Gunung Lebah Ubud
  • Sosok di Utara Pemrajan Agung Ubud
  • Sepeda, Sejarah dan “Si Taluh Mica”
Tags: tumpek landepUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kecanduan di Masa Pandemi

Next Post

Await || Short Story By Ketut Sugiartha

Cokorda Gde Bayu Putra

Cokorda Gde Bayu Putra

Dosen FEBP Universitas Hindu Indonesia dan mengabdi pada Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud.

Related Posts

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails
Next Post
Await || Short Story By Ketut Sugiartha

Await || Short Story By Ketut Sugiartha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co