14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Cokorda Gde Bayu Putra by Cokorda Gde Bayu Putra
July 17, 2020
in Khas
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Cokorda Gde Bayu Putra || Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Hari Sabtu Kliwon Wuku Landep di Bali dikenal oleh masyarakat sebagai perayaan Hari Tumpek Landep. Secara definisi, kata Tumpek berasal dari suku kata “tu” (metu) yang berarti lahir dan “pek” yang berarti berakhir atau putus. Hari Tumpek bertepatan dengan pertemuan dari berakhirnya Saptawara dengan Pancawara. Hari “Sabtu” yang merupakan hari terakhir dari Saptawara bertemu dengan Kliwon yang merupakan hari terakhir dalam perhitungan Pancawara. Selanjutnya “Wuku” yang menyertai juga berakhir pada hari “Sabtu”.

Landep sendiri sesuai Kamus Bahasa Bali diartikan “runcing” atau “tajam”. Pada Hari Tumpek Landep, masyarakat Hindu Bali memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Beliau sebagai “Sang Hyang Siwa Pasupati”. Dalam perkembangannya, intelektual Bali memandang Tumpek Landep sebagai kesempatan menajamkan pikiran (landeping idep). Maka realitanya di Bali acapkali kita lihat segala sesuatu yang berbetuk tajam, seperti: Keris, Tombak dan bentuk lainnya yang terbuat dari Besi diupacarai pada Hari Tumpek Landep tersebut sebagai bentuk sembah bhakti kehapadan “Sang Hyang Siwa Pasupati”.

Berbicara mengenai Pusaka “Keris” dan “Tombak” sesungguhnya sangat identik dengan sebuah simbol dan sarana mempertahankan kehormatan, terlebih dalam peristiwa peperangan yang terjadi di Bali di masa lalu. Puri Anyar Ubud sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dari Puri Agung Ubud pun hingga saat ini masih menyimpan dan merawat dengan baik tetamian (warisan) berupa Keris dan Tombak yang dimiliki dahulu oleh Ida Tjokorda Gde Rai Rengu (generasi pertama di Puri Anyar Ubud). 

Walaupun jumlah pusaka yang tersimpan saat ini tidak sebanyak dari yang tersimpan di Gedong Batu Puri Agung Ubud, namun terdapat sedikit kisah menarik dari keberadaan satu buah Keris dan satu buah Tombak di Puri Anyar Ubud yang dikenal dengan nama I Panti dan I Nganti (sebuah nama yang baru tahun lalu Saya temukan). Penemuannama I Panti dan I Nganti berawal dari ketidaksengajaan Saya sekitar pertengahan Tahun 2019 yang lalu. Saat itu, Saya dan Ida Bagus Oka Manobhawa (Gus Oka) dari Griya Peling Padangtegal Tengah yang juga sebagai Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Gianyar membersihkan salah satu lontar yang tersimpan di Puri Anyar Ubud (tetamian Ida Tjokorda Gde Rai Rengu).

Di dalam “kroprak” (kotak menyimpan lontar) tersebut terlepit selembar kertas yang berwarna kecoklatan seperti layaknya kertas-kertas kuno. Merasa ada yang unik dari Surat tersebut, Saya langsung memberikannya kepada Gus Oka untuk segera dibaca. Maklum, Beliau lebih cepat dalam membaca aksara Bali ketimbang Saya.

“Wah,,, niki Surat Tunggul” (Wah,,, Ini Surat Tunggul),” imbuh Gus Oka!!, dengan wajah sedikit terkejut. Saya pun segera meminta Beliau untuk menulis di kertas kosong salinan latin alih aksara dari Surat tersebut seperti yang dijelaskan dibawah ini:

“Puniki surat tunggul, katrangan maka pamerasan Ida Raja Dewata, Ida Tjokorda Gde Raka, mameras Ida Tjokorda Gde Rai. Maka Cihnan Ida Tjokorda Gde Rai dados putran Ida Tjokorda Gde Raka. Luwir maka pamerasan punika keris akatih mawasta I Panti, tumbak akatih mawasta I Nganti, mwuah carik, tegal, tanah ambengan wibuh sadruwen Ida Tjokorda Gde Raka, sajapaning sane sampun pecak kapaica antuk Ida Tjokorda Gde Raka ring anak Ida apesengan Tjokorda Putu Asak. Sakadi daging surat paperasan puniki, kapuputang tur kamargiyang antuk Ida Tjokorda Gde Sukwati, Punggawa Ubud, manut baos Ida Dewata duk Ida kari nyeneng ring Ida Tjokorda Gde Sukawati kalih ring Ida Pranda Ngurah Mayun. Pamargin paperasan puniki tur sampun sahuninging Ida pranda sane muputang karya pelebon Ida dewata apesengan Ida pranda Made Kajeng, kalih Ida Pranda Ngurah Mayun.  Duk dina, Wra, U, Wara Matal, tang, ping, 8, sasih,5, rah,8, teng,3,isaka,1838”.

Surat Tunggul Beraksara Bali

Senang rasanya mendapatkan informasi penting tentang keberadaan masa lalu Ida Tjokorda Gde Rai Rengu (wafat 1969) di Puri Anyar Ubud, utamanya mengenai nama sebuah Keris dan Tombak yang masih tersimpan baik sampai saat ini di Pemrajan Puri Anyar Ubud. Untuk sekedar diketahui sebelumnya, Ida Tjokorda Gde Rai Rengu yang lahir di Puri Saren Kauh Ubud diangkat anak (kedharmaputra) oleh paman Beliau (Ida Tjokorda Gde Raka) di Puri Sayan (kurang lebih 3km kearah barat dari Puri Ubud).

Bukti pengangkatan Tjokorda Gde Rai sebagai anak dari Ida Tjokorda Gde Raka adalah sebuah Keris bernama I Panti dan Sebuah Tombak bernama I Nganti. Memasuki era 1892-1897, dalam upaya membantu beban tugas yang cukup berat diemban Kepunggawaan Ubud di utamanya dibidang pencatatan, maka dititahkanlah agar Tjokorda Gde Rai Rengu yang sebelumnya kedharmaputra dan berdiam di Puri Sayan tersebut untuk kembali pulang ke Ubud serta menempati sebuah areal kosong persis disebelah utara Pamerajan Agung Ubud yang sampai saat ini dikenal dengan nama “Puri Anyar Ubud”. Itu sebabnya, I Panti dan I Nganti saat ini tersimpan di Pemrajan Puri Anyar Ubud.

Dari penamaan I Panti dan I Nganti tersebut, Saya mencoba menelusuri makna yang tersirat dari keduanya. Sesuai dengan Kamus Bali-Indonesia Edisi Ke-3 yang dikeluarkan Balai Bahasa Bali dijelaskan bahwa arti kata “Panti” adalah “kuil pemujaan leluhur dari sesuatu keluarga yang sudah kurang jelas pertalian kekerabatannya (lebih besar dari pura dadia)”. Sedangkan kata “Nganti” didefinisikan sebagai “sampai;hingga”. Dan juga pemberian awalan “I”, pada kata “Panti” dan “Nganti” menunjukkan penghormatan kepada kedua Benda Pusaka tersebut.

Jika dilihat dari berbagai definisi tersebut diatas, tentu dapat ditarik kesimpulan bahwa terselip sebuah pesan yang luhur akan nilai filosopi dan etika dari kedua Pusaka tersebut, yaitu sebuah pesan untuk selalu menjaga kerukunan dan jalinan tali persaudaraan yang harmonis selamanya (nyantos kapungkur wekasan) antara seluruh warih-warih (keturunan) Ida Tjokorda Gde Rai Rengu di Ubud dengan keluarga di Puri Agung Sayan serta seluruh kelurga besar Puri Agung Ubud. Hanya dengan menjaga persatuan dan kerukunan satu sama lainnya (saling asah asih asuh), segala rintangan jaman dapat dilalui dengan selamat di masa depan.   [T]  

____

Cerita dari Ubud yang Lain:

  • Buku Tamu 13 Juli 1949 || Catatan Kecil dari Ubud
  • Buda Kliwon Sinta di Gunung Lebah Ubud
  • Sosok di Utara Pemrajan Agung Ubud
  • Sepeda, Sejarah dan “Si Taluh Mica”
Tags: tumpek landepUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kecanduan di Masa Pandemi

Next Post

Await || Short Story By Ketut Sugiartha

Cokorda Gde Bayu Putra

Cokorda Gde Bayu Putra

Dosen FEBP Universitas Hindu Indonesia dan mengabdi pada Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud.

Related Posts

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails
Next Post
Await || Short Story By Ketut Sugiartha

Await || Short Story By Ketut Sugiartha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co