5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Cokorda Gde Bayu Putra by Cokorda Gde Bayu Putra
July 17, 2020
in Khas
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Cokorda Gde Bayu Putra || Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Hari Sabtu Kliwon Wuku Landep di Bali dikenal oleh masyarakat sebagai perayaan Hari Tumpek Landep. Secara definisi, kata Tumpek berasal dari suku kata “tu” (metu) yang berarti lahir dan “pek” yang berarti berakhir atau putus. Hari Tumpek bertepatan dengan pertemuan dari berakhirnya Saptawara dengan Pancawara. Hari “Sabtu” yang merupakan hari terakhir dari Saptawara bertemu dengan Kliwon yang merupakan hari terakhir dalam perhitungan Pancawara. Selanjutnya “Wuku” yang menyertai juga berakhir pada hari “Sabtu”.

Landep sendiri sesuai Kamus Bahasa Bali diartikan “runcing” atau “tajam”. Pada Hari Tumpek Landep, masyarakat Hindu Bali memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Beliau sebagai “Sang Hyang Siwa Pasupati”. Dalam perkembangannya, intelektual Bali memandang Tumpek Landep sebagai kesempatan menajamkan pikiran (landeping idep). Maka realitanya di Bali acapkali kita lihat segala sesuatu yang berbetuk tajam, seperti: Keris, Tombak dan bentuk lainnya yang terbuat dari Besi diupacarai pada Hari Tumpek Landep tersebut sebagai bentuk sembah bhakti kehapadan “Sang Hyang Siwa Pasupati”.

Berbicara mengenai Pusaka “Keris” dan “Tombak” sesungguhnya sangat identik dengan sebuah simbol dan sarana mempertahankan kehormatan, terlebih dalam peristiwa peperangan yang terjadi di Bali di masa lalu. Puri Anyar Ubud sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dari Puri Agung Ubud pun hingga saat ini masih menyimpan dan merawat dengan baik tetamian (warisan) berupa Keris dan Tombak yang dimiliki dahulu oleh Ida Tjokorda Gde Rai Rengu (generasi pertama di Puri Anyar Ubud). 

Walaupun jumlah pusaka yang tersimpan saat ini tidak sebanyak dari yang tersimpan di Gedong Batu Puri Agung Ubud, namun terdapat sedikit kisah menarik dari keberadaan satu buah Keris dan satu buah Tombak di Puri Anyar Ubud yang dikenal dengan nama I Panti dan I Nganti (sebuah nama yang baru tahun lalu Saya temukan). Penemuannama I Panti dan I Nganti berawal dari ketidaksengajaan Saya sekitar pertengahan Tahun 2019 yang lalu. Saat itu, Saya dan Ida Bagus Oka Manobhawa (Gus Oka) dari Griya Peling Padangtegal Tengah yang juga sebagai Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Gianyar membersihkan salah satu lontar yang tersimpan di Puri Anyar Ubud (tetamian Ida Tjokorda Gde Rai Rengu).

Di dalam “kroprak” (kotak menyimpan lontar) tersebut terlepit selembar kertas yang berwarna kecoklatan seperti layaknya kertas-kertas kuno. Merasa ada yang unik dari Surat tersebut, Saya langsung memberikannya kepada Gus Oka untuk segera dibaca. Maklum, Beliau lebih cepat dalam membaca aksara Bali ketimbang Saya.

“Wah,,, niki Surat Tunggul” (Wah,,, Ini Surat Tunggul),” imbuh Gus Oka!!, dengan wajah sedikit terkejut. Saya pun segera meminta Beliau untuk menulis di kertas kosong salinan latin alih aksara dari Surat tersebut seperti yang dijelaskan dibawah ini:

“Puniki surat tunggul, katrangan maka pamerasan Ida Raja Dewata, Ida Tjokorda Gde Raka, mameras Ida Tjokorda Gde Rai. Maka Cihnan Ida Tjokorda Gde Rai dados putran Ida Tjokorda Gde Raka. Luwir maka pamerasan punika keris akatih mawasta I Panti, tumbak akatih mawasta I Nganti, mwuah carik, tegal, tanah ambengan wibuh sadruwen Ida Tjokorda Gde Raka, sajapaning sane sampun pecak kapaica antuk Ida Tjokorda Gde Raka ring anak Ida apesengan Tjokorda Putu Asak. Sakadi daging surat paperasan puniki, kapuputang tur kamargiyang antuk Ida Tjokorda Gde Sukwati, Punggawa Ubud, manut baos Ida Dewata duk Ida kari nyeneng ring Ida Tjokorda Gde Sukawati kalih ring Ida Pranda Ngurah Mayun. Pamargin paperasan puniki tur sampun sahuninging Ida pranda sane muputang karya pelebon Ida dewata apesengan Ida pranda Made Kajeng, kalih Ida Pranda Ngurah Mayun.  Duk dina, Wra, U, Wara Matal, tang, ping, 8, sasih,5, rah,8, teng,3,isaka,1838”.

Surat Tunggul Beraksara Bali

Senang rasanya mendapatkan informasi penting tentang keberadaan masa lalu Ida Tjokorda Gde Rai Rengu (wafat 1969) di Puri Anyar Ubud, utamanya mengenai nama sebuah Keris dan Tombak yang masih tersimpan baik sampai saat ini di Pemrajan Puri Anyar Ubud. Untuk sekedar diketahui sebelumnya, Ida Tjokorda Gde Rai Rengu yang lahir di Puri Saren Kauh Ubud diangkat anak (kedharmaputra) oleh paman Beliau (Ida Tjokorda Gde Raka) di Puri Sayan (kurang lebih 3km kearah barat dari Puri Ubud).

Bukti pengangkatan Tjokorda Gde Rai sebagai anak dari Ida Tjokorda Gde Raka adalah sebuah Keris bernama I Panti dan Sebuah Tombak bernama I Nganti. Memasuki era 1892-1897, dalam upaya membantu beban tugas yang cukup berat diemban Kepunggawaan Ubud di utamanya dibidang pencatatan, maka dititahkanlah agar Tjokorda Gde Rai Rengu yang sebelumnya kedharmaputra dan berdiam di Puri Sayan tersebut untuk kembali pulang ke Ubud serta menempati sebuah areal kosong persis disebelah utara Pamerajan Agung Ubud yang sampai saat ini dikenal dengan nama “Puri Anyar Ubud”. Itu sebabnya, I Panti dan I Nganti saat ini tersimpan di Pemrajan Puri Anyar Ubud.

Dari penamaan I Panti dan I Nganti tersebut, Saya mencoba menelusuri makna yang tersirat dari keduanya. Sesuai dengan Kamus Bali-Indonesia Edisi Ke-3 yang dikeluarkan Balai Bahasa Bali dijelaskan bahwa arti kata “Panti” adalah “kuil pemujaan leluhur dari sesuatu keluarga yang sudah kurang jelas pertalian kekerabatannya (lebih besar dari pura dadia)”. Sedangkan kata “Nganti” didefinisikan sebagai “sampai;hingga”. Dan juga pemberian awalan “I”, pada kata “Panti” dan “Nganti” menunjukkan penghormatan kepada kedua Benda Pusaka tersebut.

Jika dilihat dari berbagai definisi tersebut diatas, tentu dapat ditarik kesimpulan bahwa terselip sebuah pesan yang luhur akan nilai filosopi dan etika dari kedua Pusaka tersebut, yaitu sebuah pesan untuk selalu menjaga kerukunan dan jalinan tali persaudaraan yang harmonis selamanya (nyantos kapungkur wekasan) antara seluruh warih-warih (keturunan) Ida Tjokorda Gde Rai Rengu di Ubud dengan keluarga di Puri Agung Sayan serta seluruh kelurga besar Puri Agung Ubud. Hanya dengan menjaga persatuan dan kerukunan satu sama lainnya (saling asah asih asuh), segala rintangan jaman dapat dilalui dengan selamat di masa depan.   [T]  

____

Cerita dari Ubud yang Lain:

  • Buku Tamu 13 Juli 1949 || Catatan Kecil dari Ubud
  • Buda Kliwon Sinta di Gunung Lebah Ubud
  • Sosok di Utara Pemrajan Agung Ubud
  • Sepeda, Sejarah dan “Si Taluh Mica”
Tags: tumpek landepUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kecanduan di Masa Pandemi

Next Post

Await || Short Story By Ketut Sugiartha

Cokorda Gde Bayu Putra

Cokorda Gde Bayu Putra

Dosen FEBP Universitas Hindu Indonesia dan mengabdi pada Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud.

Related Posts

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
0
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

Read moreDetails

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
0
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

Read moreDetails

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
0
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

Read moreDetails

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails
Next Post
Await || Short Story By Ketut Sugiartha

Await || Short Story By Ketut Sugiartha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co